cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Materi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Sains Materi Indonesia (Indonesian Journal of Materials Science), diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir - BATAN. Terbit pertama kali: Oktober 1999, frekuensi terbit: empat bulanan.
Arjuna Subject : -
Articles 56 Documents
Search results for , issue "EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006" : 56 Documents clear
PENGUJIAN SIFAT FEROELEKTRIK FILM Ba0,5Sr0,5TiO3 DOPING Nb2O5 (BNST) Pratitis Wahyu Kusuma Anggraini; Muhammad Hikam
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.095 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.5171

Abstract

PENGUJIAN SIFAT FEROELEKTRIK FILM Ba0,5Sr0,5TiO3 DOPING Nb2O5 (BNST). Film BST 1M dan BST 1M doping Nb2O5 dengan variasi % doping (1%, 2%, 4%) dideposisi pada substrat Si (111) dan gelas corning dengan metode penumbuhan CSD (Chemical Solution Deposition) dengan teknik spin- coating pada kecepatan putar 3000 rpm selama 30 detik. Film yang terbentuk dilanjutkan dengan proses sintering pada temperatur 450ºC untuk substrat corning dan 850ºC untuk substrat Si (111) selama 3 jam. Sistem kristal dan orientasi film BST dan BNST diuji dengan difraksi sinar-X dan dilakukan penghalusan (refinement) dengan analisis Rietveld yaitu menggunakan GSAS. Hasil penghalusan dengan GSAS diperoleh fasa BST yang terkandung pada film BST 1M, BNST 1M 1%, 2% dan 4% (substrat silikon) bersesuaian dengan Ba0,5Sr0,5TiO3 (ICDD) dengan sistem kristal kubik dan parameter kisi (a) berturut-turut 3,944Å, 3,949Å, 3,950Å, 3,904Å. Sedangkan untuk film BNST 1M 1%, 2% dan 4% (substrat corning) bersesuaian dengan BaTiO3 (ICDD) dengan sistem kristal tetragonal dan parameter kisi (a=b) berturut-turut 3,997Å, 3,987Å, 3,996Å, parameter kisi (c) 4,051Å, 4,041Å, 4,058Å. Harga polarisasi spontan film pada substrat Si (111) untuk BNST 1M 1% adalah 72,100µC.cm-2, BNST 1M 2% adalah 71,680µC.cm-2 dan BNST 1M 4% adalah 51,440µC.cm-2. Sedangkan harga polarisasi spontan film pada substrat corning untuk BNST 1M 1% adalah 121,440µC.cm-2, BNST 1M 2% adalah 121,450µC.cm-2 dan BNST 1M 4% adalah 119,690µC.cm-2.
PENGARUH SUHU REAKSI TERHADAP DERAJAT KRISTALINITAS DAN KOMPOSISI HIDROKSIAPATIT DIBUAT DENGAN MEDIAAIR DAN CAIRAN TUBUH BUATAN (SYNTHETIC BODY FLUID) E. Firman Purnama; S. Nikmatin; R. Langenati
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.264 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.5078

