cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 33 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1: Januari 2013" : 33 Documents clear
Forcita (Forum Cinta anak) Marnisa Nurdian Saritri
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.842 KB)

Abstract

Forcita (Forum Cinta Anak) adalah suatu lembaga swadaya masyarakatyang memfokuskan diri pada dukungan untuk mewujudkan kota Magelangsebagai Kota Layak Anak. Awareness mengenai keberadaan Forcita di kalanganmasyarakat Kota Magelang masih sangat rendah, yang disebabkan karena usiaorganisasi yang terbilang muda. Berdasarkan situasi ini, Forcita memerlukansuatu upaya komunikasi untuk lebih menjangkau target audiensnya.Anak usia remaja dipilih sebagai sasaran karena selama ini kegiatan yangdilakukan pihak Forcita belum pernah menyentuh kalangan ini, padahal anak usiaremaja termasuk dalam publik sasaran mereka. Strategi yang dilakukan adalahdengan membuat serangkaian kegiatan bernama “Forchiby! (Forcita for ChildBeing Youth)”, yang merupakan kegiatan terpadu yang terdiri dari Roadshow,Facebook Photo Contest, dan Forest Walk. Dengan mengajak mereka untukterlibat dalam kegiatan, diharapkan mereka bisa berinteraksi langsung denganpihak Forcita sehingga anak-anak mengetahui apa peranan Forcita bagi mereka.Dalam pelaksanaan kegiatan “Forchiby! (Forcita for Child BeingYouth)”, Production Manager bertanggung jawab pada ketersediaan materipublikasi, perlengkapan, dan peralatan selama pelaksanaan kegiatan. Persiapan,manajemen waktu, dan kemampuan untuk berkoordinasi dan bernegosisasidengan semua pihak yang terlibat sangat dibutuhkan dalam membantupelaksanaan tugas-tugas Production Manager selama kegiatan berlangsung.Kata Kunci : Forcita Magelang, Kota Layak Anak, Awareness, ProductionManager
PERUBAHAN STRUKTUR NARATIF ACARA MEMASAK di TELEVISI Sya’bani, M. Yusuf
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.064 KB)

Abstract

Memasak merupakan aktifitas yang memiliki nilai kesulitan, denganbanyaknya peralatan, serta bahan masakan yang memiliki fungsi berbeda. Televisidengan kesempurnaan elemen komunikasi menghadirkan acara memasak. Padaawal kehadirannya, acara memasak berfungsi untuk mengedukasi kepadakhalayak yang ingin belajar memasak, dengan pemandu acara memasak yangditampilkan sosok Ibu yang menghadirkan menu-menu Nusantara. Seiringberjalannya waktu pekerja media merubah struktur pada acara memasak, denganmenghadirkan unsur kesenangan pada acara memasak Ala Chef, yang dipanduoleh Farah Quinn.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan struktur naratifacara memasak di televisi dari sudut pandang laki-laki. Dengan menggunakanpendekatan semiotika dan dua unsur kesenangan jouisssance dan plaisir RolandBarthes, serta kacamata Fiske, penulis membedah simbol-simbol tayangan yangdisajikan melalui tiga level yaitu reality, representation, dan ideology. Kemudianyang terakhir, penulis menggunakan teori the pleasure and power of looking milikMulvey untuk menganalisis kategori kesengan yang terdapat pada acara memasakAla Chef.Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan struktur naratif acaramemasak Ala Chef pada tiga bagian. Pertama adalah acara memasak sebagaiprogram hiburan. Perubahan ini meliputi setting yang tidak lagi menggunakandapur, serta pakaian memasak yang tidak lagi menggunakan celemek pada acaramemasak Ala Chef. Kemudian perubahan kedua adalah acara memasak dalamnarasi liburan. Dalam hal ini, acara memasak Ala Chef tidak menghadirkanaudience yang pada acara memasak, berbeda dengan acara memasak sebelumnya.Menu yang disajikan Ala Chef merupakan menu coba-coba yang mengedepankannilai kecantikan pada masakan, dan bukan merupakan menu Nusantara.Sedangkan temuan yang terakhir adalah chef cantik, seksi dan berusia mudasebagai objek kesenangan. Farah Quinn dengan penampilan seksi sebagai chefyang menyajikan acara memasak Ala Chef, menggunakan ekspresi serta gestureyang berlebihan, sehingga terkesan menggoda khalayak untuk mencoba menupercobaannya.Kata kunci : Perubahan Narasi, Chef Cantik dan Seksi, Objek Kesenangan,Percobaan Menu
Divisi Marketing Dalam Event Gerrymagination Safrina Dini Azkia
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.076 KB)

