cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013" : 11 Documents clear
BOOK REVIEW OF BRAVEHEART WRITTEN BY RANDALL WALLACE Hermawan, Budi
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.168 KB)

Abstract

Sebuah novel karya Randall Wallace yang berjudul Braveheart merupakan salah satu novel terbaik yang berlatarbelakang sejarah. Buku ini tidak hanya mengisahkan betapa heroiknya William Wallace, akan tetapi juga dibumbui dengan kisah cinta yang sangat tragis, sehingga buku ini menarik untuk dibaca.Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengungkap tema, konflik, setting, karakter, serta kelebihan dan kelemahan novel braveheart. Dalam mengkaji buku ini penulis menggunakan metode penelitian perpustakaan dan pendekatan struktural untuk menganalisa tema, konflik, setting, dan karakter, serta memaparkan beberapa kelebihan dan kelemahan yang dimiliki oleh novel Braveheart.Berdasarkan hasil seluruh pembahasan, penulis menyimpulkan bahwa novel Braveheart merupakan novel yang sangat menginspirasi karena di dalamnya banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil. Keberanian, kepemimpinan, dan kejujuran Wallace patut untuk kita teladani. Tidak hanya itu, buku ini juga banyak mengajarkan tentang kehidupan politik, sosial, dan moral. Walaupun banyak yang menyangsikan keotentikannya, buku ini sangat layak untuk dibaca bagi pembaca yang lapar akan sosok inspiratif.
IDENTIFYING ILLOCUTIONARY FORCE OF THE HOST’S SPEECH ACT IN MATA NAJWA TALK SHOW ( Kuasa Gono Gini June 6th, 2012 Chapter ) Kristanti, Stephani Widhi
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.203 KB)

Abstract

Bahasa merupakan piranti penting dalam berkomunikasi. Piranti dalam berkomunikasi tidak hanya berupa kata- kata namun juga berupa frasa atau kalimat yang bisa mengekpresikam suatu tindakan (performatif). Setiap ujaran yang dihasilkan oleh penutur memiliki makna dan tujuan tertentu. Makna dan tujuan tersebut bisa disampaikan secara langsung atau tidak langsung. Oleh karena itu, mitra tutur diharapkan memiliki pemahaman yang sama dengan penutur sehingga makna dibalik ujaran penutur dapat diketahui. Selain memiliki pemahaman yang sama dengan penutur, mitra tutur juga perlu memperhatikan konteks yang ada. Terkadang penutur mengekspresikan apa yang ada dalam pikirannya melalui tindakan, hal ini disebut tindak tutur (speech act) atau lebih spesifik disebut tindak ilokusi (illocutionary acts). Dalam tesis ini, penulis tertarik mengamati bahasa lisan khususnya percakapan pada acara televisi. Adapun objek yang dikaji adalah ujaran Najwa Shihab dalam program Mata Najwa tanggal 6 Juni 2012 episode “Kuasa Gono Gini”. Penulis fokus untuk menganalisa jenis tindak ilokusi yang dipakai oleh presenter untuk menanggapi ujaran bintang tamu dan sebagai strategi untuk mewancarai narasumber. Penelitian ini merupakan penilitian yang bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penulis menggunakan teknik total sampling untuk mengambil 76 ujaran dalam dialog Mata Najwa sebagai data penelitian. Metode Simak Bebas Libat Cakap dalam teori Sudaryanto digunakan untuk pengambilan data. Selanjutnya, penulis menggunakan metode padan dan metode pragmatis untuk menganalisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam dialog Mata Najwa, presenter menggunakan tiga jenis tindak tutur dalam ujarannya untuk menanggapi ujaran bintang tamu; directive, representative, dan expressive. Setiap jenis tindak tutur tersebut memiliki tekanan ilokusi yang berbeda- beda. Tindak ilokusi directive memiliki tekanan ilokusi untuk menanyakan pertanyaan, meminta klarifikasi, serta meminta persetujuan. Sedangkan tindak representative memiliki tekanan ilokusi untuk menuduh, menyangkal, dan menegaskan kembali. Tindak ilokusi expressive memiliki tekanan ilokusi untuk mengekspresikan pemahaman. Kata kunci: ujaran dan tindak tutur
THE INDONESIAN LANGUAGE USED BY PRE-SCHOOL CHILDREN: A STUDY ON THE SYNTAX GALUH, FAHRINA
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.228 KB)

Abstract

Dalam skripsi ini, penulis meneliti struktur konstituen dan kaidah struktur frasa dalam Bahasa Indonesia yang diucapkan oleh anak-anak pra-sekolah. Penulis memilih anak-anak berumur 3-5 tahun sebagai subjek penelitian karena pada tahap ini anak-anak telah dapat berkomunikasi dan mengucapkan berbagai bentuk frasa. Hal yang menjadi fokus dalam skripsi ini adalah bagaimana srtuktur konstituen dan kaidah struktur frasa dalam bahasa Indonesia yang diucapkan oleh anak-anak pra-sekolah. Untuk mendeskripsikan struktur konstituen dan memformulasikan kaidah struktur frasa, penulis menggunakan teori X-bar. Penulis membatasi persoalan hanya pada struktur sintaktik dalam ucapan yang dihasilkan oleh enam anak pra-sekolah. Tujuan penulisan Skripsi ini adalah untuk mendeskripsikan sruktur konstituen dan memformulasikan kaidah struktur frasa dalam bahasa Indonesia yang diucapkan oleh anak-anak pra-sekolah. Data yang digunakan berupa ujaran yang dihasilkan oleh enam anak pra-sekolah. Metode pengambilan sample menggunakan purposive sampling dan metode simak libat cakap dengan teknik pancing sebagai teknik dasar. Dalam menganalisis data yang ada, penulis menggunakan teori X-bar. Hasil analisis menunjukan bahwa berdasarkan uji konstituen, dapat dibuktikan bahwa terdapat FN, FV, FA, FAdv, FP, FD, dan FI dalam ucapan-ucapan yang dihasilkan oleh anak-anak pra-sekolah. Pada umumnya anak-anak pra-sekolah mengucapkan frasa nomina. FN memiliki 35,54% dari total data. Ada 161 buah struktur konstituen yang membentuk frasa nomina. Ada beberapa istilah yang termasuk dalam kategori lainnya, yaitu frasa verbal 32%, frasa adjektiva 6,18%, frasa adverbial 0,66%, frasa preposisi 6,20%, 10,59% frasa determiner, dan frasa infleksional 8,83%. 
FAILURES OF LOCAL SCHOOL BOARDS IN PERFORMING THEIR ROLES AS SOCIETY’S REPRESENTATIVE IN CONTROLLING PUBLIC SCHOOLS IN WAITING FOR SUPERMAN FILM Amalia, Farizza Noor
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.176 KB)

Abstract

United States of America, which is recognized as a powerful country puts a great concern toward education. This can be seen from the way government provides free public education for its citizens. Yet, the quality is questionable. The Board of Education is the council responsible for providing good education; it is also responding to community wishes for educational betterment. In its leadership, problems appear and lead to failing public schools. This eventually brings failures to students. Such existing situation in American public schools can be seen through literary works, film is one in case. Waiting for Superman is one showing it.
THE REPRESENTATION OF MALE’S AND FEMALE’S IDENTITY THROUGH THE ASSESSMENT OF SEMANTIC MEANINGS AND PRAGMATIC MEANINGS IN FASHION MAGAZINE Ramanda, Rizki
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.33 KB)

Abstract

Magazine is one kind of printed media that is published periodically. Magazine has a lot of types based on its main contain and the target of reader. It can be divided as news magazine, teen’s magazine, male’s magazine and female’s magazine. Then, male’s and female’s magazines can be specified into fashion magazine. The articles in fashion magazine contain the style of clothes, shoes, bags, and also the interest scent of perfume. Male’s magazine and female’s magazine have the different submission in representing the identity between male and female. The purpose of this research explains the process to deliver the information about male’s and female’s identities in explicit or implicit way. The writer analyzes the submission of information in Da Man, Details, and Esquire magazines for describing the identity of male. Then, the writer uses Nylon, Vogue, Glamour, and Cosmopolitan magazines to identify the identity of female. The difference of language used and the submission of information between male and female are phenomena of language that are analyzed through the writer’s point of view by using some theories. The writer uses descriptive qualitative perspectives to determine the language usage between male and female in fashion magazines. The theory of explicature and implicature are used by the writer to analyze the submission of information in male’s and female’s articles through the objects of clothes, perfumes, and shoes. In the method of collecting data, the writer applies documentation method and note taking technique. From the data analysis, the writer concludes that the components of colors do not affect the appearance of male’s identity because the colors describe neutral colors. On the other side, female has close relation with the component of colors because female has her own colors, such as pink, gold, and fuchsia to represent the identity of female as a feminine person. Then, the submission of meaning in representing male’s and female’s identity can be categorized in two ways, such as in explicit or implicit way. Both of ways have the important role to determine the influence characteristics between male and female. The kind of implicature is often used to represent the identity of male and female because the information is presented indirectly and the writer should find the implied meaning in the sentence. Keywords: Explicature and Implicature Meaning, Fashion Magazine
THE UNITED STATES MILITARY HEGEMONY TOWARD THE TIPTON THREE IN THE DOCUDRAMA MOVIE THE ROAD TO GUANTANAMO Ambarsari, Khory Wandira
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.479 KB)

Abstract

Hegemoni merupakan suatu kontrol atau kepemimpinan yang dilakukan oleh suatu negara terhadap negara lain untuk mendapatkan suatu dominasi baik secara paksaan maupun dengan cara kooperatif. Hegemoni ini bisa dilihat dalam beberapa aspek, seperti pada aspek politik, sosial, maupun ekonomi. Dalam film The Road to Guantanamo terlihat adanya bentuk hegemoni yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat sebagai alat dari tekanan pemerintah Amerika Serikat untuk mendapatkan kekuatan politik terhadap tiga orang tokoh utama yang biasa disebut Tipton Three yang berasal dari Pakistan.Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui latar belakang terjadinya hegemoni militer dan apa saja bentuk-bentuk hegemoni yang dilakukan oleh para militer Amerika Serikat terhadap tokoh Tipton Three. Dalam analisis pada skripsi ini, penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan, metode pendekatan eksponensial untuk menganalisis unsur intrinsik, serta menggunakan teori Hegemony dari Antonio Gramsci untuk membahas unsur ekstrinsik.Hasil analisis menunjukkan bahwa peristiwa 11 September 2001 dan adanya kerjasama antara pemerintah Amerika Serikat dan pemerintah Inggris dalam hal terorisme menjadi latar belakang terjadinya hegemoni militer Amerika Serikat. Selain itu, bentuk dari hegemoni ini meliputi penangkapan tokoh Tipton Three oleh militer Amerika Serikat dengan sewenang-wenang dan tanpa melalui penyelidikan latar belakang, adanya pemaksaan dan pemalsuan bukti serta dokumen oleh militer Amerika Serikat terhadap Tipton Three, serta penyiksaan yang kejam baik secara fisik maupun psikis terhadap Tipton Three.
Blake's Spiritual JOurney in the little boy lost and the little boy found by william shakespear Indratwuri, Rena
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.161 KB)