Abstract

PENGARUH SUHU REAKSI TERHADAP DERAJAT KRISTALINITAS DAN KOMPOSISI HIDROKSIAPATIT DIBUAT DENGAN MEDIAAIR DAN CAIRAN TUBUH BUATAN (SYNTHETIC BODY FLUID). Hidroksiapatit sangat dekat dengan komponen tulang dan mineral gigi. Kalsium berikatan dengan gugus fosfat, hidroksida dan karbonat. Hidroksiapatit yang digunakan sebagai implant pada tulang harus memiliki sifat biokompatibel dan bioaktif. Biokompatibel adalah kemampuan material untuk menyesuaikan dengan kecocokan tubuh penerima, sedangkan bioaktif adalah kemampuan material bereaksi dengan jaringan dan menghasilkan ikatan kimia yang sangat baik. Penelitian ini menggunakan pelarut air dan pelarut cairan tubuh sintetik (Synthetic Body Fluid). Saat pembuatan HAp dilakukan pengeringan dengan freeze drying dan dihasilkan gas CO2 dari ion karbonat yang tertahan atau tidak banyak hilang atau menguap sehingga dihasilkan butir kristal yang lebih halus. Variasi suhu 40oC, 70oC dan 90oC saat pemanasan pembuatan HAp menghasilkan perbedaan derajat kristalinitas pada setiap suhu. Hasil analisis data XRD memperlihatkan bahwa semakin bertambahnya suhu reaksi pada saat pembuatan hidroksiapatit maka derajat kristalinitasnya semakin meningkat. Pola pita serapan FTIR untuk HAp dengan pelarut SBF memperlihatkan gugus CO32- dengan pita serapan lebih tajam dibandingkan HAp pelarut air. SEM memperlihatkan bahwa morfologi HAp pelarut air berbentuk gumpalan bulat, sedangkan HAp pelarut SBF membentuk serpihan memanjang. AAS dan UV-Vis menunjukan semakin tinggi konsentrasi ion Mg2+ yang terkandung maka nilai perbandingan Ca/P semakin turun akibat substitusi ion Mg2+ dengan ion Ca2+.
FENOMENA SERANGAN KOROSI GALVANIK PENYEBAB PATAH NOSE LANDING GEAR PESAWAT TERBANG M. Syahril
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.454 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.4945

Abstract

FENOMENA SERANGAN KOROSI GALVANIK PENYEBAB PATAH NOSE LANDING GEAR PESAWAT TERBANG. Saat pesawat terbang lepas landas dan mendaratkan, variasi jenis beban dan/atau tegangan yang akan bekerja pada area kritis seperti tumpuan perangkat pendarat, sayap dan mesin. Ketika tumpuan perangkat pendarat mengalami kegagalan, maka potensi kerugian sistim ekonomi akan sangat tinggi. Oleh karena itu, pengkajian terhadap penyebab utama patahan sangat penting dilakukan untuk menghindari patahan yang serupa di masa datang. Tulisan ini membahas tentang fenomena patahan pada tumpuan perangkat pendarat setelah siklus penerbangan 2567. Pembahasan berdasarkan pada hasil pemeriksaan komposisi kimia, visual dan makrografi, metalografi dan fraktografi dengan SEM. Semua bukti menunjukkan bahwa karakteristik patahan tumpuan perangkat pendarat disebabkan oleh beban yang dipromosikan oleh adanya korosi pada tabung-bantalan yang bertindak sebagai konsentrasi tegangan. Korosi terbentuk karena kehadiran uap air atau air yang terperangkap di antara material tabung-bantalan dan tumpuan perangkat pendarat roda pesawat. Kenyataannya, perbedaan material antara tabung-bantalan dan tumpuan perangkat pendarat roda pesawat sangat menunjang untuk terjadinya serangan korosi galvanik karena perbedaan potensial korosi antara aluminum dan tembaga.
STRUKTUR DAN SIFAT TUNNELINGMAGNETORESISTANCE SISTEM NANO KOMPOSIT Co-Al2O3 HASIL PROSES HEM Setyo Purwanto; Wisnu Ari Adi; Mujamilah Mujamilah; Abdullah Abdullah
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.279 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.5185

