cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
Search results for , issue "Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015" : 30 Documents clear
SEMARANG CHARITY MAP, PENYAJIAN PETA DONASI SOSIAL KOTA SEMARANG BERBASIS BLOGGER JAVASCRIPT Rohim, Wahyu Nur; Awaluddin, Moehammad; Suprayogi, Andri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1364.049 KB)

Abstract

AbstrakKebingungan seringkali dialami oleh para pegiat sosial, soal keterbatasan informasi mengenai kegiatan sosial, panti sosial, komunitas sosial dan data penyandang masalah kesejahteraan sosial yang selanjutnya kami sebut donasi sosial di Kota Semarang sedikit banyak menghambat mereka dalam melakukan manajemen donasi. Hingga akhirnya muncul pertanyaan-pertanyaan seperti berapa jumlah panti sosial di Kota Semarang, panti sosial mana yang paling dekat dari rumah, petunjuk jalan dari suatu tempat menuju lokasi kegiatan sosial, panti sosial dan komunitas sosial tertentu,berapa estimasi waktu tempuhnya dan berapa pulaestimasi jarak tempuhnya.Dalam penelitian tugas akhir ini dilakukan penyajian data donasi sosial ke dalam sebuah sistem informasi geografis online dengan menggunakan platform blogger dalam membangun situs dengan bahasa pemrograman Javascript dan HTML.Dalam pembuatan peta utama, peta panti sosial dan peta komunitas sosial, peneliti menggunakan software ArcGIS Desktop 10.sp1untuk mengelola basis data agar menjadi sebuah data vektor spasial.Data vektor spasial tersebut selanjutnya dikelola di ArcGIS Developer untuk menampilkanya ke dalam sebuah peta online dasar atau Web Map di situs ArcGIS Online.Beberapa fitur Web Map Application tersedia di dalam situs ArcGIS Online, salah satunya adalah fitur Directions. Sebuah fitur yang mampu memberikan informasi petunjuk jalan secara terperinci, estimasi jarak dan estimasi waktu kepada  pengguna dengan menggunakan nilai koordinat lintang bujur sebagai parameternya. Maka fitur Directions peneliti pilih untuk menyajikan peta online dasar donasi sosial. Setelah memastikan bahwa fitur Directionspada peta dasar online donasi sosial bekerja dengan baik, kemudian menampilkannya ke dalam situs dengan menggunakan bahasa pemrograman HTML memanfaatkan fungsi i frame. Sebelum situs di terbitkan, alamat situs dengan ekstensi .blogspot.com diubahke alamat pantisemarang.info. Kata Kunci: Peta Donasi Sosial, Semarang, ArcGIS Developer, Blogger, Javascript AbstractSocial workers often get stuck in confusion, limited information about social events, social house, social community and the data about social prosperity matter later named social donation in Semarang alittle bit more dragging them in conducting the donation management. Therefore, a number of questions come up such as how many social houses in semarang, which social house is closer to the housing, the path sign from a certain place to the events location, social houses, and certain social community, and also how much the time estimation and how many the distance estimation.In this final assignment research, the social donation data is presented in an online geographical information system by using the blogging platform in working out a site using the JavaScript and HTML programming system. In the process of making the main map, the social houses map, and the social community map, the researcher uses ArcGIS Desktop 10.sp1 software to manage the basis data to be a spatial vector data. The spatial vector data is processed by ArcGIS Developer to show it in the basic online map or Web Map in ArcGIS Online site.Some Web Map Application features is available in the ArcGIS Online site, one is the direction feature. A feature gives the path sign information in detail, the distance estimation and time estimation to the user by using the number of longitude-latitude coordinate as the parameter. After ensuring that the direction feature of the social donation basic online map works well, later it is showed in the site using the HTML programming system of frame function. Before the site is published, the site address of .blogspot.com extension is changed into pantisemarang.info. Keywords: Social Donation Mapping, Semarang, ArcGIS Developer, Blogger, Javascript
PEMANFAATAN NILAI WILLINGNESS TO PAY UNTUK PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN SITUS KERAJAAN MAJAPAHIT MENGGUNAKAN TRAVEL COST METHOD DAN CONTINGENT VALUATION METHOD ( Studi Kasus : Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur) Tri Rahmawati Winda Kusuma; Bambang Sudarsono; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.522 KB)

