cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 36 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2016):" : 36 Documents clear
TRADISI RITUAL AGENTONG TAMONI EBUNGKANA KOSAMBI BEN ACCEM YANG DIUNGKAP MELALUI KOREOGRAFI LINGKUNGAN DALAM KARYA TARI SOMPA BUJUK TAMONI MUZDHALIVA, SILVIA
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KARYA MUSIK “KINDESALTER DUO IN G-DUR” DALAM TINJAUAN ORKESTRASI EKO YULIANTO, NYOMAN
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“Kindesalter duo in G-dur” adalah judul yang diadopsi dari bahasa jerman yang secara harfiah “kindesalter” berarti masa kanak-kanak “duo” adalah penegasan materi dalam karya musik ini. Yaitu duo solo pada violin viola yang diiringi chamber orkestra dan menggunakan tangga nada pokok “G-dur” atau G mayor. adalah fenomena pribadi yang dialami komposer, yaitu melalui perenungan teringat salah satu sahabat kecil komposer yang sekarang sudah tiada lagi. Interaksi antara violin solo dan viola solo menyiratkan seperti dua anak manusia yang sedang bermain dan berinteraksi. Sehingga komposer ingin mengingat kembali masa kanak-kanaknya dan menuangkannya melalui karya musik ini. Bentuk musik ”Kindesalter duo in G-dur” termasuk bentuk musik tiga bagian besar /kompleks, karena di dalam komposisi musik ini terdapat tiga bagian utama dengan kalimat-kalimat dalam setiap bagian tersebut. Dalam analisis bentuk musik ”Kindesalter duo in G-dur” digunakan simbol–simbol agar memudahkan pembaca untuk menganalisis bentuk karya musik ini yaitu Bagian Ak,Bk, dan Ck dimana didalam setiap bagian-bagian tersebut terdapat kalimat yang membuat bagian tersebut menjadi kompleks. Pada penulisan ini membahas lebih lanjut  tentang tinjauan orkestrasi. langkah yang dilakukan untuk mengorkestrasi diantaranya memahami materi orkestrasi yang akan diacu sebagai bahan, memahami bentuk score yang akan dipindahkan, memahami formasi baru sebagai lokasi penerapan, menjaga keutuhan melodi pokok, menjaga originalitas harmoni, penerapan dinamika berdasarkan instrumentasinya. Karya musik ”Kindesalter duo in G-dur” terdapat 169 birama dengan durasi 8 menit 15 detik. Dalam karya musik ini dimainkan dengan tempo Allegretto, Maestosso, dan  allegretto secara bergantian dan berurutan. Adapun tangga nada yang dimainkan meliputi tangga nada G mayor, Bb mayor, D mayor. Serta menggunakan tanda birama 4/4 dan 3/4.Dengan terciptanya karya musik “Kindesalter duo in G-dur” ini, semoga bisa menjadi referensi bagi para mahasiswa dan masyarakat umum agar lebih mencintai dan memerhatikan musik, khususnya musik klasik karena musik memiliki animo yang kecil di indonesia. Kata Kunci : Duo violin & viola , Bentuk musik, Tinjauan Orkestrasi.“Kindesalter duo in G-Dur” is a title which adopted from Germany which literally “Kindesalter” mean children and “duo” is matter conformation in this musical work. Namely duo solo on violin viola that accompanied by chamber orchestra and using main scale “G-dur” or G major. Is a personal phenomenon which experienced by composer, namely through contemplation its remembrance of one of child best friend’s composer who has passed away. Interaction between violin solo and viola solo expressed two human children who play and interaction. So that composer want to remembrance its childhood age and pour it in this musical work. The music form of “Kindesalter duo in G-Dur” belong to complex or three big part music form, since within this music composition has three main part with sentences in each part. In the analysis of “Kindesalter duo in G-Dur” music form, it was applied symbols to facilitate reader in analyzing this musical work namely Ak, Bk, and Ck, whereas in every part consisted sentence which make those part become complex. In this writing will discuss further concerning orchestration examination. Steps that performed by researcher to orchestrate was to understanding orchestration matter as a reference, to understanding score form that will transform, understanding new formation as an application location, keep the main melody wholeness, its harmony originality, the application of dynamic based on its instrumentation. “Kindesalter duo in G-Dur” musical work has 169 bars with duration 8 minutes 15 second. In this musical work played with allegretto, maestoso, and allegretto tempo respectively and orderly. While for the scale that played covered G major, Bb major, and D major. As well as using bar 4/4 and ¾. By the creation of “Kindesalter duo in G-Dur” work musical, its expected can be a reference for student and lay people to be more attention and love music, especially classic music since it has minor animo in IndonesiaKeywords: Duo violin and viola, musical form, reviews orchestration.