Abstract

STRUKTUR DAN SIFAT TUNNELINGMAGNETORESISTANCE SISTEM NANO KOMPOSIT Co-Al2O3 HASIL PROSES HEM. Telah dilakukan penelitian pada sistem komposit Co-Al2O3 yang disiapkan dengan High Energy Milling (HEM) SPEX 8000 selama 1,5 jam, 4,5 jam, 1,5 jam, 4,5 jam, 12 jam dan 20 jam. Dihipotesakan bahwa sifat magnetoresistance dari bahan tergantung pada fraksi fasa Co-HCPdan fasa Co-FCC dari material tersebut. Pengamatan dengan difraksi sinar-X diketahui terjadi perubahan keberadaan fasa Co-HCP menjadi Co-FCC akibat akumulasi stacking fault selama proses milling. Dari pengukuran VSM harga saturasi magnetik bahan menunjukkan penurunan dari 116 emu/gram menjadi 107, 46,2 dan 36,1 emu/gram. Hal ini menunjukkan bahwa proses milling membuat keberadaan fasa Co-HCP menurun dan fasa Co-FCC meningkat masing-masing untuk cuplikan pasca milling 1,5jam, 4,5jam, 12 jam dan 20 jam. Sifat Magnetoresistance diamati dengan menggunakan peralatan four point probe, diketahui terjadi peningkatan harga nisbah Magnetoresistance (MR) dari 0,5% , 4% , 5% dan 9% masing-masing untuk cuplikan pelet Co-Al2O3 pasca milling 1,5jam, 4,5jam, 12jam dan 20jam. Hasil-hasil di atas terlihat konsisten dengan hasil penelitian pada sistem Co-Al2O3 film tipis. Dari hasil SEM/EDX untuk komposit Co-Al2O3 diketahui masing-masing perbandingan Wt% dari cobalt dan Al2O3 adalah 23,06 : 78,18 pasca milling 12 jam serta 22,27 : 77,73 untuk pasca milling 20 jam.
INVESTIGASI ANALITIS DAN EKSPERIMENTAL KEKUATAN PROFIL BAJA RINGAN TERHADAP INTERAKSI LOCAL DAN GLOBAL BUCKLING Harkali Setiyono
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.03 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.4935

Abstract

INVESTIGASI ANALITIS DAN EKSPERIMENTAL KEKUATAN PROFIL BAJA RINGAN TERHADAP INTERAKSI LOCAL DAN GLOBAL BUCKLING. Makalah ini membahas metode pendekatan analitis dan eksperimental untuk mengevaluasi kekuatan profil baja ringan yang banyak dijumpai sebagai bahan konstruksi kolom terhadap pengaruh interaksi local dan global buckling. Pendekatan analitis dilaksanakan dengan mempertimbangkan pengaruh local buckling terhadap keefektifan penampang profil dalam mendukung beban kerja, dimana dimensi efektif penampang profil selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk estimasi besarnya tegangan kritis sampai profil mengalami global buckling. Ketelitian metode pendekatan analitis juga diverifikasi dengan membandingkan hasilnya terhadap tegangan kritis buckling aktual yang diukur melalui pengujian tekan aksial sejumlah profil baja ringan berpenampang persegi empat sampai mengalami column buckling. Verifikasi metode analitis yang digunakan menunjukkan bahwa sebagian besar data analitis cenderung konservatif terhadap data eksperimental pada kisaran 8,5%. Hal ini terlihat jelas dari hasil evaluasi statistik populasi deviasi data analitis, dimana data statistik menunjukkan bahwa nilai rata-rata deviasi data analitis adalah 1.085 dengan standar deviasi sebesar 0,047.
ABSTRAK PENGARUH DIMENSI,ARUS KRITIS, DAN JUMLAH RING TERHADAPARUS GAGALPADA SUPERCONDUCTING FAULT CURRENT LIMITER Wisnu Ari Adi; Engkir Sukirman; Didin S. Winatapura; Yustinus P.
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.788 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.5176

