cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
languagehorizon@unesa.ac.id
Editorial Address
https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/language-horizon/about/editorialTeam
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Language Horizon: Journal of Language Studies
ISSN : -     EISSN : 23562633     DOI : -
Core Subject : Education,
Language Horizon is a peer-reviewed academic journal dedicated to publishing high-quality original research articles that explore a wide range of topics related to language and communication, with a particular emphasis on: Linguistics Phonetics and Phonology Morphology and Syntax Semantics and Pragmatics Sociolinguistics Psycholinguistics Corpus Linguistics Language Acquisition Language Typology Historical Linguistics Discourse Analysis Text Analysis Critical Discourse Analysis Conversation Analysis Narrative Analysis Multimodal Discourse Analysis Discourse and Social Interaction Discourse and Power Discourse and Ideology Translation Studies Translation theory and methodology Translation across different languages and contexts Literary translation Audiovisual translation Machine translation Corpus-Based Translation
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2016):" : 12 Documents clear
THE USE OF SLANG WORDS BY GAMERS IN THE GAME ONLINE YOGA SURYANTO, GALIH
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 1 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) mengidentifikasi jenis-jenis slang yang digunakan oleh gamers dalam komunitas game online, (2) memahami konteks dalam penggunaan slang words oleh gamers, (3) mengungkap alasan penggunaan slang words oleh gamers, (4) menganalisis dampak penggunaan slang words terhadap gamers lainnya. Penelitian ini menggunakan kajian dari beberapa konsep yakni, konsep Zotevska tentang ragam dan keunikan slang, yang akan didukung dengan konsep konteks sosial dan variasi bahasa yang dikemukakan oleh Hudson. Guna mendukung konsep penggunaan bahasa, penelitian ini akan menggunakan konsep Croft mengenai masyarakat penutur dan kaitan antara bahasa dengan masyarakat yang dikemukakanolehWardhaugh. Lebih jauh, penelitian ini akan didukung juga dengan konsep game online yang dirumuskan oleh Crawford serta Castranova. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini memilih subjek yang tergabung dalam komunitas “Clash World” dalam permainan Clash of Clans. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan online observation. Peneliti bergabung dalam komunitas yang dimaksud, serta interview yang dilakukan kepada gamers. Hasil penelitian ini menunjukkan, penggunaan slang words dalam komunitas game online Clash of Clans memiliki beberapa varian, antara lain: blending, acronyms, abbreviation, misspelling, swearing words. Lebih jauh, game online merupakan “rumah kedua” bagi gamers. Mereka bisa mendapatkan identitas baru di dalamnya. Beberapa modal simbolik yang bisa diraih dari game online ini (avatar, nama karakter, gaya bicara), mendukung gamers untuk merengkuh dan membentuk identitas barunya. Penggunaan slang dalam komunitas game online adalah sebuah variasi bahasa yang diperoleh dari kelompok penutur. Slang menjadi berbeda dari bahasa konvensional dan bahasa formal, dan ini hanya bisa dipahami oleh seluruh anggota komunitas game online “Clash of Clans”. Kata Kunci: slang, variasi bahasa, game online, identitas virtual   Abstract The aims of this study are to: (1) identify the types of slang used by gamers in the online gaming community, (2) understand the context of the use of slang words by gamers, (3) uncovering the reason for the use of slang words by gamers, (4) analyze the impact of the use of slang words against other gamers. The concept used in this study is slang diversity and uniqueness by Zotevska, which is supported by the concept of social context and variation of language. This study used qualitative methods, and subject of this study are the members of the community "Clash World" in the game Clash of Clans. Data was collected by online observation. The researchers joined the community in question, as well as interviewed gamers. The results of this study showed that the use of slang words in the online gaming community Clash of Clans had several variants, among others: blending, acronyms, abbreviation, misspelling, swearing words. Furthermore, online gaming is a “secondary home" for gamers, in which they get a new identity. This study concluded that various symbolic capital to be gained from online games (avatar, character names, style of speech), supporting gamers to embrace and form a new identity. The use of slang in the online gaming community was a variety of language that come from a group. Slang as a language that is different from the conventional order of language, was only understood by members of the "Clash of Clans" community. Keywords: slang, language variation, online game, virtual identity
