cover
Contact Name
Evan Aprianjaan
Contact Email
p3gm@sttintimlib.ac.id
Phone
+62411854735
Journal Mail Official
p3gm@sttintimlib.ac.id
Editorial Address
Jln Baji Dakka No 7 Makassar Sulawesi Selatan-Mamajang
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Baji Dakka
Published by STFT INTIM di Makassar
ISSN : 24776394     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Baji Dakka : Jurnal Filsafat Keilahian dan Pendidikan Agama Kristen adalah jurnal yang bertujuan memublikasikan karya-karya ilmiah di bidang teologi, terutama teologi kontekstual dan filsafat keilahian yang relevan dalam konteks indonesia. Nama jurnal terdiri dari dua kata kunci, yaitu: baji dan dakka. Baji berarti baik. Sedangkan dakka berarti melangkah. Baji dakka mengusung spirit melangkah pada jalan yang baik dengan upaya merefleksikan berbagai konteks kehidupan sosio-kultural-religius secara teologis dan filosofis. Jurnal baji dakka adalah lanjutan dari jurnal stft intim di makassaryang terakhir kali terbit tahun 2000. Terbit dua kali dalam setahun Isi artikel-ertikel yang dimuat tidak mencerminkan pandangan dari redaksi Diterbitkan Oleh : Sekolah Tinggi FIlsafat Teologi Indonesia Timur di Makassar (STFT INTIM di MAKASSAR)
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Full Jurnal Baji Dakka Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Marthen Tualaka; Resty D.J. Tehupeiory; Alius Rampalodji; I Gusty Nyoman Arnawa; Hendrikus Nayuf
Jurnal Bajidakka Vol 1 No 01 (2021): Edisi April
Publisher : STFT INTIM di Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jurnal Baji Dakka adalah jurnal yang bertujuan memublikasikan karya-karya ilmiah di bidang teologi, terutama teologi kontekstual dan filsafat keilahian yang relevan dalam konteks Indonesia. Nama jurnal terdiri dari dua kata kunci, yaitu: baji dan dakka. Baji berarti baik. Sedangkan dakka berarti melangkah. Baji Dakka mengusung spirit melangkah pada jalan yang baik dengan upaya merefleksikan berbagai konteks kehidupan sosio-kultural-religius secara teologis dan filosofis. Memaknai Salib dari Perspektif Politik Identitas Demi Kebhinekaan .....................................1 Marthen Tualaka Hermeneutik Postkolonial Menghadapi Neokolonialisme Dunia Ketiga: Sebuah Pemahaman Awal.. .23 Resty D.J. Tehupeiory Manusia dalam Budayanya dan Injil .................51 Alius Rampalodji Post-Truth sebagai Ragi Kemanusiaan: Sebuah Perspektif Antropologi Digital .................................69 Hendrikus Nayuf Pendidikan Kristiani dalam Konteks Budaya Sipakatau Membentuk Karakter Anak Bangsa ................89 I Gusty Nyoman Arnawa Resensi: Jaringan Sosial dalam Organisasi…….103 Hendrikus Nayuf
Teologi Pribadi dalam Konseling Pastoral: Pendekatan Naratif untuk Memfasilitasi Pemulihan dan Pertumbuhan Rohani Yowenus Wenda
Jurnal Bajidakka Vol 1 No 1 (2025): November 2025 (Jurnal Filsafat Keilahian dan Pendidikan Agama Kristen)
Publisher : STFT INTIM di Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini akan mengkaji integrasi (penggabungan) antara teologi pribadi dan pendekatan naratif dalam konseling pastoral. Dalam dunia yang semakin kompleks baik secara emosional dan spiritual, konseling pastoral memerlukan pendekatan yang bersifat reflektif dan kontekstual. Konseling pastoral juga ditantang untuk tidak hanya bersifat psikologis tetapi juga mendalam secara spiritual. Dengan mengangkat narasi hidup individu serta menempatkannya dalam terang teologi pribadi yang berbasis pada pemahaman akan karya Allah. Artikel ini menunjukkan bahwa proses konseling dapat menjadi wahana transformatif bagi pemulihan luka batin serta pembentukan transformatif. Mazmur 147:3 menjadi dasar Alkitabiah yang menggarisbawahi peran Allah sebagai penyembuh hati yang patah. Pendekatan ini juga menekankan bahwa narasi pribadi dapat dibentuk kembali melalui refleksi teologis dan komunitas iman, di mana pendekatan naratif memberi ruang bagi individu untuk mengungkapkan serta berbagi pengalaman hidup mereka dalam bentuk cerita. Teologi pribadi berperan sebagai kerangka ilustrasi terhadap pengalaman tersebut. Adapun metode yang digunakan di dalam artikel ini ialah menggunakan metode kualitatif-deskriptif melalui studi pustaka dan pendekatan naratif hermeneutik untuk menunjukkan bagaimana proses penceritaan kembali dapat membentuk ulang identitas rohani seseorang, memfasilitasi pemulihan batin serta mendorong pertumbuhan iman yang lebih mendalam? Hasil dari penelitian ini, diharapkan pendekatan naratif yang berakar pada teologi pribadi mampu memperkuat proses konseling pastoral dalam konteks gereja serta pelayanan masa kini.
Koinonia vs Patriarki: Menafsirkan Kepemimpinan Perempuan dalam Lensa Filsafat Teologi Ibrahim Ibrahim; Noviyanti Pangalingan; Aprianus Malan
Jurnal Bajidakka Vol 1 No 1 (2025): November 2025 (Jurnal Filsafat Keilahian dan Pendidikan Agama Kristen)
Publisher : STFT INTIM di Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas isu kepemimpinan perempuan dalam gereja melalui lensa filsafat teologi, dengan fokus pada ketegangan antara struktur patriarki dan prinsip koinonia. Patriarki dalam gereja tidak hanya membatasi peran perempuan secara struktural dan simbolik, tetapi juga memengaruhi pemahaman teologis tentang otoritas dan relasi dalam komunitas iman. Sebaliknya, koinonia, yang berakar pada relasi egaliter dan partisipatif di dalam tubuh Kristus, menawarkan paradigma inklusif yang menekankan kesetaraan, pelayanan, dan pemberdayaan semua anggota jemaat, termasuk perempuan. Analisis kualitatif deskriptif dengan studi kepustakaan dan hermeneutika teologis menunjukkan bahwa penerapan prinsip koinonia dapat memperkaya praktik kepemimpinan gereja, meningkatkan kohesi komunitas, dan memperluas akses perempuan dalam pelayanan formal, pendidikan, dan pengajaran teologis. Artikel ini menyimpulkan bahwa transformasi gereja menuju kepemimpinan inklusif bukan sekadar tuntutan sosial, melainkan panggilan teologis yang setia pada Injil dan hakikat gereja sebagai komunitas yang egaliter, partisipatif, dan penuh kasih.
Analisis Konstruksi antara Calvin dan Gutierrez: Gereja sebagai Perwujudan Kerajaan Allah bagi Kaum Miskin non-Kristen Jonathan Cristian Wijaya
Jurnal Bajidakka Vol 1 No 1 (2025): November 2025 (Jurnal Filsafat Keilahian dan Pendidikan Agama Kristen)
Publisher : STFT INTIM di Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan adanya titik temu yang dapat digali dari perbedaan John Calvin dan Gustavo Gutierrez dalam menjelaskan konsep Gereja sebagai representasi Kerajaan Allah bagi kaum miskin non-Kristen di Indonesia. Dengan melakukan studi pustaka untuk membandingkan pemahaman dua tokoh tersebut, tulisan ini menemukan bahwa pelayanan Gereja kepada kaum miskin non-Kristen di Indonesia dapat terwujud dengan melihat mereka sebagai keberadaan yang penting karena juga merupakan bagian dari rencana Kerajaan Allah. Tulisan ini memulai pembahasan dengan memperlihatkan bagaimana Calvin dan Gutierrez bergumul dengan konteks kemiskinan masing-masing. Tidak sampai di sana, pembahasan juga akan menyinggung soal kehadiran kaum miskin di tengah Gereja juga menjadi urgensi bagi Gereja untuk melihat kebutuhan mereka. Dengan demikian, setiap orang mengalami perjumpaan dengan Tuhan melalui aksi kasih Gereja yang membawa kaum miskin non-Kristen untuk melihat bagaimana mereka adalah bagian dari rencana Allah dan juga diundang untuk menikmati kasih Allah di dalam persekutuan dengan Gereja, bahkan sesama manusia lainnya.
Antara Gereja, Masyarakat NTT dan Kasus Perdagangan Manusia: Sebuah Kajian Filosofis-Teologis Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo
Jurnal Bajidakka Vol 1 No 1 (2025): November 2025 (Jurnal Filsafat Keilahian dan Pendidikan Agama Kristen)
Publisher : STFT INTIM di Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah perdagangan manusia yang ada di Nusa Tenggara Timur adalah masalah kemanusiaan tetapi juga masalah teologis. Oleh karenanya, sikap gereja dan segenap warga masyarakat NTT juga turut menjadi penentu bagi pemutusan mata rantai perdagangan manusia yang ada di NTT. Oleh karena itu, tulisan ini dimaksudkan untuk mengemukakan dengan jelas sekaligus terarah tentang bagaimana kontribusi gereja di NTT secara nyata dalam ikut serta menyelesaikan persoalan ini. Perlu juga ditegaskan bahwa tulisan ini bercorak reflektif dengan pendekatan filosofis-teologis dengan mengangkat isu kemanusiaan atau eksistensial. Agar tulisan ini bisa dirampungkan maka metode yang dipakai yakni studi pustaka dalam arti bahwa penulis akan lebih banyak memeriksa literatur-literatur yang ada, yang tentunya sesuai dengan kajian penulisan naskah ini. Kemudian, dari hasil penelusuran tersebut akan dielaborasi guna mendapatkan titik hubung akan masalah yang ditulis, dan tawaran solusi untuk bisa diperhatikan dan ditindaklanjuti.
Teologi Sangserekan sebagai Basis Persahabatan Universal Manusia Toraja Alvary Exan Rerung; Elsa Novitra Ginting
Jurnal Bajidakka Vol 1 No 1 (2025): November 2025 (Jurnal Filsafat Keilahian dan Pendidikan Agama Kristen)
Publisher : STFT INTIM di Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas konsep persahabatan universal yang jarang didiskusikan dalam teologi Kristen di Indonesia, padahal relasi ini mencakup hubungan manusia dengan sesama dan alam. Masifnya krisis ekologi dan konflik sosial di Toraja—seperti longsor akibat pengelolaan lahan yang tidak bertanggung jawab dan kasus pembunuhan saat upacara adat—menegaskan pentingnya menggaungkan konsep persahabatan universal di sana. Penelitian ini bertujuan membangun teologi lokal-konstruktif, yang disebut teologi Sangserekan, dari falsafah hidup Toraja untuk dijadikan basis persahabatan universal. Metode yang digunakan adalah studi literatur, dengan tahapan memilih literatur, pembacaan dan pencatatan, pengelompokan variabel, dan penulisan. Variabel yang dikerjakan meliputi rancang bangun teologi lokal Robert J. Schreiter, falsafah Sangserekan, penafsiran Kejadian 2:15, dan konstruksi teologi Sangserekan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa falsafah Sangserekan menolak antroposentrisme dan melihat semua ciptaan (Lolo Tau, Lolo Patuan, Lolo Tananan) setara. Konsep ini selaras dengan mandat Kejadian 2:15 untuk "mengusahakan" (abad) dan "memelihara" (shamar) Taman Eden, yang dimaknai sebagai tanggung jawab dan wujud ibadah. Oleh karena itu, teologi Sangserekan menjadi lensa konstruktif bagi manusia Toraja untuk menjalankan panggilan luhur membangun relasi yang harmonis dengan sesama dan alam.
REFLEKSI TEOLOGI MARITIM TERHADAP TAMBAK GARAM TERBENGKALAI: STUDI KASUS DESA WEOE, KABUPATEN MALAKA Delvin Pandie
Jurnal Bajidakka Vol 1 No `02 (2026): Mei 2026 (Jurnal Filsafat Keilahian dan Pendidikan Agama Kristen)
Publisher : STFT INTIM di Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Indonesia sebagai negara maritim memiliki potensi sumber daya alam yang besar, termasuk produksi garam. Namun, potensi ini sering kali dikelola tanpa memperhatikan aspek keberlanjutan ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak ekologis dan sosial akibat terbengkalainya tambak garam di Desa Weoe, Kabupaten Malaka, serta merefleksikannya melalui perspektif Teologi Maritim. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas tambak garam yang tidak berkelanjutan telah merusak ekosistem mangrove dan menyebabkan salinisasi lahan pertanian. Dari perspektif teologi, kerusakan ini dipahami sebagai ketidakharmonisan relasi manusia dengan ciptaan, di mana tanah pesisir tidak lagi dilihat sebagai “Agen Kasih Allah” melainkan sekadar objek eksploitasi. Tulisan ini menawarkan konsep rekonstruksi pesisir yang berbasis pada kearifan lokal dan peran tokoh adat (fukun) sebagai solusi untuk memulihkan hubungan yang seimbang antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. KATA KUNCI: Teologi Maritim, Tanah Pesisir, Tambak Garam, Fukun, Krisis Ekologi, Desa Weoe. ABSTRACT Indonesia, as a maritime nation, has vast natural resource potential, including salt production. However, this potential is often managed without considering ecological sustainability. This study aims to analyze the ecological and social impacts of abandoned salt ponds in Weoe Village, Malaka Regency, and to reflect on them through the perspective of Maritime Theology. This study uses a descriptive qualitative method with a theological approach. The results show that unsustainable salt pond activities have damaged the mangrove ecosystem and caused salinization of agricultural land. From a theological perspective, this damage is understood as a disharmony in the relationship between humans and creation, where coastal land is no longer seen as an "Agent of God's Love" but merely an object of exploitation. This paper offers a concept of coastal reconstruction based on local wisdom and the role of traditional leaders (fukun) as a solution to restore a balanced relationship between humans, nature, and the Creator. KEYWORDS: Maritime Theology, Coastal Land, Salt Ponds, Fukun, Ecological Crisis, Weoe Village.