Abstract

ABSTRAK PENGARUH DIMENSI,ARUS KRITIS, DAN JUMLAH RING TERHADAPARUS GAGALPADA SUPERCONDUCTING FAULT CURRENT LIMITER. Penelitian Superconducting Fault Current Limiter (SFCL) di Pustek Bahan Industri Nuklir telah dilakukan sejak tahun 2002. Mulai tahun 2003 hingga 2005, penelitian difokuskan pada upaya meningkatkan arus gagal dengan memperbesar dimensi trafo, meningkatkan arus kritis bahan, dan menambah jumlah ring. Pada tahun 2003 dapat dibuat SFCL skala laboratorium yang mampu membatasi arus gagal IF = 26 mA. SFCL semiprototipe baru bisa diwujudkan pada tahun 2004 dan pada tahun berikutnya dilakukan optimasi teoritis pada model SFCL semiprototipe tersebut. Pada SFCL semiprototipe mula-mula dipasang ring YBa2Cu3O7-x yang memiliki arus kritis Ic = 3,52 A, kemudian diganti dengan ring yang memiliki Ic = 9,6 A. Demikian pula jumlah ring YBa2Cu3O7-x, semula hanya satu, kemudian ditambah menjadi dua. Pengujian rangkaian SFCL dilengkapi dengan simulasi menggunakan software ANSYS versi 5.4. Hasil pengujian SFCL menunjukkan bahwa arus gagal meningkat menjadi sekitar 110 mA, 365mA dan 490 mA berturut-turut akibat peningkatan dimensi trafo, arus kritis dan jumlah ring. Arus gagal IF dapat ditingkatkan hingga 20 kali lebih tinggi dengan memperbesar dimensi trafo, meningkatkan arus kritis, dan menambah jumlah ring YBa2Cu3O7-x.
SIMULASI HISTERESIS PADA BAHAN FEROMAGNETIK DENGAN MODEL JILES-ATHERTON Ahmad Yani; Ridwan Ridwan; Mujamilah Mujamilah
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.975 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.5060

Abstract

SIMULASI HISTERESIS PADA BAHAN FEROMAGNETIK DENGAN MODEL JILES-ATHERTON. Telah dibuat suatu program simulasi kurva histeresis bahan feromagnetik berdasarkan teori Jiles-Atherton (JA) dengan memanfaatkan genetic algorithm yang terintegrasi dalam perangkat lunak MatLAB. Validasi dari sistem perhitungan dilakukan dengan menggunakan data dan parameter dari hasil-hasil penelitian terdahulu. Hasil perhitungan dan kurva histeresis yang diperoleh dalam kegiatan ini sangat sesuai dengan data-data seperti yang terdapat di dalam referensi. Pengaruh masing-masing parameter Ms, k, a, a dan c terhadap kurva histeresis telah dibahas dalam makalah ini.
PENGARUH PROSES NITRIDISASI TERHADAP SIFAT MEKANIS PERMUKAAN BAJA PADUAN RENDAH AISI 4340 Anthonius S.; Sulistioso G. S.; Sumaryo Sumaryo
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.533 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.4941

Abstract

PENGARUH PROSES NITRIDISASI TERHADAP SIFAT MEKANIS PERMUKAAN BAJA PADUAN RENDAH AISI 4340. Baja paduan rendah AISI 4340 banyak digunakan sebagai bahan komponen mesin dan bahan komponen pengatur katup aliran gas pada pembangkit listrik yang pada pemakaiannya banyak mengalami gesekan atau aus. Untuk meningkatkan sifat mekanis bahan khususnya ketahanan aus, pada penelitian ini dilakukan proses pengerasan permukaan baja AISI 4340 dengan metode nitridisasi. Proses nitridisasi dilakukan dengan menggunakan tungku pemanas yang dialiri gas amonia (NH3) murni pada suhu 525 oC dan 550 oC selama 6 jam. Pengujian yang dilakukan adalah uji ketahanan aus, uji kekerasan, pengamatan strukturmikro dan penentuan fasa. Pada kedua suhu, sampel yang telah dinitridisasi mengalami peningkatan ketahanan aus sebesar dua kali sama seperti peningkatan kekerasan dua kali lebih besar dari kekerasan substrat. Strukturmikro sampel setelah di nitridisasi, pada permukaannya terjadi lapisan putih dengan ketebalan 10 µm dan dibawahnya lapisan difusi setebal 40 µm dan 50 µm masing-masing untuk suhu 525 oC dan 550 oC. Dari analisis X-Ray difraksi, fasa-fasa yang terbentuk pada permukaan sampel adalah fasa nitrida Fe3N, CrN dan terdapat juga oksida besi Fe2O3.
STUDI STRUKTURMIKRO DAN MORFOLOGI FILM InXGa1-XN YANG DITUMBUHKAN DI ATAS SUBSTRAT SAPPHIRE (0006) DENGAN METODE MOCVD BERBANTUAN PLASMA A. Subagio; H. Sutanto; E. Supriyanto; Irzaman Irzaman; M. Budiman; P. Arifin; Sukirno Sukirno; M. Barmawi
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.614 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.5181

