cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Materi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Sains Materi Indonesia (Indonesian Journal of Materials Science), diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir - BATAN. Terbit pertama kali: Oktober 1999, frekuensi terbit: empat bulanan.
Arjuna Subject : -
Articles 56 Documents
Search results for , issue "EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006" : 56 Documents clear
PENGARUH WAKTU PELELEHAN TERHADAPRAPATARUS KRITIS SUPERKONDUKTOR YBa2Cu3O7-x Didin S. Winatapura; Wisnu Ari Adi; Yustinus P.; Ari Handayani; E. Sukirman
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.195 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.5081

Abstract

PENGARUH WAKTU PELELEHAN TERHADAPRAPATARUS KRITIS SUPERKONDUKTOR YBa2Cu3O7-x. Sintesis superkonduktor YBa2Cu3O7-x (YBCO) melalui metode modified melt-textured growth (MMTG) dengan waktu pelelehan berbeda telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan waktu pelelehan yang optimal pada superkonduktor YBCO dengan nilai rapat arus kritis (Jc) yang tinggi melalui proses pelelehan dengan metode MMTG dan mendapatkan informasi yang mempengaruhi nilai Jc tersebut. Proses pelelehan cuplikan dilakukan pada suhu 1100 C selama 1 menit, 6 menit dan 18 menit, kemudian diturunkan dengan cepat ke suhu 1000 C dan diikuti dengan penurunan lambat ke suhu 960 C. Sifat listrik cuplikan dikarakterisasi dengan probe empat titik dan kualitas serta kuantitas fasa-fasa di dalam cuplikan diukur dengan teknik difraksi sinar-x (XRD) dan dianalisis dengan metode Rietveld. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa cuplikan MMTG merupakan bahan superkonduktor YBCO yang berstruktur kristal ortorombik dengan parameter kisi a = 3,886(5) Å, b = 3,821(7) Å dan c = 11,691(2) Å dan grup ruang Pmmm No. 47. Suhu kritis baik cuplikan sinter maupun MMTG tidak memperlihatkan perubahan nilai yang signifikan dan diperoleh baerturut turut, Tc 92 K dan 91 K. Nilai Jc untuk cuplikan YSIN, YM-1, YM-6 dan YM-18 diperoleh berturut-turut 97,37 A.cm-2; 118,55 A.cm-2 dan 93,63 A.cm-2.
PENGGUNAAN POLIANILIN SEBAGAI CLADDING PENGGANTI PADA SERAT OPTIK UNTUK MENDETEKSI GAS AMONIA Akhiruddin Maddu; Hamdani Zain; La Ode Muliadi; Sar Sardy
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.345 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.5072

Abstract

PENGGUNAAN POLIANILIN SEBAGAI CLADDING PENGGANTI PADA SERAT OPTIK UNTUK MENDETEKSI GAS AMONIA. Telah dilakukan studi penggunaan polianilin sebagai cladding pada serat optik untuk mendeteksi gas amonia. Film polianilin pada substrat kaca diuji respon optiknya terhadap gas amonia, selanjutnya diterapkan sebagai cladding pada serat optik untuk mendeteksi gas amonia. Respon optik lapisan polianilin memperlihatkan absorpsi optik spesifik polianilin berada pada pita spektrum merah dengan puncak sekitar 640 nm. Penerapan polianilin sebagai cladding sensitif amonia dilakukan dengan metode deposisi kimia pada inti (core) serat optik multimoda. Uji respon sensor serat optik menggunakan laser Helium-Neon 635 nm sebagai sumber cahaya yang dicoupling dengan lensa pada salah satu ujung serat optik. Intensitas laser yang sampai diujung lainnya diukur dengan power meter, pada kondisi tanpa amonia maupun dengan perlakuan gas amonia dengan konsentrasi berbeda. Hasil yang diperoleh memperlihatkan penurunan intensitas laser yang ditransmisikan melalui probe serat optik terhadap kenaikan konsentrasi gas amonia. Koefisian absorpsi cladding polianilin meningkat linier terhadap kenaikan konsentrasi gas amonia, seiring kenaikan indeks bias dan perubahan warnanya.
PENGHALUSAN BUTIR FASAMAGNETIK SmCo5 DENGAN VIBRATION BALLMILL UNTUK PEMBUATAN KRISTAL BERSKALANANOMETER E. Handoko; A. Manaf
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.288 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.4938

