cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 51 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2019)" : 51 Documents clear
PEMETAAN RISIKO TANAH LONGSOR KABUPATEN SEMARANG BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Sabda Lestari; Arief Laila Nugraha; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1213.388 KB)

Abstract

Kabupaten Semarang merupakan salah satu daerah di provinsi Jawa Tengah yang termasuk dalam ketegori rawan bencana longsor. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang bencana yang sering terjadi di Kabupaten Semarang yakni berupa tanah longsor, kekeringan, angin puting beliung, dan banjir. Pada tahun 2016 telah terjadi 199 kejadian bencana yang rinciannya yaitu bencana kebakaran  40 kejadian, 87 bencana tanah longsor, 26 bencana banjir, 27 bencana angin putting beliung, dan 19 bencana lainnya. Pada tahun 2017 telah terjadi 327 kejadian bencana diantaranya yaitu 43 bencana kebakaran, 30 bencana angin puting beliung, 158 bencana longsor, 19 bencana banjir, 42 bencana kekeringan serta 35 bencana lainnya. Berdasarkan data kejadian bencana tahun 2016 dan tahun 2017 dapat dilihat bahwa kejadian bencana meningkat secara drastis terutama bencana longsor yang meningkat dari 87 kejadian menjadi 158 kejadian. Oleh sebab itu, maka dibutuhkan pemetaan risiko bencana tanah longsor sebagai upaya mitigasi bencana di Kabupaten Semarang. Pemetaan risiko bencana tanah longsor berbasis Sistem Informasi Geografis mengunakan software GIS dengan metode pembobotan dan tumpang susun (overlay) antar parameter penyusunnya.  Metode pembobotan pada pemetaan ancaman tanah longsor berdasarkan Permen PU No. 22/PRT/M/2007, pemetaan kerentanan dan kapasitas tanah longsor berdasarkan pada telaah dokumen dan pembuatan peta risiko menggunakan perkalian matriks VCA (Vulnerability Capacity Analysis) sesuai dengan PERKA BNPB No. 2 Tahun 2012. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa wilayah dengan tingkat risiko tinggi terhadap bencana tanah longsor seluas 7.329,831 Ha atau sebesar 7,20 % dari wilayah Kabupaten Semarang, kemudian seluas 21.785,920 Ha menunjukan tingkat risiko sedang atau sebesar 21,40 % dari wilayah Kabupaten Semarang dan seluas 64.561,798 Ha atau 63,43 % dari wilayah Kabupaten Semarang menunjukan risiko rendah, sedangkan sisanya yaitu seluas 8102,6 Ha atau 7,96 % wilayah Kabupaten Semarang tidak terkelaskan.
ANALISIS KARAKTERISTIK SEGMEN BATAS ADMINISTRASI DESA SECARA KARTOMETRIK (STUDI KASUS : KABUPATEN DEMAK, KABUPATEN SEMARANG) Rizky Arga Himawan; Sawitri Subiyanto; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1054.18 KB)

Abstract

Setiap wilayah memiliki batas daerah yang jelas dan diakui atau disepakati oleh masing-masing pihak yang memiliki wilayah tersebut. Batas yang membatasi setiap daerah bisa berada di darat dan laut. Dalam batas darat dibagi menjadi dua jenis batas yaitu batas alam dan batas buatan. Batas alam adalah jenis batas yang disesuaikan  dengan kondisi alam sekitar seperti menggunakan sungai atau gunung sebagai daerah pemisah. Sedangkan batas buatan adalah jenis batas yang dibuat oleh manusia seperti jalan yang dijadikan sebagai pemisah daerah. Pada penelitian tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan luas wilayah yang terjadi dari data RBI dengan data hasil digitasi secara kartometrik dan mengetahui karakteristik jenis segmen batas administrasi di daerah pesisir Kabupaten Demak dan di daerah pegunungan Kabupaten Semarang. Hasil dari peneitian ini didapatkan bahwa di Kabupaten Demak terjadi perbedaan luas sebesar 0,11% atau sebesar 37,82 Hektar (Ha) dengan luas awal sebesar 35.913,36 (Ha) meningkat menjadi 35.951,19 (Ha). Sedangkan untuk Kabupaten Semarang perubahan yang terjadi sebesar 0,04% atau sebesar 7,57 Ha dengan luas awal sebesar 18.756,66 Ha menjadi 18.764,23 Ha. Karakteristik segmen batas pada Kabupaten Demak di dominasi oleh batas alam sebesar 39,02% atau 112 segmen batas persawahan dengan total segmen 287. Dan Kabupaten Semarang di dominasi oleh segmen batas alam sebesar 61,29% atau 95 segmen batas di perkebunan dari total 155 segmen batas.
ANALISIS KESESUAIAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP RENCANA TATA RUANG WILAYAH TAHUN 2010-2030 MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KECAMATAN PATI Muhammad Annis Wichi Luthfina; Bambang Sudarsono; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.906 KB)