Abstract

ABSTRAK           Situs Kerajaan Majapahit sebagai calon situs warisan dunia UNESCO (UNESCO world culture and heritage) memiliki potensi sebagai obyek wisata. Lokasi yang strategis  terletak di jalan utama Surabaya-Solo dan nilai sejarah yang dimiliki, membuat situs ini khususnya Candi Brahu, Museum Majapahit, Candi Bajangratu dan Candi Tikus menjadi salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) Kabupaten Mojokerto. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan suatu peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan (ZNEK) pada situs Kerajaan Majapahit untuk menduga  nilai ekonomi dan manfaat berdasarkan keinginan untuk membayar (Willingness To Pay: WTP) wisatawan dan masyarakat yang memperoleh manfaat dari kawasan tersebut.          Metode penarikan sampel (responden) yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah non probability sampling dengan teknik sampling insidental, dimana responden merupakan siapa saja yang secara kebetulan/insidental ditemui di lokasi penelitian dan dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan perhitungan WTP menggunakan perangkat lunak Maple 14.            Dalam penelitian tugas akhir ini, diperoleh hasil berupa peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan. Candi Brahu dengan surplus konsumen sebesar Rp 633.234,- dan nilai WTP sebesar Rp 34.457,-. sehingga diperoleh nilai ekonomi total Candi Brahu sebesar Rp 97.157.349.770,-. Museum Majapahit dengan surplus konsumen sebesar Rp 242.472,- dan nilai WTP sebesar Rp 41.532,-. sehingga diperoleh nilai ekonomi total Museum Majapahit sebesar Rp 107.741.863.410,-. Sedangkan untuk Candi Bajangratu diperoleh surplus konsumen Rp 574.613 dan nilai WTP sebesar Rp 34.360,- sehingga diperoleh nilai ekonomi total kawasan Candi Bajangratu sebesar Rp 117.710.064.850,-. Selanjutnya untuk Candi Tikus diperoleh besaran surplus konsumen Rp 987.991,- dan nilai WTP Rp 39.842,- sehingga diperoleh nilai ekonomi total kawasan Candi Tikus sebesar Rp 162.503.279.320,-.(nilai surplus konsumen per individu dikalikan dengan jumlah pengunjung tahun 2013). Kata kunci : Willingness To Pay, Zona Nilai Ekonomi Kawasan, Situs, Regresi Linear Berganda, Maple 14. ABSTRACT             Majapahit Empire Site as a  world culture and heritage UNESCO has potential as a tourist attraction. The location is strategically located on the main street of Solo and Surabaya which have historical value, makes this particular site Brahu Temple, Majapahit Museum, Bajangratu Temple and Tikus Temple became one tourist destination areas Mojokerto. Based on this, we need a  Zone Map Economic Value Areas (ZNEK) to the site of the Majapahit Kingdom to estimate the economic value and benefits based on willingness to pay (WTP) tourists and the people who benefit from the region            Sampling method (respondents) were used in this research is non probability sampling with incidental sampling technique, where respondents are those who by chance / incidental encountered in the study area and can be used as a sample, if it is deemed that the person who happened to be found suitable as a data source. Data processing method used is multiple linear regression analysis and calculation software WTP using Maple 14.            