Abstract

PENGHALUSAN BUTIR FASAMAGNETIK SmCo5 DENGAN VIBRATION BALLMILL UNTUK PEMBUATAN KRISTAL BERSKALANANOMETER. Telah dilakukan proses penghalusan material magnet SmCo5 dengan Vibration Ball Mill menghasilkan serbuk berukuran nanometer. Ukuran serbuk awal yang digunakan adalah 50 m sampai dengan 60 m terdiri dari material fasa tunggal SmCo5 sebagai material dasar untuk magnet permanen. Perbandingan antara massa serbuk dan massa bola adalah 1 : 10 dan proses penghalusan dilaksanakan dalam atmosfir miskin oksigen. Ditemukan bahwa serbuk halus hasil proses sangat reaktip sehingga preparasi material ke dalam bentuk padatan muda (green compact) harus dilakukan dalam ruangan atmosfir argon. Berdasarkan hasil pengukuran kristal dengan analisis pelebaran puncak difraksi sinar-x diperoleh suatu penurunan ukuran kristal yang sangat signifikan dan sistimatik dengan bertambahnya waktu penghalusan. Pada waktu penghalusan selama 20 jam diperoleh ukuran kristal rata-rata ~6,0 nm. Pola difraksi dari sampel magnet menggunakan serbuk sangat halus ini meskipun telah menjalani tahapan perlakuan panas masih tetap memperlihatkan fasa tunggal SmCo5. Dengan demikian proses penghalusan dan preparasi yang telah dilakukan pada penelitian ini dapat digunakan untuk pembuatan magnet permanen Sm-Co dengan ukuran kristal berskala nanometer.
KARAKTERISASI TERMAL KOMPOSIT HEKSAFERIT (BaM) DENGAN MATRIKS POLIMER Sugik Sugiantoro; Sudirman Sudirman; Aloma K. K.; Rukihati Rukihati
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.764 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.5179

Abstract

KARAKTERISASI TERMAL KOMPOSIT HEKSAFERIT (BaM) DENGAN MATRIKS POLIMER. Penggunaan bahan magnet komposit heksaferit banyak dijumpai pada peralatan listrik dan elektronika seperti switching thermistors dan switch break, yang penggunaannya dengan arus tinggi dapat menimbulkan efek panas sehingga perlu dipelajari sifat termal dari matriks polimer komposit tersebut. Karakterisasi dilakukan dengan cara setiap sampel dicuplik dengan berat ± 25 mg dimasukkan ke dalam krusibel alumina kemudian dipanaskan hingga 500 oC dengan kecepatan pemanasan 20 oC per menit menggunakan alat Simultaneous Thermal Analysis (STA). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa matriks vinilester dan epoksi mempunyai sifat termal yang hampir sama, jika dilihat dari suhu awal dekomposisinya epoksi dan vinil ester memiliki ketahanan termal lebih baik dari polietilen yaitu sekitar 396,3 oC dan puncak dekomposisi epoksi 480,5 oC.
PENGARUH HOMOKATION PERMUKAAN BENTONIT TERHADAPPENYERAPAN KATION Cs DAN Sr Adel Fisli; Saeful Yusuf; Deswita Deswita
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.893 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.5170

Abstract

PENGARUH HOMOKATION PERMUKAAN BENTONIT TERHADAPPENYERAPAN KATION Cs DAN Sr. Dipelajari pengaruh modifikasi bentonit lokal dengan cara substitusi kation permukaan dengan kation Na dan Ca terhadap penyerapan kation Cs dan Sr. Proses substitusi kation dilakukan penjenuhan bentonit dengan larutan garam NaCl (Na-bent) dan CaCl2 (Ca-bent). Sedangkan penyerapan kation Cs dan Sr dilakukan dengan metode catu (batch) yang dikocok selama 24 jam dalam pH larutan antara 2 sampai dengan 10. Hasil yang diperoleh, terjadi kenaikan nilai rasio konstanta distribusi (Kd) [Kd Na-bent/KdAlam-bent] sekitar 1,9-2,8 kali untuk kation Cs dan 1,4-2,6 kali untuk unsur Sr. Nilai ratio Kd [Kd Ca-bent/Kd bent alam] juga naik sekitar 4,3-5,7 kali untuk kation Cs dan 2,0-4,5 kali untuk kation Sr. Disimpulkan bahwa homokation permukaan bentonit meningkatkan daya serap terhadap kation Cs dan Sr. Ca-bentonit menyerap Cs dan Sr lebih tinggi dari pada Na-bent.
CORROSION STUDIES ON SS-321 IN CHLORIC-ACID SOLUTION MEDIUM Nurdin Effendi; Aziz K. Jahja
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.993 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.4944