Abstract

STUDI STRUKTURMIKRO DAN MORFOLOGI FILM InXGa1-XN YANG DITUMBUHKAN DI ATAS SUBSTRAT SAPPHIRE (0006) DENGAN METODE MOCVD BERBANTUAN PLASMA. Telah ditumbuhkan film tipis InXGa1-XN di atas substrat sapphire (0006) dengan metode MOCVD berbantuan plasma. Penumbuhan dilakukan pada suhu 650 oC dengan variasi komposisi uap TMIn (xv) sebesar 10 %, 20 %, 30 %, 50 % dan 100 %. Hasil analisis XRD menunjukkan fenomena pemisahan fasa yang disebabkan oleh ketidaksesuaian kisi antara InN dan GaN pada film InX1-XN dengan komposisi padatan indium (In) 0,02 dan 0,18. Proses nukleasi masih terjadi pada film-film ini, dimana tingkat kekasaran relatif masih tinggi sekitar 150 nm. Film dengan komposisi padatan indium (x) 0,28 dan 0,61 menunjukkan adanya kecendurungan fasa tunggal pada InGaN (0002). Mekanisme penggabungan (coalescence) grain terjadi pada film-film ini dengan ditandai oleh ekspansi grain secara lateral. Hal ini menyebabkan tingkat kekasaran permukaan relatif lebih rendah sekitar 100 nm.
KARAKTERISASI FILM PADUAN POLIPROPILEN-KO-ETILEN/ POLIBUTILEN SUKSINAT IRADIASI Nikham Nikham
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.403 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.5065

Abstract

KARAKTERISASI FILM PADUAN POLIPROPILEN-KO-ETILEN/ POLIBUTILEN SUKSINAT IRADIASI. Telah dilakukan penelitian tentang karakterisasi film paduan polipropilen-ko-etilen (KPP)/polibutilen suksinat (PBS) dan polipropilen ditempel dengan maleik anhidrat (PP-g-MAH) yang diiradiasi sinar gama. Telah diketahui bahwa kebanyakan polimer paduan yang ada, tidak mudah didegradasi dibawah kondisi lingkungan alam. Untuk mengatasi masalah ini maka perlu dicari jalan keluarnya diantaranya dengan menyiapkan bahan polimer yang mudah didegradasi yaitu memadukan polimer yang tidak mudah didegradasi dan mudah didegradasi. Komposisi paduan KPP/PBS divariasi sebagai berikut; 100/0, 75/25, 50/50, 25/75 dan 0/100 dengan konsentrasi PP-g-MAH 20 % berat, diiradiasi menggunakan sinar gama Co-60 dengan aktivitas 500 kCi pada dosis 0 kGy, 50 kGy, 100 kGy, 150 kGy dan 200 kGy, pada laju dosis 8,2 kGy/jam serta suhu 90 oC. Karakterisasi film iradiasi telah dievaluasi dengan mengukur perpanjangan putus, tegangan putus, degradasi secara enzimatik, penguburan dalam tanah, fraksi gel dan ketahanan terhadap panas. Hasilnya menunjukkan bahwa perpanjangan putus dan tegangan putus film paduan KPP/PBS = 50/50 yang diiradiasi pada dosis 200 kGy masing-masing sekitar 150 % dan 15 MPa. Kehilangan berat film yang sama akibat degradasi dengan enzim lipase selama 8 hari sekitar 2,5 % dan penguburan dalam tanah selama 4 bulan 1,5 mg. Fraksi gel sekitar 42 % dan ketahanan film terhadap panas pada suhu 140 oC adalah 21 jam.