Abstract

GarudaFood Grup adalah perusahaan makanan dan minuman subordinasi PT Tudung Group yang berdiri di Pati, Jawa Tengah. Pada awal 1987, perusahaan ini mulai menjual produk kacang produksinya menggunakan merek Kacang Garing Garuda, yang dikenal sebagai Kacang Garuda. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, produk GarudaFood telah merambah pada beragam jenis produk lain seperti aneka biskuit, makanan ringan, wafer, permen, minuman berjeli, dan basic food. Perusahaan yang telah berdiri selama seperempat abad ini pun telah menorehkan berbagai prestasi dari aneka produk yang dimilikinya. Meski begitu, GarudaFood terus berupaya melakukan inovasi serta promosi produk pada masyarakat karena persaingan dalam industri makanan dan minuman ini sangat ketat. Gery merupakan salah satu inovasi produk GarudaFood yang terkonsentrasi pada biskuit dan aneka olahan coklat yang telah memiliki dua puluh tujuh jenis produk, diantaranya adalah Gery Pasta dan Gery Meses. Menyadari bahwa dua jenis produk ini telah eksis di pasaran dengan merek lain, GarudaFood kini sedang berupaya meningkatkan awaraness kedua produk ini pada masyarakat, khususnya anak-anak.Event Gerymagination merupakan kegiatan komunikasi pemasaran terpadu yang dilakukan GarudaFood yang bertujuan meningkatkan awareness pada target audience yang disertai dengan aktivitas direct marketing. Event Gerymagination terdiri dari serangkaian kegiatan yang mewakili slogan Aktif, Kreatif, dan Imajinatif seperti lomba menggambar dan mewarnai terpanjang, lomba foto, games, dan performance ekstrakurikuler yang ditujukan bagi siswa sepuluh sekolah dasar kelas 1 s.d. 5 SD di wilayah Tembalang dan Banyumanik yang dilakukan secara serentak. Seluruh jenis kegiatan yang ada dalam event ini merupakan sarana mencapai tujuan yang hendak dicapai.Manager Produksi dan Keuangan dalam event Gerymagination bertanggung jawab terhadap berbagai kebutuhan event, seperti kesekretariatan, publikasi, kertas gambar dan mewarnai, stage dan sound, backdrop foto dan stage, kupon, hadiah, trophy, kebutuhan game, kebutuhan talent, serta konsumsi. Semua kebutuhan tersebut terangkum dalam anggaran event yang disusun oleh manajer Produksi dan Keuangan.
Pemanfataan Popularitas Musik Korea pada Program Radio Bernadetta Dwi Kemala
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.624 KB)

Abstract

Musik merupakan sesuatu hal yang tak akan pernah bisa lepas darikehidupan kita, tanpa musik dunia ini tak akan berwarna. Oleh sebab itu, saat inimasyarakat sangat mengikuti perkembangan musik di Indonesia. Sebagai contoh, musikKorea. Kpop atau Korean Pop merupakan salah satu fenomena yang sekarang ini sedangterjadi di masyarakat. Radio memiliki beberapa fungsi, dimana salah satu fungsinyaadalah menghibur. Melalui program acaranya, radio akan berusaha menghiburpendengarnya. Berbagai acara disajikannya sesuai dengan keinginan masyarakat,sehingga radio memiliki pangsa pasarnya sendiri. Pangsa pasar inilah yang biasanyadilirik pengiklan memasarkan produknya, yang bersifat timbal balik dengan stasiunradionya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan popularitas musikKorea dalam program acara sebuah radio. Metode penelitian yang digunakan dalampenelitian ini “diskriptif kualitatif” dengan menggunakan nara sumber beberapa orangyang berkaitan dengan tujuan penelitian, dalam hal ini adalah bagian program danmarketing radio Gaya dan Sonora Semarang.Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa program acara yangmenggunakan popularitas musik Korea di Radio Sonora adalah SOS (Sonora OrientalSong) dan AMKM (Anda Meminta Kami Memutar), serta di Radio Gaya adalah GayaOriental. Program acara tersebut merupakan program unggulan dari masing-masingradio, hal ini dapat dilihat dengan jam siar yang masuk dalam jam prime time. Artinya,pada jam tersebut pendengar radio sangat banyak dan harga iklanpun termasuk mahal.Jadi, radio tidak hanya meningkatkan pendapatannya tetapi juga menghasilkan jumlahpendengar yang semakin banyak.Kata Kunci : Popularitas Musik Korea, Program Acara, Manfaat
Memahami Pengalaman Komunikasi Suporter Perempuan Jak Angel Dalam Usaha Menegaskan Eksistensi Di Dunia Sepakbola Emily Nurulhuda
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.687 KB)

