cover
Contact Name
PAIR BATAN
Contact Email
pair@batan.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
pair@batan.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop Radiasi
ISSN : 19070322     EISSN : 25276433     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi terbit dua kali setahun setiap Bulan Juni dan Desember. Penerbit khusus dilakukan bila diperlukan
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2012): Juni 2012" : 7 Documents clear
Study of Interaction of Shallow Groundwater and River along the Cisadane and Ciliwung River of Jakarta Basin and Its Management using Environmental Isotopes Paston Sidauruk; Syafalni .; Satrio .
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 8, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1347.479 KB) | DOI: 10.17146/jair.2012.8.1.499

Abstract

The environmental isotopes were employed to study the interaction of shallowgroundwater and river along the Cisadane River and Ciliwung River in Jakarta basin. Therapid growth and development of Jakarta and its surrounding cities, coupled with increasingindustrial and other business sectors have impacted on the demand of the water supply forthe area. These investigations have been conducted to determine the interaction betweenshallow groundwater and the river. The 14C results showed that the groundwater samples(above 40 m) which were close to the river influenced the iso-age contour of 14C, whichindicated the contributions of river water. The analysis of stable isotopes 18O and Deuteriumfrom the river implied that the river water from upstream to downstream was influenced bythe mixing of the river water with the human activities in the upstream (the isotopiccompositions becoming enriched). Further, the 18O and Deuterium data revealed that rivers ofCisadane and Ciliwung are contributing to recharge the shallow groundwater in Jakarta,especially in the nearby river bank. In general, the quality of the shallow groundwater alongthe rivers is good and is suitable as fresh water resource. Due to pollution and declining watertable problems in the Jakarta basin, the artificial recharge wells is shown to be a good wayout to delineate the problems as indicated by pilot project conducted at Kelurahan KramatJati, using infiltration basin method. Isotop alam telah digunakan untuk mempelajari interaksi antara airtanah dangkaldengan air sungai sepanjang Sungai Cisadane dan Ciliwung di wilayah Jakarta. Pertumbuhanpembangunan, industri, sektor perdagangan yang relatif cepat di wilayah Jakarta dansekitarnya telah mangakibatkan permintaan air yang terus meningkat. Penelitian ini bertujuanuntuk menentukan interaksi antara airtanah dangkal dengan air sungai di wilayah Jakartakhususnya sepanjang Sungai Cisadane dan Ciliwung. Hasil analisis isotop 14C dari contohcontohairtanah (di atas 40 m) yang dikumpulkan menunjukkan bahwa kontur iso-age 14C dariairtanah sepanjang sungai telah mengalami distorsi akibat pengaruh air sungai. Hasil analisisdari isotop stabil 18O dan D dari contoh air sungai menyiratkan bahwa percampuran antaraairtanah dangkal dengan air sungai telah terjadi dan tingkat percampuran ini sangatdipengaruhi oleh aktifitas manusia di sekitarnya. Lebih jauh, hasil analisis 18O dan Dmenunjukkan bahwa Sungai Cisadane dan Ciliwung mempunyai kontribusi yang sangat berarti untuk mengimbuh airtanah dangkal Jakarta, khususnya sepanjang sungai. Namundemikian, pada umumnya, kualitas airtanah dangkal masih baik untuk digunakan sebagaisumber air untuk pemenuhan kebutuhan penduduk. Akan tetapi akibat peningkatanpermintaan air, permukaan air tanah telah mengalami penurunan yang tajam dan tercemar.Untuk itu, pengimbuhan buatan sangat diharapkan untuk menghindari penurunan muka airdan peningkatan pencemaran yang berkelanjutan. Pengimbuhan buatan telah memperlihatkanhasil yang sangat menjanjikan seperti yang telah ditunjukkan proyek percontohanpengimbuhan buatan di daerah Kelurahan Kramat Jati.
Biosolubilisasi Lignit Mentah Hasil Iradiasi Gamma dan oleh Trichoderma asperellum Irawan Sugoro; Dea Indriani Astuti; Dwiwahju Sasongko; Pingkan Aditiawati
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 8, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (890.742 KB) | DOI: 10.17146/jair.2012.8.1.491

