cover
Contact Name
Lukman Cahyadi
Contact Email
lukman.cahyadi@esaunggul.ac.id
Phone
+6221-5674223
Journal Mail Official
nutrirediaita.ueu@esaunggul.ac.id
Editorial Address
https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/Nutrire/about/editorialTeam
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
NUTRIRE DIAITA
Published by Universitas Esa Unggul
ISSN : 19798539     EISSN : 27461734     DOI : -
Core Subject : Health, Agriculture,
Journal Description NUTRIRE DIAITA publishes original research articles, review articles, and clinical studies covering the broad and multidisciplinary field of human nutrition. In the aim of improving the quality of the journal since Oktober 2019 this journal officially had made a cooperation with Nutrition Department Universitas Esa Unggul FOCUS AND SCOPE NUTRIRE DIAITA aim to deliver findings and innovations in the field of nutrition and health. NUTRIRE DIAITA is published 2 times per year (April and October). The journal covers all aspect relating to Human Nutrition including clinical nutrition, community nutrition, food service management, food technology and sport nutrition.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2010)" : 6 Documents clear
Biaya Bahan Makanan, Densitas Energi Makanan dan Status Gizi Wanita Pedagang Pasar Kebayoran Lama Jakarta Selatan Nuzrina, Rachmanida; Wiyono, Sugeng
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v2i1.669

Abstract

AbstractIt is estimated in 2015, the prevalence of over nutrition will surpass the prevalence of under nutrition as the cause of the death to the poor community. This is caused by consumption of high food fat, sugar and refined grains that is higher compared to vegetables and the seeds because of its deliciousness, give the full feeling and cheaper cost. This research try to explore the relationship between the food cost, the density of food energy intake and the nutritional status of the woman market traders in Kebayoran Lama, South Jakarta. This research used cross sectional design with the number of samples 64 female traders based on the status of the over-weight and normal. The food energy density data is recorded with food recall 24 hours, and the food cost is obtained from price survey in the local market. Results of the research shows food with the highest energy density is jerohan (9 kcals/g), the food with the lowest energy density is the cucumber (0.08 kcals/g), food with the highest cost is the string bean (Rp. 117/100 kcals), the food with the lowest cost is jerohan (Rp.1.10/100 kcals). There is a significant negative correlation between the food cost and the energy density of food (r = - 0,521; (p<0,05). Average energy intake from main food is 979 kcals (±282), vegetables and fruit is 48 kcals(±24.1), sugar and fat is 909 kcals (±299). There is significant difference on  average energy intake (238 kcals) of main food, fruits and vegetables (19 kcals), and sugar and fats (344 kcals) with respect to nutritional status. Nutrition education using dietary guidelines should be the main effort to reduce the prevalence of over-weight.Keywords: food cost, density and nutritional status, woman marketAbstrakDiperkirakan pada tahun 2015 penyakit akibat gizi lebih akan melebihi jumlah penyakit akibat gizi kurang sebagai penyebab kematian pada masyarakat miskin. Hal ini dikarenakan konsumsi makanan tinggi lemak, gula dan makanan pokok lebih tinggi dibandingkan buah, sayur dan biji-bijian karena rasa lezat, memberi rasa kenyang dan biaya yang lebih murah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara biaya bahan makanan, densitas energi makanan yang dikonsumsi, dan Status Gizi wanita pedagang pasar Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel 64 pedagang perempuan dengan status gizi lebih dan normal. Data karakteristik dicatat dengan kuesioner, data densitas dicatat dengan food recall 24 jam, dan biaya bahan makanan dengan survey harga pasar. Hasil penelitian menunjukkan makanan dengan densitas energi tertinggi adalah jerohan (9 Kalori/gram), bahan makanan dengan densitas energi terendah adalah ketimun (0.08 Kalori/gram), makanan dengan biaya paling tinggi adalah buncis (117 rupiah/100 Kalori), bahan makanan dengan biaya terendah adalah jerohan (1.10 rupiah/100 Kalori). Hasil Uji Korelasi menunjukkan ada hubungan antara biaya bahan makanan dengan densitas energi makanan r = 0.521 (p<0,05). Rata-rata asupan energi dari konsumsi makanan pokok sebesar 979 Kalori (±282), konsumsi sayur dan buah 48 Kalori (±24.1), konsumsi gula dan lemak 909 Kalori (±299). Perbedaan rata- rata asupan energi dari konsumsi makanan pokok menurut status gizi sebesar 238 Kalori (p<0.05), konsumsi sayur dan buah berdasarkan status gizi sebesar 19 Kalori (p<0.05), perbedaan rata-rata asupan energi dari konsumsi gula dan lemak berdasarkan status gizi sebesar 344 Kalori (p<0.05).Kata kunci: biaya bahan makanan, status gizi, harga pasar
Konsumsi Makanan Jajanan, Konsumsi Makanan di Rumah dan Status Gizi Anak di SDN 04 Petang, Jakarta Timur Simanjuntak, Getruida; Hartono, Anton Sri
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v2i1.664

Abstract

AbstractNutrition problems still becomes a problem in developing countries and developed countries. In Indonesia, since 1950 there have been concerns that malnutrition can affect to development childrens. The growth and brain development of children requires very important nutrients such as carbohydrates, proteins, fats, vitamins, minerals and water. Therefore recommended dietary alowance (RDA) can be determined by the average requirement of nutrient to achieve the optimal nutritional status.The purpose of this study was to determine the relationship between the consumption of snack foods, food consumption at home and nutritional status in student public elementary school 04 PETANG, East Jakarta.The total sample of this study is 60 students. This study used t-test to analyzing the data. This analysis is used to determine the relationship between the characteristics (age, mother’s education, mother’s occupation, family income, pocket money, snack foods), food intake of snacks and food consumption at home and nutritional status. The results shows no significant relationship between average of Z-score (BMI/U) of children by age, mother’s education, mother’s occupation, family income, pocket money for snacks and snack foods (p>0.05). However, this study found that there is a relationship between intake of energy (r=0.682), protein (r=0.689) and Z-score (BMI/U) of children (p<0.05).Keywords: snack foods, food consumption, nutritional statusAbstrakSampai saat ini gizi menjadi masalah baik di Negara berkembang maupun Negara maju. Di Indonesia sejak tahun 1950 sudah terdapat kekhawatiran bahwa gizi buruk dapat mempengaruhi perkembangan anak. Dalam pertumbuhan dan perkembangan otak anak dibutuhkan zat-zat gizi yang sangat penting yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air oleh karenanya Angka Kecukupan Gizi (AKG) dapat menentukan rata-rata kecukupan yang dianjurkan guna mencapai status gizi yang optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara konsumsi makanan jajanan dan konsumsi makanan di rumah terhadap status gizi anak sekolah dasar. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SDN 04 Petang, Jakarta Timur. Sedangkan sampelnya sebanyak 60 orang. Analisis data pada penelitian ini dengan menggunakan uji t. Teknik ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik (umur, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan orangtua, uang jajan dan jenis makanan jajanan), asupan makanan jajanan dan makanan di rumah dan status gizi. Hasil uji statistik menunjukkan tidak adanya perbedaan yang bermakna rata-rata Z-score (IMT/U) anak berdasarkan umur, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan orangtua, uang jajan dan jenis makanan jajanan. Hubungan Z-score (IMT/U) anak dengan asupan energi (r=0,682;p<0,05) dan protein (r=0,689;p<0,05) sangat bermakna.Kata kunci: makanan ringan, konsumsi makanan,  status gizi
Perbandingan Status Gizi Balita, Data Susenas 2005 Berdasarkan Rujukan Harvard, NCHS, CDC dan Standar WHO Nadiyah, Nadiyah; Jus'at, Idrus; Zulfianto, Nils Aria; Atmarita, Atmarita
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v2i1.665

Abstract

AbstractAccording to the comparison of WHO curve standards in 2005 with international standards earlier, they said that the prevalence of infants who are underweight and age in the first half-year period will be increased and the prevalence of underweight children above the age of 6 months will be decreased. The aims of this study is to determine the proportion of malnutrition among children under five years between four reference standards and differences of standards (Havard, NCHS, CDC, and WHO Standards) and large of deviation by previous references to the new standards. This analysis used survey design along with comparative study. The sample of this study is children with aged 0-59 months from data SUSENAS 2005 (93.0). The data was collected such as gender, date of birth, date of weighing, and body weight. The results shows the proportion of underweight children underfive year among four references and standards is different in particular ages. In the analysis of sensitivity and specificity shows that the reference category of nutritional deviation value from CDC is lower (2.15% for males and 1.89% for females) than the other standards. The deviation values of Harvard is 8.41% for males and 4.08% for females. The deviation values of NCHS is 4.65% for males and 21.4% for females. The  standard instruction of WHO as description of growth “what should be” is the best food for infants aged 0-6 months is only breast milk or we called exclusive breastfeeding and the further we should give additional foods after 6 months by continuing give the breastfeeding until 24 months.Keywords: children under five year, nutritional status, WHO standard AbstrakPada tahun 2005, WHO mengeluarkan standar internasional baru yang disebut Standar WHO 2005. Oleh WHO, perbandingan kurva standar WHO 2005 dengan standar-standar internasional sebelumnya telah digambarkan dalam grafik dan dikatakan bahwa dengan menggunakan standar WHO, prevalensi bayi yang mengalami kekurangan berat badan dan usianya dalam periode setengah tahun pertama akan meningkat dan prevalensi anak yang berat badannya kurang diatas umur 6 bulan akan menurun. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui apakah proprosi balita gizi kurang antara keempat rujukan dan standar (rujukan Harvard, NCHS, CDC dan standar WHO) berbeda dan seberapa besar penyimpangan oleh rujukan-rujukan sebelumnya terhadap standar terbaru. Analisis ini menggunakan pendekatan survei dengan jenis studi komparatif. Sampel adalah kelompok balita usia 0-59 bulan berasal dari data Susenas 2005, sebanyak 93044 balita. Data yang dikumpulkan adalah data jenis kelamin, tanggal lahir, tanggal penimbangan, dan berat badan. Hasil uji beda proporsi menyatakan bahwa proporsi balita gizi kurang antara keempat rujukan dan standar saling berlainan pada umur-umur tertentu. Pada analisis sensitifitas dan spesifisitas tampak bahwa rujukan yang penyimpangan pengkategorian gizi kurangnya paling kecil adalah rujukan CDC (2.15% pada laki-laki dan 1.89% pada perempuan). Penyimpangan pada rujukan Harvard sebesar 8.41% untuk laki-laki dan 4.08% untuk perempuan. Penyimpangan pada rujukan NCHS sebesar 4.65% untuk laki-laki dan 4.21% untuk perempuan. Pesan standar WHO sebagai gambaran pertumbuhan “what should be” adalah bahwa makanan yang terbaik bagi anak usia 0-6 bulan adalah ASI saja atau disebut ASI eksklusif dan selanjutnya diberikan makanan tambahan setelah usia 6 bulan seiring ASI tetap diteruskan sampai umur 24 bulan.Kata kunci: balita, status gizi, standar WHO
Pengetahuan Gizi, Sikap dan Pola Makan dengan Profil Lipid Darah pada Pegawai Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung Sunarti, Sunarti
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v2i1.666