Abstract

Kecamatan Pati merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Pati. Kecamatan Pati merupakan kecamatan sekaligus menjadi pusat pemerintahan (ibukota) Kabupaten Pati. Pembangunan yang terjadi di Kecamatan Pati mengakibatkan perubahan penggunaan lahan yang ada. Pembangunan tersebut dapat menimbulkan masalah apabila tidak dapat dikendalikan dengan baik dan terjadi ketidaksesuaian penggunaan lahan dengan Rencana Tata Ruang/Wilayah (RTRW). Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Pati Tahun 2009 – 2017 dan kesesuaian antara penggunaan lahan yang ada di lapangan dengan rencana tata ruang/wilayah (RTRW). Proses dalam penelitian ini yaitu membuat peta penggunaan lahan Kecamatan Pati pada tahun 2009 dan 2017 dengan melakukan digitasi on-screen. Peta penggunaan lahan Kecamatan Pati tahun 2009 berdasarkan interpretasi dari Citra Quickbird yang sudah terkoreksi dan untuk tahun 2017 berdasarkan interpretasi Citra Sentinel 2A. Dari penggunaan lahan tersebut akan dilakukan analisis perubahan dan kesesuaiannya dengan RTRW. Perubahan penggunaan lahan yang diperoleh dari hasil penelitian ini yaitu berupa peningkatan atau penurunan luas penggunaan lahan Kecamatan Pati dari tahun 2009 hingga tahun 2017. Untuk peningkatan luas penggunaan lahan di Kecamatan Pati yaitu pada penggunaan lahan Permukiman Perkotaan 60,09 ha atau 1,33%, Permukiman Perdesaan sebesar 0,82 ha atau 0,02%, dan Industri sebesar 19,73 ha atau 0,44%. Penurunan luas penggunaan lahan yang terjadi di Kecamatan Pati terjadi pada penggunaan lahan Pertanian Lahan Basah sebesar 78,68 ha atau 1,74% dan Pertanian Hortikultura sebesar 1,96 ha atau 0,04%. Kesesuaian penggunaan lahan pada Kecamatan Pati tahun 2017 terhadap Rencana Tata Ruang/Wilayah (RTRW) Kabupaten Pati tahun 2010-2030 adalah sebesar 55,96% atau dengan luas 2.536,73 ha dari total luas Kecamatan Pati. Sedangkan untuk ketidaksesuaian penggunaan lahan pada Kecamatan Pati tahun 2017 terhadap Rencana Tata Ruang/Wilayah (RTRW) Kabupaten Pati tahun 2017 adalah sebesar 44,04% atau dengan luas 1.996,73 ha.
ANALISIS PERBANDINGAN PENINGKATAN SEDIMENTASI DI WADUK MRICA DENGAN PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) MERAWU MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT LANDSAT Muhammad Asadullah Al Fathin; Bambang Sudarsono; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1040.101 KB)