In this research, the results obtained in the form of a map Zone Economic Value Area. The consumer surplus of Brahu Temple is Rp 633.234,-, and WTP value of Rp 34.457,- in order to obtain the total economic value of Brahu Temple Rp 97.157.349.770,-. Museum of Majapahit with consumer surplus of Rp 242.472,- and WTP value of Rp 41.532,-. in order to obtain the total economic value of Majapahit Museum is Rp 107.741.863410,-. As for the Bajangratu Temple consumer surplus obtained Rp 574.613,- and WTP value of Rp 34.360,- in order to obtain the total economic value is Rp 117.710.064.850,-. Further to the Tikus Temple gained massive consumer surplus Rp 987.991,- and the value of WTP Rp 39.842,- in order to obtain the total economic value of the Tikus  Temple area is Rp 162.503.279.320,-. (Consumer surplus value per individual multiplied by the number of visitors in 2013).
PEMBUATAN APLIKASI MOBILE GIS BERBASIS ANDROID UNTUK INFORMASI PARIWISATA DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL Rizki Putra Agrarian; Andri Suprayogi; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (830.891 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Gunungkidul adalah salah satu kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Wonosari. Sebagai kota yang dipenuhi berbagai fasilitas dan objek wisata menarik, Kabupaten Gunungkidul menjadi salah satu tujuan wisata dari wisatawan lokal maupun asing. Maka dari itu sudah seharusnya Kabupaten Gunungkidul memiliki fasilitas pendukung berupa panduan mengenai objek wisata sehingga dapat memudahkan para wisatawan lokal dan asing yang akan berkunjung.Penelitian ini memanfaatkan data koordinat dan deskripsi dari masing-masing objek wisata yang dilakukan dengan survey langsung ke lapangan dengan menggunakan GPS handheld. Langkah selanjutnya adalah membangun sebuah aplikasi berbasis Android dengan menggunakan software MIT App Inventor 2. Pada tahap akhir dilakukan pembandingan kecepatan koneksi saat menggunakaan aplikasi pada jaringan WLAN, 2G dan 3G.Penelitian tugas akhir ini menghasilkan sebuah aplikasi mobile GIS tentang pariwisata di Kabupaten Gunungkidul yang diharap dapat membantu wisatawan lokal maupun asing dalam berpariwisata di Kabupaten Gunungkidul. Fitur aplikasi antara lain penunjuk arah ke lokasi yang dituju, jarak ke lokasi dan informasi umum seperti trayek angkutan umum dan daftar hotel.Kata Kunci: Android; Gunungkidul; MIT App Inventor 2; mobile GIS; pariwisata  ABSTRACT Gunungkidul Regency is one of many regencies in Yogyakarta Special District, Indonesia. The central of the government is at Wonosari Subdistrict. As a town filled with interesting facilities and tourism objects, Gunungkidul Regency became one of many traveling destinations for domestic and foreign tourists. And because of that, Gunungkidul Regency should have a supproting facility like a guide about its tourism objects so it could ease the tourists who will be coming there.This study utilizes coordinate data and descriptions of each tourism object which is done by a direct field survey using handheld GPS. The next step was building an Android-based application using MIT App Inventor 2 software. And on the last phase, it compares connection speed when the application is being used at WLAN, 2G and 3G network.This study produced a mobile GIS application about tourism in Gunungkidul Regency that hopefully could help domestic and foreign tourists when they travel there. The application features the direction and the distance to the tourism objects, and common information like public transportation routes and hotel list.Keywords: Android; Gunungkidul; MIT App Inventor 2; mobile GIS; tourism
APLIKASI TERRESTRIAL LASER SCANNER UNTUK PEMANTAUAN DEFORMASI BANGUNAN (STUDI KASUS : TANGKI KLARIFIER PDAM KOTA SEMARANG) Muzaka, Rifqi Najib; Suprayogi, Andri; Nugraha, arief Laila
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1388.144 KB)