Abstract

Partisipasi perempuan dalam sepakbola masih menuai kontroversi dengan adanya sejumlah pengalaman komunikasi buruk yang dialami oleh sejumlah suporter perempuan melalui berbagai bentuk diskriminasi dan pandangan negatif dari masyarakat. Jak Angel sebagai bagian dari suporter perempuan tentunya tidak terlepas dari proses interaksi dengan masyarakat yang pada akhirnya berpengaruh terhadap pengalaman komunikasi mereka dengan masyarakat.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami pengalaman komunikasi suporter perempuan Jak Angel dalam usaha menegaskan eksistensi di dunia sepakbola. Sehingga akan di dapat pemahaman persoalan yang dihadapi Jak Angel ketika berinteraksi dengan masyarakat dalam usahanya menegaskan eksistensi sebagai suporter perempuan Persija. Penelitian ini menggunakan asumsi dasar Muted Group Theory (Kramarae, 1981) Penelitian ini didasarkan pada paradigma intepretif dan pendekatan fenomenologi dimana mencoba mengungkapkan realita melalui pengalaman alamiah seseorang yang diciptakan melalui penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.Hasil penelitian ini menemukan bahwa eksistensi Jak Angel sebagai suporter perempuan Persija tidak secara utuh mendapat dukungan dan pandangan positif dari masyarakat. Faktor partisipasi perempuan yang masih dianggap tabu dalam sepakpola serta perilaku negatif yang ditunjukkan oleh Jak Angel pada akhirnya membuat citra Jak Angel di mata masyarakat buruk dan mempengaruhi pengalaman komunikasi mereka ketika berinterkasi dengan masyarakat. Pengalaman komunikasi yang buruk secara eksplisit terlihat dari adanya prasangka tingkat antilocution dan physical attack yang didapat oleh Jak Angel dari masyarakat ketika setiap kali Jak Angel berusaha menegaskan eksistensi sebagai suporter perempuan Persija.Jak Angel menggunakan strategi komunikasi akomodasi asertif yaitu berusaha mempertahankan identitas mereka dan menjalin hubungan yang positif dengan masyarakat guna memperbaiki citra buruk yang berkembang. Sikap apatis masyarakat terhadap usaha yang dilakukan oleh Jak Angel serta kurangnya kesadaran diri Jak Angel menjadi kendala utama yang dialami oleh Jak Angel dalam setiap usaha yang dilakukan. Sehingga usaha yang dilakukan Jak Angel tidak berjalan maksimal dan mengakibatkan relasi yang terjalin antara Jak Angel dan masyarakat tidak berjalan harmonis.Keyword: Pengalaman komunikasi, Strategi komunikasi, Suporter perempuan, Jak Angel
ANALISIS RESEPSI FILM TANDA TANYA Estu Gumelar
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hadirnya film Tanda Tanya pada tahun 2011 yang mengangkat cerita tentang kehidupan antarumat beragama di Indonesia menimbulkan banyak pro dan kontra di berbagai media. Film garapan Hanung Bramantyo ini dianggap telah melecehkan keberadaan agama di Indonesia, khususnya dua agama besar, yaitu Islam dan Kristen. Adegan-adegan yang dimunculkan dalam film Tanda Tanya menghadirkan tontonan yang sarat akan konflik agama dan etnis, maupun toleransi antarumat yang dianggap terlalu berlebihan oleh berbagai pihak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pemaknaan khalayak mengenai hubungan antarumat beragama yang ditampilkan dalam film Tanda Tanya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan analisis resepsi. Teori dasar yang digunakan adalah teori encoding-decoding yang dikemukakan oleh Stuart Hall tentang bagaimana khalayak memproduksi sebuah pesan dari suatu teks media. Proses tersebut akan menghasilkan makna yang tidak selalu sama karena dipengaruhi oleh kapasitas setiap penonton. Data diperoleh dari in-depth interview terhadap lima informan dengan latar belakang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan film Tanda Tanya dimaknai oleh informan sebagai film mencoba menampilkan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan hubungan antarumat beragama di Indonesia. Ada beberapa bagian yang sesuai dengan realita, ada juga yang dianggap terlalu berlebihan. Dalam proses konsumsi dan produksi makna terhadap film Tanda Tanya, perbedaan latar belakang agama, sosial budaya, dan pengalaman informan menjadi faktor yang penting yang membedakan pemaknaan mereka.   Kata kunci: Konflik, Toleransi
PEMAKNAAN AUDIENCE TERHADAP STAND-UP COMEDY INDONESIA DENGAN MATERI SUKU, AGAMA, RAS & ANTAR GOLONGAN (SARA) Tegar Gigih Yudhanataru
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (36.479 KB)