BENTUK PENYAJIAN KARYA TARI MBANGUN KAYANGAN SHINTA K, ANDINI
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu kelebihan dari cerita pewayangan adalah  masih relevan  dalam konteks kekinian. Lakon “Semar Mbangun Kayangan” bisa saja dijadikan sebagai sarana untuk mengingatkan bagaimana seharusnya pemimpin menjalankan pemerintahannya. Cerita ini syarat dengan makna yang bersifat konstruktif. Mungkin para pemimpin perlu sesekali mendengar, belajar dan meneladani cerita ini. Membangun kayangan dapat dimaknai sebagai membangun negara yang aman, damai, makmur dan sejahtera diawali dari membangun kepribadian pemimpinannya. Untuk itu diperlukan pribadi pemimpin yang berpegang teguh pada ajaran agama, undang-undang, dan peraturan yang berlaku.Pada proses kekaryaan dan penulisan karya tari Mbangun Kayangan , koreografer menggunakan buku teori Sal Murgiyanto (Koreografi) sebagai literatur . Ide garap karya ini, koreografer dapatkan dari rangsang gagasan (idesional). Gagasan didapatkan berdasarkan pengamatan koreografer terhadap kehidupan nyata, yaitu masih adanya pemerintah yang berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat. Tema pokok karya tari ini adalah perjuangan rakyat dalam membangun negara. Proses penciptaan karya tari ini mengalami beberapa tahap pencarian gerak, yang pertama eksplorasi, improvisasi, foarming, dan evaluasi.Konsep penggarapan tari dengan fokus karya terletak pada salah satu adegan dimana penari melakukan gerak dan vokal berisi pesan yang disampaikan secara simbolik. Tujuan penulisan ini yaitu untuk mengetahui dan mendiskripsikan bentuk penyajian karya tari Mbangun Kayangan yang koreografer ciptakan pada saat mata kuliah Koreografi Murni semester 7 tahun 2015.Kata Kunci: Bentuk Penyajian, Mbangun KayanganOne of the advantages of puppet story is he still relevant even in the present context. The play "Semar Mbangun Kayangan" could be used as a means to remind how should a leader to run his administration. This story terms with meanings which is constructive. Perhaps leaders should occasionally hear, learn and imitate this story because it builds the heaven can be interpreted as build a state that is safe, peaceful, and prosperous beginning of building the personality of its leaders. It is necessary for private leaders who cling to religious teachings, laws, and regulations in the country.In the process of the workmanship and the writing of this dance work Mbangun Kayangan, choreographer uses theory book Sal Murgiyanto (Choreography) as literature choreography. The idea of working on this work, the choreographer get an idea of excitatory (idesional). The idea is based on observations obtained choreographed to real life, which is still the prevailing government arbitrarily against people. The main theme of this dance work is the struggle of the people in developing countries. The process of creation of dance works through several stages of motion search, the first exploration, improvisation, foarming, and evaluation.The concept of cultivating dance with the work focus lies in one of the scenes in which dancers perform movements and vocal contains the message conveyed symbolically. The purpose of this paper is to identify and describe the form of presentation of dance works choreographed Mbangun Kayangan were created during the course Choreography Pure 7th semester 2015.Keywords: Form of presentation, Mbangun Kayangan
TINJAUAN BENTUK MUSIK PADA VARIATIONEN (ÜBER EIN ANATOLISCHES VOLKSLIED) KARYA CARLO DOMENICONI GALIH W, ILHAM