Abstract

Biosolubilisasi batubara adalah proses mengubah padatan batubara menjadi bahan bakar cairdengan bantuan mikroorganisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkanbiosolubililisasi batubara lignit hasil iradiasi gamma (10 kGy) dengan lignit mentah olehkapang terseleksi Trichoderma asperellum. Perlakuan terdiri dari A (MSS + lignit iradiasigamma 5% + T. asperellum) dan B (MSS + lignit mentah 5% + T. asperellum) dengan kultursub-merged. Parameter yang diukur adalah pH medium, kolonisasi, analisis logam denganAnalisis Aktivasi Netron (AAN) dan produk biosolubilisasi dengan menggunakanspektrofotometer UV-Vis 250nm and 450nm. Sampel yang memiliki tingkat biosolubilisasitertinggi akan dianalisis lanjut dengan FTIR dan GCMS. Hasil penelitian menunjukkan bahwatingkat biosolubilisasi kapang T. asperellum pada lignit mentah (B) lebih tinggi dibandingkandengan lignit iradiasi gamma (A) berdasarkan karakteristika produk biosolubilisasi batubaralignit yang meliputi analisis senyawa fenolik dan aromatik terkonjugasi. Analisis logammenunjukkan terjadinya pengurangan kandungan logam batubara saat proses biosolubilisasi.Analisis produk biosolubilisasi dengan FTIR memperlihatkan kemiripan spektra pada keduaperlakuan. Analisis GCMS menunjukkan kisaran jumlah rantai karbon yang terdeteksi padaproduk biosolubilisasi untuk perlakuan A dan B adalah C6 — C35 dan C10 — C35 yang didominasioleh senyawa asam aromatik, alifatik dan fenil ester. Produk biosolubilisasi pada keduaperlakuan dapat digunakan sebagai pengganti minyak bumi dan direkomendasikan untukdilakukan deoksigenasi sehingga kualitas bahan bakar dapat ditingkatkan. Biosolubilization is a promising technology for converting solid coal to liquid oilby addition of microorganism. Aim of this research is to compare between gamma irradiatedlignite (10 kGy) with raw lignite in biosolubilization by selected fungi Trichoderma asperellum.Treatments were A (MSS + gamma irradiated lignite 5% + T. asperellum) and B (MSS + rawlignite 5% + T. asperellum) with sub-merged culture. There were two parameters observed i.e.biosolubilization product based on absorbance value at 250nm and 450nm and metal analysis byneutron activation analysis (NAA). The highest biosolubilization will be analyzed by FTIR andGCMS. The results showed that biosolubilization of raw lignite (B) was higher than sterilizedlignite (A) based on absorbance value at 250nm and 450nm. The metal of lignite was decreasedafter incubation. FTIR analysis showed that both of treatment had similar spectra onbiosolubilization products. GCMS analysis showed that both of treatment had differentnumber of hydrocarbon, i.e. C6 — C35 (A) and C10 — C35 (B) and dominated by aromatic acids aliphatic and phenylethers. Both of treatment product had the potency as oil substituted butits recommended to deoxygenate for higher quality.
Aplikasi Hidrogel Poli-(akrilamida) Hasil Iradiasi Gamma untuk Adsorpsi Zat Warna Biru Metilen dalam Larutan Erizal .; Hendig Winarno; Basril Abbas
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 8, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.072 KB) | DOI: 10.17146/jair.2012.8.1.498