Abstract

Seperti yang dilakukan di kebudayaan Barat, sebagian besar Stand-UpComedy di Indonesia berisi tentang hal yang sifatnya menyinggung Suku,Agama, Ras dan Antar golongan (SARA). Komedian (comic) memandang haltersebut perlu berfungsi mengungkapkan kegelisahan seorang comic yangdihadapi sehari-hari. SARA adalah hal yang meresahkan membuat sensitif apabiladiperbincangkan apalagi dengan menyindir. Melalui humor adalah cara untukmengungkapkan menerima hal-hal yang meresahkan diri denganmenertawakannya. Penonton yang belum terbiasa melihat Stand-Up Comedytentunya akan lebih sensitif terhadap pembicaraan SARA maupun sindiranmasalah sosial dibandingkan yang lebih modern atau terbuka.SARA akhir-akhir ini muncul sebagai masalah yang dianggap menjadisalah satu menyebab gejolak sosial di negara kita. Ada beberapa hal yang perludicermati dalam masalah SARA adalah pemicu potensial timbulnya konflik sosialmenuju fanatisme kedaerahan, yang menggangap suku asalnya eksklusifdibanding lainnya, hal ini menimbulkan perpecahan dan kaum minoritas menjaditertekan dalam hidupnya.Melalui format Stand-Up Comedy, yang merasa dalam pihak minoritasatau sebagian kaum tertekan bisa menyuarakan apa saja keresahan yang dialami.Banyak comic membawakan materi SARA-nya, seperti Ernest Prakasa, seorangWNI keturunan Cina selalu membuka materi Stand-Up dengan materi tentangCina, Boris T. Manulang menceritakan bagaimana orang Batak distereotipkan dikota besar ataupun Pandji dengan menyindir perilaku umat muslim di Indonesia.Inilah menariknya Stand-Up Comedy atau komedi tunggal seringkalimeyinggung hal-hal yang berhubungan dengan identitas kesukuan, kelompok danagama. Kehadiran Stand-Up Comedy untuk menyegarkan dunia komedi diIndonesia, tapi juga menyadarkan kita untuk tidak sensitif terhadap kehidupankita. Stand-Up Comedy ini penuh dengan kritik tajam namun disampaikan dengankomedi yang segar.Masyarakat Indonesia berlatar belakang budaya yang berbeda, maka takterhindarkan terjadinya perbedaan gagasan dan budaya. Para pelaku Stand-UpComedy Indonesia membawa misi perjuangan agar masyarakat Indonesiaberpikiran terbuka terbiasa mendengar hal hal yang sebelumnya tabudiperbincangkan, menjadi tidak sensitif terhadapa unsur SARA, mengakui adanyarealitas kehidupan dan tidak berpura-pura bersembunyi dalam kemunafikan.Justru dengan maksud para penggagas Stand-Up ini apakah Stand-UpComedy Indonesia lantas membawa perubahan yakni berupa menyajikan komedidengan membawa pikiran terbuka sehingga bisa diterima masyarakat Indonesiaatau justru menimbulkan konflik antar budaya bagi masyarakat Indonesia.Terdapat pendapat yang beragam menyikapi hal tersebut yang dipengaruhi olehlatar belakang sosial, pengalaman dalam hidup serta budaya dapat berperanterhadap terciptanya makna yang beragam tentang Stand-Up Comedy denganmateri SARA.PEMBAHASANAudience telah melihat apa yang ditampilkan dalam Stand-Up Comedydengan materi-materi SARA. Dalam komedi ini dikonstruksikan bahwa segalanyamungkin dilakukan untuk menghibur penonton. Mengkritisi kehidupan sosialbermasyarakat, menyindir tentang umat beragama lain, sampai ke arahmengumpat dengan kasar yang ditujukan agama dan etnis tertentu. Komedimenjadi media ampuh mengungkapkan sesuatu baik itu untuk menghibur maupunsebagai penyampaian pesan yang diterima oleh penonton. Audience mungkin akanmemiliki pemaknaan yang kepada serupa dengan apa yang disampaikan comicdalam Stand-Up Comedy ini. Hasil dari latar belakang kultural dan hasil interaksidengan lingkungan mempengaruhi pemaknaan informan.Audience memiliki pemahaman masing-masing dalam memaknai informasi,namun pengetahuan yang mereka terima dan latar belakang kultural yangmempengaruhi hal itu. Barker mengatakan bahwa penonton adalah penciptakreatif makna dalam kaitannya dengan televisi, yang berlaku juga untuk mediayang lain (mereka tidak sekadar menerima begitu saja makna-makna tekstual) danmereka melakukannya berdasarkan kompetensi kultural yang dimiliki sebelumnyayang dibangun dalam konteks bahasa dan relasi sosial (Barker, 2008 : 286).Ketika menyentuh ranah yang sensitif masyarakat dengan begitu mudahbereaksi jika identitas agama atau etnisnya disinggung. Rahardjo mengatakanmasyarakat Indonesia yang multikultur secara demografis maupun sosiologisberpotensial terjadinya konflik, karena masyarakat terbagi ke dalam kelompokkelompokberdasarkan identitas kultural mereka. Menurut Ting-Toomey(1999:30), identitas kultural merupakan perasaan (emotional significance) dariseseorang untuk ikut memiliki atau berafiliasi dengan kultur tertentu. Masyarakatyang terbagi ke dalam kelompok-kelompok itu kemudian melakukan identifikasikultural, yaitu masing masing orang mempertimbangkan diri