cover
Contact Name
PAIR BATAN
Contact Email
pair@batan.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
pair@batan.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop Radiasi
ISSN : 19070322     EISSN : 25276433     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi terbit dua kali setahun setiap Bulan Juni dan Desember. Penerbit khusus dilakukan bila diperlukan
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 1 (2017): Juni 2017" : 7 Documents clear
Pengaruh penambahan Aspergillus niger Iradiasi Sinar Gamma Dosis Rendah pada Jerami Padi Fermentasi dan Evaluasi Kualitasnya sebagai Pakan Ternak Ruminansia Secara In Vitro Crhisterra E. Kusumaningrum; Arthalia Poetri Yunisa; Nana Mulyana; Suharyono Suharyono
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 13, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.288 KB) | DOI: 10.17146/jair.2017.13.1.3581

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian Aspergillus niger iradiasi sinar gamma dosis rendah pada jerami padi fermentasi dan potensinya sebagai pakan ternak ruminansia secara in vitro. Proses fermentasi dilakukan dengan teknik Solid State Fermentation (SSF) menggunakan A. niger yang diiradiasi sinar gamma dosis rendah untuk meningkatkan kemampuan memecah ikatan selulosa. Orientasi dosis iradiasi sinar gamma sebesar 0, 125, 250, 375, 500, 625 dan 750 Gy dilakukan pada A. niger untuk mengetahui kondisi yang optimum dalam menghasilkan aktivitas enzim selulase. A. niger iradiasi sinar gamma pada dosis yang optimum digunakan untuk pembuatan jerami padi fermentasi dan dilakukan evaluasi kemampuan jerami padi fermentasi sebagai pakan ternak ruminansia secara in vitro. Perlakuan jerami padi fermentasi yaitu P0. Jerami Padi, P1. Jerami padi fermentasi A. niger 0 Gy dan P2. Jerami padi fermentasi A. niger 500 Gy. Hasil menunjukkan bahwa dosis optimum iradiasi sinar gamma pada A. niger dalam menghasilkan enzim selulase (3,24 U/ml) adalah 500 Gy. Pada jerami padi fermentasi A. niger 500 Gy menunjukkan aktivitas enzim selulase tertinggi yaitu sebesar 48,5384 U/g bahan kering (BK) dan kadar glukosa sebesar 247,33 mg/g BK pada hari ke-14. Proses fermentasi dengan A. niger iradiasi sinar gamma (500 Gy) mampu meningkatkan kandungan proein kasar, acid detergent fiber (ADF), neutral detergent fiber (NDF) dan bahan kering, namun menurunkan kandungan lemak kasar dan bahan organik (BO). Hasil fermentasi dalam cairan rumen dari jerami padi fermentasi dengan dengan A. niger iradiasi sinar gamma (500 Gy) menunjukkan nilai pH sebesar 7,01; konsentrasi ammonia dan volatile fatty acid (VFA) masing-masing sebesar 3,92% dan 4,73 mmol/100.
Karakteristik beberapa Galur Mutan Sorgum dari Potensi Produksi Gas dan Degradabilitas secara In-vitro Ir. Firsoni, MP; Wahidin Teguh Sasongko
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 13, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.196 KB) | DOI: 10.17146/jair.2017.13.1.3681

