cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
IDENTITAET
ISSN : 23022841     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Online "Identitaet" diterbitkan oleh Program Studi S-1 Sastra Jerman Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya sebagai media untuk menampung karya ilmiah dalam bidang bahasa dan sastra Jerman yang dihasilkan oleh sivitas akademika. Jurnal Online "Identitaet" juga dimaksudkan sebagai sarana pertukaran informasi dan sumber rujukan yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan oleh seluruh bagian sivitas akademika dan juga masyarakat umum. Jurnal Online "Identitaet" terbit tiga kali dalam setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2020)" : 11 Documents clear
IMPLIKATUR KONVENSIONAL DALAM DONGENG DER SINGENDE KNOCHEN KARYA BRÜDER GRIMM MUNTADIROH, FAIZUN
IDENTITAET Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pragmatik merupakan studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur dan disampaikan oleh pendengar. Sebagai studi ini lebih banyak terkait dengan analisis tentang apa yang dimaksud orang dengan tuturan-tuturannya dari pada dengan makna yang terpisah dari kata atau frasa. Implikatur konvensional adalah ujaran yang mengandung maksud tertentu dan bersifat umum. Penelitian ini bertujuan untuk: 1.) memaparkan maksud tuturan yang mengandung implikatur konvensional dalam dongeng der singende knochen karya Brüder Grimm. 2.) memaparkan fungsi tuturan yang mengandung implikatur konvensional dalam dongeng der singende knochen karya Brüder Grimm .3) mendeskripsikan jenis tuturan yang mengandung implikatur konvensional dalam dongeng der singende knochen karya Brüder Grimm. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode baca. Hasil penelitian ini terdapat 9 tuturan yaitu, (1) maksud implikatur konvensional sesuai definisi yang dilakukan mengenai maksud, 1 tuturan maksud peraturan, 1 tuturan maksud ras iri / dengki, 1 tuturan maksud melakukan tindakan kriminal, 1 maksud tuturan yang memberikan informasi. (2) fungsi implikatur konvensional dalam dongeng der singende knochenKarya Brüder Grimm dapat dikategorikan menjadi tiga fungsi yaitu, 1. implikatur yang berfungsi komisif, 1 tuturan menjanjikan. 2. implikatur yang bekerja direktif 1 tuturan memberi nasihat. 3. implikatur yang mengerjakan ekspresif, 1 tuturan ucapan terima kasih. (3) jenis tuturan yang mengandung implikatur konvensional dalam dongeng der singende knochen karya Brüder Grimm. Berdasarkan hasil klasifikasi yang telah dilakukan dalam dua klasifikasi, 1 jenis tuturan deklaratif (pernyataan), 1 jenis tuturan imperatif (perintah). Kata Kunci: Implikatur konvensional, Pragmatik, Der Singende Knochen Abstrak Pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur dan ditafsirkan oleh pendengar. Sebagai hasil dari studi-studi ini, banyak yang berhubungan dengan analisis tentang apa artinya bagi orang dengan tuturan-tuturannya daripada dengan makna kata atau frasa individual. Implikatur adalah bahasa konvensional yang mengandung maksud spesifik dan sifat umum. Penelitian ini bertujuan untuk: 1.), menjelaskan maksud pidato dengan implikasi konvensional dalam dongeng The Singing bone karya Brothers Grimm. 2.), menjelaskan fungsi ujaran implikasi Brother Grimm yang biasa dalam dongeng The Singing bone bekerja. 3) mendeskripsikan jenis pidato yang secara implisit terkandung dalam dongeng tulang bernyanyi karya Brothers Grimm. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode membaca. Hasil penelitian ini terdapat 9 bahasa, yaitu, (1) berarti implikatur konvensional berdasarkan klasifikasi yang dilakukan ada empat niat, 1 ucapan aturan saya, 1 ucapan niat, ras, iri / iri, 1 ucapan niat Tindak Pidana, 1 pidato saya, memberikan informasi. (2) fungsi yang biasa implikatur dalam dongeng Singing Bones dapat dibagi menjadi tiga fungsi, yaitu 1. implikatur yang melayani komisif, 1 janji janji. 2. Implikasi yang melayani nasihat linguistik Directive 1. 3. implikatur yang melayani pidato ekspresif, 1 penerimaan. (3) jenis pidato yang secara konvensional memasukkan implikatur dalam dongeng Singing Bones karya Brothers Grimm. Berdasarkan hasil klasifikasi yang dilakukan, Kata kunci: Implikatur Konvensional, Pragmatik, Der Singende Knochen
