cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 38 Documents
Search results for , issue "Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014" : 38 Documents clear
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava. L) TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN HISTOLOGI HATI IKAN PATIN (Pangasius hypophtalamus) YANG DIINFEKSI BAKTERI Edwardsiella tarda Endah Setyowati; Slamet Budi Prayitno; - Sarjito
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.797 KB)

Abstract

Budidaya ikan patin (P. hypophtalamus) terus berkembang seiring adanya nilai ekonomis yang semakin baik. Budidaya Intensifikasi dapat mengakibatkan timbulnya penyakit seperti bakteri E. tarda. Infeksi bakteri tersebut dapat mengakibatkan kegagalan budidaya dan kerugian ekonomi. Penggunaan antibiotik terbukti meningkatkan resisten dan membahayakan kesehatan manusia, sehingga menggunakan bahan alami yaitu ekstrak daun jambu biji (P. guajava. L). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sensitivitas ekstak daun jambu biji sebagai antibakteri terhadap bakteri E. tarda, mengetahui pengaruh perendaman dan dosis terbaik ekstrak daun jambu biji terhadap kelulushidupan dan histologi ikan patin yang terinfeksi bakteri E. tarda. Pelarut yang digunakan dalam ekstraksi daun jambu biji adalah etanol 96%. Ikan patin yang digunakan sebanyak 120 ekor dengan ukuran 7-9 cm dan disuntik bakteri E. tarda dengan kepadatan 107 CFU/ ml secara intramuscular. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu perlakuan A (0 ppm), B (500 ppm), C (700 ppm) dan D (900 ppm). Perendaman ekstrak daun jambu biji dilakukan pada hari ke 2 pasca infeksi. Ekstrak daun jambu biji memiliki kemampuan sebagai antibakteri pada konsentrasi 500-1100 ppm. Hasil prosentase kelulushidupan ikan patin diantaranya adalah 10% (perlakuan A), 73,33% (perlakuan B), 96,67% (perlakuan C) dan 86,67% (perlakuan D). Perendaman ekstrak daun jambu biji berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan ikan patin yang diinfeksi bakteri E. tarda. Pengamatan histologi hati terdapat nekrosis, kongesti degenerasi dan melanomakrofag, dapat disimpulkan dosis terbaik ekstrak daun jambu biji untuk mengobati infeksi E. tarda adalah 700 ppm. Intensification of Catfish (P. hypophtalamus) aquaculture increases a disease risk, such as E. tarda infection. Infection of this bacteria resulted in economic disadvantage in aquaculture. The usage of antibiotics resulted in a high resistant and endanger for human health, therefore the use of  natural ingredient such as guava leaves (P. guajava. L) could be promoted. The aims of this research were to determine the sensitivity of  guava leaves extract  as  antibacterial toward E. tarda, determine the soaking effect and the best dose of guava leaves extract toward the survival rate and histhology of Catfish infected by E. tarda. Guava leaves extract was obtained by dipping in ethanol 96%. Catfish used were 120 fish, around 7-9 cm in size and were injected by E. tarda with density of 107 CFU / mL intramuscularly. This research used 4 treatments and 3 replication,namely were 0 ppm (treatment A), 500 ppm (treatment B), 700 ppm (treatment C) and 900 ppm (treatment D). The soaking of guava leaves extract was done in 2nd day post-infection. Guava leaves extract has ability toward antibacterial in 500-1100 ppm contentrate. The result showed that survival rate of Catfish were 10% (treatment A), 73,33% (treatment B), 96,67% (treatment C) dan 86,67% (treatment D). The soaking of guava leaves extract showed a significant effect (P<0.05) toward survival rate of Catfish infected by E. tarda. The histhology of liver howed of necrosis, congestion,degeneration and melanomacrofag. It can be concluded that the best guajava leaves extract to combat E. tarda infection was 700 ppm.
PENGARUH PENAMBAHAN KOTORAN AYAM, AMPAS TAHU DAN TEPUNG TAPIOKA DALAM MEDIA KULTUR TERHADAP BIOMASSA, POPULASI DAN KANDUNGAN NUTRISI CACING SUTERA (Tubifex sp.) Fajri, Widyawati Nurul; Suminto, -; Hutabarat, Johannes
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.799 KB)