Abstract

AbstractOne of factors that led to the emergence of cardiovascular disease is a disorder of blood lipid, called dyslipidemia which has increasing level of total colesterol hypercolesterolemia), elevating levels of low density lipoprotein (LDL), decreasing levels of high density lipoprotein (HDL) and increasing levels of tryglycerides (hypertriglycerides). Food consumption pattern which were influenced by nutrition knowledge and attitude person could transform blood lipid profile.  The aims of this study is to determine the relationship between nutrition knowledge, attitudes, food consumption pattern and blood lipid profile in employees at Cicendo Eye Hospital, Bandung. This study used cross-sectional design. The population of this study is hospital employees. The random sampling method used to get the sample (69 people). This study used Chi-square test and multiple logistic regression modelling test to analyze the data. The results showed that there is a significant relationship between knowledge and attitudes, attitudes and food consumption pattern. There is no relationship between knowledge, attitudes, food consumption pattern and profile of total cholesterol, LDL, and HDL. There is a significant relationship between knowledge, attitudes, food consumption pattern and triglyceride lipid profile. The dominant factors associate to blood lipid profile are the attitude and diet. Knowledge, attitudes, and food consumption pattern can be affect to blood lipid profile. There are another factors influence the blood lipid profile which are not investigated in this study.Keywords: nutrition knowledge, food consumption pattern, blood lipid profileAbstrakSalah satu faktor penyebab timbulnya penyakit kardiovaskuler adalah gangguan  lipid darah yang disebut dengan dislipidemia  berupa peningkatan kadar kolesterol total (hiperkolesterolemia), peningkatan kadar low density lipoprotein (LDL), penurunan kadar high density lipoprotein (HDL) dan kenaikan kadar trigliserida (hipertrigliserida). Penyebab perubahan profil lipid darah adalah pola makan yang dapat dipengaruhi oleh pengetahuan gizi dan sikap seseorang. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat pengetahuan gizi, sikap dan pola makan  dengan profil lipid darah Pegawai Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung. Design penelitian  cross-sectional dengan populasi   pegawai RS. Mata Cicendo Bandung. Sampel yang diambil secara acak didapat 69 orang. Analisa yang digunakan uji chi-square  dan pemodelan multiple logistic regression test . Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dan sikap, sikap dan pola makan.Tidak terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan, sikap dan pola makan dengan profil kolesterol total, LDL dan HDL. Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan, sikap dan pola makan dengan profil lipid trigliserida. Faktor paling dominan berhubungan dengan profil lipid darah pegawai Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung adalah sikap dan pola makan. Pengetahuan, sikap, dan pola makan  berpengaruh terhadap profil lipid darah, namun ada faktor-faktor lain yang  berpengaruh yang tidak diteliti pada penelitian ini.Kata kunci: pengetahuan gizi, pola konsumsi makanan, profil lipid darah
Frekuensi Konseling Gizi, Pengetahuan Gizi Ibu dan Perubahan Berat Badan Balita Kurang Energi Protein (KEP) di Klinik Gizi Puskesmas Kunciran Kota Tangerang Cahyani, Fajar Nova; Hartono, Antonius Sri; Ngadiarti, Iskari
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v2i1.667

Abstract

AbstractIndonesia still have four major nutritional problems, one of the problem is malnutrition of energy protein (KEP). The effectiveness and efficiency solving of nutritional problem are nutrition intervention such as supplementation, fortification and nutrition education. The aim of this study is to determine the relationship betwen the frequency of nutrition counseling, nutritional knowledge of mothers and variance of weight children under five years less energy protein at Clinical Nutrition of Community Health centre, Kunciran, Buraeu of Health, Tangerang City in 2008.  This is associative study with cross-sectional design. The population in this study is all infants who comes to community health centre refferal from POSYANDU and MTBS on Tuesday. The total sample of this study was 46 mothers. This study used Pearson Product Moment Correlation to analyze the data. Most of respondents aged 26-30 years (30.4%), the education level is primary school (43.5%), and unemployment or housewife (84.8%). Most of children under five years is female (67.4%) and aged 12-35 months (56.5%). The results shows that there was no relationship between frequency of nutrition counseling, nutritional knowledge of mothers, and variance of weight children under five years, the value of correlation respectively (0.109; 0,156; 0.170). The conclusion of this study is no relationship between the frequency of nutrition counseling, nutritional knowledge of mothers and variance of weight children under five years less energy protein. However, based on boxplot graphs shows there is a tendency among the frequency of nutrition counseling, nutritional knowledge of mothers and variance of weight children under five years less energy protein.Keywords: frequency of nutrition counseling, nutritional knowledge, variance of weightAbstrakIndonesia masih menghadapi empat masalah gizi utama, salah satunya adalah Kurang Energi Protein (KEP). Intervensi gizi melalui suplementasi, fortifikasi dan pendidikan gizi merupakan langkah penanggulangan masalah gizi yang memberikan hasil yang efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan antara frekuensi konseling gizi, pengetahuan gizi ibu dengan perubahan berat badan balita KEP di Klinik Gizi Puskesmas Kunciran Kota Tangerang. Jenis penelitian ini adalah asosiatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita KEP yang datang ke Klinik gizi Puskesmas Kunciran rujukan dari posyandu dan Klinik Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) pada hari Selasa, dan sampel didapat 46 orang ibu balita. Analisa data menggunakan Uji Pearson Product Moment Correlation. Sebagian besar responden berumur 26-30 tahun (30,4%), memiliki tingkat pendidikan SD (43,5%), dan tidak bekerja (84,8%), sebagian besar balita adalah perempuan (67,4%) dan berumur 12-35 bulan (56,5%). Hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara ketiga variabel tersebut dengan nilai korelasi masing-masing (0.109, 0.156, dan 0.170). Tidak ada hubungan antara frekuensi konseling gizi, pengetahuan gizi ibu dengan perubahan berat badan balita KEP. Namun berdasarkan grafik boxplot ada tendensi antara frekuensi konseling gizi, pengetahuan gizi ibu dan umur balita dengan perubahan berat badan balita KEP.Kata kunci: frekuensi konseling gizi, pengetahuan gizi, perubahan berat badan
Osteoporosis, Konsumsi Susu, Jenis Kelamin, Umur dan Daerah di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur Mulyani, Erry Yudhya; Damayanti, Didit
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v2i1.668

Abstract

AbstractOsteoporosis is a major health problem in the world and classified as metabolic disorders. Some factors which influence Osteoporosis are Sex, Age, Region, and Diet. The objective of this study was to determine the relationship. Osteoporosis and milk consumption based on sex, age, and region in DKI Jakarta, West Java, Central Java and East Java. This study used secondary data results from bone mass density at the shopping center of some cities in 2002-2005. chi-square test and logistic regression were used to analyze the data. The number of respondents from four regions are 69657, most of them are female, aged < 55 years and largely female respondents belongs to the 14-44 years age. Our statistical test shows that there is a relationship between levels of Osteoporosis and Milk consumption based on regions (West Java and East Java), female sex, and menopause (p<0.005), but there is no relationship between levels of Osteoporosis and Milk consumption based on regions (DKI Jakarta and Central Java), male sex, and longevity (p>0.005). Regression analysis showed that the region variable of West Java, Central Java, East Java, Gender, Longevity and Menopause are the risk factors of Osteoporosis as compare to DKI Jakarta. In additon to diet, we should have physical activity for bone formation.Keywords: osteoporosis, milk consumption, indonesiaAbstrakOsteoporosis merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia dan termasuk penyakit gangguan metabolisme. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain; jenis kelamin, umur, daerah, dan diit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat Osteoporosis dengan konsumsi susu berdasarkan Jenis Kelamin, Umur, dan Daerah di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan data sekunder hasil pemeriksaan bone density mass di pusat perbelanjaan kota besar pada tahun 2002-2005. Analisis yang digunakan yaitu uji chi-square dan regresi logistik untuk mendapatkan model yang diinginkan. Jumlah responden dari ke-empat daerah yaitu 69657, rata-rata berjenis kelamin perempuan, sebagian besar berumur < 55 tahun, dan responden perempuan sebagian besar masuk dalam kategori umur 14-44 tahun. Berdasarkan hasil uji statistik didapat bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat osteoporosis dengan konsumsi susu berdasarkan variabel daerah (Jawa Barat dan Jawa Timur), Jenis Kelamin perempuan, dan Menopause (p<0,05), namun tidak ada hubungan yang bermakna pada variabel daerah (DKI Jakarta dan Jawa Tengah), Jenis Kelamin Laki-laki, dan Usia lanjut (p>0,05). Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa variabel daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jenis Kelamin, Usia Lanjut, dan Menopause merupakan faktor resiko Osteoporosis dibandingkan DKI Jakarta. Disarankan selain dari diit diperlukan aktifitas fisik untuk pembentukan tulang.Kata kunci: osteoporosis, konsumsi susu, Indonesia

Page 1 of 1 | Total Record : 6