IMPLIKATUR KONVENSIONAL DALAM DONGENG DER SINGENDE KNOCHEN KARYA BRÜDER GRIMM MUNTADIROH, FAIZUN
IDENTITAET Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pragmatik merupakan studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur dan disampaikan oleh pendengar. Sebagai studi ini lebih banyak terkait dengan analisis tentang apa yang dimaksud orang dengan tuturan-tuturannya dari pada dengan makna yang terpisah dari kata atau frasa. Implikatur konvensional adalah ujaran yang mengandung maksud tertentu dan bersifat umum. Penelitian ini bertujuan untuk: 1.) memaparkan maksud tuturan yang mengandung implikatur konvensional dalam dongeng der singende knochen karya Brüder Grimm. 2.) memaparkan fungsi tuturan yang mengandung implikatur konvensional dalam dongeng der singende knochen karya Brüder Grimm .3) mendeskripsikan jenis tuturan yang mengandung implikatur konvensional dalam dongeng der singende knochen karya Brüder Grimm. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode baca. Hasil penelitian ini terdapat 9 tuturan yaitu, (1) maksud implikatur konvensional sesuai definisi yang dilakukan mengenai maksud, 1 tuturan maksud peraturan, 1 tuturan maksud ras iri / dengki, 1 tuturan maksud melakukan tindakan kriminal, 1 maksud tuturan yang memberikan informasi. (2) fungsi implikatur konvensional dalam dongeng der singende knochenKarya Brüder Grimm dapat dikategorikan menjadi tiga fungsi yaitu, 1. implikatur yang berfungsi komisif, 1 tuturan menjanjikan. 2. implikatur yang bekerja direktif 1 tuturan memberi nasihat. 3. implikatur yang mengerjakan ekspresif, 1 tuturan ucapan terima kasih. (3) jenis tuturan yang mengandung implikatur konvensional dalam dongeng der singende knochen karya Brüder Grimm. Berdasarkan hasil klasifikasi yang telah dilakukan dalam dua klasifikasi, 1 jenis tuturan deklaratif (pernyataan), 1 jenis tuturan imperatif (perintah). Kata Kunci: Implikatur konvensional, Pragmatik, Der Singende Knochen Abstrak Pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur dan ditafsirkan oleh pendengar. Sebagai hasil dari studi-studi ini, banyak yang berhubungan dengan analisis tentang apa artinya bagi orang dengan tuturan-tuturannya daripada dengan makna kata atau frasa individual. Implikatur adalah bahasa konvensional yang mengandung maksud spesifik dan sifat umum. Penelitian ini bertujuan untuk: 1.), menjelaskan maksud pidato dengan implikasi konvensional dalam dongeng The Singing bone karya Brothers Grimm. 2.), menjelaskan fungsi ujaran implikasi Brother Grimm yang biasa dalam dongeng The Singing bone bekerja. 3) mendeskripsikan jenis pidato yang secara implisit terkandung dalam dongeng tulang bernyanyi karya Brothers Grimm. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode membaca. Hasil penelitian ini terdapat 9 bahasa, yaitu, (1) berarti implikatur konvensional berdasarkan klasifikasi yang dilakukan ada empat niat, 1 ucapan aturan saya, 1 ucapan niat, ras, iri / iri, 1 ucapan niat Tindak Pidana, 1 pidato saya, memberikan informasi. (2) fungsi yang biasa implikatur dalam dongeng Singing Bones dapat dibagi menjadi tiga fungsi, yaitu 1. implikatur yang melayani komisif, 1 janji janji. 2. Implikasi yang melayani nasihat linguistik Directive 1. 3. implikatur yang melayani pidato ekspresif, 1 penerimaan. (3) jenis pidato yang secara konvensional memasukkan implikatur dalam dongeng Singing Bones karya Brothers Grimm. Berdasarkan hasil klasifikasi yang dilakukan, Kata kunci: Implikatur Konvensional, Pragmatik, Der Singende Knochen
FEMINISME LIBERAL DALAM FILM DIE GÖTTLICHE ORDNUNG KARYA PETRA B. VOLPE MAULIDA RAHMAWATI, YULIA
IDENTITAET Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film merupakan karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan sebagai media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan. Dalam sebuah film juga terdapat unsur intrinsik yang tidak dapat dipisahkan seperti jalan cerita, konflik hingga karakteristik setiap tokoh, sehingga terdapat berbagai macam jalan cerita dalam sebuah film yang setidaknya juga akan mengandung permasalahan dengan tujuan untuk menarik perhatian para penonton. Salah satunya adalah masalah feminisme yang terdapat di film Die göttliche Ordnung karya Petra B. Volpe. Film ini mengangkat isu feminisme yang digambarkan oleh Nora sebagai tokoh utama film tersebut. Penelitian yang menggunakan film Die göttliche Ordnung ini bertujuan agar para pembaca mengetahui gambaran feminisme liberal melalui tokoh utama Nora dalam film Die göettliche Ordnung. Teori yang digunakan adalah teori milik Rosemary Putnam Tong tentang berbagai macam hak perempuan yang diperjuangkan melalui feminisme liberal. Metode penelitiannya adalah teknik analisis data kualitatif. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dalam film Die göttliche Ordnung terdapat 6 (enam) gambaran feminisme liberal berdasarkan dialog dan peristiwa yang berkaitan dengan Nora sebagai tokoh utama film tersebut. Kata Kunci: Film, Feminisme, Die göttliche Ordnung
FEMINISME LIBERAL DALAM FILM DIE GÖTTLICHE ORDNUNG KARYA PETRA B. VOLPE MAULIDA RAHMAWATI, YULIA
IDENTITAET Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film merupakan karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan sebagai media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan. Dalam sebuah film juga terdapat unsur intrinsik yang tidak dapat dipisahkan seperti jalan cerita, konflik hingga karakteristik setiap tokoh, sehingga terdapat berbagai macam jalan cerita dalam sebuah film yang setidaknya juga akan mengandung permasalahan dengan tujuan untuk menarik perhatian para penonton. Salah satunya adalah masalah feminisme yang terdapat di film Die göttliche Ordnung karya Petra B. Volpe. Film ini mengangkat isu feminisme yang digambarkan oleh Nora sebagai tokoh utama film tersebut. Penelitian yang menggunakan film Die göttliche Ordnung ini bertujuan agar para pembaca mengetahui gambaran feminisme liberal melalui tokoh utama Nora dalam film Die göettliche Ordnung. Teori yang digunakan adalah teori milik Rosemary Putnam Tong tentang berbagai macam hak perempuan yang diperjuangkan melalui feminisme liberal. Metode penelitiannya adalah teknik analisis data kualitatif. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dalam film Die göttliche Ordnung terdapat 6 (enam) gambaran feminisme liberal berdasarkan dialog dan peristiwa yang berkaitan dengan Nora sebagai tokoh utama film tersebut. Kata Kunci: Film, Feminisme, Die göttliche Ordnung
FEMINISME LIBERAL DALAM FILM DIE GÖTTLICHE ORDNUNG KARYA PETRA B. VOLPE MAULIDA RAHMAWATI, YULIA; DYAH WOROHARSI PARNANINGRUM, RR
IDENTITAET Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film merupakan karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan sebagai media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan. Dalam sebuah film juga terdapat unsur intrinsik yang tidak dapat dipisahkan seperti jalan cerita, konflik hingga karakteristik setiap tokoh, sehingga terdapat berbagai macam jalan cerita dalam sebuah film yang setidaknya juga akan mengandung permasalahan dengan tujuan untuk menarik perhatian para penonton. Salah satunya adalah masalah feminisme yang terdapat di film Die göttliche Ordnung karya Petra B. Volpe. Film ini mengangkat isu feminisme yang digambarkan oleh Nora sebagai tokoh utama film tersebut. Penelitian yang menggunakan film Die göttliche Ordnung ini bertujuan agar para pembaca mengetahui gambaran feminisme liberal melalui tokoh utama Nora dalam film Die göettliche Ordnung. Teori yang digunakan adalah teori milik Rosemary Putnam Tong tentang berbagai macam hak perempuan yang diperjuangkan melalui feminisme liberal. Metode penelitiannya adalah teknik analisis data kualitatif. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dalam film Die göttliche Ordnung terdapat 6 (enam) gambaran feminisme liberal berdasarkan dialog dan peristiwa yang berkaitan dengan Nora sebagai tokoh utama film tersebut. Kata Kunci: Film, Feminisme, Die göttliche Ordnung
METAFORA KEMATIAN PADA ANTOLOGI PUISI NUR EIN DUFT UND WINDESWEHEN NUSHANTARI, BELLA
IDENTITAET Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makna figuratif atau kiasan yang berupa metafora, sebagai perangkat bahasa yang banyak digunakan dalam penulisan puisi. Metafora difungsikan untuk menghindari penggunaan kata yang monoton yang dapat menimbulkan kejenuhan para pembaca dalam menikmati karya puisi. Sehingga dalam penelitian ini mengangkat metafora kematian pada puisi-puisi kematian yang terdapat dalam antologi puisi ?Nur Ein Duft und Windeswehen? karya Hermann Hesse. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang jenis-jenis metafora kematian dan kekuatan yang mendukung terbentuknya metafora dalam puisi-puisi kematian pada antologi puisi Nur Ein Duft, Und Windeswehen. Di dalam proses penelitian ini mendeskripsikan jenis metafora kematian dan bentuk kekuatan yang terdapat didalam metafora menggunakan teori dari Lakoff dan Turner. Jenis penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah puisi-puisi kematian dalam antologi puisi ?Nur Ein Duft und Windeswehen? karya Hermann Hesse. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa kata atau kalimat dalam setiap larik puisi kematian yang teridentifikasi adanya metafora kematian. Hasil dari penelitian ini terdapat 14 kata atau kalimat yang memuat 6 jenis metafora kematian, yakni: mati adalah keberangkatan (3); mati adalah pergi ke tujuan akhir (4); mati adalah tidur (3); mati adalah kehilangan cairan (1); mati adalah pembebasan (1); dan, mati adalah kegelapan (2). Dan terdapat 4 kekuatan metafora yang dimanfaatkan Hermann Hesse dalam penggunaan metafora kematian dalam puisinya, yakni: kekuatan struktur (5); kekuatan pilihan (2); kekuatan alasan (3); kekuatan evaluasi (1). Kata kunci : Metafora, Puisi, kematian.
PRESUPOSISI DALAM CERITA PENDEK “DIE REISE ZUM MITTELPUNKT DER ERDE” KARYA JULES VERNE” RAISHA WINARYADI, DIVINA
IDENTITAET Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pragmatik merupakan salah satu cabang linguistik yang membahas mengenai hubungan antara bahasa dan konteks yang menjadi dasar penjelasan pengertian bahasa. Pemahaman bahasa merujuk kepada fakta bahwa untuk mengerti suatu ungkapan atau ujaran bahasa diperlukan pengetahuan tentang hubungan dengan konteks-konteks pemakaiannya. Kajian pragmatik meliputi deiksis, implikatur, presuposisi, tindak tutur dan aspek-aspek struktur wacana lainnya. Presuposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebelum disampaikan kepada mitra tutur sebagai tindakan yang menghasilkan suatu tuturan. Presuposisi memiliki rujukan atau referensi dasar, rujukan tersebut berbentuk indikator. Melalui indikator tersebut penelitian ini akan memberi jalan penganalisisan bagaimana mitra tutur mengerti maksud penutur. Presuposisi tidak hanya dapat ditemukan dalam bentuk komunikasi lisan, melainkan dapat juga ditemukan dalam media cetak, contohnya cerpen. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah cerita pendek bergenre fiksi Die Reise zum Mittelpunkt der Erde yang merupakan salah satu karya Jules Verne. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis presuposisi yang terdapat dalam cerita pendek Die Reise zum Mittelpunkt der Erde karya Jules Verne. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan metode kualitatif. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa teknik catat. Peneliti mencatat data-data yang mengdung indikator praanggapan dalam cerita pendek Die Reise zum Mittelpunkt der Erde karya Jules Verne. Pada penelitian ini ditemukan sebelas data berupa tuturan yang mengandung indikator presuposisi, yaitu: dua (2) data presuposisi Eksistensial, satu (1) data presuposisi Leksikal, tujuh (7) data presuposisi Struktural, dan satu (1) data presuposisi Non faktual. Kata Kunci: presupposisi, pragmatik, Die Reise zum Mittelpunkt der Erde.
PERKEMBANGAN MORFOSINTAKSIS SATUAN BAHASA DARUM DALAM BUKU AJAR NETZWERK RIA CHINTIA, NADYA
IDENTITAET Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Satuan bahasa darum merupakan satuan bahasa yang bisa digunakan sebagai adverbia atau sebagai konjungsi. Dua fungsi satuan bahasa darum sangat menarik untuk dikaji yang penggunaannya ditemukan dalam buku Netzwerk. Meskipun demikian buku tersebut juga mendeskripsikan fungsi satuan bahasa darum. Namun kajian struktur satuan bahasa darum dalam buku ini memiliki keterbatasan. Keterbatasan ini dapat bersifat perubahan kajian, perubahan strukturnya belum pernah dikaji. Berdasarkan permasalahan ini, penelitian ini fokus untuk mendeskripsikan ciri adverbia, ciri konjungsi satuan bahasa darum dan perkembangan struktur satuan bahasa darum secara paradigmatis dan sintagmatis. Dalam penelitian ini data yang digunakan ialah kalimat dalam buku Netzwerk menggunakan teknik catat dengan metode deskriptif kualitatif. Data yang sudah diperoleh dianalisis menggunakan teori adverbia dan teori konjungsi dari Valdon? beserta teori gramatikalisasi dari Henn-Memmesheimer. Berdasarkan penggunaan teori adverbia menurut Valdon?, satuan bahasa darum memiliki ciri adverbia darum: satuan bahasa darum bisa menempati posisi vorfeld atau mittelfeld dan ketika satuan bahasa darum berada dalam kalimat tidak akan menyebabkan perubahan pola urutan kata. Berbeda degan adverbia, satuan bahasa darum sebagai konjungsi menghubungkan dua kalimat, satuan bahasa darum sebagai konjungsi menempati posisi pada vorfeld dan mengalami inversi. Hasil dari penelitian ini adalah satuan bahasa darum pada bidang morfosintaksis secara paradigmatis memiliki struktur lama ketika berposisi sebagai adverbia dan memiliki struktur baru ketika berposisi sebagai konjungsi. Berbeda dengan paradigmatis, secara sintagmatis satuan bahasa darum memiliki struktur lama jika sebagai adverbia. Karena tidak mempunyai ketergantungan. Ketika berfungsi sebagai konjungsi memiliki struktur baru karena bergantung pada satuan bahasa lainnya dan mempunyai pola urutan kata terbatas. Kata Kunci: darum, adverbia, konjungsi
PERKEMBANGAN MORFOSINTAKSIS SATUAN BAHASA DARUM DALAM BUKU AJAR NETZWERK RIA CHINTIA, NADYA
IDENTITAET Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Satuan bahasa darum merupakan satuan bahasa yang bisa digunakan sebagai adverbia atau sebagai konjungsi. Dua fungsi satuan bahasa darum sangat menarik untuk dikaji yang penggunaannya ditemukan dalam buku Netzwerk. Meskipun demikian buku tersebut juga mendeskripsikan fungsi satuan bahasa darum. Namun kajian struktur satuan bahasa darum dalam buku ini memiliki keterbatasan. Keterbatasan ini dapat bersifat perubahan kajian, perubahan strukturnya belum pernah dikaji. Berdasarkan permasalahan ini, penelitian ini fokus untuk mendeskripsikan ciri adverbia, ciri konjungsi satuan bahasa darum dan perkembangan struktur satuan bahasa darum secara paradigmatis dan sintagmatis. Dalam penelitian ini data yang digunakan ialah kalimat dalam buku Netzwerk menggunakan teknik catat dengan metode deskriptif kualitatif. Data yang sudah diperoleh dianalisis menggunakan teori adverbia dan teori konjungsi dari Valdon? beserta teori gramatikalisasi dari Henn-Memmesheimer. Berdasarkan penggunaan teori adverbia menurut Valdon?, satuan bahasa darum memiliki ciri adverbia darum: satuan bahasa darum bisa menempati posisi vorfeld atau mittelfeld dan ketika satuan bahasa darum berada dalam kalimat tidak akan menyebabkan perubahan pola urutan kata. Berbeda degan adverbia, satuan bahasa darum sebagai konjungsi menghubungkan dua kalimat, satuan bahasa darum sebagai konjungsi menempati posisi pada vorfeld dan mengalami inversi. Hasil dari penelitian ini adalah satuan bahasa darum pada bidang morfosintaksis secara paradigmatis memiliki struktur lama ketika berposisi sebagai adverbia dan memiliki struktur baru ketika berposisi sebagai konjungsi. Berbeda dengan paradigmatis, secara sintagmatis satuan bahasa darum memiliki struktur lama jika sebagai adverbia. Karena tidak mempunyai ketergantungan. Ketika berfungsi sebagai konjungsi memiliki struktur baru karena bergantung pada satuan bahasa lainnya dan mempunyai pola urutan kata terbatas. Kata Kunci: darum, adverbia, konjungsi
PERKEMBANGAN MORFOSINTAKSIS SATUAN BAHASA DAMIT DALAM BUKU NETZWERK FRANSISKA CAHYANINGTYAS, MARIA
IDENTITAET Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Satuan linguistik dalam bahasa Jerman dapat dianalisis secara independen yang berfungsi sebagai adverbia dan secara dependen yang berfungsi sebagai konjungsi. Data penelitian satuan linguistik damit ini berupa kalimat pada buku pembelajaran bahasa Jerman, khususnya buku Netzwerk. Tentu saja kajian pada bidang morfosintaksis ini belum dilakukan kajian secara detail pada buku ajar Netzwerk A2 dan B1 baik Kursbuch maupun Arbeitsbuch sehingga akan sangat menarik jika dikaji lebih mendalam dan lebih seksama khususnya pada satuan bahasa damit. Penelitian ini tidak hanya berfokus pada fungsi satuan linguistik, melainkan juga menganalisis perkembangan struktur linguistik yang terbatas pada bidang morfosintaksis secara paradigmatis dan sintagmatis. Tak lepas dari itu, penelitian yang dikaji termasuk pada penelitian deskriptif kualitatif yang mengalami proses penelitian dan pemahaman terhadap gambaran kompleks mengenai kata-kata serta studi pada situasi yang alami. Terdapat beberapa tahapan penting dalam melakukan penelitian, yakni tahap pengumpulan data dan tahap analisis data. Tahap pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik catat. Melalui teknik catat diperoleh data berupa sepuluh kalimat bahasa Jerman dari buku Netzwerk A2 dan B1 baik Kursbuch maupun Arbeitsbuch tahun 2017. Pada tahap berikutnya, yakni tahap analisis data. Penelitian ini menggunakan teori adverbia dan teori konjungsi menurut Eisenberg, serta untuk mendeskripsikan dan menganalisis perkembangan struktur satuan linguistik damit menggunakan teori gramatikalisasi menurut Henn-Memmesheimer. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan fungsi satuan linguistik sebagai adverbia dan konjungsi serta perkembangan satuan linguistik damit pada bidang morfosintaksis secara paradigmatis maupun sintagmatis. Selanjutnya, berbasis pada teori Eisenberg hasil yang diperoleh dari penelitian ini berupa satuan linguistik damit yang berfungsi sebagai adverbia memiliki ciri pola urutan kata yang tidak terbatas dan kedudukannya tidak dipengaruhi oleh kata kerja. Selain sebagai adverbia, damit juga dapat berfungsi sebagai konjungsi yang memiliki pola urutan kata relatif tetap dan tidak mengalami infleksi. Sedangkan berdasarkan teori gramatikalisasi Henn-Memmesheimer hasil yang diperoleh pada penelitian yaitu satuan linguistik damit sebagai adverbia secara paradigmatik bergramatikalisasi lemah karena memiliki hubungan yang tidak terbatas dan satuan linguistik tersebut dapat disubstitusikan dengan satuan linguistik yang lain. Sedangkan damit sebagai konjungsi secara paradigmatis bergramatikalisasi kuat karena memiliki hubungan yang terbatas dan memiliki keterbatasan konkurensi jika disubstitusikan dengan satuan linguistik lain. Sejalan dengan hal itu, damit sebagai adverbia secara sintagmatis bergramatikalisasi lemah karena damit tidak bergantung pada satuan linguistik lain dan memiliki pola urutan kata yang bebas. Terakhir, damit sebagai konjungsi secara sintagmatis bergramatikalisasi kuat karena satuan linguistik tersebut bergantung pada satuan linguistik lain dan memiliki pola urutan kata yang relatif tetap. Kata kunci: damit, adverbia, konjungsi, teori gramatikalisasi

Page 1 of 2 | Total Record : 11