Abstract

ABSTRAK Teknologi Terrestrial Laser Scanner saat ini telah berkembang di bidang pemetaan. Dengan kelebihan yang ditawarkan oleh alat tersebut adalah kecepatan pengambilan data yang tinggi, tingkat akurasi yang tinggi dan ekonomis. Salah satu pemanfaatan teknologi Terrestrial Laser Scanner ini adalah untuk pemantauan terhadap deformasi dari bentuk bangunan. Dengan memanfaatkan data As Built Drawingsebagai data awal dan data Terrestrial Laser Scanner sebagai data terbaru.Pemantauan deformasi bentuk dilakukan dengan mengkaji perbandingan bentuk dari keadaan lampau bangunan dengan kondisi existing bangunan.Pada penelitian ini menggunakan FARO Laser Scanner Focus 3D Dengan dimensi 24x20x10 cm dan berat hanya 5 kg. Alat ini memiliki sudut ukuran horizontal sebesar 305o dan vertikal 360o. Pada penelitian ini scanning dilakukan terhadap salah satu aset dari PDAM Tirta MoedalKotaSemarang yakni tangki klarifier yang dikelola oleh divisi produksi PDAM Tirta MoedalKotaSemarang. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan scanning sebanyak 23 kali scanning terhadap dua tangki yang diberi kode IPA III dan IPA IV. Kemudian setelah data scanning diperoleh,  data tersebut diolah dengan menggunakan software Scene 5.2. Dengan berdasarkan pada gambar desain As Built Drawing yang dimiliki oleh PDAM Tirta MoedalKotaSemarang kemudian dapat dilakukan pengolahan sebagai pembanding mengenai kajian deformasi bangunan.Deformasi bentuk bangunan yang terjadi pada tangki yang di deteksi pada tangki PDAM Tirta MoedalKotaSemarang adalah rata-rata tinggi tangki 0,062m lebih panjang dan memiliki diameter rata-rata 0,092 m lebih panjang daripada gambar rencana As Built Drawing nya pada tangki unit IPA III. Serta, pada tangki unit IPA IV memiliki perbedaan tinggi rata-rata lebih pendek 0,025m diameter rata-rata lebih panjang 0,003 m, Serta pada tabung tangki IPA IV lainnya tinggi rata-rata lebih tinggi 0,054 m dan diameter rata-rata 0,022 m lebih pendek dari desain rencana atau As Built Drawing nya.Kata Kunci : Terrestrial Laser Scanner, As Built Drawing, Deformasi BangunanABSTRACTTerrestrial Laser Scanner technology has developining on mapping sector now. With high speed recording data, high accurate, and economical it was offered the advantage. One of terrestrial laser scanner utilization is for monitoring deformation shape of building. Usage the as built drawing data monitoring of deformation shape can detected. With inspecting past shape building and existing shape building condition. This research was using FARO Laser Scanner Focus 3D with dimension 24x20x10 cm and weight only 5 kg. This instrument has horizontals angle measurement in the around of  305o and 360 o at the vertical angle. At this research scanning process has been done toward one of Tirta Moedal Semarang City Water Company asset, the klarifier water tank has been managed by production division of Tirta Moedal Semarang City Water Company. Collecting research data has been scanning almost 23 times towards both of the tank wich has been coded IPA III and IPA IV. Then after scanning data was obtained, and processed by Scene 5.2 software. And then based on as built drawing design was obtained from Tirta Moedal Semarang City Water Company can do comparison processed related building deformation study. Deformation of building shapes have occurred on klarifier tank and detected on klarifier tank of Tirta Moedal Semarang City Water Company. Building deformation has detected high about 0,062 m longer than as built drawing and has diameter about 0,092 m longer than the as built drawing design of IPA III unit. At IPA IV tank unit has different high 0,025 m shorter than the as built drawing, and about 0,003 m longer than  as built drawing of IPA IV unit. And at the other IPA IV tank has height about 0,054 m and diameter about 0,022 m shorter than the as built drawing design.Keywords : Terrestrial Laser Scanner, As Built Drawing, Building deformation
APLIKASI SATELIT ALTIMETRI DALAM PENENTUAN SEA SURFACE TOPOGRAPHY (SST) MENGGUNAKAN DATA JASON-2 PERIODE 2011 (Studi Kasus : Laut Utara Jawa) Alvian Danu Wicaksono; Bambang Darmo Yuwono; Yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (857.116 KB)

Abstract

ABSTRAK                Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari perairan. Luasnya wilayah perairan Indonesia memerlukan pengembangan penelitian lebih lanjut terkait kondisi fisis dan biologis perairan tersebut. Salah satu bentuk kajian fisis perairan Indonesia adalah pengamatan bentuk muka air laut (sea surface topography/SST). Sea Surface Topography (SST) merupakan tinggi permukaan air laut di atas geoid. Penelitian ini berfungsi untuk memperoleh fenomena laut secara temporal.Pada penelitian ini menggunakan data satelit altimetri dari dua penyedia data yaitu RADS dan AVISO dengan lokasi penelitian di perairan Semarang dengan jalur pass 51 dan 64 sedangkan  Surabaya pada jalur satelit pass 127 dan 140. Metode yang digunakan adalah mengolah data satelit altimetri Jason-2 tahun 2011 dengan analisis perbandingan akurasi, arus dan karakteristik sea surface topography menggunakan sofware BRAT 2.0..Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat akurasi data pengolahan satelit altimetri RADS dan software BRAT adalah <  0,25 m berdasarkan uji statistik simpangan baku dan hasil nilai SST yang tertingi terjadi pada pass 064 terjadi pada cycle 110 sebesar  1,5752 m pada tanggal 27 Mei 2011 – 07 Juni 2011 sedangkan nilai SST terendah terjadi pada pass 051 dengan cycle 095  sebesar 0,544 m pada tanggal 30 Januari 2011 – 09 Februari 2011. Berdasarkan pengamatan dan analisis menerangkan bahwa arah arus bergerak ke arah Samudra Hindia ini dapat diketahui dengan nilai sea surface topography yang mengacu pada ketinggian geoid lebih tinggi di daerah Utara laut Jawa dari pada di Selatan laut Jawa.Kata Kunci : Aviso, BRAT, Jason-2, Radar Altimetry Database System (RADS), Sea Surface Topography (SST) ABSTRACTIndonesia can be classified as an archipelago nation in which most of its territory consisted of water. With this large number of water territory, Indonesia needs to develop an advanced research related to the physical and biological condition of the water territory. One of the physical study of Indonesian water territory is the observation of sea surface (Sea Surface Topography/SST). Sea Surface Topography (SST) can be defined as the high level of sea surface above the geoid. The purpose of this research is to get the sea phenomenon temporally                This research was using altimetry satellite data from two data provider RADS and AVISO with the research sites in Semarang satellite pass 51 and pass 64 and Surabaya satellite pass 127 and 140. The method used in this research is by processing altimetry satellite data Jason-2 2011 with the comparison analysis of the current and the characteristic of Sea Surface Topography using software BRAT 2.0.                The result of the research showed that the accuracy level of the processed data of altimetry satellite and software BRAT is < 0.25 m according to the statistic test of standard deviation and the result of SST point the highest happened on pass 064 in cycle 110 with the result of 1.5752 m on May 27th 2011 – June 07th 2011 and the lowest happened on pass 051 in cycle 095 with the result of 0.544 m on January 30th 2011 – February 09th 2011. The observation and the analysis showed that the current which moving towards the Indian Ocean can be known with Sea Surface Topography point that refers to the high level of geoid higher in the northern Java Sea rather than Southern Java SeaKeywords: Aviso, BRAT, Jason-2, Radar Altimetry Database System (RADS), Sea Surface Topography (SST)
PENENTUAN DAN PEMILIHAN LOKASI BANDARA DENGAN MENGGUNAKAN SIG DAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (Rencana Bandara Di Kabupaten Kendal) Inessia Umi Putri; Arief Laila Nugraha; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.789 KB)