Abstract

Poem is a type of prose which is one of literature genres besides novel and drama. Unlike novel or drama, poem is one of way to express the poet feeling. There are a lot of poets that create a poem with various kinds of theme but they still use their own style. The readers can imagine the story in the poet’s mind through the story presented in it. The readers give response to the imaginary experience in the poem as a pleasing experience. This response makes the writer more interested to poem than other genres. Besides, poem can entertain the readers, it also teaches us about the value of life.
DISSOCIATIVE IDENTITY DISORDER OF ASHLEY PATTERSON AS THE MAIN CHARACTER IN SIDNEY SHELDON’S TELL ME YOUR DREAMS Sari, Safira Ambar
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skripsi ini membahas konflik psikologis tokoh utama novel Tell Me Your Dreams karya Sidney Sheldon. Skripsi ini menggunakan metode kepustakaan dan menggunakan pendekatan psikologis dengan teori Dissociative Identity Disorder (DID) Davison dan Nale. Adapun aspek intrinsik yang dianalisis adalah karakter, karakterisasi, dan konflik. Aspek intrinsik tersebut digunakan untuk mendukung analisis secara keseluruhan. Sedangkan, teori DID digunakan untuk menganalisis aspek ekstrinsik yaitu, psikologi karakter atau tokoh dalam cerita tersebut. Hasil penelitian novel Tell Me Your Dreams adalah sebagai berikut; berdasarkan analisis intrinsik dapat diungkapkan bahwa tokoh utama adalah seorang wanita yang cantik, tetapi ia membenci penampilan dirinya. Status sosial tokoh utama adalah gadis pintar yang mendapat beasiswa dan handal dalam pekerjaannya. Status sosial tokoh utama adalah anak yang berasal dari keluarga Dokter bedah terkenal di dunia. Hasil analisis eksternal dalam novel Tell Me Your Dreams menunjukan bahwa konflik yang terjadi adalah tokoh utama mengalami pengalaman traumatik akibat pemerkosaan yang dilakukan oleh ayah kandungnya. Akibat dari pengalaman traumatiknya, tokoh utama mengalami kepribadian ganda. Berdasarkan analisis pendekatan psikologis (DID), DID terjadi ketika pada masa kanak-kanak yang diakibatkan oleh penyiksaan berat secara fisik atau seksual dan hal ini mengakibatkan disosiasi dan terbentuknya berbagai kepribadian lain sebagai suatu cara untuk mengatasi trauma. Solusi yang dilakukan tokoh utama untuk mengatasi konflik yang terjadi terhadapnya adalah menciptakan kepribadian ganda yang sifatnya bertentangan dengan kepribadian dirinya, seperti misalnya menjadi pembunuh dan mencintai seni. Kata-kata kunci: DID, tokoh utama, kepribadian ganda, konflik psikologis.
Presupposition in Interrogative Headlines on “allkpop” News and Gossip Site Rubiyanti, Afrin
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.378 KB)

Abstract

In Utterance, there are pre-assumptions that are unsaid but still communicated. Therefore, the writer has an interest in analyzing those pre-assumptions. To show those assumptions, the writer uses presupposition theory. The writer only focuses on questions texts. The writer uses interrogative headlines on “allkpop” news and gossip site from 20 – 26 February 2013 as the data. The writer uses purposive sampling method and non participant observation to get these data. The data are analyzed by presupposition triggers of questions. The purpose is to elaborate the presupposition in interrogative headlines. Moreover, after knowing the presupposition, the writer wants to show the indication of those presuppositions. The other purpose of this thesis is to elaborate the functions of those interrogative headlines based on the presupposition analysis. Based on the analyses, the presuppositions of interrogative texts indicate that there is a ‘case’. According to those analyses, interrogative headlines have some functions, that is representing the readers’ position, raising the readers’ curiosity, and lead the readers to the answer. Therefore, those headlines can increase the number of the readers, the popularity and the economy value of the news media.
Presupposition in Interrogative Headlines on “allkpop” News and Gossip Site Rubiyanti, Afrin
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.378 KB)

Abstract

In Utterance, there are pre-assumptions that are unsaid but still communicated. Therefore, the writer has an interest in analyzing those pre-assumptions. To show those assumptions, the writer uses presupposition theory. The writer only focuses on questions texts. The writer uses interrogative headlines on “allkpop” news and gossip site from 20 – 26 February 2013 as the data. The writer uses purposive sampling method and non participant observation to get these data. The data are analyzed by presupposition triggers of questions. The purpose is to elaborate the presupposition in interrogative headlines. Moreover, after knowing the presupposition, the writer wants to show the indication of those presuppositions. The other purpose of this thesis is to elaborate the functions of those interrogative headlines based on the presupposition analysis. Based on the analyses, the presuppositions of interrogative texts indicate that there is a ‘case’. According to those analyses, interrogative headlines have some functions, that is representing the readers’ position, raising the readers’ curiosity, and lead the readers to the answer. Therefore, those headlines can increase the number of the readers, the popularity and the economy value of the news media.

Page 1 of 2 | Total Record : 11