mereka sebagairepresentasi dari sebuah budaya partikular (Rahardjo, 2005: 2).Di dalam materi Stand-Up Comedy, realitas sosial yang dialami oleh comicyang menuangkan cerita-cerita dalam keseharian dalam setiap materinyakomedinya mempunyai kesamaan terhadap apa yang dialami oleh penontonsehari-hari, namun comic mampu menuangkan perspektif lain sehingga materinyabisa membuat yang melihatnya tertawa. Materi seperti Pandji membawakantentang fakta perilaku umat muslim di Indonesia serta sindirannya terhadaporganisasi masyarakat berkedok agama, Ernest membawa pesan kehidupan etnisCina yang ada di Indonesia, Mongol yang menyindir tentang etnis Batak ataupundi Indonesia timur dan Soleh Solihun tentang sindiranya terhadap homoseksualdan agama Kristen. Melalui materi tersebut audience mempunyai pandangantersendiri apa yang pantas dan tidak pantas yang terpengaruh oleh latar belakangbudayanya. Audience kemudian memaknai isu SARA dalam Stand-Up Comedytersebut yang telah diberi tanda atau signifikansi dalam materi yang dibawakanoleh comic Stand-Up Comedy tersebut.Keempat informan dapat mengidentifikasi adegan yang menggambarkanSARA. Informan mengidentifikasi materi yang menyinggung dan dapatmecederai umat tertentu yang ditampilkan dalam komedi ini melalui sindiran,sarkasme, kritik yang pedas. Adegan Soleh Solihun menyinggung denganmenggunakan agama Kristen dan kaum homoseksual sebagai bahan tertawaan.Kemudian adegan Mongol mengeneralisir bahwa etnis Batak dan yang beragamaKristen yang ada di Indonesia adalah sebagian besar berprofesi sebagai pencopetdan menganggap semua orang batak berwajah seperti bodat (monyet). Ataupunadegan Pandji menampilkan materi tentang perilaku kehidupan umat Islam diIndonesia dengan menyindir khatib-khatib yang ada di mesjid maupun memelintirayat-ayat Alquran sebagai bahan untuk komedi. Informan menganggap semuanyabanyak yang memakai unsur SARA. Adegan Mongol dengan mengeneralisir etnisBatak sebagai pencopet oleh informan 4 dianggap sebagai tindakanmengeneralisir yang tidak disertai dengan bukti yang empiris. Menurut (Helitzer,2005: 63), humor adalah suatu kecaman atau kritik, yang terselubung sebagaihiburan, dan diarahkan kepada target yang spesifik. Ia berpendapat humor harusterdiri dari kebenaran dan sesuatu yang dibesar-besarkan atau dilebih-lebihkan.Tanggapan mengenai memakai isu SARA dalam Stand-Up Comedydipandang oleh informan sebagai sesuatu yang bagus karena bisa mendapatkanperspektif baru dalam memaknai humor dan keadaan realitas sosial yang terjadi.Dengan menyinggung SARA audience mendapat perspektif baru tentang apayang dirasakan oleh etnis lain sehingga bisa memahami dan saling menghargai.Stand-Up Comedy sebagai budaya Barat yang hadir di Indonesia tentunya masihmenyisakan adat-adat yang masih belum bisa diterima oleh masyarakat. Informanmasih terjebak dalam stereotyping yang berlaku di masyarakat, Stand-Up Comedyselain harus beradaptasi dengan budaya di Indonesia juga harus mengetahuibatasan-batasan agar tidak menyimpang dari tradisi masyarakat Indonesia. Olehinforman 2 dipandang sebagai sesuatu yang harus dipikirkan matang-matangjangan sampai materi tersebut menimbulkan kecaman. Menurut (Blake, 2005:13),komedi mempunyai 2 fungsi yaitu (1) untuk mengejek, sebuah parodi untukmenyindir kesombongan, sebuah cara melepaskan emosi. (2) sesuatu untukmembuatnya lebih kreatif, bagaimana informan memandang materi dalam Stand-Up Comedy adalah hasil dari pengamatan comic dan dibawakannya secara kreatifsebagai bahan untuk menghibur.Para informan menganggap munculnya Stand-Up Comedy di Indonesiaadalah suatu warna baru yang memberikan masyarakat hiburan karena mungkinbosan dengan komedi yang sudah ada di Indonesia. Informan lainnya berpendapatharus disesuaikan dengan adat ketimuran, dan melihat konteks Indonesia sebagaisebuah negara yang multietnis dipandang masih dinilai sebagai suatu negara yangsensitif apabila menerima hal baru yang tidak sesuai dengan kepercayaannya.Abdullah berpendapat ciri-ciri yang berbeda dapat saja kemudian tidakdinilai sebagai faktor pembeda yang memisahkan satu etnis dengan etnis laintetapi diangggap seagai variasi yang memperkaya lingkungan sosial mereka.Pengayaan-pengayaan akan terjadi pada saat penyerapan bentuk-bentuk ekspresisatu etnis diadopsi oleh etnis lainnya yang seringkali dipakai dalam kehidupansehari-hari sebagai bagian dari ekspresi seseorang atau sekelompok orang. Prosessemacam ini memiliki potensi di dalam pembauran antaretnis dalam lingkungansosial tertentu. Ruang-ruang publik yang tersedia dalam bentuk memungkinkankomunikasi budaya berlangsung dengan baik (Abdullah, 2007: 88).Dalam memakai materi SARA dalam komedi ada batasan-batasan yangdikemukakan oleh para informan dalam penelitian ini. Batasan-batasan terbentukkarena pengalaman proses sosial yang dialami oleh informan semasa hidupnyadan latar belakang budaya yang dibawa semasa kecil. Informan berpendapat tidaksemua bisa dijadikan bahan komedi, maka ketika menyinggung SARA, makayang disinggung adalah seseorang, atau etnis yang secara fisik dan mental tidakmempunyai kekurangan, namun lebih ditujukan kepada segala perilakunya bukanmenyinggung tentang fisik. Oleh informan 1 orang cacat fisik dan cacat mentaladalah orang yang tidak pantas dijadikan bahan komedi karena orang-orangseperti itu dianggap lemah sehingga tidak pantas apabila dijadikan bahan.Informan 4 menganggap adegan atau materi yang vulgar atau sarkas tidakdikonsumsi oleh anak dibawah umur, sehingga harus pintar menempatkan waktu.Stand-Up Comedy dengan materi SARA bukan hanya memiliki nilaipositif, namun menimbulkan dampak pada audience yang memandang berbeda,seiring jalannya waktu terdapat nilai negatif yang akan muncul. Informanmenganggap banyak sekali pertentangannya karena nilai-nilai kebanggan terhadapsukunya masih mendarah daging, informan lainnya berpendapat bahwa dampakkepada comicnya sendiri karena comic mencerminkan sebagai seseorang yangmempresentasikan etnisnya menyinggung etnis lain. Menurut informan 4 apabilaStand-Up Comedy dibawakan di daerahnya yaitu Ambon maka yang terjadiadalah pelemparan batu. Etnis Ambon masih begitu kental rasaeksklusivitasannya.Dibalik semua kontroversi dan perdebatan yang terjadi, walaupun Stand-Up Comedy menggunakan materi yang sensitif, Informan mengakui di dalamkomedi ini mempunyai nilai edukasi selain sebagai menghibur masyarakat.Diantaranya oleh informan 1 menganggap Stand-Up Comedy adalah kegitanmendidik dengan menghibur, di dalamnya terdapat pandangan baru agar terlepasdari fanatisme yang berlebihan, kemudian juga etnis atau agama yang ada diIndonesia menghilangkan batasan yang dibuat sendiri dan agar memahami danmenghargai keanekaragaman yang ada bukan hanya mengakui. Informan 3mengakui bahwa materi dalam Stand-Up Comedy sesuai dengan realitas terjadidekat dengan kebenaran yang ada sehingga dibuat sebagai pencerahan. Menurut(Abdullah, 2007: 170), penerimaan dan pengesahan terhadap nilai yang berbedatidak hanya mengubah tata nilai, tetapi juga memiliki dampak yang luas dalampemaknaan sosial.Penelitian ini merupakan sebuah bentuk studi untuk melihat bagaimanaaudience membangun makna apa yang dikonstruksikan oleh media. Konsepaudience dalam penelitian ini berdasar pada konsep studi resepsi, menurut IenAng (dalam Downing, Mohammadi, dan Sreberny-Mohammadi [eds.], 1990: 160-162) Khalayak dianggap sebagai producer of meaning, bukan hanya sebagaikonsumen dari isi media. Khalayak memaknai dan menginterpretasi teks mediasesuai dengan kondisi sosial dan keadaan budaya mereka dan juga dipengaruhioleh pengalaman pribadinya. Dalam menanggapi Stand-Up Comedy denganmateri SARA, informan menanggapi secara beragam tentang makna dibalik itusemua.PENUTUPProses identifikasi yang dilakukan oleh masing-masing informanmenunjukkan mereka semua terbuka pada perbedaan identitas etnis atau agama disekitarnya. Semua informan menganggap isu perbedaan identitas SARA sebagaisesuatu yang wajar dan menjadi ciri khas yang dimiliki Indonesia, namun masihbelum dipahami secara nyata dan belum menemukan potensinya maksimalnya.Pengalaman dan pengetahuan yang berbeda membuat informan memaknaiSARA dalam Stand-Up Comedy Indonesia secara beragam. Sebebas apapuninforman dalam menanggapi SARA dalam Stand-Up Comedy, mereka masihberpendapat terjebak pada stereotipe norma atau budaya yang berlaku diIndonesia.Semua informan menganggap komedi di masa depan harus memiliki nilaiedukasi sehingga mempunyai makna kedepannya. Munculnya Stand-Up Comedymembawa arti penting perkembangan industri hiburan. Indonesia penuh denganpermasalahan yang kompleks sehingga butuh hiburan yang mempunyai ciri khastertentu.DAFTAR PUSTAKAAbdullah, Irwan. 2007. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Ang, Ien. 1990. The Nature of the Audience. Dalam Downing, John, AliMohammadi, Annabelle Sreberny-Mohammadi [eds]. QuestioningThe Media: A Critical Introduction. California: SAGE PublicationInc.Barker, Chris. (2008). Cultural Studies, Teori & Praktik. Yogyakarta:Kreasi Wacana.Blake, Marc.2005. How to be a Comedy Writer. Great Britain:Summersdale Publishers Ltd.Helitzer, Melvin. 2005.Comedy Writing Secrets. Ohio: F+W Publications,Inc.Rahardjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultural. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Divisi Manager Dalam Event Gerrymagination Mega Luvna
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.511 KB)

Abstract

Pemanfaatan event sebagai salah satu strategi dalam pemasaran yang digunakan oleh beberapa perusahaan pada saat ini yang dinilai lebih efektif, dibandingkan dengan beriklan pada media massa. Keunggulannya dibandingkan dengan alat pemasaran yang lain adalah dapat membuat perusahaan atau produknya menjadi lebih dikenal dan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat. Selain itu event juga dapat menjangkau khalayak yang lebih besar atau segmen sasaran yang lebih tepat dan dapat menghubungkan produk-produknya ke pengalaman konsumen itu sendiri.Gery Pasta dan Gery Meses merupakan produk dari PT Garuda Food, yang memiliki masalah awareness yang kurang dikalangan target audience yaitu anak-anak yang berusia 6-12 tahun. Oleh karena itu, PT Garuda Food mengadakan event guna meningkatkan awareness di kalangan target audience. Dalam event Gerymagination, target audience berada dalam wilayah Tembalang dan Banyumanik, dimana wilayah tersebut, awareness target audience lemah terhadap produk Gery Pasta dan Gery Meses. Event tersebut bertema kreativitas dan imajinasi target audience yang terdiri dari lomba menggambar dan mewarnai terpanjang, lomba fotogenik, games, serta penampilan ekstrakulikuler. Pemilihan tersebut berdasarkan riset yang dilakukan pada target audience. Pelaksanaan event tersebut diikuti oleh 10 Sekolah Dasar yang dilakukan secara serentakSecara umum tugas Sponsorship Manager adalah melakukan pencarian dana, melakukan kerjasama dengan sponsorship, serta membuat LPJ yang ditujukan kepada klien. Indikator keberhasilan dalam divisi sponsorship yakni tercapainya keinginan klien, yaitu jumlah peserta yang mengikuti event Gerymagination secara keseluruhan yaitu 1500 peserta, kepuasan dari pihak klien yakni Garuda Food, serta ketersediaan jumlah paket produk di tiap-tiap sekolah dasar.Indikator keberhasilan event Gerymagination secara keseluruhan yaitu tingkat kepuasan, jumlah peserta di masing-masing sekolah dasar, serta tingkat awareness dikalangan target audience.Tingkat kepuasan diukur dari tingkat kepuasan klien Garuda Food, pihak sekolah (guru serta target audience), talent (MC, Panitia, serta Fotografer). Tingkat awareness dilihat dari hasil kuesioner pra event dan pasca event yang dibagikan pada target audience.Pelaksanaan event secara keseluruhan dapat berjalan sukses dan lancar. Tingkat awareness pada produk Gery Pasta meningkat menjadi 86,67% serta Gery Meses meningkat menjadi 81,67%.Kata Kunci : event, awareness, sponsorship
Resepsi Khalayak Mengenai Imitasi Pada Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di Media Televisi” Amalia Dessy Witari
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.863 KB)