Abstract

Cacing sutera (Tubifex sp.) merupakan salah satu pakan alami yang dibutuhkan didalam pembenihan ikan khususnya pada fase larva, karena mempunyai kandungan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan larva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kotoran ayam, ampas tahu dan tepung tapioka dalam media kultur terhadap produksi biomassa, populasi dan kandungan nutrisi cacing sutera (Tubifex sp.). Penelitian ini menggunakan design Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan masing-masing 3 kali ulangan. Perlakuan-perlakuan itu adalah Perlakuan A (kotoran ayam 100%), B (kotoran ayam 50%, ampas tahu 35%, tepung tapioka 15%), C (kotoran ayam 50%, ampas tahu 25%, tepung  tapioka 25%) dan D (kotoran ayam 50%, ampas tahu 15% dan tepung tapioka 35%). Kotoran ayam, ampas tahu dan tepung tapioka dimasukkan kedalam 12 wadah plastik dengan ukuran 50x13x10 cm dengan luasan 0,065 m2, dialiri air dengan kecepatan aliran 0,35 L/menit. Media tersebut ditebari cacing sebanyak 10 gram/wadah, dipelihara selama 52 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kotoran ayam, ampas tahu dan tepung tapioka berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap produksi biomassa, populasi dan kandungan nutrisi cacing sutera (Tubifex sp.). Perlakuan B memberikan nilai populasi tertinggi yaitu sebesar 21.712,33±753,69 individu/0,065m2. Produksi biomassa dan kandungan nutrisi memberikan nilai tertinggi pada perlakuan C sebesar 70,65±3,49 gram/0,065m2 dan 54,49±1,19%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan kotoran ayam, ampas tahu dan tepung tapioka dapat meningkatkan produksi biomassa, populasi dan kandungan nutrisi cacing sutera. Silk worm (Tubifex sp.) is one of live food organism required in  fish hatchery during the larval stage, because it has the good nutrition content  for the growth of larvae. The purpose of this research was to examine the effect of culture the addition of chicken manure, tofu waste and tapioca in culture media on biomass production, population and nutrition content of silk worm (Tubifex sp.). This research was used Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 3 replicates, respectively. Those treatments were A (100% chicken manure); B (50% chicken manure, 35% tofu waste and 15% tapioca); C (50% chicken manure, 25% tofu waste and 25% tapioca); and D (50% chicken manure, 15% tofu waste and 35% tapioca). Chicken manure, tofu waste and tapioca were placed in 12 container plastics with the same size of 50x13x10 cm (0,065m2 in area). The container was irrigated by circulation water system on discharge  0,35 L/min. The media was stocked by silk worm of 10 gram/container and than cultured during 52 days. The results showed that the addition of chicken manure, tofu waste and tapioca significant effect (P<0,01) on biomass production, population and nutrition content of silk worm (Tubifex sp.). The treatment B was the highest population value of 21.712,33±753,69 individual/0,065 m2. The highest biomass production and nutrition content in the treatment C of 70,65±3,49 gram/0,065 m2 and 54,49±1,19 %. Based on the results, it can be concluded that the addition of chicken manure, tofu waste and tapioca can to be increased the biomass production, population and nutrition content of silk worm.
PENGARUH PENAMBAHAN VITAMIN C DENGAN DOSIS YANG BERBEDA PADA PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KEPITING BAKAU (Scylla sp) Ambarwati, Ananti Trisno; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.396 KB)

