cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Rekayasa Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 27 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2019)" : 27 Documents clear
PEMANFAATAN LIMBAH BETON SEBAGAI BAHAN CAMPURAN ASPAL PORUS KURNIA WILUJENG, BERLIAN; RISDIANTO, YOGIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia, limbah beton yang digunakan sebagai subtitusi material pada konstruksi perkerasan jalan masih belum dikembangkan. Aspal porus merupakan campuran perkerasan yang memiliki porositas tinggi dibanding dengan jenis perkerasan lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik marshall dan permeabilitas dari campuran limbah beton untuk perkerasan jalan aspal porus. Pada penelitian ini, metode yang digunakan yaitu dengan menggunakan standar gradasi Australian Asphalt Pavement Association (2004). Digunakan variasi kadar aspal campuran limbah beton adalah 4%, 4,5%, 5%, 5,5%, 6%, 6,5% dengan menggunakan aspal pen 60/70. Masing-masing dibuat 3 benda uji untuk dilakukan pengujian Marshall dan 2 benda uji untuk dilakukan pengujian Permeabilitas. Hasil analisis dari penelitian menunjukkan kadar aspal optimum sebesar 5,75%. Dengan menggunakan limbah beton sebagai campuran aspal porus, memberikan pengaruh yang signifikan pada nilai Void In Mix, stabilitas, flow, dan juga permeabilitas.Kata Kunci: Aspal Porus. Limbah Beton, Marshall, Permeabilitas
PENGARUH PENAMBAHAN BOTTOM ASH DAN SERBUK CANGKANG BEKICOT (ACHATINA FULICA) SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN SEMEN PADA BATA RINGAN AMIRUL A R, AMATULLAH; FIRMANSYAH SOFIANTO, MOCHAMAD
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Cellular Lightweight Concrete (CLC) adalah beton ringan seluler (berpori) yang mengalami proses curing secara alamiah. Dalam prosesnya menggunakan busa organik yang sangat stabil, dan tidak ada reaksi kimia ketika proses pencampuran adonan (E, Hunggurami, 2014). Di dalam SNI 03-2847-2002 tertulis beton ringan adalah beton yang mengandung agregat ringan dan mempunyai berat satuan tidak lebih dari 1900 kg/m3. Pada penelitian ini, bahan-bahan untuk pembuatan bata beton ringan seluler yang digunakan adalah pasir,semen,air dan foam agent. Pada pembuatan bata beton ringan seluler ini menggunakan bottom ash dan serbuk cangkang bekicot dengan perbandingan campuran 1:0,6 untuk bahan pengganti semen. Mix design yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan penelitian Hazim (2016) adalah semen:pasir 1:2 dengan FAS 0,5. Kadar penggunaan campuran bottom ash dan serbuk cangkang bekicot adalah sebanyak 5%, 10%, 15% dan 20% dari berat semen. Pengujian yang dilakukan adalah uji berat volume, uji kuat tekan dan uji penyerapan air. Hasil kuat tekan optimum dihasilkan pada benda uji dengan kadar subtitusi 20% dari jumlah semen, yaitu 3,7 MPa, dengan berat volume sebesar 1,02 g/cm3 dan 26,2% penyerapan air. Berdasarkan SNI 03-0349-1989 bata beton ringan seluler tersebut termasuk kedalam kelas mutu III. Kata Kunci: Bata Beton Ringan Seluler Bata Ringan, Berat Volume, Bottom Ash, CLC, Kuat Tekan, Penyerapan, Serbuk Cangkang Bekicot. Abstract Cellular Lightweight Concrete (CLC) is lightweight concrete cellular (porous) which undergoes a natural curing process. In the process of making CLC is using very stable organic foam, and there is no chemical reaction when mixing the dough (E, Hunggurami, 2014). In SNI 03- 2847-2002 written that light weight concrete containing light aggregates and has a unit weight of not more than 1900 kg/m3. The used materials for making cellular lightweight concrete in this study were sand, cement, water and foam agent. In making this cellular light weight concrete used bottom ash and snail shell powder with comparison of mixture of 1: 0.6 as replacement material for cement. The mix design used in this study is based on Hazim (2016) research with ratio cement:sand 1:2 and water ratio 0.5. The percentage of bottom ash and snail shell powder mixture are 5%, 10%, 15% and 20% for replacement material of cement. Tests carried out were volume weight test, test compressive strength and density. The optimum compressive strength results were produced from the test object substitution rate of 20% from the amount of cement, which was 3.7 MPa, volume weight of 1.02 g/cm3 and 26.2% density. Based on SNI 03-0349-1989 the lightweight concrete cellular included in the 3rd quality class. Keywords: Absorption, Bottom Ash, Lightweight Brick, Cellular Lightweight Concrete Brick, CLC, Compressive Strength, Snail Shell Powder, Volume Weight.