Abstract

Abstrak Lokasi bandara di Indonesia kerap mengalami permasalahan dalam perencanaan lokasi. Letak bandara yang berada di pusat kota sering menjadi penghambat laju pertumbuhan kota, seperti Bandara Ahmad Yani yang terletak di pusat Kota semarang. Akibatnya, kawasan pemukiman dan perkantoran yang berada di sekitar Bandara Ahmad Yani terganggu dengan suara bising yang berasal aktivitas penerbangan, belum lagi ancaman akan kecelakaan penerbangan yang kapan saja dapat terjadi. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan langkah yang tepat dalam menyajikan aspek spasial (keruangan). Dalam hal ini SIG mempunyai manfaat yang dapat digunakan untuk menganalisis dalam proses penentuan lokasi bandara yang sesuai dengan parameter yang telah ditentukan, yaitu tata guna lahan, kemiringan lahan, curah hujan, kepadatan penduduk, jarak dari jalan utam, jarak dari sungai utama, arah dan kecepatan angin.Dari analisis dengan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) menunjukkan besar bobot yang mempengaruhi untuk masing-masing parameter sebesar 39.588 % untuk arah dan kecepatan angin, 24.1%  untuk kemiringan lereng, 17.196%. ntuk curah hujan, 8.67%  untuk tata guna lahan, masing-masing 4.097% untuk parameter jarak dari jalan utama dan jarak dari sungai utama, dan 2.23% untuk kepadatan penduduk. Dari hasil overlay peta hasil skoring dengan prasyarat lokasi bandara, didapatkan tiga alternatif daerah yang sesuai untuk menjadi lokasi bandara baru di Kabupaten Kendal, yaitu, Desa Wonorejo Kecamatan Kaliwungu, Desa Wonosari Kecamatan Patebon, dan Desa Kalirejo Kecamatan Kangkung.Kata kunci: Lokasi Bandara; AHP; SIG Abstract Airports location often  have problems in site planning. The airport which is located in the city center become a resistor the rate growth of the city, such as Ahmad Yani Airport which is located in the center of Semarang City. As a result, residential areas and offices located around the Ahmad Yani Airport disturbed by noise of flight activity, and also the threat of aviation accidents can happen anytime. Geographic Information System (GIS) is a right step in presenting the spatial aspects (spatial). In this case the GIS has the benefit that can be used to analyze the process of determining the location of the airport in accordance with predetermined parameters, namely land use, slope, rainfall, population density, distance from  main roads, the distance from the main river, direction and speed wind. By the analysis using AHP method (Analytical Hierarchy Process) shows that the weighted score which affected each of parameter is 39 588% for direction and speed wind, , 24.1% terrain slope, , 17,196% rainfall, 8.67% for land use, respectively 4,097% for the parameter distance from the main road and the distance from the main river, and 2,23% to population density. According to overlay results scoring maps with precondition of airport location that have obtained three areas which is  suitable to be alternative location of a new airport in Kendal, namely Wonorejo village from Kaliwungu District, Wonosari village from Patebon District, village Kalirejo from Kangkung DistrictKeywords: Airport Location, AHP, GIS
PENENTUAN TINGKAT KEMISKINAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus: Kecamatan Tugu, Tembalang dan Banyumanik) Arga Fondra Oksaping; Bambang Sudarsono; arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.359 KB)

Abstract

Abstrak Kemiskinan merupakan masalah yang sering kali dihadapi oleh suatu negara, bahkan oleh negara maju sekalipun. Peningkatan angka kemiskinan dari tahun ke tahun merupakan masalah yang harus dihadapi oleh masyarakat dan pemerintah. Keadaan perekonomian negara yang tidak kunjung membaik dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan masalah kemiskinan menjadi semakin serius. Pada aspek inilah Sistem Informasi Geografis (SIG) mempunyai peranan yang cukup strategis, karena SIG mampu menyajikan aspek spasial (keruangan) yang dapat dikaji sebagai untuk menganalisa keadaan penduduk suatu daerah yang berguna bagi kesejahteraan masyarakat yang akan datang. Penelitian ini memepertimbangkan 3 parameter yaitu kepadatan penduduk, jumlah penduduk bependidikan rendah dan jumlah penduduk berpenghasilan rendah. Dari hasil analisis dan perhitungan bobot dengan metode AHP (Analytic Hierarchy Process) diperoleh besar pengaruh untuk setiap parameter sebesar 62,065% untuk parameter jumlah penduduk berpenghasilan rendah, 26,630% untuk  parameter jumlah penduduk berpendidikan rendah dan 11,305% untuk parameter kepadatan penduduk. Untuk kecamatan yang memiliki tingkat kemiskinan paling tinggi di Kecamatan Tugu, Tembalang dan Banyumanik dan sesuai dengan data dari BAPPEDA adalah Mangkang Wetan Kecamatan Tugu sedangkan kelurahan dengan tingkat kemiskinan paling rendah adalah Kelurahan Tembalang Kecamatan Tembalang. Kata Kunci :Kemiskinan, SIG, AHP Abstract Poverty is a problem which occurs across the world, even developed countries. From year to year, increase number of poverty is a problem that must be faced by the citizen and the government. Nowadays poverty problem become increasing seriously because of state economy condition that not improved in recent years. Based on this phenomenon, Geographic Information Systems (GIS) have a strategic role. This is due to GIS ability to present the spatial aspects both to assess and analyze population condition that would be useful for civil welfare in the future. This study focuses on three parameters, there are population density, number of low-educated population and number of low-income population. From the analysis and weighting calculation with AHP (Analytic Hierarchy Process) obtained great influence for each parameter. The percentage are 62.065% for the low-income population, 26.630% for low-educated population and 11.305% for population density parameter. The study result showed poverty level in this study scope (Tugu, Tembalang and Banyumanik Sub-district) well-suited with data from BAPPEDA. From this study also known the highest level of poverty is Mangkang Wetan in Tugu Sub-district while the the lowest level of poverty is Tembalang Village in Tembalang Sub-district. Keyword: Poverty, GIS, AHP
PEMBUATAN PETA JALUR KONDUSIF BERSEPEDA KOTA SEMARANG Rd. Pintyo Pratomo Priambodo; Sutomo Kahar; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.173 KB)