Pendidikan Kristiani Intergenerasi Berbasis Ekoteologi sebagai Upaya Mengatasi Persoalan Krisis Ekologi Judith Debora Listia Wangania
Jurnal Bajidakka Vol 1 No `02 (2026): Mei 2026 (Jurnal Filsafat Keilahian dan Pendidikan Agama Kristen)
Publisher : STFT INTIM di Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisis ekologis dan fragmentasi internal gereja akibat pengkotak-kotakan pelayanan kategorial merupakan dua persoalan yang berakar pada rusaknya hakikat relasionalitas jemaat masa kini. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka yang bertujuan menjawab tantangan tersebut melalui integrasi perspektif ekoteologi dengan teori pendekatan Pendidikan Kristiani Intergenerasi. Dokumen keesaan PGI dan Ensiklik Laudato Si’ digunakan sebagai salah satu sumber informasi ekoteologi utama, sementara teori generasi membedah karakteristik jemaat dari Baby Boomer hingga Alpha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja tidak dapat menjadi "sahabat alam" yang sejati jika gagal menjadi "sahabat generasi". Melalui pendekatan intergenerasi, sekat kategorial dan "budaya membuang" dikikis lewat aktivitas situasional yang sengaja difasilitasi. Integrasi ini menghasilkan ekosistem pembelajaran timbal balik yang holistik, di mana seluruh elemen usia berkolaborasi aktif sebagai agen pemulihan untuk merawat dan menjaga keutuhan seluruh ciptaan Allah.
Menjadi Komunitas Ramah untuk Jiwa yang Rapuh: Kesehatan Mental sebagai Locus Misional Gereja di Toraja Ericha Leona Tandiallo; Rikatri Barrung; Natalia Datu Arruan
Jurnal Bajidakka Vol 1 No `02 (2026): Mei 2026 (Jurnal Filsafat Keilahian dan Pendidikan Agama Kristen)
Publisher : STFT INTIM di Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas maraknya fenomena gangguan kesehatan mental dan tindakan bunuh diri (mentuyo) di Toraja, yang kerap diperparah oleh tekanan kultural modernitas serta stigma teologis yang menghakimi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan untuk mengumpulkan dan menganalisis data sosiologis serta literatur terkait. Pisau analisis yang digunakan didasarkan pada konsep teologi misi David Bosch mengenai karakter gereja yang misional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja di Toraja dipanggil untuk melakukan rekonstruksi paradigma pelayanan dengan menjadikan isu kesehatan mental sebagai locus misional yang baru. Gereja di Toraja harus bertransformasi menjadi healing community (komunitas penyembuh) yang ramah bagi jiwa yang rapuh. Hal ini dicapai melalui dekristalisasi stigma, integrasi kearifan lokal yang menopang, serta penyediaan ruang aman (safe space) pastoral yang inklusif dan holistik demi menghadirkan syalom Allah secara nyata.
Dari Ekspresif, Selektif dan Partisipatif: Memfasilitasi Heterogenitas Spiritualitas Generasi Muda Kristen Melalui Perspektif Gary Thomas Febyrani Lobo; Relisma Juilavmy; Fika Alexander Toban
Jurnal Bajidakka Vol 1 No `02 (2026): Mei 2026 (Jurnal Filsafat Keilahian dan Pendidikan Agama Kristen)
Publisher : STFT INTIM di Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi heterogenitas spiritualitas generasi muda Kristen di Indonesia dan menawarkan solusi teologis atas masalah kesenjangan generasi (generation gap) di gereja. Berdasarkan data Bilangan Research Center (BRC), digital native memiliki tiga karakteristik utama dalam berelasi dengan Tuhan, yaitu ekspresif, selektif, dan partisipatif. Namun, potensi rohani ini sering terhambat oleh dominasi kepemimpinan generasi Baby Boomers yang cenderung monolog dan menuntut keseragaman liturgis. Menggunakan metode studi pustaka dengan pisau analisis Sacred Pathways Gary Thomas, penelitian ini mendekonstruksi keseragaman tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa karakteristik digital pemuda merupakan manifestasi jalur iman yang valid di hadapan Allah. Oleh karena itu, gereja harus bertransformasi melalui hospitalitas ruang sakral dengan mengadopsi ekosistem digital-friendly dan pastoral pendampingan demi memfasilitasi keberagaman spiritualitas anak muda secara maksimal.

Page 1 of 2 | Total Record : 11