Abstract

CORROSION STUDIES ON SS-321 IN CHLORIC-ACID SOLUTION MEDIUM. Experimental corrosion studies on commercial AISI-321 have been carried out. The experiments were carried out in a chloric- acid medium with a concentration variation of 0.1 mol. 0.2 mol.. 0.3 mol. and 0.4 mol corresponding to pH values of 1.0, 0.7, 0.523, and 0.4 respectively. The experiments were carried out using a type M-273 EG&G potentiostat/galvanometer test instrument. The post-corrosion samples’ microstructure were analyzed with the aid of EDS (energy dispersive spectroscopy) equipped SEM instrument to detect the presence of any viable corrosion byproducts. For further verification. X-ray diffraction method was also used to detect any possible emerging corrosion byproducts on the samples’ surfaces. Experimental results confirm that AISI-321 commercial alloys immersed in a chloric acid corrosion medium with a variation of concentration experience very little or almost no corrosion, and that according to the so-called Fontana’s criteria these test-materials turn out to have an excellent resistance toward chloric acid corrosion. This is also evidenced by the very low corrosion rate value measured in this study. EDS study and X-ray diffraction results indicate that the possible ensuing corrosion byproducts are iron oxides, chrome oxides, and iron chlorides.

Filter by Year

2006 2006


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1: OCTOBER 2022 Vol 23, No 2: APRIL 2022 Vol 23, No 1: OCTOBER 2021 Vol 22, No 2: APRIL 2021 Vol 22, No 1: OCTOBER 2020 Vol 21, No 4: JULY 2020 Vol 21, No 3: APRIL 2020 Vol 21, No 2: JANUARY 2020 Vol 21, No 1: OCTOBER 2019 Vol 20, No 4: JULY 2019 Vol 20, No 3: APRIL 2019 Vol 20, No 2: JANUARY 2019 Vol 20, No 1: OCTOBER 2018 Vol 19, No 4: JULI 2018 Vol 19, No 3: APRIL 2018 Vol 19, No 2: JANUARI 2018 Vol 19, No 1: OKTOBER 2017 Vol 18, No 4: JULI 2017 Vol 18, No 3: APRIL 2017 Vol 18, No 2: JANUARI 2017 Vol 18, No 1: OKTOBER 2016 Vol 17, No 4: JULI 2016 Vol 17, No 3: APRIL 2016 Vol 17, No 2: JANUARI 2016 Vol 17, No 1: OKTOBER 2015 Vol 16, No 4: JULI 2015 Vol 16, No 3: APRIL 2015 Vol 16, No 2: JANUARI 2015 Vol 16, No 1: OKTOBER 2014 Vol 15, No 4: JULI 2014 Vol 15, No 3: APRIL 2014 Vol 15, No 2: JANUARI 2014 Vol 15, No 1: OKTOBER 2013 Vol 14, No 4: JULI 2013 Vol 14, No 3: APRIL 2013 Vol 14, No 2: JANUARI 2013 Vol 14, No 1: OKTOBER 2012 Vol 13, No 3: JUNI 2012 Vol 13, No 2: FEBRUARI 2012 VOL 13, NO 1: OKTOBER 2011 Vol 12, No 3: JUNI 2011 Vol 12, No 2: FEBRUARI 2011 Vol 12, No 1: OKTOBER 2010 Vol 11, No 2: FEBRUARI 2010 Vol 11, No 1: OKTOBER 2009 Vol 10, No 1: OKTOBER 2008 Vol 9, No 3: JUNI 2008 Vol 9, No 2: FEBRUARI 2008 Vol 9, No 1: OKTOBER 2007 Vol 8, No 3: JUNI 2007 Vol 8, No 2: FEBRUARI 2007 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007 Vol 8, No 1: OKTOBER 2006 Vol 7, No 3: JUNI 2006 Vol 7, No 2: FEBRUARI 2006 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006 Vol 7, No 1: OKTOBER 2005 Vol 6, No 3: JUNI 2005 Vol 6, No 2: FEBRUARI 2005 Vol 6, No 1: OKTOBER 2004 Vol 5, No 3: JUNI 2004 Vol 5, No 2: FEBRUARI 2004 Vol 5, No 1: OKTOBER 2003 Vol 4, No 3: JUNI 2003 Vol 4, No 2: FEBRUARI 2003 Vol 4, No 1: OKTOBER 2002 Vol 3, No 3: JUNI 2002 Vol 3, No 2: FEBRUARI 2002 Vol 3, No 1: OKTOBER 2001 Vol 2, No 3: JUNI 2001 Vol 2, No 2: FEBRUARI 2001 Vol 2, No 1: OKTOBER 2000 Vol 1, No 3: JUNI 2000 Vol 1, No 2: FEBRUARI 2000 Vol 13, No 4: Edisi Khusus Material untuk Kesehatan More Issue