LANGUAGE CONVERGENCE OF ENGLISH NATIVE TEACHERS AT THEIR WORKPLACE YUSNANDA, ALVIONITA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 1 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Studi ini fokus pada konvergensi bahasa yang dilakukan oleh dua pekerja migran, guru native bahasa Inggris berkebangsaan Inggris terhadap pekerja lokal di EF Pakuwon Trade Centre, Surabaya. Pekerja lokal diartikan sebagai pekerja EF berdasarkan divisi staf, yaitu: (1) guru lokal; (2) konsultan kursus lokal; (3) office boy lokal; and (4) orang tua murid sebagai konsumen yang statusnya tertinggi dalam dunia kerja. Konvergensi mencerminkan usaha guru native bahasa Inggris sebagai speaker dalam menurunkan gaya bahasa untuk beradaptasi dengan lawan bicara yang kemampuannya berbeda dalam memahami bahasa Inggris sebab bahasa pertama lawan bicara adalah bahasa Indonesia. Studi ini menggunakan teori akomodasi oleh Giles (1975), SPEAKING model oleh Hymes (1974), dan konteks sosial dalam bahasa, dimensi sosial oleh Holmes (1992). Analisis dalam studi ini berisi penjabaran dari bagaimana guru native bahasa Inggris mengkonvergensi bahasa mereka terhadap para pekerja local. Riset ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan transkripsi orthographic yang dikembangkan oleh Gail Jefferson (Wray, Trott, Bloomer, Reay, & Butler, 1998; Litosseliti, 2010). Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa dalam mengkonvergensi bahasa, pembicara memiliki pola yang sama dari: penggunaan intonasi yang tinggi; pertimbangan pola tata bahasa dalam percakapan yang pada dasarnya, tidak semua lawan bicara memahami pengginaan tata bahasa dalam bahasa Inggris; penggunaan medium verbal dan non-verbal dalam percakapan yaitu, gestur dan verbal fillers; penerapan penurunan kecepatan berbicara; penggunaan panjang ucapan yang normal pada kalimat-kalimat complex dan compound; dan penerapan pause per kata. Di samping itu, mereka cenderung menghindari penggunaan dimensi sosial dalam berbicara. Tiga skala formalitas, keintiman, dan status tidak mempengaruhi perubahan kode dan pengucapan pembicara. Konvergensi bahasa berdampak terhadap bahasa Inggris yang diketahui oleh baik pembicara maupun lawan bicara. Sesuai dengan teori yang ada, studi ini mengusulkan bahwa tujuan konvergensi bahasa yang dilakukan oleh pekerja migran adalah untuk: (1) membangun hubungan emosional antara pembicara dan lawan bicara yang menandai kebutuhan pemahaman yang seringnya dilakukan secara tidak sadar dalam integrasi atau identifikasi sosial; (2) mempersilahkan lawan bicara atau member lawan bicara rasa nyaman dalam percakapan; (3) memenuhi persyaratan yang ditafsirkan oleh pendengar atau lawan bicara; (4) membuat komunikasi lebih mudah dipahami oleh lawan bicara atau sebaliknya; (5) dan diterima secara sosial.   Kata kunci: teori akomodasi, ,konvergensi, tempat bekerja.   Abstract This study focuses on language convergence done by two migrant workers, British English teachers toward Indonesian or local co-workers in EF (English First) at Pakuwon Trade Centre, Surabaya. The local co-workers are defined as EF employers based on staff division, they are: (1) local teachers; (2) local course consultants; (3) local office boys; and (4) EF student’s parents as the consumers whose status is the highest in business world. The convergence reflects the British English teachers’ effort as the speakers in lowering speech to adapt the interlocutors’ different skills of English comprehension as their mother language is bahasa Indonesia. This study uses theories of accommodation theory proposed by Giles (1975), SPEAKING tongue model proposed by Hymes (1974), and social context in language, social dimension proposed by Holmes (1992). The analysis of this study consists of elaboration on how English native teachers converge their language toward local workers. This research uses descriptive qualitative method using the orthographical transcription developed by Gail Jefferson (Wray, Trott, Bloomer, Reay, & Butler, 1998; Litosseliti, 2010). The result shows that in converging the language, the speakers have the same patterns of: using high intonation; considerating grammar pattern in conversation that in fact, not all of the interlocutors understand the use of grammars in English; using verbal and non-verbal medium in conversation, that are gestures and verbal fillers; applying adjustment of speech rate; using normal utterance lengths of complex and compound sentences; and applying pause per words. Besides, they tend to avoid the use of social dimension in speaking. The three scales of formality, intimacy, and status do not influence the speakers’ change of code and pronunciation. In line with the theories, this study proposes that the purposes of language convergence done are to: (1) build emotional link between speaker and interlocutor that reflects the needs of comprehension often non-conscious for social integration or identification; (2) please the interlocutors or putting them at ease; (3) meet the interpreted requirements of the listener; (4) make the communication more understandable to the partner or not; (5) and get social approval.   Keywords: accommodation theory, convergence, workplace.  