Abstract

Peningkatan nilai nutrisi pakan buatan dapat dilakukan dengan penambahan vitamin C sehingga diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau (Scylla sp). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan vitamin C dengan dosis yang berbeda pada pakan buatan serta mengetahui dosis terbaik vitamin C terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau (Scylla sp). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan tersebut adalah penambahan vitamin C dengan dosis yang berbeda pada pakan buatan, A (0 mg/100 g), B (12 mg/100 g), C (18 mg/100 g), D (24 mg/100 g), dan E (30 mg/100 g). Hewan uji yang digunakan adalah kepiting bakau (Scylla sp) dengan bobot rata-rata 114,7±1,6 g/ekor. Kepiting bakau (Scylla sp) dipelihara dengan metode single room dalam basket plastik berukuran 21 cm x 21 cm x 16 cm selama 56 hari dan pemberian pakan 5%/bobot biomassa/hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan vitamin C dengan dosis yang berbeda pada pakan buatan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan mutlak dan efisiensi pemanfaatan pakan namun tidak berbeda nyata terhadap kelulushidupan kepiting bakau (Scylla sp). Pertumbuhan bobot mutlak yang tertinggi dicapai oleh perlakuan D (18,90±5,60 g), efisiensi pemanfaatan pakan tertinggi pada perlakuan D (5,56±1,62%). Nilai kelulushidupan kepiting bakau (Scylla sp) berkisar antara 66,67–100,00%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan vitamin C dengan dosis yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan bobot mutlak dan efisiensi pemanfaatan pakan namun tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kelulushidupan. Dosis vitamin C yang dapat ditambahkan pada pakan buatan untuk kepiting bakau (Scylla sp) adalah 12 mg/100 g hingga 24 mg/100 g pakan. Improvement of nutrition value of artificial feed can be done with the addition of vitamin C that are expected to enhance the growth and survival rate of mud crab (Scylla sp). This study aims to determine the effect of vitamin C with different doses on artificial feed, and know the best dose of vitamin C on the growth and survival of mud crab (Scylla sp). This study used a completely randomized design  with 5 treatments and 3 replications. The treatment is the addition of vitamin C with different doses on artificial feed, A (0 mg/100 g), B (12 mg/100 g), C (18 mg/100 g), D (24 mg/100 g) , and E (30 mg/100 g). The animal trials that used was mud crab (Scylla sp) with an average weight of 114.7±1.6 g/individual. Mud crab (Scylla sp) maintained by the method of single room in a plastic basket measuring 21 cm x 21 cm x 16 cm during 56 days of feeding 5% / biomass  weight/day. The results showed that the addition of vitamin C with different doses on artificial diets significantly (P <0.05) on absolute weight growth and efficiency of feed utilization but not significantly different to the survival of mud crab (Scylla sp). The highest absolute weight growth achieved by treatment D (18.90 ± 5.60 g), the highest efficiency of feed utilization by treatment D (5,56±1,62%). The survival rate of mud crab (Scylla sp) ranged from 66.67 to 100.00%. The conclusion of this study is the addition of vitamin C with different doses significant effect on absolute weight growth and efficiency of feed utilization but no significant effect on survival rate. The dose of vitamin C can be added to artificial feed for mud crab (Scylla sp) is 12 mg/100 g to 24 mg/100 g of feed. 
PENGARUH Chlorella sp. DARI HASIL PENCUCIAN BIBIT SEL YANG BERBEDA DALAM FEEDING REGIMES TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LARVA KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) Budianto, Panji; Suminto, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.717 KB)

Abstract

Salah satu kendala dalam budidaya kerapu macan adalah tingkat mortalitas yang tinggi pada fase larva.  Kematian larva diduga karena ukuran dan kandungan nutrisi pakan alami yang diberikan kurang sesuai dengan kebutuhan larva, serta adanya kontaminasi berupa bakteri dan mikroorganisme lain didalam pakan alami yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh Chlorella  sp. dari hasil pencucian bibit sel yang berbeda dalam feeding regimes terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan larva  kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dan mengetahui tingkat pencucian sel Chlorella sp. terbaik yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan. Metode penelitian adalah eksperimental laboratoris menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing 3 kali ulangan.  Perlakuan itu adalah pemberian Chlorella  sp. tanpa pencucian (A), pemberian Chlorella sp. hasil pencucian 1 kali (B), pemberian Chlorella sp. hasil pencucian 2 kali (C), dan pemberian Chlorella sp. hasil pencucian 3 kali (D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Chlorella  sp. dari hasil pencucian bibit sel kedalam feeding regimes tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan panjang relatif, tetapi berbeda nyata terhadap tingkat kelulushidupan. Nilai pertumbuhan panjang relatif pada masing-masing perlakuan adalah 21,48±0,20 %/hari pada perlakuan A,  21,36±0,21 %/hari pada perlakuan B, 21,52±0,24 %/hari pada perlakuan C, dan 21,54±0,20%/hari pada perlakuan D. Nilai terbaik pada variabel kelulushidupan larva kerapu macan ditunjukkan pada perlakuan D dengan tingkat kelulushidupan larva D10 mencapai 7,78±0,19%, dibandingkan pada perlakuan A sebesar 5,22±0,51%. One of the problems of brown-marbled grouper culture were high mortality rate in the larval stage.  The mortality of larval stage assumed due to the size and nutritional content of live food was given less suitable for larvae requirements, as well as the presence of contaminants such as bacteria and other microorganisms in live food. The aims of this research was to know the effect of Chlorella sp. of the results different cell washing seeds in to feeding regimes on the growth and survival rate of brown-marbled grouper  (E. fuscoguttatus) larvae and to determine the best effect of the level of cell washing Chlorella sp. on growth and survival rate. The experiment method was used in this research by completely randomized design (CRD) with four treatments and three replicates respectivaly.  Those treatment were the addition of Chlorella sp. without cells seed washing (A), addition of Chlorella sp. with one times washed (B), addition of Chlorella sp. with two times washed (C), and addition of Chlorella sp. with three times washed (D). The results of research on showed that addition of Chlorella sp. with washed treatment in feeding regimes had no significant effect on the growth of brown-marbled grouper, but the significantly effect on the survival rate.  The growth valeu of relative length in the treatments, respectively were 21.48 ± 0.20 %/day on treatment A, 21.36 ± 0.21 %/day in treatment B , 21.52 ± 0.24 %/day in treatment C, and 21.54 ± 0.20 %/day in the treatment variable D. However, the best result on the survival rate of brown-marbled grouper larvae shown in treatment D with D10 larval survival rate reached 7.78 ± 0.19%, compared to treatment A was 5.22 ± 0.51%.
PEMBESARAN SIPUT ABALON (Haliotis squamata) DALAM KARAMBA TANCAP DI AREA PASANG SURUT DENGAN PADAT TEBAR YANG BERBEDA Humaidi, -; Rejeki, Sri; Ariyati, Restiana Wisnu
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.814 KB)