Abstract

Penelitian ini bertujuan mempelajari kemampuan hidrogelpoli(akrilamida)(PAAM) mengadsorpsi zat warna sintetik biru metilen (BM) dalam larutannya.Hidrogel PAAM disintesis menggunakan iradiasi gamma pada beragam dosis (20-40 kGy),selanjutnya diproses menjadi serbuk kering dan diaplikasikan untuk mengadsorpsi larutanBM. Pengujian adsorpsi secara batch dilakukan pada variasi waktu kontak (0-120 menit),konsentrasi awal BM (2-10 mg/L), dan berat hidrogel (0-120 mg) serta perubahan strukturkimia hidrogel dikarakterisasi menggunakan Fourier Transform Infra Red (FTIR). Hasil evaluasimenunjukkan bahwa hidrogel hasil iradiasi 20 kGy berkapasitas adsorpsi terhadap BM relatiflebih besar dibandingkan hasil iradiasi 30 dan 40 kGy. Meningkatnya berat hidrogelmenyebabkan meningkatnya BM yang diadsorpsi oleh hidrogel. Hasil uji isotermis Langmuirdan Freundlich pada sistem adsorpsi BM menghasilkan koefisien korelasi (R2) 0.9914 dan0,9964 dengan kapasitas adsorpsi maksimum 1,67 mg/g pada pH 6,5. Hasil uji spektrum FTIRmenunjukkan bahwa proses adsorpsi hidrogel PAAM pada BM adalah melalui ikatanhidrogen. Modifikasi hidrogel PAAM sangat potensial sebagai adsorben zat warna. The aim of theresearch is to study the capacity of poly(acrylamide)(PAAM) hydrogel to adsorp a syntheticdye of methylene blue (MB). PAAM hydrogel was synthesized by varying gamma radiationdoses (20-40 kGy), and was then processed to dried powder (120 mesh) and used to adsorbMB dye from the aqueous solution. The batch adsorption experiment was carried out byvarying contact time (0-120 min.), initial concentration of MB (2-10 mg/L), adsorbent dose (0-120 mg), and the chemical changes of hydrogels were characterized by Fourier Transforminfra red (FTIR). The adsorption process of MB was examined with Langmuir and Freundlichisotherm models. The results showed that the hydrogel prepared at 20 kGy had higheradsorption capacities onto MB compare to the hydrogel at 30 and 40 kGy. With increasinghydrogel doses, the MB adsorbed increase. The results of Langmuir and Freundlich isothermexamination obtained the coefficient correlation (R2) of 0,9914 and 0,9964 with maximumadsorption capacity 1.67 mg/g at a solution pH of 6.5. Modification of PAAM hydrogels willbe potentially as dyes adsorbent.
Photocatalytic Degradation of Dissolved Organic Matter in the Ground Water Employing TiO2 Film Supported on Stainless Steel Plate Winarti Andayani; Agustin Sumartono; Muhammad Lindu
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 8, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.411 KB) | DOI: 10.17146/jair.2012.8.1.489

Abstract

The Taman Palem Residences,Cengkareng, Indonesia has a groundwater problem as a main sources of drinking water in thearea due to yellowish brown colour of the water, that may come from dissolved organicmatter (DOM), humic substances. Photocatalytic degradation using TiO2 coated on a stainlesssteel plate (8 x 8 cm) to degrade the dissolved organic matter was studied.Groundwatersamples were collected at 150 m deep from Taman Palem Residences. The TiO2 catalyst wasmade from deep coating in a sol-gel system of titanium (IV) diisopropoxidebisacetylacetonate(TAA) precursor and immobilized at stainless steel plate (8 x 8 cm), followed by calcination at525oC. Two catalyst sheets were put in batch reactor containing groundwater. The groundwater containing DOM were irradiated by UV black light at varying initial pH values i.e 5, 7and 9. Sampling of solution was taken at the interval time of 0, 1, 2, 4, and 6 hours. DOMresidu in water before and after irradiation were measured by spectrophotometer UV-Vis at300 nm. Photocatalytic degradation of DOM was greater in acid solution than in basicsolution. The determination of intermediate degradation products by HPLC revealed thatoxalic acid was detected consistently.
Karakteristika dan Khasiat Daun Keladi Tikus (Typhonium divaricatum (L.) Decne) Iradiasi Ermin Katrin; Fahrul Nizar Novagusda; . Susanto; Hendig Winarno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 8, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2012.8.1.492