Abstract

Abstrak Sepeda mulai digunakan oleh masyarakat kota Semarang sebagai alat transportasi alternatif untuk kegiatan sehari-hari seperti untuk pergi bekerja, pergi ke sekolah, dan pergi ke perguruan tinggi. Namun, menggunakan sepeda untuk kegiatan sehari-hari dapat menyebabkan kelelahan dan penurunan konsentrasi. Salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah dengan membuat peta yang menyajikan informasi tentang jalur sepeda di kota Semarang yang kondusif untuk dilalui. Dalam penelitian ini, jalur sepeda di kota Semarang akan diidentifikasi ke dalam 5 kategori berdasarkan perbedaan ketinggian antara dua titik setiap 100 meter. Kategori jalur rata dan turunan ringan termasuk jalur yang kondusif. Kategori turunan tajam dan tanjakan ringan termasuk jalur semi-kondusif. Dan kategori tanjakan berat termasuk jalur yang tidak kondusif. Dari hasil penelitian di 10 lokasi, diketahui bahwa jalur sepeda di kota Semarang memiliki komposisi 90% jalur rata, 4% turunan ringan, 3,2% tanjakan ringan, 2% tanjakan berat, dan 0,8% turunan tajam. Kata kunci: sepeda; peta; jalur kondusif sepeda; Semarang Abstract Bike started to be used by people of Semarang city as an alternative transportation for daily activities such as go to work, go to school, and go to college. However, using the bike for daily activities can lead to fatigue, causing decreased concentration. One workable solution is to create a map that presents information about bike lanes in the Semarang city that conducive to pass. In this study, the bike lanes in the Semarang city will be identified into 5 categories based on the height difference between two points every 100 meters. Category flat-track and slight-downhill is a conducive path. Category steep-downhill and easy-uphill is a semi-conducive path. And category hard-uphill is not a conducive path. From the results of the study at 10 locations, noted that the bike lanes in the Semarang city has a composition of 90% flat-track, 4% slight-downhill, 3.2% easy-uphill, 2% hard-uphill, and 0.8% steep-downhill.Keywords: bike;  map; conducive bike lane; Semarang city
ANALISIS PENGUKURAN PENAMPANG MEMANJANG DAN PENAMPANG MELINTANG DENGAN GNSS METODE RTK-NTRIP Dimas Bagus; Moehammad Awaluddin; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.655 KB)

Abstract

ABSTRAK Pengukuran penampang memanjang dan penampang melintang sangat dibutuhkan dalam setiap pekerjaan survey rekayasa. Pengukuran penampang memanjang dan melintang dapat dilaksanakan dengan berbagai macam alat ukur seperti Waterpass , Total station. Dalam penelitian ini dilakukanlah pengukuran dengan menggunakan sistem GNSS, dengan menganalisis pengukuran penampang memanjang dan melintang menggunakan metode RTK-NTRIP.Pengukuran ini kemudian dibandingkan dengan Total station dan Waterpass yang dianggap benar. Perbandingan hasil digunakan 2 metode, metode pertama menganggap bahwa nilai undulasi (N) pada wilayah pengukuran dianggap sama. Metode yang kedua dilakukan konversi tinggi terhadap model geoid global EGM2008 dengan grid 1’ (menit) . Pengukuran ini dilakukan pada daerah kampus UNDIP.Hasil pengukuran GNSS RTK NTRIP dengan mengasumsikan nilai N pada wilayah pengukuran dianggap sama didapatkan akurasi 0.146 m sehingga memenuhi  produksi peta skala 1 : 500Kata kunci : GNSS, RTK-NTRIP, Penampang Memanjang, Penampang Melintang ABSTRACT Measurements of longsection and cross sections are needed in every engineering survey work. It  can be implemented with a variety of measuring tools such as Waterpass, Total station.In this research was perform measurements using GNSS system, by analyzing the long section and crosss ection measurement using RTK-NTRIP method.These measurements are then compared with Total station and Waterpas measurement. By using two methods, the first method assumes that the value of Undulation (N) in the measurement area are considered equal. A second method use heigh conversion of the geoid model EGM2008-1'. These measurements take place on the campus area UNDIPThe results obtained from GNSS RTK NTRIP measurement  where the value of  undulation (N) in the measurement area is considered equal so the accuracy  value is 0.146 m so can produce map with the scale of 1: 500 Keywords: GNSS, RTK-NTRIP, Long Section, Cross Section
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Semarang Bagian Selatan) Purwi Fitroh Hidayati; Sutomo Kahar; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (810.566 KB)