Abstract

Penelitian ini membahas tentang penerimaan pemirsa mengenai tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di media televisi, khsususnya mengenai peniruan yang dilakukan Boyband dan Girlband Indonesia. Tujuan tayangan ini sebenarnya untuk memberi hiburan pada pemirsa dan menonjolkan kekreatifan sebagai aspek penting dalam dunia musik, namun peniruan dan penggunaan suara palsu yang dilakukan Boyband dan Girlband Indonesia menuai baik opini pro maupun kontra dari masyarakat.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerimaan masyarakat terhadap tayangan Boyband dan Girlband Indonesia. Teori yang digunakan adalah Teori Perbedaan Individual (Melvin D. Defleur, 1970), Teori Belajar Sosial (Albert Bandura, 1977) dan Budaya Populer (Storey, 2007). Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis resepsi untuk meneliti bagaimana interpretasi pemirsa mengenai tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di media televisi. Analisis resepsi dipilih karena memiliki cara pandang khusus tentang audiens atau dalam hal ini adalah pemirsa yang menonton tayangan Boyband dan Girlband Indonesia dimana pemirsa dipandang bukan hanya sebagai konsumen dari isi media tetapi juga sebagai producer of meaning.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebagai bagian dari interpretive communities, perbedaan pemaknaan antara masing-masing informan penelitian turut dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti selera dan kebiasaan menonton televisi. Namun latar belakang sosial serta tingkat pendidikan mereka juga menentukan pandangan dan argumen yang mendukung opini mereka. Pembacaan informan dalam memaknai tayangan Boyband dan Girlband Indonesia bervariasi. Informan yang menganggap bahwa tayangan Boyband dan Girlband Indonesia masih dalam batas wajar, memaknai tayangan Boyband dan Girlband Indonesia dengan media memiliki hubungan simbiosis mutualisme (dominant reading). Informan juga ada yang menganggap memilih bersikap negosiatif (negotiated reading). Informan menerima teks tayangan Boyband dan Girlband Indonesia yang ditawarkan tapi juga mengkritisi sesuai dengan kerangka pikir mereka. Namun sebagian informan cenderung berada dalam posisi radikal (oppositional reading). Informan memaknai tayangan Boyband dan Girlband mengandung unsur imitasi dan terdapat pembodohan publik karena dalam tayangannya menggunakan suara palsu atau lypsinc. Implikasi teoritis pada penelitian ini adalah informan terbagi menjadi tiga tipe pemaknaan. Implikasi praktis menunjukan bahwa media harus membuat tayangan atas keasadaran bersama untuk membangun masyarakat yang lebih bermoral dengan penyiaran hiburan yang sehat. Sedangkan implikasi sosial diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi para pemirsa untuk dapat melihat sedikit lebih dalam lagi nilai-nilai apa yang dilekatkan oleh media dalam tayangan Boyband dan Girlband Indonesia.
ANALISIS FRAMING TERHADAP PEMBERITAAN KASUS KPK VS POLRI KEDUA DALAM MAJALAH TEMPO Putri Valentine
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui frame yang dibentuk olehMajalah Tempo mengenai kasus dugaan korupsi simulator SIM yang melibatkandua institusi negara yaitu KPK dan POLRI. Tipe penelitian ini bersifat deskriptifdengan pendekatan analisis framing yang dikembangkan oleh Zhongdang Pan &Gerald M. Kosicki. Perangkat framing berupa sintaksis, skrip, tematik, dan retorisdigunakan untuk melihat kecenderungan Majalah Tempo dalammengkonstruksikan peristiwa ini. Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Ressemengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan redaksi untukmenghasilkan berita ke dalam level individual, level rutinitas media (mediaruotine), level organisasi dan level ekstramedia (Sudibyo, 2001:7-12)Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar lead yang digunakanoleh Tempo merupakan lead yang merujuk pada kutipan yang mengemukakanunsur who sebagai pandangan awal dalam membentuk body berita. MajalahTempo mencoba mengarahkan khalayak untuk memandang bahwa KPK sebagailembaga anti korupsi yang dibentuk UU maka KPK berhak melakukan hal yangdirasa perlu untuk dilakukan dalam pemberantasan dugaan korupsi sekalipundilakukan oleh penegak hukum lainnnya yaitu polisi. Sehingga disimpulkanbahwa KPK perlu untuk menyelidiki agar tidak terjadi konflik kepentinganmengingat jika yang memeriksa anggota polisi adalah insitusinya dikhawatirkantidak berjalan secara fair. Salah satu bentuk sikap. Tempo terhadap peristiwa inidituangkan dalam pemberitaan dengan menggunakan elemen yang berkaitandengan substansi peristiwa dan lebih menonjolkan sisi kontroversinya. Tujuannyaadalah untuk mendapatkan fakta yang sebenarnya dari suatu persitiwa. Strategilain yang dilakukan oleh Tempo dalam pemberitaan mengarah kepada pemecahanmasalah. Apabila menemui suatu permasalahan yang belum jelas, Tempomengarahkan isu ke permasalahan yang sudah lebih jelas, misalnya yang sudahjelas bersalah dalam peristiwa ini adalah Djoko Susilo. Dalam strukturpenulisannya, Tempo masih belum berani mengkritik secara tajam, masih dalamwilayah abu-abu dalam menentukan sikap mengenai dugaan kasus korupsipengadaan simulator SIM yang melibatkan dua institusi besar negara, KPK danPOLRI.Kata kunci: konstruksi, framing, dan media massa

Page 2 of 4 | Total Record : 33