Abstract

Keladi Tikus (Typhonium divaricatum (L.) Decne), Araceae, merupakan salah satutanaman Indonesia yang dapat menghambat pertumbuhan sel kanker. Teknik pengawetansimplisia obat herbal menggunakan iradiasi gamma telah lama digunakan untukmemperpanjang masa simpan, namun baru sedikit data-data ilmiah yang mempelajaripengaruh iradiasi terhadap khasiat simplisia tersebut. Pada penelitian ini dilakukan iradiasiterhadap simplisia daun keladi tikus dengan dosis 0, 5, 7,5, 10 dan 15 kGy, kemudiandilanjutkan dengan maserasi setiap sampel daun keladi tikus dengan n-heksan, etil asetat danetanol berturut-turut. Pengaruh iradiasi gamma dipelajari melalui uji aktivitas inhibisi selleukemia L1210 terhadap ekstrak, fraksinasi secara kromatografi kolom, KLT, KCKT danspektrofotometri. Hasil uji sitotoksisitas terhadap sel leukemia L1210 menunjukan bahwaekstrak etil asetat paling aktif berpotensi sebagai antikanker nilai IC50 11,81 μg/mL. Hasilfraksinasi ekstrak etil asetat dengan kromatografi kolom diperoleh 6 fraksi. Fraksi 2merupakan fraksi paling aktif dengan nilai IC50 terendah 4,14 μg/mL. Iradiasi gamma hinggadosis 15 kGy menurunkan aktivitas sitotoksik fraksi 2 terhadap pertumbuhan sel leukemiaL1210, namun masih dalam batas aktif (nilai IC50 ≤ 20 μg/mL) sebagai inhibitor terhadappertumbuhan leukemia L1210. Berdasarkan data sitotoksisitas, profil KLT, spektrum UV-VISdan KCKT antara kontrol dengan sampel yang diradiasi menunjukkan bahwa dosismaksimum untuk iradiasi daun keladi tikus adalah 7,5 kGy.Keladi Tikus (Typhonium divaricatum (L.) Decne), Araceae, is one ofIndonesia plants that can inhibit cancer cell growth. Preservation techniques of herbalmedicine using gamma irradiation has long been used to prolong shelf life, but only a littlescientific data that study the effect of irradiation on the properties of them. In this studyirradiation of keladi tikus leaves with a dose of 0, 5, 7.5, 10 and 15 kGy, followed bymaceration of each with n-hexane, ethyl acetate and ethanol, respectively. Effects of gammairradiation were studied by testing the inhibitory activity against the L1210 leukemia cell forthe extracts, fractionation by column chromatography, analysis by TLC, spectrophotometerand HPLC. The result of cytotoxicity test against L1210 leukemia cells showed that the ethylacetate extract of the most active potential as anticancer IC50 value respectively 11.81 μg/ml.Result of fractionation of ethyl acetate extract were obtained by column chromatography with6 fractions. Fraction 2 was the most active fraction with the lowest IC50 value of 4.14 μg/ml. Gamma irradiation dose of 15 kGy reduced the cytotoxic activity of fraction 2 against L1210leukemia cells, but still within the active potent (IC50 values ≤ 20 μg/ml) as an inhibitor to thegrowth of leukemia L1210. Based on the cytotoxicity data, profiles of TLC, UV-VIS spectrumand HPLC between control and irradiated samples showed that the maximum dose forirradiation of keladi tikus leaves was 7.5 kGy.
Studi Iklim dan Vegetasi Menggunakan Pengukuran Isotop Alam Stalaktit Goa Seropan, Gunung Kidul-Yogyakarta Satrio .; Paston Sidauruk; Bungkus Pratikno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 8, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2012.8.1.497