PENGGUNAAN ABU SEKAM PADI SEBAGAI BAHAN SUBSTITUSI FLY ASH PADA MORTAR GEOPOLIMER DENGAN NAOH 10 MOLAR DITINJAU DARI KUAT TEKAN DAN POROSITAS BOY CANDRA, CAHYA; WARDHONO, ARIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada umumnya mortar geopolimer merupakan mortar yang bebas dari pemakaian PC sebagai pengikatnya, sehingga mortar geopolimer bisa dijadikan terobosan untuk menghentikan penggunaan PC. Penelitian dilakukan secara eksperimental, dikarenakan menggunakan jurnal ilmiah dan penelitian-penelitian terdahulu sebagai referensi, kemudian dilakukan pengembangan dengan merancang variasi rasio (SS/SH 10 Molar) sebesar 1.5 dengan kadar solid larutan activator (W/S) sebesar 0.45 untuk mendapatkan nilai rasio optimum penambahan abu sekam Padi (rice husk ash) terhadap abu terbang (fly ash) pada mortar geopolimer dengan bahan dasar abu terbang (fly ash), abu sekam padi (rice husk ash), air, dan activator berupa campuran dari sodium hidoroksida dan sodium silikat. Penelitian mengukur hasil dari eksperimen yang dibuat dengan uji kuat tekan serta uji porositas mortar kubus. Kadar optimum penggunaan rice husk ash sebagai bahan substitusi fly ash dengan rasio (W/S) sebesar 0.45, dan (SS/SH 10 Molar) sebesar 1.5, adalah sebesar 0% melainkan tanpa menggunakan rice husk ash sebagai bahan substitusi. Hal ini dikarenakan hasil penelitian kuat tekan yang nilainya paling tinggi adalah pada mix design 2 dengan persentase fly ash 100% sebesar 46.09 MPa, Serta dengan nilai porositas terkecil sebesar 11.66%. Adanya peningkatan substitusi fly ash menggunakan rice husk ash pada mortar geopolimer dengan rasio (W/S) sebesar 0.45, dan (SS/SH 10 Molar) sebesar 1.5, mengakibatkan menurunnya kuat tekan mortar. Nilai kuat tekan pada mix design 3 dan seterusnya mengalami penurunan secara terus-menerus sampai mix design terakhir dengan nilai kuat tekan mix design 2 sebesar 46.09 MPa, mix design 3 sebesar 38.05 MPa, mix design 4 sebesar 36.92 MPa, mix design 5 sebesar 36.7 MPa, mix design 6 sebesar 33.48 MPa, mix design 7 sebesar 26.3 MPa.Kata kunci: Geopolimer, Fly Ash, Rice Husk Ash, Kuat Tekan, Porositas, Mortar.
PENGGUNAAN ABU SEKAM PADI SEBAGAI BAHAN SUBSTITUSI FLY ASH PADA MORTAR GEOPOLIMER DENGAN NAOH 8 MOLAR DITINJAU DARI KUAT TEKAN DAN POROSITAS FERY SETIAWAN, DIMAS; WARDHONO, ARIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas tentang beton geopolymer berbasis abu terbang (fly ash) yang kemudian digunakan pula abu sekam padi sebagai bahan substitusi abu terbang dengan beberapa variasi rasio yaitu 2.5%, 5%, 7.5%, 10%, dan 12% serta 0% RHA dan mortar OPC sebagai kontrol. Pada penelitian ini digunakan benda uji mortar geopolymer kubus 5x5x5cm dengan NaOH 8 Molar dan Sodium Silikat sebagai aktivator. Fokus pada penelitian ini yaitu untuk mendapatkan rasio optimum serta pengaruh substitusi RHA terhadap FA pada kuat tekan, porositas dan setting time mortar. Adapun rasio SS/SH sebesar 1.5 dengan kadar solid larutan aktivator (w/s) sebesar 0.45. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio optimum substitusi RHA terhadap FA yaitu sebesar 7.5% dengan hasil kuat tekan saat usia 28 hari sebesar 39.41 MPa dengan porositas terkecil sebesar 11.54%. Penambahan RHA mendapatkan hasil nilai kuat tekan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan mortar semen sebagai kontrol disebabkan oleh tingginya kandungan silika (Si) pada rice husk ash yang mencapai 79.7% dan juga digunakannya sodium silikat sebagai aktivator kandungan silika pada RHA. Pada penelitian ini dilakukan pengujian kandungan dalam masing-masing bahan utama yang digunakan dengan metode XRF pada material penyusun mortar geopolymer, diantaranya rice husk ash dan fly ash. Kata Kunci: : Geopolimer, Fly Ash, Rice Husk Ash, Kuat Tekan, Porositas, Mortar.
STUDI VALUE ENGINEERING PADA PEMBANGUNAN PROYEK HOTEL NAMIRA SURABAYA PT. TATA BUMI RAYA (JL. PAGESANGAN SURABAYA) RESHA ULUL FADHLUS, A.; SURYANTO HS, MAS
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK STUDI VALUE ENGINEERING PADA PEMBANGUNAN PROYEK HOTEL NAMIRA SURABAYA PT. TATA BUMI RAYA (Jl. Pagesangan Surabaya) Nama : A. Resha Ulul Fadhlus NIM : 12050724005 Program Studi : S-1 Jurusan : Teknik Sipil Fakultas : Teknik Nama Lembaga : Universitas Negeri Surabaya Pembimbing : Mas Suryanto H.S., S.T., M.T Penelitian ini mencoba untuk mengalisis bahwa pada poyek pembangunan Gedung Hotel Namira Surabaya khususnya pada pekerjaan arsitektur dapat dilakukan Value Engineering (VE) karena dari refrensi yang sudah ada, VE dapat memberiakan efek positif berupa efesiensi biaya dan waktu dan memberi metode terbaik tanpa mengurangi fungsi utama. Proyek ini dikerjakan oleh PT. Tata Bumi Raya terdiri dari 11 lantai dengan nilai kontrak sebesar Rp. 19,250,000,000.00. Untuk pekerjaan finishing sendiri, total biaya yang dibutuhkan adalah Rp. 7.621.820.724,08. Terdapat 18 item yang dapat dilakukan Value Engineering VE yang merupakan 20% komponen yang memberikan kontribusi biaya terbesar kepada total biaya pekerjaan arsitektur. Pekerjaan yang dapat dilakukan penerapan rekayasa nilai adalah pekerjaan bata ringan, pekerjaan plesteran dinding, pekerjaan keramik, pekerjaan plafon, pekerjaan pasangan ACP (Alumunium Composit Panel), pekerjaan cat interior, pekerjaan closed duduk, pekerjaan jendela kaca kusen alumunium, pekerjaan handle pintu, dan pekerjaan wastafel. Sehingga terdapat penghematan biaya sebesar Rp. 705.562.680. Sehingga jika dirubah kedalam persen, maka hasil presentase penghematan rekayasa nilai yaitu sebesar 9,26% dari 100% total biaya pekerjaan arsitektur. Kata Kunci: Value Engineering, Pekerjaan Arsitektur
PENGARUH PEMANFAATAN ELECTRICAL ARC FURNACE SLAG PADA PEMBUATAN SELF COMPACTING CONCRETE WAHYUDI, AGUNG; FIRMANSYAH SOFIANTO, MOCHAMAD
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Self compacting concrete merupakan beton dengan kemampuan filling ability, passing ability, dan placing ability tinggi. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan merancang penggunaan electrical arc furnace slag sebagai subtitusi kerikil dan fly ash 30% dari semen sebagai filler. Variasi EAFS sebesar 0%, 10%, 30%, dan 50% dari berat kerikil. Pengujian meliputi karakteristik beton segar (slump flow test, v-funnel test, dan l-box test), yaitu berat volume, kuat tekan, dan porositas. Hasil pengujian slump flow test menunjukkan SCC EAFS 0% menghasilkan filling ability terbaik dengan waktu flow (8 sekon). Pengujian passing ability menunjukkan SCC EAFS 10% memiliki kemampuan passing ability terbaik dengan nilai H2/H1 (0,993). Pengujian tingkat viskositas menghasilkan viskositas terendah pada SCC EAFS 50%. Hasil pengujian berat volume, SCC EAFS 50% memiliki berat volume tertinggi umur 28 hari (2573,70 kg/m3). Pengujian kiuat tekan tertinggi pada penggunaan EAFS 30% dengan kuat tekan umur 28 hari (44,37 Mpa). Kadar porositas, variasi dengan tingkat poroitas terkecil pada SCC EAFS 30% (2,03%). Kadar penggunaan EAFS 50% dengan berat volume tertinggi, menghasilkan kuat tekan lebih rendah umur 28 hari (35,63 Mpa) karena faktor porositas tertinggi (2,63%). Kata kunci : Self compacting concrete, fly ash, berat volume, kuat tekan, porositas. Abstract Self compacting concrete is a concrete with high filling ability, passing ability and placing ability. This experimentally study was conducted content by designing the use of electrical arc furnace slag (EAFS) as a substitution of gravel and 30% fly ash from cement as a filler. EAFS variations are 0%, 10%, 30%, and 50% of the weight of the gravel. Tests include characteristics of fresh concrete (slump flow test, v-funnel test, and l-box test), namely volume weight, compressive strength, and porosity. The results of the slump flow test showed that 0% SCC EAFS produced the best filling ability with flow time (8 seconds). The passing ability test shows 10% SCC EAFS has the best passing ability with H2 / H1 (0.993). The viscosity test results in the lowest vicocity at 50% EAFS SCC. The results of the volume testing, 50% SCC EAFS has the highest volume weight at 28 days (2573.70 kg / m3). The highest compressive strength test was used on 30% EAFS with 28 days compressive strength (44.37 Mpa). Porosity level, variation with the smallest porosity level in 30% EAFS SCC (2.03%). The level of use of 50% EAFS with the highest volume weight resulted in a lower compressive strength of 28 days (35.63 MPa) due to the highest porosity factor (2.63%). Keywords: Self compacting concrete, fly ash, EAFS, compressive strength, porosity.
PENGARUH VARIASI JARAK TULANGAN TRANSVERSAL PADA KOLOM PENDEK PENAMPANG PERSEGI YANG DIPERKUAT CFRP (CARBON FIBER REINFORCED POLYMER) TERHADAP KEMAMPUAN MENERIMA KUAT TEKAN AKSIAL GHAZY REYHAN, AKHMAD
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beton yang tidak terkekang akan berbeda karakteristiknya dengan beton yang terkekang dalam menerima kuat tekan aksial. Selimut beton akan mulai retak apabila kekuatan beton yang tidak terkekang telah mencapai beban maksimal. Pada beton penampang persegi terdapat area yang tidak efektif pengekangannya, area yang tidak efektif tersebut dapat diperkuat dengan CFRP. Jarak antar tulangan transversal juga berpengaruh pada kolom saat menerima beban aksial. Jarak antar tulangan transversal yang renggang akan menyebabkan lemahnya antara inti beton dan selimut beton, sebaliknya jika jarak antar tulangan transversal rapat akan memperkuat inti beton dan selimut beton. Pada penelitian ini akan diaplikasikan CFRP secara penuh pada semua benda uji dengan tiga variasi jarak tulangan tranversal tanpa mengamati pengaruh pemakaian tulangan longitudinal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pada benda uji dalam menerima kuat tekan aksial. Benda uji dengan jarak tulangan transversal 52 mm mengalami peningkatan sebesar 1,05%, benda uji dengan jarak tulangan transversal 36 mm mengalami peningkatan sebesar 18,30%, sedangkan benda uji dengan jarak tulangan transversal 27 mm mengalami peningkatan sebesar 26,05%. Kata Kunci: CFRP, Jarak Tulangan Transversal, Kuat Tekan.
PENGARUH VARIASI LUASAN CFRP (CARBON FIBER REINFORCED POLYMER) PADA KOLOM PENDEK TANPA TULANGAN PENAMPANG BULAT TERHADAP KUAT TEKAN AKSIAL ALIM SUNUJAYA, MUHAMMAD
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beton yang diberi tulangan transversal dapat dianggap sebagai beton dengan kekangan internal, beton yang tidak terkekang berbeda karateristiknya apabila menerima beban aksial. Selimut beton akan mulai retak apabila kekuatan beton tanpa tulangan telah mencapai batas maksimum karena tidak adanya kekakangan internal yang didapatkan dari tulangan transversal. Benda uji pada penelitian ini tidak mendapatkan kekangan internal, melainkan akan dikekang secara eksternal yang didapatkan dari pengaplikasian CFRP. Penggunaan CFRP sebagai kekangan eksternal bertujuan untuk mengetahui kontribusi murni dari CFRP dalam memperkuat inti beton yang tidak dikekang oleh tulangan transversal. Pengaplikasikan CFRP dilakukan dengan tiga macam jarak sehingga menghasilkan tiga luasan berbeda. Semakin meningkat luasannya akan semakin meningkatnya kekuatan beton dalam menerima kuat tekan aksial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kuat tekan aksial pada benda uji dengan menggunakan CFRP. Benda uji dengan empat strip CFRP mengalami peningkatan sebesar 36,89%, benda uji dengan lima strip CFRP mengalami peningkatan sebesar 45,83%, sedangkan benda uji dengan CFRP penuh mengalami peningkatan sebesar 117,5%.   Kata Kunci: Kekangan Eksternal, Kuat Tekan Aksial, Luasan CFRP.
PENGARUH VARIASI LUASAN CFRP (CARBON FIBER REINFORCED POLYMER) PADA KOLOM PENDEK TANPA TULANGAN PENAMPANG PERSEGI TERHADAP KUAT TEKAN AKSIAL NAUFAL SETYAWAN, FRANDHY
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kolom pada umumnya mendapatkan kekangan internal dari tulangan tranversal dan tidak menggunakan kekangan eksternal. Efek dari pengekangan adalah untuk meningkatkan kekuatan dan tegangan ultimit pada beton. Kolom dengan pengekangan yang diakibatkan karena tulangan sengkang dapat meningkatkan beton pada tes kuat tekan, sehingga kolom tersebut memiliki kekuatan yang lebih besar dalam menerima gaya aksial yang lebih besar. Namun pada penelitian ini tidak digunakan tulangan tranversal melainkan menggunakan CFRP sebagai kekangan eksternal. Penambahan CFRP sebagai kekangan eksternal dilakukan pada penelitian ini dengan cara memberikan tiga variasi luasan CFRP dengan tiga variasi jarak pula. Penggunaan CFRP pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi murni dari kekangan eksternal beton. Semakin meningkat luasan CFRP yang digunakan maka semakin meningkat juga kuat tekan pada benda uji. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pada benda uji dengan menggunakan kekangan eksternal dalam menerima kuat tekan aksial. Benda uji dengan empat strip CFRP mengalami peningkatan sebesar 26,55%, benda uji dengan lima strip CFRP mengalami peningkatan sebesar 34,75%, sedangkan benda uji dengan CFRP penuh mengalami peningkatan sebesar 63,91%. Kata Kunci: Kekangan Eksternal, Jarak Tulangan Transversal, Kuat Tekan.
PENGARUH VARIASI PENAMBAHAN NANOSILIKA KOMRESAIL PADA KUAT TEKAN, POROSITAS, DAN PERMEABILITAS BETON GUMELAR, BINTANG; WARDHONO, ARIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penambahan nanosilika pada campuran pembuatan beton mampu memperkuat kerapatan pada Interfacial Transition Zone (ITZ) dan permeabilitas beton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuat tekan, porositas dan permeabilitas beton dengan penambahan nanosilika komersial. Pengujian benda uji menggunakan silinder ø 10 cm x 20 cm serta di lakukan uji kuat tekan, porositas dan permeabilitas beton pada umur 7, 14, dan 28 hari, dengan penambahan 4% ; 6% ; dan 8% dari berat semen. Menyiapkan kebutuhan bahan yang dibutuhkan sesuai mix design, molen yang digunakan untuk membuat campuran beton dibasahi terlebih dahulu, kemudian pasir dan semen dimasukkan terlebih dahulu kemudian kerikil. Setelah didapat nilai slump, kemudian masukkan adukan beton kedalam cetakan silinder ø 10 cm x 20 cm. Beton selama 24 jam dalam kondisi suhuruang, setelah 24 jam cetakan beton dibuka dan rendam benda uji di dalam kolam perendaman sampai satu hari sebelum benda uji akan diuji kuat tekan, porositas dan permeabilitas beton. Hasil pengujian karakteristik beton terhadap kuat tekan menunjukkan peningkatan pada umur 7 hari, sedangkan pada umur 14 hari ke 28 hari masih mengalami penurunan pada kuat tekan beton. Pengujian porositas dan permeabilitas beton pada umur 14 dan 28 hari mengalami penuruan yang tidak terlalu signifikan. Pada umur 14 hari presentase pencapaian kuat tekan sebesar 21,90 MPa dan 28 hari nilai kuat tekan 23,98 MPa untuk beton normal. Kata kunci : kuat tekan, nanosilika komersial, permeabilitas, porositas. Abstract The addition of nano-silica to the mixture of concrete can strenghten the density on Interfacial Transition Zone (ITZ) and permeability of concrete. The purpose of this research was to determine the compressive strength, porosity and permeability of concrete after the addition of nano-silica. The testing of test specimens uses cylinder with the diameter of 10 cm and height of 20 cm, and the compressive strength, porosity, and permeability test is carried out at 7, 14, and 28 days after the concrete is made, with the addition of 4%; 6%; and 8% of the concrete weight. Preparing material needed according to the mix design, wet the cement mixer, the add sand and cement firsly, then add gravel. After the slump value is acquired, the cement mixture is poured to the ø 10 cm cylinder mold with the height of 20 cm. Let the concrete at room temperature, and after 24 hours open the mold and submerge the specimens in immersion pool for a day before the specimen will undergo the compressive strength, porosity and permeability test. The result of testing concrete characteristics of compressive strength shows an increase at the 7th day, and shows decrease at the 14th and 28th day. The porosity and permeability testing shows unsignificant decrease at the 14th and 28th day. At the 14th day, the percentage of normal concrete?s compressive strength reach 21,90 MPa and 23,98 MPa for the 28th day. . Keywords : commercial nanosilica, compressive strength, permeability, porosity.

Page 2 of 3 | Total Record : 27