Abstract

AbstrakDalam perkembangan permukiman yang terjadi di wilayah Semarang Bagian Selatan yaitu kecamatan Gunung Pati, Tembalang dan Banyumanik secara langsung dipengaruhi oleh adanya perguruan tinggi dan para pedagang atau pekerja yang kemudian mendatangi kawasan tersebut. Selaian itu luasan lahan yang masih luas serta fasilitas yang akhirnya kecamatan-kecamatan tersebut dijadikan salah satu tempat untuk beraktifitas. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan langkah yang tepat dalam menyajikan aspek spasial (keruangan). Dalam hal ini SIG mempunyai manfaat yang dapat digunakan untuk menganalisis dalam proses evaluasi kesesuaian lahan yang sesuai dengan parameter yang telah ditentukan, yaitu tata guna lahan, kemiringan lereng, jenis tanah, curah hujan, jarak terhadap jalan utama dan gerakan tanah.Dari analisis menggunakan metode AHP (Analitycal Hierarchy Process) menunjukan besar bobot yang mempengaruhi untuk masing-masing parameter sebesar 35,78 % untuk kemiringan lereng dan gerakan tanah, 10,80 % untuk jenis tanah, 8,33% untuk penggunaan lahan, 5,42 % untuk jarak terhadap jalan utama dan 3,89 % untuk curah hujan. Dari hasil overlay peta hasil skoring tersebut maka didapat lahan dengan luas 5101,10 (ha) atau sekitar 31,87 % sangat sesuai untuk permukiman, lahan dengan luas 3764,69 (ha) atau sekitar 23,52 % sesuai untuk permukiman, lahan dengan luas 2914,16 (ha) atau sekitar 18,21 % cukup sesuai untuk permukiman, lahan dengan luas 1287,36 (ha) atau sekitar 8,04% lahan kurang sesuai untuk permukiman dan lahan dengan luas 3012,56 (ha) atau sekitar 18,82 % tidak sesuai untuk permukiman. Kata kunci: Permukiman, Analytic Hierarchy Process, Sistem Informasi Geografis, Kemiringan, Jenis Tanah. AbstractIn residential developments that occurred in the area of Southren Semarang namely Gunung Pati, Tembalang and Banyumanik is directly influenced by the presence of colleges and traders or workers who later came to the region. Beside the land area that is still widespread, and the facilities are sub-districts eventually be one of the places to activities. Geographic Information System (GIS) is a right step in presenting the spatial aspects (spatial). In this case the GIS has the benefit that can be used to analyze the process of land suitability evaluation in accordance with predetermined parameters, namely land use, slope, soil type, rainfall, distance to the main road and ground movement. From the analysis using AHP (Analytical Hierarchy Process) showed much weight affect for each parameter of 35.78% for the slope and soil movement, 10.80% for the type of soil, 8.33% for the landuse, 5, 42% of the distance to the main road and 3.89% for outpour of rainfall. From the results of the scoring overlay the map results obtained land with an area of 5101.10 (ha), or approximately 31.87% is very suitable for settlement, land with an area of 3764.69 (ha), or approximately 23.52% according to settlements, land with wide 2914.16 (ha), or approximately 18.21% is quite suitable for settlement, land with an area of 1287.36 (ha), or approximately 8.04% less land suitable for settlement and land with an area of 3012.56 (ha) or around 18.82% are not suitable. Keywords: Settlement, Analytic Hierarchy Process, Geographic Information System, Slope, Soil Type.

Page 3 of 3 | Total Record : 30


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue