cover
Contact Name
Esti Swatika Sari
Contact Email
humaniora@uny.ac.id
Phone
+628156865456
Journal Mail Official
humaniora@uny.ac.id
Editorial Address
https://journal.uny.ac.id/index.php/humaniora/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Humaniora
ISSN : 14124009     EISSN : 25286722     DOI : https://doi.org/10.21831/hum.v26i2.40019
Jurnal Penelitian Humaniora is published by Institute of Research and Community Service, Universitas Negeri Yogyakarta Jurnal Penelitian Humaniora publishes articles of non educational research and issues related to humanity (culture, language, arts, social sciences)
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 28, No 2 (2023)" : 5 Documents clear
Ketidakadilan gender terhadap tokoh perempuan dalam novel "Cantik itu Luka" karya Eka Kurniawan: Kajian feminisme Pertiwi, Adhelyna; Julkiflin, Muhammad
Jurnal Penelitian Humaniora Vol 28, No 2 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v28i2.57958

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan struktur-struktur yang membangun novel "Cantik itu Luka" karya Eka Kurniawan yang dilihat dari sastra feminis dan mendeskripsikan bentuk-bentuk ketidakadilan gender. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif yang dimana objek penelitiannya ketidakadilan gender dalam novel "Cantik itu Luka" karya Eka Kurniawan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pustaka, simak, dan catat. Teknik validasi data yang digunakan adalah teknik trianggulasi teori. Teknik analisis data menggunakan metode pembacaan model semiotik. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut: secara struktural, alur dalam novel "Cantik itu Luka" yaitu campuran. Tokoh dalam novel terdiri dari tokoh utama yaitu Dewi Ayu. Latar waktu terjadi pada tahun 1945. Latar sosial adalah perjuangan para perempuan dan anak-anak pada masa kolonial. Latar tempat terjadi di Halimundar.  Ketidakadilan dalam novel "Cantik itu Luka" ada empat , gender dan marginalisasi perempuan, gender dan subordinasi,  gender dan steorotipe, gender dan beban kerja. Gender inequality towards female characters in the novel "Cantik itu Luka" Abstract: This research is a study that aims to describe the structures that make up the novel "Cantik itu Luka" by Eka Kurniawan in terms of feminist literature and describe forms of gender inequality. This research method used a type of qualitative descriptive research where the object of research is gender inequality in the novel "Cantik itu Luka" by Eka Kurniawan. Data collection techniques used were library techniques, observe, and record. The data validation technique used was theoretical triangulation technique. The data analysis technique used the semiotic model reading method. The results show that structurally, the plot in the novel "Cantik itu Luka" is mixed. The characters in the novel consist of the main character, namely Dewi Ayu. The time setting takes place in 1945. The social setting is the struggle of women and children during the colonial period. The setting of the place takes place in Halimundar. There are four injustices in the novel "Cantik itu Luka", gender and marginalization of women, gender and subordination, gender and stereotypes, gender and workload.
Kode dan mitos dalam cerpen Ada Kupu-Kupu, Ada Tamu karya Seno Gumira Ajidarma Devi, Zalzabila Tania; Suryaman, Maman
Jurnal Penelitian Humaniora Vol 28, No 2 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v28i2.56201

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskrisikan kelima kode Roland Barthes dan mitos dalam cerpen Ada Kupu-Kupu, Ada Tamu karya Seno Gumira Ajidarma. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu dengan teknik baca catat. Hasil penelitian sebagai berikut. Kode teka-teki yang ada yaitu tentang siapa tamu yang akan datang, apakah semua yang indah akan membawa keberuntungan, dan pernyataan tokoh utama "Kenapa tidak? Tamu memang tidak harus manusia." di akhir cerita. Kode konotatif yang ditemukan yaitu tentang pergrseran makna dari frasa kupu-kupu jelek yang diartikan sebagai pembawa bencana. Kode simbolik dalam cerpen ini adalah warna biru yang menjadi simbol ketenangan. Kode aksian ditemukan enam bagian yang saling berkaitan. Kode budaya yang muncul dalam cerpen ini berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan dan kebiasaan masyarakat perumahan. Mitos ditemukan pada bagian judul dan beberapa percakapan antar tokoh. Mitos tersebut berkaitan dengan kepercayaan tentang kupu-kupu dan kehadiran tamu.Codes and myths in the short story Ada Kupu-Kupu, Ada Tamu This study aims to describe the five codes of Roland Barthes and the myths in the short story ada kupu-kupu, ada tamu by seno gumira ajidarma. This type of research is qualitative descriptive research. The data collection technique is the read and record technique. The findings are as follows. The puzzle code is about who the guests will be, whether all the beautiful ones will bring good luck, and the main character's statement "Why not? Guests don't have to be human." at the end of the story. The connotative code found is about the meaning of the phrase ugly butterfly which is interpreted as a disaster bearer. The symbolic code in this short story is the color blue which becomes a symbol of tranquility. The code of action found six interrelated parts. The cultural code that appears in this short story deals with the values of life and customs of residential communities. Myths are found in the title section and some conversations between characters. The myth has to do with beliefs about butterflies and the presence of guests.
Hakikat sila persatuan dalam adat Babukuk'ng suku Dayak Krio (Tinjauan filosofis terhadap nilai sila persatuan dalam budaya) Parto, Hilarion Gerri
Jurnal Penelitian Humaniora Vol 28, No 2 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v28i2.54032

Abstract

Indonesia merupakan negara yang kaya akan adat, budaya, dan tradisi. Kekayaan ini merupakan suatu kebanggan bagi bangsa Indonesia. Hal ini menjadi sarana untuk menambah wawasan antara budaya yang satu dengan budaya yang lain dan menciptakan sesuatu yang baru. Kekayaan budaya ini pada akhirnya membentuk bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sadar akan jati dirinya. Kemajemukkan adat, budaya, dan tradisi ini dapat pula menjadi pemecah kesatuan Indonesia. Sila ketiga yaitu sila persatuan tercerminlah nilai-nilai falsafah budaya bangsa Indonesia yang di dalamnya termuat berbagai cara hidup yang berbeda namun kaya akan keberagaman. Nilai persatuan menjadi konsep yang paling tinggi dalam babukuk'ng.  Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan. Penelitian ini menemukan bahwa Babukuk'ng memiliki nilai yang kaya akan falsafah kesatuan dan persatuan yang terikat erat dengan pancasila dan masih relevan untuk kehidupan kaum muda masa kini. Pancasila sebagai Falsafah perlu diaktualisasikan dengan cara kesediaan untuk saling menerima dalam perbedaan dengan kekhasan masing-masing.The essential of the precaution of union in the babukuk'ng tradition of the Dayak Krio  Indonesia is a country rich in customs, culture, and traditions. This wealth is a matter of pride for the Indonesian people. This is a means to add insight between one culture and another and create something new. This cultural wealth ultimately shapes the Indonesian nation into a nation that is aware of its identity. This plurality of customs, cultures, and traditions can also be a breaker for the unity of Indonesia. With this diversity, there can be the possibility of intolerance in every culture and the emergence of radicalism. The third principle, namely the principle of unity, reflects the philosophical values of the Indonesian nation's culture, which contains various ways of life that are different but rich in diversity. The value of unity is the highest concept in babukuk'ng. The method used was the library method. This study was aimed at finding out the essential of the precaution of union in the babukuk'ng tradision of Dayak Krio. The findings show that Babukuk'ng has values that are rich in the philosophy of unity and unity which is closely tied to Pancasila and is still relevant to the lives of today's youth. Pancasila as philosophy needs to be actualized using a willingness to accept each other in differences with their respective characteristics.
Wacana mantra upacara Wiwit (Kajian Etnolinguistik) Saputri, Ines Ika
Jurnal Penelitian Humaniora Vol 28, No 2 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v28i2.57238

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan wujud, komponen, dan nilai budaya wacana mantra pada upacara wiwit. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan wujud wacana mantra yang khas dari desa Wonokerto dan tidak ada di desa lain. Komponen tutur diantaranya, waktu dilaksanakannya upacara tersebut adalah Minggu Legi, Minggu Kliwon, dan Rebo Pon, bertempat di sawah yang akan dipanen, peserta tuturnya adalah pemilik sawah atau orang yang dituakan di desa tersebut, pokok tuturannya berisi permintaan dan terimakasih, sarana tuturnya monolog berbahasa Jawa, tidak ada norma atau aturan tutur yang berarti dalam pembacaan mantra, kode ujaran menggunakan bahasa Jawa. Nilai budaya pada mantra upacara wiwit adalah hubungan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Mantra tidak hanya sebagai bentuk ucapan, tetapi juga ucapan terima kasih, permohonan, dan harapan pembicara. Oleh karena itu, tradisi lisan ini perlu dilestarikan dalam budaya modern.The discourse of mantra at wiwit ceremony (An ethnolinguistic study)This study aimed to delineate the form, components, and value of peace implied in the cultural values of the mantra at the wiwit ceremony. As one of the local wisdom values that grew in society, it is important to reveal the meaning. The method used was descriptive qualitative with ethnolinguistic approaches. The results show the form of the discourse of mantra, the speech components, i.e. setting of the ceremony held on Minggu Legi, Minggu Kliwon, and Rebo Pon, in the fields that will be harvested, while the speech participants are the owner of the rice field or the elderly in the village, end, and goal of the mantra are instrumental and representational, act and sequence consisting a request and gratitude, key or manner is Javanese, the instrument of the mantra is a monologue, no norm or rule of speech in reciting the mantra, and this mantra have ethnography genre. The cultural values of the mantra illustrate the peace between human relationships with nature and with himself. The mantra is not only a form of speech, but also of gratitude, request, and hope of the speakers. Therefore, preserving this oral tradition in the modern culture is necessary.
Feminisme dalam teks Paribasan Swarga Nunut Naraka Katut Budiyanti, Restu; Ekowati, Venny Indria
Jurnal Penelitian Humaniora Vol 28, No 2 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v28i2.65702

Abstract

Feminisme adalah salah satu gerakan perempuan yang menuntut kesetaraan hak, peran, dan fungsi dalam masyarakat. Bentuk feminisme terbagi menjadi lima, yaitu stereotip, subordinasi, marginalisasi, kekerasan, dan beban kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk feminisme dalam teks Paribasan Swarga Nunut Naraka Katut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dan filologi modern. Objek penelitian ini berupa naskah dan teks Paribasan Swarga Nunut Naraka Katut koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Cara pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan langkah-langkah penelitian filologi, yaitu inventarisasi naskah, deskripsi naskah, transliterasi teks, suntingan teks, dan terjemahan teks. Cara mengesahkan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan validitas semantik serta reliabilitas intrarater dan interrater. Cara analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, yaitu reduksi data, klasifikasi data, display data, dan penafsiran data. Hasil dari penelitian ini adalah hanya ditemukan tiga bentuk feminisme yang terdapat dalam teks Paribasan Swarga Nunut Naraka Katut yaitu stereotip, subordinasi, dan marginalisasi.Feminism in the text of paribasan swarga nunut naraka katutFeminism is one of the women's movements that demands equal rights, roles and functions in society. Feminism is divided into five forms, namely stereotypes, subordination, marginalization, violence, and workload. This study aimed to explain the form of feminism in the text of Paribasan Swarga Nunut Naraka Katut. The research methods used were descriptive and modern philology methods. The object was the Paribasan Swarga Nunut Naraka Katut manuscript and text in the collection of the National Library of Indonesia. The method of collecting data was using philological research steps, namely manuscript inventory, manuscript description, text transliteration, text editing, and text translation. The way to validate the data was using semantic validity and intra and inter-rater reliability. The method of data analysis was descriptive analysis, namely data reduction, data classification, data display, and data interpretation. The result show that there are only three forms of feminism found in the Paribasan Swarga Nunut Naraka Katut text, namely stereotypes, subordination, and marginalization.

Page 1 of 1 | Total Record : 5