Abstract

Waduk Mrica terletak di Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah. Pembangunan waduk Mrica memiliki tujuan untuk PLTA dan irigasi. Namun Waduk Mrica mengalami sedimentasi yang cukup tinggi sehingga perlu dilakukan pengamatan terhadap peningkatan sedimentasi yang terjadi di Waduk Mrica. Pengamatan tersebut dilakukan dengan pemetaan batimetri waduk secara berkala. Di sisi lain, teknologi pengindraan  jauh merupakan salah satu teknologi yang efektif dan efisien dalam pemetaan batimetri perairan dangkal, diantaranya dengan menggunakan algoritma Van Hengel dan Spitzer. Pengolahan algoritma tersebut dianalisis dengan uji regresi menggunakan data pemeruman yan dilakukan pihak pengelola waduk, yakni Indonesia Power UP Mrica. Analisis klasifikasi tutupan lahan dilakukan dengan menggunakan metode klasifikasi terbimbing dan analisis kerapatan vegetasi menggunakan metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Hasil analisis regresi menunjukkan nilai R2 pada data Landsat 7 tahun 2003 sebesar 0,741 atau 74,1%, sedangkan pada data tahun 2013 sebesar 0,440 atau 44,0%. Hasil algoritma Van Hengel dan Spitzer, diperkirakan terjadi peningkatan sedimen sebesar 76.243.184,23 m3. Perubahan tutupan lahan dan kerapatan vegetasi DAS Merawu memiliki hubungan korelasi yang tidak konsisten terhadap peningkatan sedimentasi Waduk Mrica dimana terjadi peningkatan sedimentasi namun pada beberapa kelas tutupan lahan terjadi perubahan yang tidak sejalan.
PEMETAAN JENIS SEDIMEN DENGAN MENGGUNAKAN ANALISIS DATA KEDALAMAN DARI NORBIT IWBMS MULTIBEAM ECHOSOUNDER SYSTEM (MBES) Mohamad Jorgie Prasetyo; Bandi Sasmito; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (984.797 KB)

Abstract

Setiap perairan di Indonesia memiliki keanekaragaman yang berbeda-beda. Hal unik ini ditentukan oleh karakteristik dasar lautnya yang tersusun dari macam-macam endapan atau yang biasa disebut sedimen. Sedimen ini berupa krikil, pasir, atau pun juga lempung yang menjadi dasar tempat makhluk lautan hidup. Dewasa ini masih susah untuk mengetahui jenis-jenis sedimen yang ada di dasar laut dalam skala area yang luas. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuat peta jenis sedimen di suatu wilayah. Menggunakan alat Multibeam Echosounder System dapat dilakukan pemeruman untuk mengetahui bagaimana bentuk dasar laut berdasarkan gelombang-gelombang suara yang ditembakkan lalu diterima kembali oleh tranduser. Data yang dihasilkan oleh pemeruman berupa kumpulan titik berisi data kedalaman yang menyusun bentuk topografi dasar laut. Data kedalaman ini kemudian dikombinasikan dengan data jenis sedimen yang didapat dari uji laboratorium sampel sedimen yang diambil untuk membentuk peta persebaran jenis sedimen. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa sedimen yang terdapat di perairan teluk awur yang diteliti oleh penulis memiliki 3 jenis sedimen yaitu pasir, lanau, dan lempung. Pengolahan sedimen berdasarkan skala wentworth dan menggunakan 2 metode yaitu metode sieving dan metode pippeting. Visualisasi peta persebaran sedimen menggunakan 3 kelas berdasarkan 3 jenis sedimen yang ada. Rentang kelas tersebut yaitu untuk pasir pada kedalaman 0,20m hingga 2,58m, lalu untuk lanau pada kedalaman 2,64m hingga 4,10m, sedangkan untuk lempung pada kedalaman 4,11m hingga 4,52m
POTENSI TAMBANG BATUBARA BERDASARKAN ANALISIS KELIMPAHAN MINERAL BATUBARA MENGGUNAKAN CITRA HYPERION EO-1 DAN CITRA LANDSAT DI KOTA SAWAHLUNTO Jamilah, Mutiara; Prasetyo, Yudo; Sukmono, Abdi
Jurnal Geodesi Undip Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.496 KB)