Abstract

Abalon merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Mengingat permintaan pasar lokal maupun internasional terus meningkat maka budidaya abalon perlu dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh padat tebar terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan abalon. Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah abalon (H. squamata) dengan ukuran panjang 3,4 ± 0,251 cm, bobot 6,17 ± 1,67 g. Pakan yang digunakan selama penelitian adalah Gracilaria verrucosa sebanyak dari 30% bobot abalon. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Metode eksperimental. Rancangan percobaan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuannya adalah Perlakuan A : 25 ekor abalon/karamba. Perlakuan B : 50 ekor abalon/karamba. Perlakuan C : 75 ekor abalon/karamba. Adapun karamba yang digunakan adalah 30x20x18 cm3. Data pertumbuhan dan kelulushidupan dianalisis dengan analisa ragam meliputi laju pertumbuhan relatif/Relative Growth Rate (RGR), panjang mutlak, bobot mutlak abalon. Uji Duncan dilakukan apabila analisa ragam data pertumbuhan dan kelulushidupan didapatkan hasil berbeda nyata apabila tidak berbeda nyata maka tidak dilakukan uji Duncan. Penelitian ini dilakukan pada pada tanggal 6 Februari – 21 Maret 2014 di Balai Budidaya Laut (BBL) Lombok Desa Gili Genting, Kecamatan Sekotong Barat, Kabupaten Lombok Barat, Propinsi Nusa Tenggara Barat. Padat tebar abalon (H. squamata) yang berbeda tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan cangkang dan bobot tubuh abalon. Padat tebar abalon (H. squamata) yang berbeda tidak berpengaruh terhadap kelulushidupan. Laju pertumbuhan panjang cangkang akan bobot lebih tinggi nilainya untuk ukuran benih abalon  < 4 cm, seiring dengan bertambahnya umur dan ukuran benih abalon. Hasil pertumbuhan mutlak untuk perlakuan A panjang mutlak 5,25 mm, bobot mutlak 2,88 g, perlakuan B panjang mutlak 4,52 mm, bobot mutlak 2,69, perlakuan C panjang mutlak 3,22 mm, bobot mutlak 2,19 g. hasil pertumbuhan relative (RGR) untuk perlakuan A panjang relatif 0,35%/hari, bobot relatif 1,09%/hari, untuk perlakuan B panjang relatif 0,31%/hari, untuk bobot 1,05%/hari, untuk perlakuan C panjang relatif 0,22%/hari, bobot relatif 0,71%/hari. Untuk kelulushidupan menunjukkan hasil 100%. Abalone is one of commodity that has a high economic value. With the local and international market demand always increase so the culture of abalone needs to be done. The aim of this study was to determine the effect of stocking density on the growth and survival rate of abalone. The animals used in this study are abalone (H. Squamata) with a length of 3.4 ± 0.251 cm, the weight of 6.17 ± 1.67 g. Feed used during the study was Gracilaria verrucosa with 30% of the abalone weight. The method used in this study is the experimental method. The experimental design in this study is completely randomized design (CRD). The treatments were A: 25 abalone / cage. B: 50 abalone / cage. C: 75 abalone / cage. The size of cages used were 30x20x18 cm3. Data of Growth and survival  rate were analyzed by analysis of variance include the ot Relative Growth Rate (RGR), the absolute length, and the absolute weight of abalone. Duncan test used if the analysis of variance showed significantly different, if it was not significantly different so it did not need Duncan test. The research was held on 6 February to 21 March 2014 in the Mariculture Center (BBL) Lombok Gili Genting Village, District of West Senggigi, West Lombok, West Nusa Tenggara. The results show that defferent the stocing density do not significantly effect the growth and survival rate of abalone. The results for the absolute growth, treatment A absolute length is 5.25 mm, the absolute weight is 2.88 g, the absolute length of treatment B is 4.52 mm, absolute weight is 2.69 g, absolute length of treatment C is 3.22 mm, absolute weight is 2.19 g . Results of relative growth rate (RGR) for treatment A relative length is  0.35 % / day, the relative weight is of 1.09 % / day, for the treatment B relative length is 0.31% / day, weight is 1.05 % / day, for treatment C relative lengths is 0.22 % / day, the relative weight is of 0.71 % / day. The results of survival rate ia 100 %.
PEMANFAATAN BERBAGAI JENIS MAKROALGA UNTUK PERTUMBUHAN ABALON (Haliotis squamata) DALAM BUDIDAYA PEMBESARAN Nurfajrie, -; Suminto, -; Rejeki, Sri
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.492 KB)