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mempelajariperubahan iklim dan vegetasi menggunakan isotop alam 13C, 14C dan 18O yang berasal darisampel stalaktit. Sampel stalaktit diambil dari goa Seropan yang terletak di KecamatanSemanu, Gunung Kidul, Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan iklim,vegetasi, temperatur atmosfer, umur dan pertumbuhan stalaktit. Kandungan CaCO3 dalamstalaktit digunakan untuk mendapatkan data dari ke tiga jenis isotop alam tersebut. Dataisotop 13C digunakan untuk mengetahui fluktuasi iklim dan vegetasi. Data isotop 18O, baikyang berasal dari stalaktit maupun dari air tanah yang menetes dalam stalaktit digunakanuntuk mengetahui perubahan temperatur atmosfer, sedangkan isotop 14C digunakan untukmengetahui umur dan pertumbuhan stalaktit. Hasil analisis isotop alam 13C menunjukkanbahwa iklim daerah Gunung Kidul didominasi iklim kering. Hampir 87,5 % menunjukkanvegetasi kering C4, di mana kandungan 13C-nya lebih kaya (-6 o/oo hingga +2 o/oo Pee DeeBelemnite, PDB) dan hanya 12,5 % saja kadang-kadang vegetasinya basah C3, di manakandungan 13C-nya lebih miskin (-14 o/oo hingga -6 o/oo PDB). Dari hasil analisis 18O (stalaktit,PDB) dan 18O (tetesan air, Standard Mean Ocean Water, SMOW) menghasilkan data temperaturantara 12,2 oC hingga 32,1 oC dalam kurun waktu dari tahun 1621 hingga 2011 dengantemperatur rata-rata 19,5 oC, sedangkan dari hasil analisis 14C menunjukkan bahwapertumbuhan stalaktit sekitar 0,1 mm/tahun atau dalam sepuluh tahun hanya tumbuh sekitar1 mm saja. Pertumbuhan ini tergolong lambat dan hal ini lazim untuk daerah tropis denganiklim/vegetasi kering seperti Gunung Kidul.Climate and vegetation study usingenvironmental isotopes (i.e., 13C, 14C and 18O) variations of stalactite has been conducted atSeropan cave, Gunung Kidul Karst area. The stalactite samples were collected from SeropanCave at Semanu, Gunung Kidul, Yogyakarta. The objective of study is to understand theclimate change, and vegetation types, temperature of atmosphere, age and stalactite growthrate through the interpretation of environmental isotopes (i.e., 13C, 14C and 18O) of stalactitesamples. The environmental isotope content of stalactite samples were analysed throughCaCO3 compound that was found at the stalactite samples. The 13C content of samples isimportant to understand climate undulation and also vegetation variation. On the other hand,the variation of 18O and 14C contents is important to predict past temperature of atmosphere,and the age as well as stalactite growth rate, respectively. The result of environmental 13Cisotope analysis showed that Gunung Kidul area in general can be classified as dry climate. Itis also indicated that almost 87.5 % of local vegetation can be classified as dry vegetation C4as can be seen from the variation of 13C content that is -6 o/oo to +2 o/oo vs PDB. This can alsomean that only 12.5 % of the time that the vegetation in the area is wet in which the variationof 13C content is in the range -14 o/oo to -6 o/oo vs PDB. The variations of 18O contents of thesamples (carbonate stalactite, or drip water) showed that the average temperature since 1621to 2011 was around 19.5 oC. On the other hand, the variations of 14C contents of the samplesshowed that stalactite growth rate was around 0.1 mm/year or one mm in ten years. Theresult shows that the stalactite growth is very slow as generally expected in tropical area suchas Gunung Kidul.
Variasi Genetik Anggrek Alam Phalaenopsis amabilis (L.) Blume Hasil Iradiasi Sinar Gamma Rahayu Sulistianingsih; Aziz Purwantoro; Woerjono Mangoendidjojo; Endang Semiarti
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 8, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2012.8.1.488

Abstract

Untuk mendapatkan kultivar baru anggrek alam Phalaenopsis amabilis (L.)Blume telah dilaksanakan iradiasi sinar gamma Co-60. Hasil iradiasi menunjukkan keragamanfenotip, sehingga perlu dilakukan penelitian secara biologi molekuler untuk mengetahuiapakah keragaman fenotip tersebut memang disebabkan karena adanya perbedaan genotippada tanaman-tanaman hasil iradiasi tersebut. Dalam penelitian ini dilakukan analisiskeragaman genetic antar individu dalam populasi tanaman hasil iradiasi dengan menggunakanteknik RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA). Bahan tanaman berupa hasil iradiasi sinargamma 0, 15, 20, 25, 20+20 dan 40 Gray. Masing-masing diisolasi DNA genom dari tanamantersebut dan diamplifikasi dengan 22 primer yang ditentukan secara random. Hasil PCR(Polymease Chain Reaction) dianalisis dengan elektrophoresis dengan 1.5 % agarose. AnalisisDNA dilakukan dengan teknik RAPD menggunakan 8 primer terseleksi dari 22 primer yangdigunakan analisis polimorfis dan keragaman molekuler dianalisis dengan metode Nei’s genediversity dengan program GenAlEx 6.1. Hasil penelitian menunjukkan Keragaman geneticdapat dianalisis pada awal pertumbuhan tanaman anggrek bulan alam Phalaenopsis amabilis(L.) Blume hasil iradiasi sinar gamma Co-60 dengan menggunakan teknik RAPD dan dosisiradiasi 15 dan 40 Gy memberikan variabilitas genetik tinggi dibandingkan tanpa perlakuan

Page 1 of 1 | Total Record : 7