cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014" : 25 Documents clear
KELIMPAHAN ZOOPLANKTON KRUSTASEA BERDASARKAN FASE BULAN DI PERAIRAN PANTAI JEPARA, KABUPATEN JEPARA Aji, Wahyu Permana; Subiyanto, -; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.692 KB)

Abstract

Sebagian besar ikan di laut, khususnya pada saat stadia larva, memanfaatkan Zooplankton Krustasea sebagai makanannya. Kelimpahan Zooplankton Krustasea pada perairan, tergantung pada kondisi lingkungan dan daya rekruitmen masing-masing spesies. Pola pasang surut yang terjadi pada perairan sangat menentukan distribusi dan kelimpahan Zooplankton Krustasea yang berada pada perairan tersebut, dimana pola pasang surut sangat berhubungan dengan fase bulan. Fase bulan terdiri dari  Fase Bulan Baru, Fase Bulan Seperempat, Fase Bulan Penuh (Purnama) dan Fase Bulan Tigaperempat. Kekuatan pasang yang terjadi pada Pasang Purnama (Spring Tide) lebih besar, dibandingkan pada Pasang Perbani (Neap Tide). Hal itu disebabkan, karena adanya perbedaan pembangkit pasang surut terkait posisi bulan dan matahari terhadap bumi. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui pengaruh fase bulan terhadap kelimpahan dan komposisi Zooplankton Krustasea di Perairan Pantai Jepara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November-Desember 2013. Materi yang digunakan dalam penelitan adalah sampel Zooplankton Krustasea yang didapatkan di tiga lokasi penelitian yaitu Teluk Awur, Pantai Kartini dan Pulau Panjang. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif, dengan metode pengambilan sampel yaitu sistematik random sampling. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, ditemukan empat famili dan lima genera zooplankton krustasea, yang diperoleh dari Perairan Pantai Jepara. Tiga genera yaitu Acetes, Lucifer dan Mysis terdapat dalam jumlah yang lebih melimpah, dibandingkan genus Thysanopoda dan Viatrix. Jumlah genus yang diperoleh sama di semua lokasi, namun kelimpahan individu pada masing-masing lokasi penelitian, memiliki kecenderungan dominansi dari genus yang berbeda. Kelimpahan total individu Fase Bulan Baru dan Bulan Purnama lebih kecil, dibandingkan pada fase-fase bulan lainnya. Hal tersebut dikarenakan terjadinya keterlambatan waktu pasang, sehingga Pasang Purnama (Spring Tide) terjadi pada Fase Bulan Seperempat dan Bulan Tigaperempat.Various species of fish around the world, proved to be almost all of small pelagic fish and their larvae utilize crustacean zooplankton as food. The abundance of crustacean zooplankton in the waters, depend on the condition of the aquatic environment and the power recruitment of the each species. Tidal patterns that occur in waters will determine the distribution and abundance of crustacean zooplankton residing in these waters, where the tidal pattern depend on phase of moon. Moon phase consists of the New Moon phase, Quarter Moon Phase, Full Moon Phase and Three-quarters Moon Phase. Strength of tides that occur in the Spring Tide is greater than Neap Tide. That's because of differences in tide generating force associate position of the moon and the sun to the earth.The purpose of this study was to determine the effect of moon phase on the abundance and composition of crustacean zooplankton in the Jepara Coastal Waters. This research was conducted in November-December 2013. The materials used in this study were crustacean zooplankton samples, it were obtained at three study sites, that was the Teluk Awur, Kartini Beach and Panjang Island. The method used in this research was descriptive method, with sampling method was a systematic random sampling. The results showed that there were found four families and five genera of crustacean zooplankton were collected from Jepara Coastal Waters. Three genera i.e.: Acetes, Lucifer and Mysis were found more abundance than Thysanopoda and Viatrix. The numbers of genera obtained equally in all locations, but the abundance in each study site, tended to be dominated by different genus. Total abundance of individuals at New Moon Phase and Full Moon Phase was smaller than the two others moon phases. This was caused by the delayed of the tidal time, so the spring tide occurred at Quarter Moon Phase and Three-quarter Moon Phase.
EFISIENSI PENGGUNAAN OIL WATER SEPARATOR PADA KAPAL PENANGKAP IKAN UNTUK PENCEGAHAN PENCEMARAN MINYAK DI LAUT (STUDI KASUS KM. MANTIS) DI BBPPI SEMARANG Setiawan, Teguh Edi; Haeruddin, -; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.463 KB)