Abstract

Kota Sawahlunto merupakan salah satu kota di provinsi Sumatera Barat yang memiliki topografi bervariasi seperti dataran landai, danau, dataran tinggi dan pegunungan. Kota Sawahlunto terletak di atas Formasi Sawahlunto, batuan yang terbentuk pada zaman yang diberi istilah kala (epoch) Eocen sekitar 40 – 60 juta tahun yang lalu. Kondisi tersebut menjadikan Kota Sawahlunto memiliki potensi mineral dan hasil tambang. Salah satu tambang terbesar yang berpotensi di Sawahlunto adalah tambang batubara. Penentuan wilayah yang memiliki potensi batubara pada penelitian ini menggunakan metode Spectral Angle Mapper (SAM) dengan citra Hyperion EO-1 untuk mengetahui kelimpahan mineral guna mendapatkan delineasi mineral batubara. Penggunaan citra Landsat bertujuan untuk mengklasifikasikan perubahan kerapatan vegetasi pada area pertambangan  dengan metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dan mengklasifikasikan serta menghitung perubahan luas tutupan lahan dengan metode Supervised Classification serta penggunaan data SRTM resolusi 90m untuk perhitungan volume galian dan timbunan batubara dengan metode cut and fill  pada area yang berpotensi. Hasil penelitian membuktikan bahwa daerah yang berpotensi dijadikan tambang batubara adalah desa Salak, Sijantang, Batu Tanjung dan Ratih Kecamatan Talawi serta desa Lubang Panjang dan Saringan Kecamatan Lembah Segar. Hasil analisis kerapatan vegetasi pada area wilayah kerja pertambangan di area penelitian pada tahun 2008 didominasi oleh kerapatn vegetasi tinggi seluas 1414,68 Ha, sedangkan pada tahun 2018 didominasi oleh kerapatan vegetasi jarang seluas 1055,71 Ha. Hasil perubahan tutupan lahan kota Sawahlunto pada area penelitian dari tahun 2008 hingga tahun 2018 yang mengalami penambahan luas area tertinggi adalah kelas permukiman seluas 3823,40 Ha sedangkan yang mengalami penurunan luas area adalah kelas semak belukar seluas 2690,92 Ha. Hasil volume galian  menggunakan metode cut and fill pada tahun 2008 hingga 2013 adalah adalah 1898,96 Ha dan timbunan 3925,77 Ha di area wilayah kerja pertambangan pada area penelitian.
KAJIAN EFEKTIVITAS PENGUKURAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN RTK DAN TOTAL STATION Wahyu Gangga; Bambang Darmo Yuwono; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.066 KB)

Abstract

Garis pantai adalah garis batas pertemuan antaran daratan dan air laut, di mana posisinya tidak tetap dan dapat berpindah sesuai dengan pasang surut air laut dan erosi pantai yang terjadi (Triatmodjo, 1999) .Garis pantai merupakan bagian penting dari suatu negara kepulauan seperti Indonesia. Karena garis pantai dapat digunakan sebagai acuan penetapan batas wilayah bahkan batas negara dan untuk penetapan batas pengelolaan sumberdaya alam. Selain it ugaris pantai juga digunakan untuk mementukan batas wilayah laut propinsi dan kabupaten atau kota yang terdiri dari wilayah darat dan laut. Pengukuran garis pantai sejauh ini terdapat beberapa metode salah satunya dengan pengukuran metode terestris, pada penelitian ini akan mengkaji antara data hasil pengukuran garis pantai menggunakan metode RTK Radio yang akan dibandingkan dengan metode terestris dengan Total Station yang diasumsikan sebagai pengukuran paling benar atau definitif. Perbandingan tersebut mecari metode mana yang lebih efektif , dengan mempertimbangkan ketelitian, waktu, dan biaya serta hasil akhir dari garis pantai yang terbentuk. Pengukuran garis pantai dengan GNSS metode RTK Radio dan metode terestris dengan Total Station direferensikan terhadap datum vertikal lokal masing – masing garis pantai yang diperoleh akan mengacu pada chart datum yaitu: Higher Hig Water Level (HHWL), Mean Sea Level (MSL) dan Lower Low Water Level (LLWL). Dilihat dari hasil uji statistik sampel, ketelitian horizontal dan vertikal dari dua metode ini tidak menunjukkan perbedaan hasil yang signifikan. Perbandingan posisi horizontal (X,Y) antara RTK Radio dengan Total Station diperoleh rata – rata pergeseran nilai sebesar 0.468 m dengan nilai standar deviasi (  sebesar 0.684 m. Dari hasil tersebut maka pengukuran GNSS metode RTK Radio memenuhi Circular Error 90 % atau CE90 kelas 3 untuk skala 1:2500 dan Liniear Error 90% atau LE90 kelas 3 untuk skala 1:1000. Sehingga pengukuran RTK dapat digunakan untuk pengukuran pemetaan skala besar sampai dengan 1:2500. Perbandingan waktu yang digunakan untuk pengukuran garis pantai dengan GNSS metode RTK Radio rata – rata memerlukan waktu sebesar 7 menit 47.9 detik untuk setiap sesi atau patok. Pengukuran terestris metode Total Station memerlukan waktu rata – rata sebesar 17 menit 26.2 detik untuk menyelesaikan sesi yang sama dengan metode RTK Radio. Biaya pengukuran RTK Radio lebih murah dibandingkan dengan pengukuran terestris dengan Total Station. Hasil dari penggambaran garis pantai dua metode pada peta tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
ANALISIS DISTRIBUSI TOTAL SUSPENDED SOLID DAN KANDUNGAN KLOROFIL-A PERAIRAN BANJIR KANAL BARAT SEMARANG MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 dan SENTINEL-2A Humaira Qanita; Sawitri Subiyanto; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.104 KB)