Abstract

Teknik produksi gas digunakan untuk mengetahui perbandingan beberapa jenis galur mutan sorgum yang dihasilkan oleh BATAN sebagai pakan ruminansia. 8 jenis daun galur mutan sorgum dan rancangan acak lengkap digunakan dalam pengujian ini. Untuk melihat perbandingan antara perlakuan dilakukan uji anova dan uji lanjut BNT bila pengaruh perlakuan signifikan. Sampel ditimbang 375 mg, dimasukkan ke dalam syringe glass 100 ml ditambah 30 ml media campuran cairan rumen dengan buffer bicarbonat dan diinkubasi pada suhu 39oC selama 24 jam. Variabel yang diukur adalah produksi gas setelah 0, 2, 4, 6, 8,19, 12, 24 dan 48 jam inkubasi, potensi produksi gas, degradabilitas bahan kering (DBK) dan organik (DBO). Hasil yang diperoleh menunjukkan produksi gas, potensi produksi gas dan degradabilitas yang dihasilkan berbeda nyata (P<0,05). Produksi gas tertinggi setelah 24 dan 48 jam adalah perlakuan H dan B yaitu 57,59 dan 71,75 ml/375 mg BK, sementara itu terendah adalah perlakuan I dan G yaitu 50,33 dan 54,92 ml/375 mg BK. Potensi produksi gas yang dihasilkan tertinggi adalah perlakuan B yaitu 85,46 ml/375 mg BK dan terendah adalah perlakuan G yaitu 56,74 ml/375 mg BK, sementara itu persentase produksi gas selama 24 jam tertinggi adalah perlakuan G yaitu 82,45% dan terendah perlakuan B yaitu 62,24%. Degradabilitas bahan kering (DBK) tertinggi setelah 24 dan 48 jam inkubasi adalah perlakuan D dan A yaitu 54,45 dan 67,31%, sementara itu terendah adalah perlakuan G yaitu 50,85 dan 58,93%. Degradabilitas bahan organik (DBO) tertinggi tertinggi setelah 24 dan 48 jam inkubasi adalah perlakuan D dan B yaitu 54,13 dan 69,13%, sementara itu terendah adalah perlakuan G yaitu 50,67 dan 58,93%. Secara umum ada dua jenis galur mutan sorgum hasil iradiasi yaitu mudah terdegradasi sebelum 24 jam dan setelah 24 jam, sehingga bisa digunakan untuk pedoman pemberian pakan untuk ruminansia.
Uji Daya Hasil Biji Terhadap 10 Galur Mutan Harapan Sorgum di Beberapa Lokasi Sihono, SP; Wijaya M. Indriatama
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 13, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.904 KB) | DOI: 10.17146/jair.2017.13.1.3954

Abstract

Sorgum berpotensi besar dan prospektif untuk dibudidayakan dan dikembangkan, seiring dengan semakin meningkatnya jumlah kebutuhan pangan di Indonesia. Pemuliaan sorgum dengan teknik mutasi radiasi telah dilakukan di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Tujuan pemuliaan adalah untuk memperbaiki hasil dan kualitas sebagai pangan. Materi induk yang digunakan adalah galur mutan Zh-30 (varietas Pahat) berasal dari hasil penelitian BATAN diradiasi sinar gamma menggunakan dosis 300 Gy. Kegiatan seleksi menggunakan metode pedigree, dimulai pada generasi M2 dan M3, yaitu dengan memilih tanaman yang memiliki sifat-sifat agronomi lebih baik dibanding induknya, kemudian dilanjutkan pada generasi berikutnya. Sejumlah 10 galur mutan harapan yaitu PATIR-1, PATIR-4, PATIR-12, PATIR-13, PATIR-15, PATIR-61, PATIR-71, PATIR-81, PATIR-91 dan PATIR-101 dievaluasi pada uji adaptasi multilokasi. Metode percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Tiga varietas sorgum yaitu Pahat, Kawali dan Mandau dimasukkan sebagai tanaman kontrol. Parameter data dilakukan terdiri dari beberapa karakter agronomi termasuk hasil biji dianalisis menggunakan ANOVA software komputer metode SAS versi 9.1. Hasil menunjukkan bahwa galur mutan PATIR-4 memiliki hasil biji tertinggi 6,43  t/ha dan diikuti galur PATIR-1 yaitu 6,15 t/ha berbeda nyata secara uji BNT 5% dibandingkan ketiga tanaman kontrol Zh-30 (induk), Kawali dan varietas Mandau (kontrol nasional) berturut-turut hanya 4,26, 5,26 dan 5,43 t/ha.
An Initiative the Used of Sterile Insect Technique (SIT) To Control Filariasis in Indonesia Beni Ernawan; Hadian Iman Sasmita
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 13, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.148 KB) | DOI: 10.17146/jair.2017.13.1.3920