Abstract

Pemanfaatan makroalga sebagai pakan alami diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan abalon. Pengaruh jenis pakan rumput laut yang berbeda terhadap pertumbuhan panjang maupun berat mutlak, laju pertumbuhan harian, kelulushidupan, rasio konversi pakan  dan kualitas air yang mendukung telah dianalisa dan diobservasi pada penelitian.Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Pakan yang digunakan pada perlakuan adalah Gracilaria verucosa (A); Euchema spinosum (B); Ulva sp (C); Gracilaria arcuata (D). Pakan tersebut diberikan sebanyak 20% dari total biomassa. Biota Abalon dengan berat rata-rata 13,45±1,06 g dan panjang rata-rata 4,32±0,07 cm sebanyak 20 ekor dimasukkan ke dalam keranjang yang berukuran 0,12 m3 yang menggunakan shelter dengan masa pemeliharaan selama 56 hari. Penelitian dilakukan di Balai Budidaya Laut, Sekotong, Lombok.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan A memberikan hasil terbaik dengan laju pertumbuhan harian terbaik (0.11±0.00 g/hari), pertumbuhan bobot mutlak (6,36±0.09 g), pertumbuhan panjang mutlak (0,50±0,02 cm), fcr (25,54±1,47) dan kelulushidupan (98,33±2,89%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jenis pakan rumput laut yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05), terhadap pertumbuhan, dan FCR abalon. The utilization of macroalga as a natural feed of abalone is expected to increase the growth. Effect of the type of seaweed different feed on the growth of absolute length and weight, daily growth and survival rate.This research was done to find out the effects of different type of macroalga as natural feed and the growth, survival rate of abalone, and its Food Conversion Rate (FCR). A completely randomized design was applied in this experiment with 4 treatments and each treatment was replicated 3 times.  The treatment were Gracilaria verucosa (A); Euchema spinosum (B); Ulva sp (C); Gracilaria arcuata (D). The feed was given 20% of the total biomass. Abalone was average weight of 13,45±1,06 g and  average weight of 4,32±0,07 cm were used in this experiment. The stocking density was 20 abalone/basket (0.12m3). The research was done for 56 days in Marine Research Centre, Sekotong, Lombok.The results showed that different type of seaweeds were significantly affected (P<0,05) the growth in weight and lenght of abalone. The best result was at treatment A (Gracilaria verucosa) which showed that spesific growth rate, absolute weight, absolute length, survival rate and FCR were 0.11±0.00 g/day, 6,36±0.09 g, 0,50±0,02 cm, 98.33±2.89% and 25.54±1.47, respectively . 
PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN BENIH TAWES (Puntius javanicus) Hanief, Muhammad Ahda Rifqi; Subandiyono, -; Pinandoyo, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.309 KB)

Abstract

Manajemen pemberian pakan adalah suatu usaha untuk memaksimalkan pemanfaatan pakan untuk pertumbuhan. Salah satu metode yang diterapkan dalam manajemen pemberian pakan adalah dengan memberikan pakan pada waktu yang tepat saat dibutuhkan.  Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pengaruh frekuensi pemberian pakan terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan benih tawes. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium. Desain penelitian ini adalah rancangan acak lengkap menggunakan 4 perlakuan dengan 3 pengulangan.  Perlakuannya adalah pemberian frekuensi pakan masing-masing 1(A),  2(B), 3(C) dan 4(D) kali sehari dengan metode pemberian pakan at satiation. Hasil dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa frekuensi pemberian pakan berpengaruh nyata terhadap tingkat konsumsi pakan, laju pertumbuhan relatif individu serta laju pertumbuhan panjang tubuh relatif benih tawes, namun tidak memberikan pengaruh nyata pada kelulushidupan, rasio konversi pakan dan rasio efisiensi protein. Frekuensi pemberian pakan tiga kali sehari menghasilkan nilai terbaik pada laju pertumbuhan bobot (6,26-6,38% per hari) dan laju pertumbuhan panjang tubuh (1,04-1,06% per hari).  Nilai rasio konversi pakan berkisar 1,89-2,08; rasio efisiensi protein 96,55-133,07% dan nilai kelulushidupan berkisar 66,16-85%.  Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian pakan tiga sampai empat kali sehari dapat meningkatkan pertumbuhan bagi benih tawes. Feeding management was an effort to optimize the function of feed given for growth.  One of the method that could be applied was by fed the fish feed just the time as it was required.  The purpose of this study was to find the effect of feeding frequencies on the growth and survival rate of java barb juveniles.  This study was an experimental laboratory method.  The design of the experiment was completely randomized design with 4 treatments and 3 replicates. The treatments were feeding frequency 1(A), 2(B), 3(C) and 4(D) time a day with at satiation method.  This study showed that various feeding frequencies significantly affected on the feed consumption, relative growth rate, and relative body length of the trial fish but not significantly affected on the survival rate, feed conversion ratio, and protein efficiency ratio.  Feeding frequencies of 3 and 4 times a day resulted the best values on relative growth rate (i.e 6,29-6,38% per day) and relative body length (i.e 1,04-1,06% per day) of  the fish. The values of feed conversion, protein efficiency ratio, and survival rate were variated beetwen 1,89-2,08; 96,55-133,07%; and 66,16-85%. It was concluded that feeding frequencies 3 to 4 times a day could increased the growth of the java barb juveniles.
PENGGUNAAN BAKTERI KANDIDAT PROBIOTIK PADA PAKAN BUATAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) Rahmawan, Mohamad Elvino Andi; Suminto, -; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.447 KB)