Abstract

Data penginderaan jauh dapat memudahkan dalam penelitian terkait perairan serta pengambilan keputusan maupun pemantauan kondisi perairan dari waktu ke waktu secara efektif. Teknik penginderaan jauh telah digunakan secara luas untuk mengukur parameter kualitatif perairan. Konsentrasi dari klorofil-a dan kandungan total suspended solids merupakan beberapa indikator dalam parameter kualitas air yang dapat diperoleh menggunakan data penginderaan jauh. Pada penelitian ini data citra satelit Landsat 8 OLI dan Sentinel-2A MSI digunakan untuk menentukan konsentrasi klorofil-a dan kandungan total suspended solids di Perairan Banjir Kanal Barat Semarang. Data citra satelit Landsat 8 dan Sentinel-2A kemudian diproses menggunakan beberapa algoritma penentu konsentrasi klorofil-a dan kandungan total suspended solids yang selanjutnya dibandingkan dengan data in-situ perairan. Pengambilan sampel air secara langsung di Banjir Kanal Barat Semarang dilakukan pada tanggal 10 September 2018 yang bertepatan dengan akuisisi data citra Landsat 8 dan selisih kurang dari 48 jam dengan data Sentinel-2A. Sampel yang telah diambil kemudian melalui proses uji laboratorium untuk selanjutnya menjadi parameter penentu algoritma terbaik untuk proses pemetaan distribusi total suspended solids dan kandungan klorofil-a Perairan Banjir Kanal Semarang. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dalam rentang enam bulan distribusi total suspended solids di Perairan Banjir Kanal Barat didominasi kelas memenuhi baku mutu/kondisi baik (0-1 mg/L) sebesar 42,78 % dan kelas terendah yaitu tercemar sedang (5-10 mg/L) sebesar 12,5%. Sedangkan untuk konsentrasi klorofil-a didominasi status hipereutrof (15-200 mg/m3) 30,7% dan status terendah adalah mesotrof (2-5 mg/m3) 17,1%.
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP PERUBAHAN ZONA NILAI TANAH PADA DAERAH GENANGAN BANJIR ROB DI KECAMATAN PEKALONGAN UTARA TAHUN 2014-2018 Ade Naufalita; Sawitri Subiyanto; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (947.325 KB)

Abstract

Kecamatan Pekalongan Utara terletak di bagian utara Kota Pekalongan yang berbatasan langsung dengan laut jawa. Kecamatan Pekalongan Utara memiliki luas wilayah 691,721 Ha, yang terbagi ke dalam 7 Kelurahan. Kecamatan Pekalongan Utara termasuk wilayah dengan area permukiman cukup padat dan memiliki permasalahan banjir rob sudah mulai parah. Akibat adanya genangan banjir rob mengakibatkan penurunan fungsi lahan yang berada pada daerah genangan maupun di sekitar genangan. Penurunan fungsi lahan selanjutnya dapat mengakibatkan perubahan nilai tanah akibat perubahan penggunaan lahan pada lokasi tersebut, baik naik hingga nilai tanah turun. Penelitian membahas mengenai perubahan nilai tanah akibat perubahan penggunaan lahan pada daerah genangan banjir rob. Analisis dilakukan dengan pembuatan zona nilai tanah tahun 2018 yang kemudian di overlay dengan peta ZNT tahun 2014 sehingga didapat perubahan ZNT tahun 2014-2018. Peta perubahan ZNT ini kemudian di overlay dengan peta perubahan penggunaan lahan dan peta genangan banjir rob, sehingga dapat di analisis kaitan perubahan nilai tanah akibat perubahan penggunaan lahan pada daerah genangan banjir rob. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 klasifikasi perubahan penggunaan lahan pada daerah genangan banjir rob yaitu, perubahan penggunaan lahan tambak ke rawa, lahan kosong ke rawa dan lahan kosong ke permukiman dengan total luas 843.153 m2. Perubahan penggunaan lahan terbesar adalah perubahan tambak ke rawa dengan luas 544.342 m2. Kenaikan terbesar nilai tanah yang diakibatkan perubahan penggunaan lahan pada daerah genangan banjir rob dengan besar peningkatan 145,81% yang terletak pada daerah di selatan Jalan Raya Jeruk Sari dan berada pada perbatasan antara Kota Pekalongan dengan Kabupaten Pekalongan, yang mengalami perubahan penggunaan lahan tambak ke rawa, sedangkan penurunan zona nilai tanah terbesar adalah -42,22% yang terletak pada daerah berada pada Jalan Kunti Utara seberang SDN Kandang Panjang 10,  yang mengalami perubahan penggunaan lahan kosong ke rawa. Perubahan ZNT pada daerah genangan banjir rob hasil penelitian ini kurang di pengaruhi oleh perubahan penggunaan lahan dan lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti aksesibilitas hingga adanya fasilitas umum disekitar.
ANALISIS KORELASI PERKEMBANGAN KOTA SEMARANG TERHADAP PERUBAHAN PENGGUNAAN AIR TANAH Yonanda Simarsoit; Yudo Prasetyo; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1068.034 KB)

Abstract

Data dari PDAM Kota Semarang menunjukkan total pemakaian air di Kota Semarang sebanyak 34.277.257 m3 pada tahun 2008, dimana 87% digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Penelitian ini mengkaji perkembangan suatu wilayah dengan data penggunaan air tanah dari tahun 2014 hingga 2018. Kota Semarang sebagai wilayah yang diteliti oleh penulis.Penelitian ini menggunakan Citra Landsat tahun 2014 hingga 2018 untuk melihat daerah permukiman dan industri di Kota Semarang yang dilihat secara multitemporal. Hasil perubahan daerah permukiman dan industri dikorelasikan dengan perubahan air tanah di Kota Semarang.Perubahan air tanah dangkal dengan perubahan kepadatan permukiman memiliki korelasi yang sangat tinggi. Penelitian peroleh korelasi pada tahun 2014 ke tahun 2015 korelasi air tanah dangkal dengan permukiman sebesar 65,92% untuk korelasi sangat tinggi dan 21,20% untuk korelasi tinggi, tahun 2015 ke 2016 sebesar 50,56% untuk korelasi sangat tinggi dan 10,96% untuk korelasi tinggi, tahun 2016 ke 2017 sebesar 36,89 % untuk korelasi sangat tinggi dan 24,89% untuk korelasi tinggi dan tahun 2017 ke 2018 sebesar 65,23% untuk korelasi sangat tinggi dan 22,11% untuk korelasi tinggi. Korelasi perubahan air tanah dalam dengan kawasan industri memiliki korelasi yang sangat tinggi dengan koefisien korelasi sebesar 0,909 dari interval 0 sampai 1.

Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue