cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 36 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2016):" : 36 Documents clear
BENTUK PENYAJIAN  KARYA MUSIK “IBU INSPIRASIKU” AFAN AFIFUDIN, WIDYANTONO
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karyamusik“Ibu Inspirasiku” diciptakan oleh composer Widyantono Afan Afifudin  dengan mengusung tema “Ibu”. Karya musik yang diciptakan composer memfokuskan pada perjuangan dan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang tidak pernah lelah memperujuangkan anaknya untuk  mendapatkan kebahagian, pendidikan, agama, kesehatan, materi  dan mengajari arti hidup di dunia ini. Sosok ibu tidak pernah tergantikan oleh siapapun dan  surga berada di telapak kaki ibu dan kasih sayang ibu sepanjang masa menurut “At-Taysiir Bi Syarh al-Jaami’ as-Shaghiir I/996.” Perjuangan dari seorang ibu tersebut menjadikan dasar komposer menentukan tempo dan dinamika dalam karya musik baru yang akan diciptakanKarya musik “Ibu Inspirasiku” terdiri dari 4 bagian kompleks yaitu dibuka dengan introduction kemudian masuk pada bagian A kompleks (Ak), B kompleks (Bk), C kompleks (Ck), dan D kompleks (Dk) yang mana masing-masing bagian terdiri dari beberapa kalimat musik, diantara sebagai berikut: komposer mencoba menyampaikan sebuah pesan perjuangan dan kasih sayang ibutulus kepada anaknya dan kasih sayang ibu sepanjang massa dengan komposisi musik orkestra dengan gitar elektrik, bass drum ,keyboard dan mencoba menggabungkan orchestra dan band  dengan komposisi baru, dalam penciptaan karya ini  solo gitar  elektrik yang akan lebih  dominan memberi warna dari alur cerita dari pencptaan karya tersebut, Komposer akan memfokuskan karya ini pada bentuk penyajian karya musik “ibu inspirasiku” agar tema, suasana serta tujuan dari karya ini bisa tersampaikan kepada penonton.Kata kunci : Bentuk Penyajian “Ibu Inspirasiku” The work of music “My mother, my inspiration” created by composer widyantono afaf afifudin with “mother” theme. The work of music that created by the composer focus on struggle and affection of a mother to their child that never tired to fight for their child’s happiness, education, religion, health, wealth and teach the maening of this life.The figure of mother can not be replace by anyone. Heaven is under the palm of mother’s  feet and the effection of the mother is long lasting, according to “At-Taysiir Bi Syarh al-Jaami’ as Shaghiin I/996”. That struggle of a mother create a basic for composer to chose tempo and dynamic in the latest work of music that will be created.The work of music “My mother, my inspiration” consists of 4 complex part, they are opening, begin with introduction then come to A complex part (Ak), B complex (Bk), C complex (Ck) and D complex (Dk) that every part consist of some music sentences, They are:Composer try to deliver a message of struggle and affection to their child and their love is forever by created orchestra music composition with electric guitar, drum bass, keyboard and try to combine orchestra and band with new composition. in this work creation, solo guitar that will be more dominantly give color from story plot. The composer will focus on the presentation form from the work of music “My mother, my inspiration” so that the theme, situation and purpose of this work will be delivered to the audience.Keyword : Form of presentation “My mother, my inspiration
TEKNIK KEAKTORAN  TOKOH NYI CINDHE TERHADAP LAKON “NYI CINDHE AMOH” KARYA EDI KARYA SUTRADARA AHMAD FATONI LAILIYAH, ICHTITATU
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktor dan sutradara memiliki hubungan yang saling bersinergi karena aktor yang akan mentransfomasi apa yang diinginkan oleh sutradara. Sutradara yang bertugas mengarahkan sebuah peran yang akan dimainkan atau diperankan oleh aktor dan aktor berusaha mencari dan mempelajari kata-kata yang jadi porsi pemeranannya. Lakon yang berjudul “Nyi Cindhe Amoh” karya Edi Karya, merupakan naskah lakon teater tradisi.Metode yang dilakukan aktor untuk mewujudkan tokoh Nyi Cindhe harus memiliki motivasi peran. Oleh karena itu bagaimana teknik keaktoran tokoh Nyi Cindhe terhadap Lakon “NyiCindheAmoh” karya Edi Karya sutradara Ahmad Fatoni? Adapun tujuan dari teknik keaktoran ini adalah untuk memenuhi persyaratan dalam menempuh tugas akhir di Jurusan Sendratasik FBS UNESA, serta untuk menganalisa teknik keaktoran tokoh Nyi Cindhe terhadap lakon “Nyi Cindhe Amoh” melalui tinjauan realis.Proses  penciptaan keaktoran tokoh Nyi Cindhe menggunakan beberapa tahapan. Tahapan tersebut meliputi latihan-latihan, yaitu keterbacaan naskah, eksplorasi peran, eksplorasi hand property, eksplorasi moving dan bloking, running cut to cut, pemantapan, pragladi kotor, gladi kotor, dan gladi bersih.Kata kunci: Teknik, Keaktoran, Lakon “NyiCindheAmoh”
ANALISIS TEKNIK KEAKTORAN TOKOH SOEDARSO DALAM NASKAH “HANYA SATU KALI ”KARYA HOLWORTHY HALL DAN ROBERT MIDDLEMASS SADURAN SITOR SITUMORANG SUTRADRA ILHAM AULIA ARJANGGI, ENGGIT
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hanya Satu Kali merupakan naskah saduran yang menggambarkan politik pada era orde lama sehingga dalam mementaskannya butuh pencarian dan riset yang mendukung pada tahun yang dimaksudkan naskah. Disini penulis menitik beratkan pada tokoh Soedarso, bukan hal mudah memerankan seorang yang menjalani hukuman dibalik jeruji besi dan akan dihukum gantung. Tantangan yang diterima penulis dalam memerankan tokoh Soedaso yaitu menjadi seorang terpidana yang bersikap dingin,tenang dan misterius. Selain itu, aktor dituntut juga menghidupkan karakter di atas panggung karena sejatinya aktor bukanlah robot yang digerakan oleh sutradara.Teknik yang digunkan dalam memerankan tokoh Soedarso penulis menggunakan teknik milik W.S  Rendra. Tahapan tahapan dalam teknik milik Rendra yaitu, a). Permainan yang hidup, b). Mendengar dan menangapi, c). Kejelasan ucapan, d). Membina klimaks e). Bergerak dengan alasan, f). Proyeksi, g). Memahami takaran, h). Cara muncul, i). Timing, j). Tempo permainan, k). Improvisasi. Naskah Hanya Satu Kali berbentuk realis yang berarti dalam proses penciptaan membutuhkan detail dan observasi. Hal ini sangat dibutuhkan agar aktor dapat menjadi apa yang diinginkan naskah karena tugas seorang aktor sejatinya menghidupkan permainan di diatas panggung.Kata kunci : teknik, aktor, Hanya Satu Kali.
TEKNIK PENYUTRADARAAN PADA NASKAH DRAMA “ HANYA SATU KALI “ KARYA HOLWORTHY HALL & ROBERT MIDDLEMASS SADURAN SITOR SITUMORANG SUTRADARA ILHAM AULIA AULIA, ILHAM
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Naskah drama “Hanya Satu Kali” karya Sitor Situmorang merupakan saduran dari naskah “The Valiant” karya Holworthy Hall & Robert Middlemass. Menceritakan tentang seorang terpidana mati yang akan segera dieksekusi, namun masih terdapat beberapa persoalan yang belum usai dan sedikit mengganggu pikirannya. Dari naskah tersebut disadur karena terdapat kesesuaian dengan peristiwa Agresi Militer Belanda II dan pemberontakan di Madiun. Sehingga penulis tertarik untuk menyutradarai naskah ini untuk dibawa kembali pada tahun 1956 dimana pada tahun tersebut yang mendekati dengan 2 peristiwa tersebut.    Teori penyutradaraan dengan menggunakan pengembangan teknik penyutradaraan W.S. Rendra dan Suyatna Anirun digunakan penulis untuk menciptakan sebuah pertunjukan yang hidup dan pesan tersirat dapat tersampaikan secara utuh. Langkah yang dilakukan yang paling mendasar adalah eksplorasi, lalu masuk pada tahap memberi isi dan ruh dalam peran, berikutnya yaitu tahap pengembangan. Setelah langkah dasar sudah tercapai, hasil tersebut secara rutin kembali dimantapkan dengan memberi arahan latihan pada umumnya. Hingga pada pertunjukan dan evaluasi secara menyeluruh baik itu tim artistik dan juga tim produksi.Pada proses penyutradaraan naskah “Hanya Satu Kali” pencapaian yang diharapkan sutradara adalah mampu meramu dan meracik dengan menggunakan kombinasi teknik-teknik penyutradaraan yang sudah ada. Sehingga formula tersebut mampu diaplikasikan menjadi satu kesatuan dan sebuah pertunjukan yang utuh untuk dijadikan sebuah tuntunan bukan hanya sebagai tontonan.Kata kunci: Teknik, Penyutradaraan, Realis
TEKNIK PENYUTRADARAAN LUDRUK-AN DENGAN  NASKAH “NYI CINDHE AMOH “ KARYA CAK EDI KARYA SUTRADARA AHMAD FATONI FATONI, AHMAD