Filter by Year

2006 2006


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1: OCTOBER 2022 Vol 23, No 2: APRIL 2022 Vol 23, No 1: OCTOBER 2021 Vol 22, No 2: APRIL 2021 Vol 22, No 1: OCTOBER 2020 Vol 21, No 4: JULY 2020 Vol 21, No 3: APRIL 2020 Vol 21, No 2: JANUARY 2020 Vol 21, No 1: OCTOBER 2019 Vol 20, No 4: JULY 2019 Vol 20, No 3: APRIL 2019 Vol 20, No 2: JANUARY 2019 Vol 20, No 1: OCTOBER 2018 Vol 19, No 4: JULI 2018 Vol 19, No 3: APRIL 2018 Vol 19, No 2: JANUARI 2018 Vol 19, No 1: OKTOBER 2017 Vol 18, No 4: JULI 2017 Vol 18, No 3: APRIL 2017 Vol 18, No 2: JANUARI 2017 Vol 18, No 1: OKTOBER 2016 Vol 17, No 4: JULI 2016 Vol 17, No 3: APRIL 2016 Vol 17, No 2: JANUARI 2016 Vol 17, No 1: OKTOBER 2015 Vol 16, No 4: JULI 2015 Vol 16, No 3: APRIL 2015 Vol 16, No 2: JANUARI 2015 Vol 16, No 1: OKTOBER 2014 Vol 15, No 4: JULI 2014 Vol 15, No 3: APRIL 2014 Vol 15, No 2: JANUARI 2014 Vol 15, No 1: OKTOBER 2013 Vol 14, No 4: JULI 2013 Vol 14, No 3: APRIL 2013 Vol 14, No 2: JANUARI 2013 Vol 14, No 1: OKTOBER 2012 Vol 13, No 3: JUNI 2012 Vol 13, No 2: FEBRUARI 2012 VOL 13, NO 1: OKTOBER 2011 Vol 12, No 3: JUNI 2011 Vol 12, No 2: FEBRUARI 2011 Vol 12, No 1: OKTOBER 2010 Vol 11, No 2: FEBRUARI 2010 Vol 11, No 1: OKTOBER 2009 Vol 10, No 1: OKTOBER 2008 Vol 9, No 3: JUNI 2008 Vol 9, No 2: FEBRUARI 2008 Vol 9, No 1: OKTOBER 2007 Vol 8, No 3: JUNI 2007 Vol 8, No 2: FEBRUARI 2007 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007 Vol 8, No 1: OKTOBER 2006 Vol 7, No 3: JUNI 2006 Vol 7, No 2: FEBRUARI 2006 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006 Vol 7, No 1: OKTOBER 2005 Vol 6, No 3: JUNI 2005 Vol 6, No 2: FEBRUARI 2005 Vol 6, No 1: OKTOBER 2004 Vol 5, No 3: JUNI 2004 Vol 5, No 2: FEBRUARI 2004 Vol 5, No 1: OKTOBER 2003 Vol 4, No 3: JUNI 2003 Vol 4, No 2: FEBRUARI 2003 Vol 4, No 1: OKTOBER 2002 Vol 3, No 3: JUNI 2002 Vol 3, No 2: FEBRUARI 2002 Vol 3, No 1: OKTOBER 2001 Vol 2, No 3: JUNI 2001 Vol 2, No 2: FEBRUARI 2001 Vol 2, No 1: OKTOBER 2000 Vol 1, No 3: JUNI 2000 Vol 1, No 2: FEBRUARI 2000 Vol 13, No 4: Edisi Khusus Material untuk Kesehatan More Issue