Abstract

Pemberian bakteri kandidat probiotik yang berasosiasi di dalam usus lele dumbo (Clarias gariepinus) pada pakan buatan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan didalam kultur lele dumbo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bakteri probiotik terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan, kelulushidupan lele dumbo (C. gariepinus) dan untuk mengetahui jenis bakteri terbaik. Bakteri probiotik yang digunakan adalah Bacillus subtilis, Bacillus licheniformis, Pseudomonas putida dimana bakteri tersebut telah di isolasi dari dalam usus lele dumbo. Variabel yang dikaji meliputi efisiensi pemanfaatan pakan, laju pertumbuhan spesifik harian (Specific Growth Rate), dan kelulushidupan (Survival Rate). Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu perlakuan A (kontrol), B (bakteri probiotik Bacillus subtilis ), C (bakteri probiotik Bacillus licheniformis), dan D (bakteri probiotik Pseudomonas putida) dengan kepadatan bakteri probiotik yang diberikan pada masing-masing perlakuan sebanyak 107 sel/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B memberikan nilai efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), (SGR) dan kelulushidupan (SR) tertinggi (P<0,05), yaitu dengan nilai (67,32 ± 2,63%), (2,95 ± 0,15%) dan (95,00 ± 5,00%). Berdasarkan pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan bakteri kandidat probiotik penggunaan bakteri kandidat probiotik memberikan pengaruh nyata terhadap efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan lele dumbo, namun tidak berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan lele dumbo. Serta bakteri Bacliius subtilis dengan kepadatan 107 sel/ml dapat meningkatkan nilai EPP, SGR dan SR selama 56 hari pemeliharaan lele dumbo. The addition of probiotic bacteria candidate assosiated in the catfish intestine (Clarias gariepinus) in the artificial feed was able to incrased on feed utilization efficiency (EPP), specific growth rate and survival rate in the culture catfish. The aims of this research was to find out the effect of addition  probiotic bacteria on feed utilization efficiency (FUE), specific growth rate (SGR), survival rate (SR) and to know best bacteria strain. Probiotic bacteria in uses is Bacillus subtilis, Bacillus licheniformis, Pseudomonas putida where probiotic bacteria the has in isolation in the catfish intestine. The variables examined included the value of the efficiency of feed utilization (EPP), the specific growth rate (SGR) and survival rate (SR). This research uses 4 treatment and 3 replicates, that is treatment A (control), B (probiotic bacteria Bacillus subtilis), C (probiotic bacteria Bacillus licheniformis), and D (probiotic bacteria Pseudomonas putida) with density probiotic bacteria in the given each treatment as much 107 sel/ml. The result of this research in  the treatment B showed that efficiency of feed utilization score, growth and  highest survival rate (P<0,05), that is EPP (67,32± 2,63%), SGR (2,95 ± 0,15%) dan SR (95,00 ± 5,00%). Besed from the result showed that utilization of bacteria probiotic candidate of different feed utilization efficiency and spesifik growth on significantly different effect (P<0,05), but not significantly of survival rate Clarias gariepinus. Bacteria Bacillus subtilis to synthetic feed with density 107 sel/ml can be increase EPP, SGR and SR to maintenancy catfish during 56 day.
PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP TINGKAT KONSUMSI PAKAN DAN PERTUMBUHAN BENIH IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Noviana, Putri; Subandiyono, -; Pinandoyo, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.374 KB)

Abstract

Probiotik merupakan salah jenis bakteri fotosintetik yang mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan ikan.  Jenis bakteri seperti Lactobacillus sp, Actinomycetes sp, Streptomycetes sp, dan ragi sering diperlukan dalam probiotik untuk ditambahkan kedalam pakan ikan.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh probiotik dalam pakan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan ikan nila.  Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL)  yang terdiri dari 5 perlakuan 3 kali ulangan.   Masing-masing perlakuan diberikan penambahan dosis probiotik sebesar 0, 5, 10, 15, dan 20 g/kg pakan.  Benih nila berukuran 5-6 cm ditebarkan dalam bak plastik bervolume 45.78 cm3 dengan kepadatan 12 ekor/12 liter.  Selama pemeliharaan, ikan diberi pakan secara at satiation dengan frekuensi 3 kali sehari.  Variabel yang diamati meliputi laju pertumbuhan relatif, tingkat konsumsi pakan, efisiensi pemanfaatan pakan, protein efisiensi rasio, dan kelulushidupan ikan uji.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian probiotik sebesar 10 g/kg pakan menghasilkan laju pertumbuhan relatif sebesar 3.20% per hari, tingkat konsumsi pakan sebesar 83.86 g, efisiensi pemanfaatan pakan sebesar 77.23%, protein efisiensi rasio sebesar 2.17% dan kelulushidupan benih nila sebesar 90 %.  Hasil penelitian ini dapat simpulkan bahwa pemberian probiotik 10 g/kg pakan mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan serta pertumbuhan benih nila (O. niloticus).Probiotic is one of photosynthetic bacterias that able to increase diet utilization efficiency and fish growth. The bacterias like Lactobacillus sp, Actinomycetes sp, Streptomycetes sp, and yeast are often needed in probiotic to be added to practical diet. This research were aimed to study the effect of probiotics in practical diet on the diet utilization efficiency and growth performances of tilapia. This study was conducted in April until June 2014 in the Wet Laboratory of Aquaculture Study Programme, Faculty of Fisheries and Marine Science, Diponegoro University. This study used completely randomized design (CRD) method with 5 treatments and 3 replicates. Each treatment used diet containing the probiotic of 0, 5, 10, 15, and 20 g/kg diets respectively. Tilapia juveniles sized 5-6 cm were cultured in the container with density 12 fishes /12 liter water. The feeding frequency was 3 times a day and applied at satiation method. The variables measured were relative growth rate, diet consumption rate, diet utilization efficiency, protein efficiency ratio, and survival rate the tilapia. The data showed that the addition of EM4-probiotic of 10 g/kg diet resulted on the values best for the relative growth rate (i.e. 3.2 %/day), diet consumption utilization (i.e. 83.86%), diet utilization efficiency (i.e. 77.23%), protein efficiency ratio (i.e 2.17%), and fish survival rate (i.e. 90%). It was concluded that the addition of probiotics of 10 g/kg could improve the diet efficiency utilization and growth rate of tilapia (O. niloticus) juvenile.
PENGARUH PENAMBAHAN KOTORAN AYAM, AMPAS TAHU DAN SILASE IKAN RUCAH DALAM MEDIA KULTUR TERHADAP BIOMASSA, POPULASI DAN KANDUNGAN NUTRISI CACING SUTERA (Tubifex sp.) Nurfitriani, Lela; Suminto, -; Hutabarat, Johannes
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.175 KB)

Abstract

   Pemanfaatan kotoran ayam, ampas tahu dan silase ikan rucah untuk penambahan media kultur cacing sutera diharapkan dapat meningkatkan biomassa, populasi dan kandungan nutrisi cacing sutera (Tubifex sp.). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh penambahan kotoran ayam, ampas tahu dan silase ikan rucah dalam media kultur terhadap biomassa, populasi dan kandungan nutrisi cacing sutera. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan masing-masing 3 kali ulangan. Perlakuan tersebut adalah penambahan 100% Kotoran Ayam (A); 50 % kotoran ayam, 35% ampas tahu dan 15% silase ikan rucah (B); 50% kotoran ayam, 25% ampas tahu dan 25% silase ikan rucah (C); 50% kotoran ayam, 15% ampas tahu dan 35% silase ikan rucah (D). Penentuan dosis perlakuan yang digunakan mengacu pada penelitian pendahuluan yang telah dilakukan sebelumnya. Kotoran ayam, ampas tahu dan silase ikan rucah dimasukkan ke dalam 12 wadah dengan ukuran 50x13x10 cm (luas 0,065 m2). Wadah dialiri air mengalir dengan sistem sistem sirkulasi dengan debit 0,35 L/menit dan ditebari cacing 10 g/wadah, selanjutnya cacing dipelihara selama 52 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B memberikan hasil terbaik dengan biomassa tertinggi 57,93±1,59 g/wadah, populasi 13.995±374,8 individu/wadah dan kandungan protein 59,75±0,001%. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa penambahan kotoran ayam, ampas tahu, dan silase ikan rucah dalam media kultur berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap biomassa, populasi dan kandungan nutrisi cacing sutera. The utilization of chicken manure, tofu waste and trace fish for additional culture medium that supposed to be increase the biomass, population and nutrition content of Silk worm (Tubifex sp.). The purpose of this research was to examine the effect of the addition of chicken manure, tofu waste, and silage trace fish in culture medium on biomass, population and nutrition content of Tubifex sp. This research was used Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 3 replicates, respectively. Those treatments were the addition 100% chicken manure (A); 50% chicken manure, 35% tofu waste and 15% silage trace fish (B); 50% chicken manure, 25% tofu waste and 25% silage trace fish (C); and 50% chicken manure, 15% tofu waste and 35% silage trace fish (D). This doses determination treatment used, were referred to previous preliminary research. Chicken manure, tofu waste, and silage trace fish were placed in 12 container with the size of 50x13x10 cm (0,065 m2 in the area). The container was irrigated with watering circulation system on discharge 0,35 L/minute and 10 g/container ofdensity, furthermore cultivan was cultivated during 52 days. The result showed that the treatment B was the best treatment with the highest biomass 57,93±1,59 g/container, population 13995±374,68 ind/container and protein content 59,75±0,001%. Base on the results, it was concluded that the addition of chicken manure, tofu waste and silage trace fish in cuture medium has a significant effect (P<0.01) on biomass, population and nutrition content of silk worm.

Page 3 of 4 | Total Record : 38