cover
Contact Name
Nurdin Amin
Contact Email
nurdin.amin@ar-raniry.ac.id
Phone
+6285207161847
Journal Mail Official
jurnal.share@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Editorial Office Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh, 2nd Floor Jln. Syech Abdur Rauf Banda Aceh 23111, Aceh, Indonesia
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Share
ISSN : 25490648     EISSN : 20896239     DOI : 10.22373/share
Core Subject :
Share Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam a peer reviewed, double-blind journal published by the Faculty of Islamic Economics and Business at Universitas Islam Negeri Ar-Raniry in Banda Aceh, Indonesia. SHARE publishes research and concept papers pertaining to the field of Islamic economics and finance in open-access format, allowing users to freely access and download the articles under the CC BY SA license. SHARE has been a CrossRef Member since 2017, which means that each paper published by the journal will have a unique DOI number.
Arjuna Subject : -
Articles 25 Documents
Does Digital Waqf Intention Lead to Actual Use? Evidence from West Java Auni Alifah Sukirman; Indri Yuliafitri; Nabela Hapsari
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 15 No. 1 (2026): IN PROGRESS
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.0045

Abstract

Digital waqf has emerged as a transformative innovation in Islamic philanthropy, linking traditional endowment practices with contemporary digital technology; however, despite Indonesia’s estimated annual cash waqf potential of IDR 180 trillion, less than 2% has been realized due to limited public literacy and participation. This study aims to examine the determinants of digital waqf adoption by applying the Technology Acceptance Model (TAM), with particular attention to perceived usefulness, perceived ease of use, and waqf literacy in shaping behavioral intention and actual use. Data were collected from 271 Muslim respondents in West Java and analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The findings indicate that perceived ease of use significantly influences both perceived usefulness and behavioral intention, while waqf literacy also positively affects intention. In contrast, perceived usefulness does not show a significant effect on behavioral intention, suggesting that ease, understanding, and cognitive-religious awareness play a more prominent role than functional benefits in encouraging participation. Behavioral intention is confirmed as a strong predictor of actual use, highlighting its role as a critical link between awareness and real engagement in digital waqf activities. These results extend the TAM framework by incorporating waqf literacy as a cognitive-religious factor relevant to philanthropic technology adoption. Practically, the study suggests that waqf institutions should prioritize user-friendly platform design, expand literacy initiatives, and strengthen trust through transparency and accessibility to convert intention into sustained participation. ABSTRAK - Apakah Niat Berwakaf Digital Mempengaruhi Penggunaan Aktual? Bukti dari Jawa Barat. Wakaf digital hadir sebagai inovasi penting dalam filantropi Islam yang menghubungkan praktik wakaf tradisional dengan teknologi digital modern. Namun demikian, dari potensi wakaf uang nasional yang diperkirakan mencapai Rp180 triliun per tahun, realisasinya masih di bawah 2% akibat rendahnya literasi dan partisipasi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi adopsi wakaf digital dengan menggunakan kerangka Technology Acceptance Model (TAM), khususnya persepsi kemanfaatan, persepsi kemudahan penggunaan, dan literasi wakaf dalam membentuk niat berperilaku serta penggunaan aktual. Data diperoleh dari 271 responden Muslim di Jawa Barat dan dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan berpengaruh signifikan terhadap persepsi kemanfaatan dan niat berperilaku, sementara literasi wakaf juga memberikan pengaruh positif terhadap niat. Sebaliknya, persepsi kemanfaatan tidak berpengaruh signifikan terhadap niat, yang mengindikasikan bahwa faktor kemudahan, pemahaman, dan kesadaran kognitif-religius lebih dominan dibandingkan manfaat fungsional dalam mendorong partisipasi. Niat berperilaku terbukti sebagai prediktor utama penggunaan aktual, yang menegaskan perannya sebagai penghubung antara kesadaran dan tindakan nyata dalam wakaf digital. Temuan ini memperluas TAM dengan memasukkan literasi wakaf sebagai dimensi kognitif-religius yang relevan dalam adopsi teknologi filantropi. Secara praktis, lembaga wakaf perlu mengutamakan desain platform yang mudah digunakan, memperluas program literasi, serta meningkatkan kepercayaan melalui transparansi dan aksesibilitas guna mendorong partisipasi berkelanjutan.
Islamic Philanthropy and SDGs: Evidence from Zakat Institutions in North Sumatra, Indonesia Indra Prawira; Andri Soemitra; Yenni Samri Juliati Nasution
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 15 No. 1 (2026): IN PROGRESS
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.0046

Abstract

Islamic philanthropy has increasingly been recognized as a strategic instrument for advancing inclusive and sustainable development, particularly through zakat management aligned with the Sustainable Development Goals (SDGs). This study examines the integration of zakat institutions with SDG implementation in North Sumatra, Indonesia, with a focus on SDG 1 (No Poverty), SDG 2 (Zero Hunger), and SDG 3 (Good Health and Well-being). The research aims to formulate a strategic model of Islamic philanthropy that strengthens the contribution of zakat institutions to sustainable development. A qualitative research design was employed using the Analytic Network Process (ANP) to identify and prioritize strategic elements within zakat governance and implementation. Data were collected through in-depth interviews, observations, documentation, and ANP-based pairwise comparisons involving regulators, practitioners, and academics. The findings indicate that zakat possesses significant potential to support sustainable development; however, its effectiveness remains constrained by weak institutional governance, limited human resource capacity, inadequate digital infrastructure, fragmented coordination, and low public trust in formal zakat institutions. The study identifies five strategic domains requiring improvement: governance, program relevance, inter-institutional coordination, economic sustainability, and public awareness. The ANP results further reveal three major priorities for institutional strengthening, namely enhancing supervisory functions, expanding public education regarding institutional zakat, and empowering mustahik through vocational and spiritual development programs. These findings highlight the importance of institutional reform, digital transformation, and empowerment-oriented zakat management in positioning Islamic philanthropy as a sustainable socio-economic development mechanism. ABSTRAK - Filantropi Islam dan SDGs: Bukti dari Lembaga Zakat di Sumatera Utara, Indonesia. Filantropi Islam semakin diakui sebagai instrumen strategis dalam mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, khususnya melalui pengelolaan zakat yang terintegrasi dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Penelitian ini menganalisis integrasi lembaga zakat dengan implementasi SDGs di Sumatera Utara, Indonesia, dengan fokus pada SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 2 (Tanpa Kelaparan), dan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera). Tujuan utamanya adalah merumuskan model strategis filantropi Islam yang mampu memperkuat kontribusi lembaga zakat terhadap pencapaian pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Analytic Network Process (ANP) untuk mengidentifikasi serta memprioritaskan elemen-elemen strategis dalam tata kelola dan implementasi zakat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, serta perbandingan berpasangan berbasis ANP yang melibatkan regulator, praktisi, dan akademisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zakat memiliki potensi signifikan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, namun efektivitasnya masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, antara lain lemahnya tata kelola kelembagaan, keterbatasan kapasitas sumber daya manusia, infrastruktur digital yang belum optimal, kurangnya koordinasi antarlembaga, serta rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga zakat formal. Penelitian ini mengidentifikasi lima area strategis yang perlu diperkuat, yaitu tata kelola, relevansi program, koordinasi kelembagaan, keberlanjutan ekonomi, dan peningkatan kesadaran publik. Temuan ANP juga menegaskan tiga prioritas utama dalam penguatan kelembagaan, yakni peningkatan fungsi pengawasan, perluasan edukasi publik terkait zakat kelembagaan, serta pemberdayaan mustahik melalui pengembangan keterampilan dan pembinaan spiritual. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan pentingnya reformasi kelembagaan, transformasi digital, dan penguatan pendekatan pemberdayaan agar filantropi Islam dapat berperan optimal sebagai instrumen pembangunan sosial-ekonomi yang berkelanjutan.
Contract-Specific Effects of Fintech on Islamic Financing Profitability Erwin Saputra Siregar; Fitri Sagantha; M. Taufik Ridho; Rohaiza Kamis; Intan Rizkiana
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 15 No. 1 (2026): IN PROGRESS
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.0011

Abstract

As Islamic banks continue to expand their financing activities and accelerate digital transformation, understanding how different financing contracts contribute to profitability has become increasingly important. This study examines the effects of Islamic financing contracts on the net profit of Islamic banks and investigates whether fintech moderates these relationships. The analysis covers six financing contracts: murabahah, mudharabah, musyarakah, ijarah, istishna', and qardh. Using a quantitative explanatory design, the study employs monthly aggregate data from the Indonesian Islamic Banking Statistics published by the Financial Services Authority (OJK) from January 2015 to December 2024. Fintech is proxied by operational expenditure efficiency, and the hypotheses are tested using Moderated Regression Analysis (MRA). The findings reveal that the profitability effects of Islamic financing differ across contract types. Mudharabah financing is associated with a significant negative effect on net profit, whereas istishna' financing has a significant positive effect. In contrast, murabahah, musyarakah, ijarah, and qardh financing do not significantly influence net profit. The results further show that fintech strengthens the relationship between istishna' financing and net profit but does not significantly moderate the effects of the other financing contracts. These findings suggest that the contribution of fintech to profitability depends on the characteristics of individual contracts, particularly their operational complexity, monitoring intensity, and risk profile. This study contributes to the Islamic banking literature by highlighting the contract-specific role of fintech and suggests that digitalization efforts should be prioritized in financing activities that require intensive monitoring and project management, especially istishna' financing. ABSTRAK - Pengaruh Spesifik Fintech terhadap Profitabilitas Pembiayaan Syariah Berdasarkan Akad. Perkembangan pesat perbankan syariah dan teknologi keuangan (financial technology atau fintech) menimbulkan pertanyaan penting mengenai bagaimana berbagai akad pembiayaan syariah berkontribusi terhadap profitabilitas bank serta sejauh mana inovasi teknologi mampu meningkatkan efektivitasnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh akad pembiayaan syariah terhadap laba bersih bank syariah serta menguji peran fintech sebagai variabel moderasi dalam hubungan tersebut. Analisis difokuskan pada enam akad pembiayaan, yaitu murabahah, mudharabah, musyarakah, ijarah, istishna', dan qardh. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan data agregat bulanan yang bersumber dari Statistik Perbankan Syariah Indonesia yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selama periode Januari 2015 hingga Desember 2024. Fintech diproksikan melalui efisiensi biaya operasional, sedangkan pengujian hipotesis dilakukan menggunakan Moderated Regression Analysis (MRA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh pembiayaan syariah terhadap laba bersih bersifat heterogen antarakad. Pembiayaan mudharabah berpengaruh negatif signifikan terhadap laba bersih, sedangkan pembiayaan istishna' berpengaruh positif signifikan. Sebaliknya, pembiayaan murabahah, musyarakah, ijarah, dan qardh tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa fintech hanya memperkuat hubungan antara pembiayaan istishna' dan laba bersih, sementara tidak memoderasi hubungan pada akad lainnya. Hasil ini mengindikasikan bahwa efektivitas fintech bergantung pada karakteristik operasional, kebutuhan pengawasan, dan struktur risiko masing-masing akad pembiayaan. Penelitian ini berkontribusi pada literatur perbankan syariah dengan menunjukkan bahwa peran fintech dalam meningkatkan profitabilitas bersifat spesifik terhadap akad tertentu, bukan berlaku secara universal. Oleh karena itu, bank syariah perlu mengarahkan strategi digitalisasi secara lebih terfokus pada pembiayaan yang memiliki kompleksitas operasional dan kebutuhan monitoring yang tinggi, terutama pembiayaan istishna'.
Corporate Governance and Fraud Prevention in Indonesian Islamic Banks Mardiaton Mardiaton; Amru Usman; Rayyan Firdaus; Rimal Mahdani; Murni Murni
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 15 No. 1 (2026): IN PROGRESS
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.0051

Abstract

The rapid growth of Islamic banking in Indonesia has increased the importance of strengthening governance and fraud prevention mechanisms within Islamic financial institutions. Alongside the expansion of Islamic Commercial Banks, concerns regarding fraud and deviations from Sharia principles have also become more prominent. This study aims to examine the influence of the audit committee, internal control, and Sharia compliance on fraud in Islamic Commercial Banks in Indonesia listed with the Financial Services Authority (OJK) during the 2021–2023 period. The study employs a quantitative approach using secondary data obtained from annual reports and Good Corporate Governance reports. The sample consists of 13 Islamic Commercial Banks observed over three years, resulting in 39 observational data points selected through a saturated sampling technique. Data analysis was conducted using panel data regression with EViews 12 software. The findings indicate that the audit committee has a negative and significant effect on fraud, suggesting that stronger supervisory functions contribute to reducing fraudulent practices within Islamic banking institutions. Meanwhile, internal control and Sharia compliance measured through the Profit-Sharing Ratio demonstrate positive but insignificant effects on fraud. These results imply that formal control systems and compliance indicators alone may not effectively minimize fraud risk without strong implementation, supervision, and organizational integrity. The study highlights the importance of strengthening governance quality, supervisory effectiveness, and ethical practices in supporting fraud prevention within Islamic Commercial Banks in Indonesia. ABSTRAK - Tata Kelola Perusahaan dan Pencegahan Fraud pada Bank Syariah di Indonesia. Pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia yang terus meningkat memperkuat urgensi penerapan tata kelola yang efektif serta mekanisme pencegahan fraud pada lembaga keuangan syariah. Seiring berkembangnya Bank Umum Syariah, potensi kecurangan dan penyimpangan terhadap prinsip-prinsip syariah juga menjadi isu yang semakin relevan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh komite audit, internal control, dan syariah compliance terhadap fraud pada Bank Umum Syariah yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selama periode 2021–2023. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder yang bersumber dari laporan tahunan dan laporan Good Corporate Governance Bank Umum Syariah. Sampel penelitian mencakup 13 Bank Umum Syariah yang diamati selama tiga tahun, sehingga diperoleh 39 observasi penelitian dengan teknik sampel jenuh. Analisis data dilakukan menggunakan regresi data panel dengan bantuan perangkat lunak EViews 12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komite audit berpengaruh negatif dan signifikan terhadap fraud, yang mengindikasikan bahwa peran pengawasan yang efektif mampu menekan tingkat kecurangan dalam perbankan syariah. Sebaliknya, internal control dan syariah compliance yang diukur melalui Profit Sharing Ratio menunjukkan pengaruh positif namun tidak signifikan terhadap fraud. Temuan ini mengisyaratkan bahwa keberadaan sistem pengendalian dan indikator kepatuhan syariah secara formal belum tentu efektif dalam menurunkan risiko fraud tanpa didukung oleh implementasi yang konsisten, pengawasan yang optimal, serta integritas organisasi. Oleh karena itu, penguatan tata kelola, efektivitas pengawasan, dan penanaman nilai etika menjadi aspek penting dalam upaya pencegahan fraud pada Bank Umum Syariah di Indonesia.
Good Amil Governance, Digitalization, and Zakat Performance: Evidence from Indonesia Azwar Cholili; Nanang Setiawan; Nur Kholis; Andriani Samsuri; Imam Muslih
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 15 No. 1 (2026): IN PROGRESS
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.0052

Abstract

The sustainability of zakat institutions increasingly depends on their ability to strengthen governance, transparency, and service effectiveness in the digital era. In Indonesia, the rapid development of digital technology has created new opportunities for zakat institutions to improve accountability and institutional performance. This study examines the influence of good amil governance on zakat performance and explores the moderating role of zakat digitalization in Indonesian zakat institutions (Lembaga Amil Zakat/LAZ). A quantitative approach was employed through a survey of LAZ managers across Indonesia, and the data were analyzed using Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). The findings show that good amil governance contributes positively to zakat performance, particularly through stronger transparency, accountability, competence, and fairness in zakat management. Zakat digitalization also plays an important role in improving institutional performance by increasing efficiency, reporting accuracy, and stakeholder trust. Furthermore, digitalization strengthens the relationship between governance and zakat performance, indicating that technological capability enhances the effectiveness of governance practices within zakat institutions. The study contributes to the development of Sharia Enterprise Theory and the Technology–Organization–Environment (TOE) framework by emphasizing the strategic role of digital capability in strengthening governance and institutional performance. Practically, the findings encourage zakat institutions to pursue inclusive digital transformation while improving organizational readiness and digital literacy. ABSTRAK - Good Amil Governance, Digitalisasi, dan Kinerja Zakat: Bukti dari Indonesia. Keberlanjutan lembaga zakat semakin dipengaruhi oleh kemampuan institusi dalam memperkuat tata kelola, transparansi, serta efektivitas layanan, khususnya di tengah perkembangan era digital. Di Indonesia, kemajuan teknologi menghadirkan peluang strategis bagi lembaga zakat untuk meningkatkan akuntabilitas sekaligus kinerja kelembagaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh good amil governance terhadap kinerja zakat serta mengkaji peran moderasi digitalisasi zakat pada Lembaga Amil Zakat (LAZ) di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap pengelola LAZ di berbagai wilayah Indonesia, dengan analisis data menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa good amil governance memberikan kontribusi positif terhadap kinerja zakat, terutama melalui penguatan aspek transparansi, akuntabilitas, kompetensi, dan keadilan dalam pengelolaan. Selain itu, digitalisasi zakat terbukti berperan penting dalam meningkatkan kinerja lembaga, khususnya melalui peningkatan efisiensi operasional, akurasi pelaporan, dan kepercayaan pemangku kepentingan. Digitalisasi juga memperkuat hubungan antara tata kelola dan kinerja zakat, yang menunjukkan bahwa kapabilitas teknologi mampu meningkatkan efektivitas implementasi praktik tata kelola. Secara teoretis, temuan ini memperkaya Sharia Enterprise Theory dan kerangka Technology–Organization–Environment (TOE) dengan menegaskan peran strategis kapabilitas digital dalam memperkuat tata kelola dan kinerja lembaga zakat. Secara praktis, penelitian ini mendorong perlunya transformasi digital yang inklusif, disertai peningkatan kesiapan organisasi dan literasi digital pada lembaga zakat.
Behavioral Drivers of Buy Now Pay Later Over-Indebtedness in Indonesia Marhaendro Purno; Muhammad Azizurrohman
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 15 No. 1 (2026): IN PROGRESS
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.0057

Abstract

The rapid growth of Buy Now Pay Later (BNPL) services in Indonesia have transformed consumer access to digital credit while simultaneously raising concerns regarding impulsive borrowing and financial vulnerability. This study examines the psychological, perceptual, and cultural determinants of BNPL borrowing behavior, focusing on the roles of dark pattern exposure, impulsive buying tendency, perceived usefulness, perceived risk, and Islamic financial literacy. A quantitative cross-sectional survey was conducted among 587 Indonesian BNPL users between April and June 2025. Data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The findings indicate that exposure to dark patterns significantly increases impulsive buying tendency and perceived usefulness while reducing perceived risk, leading consumers to develop more favorable attitudes toward BNPL. Impulsive buying tendency, perceived usefulness, and attitudes toward BNPL were found to positively influence over-indebtedness intention, which subsequently increases repayment distress. Mediation analysis confirms that attitudes and borrowing intentions function as important psychological mechanisms linking cognitive perceptions and behavioral outcomes. In addition, Islamic financial literacy weakens the effects of impulsiveness and favorable attitudes on over-indebtedness intention, suggesting its role as a moral and cognitive safeguard within the Indonesian context. The study extends behavioral finance and financial technology literature by integrating manipulative interface design and religiously grounded financial literacy into consumer borrowing models. The findings also highlight the importance of ethical fintech design, transparent digital credit regulation, and culturally embedded financial education to support sustainable financial inclusion and reduce consumer financial vulnerability. ABSTRAK - Faktor Perilaku dalam Over-Indebtedness Buy Now Pay Later di Indonesia. Perkembangan pesat layanan Buy Now Pay Later (BNPL) di Indonesia telah mengubah pola akses masyarakat terhadap kredit digital, sekaligus menimbulkan kekhawatiran terkait perilaku berutang impulsif dan meningkatnya kerentanan keuangan. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor psikologis, perseptual, dan kultural yang memengaruhi perilaku penggunaan BNPL, dengan fokus pada paparan dark patterns, kecenderungan pembelian impulsif, persepsi kegunaan, persepsi risiko, serta literasi keuangan syariah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei potong lintang terhadap 587 pengguna BNPL di Indonesia selama periode April–Juni 2025. Analisis data dilakukan menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan dark patterns secara signifikan meningkatkan kecenderungan pembelian impulsif dan persepsi kegunaan, serta menurunkan persepsi risiko, sehingga membentuk sikap yang lebih positif terhadap BNPL. Kecenderungan pembelian impulsif, persepsi kegunaan, dan sikap positif terhadap BNPL terbukti meningkatkan niat berutang berlebihan (over-indebtedness intention), yang selanjutnya memperbesar tekanan pembayaran (repayment distress). Analisis mediasi mengonfirmasi bahwa sikap dan niat berutang berperan sebagai mekanisme psikologis penting yang menghubungkan persepsi kognitif dengan dampak keuangan yang merugikan. Selain itu, literasi keuangan syariah terbukti memperlemah pengaruh impulsivitas dan sikap positif terhadap niat berutang berlebihan, sehingga berfungsi sebagai pelindung moral dan kognitif dalam konteks masyarakat Indonesia. Penelitian ini memperluas kajian behavioral finance dan teknologi keuangan dengan mengintegrasikan desain antarmuka manipulatif dan literasi keuangan berbasis nilai keagamaan ke dalam model perilaku utang konsumen. Temuan ini menegaskan pentingnya desain fintech yang etis, regulasi kredit digital yang transparan, serta edukasi keuangan yang berakar pada nilai budaya untuk mendukung inklusi keuangan yang berkelanjutan dan mengurangi kerentanan keuangan konsumen.
Maqashid-Based Framework for Islamic Digital Economy Transformation in Indonesia Agus Wahyudi; Abdurrohman Kasdi; Abu Choir
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 15 No. 1 (2026): IN PROGRESS
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.0058

Abstract

The global digital economic transformation is reshaping financial systems and compelling Islamic economics to adapt while preserving its foundational ethical principles. This study examines strategies for integrating Islamic economic values into Indonesia’s digital economy, focusing on challenges related to digital literacy, regulatory fragmentation, technological infrastructure, and the operationalization of maqashid al-sharia. A systematic literature review was conducted using a critical synthesis of peer-reviewed journal articles, books, and contemporary policy documents to map emerging patterns within Islamic digital finance discourse. The findings show that the digitalization of Islamic finance—particularly through fintech innovations and digital banking—has contributed significantly to financial inclusion and the expansion of halal MSMEs. Rather than treating challenges as isolated phenomena, this study integrates them into a maqashid-based evaluative framework and introduces the concept of “maqashid fragmentation” to describe the misalignment between ethical objectives, technological design, and regulatory structures in Islamic fintech ecosystems. The analysis further demonstrates that maqashid al-sharia can function as a normative and strategic framework that aligns digital efficiency with Islamic ethical imperatives. This study highlights that sustainable development of Islamic economics in the digital era requires coordinated collaboration among government, industry, and academia through a triple helix approach to strengthen literacy, improve regulatory coherence, and expand inclusive infrastructure. The main contribution lies in offering a conceptual roadmap that advances Islamic economics as a viable framework for equitable and sustainable development in the digital age. Kerangka Berbasis Maqashid untuk Transformasi Ekonomi Digital Islam di Indonesia. Transformasi ekonomi digital global telah mengubah struktur sistem keuangan dan mendorong ekonomi Islam untuk beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip etika fundamentalnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi integrasi nilai-nilai ekonomi Islam dalam ekonomi digital Indonesia, dengan menyoroti tantangan literasi digital, fragmentasi regulasi, infrastruktur teknologi, serta operasionalisasi maqashid syariah. Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review melalui sintesis kritis terhadap artikel jurnal bereputasi, buku akademik, dan dokumen kebijakan terkini untuk memetakan perkembangan kajian ekonomi digital Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi keuangan syariah, khususnya melalui inovasi fintech dan perbankan digital, telah berkontribusi signifikan terhadap perluasan inklusi keuangan serta penguatan UMKM halal. Alih-alih memandang tantangan secara terpisah, penelitian ini mengintegrasikan berbagai persoalan tersebut ke dalam kerangka evaluatif berbasis maqashid syariah serta memperkenalkan konsep “fragmentasi maqashid” untuk menggambarkan ketidaksesuaian antara tujuan etika Islam, desain teknologi, dan struktur regulasi dalam ekosistem fintech syariah. Lebih lanjut, maqashid syariah diposisikan sebagai kerangka normatif dan strategis yang mampu menyelaraskan efisiensi digital dengan nilai-nilai etika ekonomi Islam. Penelitian ini menegaskan bahwa pengembangan ekonomi Islam di era digital memerlukan kolaborasi terkoordinasi antara pemerintah, industri, dan akademisi melalui pendekatan triple helix untuk memperkuat literasi, menyempurnakan regulasi, dan membangun infrastruktur yang inklusif. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada penyusunan peta jalan konseptual untuk memperkuat peran ekonomi Islam dalam mendukung pembangunan yang adil dan berkelanjutan di era digital
Sharia Influencer Effect on Islamic Savings Intention among Generation Z in Indonesia Acu Kusnandar
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 15 No. 1 (2026): IN PROGRESS
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.0059

Abstract

Digital transformation has reshaped the way Islamic financial literacy is delivered, particularly through social media platforms where Generation Z actively consumes information and forms financial intentions. However, limited studies have examined how Sharia influencers operating on different platforms contribute to Islamic savings intention, especially within a comparative digital context. This study aims to analyze the effectiveness of Sharia influencers on Instagram and TikTok in shaping Generation Z’s interest in Islamic savings products in Indonesia. A quantitative approach was employed using a survey of 159 Generation Z respondents who had been exposed to Sharia influencer content. Data were analyzed using Exploratory Factor Analysis (EFA), reliability testing, multiple regression analysis, and independent-samples t-tests. The findings reveal two dominant dimensions of Sharia influencer effectiveness, namely trust and relevance, as well as education and content consistency. Regression results indicate that educational value, content relevance, and Islamic value communication significantly influence interest in Islamic savings, while trust and attractiveness do not show significant direct effects. Furthermore, Instagram demonstrates stronger effectiveness than TikTok in influencing interest, suggesting deeper cognitive engagement and stronger credibility formation. These results highlight that Islamic financial intention among Generation Z is primarily driven by meaningful, educational, and value-based digital content rather than superficial influencer appeal. The study contributes to Islamic marketing and behavioral finance literature by emphasizing the role of platform-specific communication strategies in strengthening Islamic financial inclusion. ABSTRAK - Pengaruh Influencer Syariah terhadap Niat Menabung Syariah di Kalangan Generasi Z di Indonesia. Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola penyampaian literasi keuangan syariah, khususnya melalui media sosial yang menjadi ruang utama bagi Generasi Z dalam mengakses informasi dan membentuk minat keuangan. Meskipun demikian, kajian yang membandingkan peran influencer syariah lintas platform dalam membentuk minat terhadap tabungan syariah masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas influencer syariah di Instagram dan TikTok dalam membentuk minat Generasi Z terhadap produk tabungan syariah di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 159 responden Generasi Z yang telah terpapar konten influencer syariah. Analisis data dilakukan dengan Exploratory Factor Analysis (EFA), uji reliabilitas, regresi linier berganda, serta uji beda independent-samples t-test. Hasil penelitian mengidentifikasi dua dimensi utama efektivitas influencer syariah, yaitu dimensi kepercayaan dan relevansi, serta dimensi edukasi dan konsistensi konten. Analisis regresi menunjukkan bahwa nilai edukatif, relevansi konten, dan penyampaian nilai-nilai Islam berpengaruh signifikan terhadap minat tabungan syariah, sementara kepercayaan dan daya tarik influencer tidak menunjukkan pengaruh langsung. Temuan lainnya menunjukkan bahwa Instagram lebih efektif dibandingkan TikTok dalam membentuk minat tabungan syariah, yang mengindikasikan adanya proses pemrosesan kognitif yang lebih mendalam serta pembentukan kredibilitas yang lebih kuat pada platform tersebut. Secara keseluruhan, hasil penelitian menegaskan bahwa minat keuangan syariah Generasi Z lebih dipengaruhi oleh konten yang bersifat edukatif, relevan, dan berbasis nilai, dibandingkan aspek visual atau popularitas influencer semata. Penelitian ini berkontribusi pada literatur pemasaran Islam dan perilaku keuangan dengan menekankan pentingnya strategi komunikasi digital yang selaras dengan karakteristik platform dalam mendorong inklusi keuangan syariah.
Digitalization, AI Adoption, and MSME Productivity: An Ibn Khaldunian Perspective Feriandy Feriandy
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 15 No. 1 (2026): IN PROGRESS
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.0060

Abstract

Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in Indonesia face persistent challenges in improving labor productivity amid rapid digital transformation and the expansion of artificial intelligence (AI). Although digitalization has increased substantially, its productivity effects remain uneven across provinces and are influenced by institutional, cultural, and religious contexts. Grounded in Ibn Khaldun’s concepts of asabiyyah and tadbir al-‘umran, this study examines the relationship between digitalization, AI adoption, and MSME labor productivity while assessing the moderating role of religiosity. The study employs an explanatory quantitative approach using provincial-level panel data during 2020–2023. The primary estimation uses a fixed-effects model with robust standard errors, complemented by exploratory analyses using Double Machine Learning, Causal Forest, and XGBoost. The findings show that digitalization has a positive and significant effect on labor productivity, whereas AI adoption has not yet generated measurable productivity gains. Religiosity marginally weakens the relationship between digitalization and productivity, indicating transitional adaptation frictions within highly normative environments rather than resistance to technology. These findings suggest that sustainable productivity gains depend not only on technological adoption, but also on institutional capacity, ethical governance, and collective learning mechanisms. The study contributes to the digital transformation literature by extending Ibn Khaldun’s institutional perspective and offers policy insights for strengthening sustainable MSME digital ecosystems in Indonesia. ABSTRAK - Digitalisasi, Adopsi AI, dan Produktivitas UMKM: Perspektif Ibn Khaldun. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia menghadapi tantangan dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja di tengah percepatan transformasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Meskipun digitalisasi berkembang pesat, dampaknya terhadap produktivitas masih berbeda antarprovinsi dan dipengaruhi oleh faktor institusional, budaya, dan religiositas. Berlandaskan konsep asabiyyah dan tadbir al-‘umran dari Ibn Khaldun, penelitian ini menganalisis hubungan antara digitalisasi, adopsi AI, dan produktivitas tenaga kerja UMKM serta menguji peran moderasi religiositas. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan data panel tingkat provinsi selama periode 2020–2023. Estimasi utama dilakukan melalui model fixed effects dengan robust standard errors dan dilengkapi analisis eksploratif menggunakan Double Machine Learning, Causal Forest, dan XGBoost. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja, sedangkan adopsi AI belum menunjukkan dampak yang signifikan. Religiositas memoderasi hubungan digitalisasi dan produktivitas secara negatif marginal, yang mencerminkan friksi adaptasi dalam lingkungan dengan kohesi normatif tinggi, bukan penolakan terhadap teknologi. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi digital bergantung pada kapasitas kelembagaan, tata kelola etis, dan mekanisme pembelajaran kolektif. Studi ini memperluas perspektif institusional Ibn Khaldun dalam kajian transformasi digital serta memberikan implikasi kebijakan bagi penguatan ekosistem digital UMKM yang berkelanjutan di Indonesia.
Digital Transformation and Tourist Loyalty in Rural Halal Tourism: Evidence from Aceh, Indonesia Siti Najma
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 15 No. 1 (2026): IN PROGRESS
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.0063

Abstract

Tourism development has increasingly shifted toward digital integration and experience-based services, including within the growing sector of rural halal tourism. In Aceh Province, Indonesia, the expansion of halal tourism reflects not only the region’s Islamic identity but also the increasing importance of digital platforms in shaping tourist experiences and destination competitiveness. This study examines the role of digital transformation in rural halal tourism, particularly the influence of social media, destination image, tourist satisfaction, and tourist loyalty. A quantitative approach was employed using survey data collected from 240 respondents who had visited rural halal tourism destinations in Aceh. Data were measured using a five-point Likert scale and analyzed through Structural Equation Modeling (SEM) with AMOS. The findings indicate that digital transformation, halal tourism, social media, and destination image significantly influence tourist satisfaction, with social media emerging as the strongest determinant. In relation to tourist loyalty, only social media and tourist satisfaction demonstrate direct significant effects, whereas digital transformation, halal tourism, and destination image affect loyalty indirectly through tourist satisfaction. The results highlight the important mediating role of tourist satisfaction in connecting tourism experiences with revisit intention and positive word-of-mouth behavior. This study contributes to the literature on halal tourism and digital tourism development by offering empirical evidence from rural halal destinations in Aceh and emphasizing the strategic importance of social media and tourist satisfaction in strengthening sustainable tourist loyalty. ABSTRAK - Transformasi Digital dan Loyalitas Wisatawan pada Wisata Halal Pedesaan: Bukti dari Aceh, Indonesia. Perkembangan industri pariwisata semakin mengarah pada integrasi digital dan pengalaman wisata berbasis layanan, termasuk pada sektor wisata halal pedesaan yang terus berkembang. Di Provinsi Aceh, pengembangan wisata halal tidak hanya mencerminkan identitas keislaman daerah, tetapi juga menunjukkan pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam membentuk pengalaman wisatawan dan daya saing destinasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran transformasi digital dalam wisata halal pedesaan di Aceh, khususnya pengaruh media sosial, citra destinasi, kepuasan wisatawan, dan loyalitas wisatawan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 240 responden wisatawan yang pernah mengunjungi destinasi wisata halal pedesaan di Aceh. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert lima poin dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan bantuan AMOS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi digital, wisata halal, media sosial, dan citra destinasi berpengaruh signifikan terhadap kepuasan wisatawan, dengan media sosial menjadi faktor yang paling dominan. Dalam kaitannya dengan loyalitas wisatawan, hanya media sosial dan kepuasan wisatawan yang berpengaruh langsung secara signifikan, sedangkan transformasi digital, wisata halal, dan citra destinasi memengaruhi loyalitas secara tidak langsung melalui kepuasan wisatawan. Temuan ini menegaskan bahwa kepuasan wisatawan memiliki peran penting sebagai mediator yang menghubungkan pengalaman wisata dengan niat berkunjung kembali dan rekomendasi positif. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris terhadap pengembangan literatur wisata halal dan pariwisata digital, khususnya dalam konteks destinasi wisata halal pedesaan di Aceh, serta menekankan pentingnya optimalisasi media sosial dan peningkatan kepuasan wisatawan dalam memperkuat loyalitas wisatawan secara berkelanjutan.  

Page 2 of 3 | Total Record : 25


Filter by Year

2026 2026