Abstract

Cemaran minyak akan berdampak pada penurunan daya dukung lingkungan yang dapat mengganggu kehidupan organisme perairan. Cemaran minyak dapat berasal dari limbah cair kamar mesin kapal. Berdasarkan ketentuan IMO (International Maritime Organization) yaitu harus kurang dari 15 ppm. Kapal berukuran di atas 100 GT diwajibkan menggunakan OWS (Oil Water Separator) sebagai alat pemisah air dan minyak. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang mencoba menerapkan penggunaan OWS pada kapal penangkap ikan berukuran di bawah 100 GT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi penggunaan OWS, dan perbedaan toksisitas minyak sebelum dan setelah diolah dengan OWS terhadap Chlorella vulgaris. Penelitian dilaksanakan pada bulan November – Desember 2013. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan menganalisis kandungan minyak. Dilanjutkan analisis efisiensi OWS dan uji toksisitas minyak terhadap alga Chlorella vulgaris sebelum dan setelah diolah dengan OWS. Kemudian dilakukan uji statistika T berpasangan apabila distribusi data normal dan uji wilcoxon apabila distribusi data tidak normal dengan taraf signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan OWS mampu mereduksi kandungan minyak dari sebelum diolah dengan OWS antara 2.083,60 mg/L - 29.246,60 mg/L menjadi  8,40 mg/L - 23,20 mg/L setelah diolah, tingkat efisiensi mencapai 99,3% - 99,9%. Hasil analisis statistik uji wilcoxon pada hasil uji toksisitas (p < 0,05) OWS mampu mengurangi toksisitas limbah cair kamar mesin mengandung minyak sebelum dan setelah diolah dengan OWS terhadap Chlorella vulgaris. Oil pollution results in the reduction of environmental capacity which can disturb the life of aquatic organism. The waste water from engine room of the vessel is one of the source oil pollution. Based on IMO (International Maritime Organization) recommendation which are less than 15 ppm. Vessel measuring above 100 GT must use OWS (Oil Water Separator) as the equipment to separate water and oil. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) semarang has tried to apply the usage of OWS at the fishing vessel measuring under 100 GT. This research has intended to determine the efficiency of using OWS, and the difference of oil toxicity before and after processed OWS to Chlorella vulgaris. The research was carried in November – December 2013. The methods used are laboratory experimental by analyzing oil continued by OWS efficiency analysis and testing oil toxicity on Chlorella vulgaris before and after processed using OWS. After that, data was analyzed using paired sample T-test if the data distribution was normal or wilcoxon test if the data distribution was abnormal using significancy level 95%. The result that OWS was able to reduce the oil content from 2.083,60 mg/L - 29.246.60 mg/L before processed, and 8,40 mg/L - 23,20 mg/L after processed with OWS, with efficiency level attained 99,3% - 99,9%. The statistical analysis using wilcoxon test at toxicity test (p<0,05) that OWS was able to reduce waste water from engine room that contains oil and it has proven by comparing the toxic level before and after processed using OWS to Chlorella vulgaris.
HUBUNGAN KERAPATAN RUMPUT LAUT DENGAN KELIMPAHAN EPIFAUNA PADA SUBSTRAT BERBEDA DI PANTAI TELUK AWUR JEPARA Sunarernanda, Yanuareza Putra; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.97 KB)

Abstract

Perairan Pantai Teluk Awur Jepara merupakan daerah teluk dengan ombak yang tidak begitu besar. Salah satu potensi yang ada di tempat tersebut adalah rumput laut dimana rumput laut dapat memengaruhi kelimpahan biota bentik yang termasuk di dalamnya adalah epifauna yang pergerakannya terbatas. Rumput laut dalam persebaran dan pertumbuhannya dipengaruhi oleh kesesuaiannya dengan substrat dasar, begitu pula dengan epifauna. Selain itu, kondisi perairan dilihat dari parameter fisika maupun kimia juga dapat berpengaruh terhadap persebaran dan pertumbuhan biota tersebut. Faktor-faktor seperti predator maupun kompetisi makanan antar sesama jenis juga dapat menyebabkan perubahan distribusi dari rumput laut dan epifauna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kerapatan rumput laut berdasarkan substrat perairan, kelimpahan epifauna berdasarkan substrat perairan, dan hubungan antara kerapatan rumput laut dengan kelimpahan epifauna. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2013. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Langkah penelitian yang digunakan yaitu survey lokasi penelitian, sampling, identifikasi, analisis data, dan uji korelasi Spearman. Hasil yang diperoleh yaitu delapan jenis rumput laut dan sepuluh jenis epifauna. Kerapatan relatif tertinggi dari rumput laut di perairan Pantai Teluk Awur Jepara yaitu pada substrat pasir seluas 188,29 m² oleh jenis Padina crassa sebesar 44,38% (600 individu/300 m²). Kelimpahan relatif tertinggi dari epifauna di perairan Pantai Teluk Awur Jepara yaitu pada substrat pasir seluas 188,29 m² oleh jenis Cerithium kochi sebesar 30,144% (63 individu/300 m²). Berdasarkan uji korelasi Spearman kerapatan rumput laut dengan kelimpahan epifauna dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan sangat kuat antara kerapatan rumput laut dengan kelimpahan epifauna. Coastal waters Teluk Awur Jepara is the bay area with the waves were not so big. One of the potential that exists in these places is a seaweed which can affect the abundance of benthic biota including epifauna which its movement is limited. Seaweed in the spread and growth are affected by suitability with the substrate, as well as epifauna. In addition, the condition of the waters seen from the parameters of physics and chemistry can also influence the spread and growth of such biota. Factors such as predators and food competition among the same species can also lead to changes in the distribution of sea grass and epifauna. The purpose of this study was to determine the seaweed density based on substrates, an epifauna abundance based on substrates, and the relationship between the seaweed density with epifauna abundance. This study was conducted in November 2013. This research uses descriptive method. Measures used in this study is a survey of study location, sampling, identification, data analysis, and the Spearman correlation test. The results obtained are eight species of seaweed and ten species of epifauna. The highest density of seaweed in the waters of the Coast Teluk Awur Jepara is on sand substrate area of 188,29 m² is a Padina crassa was 44,38% (600 individual/300 m²). The highest abundance of epifauna in the waters of the Coast Teluk Awur Jepara is on sand substrate area of 188,29 m² is a Cerithium kochi was 30,144% (63 individual/300 m²). Based on the Spearman correlation test the density of seaweed with an abundance of epifauna can be concluded that there is a very strong relationship between the seaweed density with epifauna abundance.
ASPEK PERTUMBUHAN DAN REPRODUKSI IKAN NILEM (Osteochilus hasselti) DI PERAIRAN RAWA PENING KECAMATAN TUNTANG KABUPATEN SEMARANG Rochmatin, Siti Yuliani; Solichin, Anhar; Saputra, Suradi Wijaya
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.195 KB)

Abstract

Rawa Pening merupakan perairan umum yang potensial di Jawa Tengah dan tempat mata pencaharian utama bagi nelayan sekitar. Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) adalah salah satu ikan air tawar asli perairan umum Indonesia yang dapat ditemukan di Rawa Pening. Saat ini ikan Nilem dieksploitasi tidak hanya untuk dikonsumsi dagingnya saja tetapi juga telurnya. Oleh karena itu perlu dilakukan pengelolaan agar stok ikan di alam tetap terjaga dengan  mengkaji dari aspek pertumbuhan dan reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa aspek pertumbuhan dan reproduksi ikan Nilem serta strategi pengelolaan yang baik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2014– Maret 2014 di Rawa Pening Kecamatan Tuntang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey yang bersifat deskriptif, dengan teknik pengambilan sampel simple sensus sampling. Data yang digunakan yaitu data primer. Pengambilan sampel dilakukan setiap 2 minggu sekali. Selama penelitian didapatkan 78 ekor sampel. Hasil penelitian menunjukan bahwa sifat pertumbuhan ikan Nilem adalah alometrik negatif, dengan nilai b sebesar 2,8392. Faktor kondisi ikan Nilem sebesar 1,144 yaitu kurang pipih (bertubuh kurus). Ukuran rata – rata pertama kali tertangkap ikan Nilem 135 mm dan ukuran pertama kali matang gonad 102,93 mm, menunjukkan ukuran tersebut layak tangkap. Tingkat Kematangan Gonad didominasi TKG IV dan V yaitu dalam keadaan matang gonad. Nilai Indeks Kematangan Gonad tertinggi ikan betina diperoleh 45,32%  sedangkan IKG tertinggi pada ikan Nilem jantan sebesar 23,07%. Fekunditas tertinggi sebanyak 156.695 butir sedangkan nilai fekunditas terendah sebanyak 2966 butir. Perbandingan jantan dan betina 1:1,29. Strategi pengelolaan yang dapat dilakukan adalah dengan cara mempertahankan ukuran mata jaring, mengurangi intensitas penangkapan dan penegakan hukum. Rawa Pening is a water source which is potential in Central Java and the main livelihood for fishermen living around. Nilem fish (Osteochilus hasselti) is one of the native freshwater fish in Indonesia, and can be found in Rawa Pening. Currently, Nilem is exploited not only for its meat but also its eggs to be consumed. Therefore, it is necessary that conserving fish in nature should be examined based on the aspects of growth and reproduction. The research was intended to determine some aspects of reproduction and growth, as well as good management strategy. The research was done from January 2014 – March 2014 in Rawa Pening, District Tuntang. The research method used was descriptive survey using simple sampling method to collect the data. Primary data was used in the research and the sample was done once in two weeks. During the study 78 samples obtained. The results of the research has shown that Nilem has negative alometric growth showing b value as much as 2,8392. The condition factor of Nilem has indicated that the fish was flat (thin) based on value 1,144. The average first caught Nilem has the size 135 mm and the first measurement of gonad maturity was 102,93 mm, showing that the fish was suitable catching. The gonad maturity was dominated by level TKG IV and V, showing that the fish were mature. The highest index of gonad maturity in female fish was 45,32%, while in male fish was 23,07%. The highest fecundity was 156.695 while the lowest was 2.966. The ratio of male and female fish was 1 : 1,29. The management strategy that can be use were maintain the mesh size, minimize the intensity of catch and law enforcement.
STRATEGI KELOMPOK PANTAI LESTARI DALAM PENGEMBANGAN KEGIATAN REHABILITASI MANGROVE DI DESA KARANGSONG KABUPATEN INDRAMAYU Prayudha, Egar Dwi; Sulardiono, Bambang; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.239 KB)

Abstract

Strategi yang tepat sangat dibutuhkan oleh kelompok masyarakat pelestari mangrove dalam mengembangkan kegiatan rehabilitasi mangrove yang mereka kelola. Kurangnya informasi dan kajian ilmiah mengenai kegiatan perumusan strategi suatu kelompok masyarakat pelestari mangrove dalam mengembangkan kegiatan rehabilitasi mangrove, akan membuat kelompok-kelompok masyarakat pelestari mangrove seperti Kelompok Pantai Lestari menjadi tidak mempunyai acuan yang cukup untuk membuat perencanaan atau strategi yang tepat dalam mengembangkan kegiatan rehabilitasi mangrove yang mereka kelola. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kegiatan pengelolaan mangrove dan mendapatkan strategi yang tepat dalam pengembangan  kegiatan rehabilitasi mangrove di Desa Karangsong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif studi kasus. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara dan observasi untuk melakukan pengamatan terhadap sumberdaya manusia dan kelembagaan Kelompok Pantai Lestari, keadaan kawasan rehabilitasi mangrove, dan kegiatan  pemanfaatan mangrove oleh masyarakat lokal. Selanjutnya dilakukan fokus grup diskusi (FGD) bersama dengan semua anggota Kelompok Pantai Lestari untuk merumuskan strategi pengembangan menggunakan Analisis SWOT. Hasil yang didapatkan, faktor-faktor yang berhubungan dengan kegiatan  pengelolaan kawasan rehabilitasi mangrove di Desa Karangsong adalah faktor internal dan faktor eksternal. Strategi yang terpilih adalah strategi agresif yang memaksimalkan kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada. The right strategies are needed by mangroves conservational groups in developing the rehabilitation of mangroves areas they are managed. The lack of information and scientific studies on the strategy formulation by the mangroves conservational groups in developing mangroves areas, will cause the mangroves conservational groups, such as Pantai Lestari Group, do not have enough references to make the appropriate plans or strategies in developing mangroves areas they are managed. The aims of this study were to determine the factors associated with mangroves management activities and found the right strategy for the development of the mangroves area rehabilitation  in Desa Karangsong. This study applied the descriptive case study as a method. Data were collected through interviews and observations to observe the human resources and the institution of Pantai Lestari Group, the condition of mangroves rehabilitation area, and the utilization of mangroves by the local communities. Subsequently, a focus group discussion (FGD) was condusted with all members of Pantai Lestari Group in formulatting development strategies using SWOT analysis. As the results, the factors related to the management activities of mangroves rehabilitation areas in Desa Karangsong were internal and external factors. The appropriate strategy of mangroves rehabilitation areas development was aggressive strategy in maximizing the power of advantaging the opportunities.

Page 3 of 3 | Total Record : 25