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bentuk musik variasi merupakan bentuk tertua dan paling dasar yang ditemukan dalam musik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk musik Variationen (Uber ein Anatolisches Volkslied) karya Carlo Domeniconi. Dalam penelitian ini menggunakan kajian teori berupa analisis, ilmu bentuk musik, struktur musik, bentuk musik variasi dan 22 prosedur variasi dalam buku structure and style karya Leon Stein sebagai teori utama. Objek penelitian difokuskan pada bentuk musik Variationen (Uber ein Anatolisches Volkslied) karya Carlo Domeniconi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian diperoleh dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Teknik analisis data yang digunakan ialah reduksi data penyajian data, dan penyimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Variationen (Uber ein Anatolisches Volkslied) karya Carlo Domeniconi merupakan repertoar solo gitar klasik bentuk musik variasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa karya ini terdiri 7 bagian (tema, variasi 1, variasi 2, variasi 3, variasi 4, variasi 5 dan finale). Variasi 1 memiliki prosedur variasi hiasan melodi, penggunaan figur melodi dari tema, perubahan tanda birama, gerak bertentangan dan perubahan warna. Variasi 2 memiliki prosedur variasi penggunaan harmoni sama dengan melodi baru, hiasan melodi dan penggunaan struktur pola dari tema. Variasi 3 memiliki prosedur variasi penggunaan harmoni sama dengan melodi baru, hiasan melodi, perubahan tanda biama. Variasi 4 memiliki prosedur variasi gerak bertentangan. Variasi 5 memiliki prosedur variasi penggunaan harmoni sama dengan melodi baru, hiasan melodi, diminusi dan penggunaan struktur pola dari tema. Bagian finale terdiri dari 6 sub bagian (rekapitulasi). Karya ini merupakan representasi salah satu bentuk musik variasi modern.Kata Kunci : Bentuk Musik, Variationen (Uber ein Anatolisches Volkslied), Carlo Domeniconi.Variation musical form constitute the most old musical form and foundation in the music. This study aimed to described the form of music Variationen (Uber ein Anatolisches Volkslied) Carlo Domeniconi creation. In this research use theory focus that is analysis, knowledge of music form, music structure, variation music form and 22 variation procedure include the book of structure and style Leon Stein creation as important theory.  Object of research is focused on musical form Variationen (Uber ein Anatolisches Volkslied) Carlo Domeniconi creation. This research uses descriptive method qualitative research data obtained by observation, interviews, documentation and literature study. Data analysis technique used is data reduction, data display, and conclusion. The results of this study show that Variationen (Uber ein Anatolisches Volkslied) creation Carlo Domeniconi constitute repertoar for classical guitar solo’s variation music form. This reseach study shown theat this piece composed formed 7 movement (thema, variation 1, variation 2, variation 3, variation 4, variation 5 and finale). Variation 1 have a conspicuousness aspect that the teksture interlocking and variation procedure decorated melody, employing melody figure as a theme, change of key signature, contrary motion and change of colour. Variation 2 have a conspicuousness aspect that the teksture interlocking kwart interval domination and variation procedure same harmony with new melody, decorated melody and employing structure as a theme. Variation 3 have a conspicuousness aspect that the horisontaly compactness not and variation procedure same harmony with new melody, decorated melody, change of key signature. Variation 4 have a conspicuousness aspect that the teksture interlocking domination and variation procedure contrary motion. Variation 5 have a conspicuousness aspect that the horisontaly compactness not and variation procedure same harmony with new melody, decorated melody, and employing stucture as a theme. Finale movement build by 6 sub movement (recapitulation). This pieces is  representation form several modern variation musical form.Keywords: Musical Form, Variationen (Uber ein Anatolisches Volkslied), Carlo Domeniconi.