Abstract

Filariasis as part of the neglected tropical disease is one of the health problems in the world. Filariasis divided into onchocerciasis (river blindness) and lymphatic filariasis or elephantiasis. This disease caused by filarial nematode parasites Onchocerca volvulus, Wuchereria bancrofti, Brugia malayi and Brugia timori. Filariasis transmitted by several mosquito genera as the vector. Indonesia as endemic filariasis, agreed on plays a role on World Health Organization (WHO) global filariasis elimination in 2020. Sterile insect technique (SIT) is a potential method which can be applied to filariasis elimination program by controlling the mosquito population. Basic principles of SIT involve mass rearing of species target, sterilization process using gamma-rays and releasing sterile male insect into a target area. SIT combined with other methods under one management as Area-wide Integrated Pest Management (AW-IPM) to increasing effectiveness and successful filariasis elimination program in Indonesia. Filariasis elimination program in Indonesia has several challenges and needed public participation to achieve program goals.
Perbaikan Produksi Kapas (Gossypium hirsutum) Varietas Niab 999 dengan Teknik Mutasi Radiasi Lilik Harsanti, S.Si; Ita Dwimahyani; Tarmizi, SP
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 13, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1008.874 KB) | DOI: 10.17146/jair.2017.13.1.3962

Abstract

Pemuliaan tanaman kapas perlu terus dilakukan untuk mendapatkan varietas kapas yang lebih unggul dari segi kuantitas dan kualitas. Kapas varietas NIAB 999 hasil pemuliaan yang berasal dari kultur jaringan embrio aksis kapas varietas NIAB-999 yang diradiasi dengan sinar gamma 60Co dengan dosis 20 gray. Benih kapas yang dihasilkan dari kultur jaringan Kj 1 dan Kj 2 dengan hasil yaitu percobaan dengan menggunakan rancangan Acak Kelompok dengan ulangan 4 kali luas plot yang berukuran 8 x 7 M2  dengan jarak tanam 10 x 100 cm dan menggunakan varietas Kanesia 2, Kanesia 8 dan Kanesia 9 sebagai pembanding. Pengujian jumlah buah yang terbanyak UDHP Kanesia 2 (91) dan UDHL Kanesia 2 (77). Produksi kg/ha yang tertinggi dari 6 uji multi lokasi di NTB1 Kj 2 (3740,00), Lamongan Kanesia 2 (829,20), Banyuwangi Kanesia 9 (982,4), NTB 2 Kanesia 9 (1470), Bulukumba Kanesia 9 (1565,4), Cinangka Kanesia 9 (1959,2) hasilnya tidak berbeda nyata, artinya sama antara kontrol nasional dan galur mutan. Penggunaan insektisida pada tanaman menyebabkan penurunan produksi kapas berbiji yaitu galur mutan Kj 1 dan Kj 2 sehingga galur ini lebih tinggi produktivitasnya Kj 2 (857 kg/ha) dari pada yang disemprot pembasmi hama, dari tanaman kapas tidak berbeda nyata antara galur dan varietas pembanding. Galur Kj 2 dilepas sebagai varietas baru oleh Menteri Pertanian masing masing dengan nama Karisma-1 pada tahun 2009.
Uji Adaptasi Galur Mutan Harapan Kedelai Hitam DT17 G1 dan DT19 G1-2 Tarmizi, SP; Lilik Harsanti
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 13, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2017.13.1.3949

Abstract

Upaya peningkatan produksi kedelai hitam (Glycine max L. Merr.) di dalam negeri untuk ketersediaan bahan baku industri pangan adalah penyediaan varietas unggul kedelai produksi tinggi, berumur genjah, tahan hama dan penyakit utama. Varietas unggul kedelai hitam sebagai bahan baku kecap masih sangat sedikit, untuk itu BATAN ikut berkontribusi untuk merakit, meneliti dan mengembangkan varietas unggul kedelai hitam. Metode untuk meningkatkan variasi genetik dalam mendapatkan varietas unggul diantaranya adalah dengan teknik nuklir menggunakan sinar gamma sehingga terjadi mutasi. Varietas Cikuray telah diiradiasi sinar γ Co-60 dengan dosis 200 Gy pada tahun 2008 dan terpilih 5 galur mutan harapan kedelai hitam. Uji adaptasi sudah dilakukan di 10 lokasi melalui Konsorsium Kedelai Nasional, dengan tambahan 5 galur dari Balai Penelitian Aneka Kacang dan Umbi (BALITKABI) Malang, 5 galur dari Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan 2 varietas kontrol (Cikuray dan Detam 1). Dari analisis keragaman menunjukkan seluruh komponen genotip menunjukan beda nyata pada taraf uji F 5%. Interaksi genotip dengan lingkungan (linier) yang nyata menunjukkan bahwa peningkatan hasil galur sejalan dengan meningkatnya produktivitas lingkungan. Berdasarkan uji F pada simpangan gabungan menunjukkan beda nyata pada  taraf 5%. Galur DT 17 G1 dan DT 19 G1-2 memiliki daya stabilitas dan adaptabilitas. Genotip yang dinilai stabil sekaligus memiliki rata-rata hasil biji lebih tinggi di 10 lokasi adalah galur DT 17 G1 dan mampu berproduksi optimal pada rentang lingkungan yang relatif luas dibandingkan dengan galur lainnya, termasuk galur DT 19 G1-2 meskipun yang tidak dinilai stabil. Galur DT 19 G1-2 mencapai hasil biji tertinggi, juga memiliki nilai koefisien regresi tertinggi dan positif, artinya galur tersebut beradaptasi khusus untuk dikembangkan pada daerah yang memiliki tingkat produktivitas lahan yang subur. Produktivitas galur DT 19 G1-2 rata-rata 2,42 t/ha dengan potensi 3,17 t/ha dan galur DT 17 G1 2,32 t/ha dengan potensi 3,04 t/ha. Ukuran biji kedua galur lebih besar dari pada induknya Cikuray. Berdasarkan data dan hasil pengujian tersebut, maka galur DT17 G1 dan DT19 G1-2 dapat diajukan untuk dievaluasi dan diusulkan menjadi varietas unggul baru kedelai hitam.
Pengukuran Scaling pada Pipa menggunakan Tomografi Gamma Parallel Beam Bayu Azmi; Wibisono Wibisono; Adhi Harmoko Saputro
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 13, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2017.13.1.3914

Abstract

Pembentukan scale pada pipa maupun unit proses lainnya dapat terjadi di dalam proses produksi. Scaling pada pipa dapat mengurangi diameter pipa sehingga mengurangi laju alir dan bahkan mengakibatkan pipa tersumbat. Pengukuran diperlukan untuk mengetahui keberadaan dan persentase scaling pada pipa. Tomografi merupakan teknik yang digunakan untuk menginvestigasi struktur dalam suatu obyek secara non-intrusive dan non-invasive. Dalam penelitian ini sistem tomografi digunakan untuk pemindaian translasi dan rotasi secara otomatis. Sumber radiasi gamma 137Cs yang terkolimasi mentransmisikan foton gamma menembus obyek uji yang kemudian dideteksi dengan detektor sintilasi NaI(Tl). Kumpulan data proyeksi dibangun menjadi citra menggunakan perekonstruksi citra dengan metode filtered back projection (FBP). Citra hasil rekonstruksi dapat membedakan material dengan nilai densitas yang berdekatan seperti air (1 g/cm3), parafin (0,9 g/cm3), dan pertalite (0,72-0,77 g/cm3). Citra pipa dengan scale dianalisis untuk menghitung persentase area aliran setelah terjadi scaling terhadap pipa normal (pipa tanpa scale). Hasil analisis citra area aliran yang tersisa pada pipa geothermal plant adalah 10,06% dengan 16 proyeksi, 9,86% dengan 32 proyeksi, 9,75% dengan 64 proyeksi, dan 9,76% dengan 128 proyeksi, sedangkan 26,08% pada pipa furnace dengan 32 proyeksi. Sistem yang telah dibangun berhasil memindai obyek, mengakuisisi dan mengumpulkan data, serta membangun dan menganalisis citra untuk menginvestigasi scale di dalam pipa.

Page 1 of 1 | Total Record : 7