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ludruk-an adalah seni pertunjukan tradisi yang merupakan salah satu tahapan dalam proses pembelajaran dan regenerasi sebuah kelompok Ludruk pada era sekarang. Unsur pertunjukannya tidak selengkap Ludruk tapi tidak menghilangkan esensi Ludruk. Sebagai calon sutradara Ludruk-an perlu mengetahui secara menyeluruh dari sejarah dan teknik penyutradraan seni tradisi sebagai penunjang menjadi sutradara yang baik.Pemahaman dari pesan yang dibawa oleh naskah lakon harus benar-benar dikuasai oleh setiap anggota tim produksi, tim kreatif dan aktor sebagai pengalih media tulis menjadi audio visual kepada penonton. Teknik penyutradraan Suyatna Anirun menjadi landasan dalam proses kreatif teater tradisi Ludruk-an dengan naskah lakon “Nyi Cindhe Amoh”. Pemahaman tim produksi terhadap bentuk penyajian menjadi pertimbangan melangsungkan pagelaran dari segi lokasi dan konsumen sehingga tujuan penyampaian pesan dari naskah lakon “Nyi Cindhe Amoh” dapat tercapai. Begitu juga tim kreatif yang mnecari bentuk pertunjukan dari sebuah naskah Ludruk berbentuk bedrip (treatment yang menjadi konsep jalannya proses dan kemasan pertunjukan), harus lebih dalam memahami setiap gagsan yang diusulkan sutradara melalui pencarian dandiskusi menjadi sebuah pertunjukan utuh dengan kemasan unsur-unsur tradisi yang kuat sebagai identitas pertunjukan. Sutradara dalam memilih,memilah dan memutuskan membuat tim kreatif tidak ubahnya seperti memilih aktor agar kerja tim yang dipimpinnya bisa menyalurkan pemikiran atau gagasan dan emosi sutradara dalam suatu pertunjukan kepada penonton yang tentunya tidak ada batasan usia. Teknik dasar keaktoran teater tradisional adalah modal utama bagi aktor untuk memahami kemudian memberikan penawaran dan gagasan. Bentuk pemantapan menjadi hasil akhir dalam menjalankan proses dari bedah naskah hingga dilaksanakan pagelaran.Metode casting to emotional temperament sebagai langkah pendekatan dalam menerapkan teknik keaktoran W.S. Rendra dengan kriteria, aktor telah menguasai bentuk tari dasar tradisi Jawa timur-an atau pencak untuk membentuk pengembangan permainan dan sikap gerak badan yakin, menyanyikan beberapa gending laras slendro(lagu tradisi Jawa Timur-an) untuk terwujudnya tempo,irama dan pemberian isi dialog dan permainan, bermain peran untuk penguatan teknik muncul, membina puncak dan penguatan takaran emosi dalam permainan.Teknik penyutradaraan Suyatna Anirun dan keaktoran W.S. Rendra mengorganisir langkah  sutradara dalam proses kreatif penuangan gagasan dari pesan yang dibawa oleh naskah lakon menjadi sebuah pagelaran Ludruk-an.Kata Kunci: Ludrukan, Penyutradaraan, Suyatna Anirun, W.S. Rendra, Nyi Cindhe Amoh
KESEIMBANGAN DALAM GERAK LIRIS PADA KARYA TARI “IN CONTROL” NIHAYAH,
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari “In Control” merupakan sebuah karya tari yang mengangkat tema keseimbangan dan gerak liris. Karya tari ini lebih menekankan kepada cara atau teknik gerak seimbang dengan mempertahankan sesuatu diatas kepala. Dewasa ini berbagai fenomena alam terjadi akibat manusia yang tidak lagi mempedulikan keseimbangan dalam hidupnya, selain kasus hak dan kewajiban yang tidak lagi dipenuhi juga terjadi ketidakseimbangan yang dilakukan manusia kepada alam.Dalam proses penyusunan karya penata tari menerapkan metode eksperimen dengan beberapa teori gravitasi dan keseimbangan. Konsep dalam penciptaan karya tari ini, penata tari menggunakan tipe tari Liris, dengan penyajian simbolik. Elemen utama tari adalah gerak dengan didukung, tata rias busana, pola lantai, musik pengiring, properti, dan tata teknik pentas.Karya tari ini diharapkan dapat menjadi sebuah karya yang inspiratif melalui tema yang dihadirkan. Konsep garap karya tari ini memiliki kecenderungan mengeksplorasi teknik keseimbangan para penari. Melalui karya tari ini penari dapat melatih kemampuan serta meningkatkan kualitas kepenariannya dalam hal intensitas  dan konsentrasi dalam melakukan gerak.Setelah melakukan observasi dan beberapa kali percobaan dalam berproses, karya tari In control menemukan beberapa bentu-bentuk keseimbangan. Bentuk keseimbangan tidak hanya sebatas yang diketahui banyak orang dengan mengangkat 1 kaki dan berjalan diatas sebuah benda dengan membawa beban di kedua sisi tubuhnya. Namun keseimbangan juga dapat dilakukan dengan tumpuan tangan, kepala, pinggang, pantat, serta kaki. Setiap tumpuan dalam melakukan keseimbangan memiliki kesulitan yang berbeda-beda, baik dari segi pengaturan tenaga, kekuatan, dan teknik.Kata Kunci : In Control, Keseimbangan, Liris
MEMBANGUN HUBUNGAN MUTUALISTIK MELALUI KONSEP TEATRIKAL DALAM KARYA TARI “LEBUR SAWIJI” EKA PRASETYA, PATRY
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arti nama merupakan suatu hal yang penting untuk diketahui sebagai pencarian jati diri sebelum mengenal dunia luar. Patry Eka Prasetya mempunyai arti meletakkan pada satu janji. Dalam arti nama tersebut koreografer mempunyai gagasan tentang sebuah hubungan mutualistik yaitu hubungan menguntungkan sesama individu. Fenomena yang terjadi hubungan mutualistik kurang terjalin pada mahasiswa Sendratasik. Fenomena ini menggelitik koreografer untuk menuangkan gagasannya dalam sebuah karya tari. Untuk mendukung daya ungkap yang diinginkan penulis mengadopsi konsep pertunjukan seni teatrikal. Sehingga perlu menghadirkan penari dari kosentrasi drama dan tari dengan musik live diatas panggung, hal tersebut perlu diperhatikan karena sangatlah berkaitan dan menjadi motivasi untuk penyampaian isi karya tari. Adapun kajian teori yang memiliki kerelevansian untuk dijadikan landasan dalam mengupas konsep pada karya tari, seperti teori tentang koreografi oleh Sal Murgianto serta La Meri dan menggunakan mode penyajian simbolis representatif dengan konsep seni teatrikal. Landasan-landasan tersebut harus didasari argumentasi akademis.Metode yang digunakan dalam karya tari ini adalah metode konstruksi, yang terdiri dari rangsang awal, tipe tari, mode penyajian, hingga sampai tahap eksplorasi dan kerja studio. Tahapan tersebut memiliki proses kreatif serta pemikiran baru tentang mewujudkan karya seni tari.Karya tari Lebur Sawiji menghadirkan gerak-gerak  tari dari disiplin ilmu teater seperti Butoh serta gerak-gerak Pantomime dan dipadukan dengan gerak tradisi.Simpulannya adalah pada karya tari ini, bukan semata-mata hanya menciptakan gerak yang estetik, namun terdapat isi tentang hubungan mutualistik. Bentuk dari pertunjukkan karya tari adalah konsep seni teatrikal dengan menyatukan pertunjukan seni drama, tari dan musik untuk melebur jadi satu.Kata Kunci: hubungan mutualistik, teatrikal, karya tari    Meaning of the name is an important thing to note as the search for identity before knowing the outside world. Patry Eka Prasetya has the meaning of putting on a promise. Within the meaning of the name choreographers have an idea of a mutualistic relationship that is beneficial relations among individuals. A phenomenon that occurs mutualistic relationship could not be established on the student Sendratasik. This phenomenon tickle choreographed to pour his ideas in a dance work. To support the desired power according to the authors adopt the concept of theatrical art performances. So the need to bring dancers from the concentration of drama and dance with live music on stage, it should be because it is associated and the motivation for content delivery dance work.The study of the theory that has kerelevansian to be relied on in peeling concept at a dance, such as the theory of choreography by Sal Murgianto and La Meri and use presentation mode symbolically representative with the concept of theatrical art. Foundations must be based on academic arguments.The method used in this dance work is the construction method, which consists of the initial stimulation, the type of dance, fashion presentation, until the exploratory stage and studio work. These stages have the creative process as well as new thinking about realizing a work of art of dance.Melting dance work sawiji presenting motions of the dance discipline Butoh theater as well as the movements of Pantomime and movement combined with tradition.The conclusion is in this dance work and not merely create the aesthetic movement, but there is the content of a mutualistic relationship. Forms of performing a dance piece is a theatrical art concept by uniting the performing arts drama, dance and music to merge into one.Keywords: a mutualistic relationship, theatrical, dance work
GARAP MUSIK REOG DI DAPUR SENI PROBO WENGKER KABUPATEN PONOROGO YAN PRASETYA, ANGGA
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian tradisional merupakan bentuk seni musik yang bersumber dan telah dirasakan sebagai milik sendiri oleh masyarakat lingkungannya, serta menjadi ciri, identitas, maupun cermin kepribadian masyarakat pendukungnya. Kesenian tradisional selalu diteruskan secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Kesenian tradisional secara tidak langsung telah mengakar dalam masyarakat. Kehidupan manusia selalu mempunyai kebutuhan  yang  dicapai, untuk memenuhinya manusia menciptakan sesuatu  yang  disebut kebutuhan. Kesenian tradisional merupakan sesuatu  yang hidup dan dimiliki oleh masyarakat tertentu. Musik adalah sesuatu yang universal dan sangat fleksibel. Tidak ada batasan tertentu yang bias dijadikan patokan arti, konsep atau defenisi maupun dari sisi stuktur dan juga instrumentasinya.Kesenian Reog merupakan seni tradisi Kabupaten Ponorogo dan sangat melekat terhadap eksistensi Kabupaten Ponorogo. Reog Ponorogo sebagai salah satu kesenian tradisional daerah juga telah diakui sebagai kesenian daerah yang berkembang secara Nasional. Salah satu komunitas Reog Ponorogo yang saat ini sedang eksis di wilayah ponorogo dan memiliki banyak prestasi adalah lembaga seni atau sanggar “Dapur Seni Probo Wengker” yang bermarkas di Padepokan Reog Jalan Pramuka 19A Kota Ponorogo. Berbagai ragam atau jenis bentuk garapan musik Reog telah dihasilkan oleh berbagai komunitas yang ada di Ponorogo. Bentuk atau garapan musik Reog yang telah dihasilkan oleh komunitas ini lambat laun dan pasti mereprentasikan identitas komunitas itu dengan sendirinya. Dalam komunitas “Dapur Seni Probo Wengker” juga terbentuk suatu garapan musik Reog yang melambangkan jati diri mereka dengan sendirinya. Keunikan ide komposer yang mampu dituangkan dalam setiap garap musiknya terkadang mampu menggabungkan musik tradisi dengan kekuatan fleksibilitas musik diatonis Barat. Seperti salah satu contohnya musik Reog yang diberi nuansa ritmis hip hop yang pernah mereka tuangkan dalam penggarapan musiknya. Dengan melihat ciri khas dan keunikan Dapur Seni Probo Wengker dalam mengaplikasikan ide-ide garap musik Reog dan banyak prestasi-prestasi yang diperoleh.Kata Kunci : Kesenian Tradisional, Musik Tradisional, Dapur  Seni Probo Wengker
TINJAUAN KARAKTERISTIK MELODI PADA KARYA MUSIK ”CELLO” PUTRA MAHENDRA, MARDA
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berangkat dari fenomena mengenai sedikitnya peminat dan antusias masyarakat terhadap alat musik cellokhususnya di Surabaya, dan pengalaman peneliti ketika mengikuti proses latihan dan konser ansambel 12 cello di InstitutSeni Indonesiadi Yogyakarta, mengusik peneliti untuk menghasilkan suatu karya musik yang seluruh player memainkan alat musik cello.Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengaplikasikan fenomena yang penulis temukan ke dalam komposisi musik; (2) untuk menuangkan ide yang ada dalam pikiran komposer kepada penikmat seni dan masyarakat agar lebih mengenal alat musik cello. Sedangkan tujuan khusus yang ingin dicapai penulis adalah meninjau karakteristik melodi dalam karya musik “Cello”.Metode Penciptaan dalam riset ini diawali dari pengalaman peneliti mengikuti konser cellosehingga terinspirasi untuk membuat karya musik ansamble celloyang dimainkan oleh 8 pemain. Kedelapan pemain cello dalam karya ini adalah para alumnus dan mahasiswa berbakat dari UNESA.Jenis karya yang disajikan adalah musik kamar, terdiri atas 4 section cello, yaitu 2 pemain cello I, 2 pemain cello II 2, 2 pemain cello III dan 2 pemain cello IV. Dalam hal ini komposer memilih formasi double celloquartet karena komposer ingin menonjolkan keseimbangan dan harmoni dari kedelapan pemain serta teknik-teknik yang digunakan pada alat musik cello dengan teknik permainanlegatto, staccato, accent, dan vibratto.Karyamusik klasik ini menggunakan tangga nada diatonis, mengacu pada gaya musik barat mulai dari teknik, sight reading, intonasi dan artikulasi.Penampilan karya ini hanya menggunakan lampu general dari awal hingga akhir yang bertujuan untuk mempermudah para player membaca notasi.Pada proses penciptaan komposer sangat terinspirasi dengan lagu-lagu serenade dari George Goltermann, Schubert, Tchaikovsky, Dvorak, selanjutnya komposer memasukkan unsur kontrapung, harmoni, ilmu analisis bentuk musik, sehingga menghasilkan sebuah karya bergaya serenade klasik, dengan tangga nada F mayor. Dalam mengolah variasi pola ritme, proges akord, dan variasi timbre komposisi musik, komposer menggunakan keyboard. Untuk penggabungan bentuk-bentuknya, digunakan software Sibelius 7.5.Metode analisa dan evaluasi komposer dalam penciptaan karya musik Cello ini adalah menggunakan Ilmu Analisi Bentuk Musik. Karya ini terdiri atas 3 bagian A-B-A. Bagian pertama (A) memaikai tempo adagio, bagian B menggunakan tempo vivace, bagian (A) menggunakan tempo adagio.Bentuk musik yang dihasilkan adalah karya musik “Cello” memiliki 86 birama dengan durasi waktu 8 menit 32 detik, dengan 2 bagian yaitu bagian A  kompleks (Ak) dan B kompleks (Bk) dengan diawali introduksi. Pada bagian Ak terdiri atas kalimat A, B, A’, B’. Bagian Bk terdiri atas kalimat C, C’, C”, D dan E. Karya musik “Cello” dimainkan dengan tempo largo namun pada birama 64 terdapat tempo piu mosso dan terdapat cadenza (kalimat D)yang dimainkan oleh cello I, dengan tangga nada F mayor dan D minor.Pada introduksi terdapat pada bagian birama 1-10, melodi utama yang dimainkan oleh kedelapan pemain cello, namun memainkannya secara bergantian.Kata kunci:Karakteristik Melodi, Karya Musik, Cello, ansambelBased on the phenomenon that there’s just small number interested person to cello music instrument especially in Surabaya and the experience of researcher join at excercises and concert ansambel 12 cello at Institu Seni Indonesia in Yogyakarta, tease researcher to creat music work that all the players play cello music instruments.The research aim are: (1) to applicate phenomenon that researcher found into music composition; (2) to pour researcher idea for art lovers and society in order to know this music instrument nearer.The creation method is begun from the researcher experiences join some concerts that inspiring researcher to creat ansambel music using cello instruments with 8 players. All the players are graduated and students of UNESA.This work is room music that consists of 4 cello sections,  first person consists of 2 players, second person consists of 2 players, the third consists of 2 players, and the forth consists of 2 cello players.In this work composer chooses double cello quartet formation with legatto, staccato, accent, andvibratto technic.This classic music work uses diatonic intonation scales, based on the west style music from sight reading technic,intonation, and articulation. The music performed is used general lamp for lighting the players to read notation. In creating process, researcher as composer is inspired by the serenade songs of George Goltermann, Schubert, Tchaikovsky, Dvorak, so the composer insert contrapung, harmony, music analized aspects,so composer uses intonation scale F major. To manage variety of ritme style, progres accord, and music composition timbre, composer uses keyboard. For connecting the music forms, is used Sibelius 7.5. software.Analized method and evaluation is used music form knowledge. This work consists of 3 parts A-B-A. The first section (A) uses adagio tempo. The music created uses 8 minutes and 32 second, with 2 parts A complex (Ac) and B complex is begun with introduction. In Ac part consists of A, B, A’, B’ sentences. In Bc part consists of C, C’, C”, D and E sentences. This cello music is played by largo tempo  but in the 64 rap there is piu mossotempo and there ‘s and there’s cadenza or D sentence which ‘s played by cello 1 with the intonation scale F major and D minor. In introduction, there’s trap 1-10, main melody which are played by the 8 players although it played substitution one another.Key words: Melody Characteristic, Music Works, Cello, ansambel.
PENGEJAWANTAHAN BULLYING MELALUI KOREOGRAFI TUNGGAL DALAM KARYA TARI “SUDUT” SENJANI APRILIANI, PURI
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bullying adalah perilaku yang agresif, mengganggu, memaksa yang dilakukan secara berulang-ulang oleh sekelompok atau seorang yang memiliki kekuasaan terhadap seorang yang lebih lemah dengan tujuan menyakiti orang tersebut. Dampak dari tindakan bullying mengakibatkan psikis korban menjadi stres, depresi, bahkan trauma untuk berteman sehingga menjadi pribadi yang tertutup dan penyendiri. Dampak dari bullying tersebut menjadi gagasan awal koreografer dalam menciptakan sebuah karya tari, yang mengandalkan perasaan dan khayalan sebagai eksplorasi gerak tari. Adapun kajian teori yang relevan untuk dijadikan landasan dalam menyuguhkan konsep pada karya tari, seperti teori tentang koreografi oleh Sal Murgianto, La Meri, teori tentang pengejawantahan oleh Alma M. Hawkins, dengan judul “Moving From Within”. Landasan tersebut bukan hanya sebagai kumpulan teori untuk mendukung pengungkapan karya tari secara tertulis namun juga sebagai hasil telaah kritis terhadap suatu permasalahan. Landasan-landasan tersebut harus didasari argumentasi akademis.Metode yang digunakan dalam karya tari ini adalah metode konstruksi, yang terdiri dari rangsang awal, tipe tari, mode penyajian, hingga sampai tahap eksplorasi dan kerja studio. Tahapan tersebut memiliki proses kreatif serta pemikiran baru tentang mewujudkan karya seni tari. Dalam penulisan ini, membahas tentang isi dan bentuk pada karya tari yang mengangkat dampak bullying sebagai fokus karya, serta mendeskripsikan hasil visualisasi terhadap simbol-simbol gerak tari. Dari berbagai proses yang telah dilakukan, koreografer menemukan sesuatu yang baru sebagai bentuk pertunjukkannya agar berbeda dengan karya tari yang lain yaitu “sudut”. Sudut sebagai media pengembangan gerak serta sebagai ruang eksplorasi yang kemudian membantu koreografer dalam penciptaan gerak baru.Kata Kunci: Pengejawantahan, Bullying, Sudut.Bullying is an aggressive behavior, disruptive, forcing conducted repeatedly by a group or a person who has power over a weaker with the aim of hurting the person. The impact of bullying that resulted in the victim’s psychic becoming stress, depression, even trauma to make friends, so that become a personal closed and loner. The impact of bullying, become the original idea for creating a choreography dance work, which feelings and fantasies as an exploration of dance. The study of relevant theory has to be relied on peeling concept at dance work, such as the theory of choreography by Sal Murgianto, La Meri, the theory of the embodiment by Alma M. Hawkins, entitled "Moving From Within ". The theoretical basis not just as a collection of theory to support disclosure in writing of dance works, but also as a result of a critical study of the problem. Foundations must be based on academic arguments.The methods that used in this dance work are the construction method, which consists of the initial stimulation, the type of dance, fashion presentation, until the exploratory stage and studio work. These stages have the creative process as well as new thinking about realizing a work of art of dance.In this paper, discusses the content and form of the dance piece that elevates the impact of bullying as the focus of the work, and to describe the results of visualization of the symbols dance.The various processes that have been performed, choreographer find something new as a form of spectacle that is different from other dance works called "corner". Angle as media development as well as space exploration motion which then helps choreographers in the creation of a new motion.Keywords: Embodiment, bullying, corner.

Page 3 of 4 | Total Record : 36