KARYA MUSIK ORACION A DIOS DALAM TINJAUAN ESTETIKA MUSIK ALFA DION S, RHEMA
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENERAPAN METODE CONDUCTING PADA PENCIPTAAN KARYA MUSIK “FAJAR PERTIWI”  KOMPOSER LILIS HIDAYATI RUCHMANA HIDAYATI RUCHMANA, LILIS
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangsa kita adalah bangsa yang kaya raya. Kekayaan alam merupakan kekayaan bangsa yang sesungguhnya. Saat ini rakyat Indonesia belum menyadari bahwa mereka bekerja di bawah kekuasaan asing dalam penguasaan hasil alam di negara ini. Dalam kondisi yang kian memprihatinkan, di tangan generasi mudalah harapan terbesar bangsa berada untuk membangkitkan kembali semangat dan keberanian dalam mengelola segala kekayaan Ibu Pertiwi. Fenomena tersebut menjadikan komposer tergerak untuk berkarya musik dengan judul “Fajar Pertiwi”. Seperti dalam suatau negara, musik juga membutuhkan pemimpin untuk memaksimalkan pertunjukan. Maka dibutuhkan peran seoarang conductor dalam penyajian karya musik. Tugas conductor tidak hanya memimpin saat pertunjukan tetapi menyusun program, memimpin latihan dan mengintrepretasikan lagu. Karya musik “Fajar Pertiwi” merupakan musik instrumental dan progamatik dengan gaya dan teknik klasik yang memiliki 174 birama dengan durasi 7 menit. Karya musik ini mengangkat tema tentang semangat generasi muda untuk merebut kembali kekayaan alam indonesia. Karya musik ini memiliki tiga bagian kompleks. Karya musik “Fajar Pertiwi” dimainkan dengan tempo Adagio, Allegretto, Moderato dan Maestos. Adapun tangga nada yang dimainkan adalah C mayor dan A minor. Metode conducting yang digunakan oleh conductor dalam karya musik “Fajar Pertiwi“ mengalami beberapa tahapan diantaranya yaitu studi partitur, pelaksanaan metode conducting saat latihan, evaluasi tahap I, evaluasi tahap II, penyusunan formasi pemain, metode conducting dengan baton dan terakhir adalah penerapan metode conducting saat performance yang memeiliki tahapan lagi diantaranya yaitu isyarat matra lagu, isyarat persiapan (attack), isyarat mengakhiri lagu (release) dan ekspresi wajah.  Kata Kunci : Metode Conducting, Fajar Pertiwi, Conductor.This nation so wealth. Nature richness is the true nation wealth. Until nowadays Indonesian people has not realize that they worked under foreign party power which more controlling nature result in this country. In this further pitiful condition, the hand of youth generation is the biggest nation hope in this time to resurrect the spirit and bravery to develop all mother nation wealth. Those phenomenon become the composer’s inspiration who inspired to make musical work entitled “fajar pertiwi”. Like a nation, music also required a leader to optimize its show. Therefore, it will need a composer’s role in musical work presentation. Conductor’s role not only lead during show but also arranged program, lead rehearsal and interpreted song. “Fajar pertiwi” musical work is an instrumental and programmatic music with classic style abd technique which has 174 bar with 7 minutes duration. This musical work bring theme concerning youth spirit to regain Indonesian wealth. This musical work has three big parts namely Ak (a complex), Bk (b complex), and Ck (c complex). “Fajar pertiwi” musical work played with adagio, allegretto, moderato, and maestos tempos. The scale played was C major and A minor. Conducting method which applied by conductor in “Fajar pertiwi” musical work experienced several staged such as partite study, the application of conducting method during rehearsal, evaluation stage I, evaluation stage II, the player formation arrangement, conducting method with baton and the last were the application of conducting method during performance which gas several stages like song bar cues, preparation cue (attack), end song cue (release) and mimic. Keywords: conducting method, fajar pertiwi, conductor
KARYA MUSIK “NOISY TRAINS” DALAM TINJAUAN MUSIK BLUES ARDIANSYAH, LUTHFI
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menciptakan karya musik yang segar dan kreatif bisa didapatkan melalui kepekaan seorang komposer terhadap lingkungan. Pengamatan yang dalam, tentu akan melahirkan rasa empati dan perenungan. Pada tahap ini kualitas pencipta musik diuji, seberapa jauh pencipta musik dapat menangkap fenomena-fenomena di lingkungan sekitar menjadi ide-ide segar. Kemudian merangkai satu persatu membentuk menjadi tema. Karya musik ”Noisy Trains” merupakan hasil penuangan ide yang muncul dari proses mendengar dan berimajinasi. Dalam waktu bertahun-tahun komposer  berinteraksi dengan lingkungan di sekitar tempat tinggalnya yang kebetulan berdekatan dengan setasiun kereta api. Selain itu kehidupan sehari-hari dikelilingi dengan aktifitas bermusik, musik yang sering didengarkan adalah musik berkarakter blues, dari latar belakang inilah yang mendasari munculnya konsep musik bertema instrumentasi aktifitas kereta api yang kemudian ditranformasikan kedalam musik bergenre blues. Kekuatan dalam karya musik “Noisy Trains” terletak pada konsep musikal dan dasar teori musik blues, teori yang digunakan sangat mendasar mulai dari sejarah musik dan karakteristik musik blues, diantaranya seperti karakteristik vokal blues, the blue note, akord dan progres dasar blues 12 birama, bass riff, walking bass, double stop lick, dan teknik permainan instrumen.Secara sudut pandang musikal karya musik “Noisy Trains” menganut teori bentuk musik 3 bagian, jumlah keseluruhan biramanya adalah 191 birama dan  berdurasi  7 menit lebih 45 detik.   Bagian ke 1 adalah bagian Ak (Birama 1-47) ,bagian ke 2 adalah bagian Bk (Birama 48-81) , dan bagian ke 3 adalah bagian Ck (Birama 82-191) Karya musik “Noisy Train” menggunakan sukat 4/4 dengan tempo andante, moderato, maestoso dan allegreto.Kata kunci : Tinjauan Blues , Noisy TrainsCreating fresh and creative musical frequently obtained from composer’s sensitivity to surrounding environment, through deep observation, certainly will utter empathy and contemplation. In this stage composer’s quality is tested, how far composer can grasp phenomenon on surrounding environment to become fresh ideas. Then arranged one by one to form certain theme. “Noisy trains” musical work was an idea pouring result which born from hearing and imagination process. For years composer interact with environment around his home which accidentally closed with train station. Beside, its daily activities that surrounded by musical activities, music which frequently heard was blues, this was the background of musical concept with train activity instrumentation theme which later transformed to blues music. The power in “Noisy trains” musical work lies on musical concept and blues basic theory, theory which applied very elementary from the blues music history and its characteristic, such as blues vocal characteristic, blue note, cord, and 12 bar blues basic progress, bass riff, walking bass, double stop lick, and instrument playing technique. Perceptively, “Noisy trains” musical work followed 3 parts musical form theory, the bar total were 191 bars with duration 7 minutes 45 seconds. The first part was ak (bar 1-47), second part was bk (bar 48-81), and the third part was ck (bar 82-91). “Noisy trains” musical work applied measure unit 4/4 with andante, moderato, maestoso and allegretto tempos. Keywords: blues review, noisy trains
ANALISIS BENTUK MUSIK PADA KARYA “GUITARRA Y CELLO” DARA CITATA, ROMA
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KARYA MUSIK “SALVATORE” DALAM TINJAUAN ORKESTRASI KURNIA NOVANDHI, NANDA
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“Salvatore” berasal dari Bahasa Latin yang berarti penyelamat, kata tersebut diangkat menjadi judul pada kaya ini karena sangat mendukung fenomena yang diangkat. Perilaku manusia yang semakin buruk menjadi persoalan yang menarik untuk diangkat, ditandai dengan banyaknya kasus-kasus kriminal yang melibatkan manusia. Jika dilihat dari sudut pandang Agama Kristen-Katholik, mereka lupa akan keselamatan yang diberikan oleh Yesus Kristus. Dari fenomena tersebut, composer memiliki ide untuk menciptakan karya musik “Salvatore”. Kajian teori yang digunakan pada komposisi ini diambil dari beberapa buku yang membahas tentang musik, vokal, bentuk musik, orkestrasi, orkestra, unsur musik, serta hasil penciptaan yang relevan terhadap karya ini seperti karya dari J S Bach dan Wolfgang Amadeus MozartDalam langkah-langkah penciptaan karya ini dilandasi dengan ilmu analisis bentuk musik sebagai acuan untuk membangun karya ini. Karya ini bergaya klasik. Dengan instrumen dan pemain yang dipilih secara seksama, serta penataan panggung untuk mendukung karya musik ini. Proses penciptaan berawal dari eksplorasi dan kerja studio, kemudian metode analisa dan evaluasi, kemudian metode penyampaian materi kekaryaan.Pada penulisan ini membahas lebih lanjut  tentang analisis orkestrasi. Analisis yang dilakukan diantaranya analisis orkestrasi bagian 1, analisis orkestrasi bagian 2, analisis orkestrasi bagian 3, analisis orkestrasi bagian 4.Karya musik yang berjudul ”Salvatore” ini termasuk bentuk campuran, karena di dalam komposisi musik ini terdapat 4 (empat) bagian yang dimana masing-masing bagian memiliki bentuk musik yang berbeda.Kata kunci : Penyelamat, Bentuk Musik, Orkestrasi"Salvatore" from Latin Language, which means savior. The word is used as the title to this work because, supporting the phenomenon. The phenomenon is bad human behavior. In the viewpoint of Christian-Catholic, they forget the salvation provided by Jesus Christ. From this phenomenon, the composer had the idea to create a piece of music "Salvatore".Study of theories used in this paper to support the compositions made taken from several books about music, vocal, musical forms, orchestration, orchestra, musical elements, there are also the result of the creation that are relevant to the work of this music, like the works of JS Bach and Wolfgang Amadeus Mozart.In the steps of creating the work is based on the analysis of forms of music as a reference to develop this work. This work is a classic style, with the instruments and players were selected carefully, and structuring stage to support the work of this music. The creation process begins with the exploration and studio work, then the method of analysis and evaluation , and delivery methods workmanship .In this paper discusses the orchestration. Analysis is conducted orchestration analysis part 1, orchestration analysis part 2, orchestration analysis part 3, and orchestration analysis part 4.Musical work entitled "Salvatore" is included into the free form, because in this composition there are four sections, where each section has a different form of music.Keywords: Savior, Forms of Music, Orchestration.
LEGENDA MENAK SOPAL DALAM DRAMATARI GAJAH SETO MUHAMMAD W, ALBERT
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap daerah selalu mempunyai tradisi cerita-cerita lisan.. Dalam penciptaan karya tari, penulis tertarik mengambil fokus dari sejarah tradisi cerita lisan Kabupaten Trenggalek yakni dari kejadian dimana  Menak Sopal mencari akal merangkul rakyat Trenggalek untuk dapat memeluk agama Islam dengan membangun bendungan yang harus mengorbankan gajah milik Mbok Randha Krandon.Koreografer menyampaikan karya tari dalam bentuk dramatari. Karya dramatari “Gajah Seto”, koreografer menghadirkan proses perkembangan tari tradisi Jawatimuran gaya Mataraman yang dikembangkan dengan eksplorasi kain. Dalam unsur dramatari koreografer menghadirkan pula vocal tembangan, vocal monolog dialog, dipadukan dengan garap musik tradisi jawatimuran.Kajian pustaka dan kajian teori yang digunakan dalam penyusunan karya diantaranya mengunakan teori dramatari dari Peni Puspito, Jaquelin Smith, dan Sal Murgianto. Metode penciptaan yang dipakai dalam karya tari Gajah Seto adalah metode konstruksi. Metode ini menggunakan pendekatan penciptaan, konsep pencptaan, dan juga proses.Struktur penyajian karya tari Gajah Seto terdiri dari lima bagian. Elemen utama tari yaitu gerak dengan eksplorasi kain sedangkan elemen pendukungnya yaitu dialog dan monolog, tata rias busana, pola lantai, musik pengiring, dan tata teknis pentas. Karya ini diharapkan dapat menyampaikan pesan moral melalui tema yang di hadirkan yaitu tentang kepahlawan Menak Sopal, dimana nilai-nilai terkandung didalamnya dapat digunakan sebagai suri tauladan. Kesimpulan dalam penulisan Legenda Menak Sopal Dalam Dramatari Gajah Seto adalah membuat bentuk baru dalam sebuah karya tari cerita yang diangkat. Teknik gerak serta teknik penggunaan kain menjadi hal yang  perlu diperhatikan di dalam karya tari ini. Kedua hal tersebut sangatlah berkaitan dan menjadi motivasi untuk penyampaian isi karya tari. Adapun dengan adanya karya tari Gajah Seto dapat dijadikan inspirasi dan motivasi untuk mengemas suatu dramatari yang lebih menarik. Karena hakekat dramatari lebih mengedepankan gerak tari daripada dialog atau monolog para penarinya.  Kata Kunci : Gajah Seto, Menak Sopal, DramatariEach region has always had a tradition of oral stories .. In creating a dance piece, the authors are interested in taking the focus from the historical tradition of oral story Trenggalek ie from an incident where Menak Sopal find a way to embrace the people Terri can embrace Islam by building dams to sacrifice elephant Mbok belongs Randha Krandon.Choreographer delivered in the form of a dance piece dramatari. The work dramatari "Gajah Seto", choreographed dance tradition of presenting the development process Jawatimuran Mataraman style developed with exploration fabric. In dramatari choreographed elements towards bringing tembangan vocal, vocal monologue dialogue, combined with work on traditional music jawatimuran.Literature review and study of theory used in the preparation of such works using the theory of Peni Puspito dramatari, Jaquelin Smith, and Sal Murgianto. Methods used in the creation of a dance piece Elephant Seto is the method of construction. This method uses the approach to creation, concept pencptaan, and also the process.Structure display Gajah Seto dance work consists of five parts. The main elements of dance is movement with the exploration of fabric while supporting elements, namely dialogue and monologue, cosmetology fashion, floor patterns, mood music, and performing technical procedures. This work is expected to convey moral messages through themes which at present is about kepahlawan Menak Sopal, where the values contained therein can be used as a role model.Conclusions in writing legend Menak Sopal In Dramatari Gajah Seto is create a new form in a work of dance story raised. Mechanical motion and technique using fabric into things to note in this dance work. Both of these are very related and the motivation for content delivery dance work. As with any dance work Gajah Seto will be an inspiration and motivation to pack a dramatari more interesting. Due to the nature of dramatari more forward motion rather than dialogue or monologue dance the dancers.        Keywords: Gajah Seto, Menak Sopal, Dance Teather

Page 1 of 4 | Total Record : 36