THE SUPPORT SYSTEM OF MOTHER IN CHILDREN’S FIRST LANGUAGE ACQUISITION: A CASE STUDY OF THREE VIDEOS UPLOADED IN YOUTUBE PRIMA CANTYA B., SONTA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 1 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sang anak biasanya mendapat kata pertama mereka dalam usia satu hingga tiga tahun. Banyak orang percaya bahwa di balik sukses seorang anak dalam mendapatkan kata pertama adalah ibunya. Tetapi, banyak diantara mereka tidak tahu seberapa jauh peran sang ibu dalam membantu sang anak meraih kata pertama. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui secara pasti peran seorang ibu dan efeknya kepada dalam meraih bahasa pertamanya. Studi ini menggunakan qualitatif deskriptif untuk melihat sejauh mana ikut berperannya seorang ibu dan juga perkembangan dari sang anak ketika terlibat dalam sebuah percakapan dengan ibunya. Setelah melakukan identifikasi di percakapan dan menklasifikasi usia dari sang anak dengan observasi yang dalam dan menggunakan metode tingkatan pemerolehan bahasa pertama dari Crystal, penulis beranggapan bahwa sang anak mampu memperoleh kata pertamanya dari kebiasaan. Sedangkan sang ibu hanya memberikan support dari sang anak dan melihat sejauh mana perkembangan yang dibuat oleh sang anak dalam percakapan. Jadi,  dalam kasus ini penulis beranggapan bahwa sang ibu merupakan sistem pendukung pemerolehan bahasa        Kata kunci: Peran, Pemerolehan bahasa,  Ibu, Anak     Abstract The child usually acquires their first word at age of one until three years old. Many people believe that behind the child’s success in acquire their first word is his or her mother. But, most people did not know how far does the role of mother to help the child in acquire their first word. The purpose of this study is to know what does the exact role of the mother and also the effect to her child in acquire their first word. This study is uses descriptive qualitative to see how far does the mother’s involvement and also the development of the child in his or her conversation with the mother. after identified the conversation with their mother and classified the age of children by deep observation and method from crystal’s stages of language acquisition, the writer found that the child can develop in acquire new word in behaviour way, the mother then can only provide the support for their child and see the improvement that the child has make. So, in this case the writer concludes that the mother can be describe as LASS (Language Acquisition Support System).           Keywords: Role, First Language Acqusition, Mother, Child
DISCOURSE MARKERS IN THE TOP FIVE BRANDS’ SLOGAN ON WEBSITE ADVERGIZE.COM FAUZI SUSILO HAMID, MUHAMMAD
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 1 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini pada dasarnya mempermasalahkan cara slogan dari merek-merek terkenal untuk dapat bertahan dan bahkan berkembang luas karena keberhasilan merek tidak bisa dilepaskan dari slogannya. Slogan memiliki dampak untuk membuat merek menjadi terkenal seperti yang didaftar oleh advergize.com. Oleh karena itu, sangat penting untuk melihat slogan-slogan sebagai bagian penting dari branding, terutama jika dilihat dari wacana dibalik slogan-slogan tersebut. Deborah Schiffrin menjelaskan wacana melalui penandanya; bahasa (struktur), makna (semantik/bahasa kiasan) dan konteks sosial, yang kemudian dapat dipermasalahkan menjadi tiga pertanyaan; (1) bagaimana bentuk kalimat yang digunakan dalam slogan lima merek yang ada di website advergize.com? (2) bagaimana makna ditemukan dalam slogan lima merek yang ada di website advergize.com? dan (3) Bagaimana konteks sosial membentuk wacana di slogan lima merek yang ada di website advergize.com? Metode yang digunakan adalah kualitatif dan data yang diambil berasal dari lima merek yang didaftar oleh website. Data diklasifikasikan dan kemudian dianalisis. Berdasarkan apa yang peneliti menemukan dalam analisis ini, slogan-slogan dari merek-merek terkenal di atas memiliki tiga penanda seperti yang telah diuraikan secara teoritis dan ketiganya saling terhubung satu sama lain; linguistik, makna, dan konteks sosial. Akhirnya, ditemukan bahwa penanda wacana dapat mempengaruhi keberhasilan slogan karena di balik slogan-slogan, ada kekuatan dan kekuasaan yang mengacu pada wacana di balik itu. Kata kunci: slogan, penanda wacana, bahasa, makna dan konteks sosial.     Abstract This study basically problematizes the way slogans of famous brands can survive and even expand broadly because the success of brands cannot be released from its slogans. The slogans have the impact to make the brands to be famous as it is enlisted by advergize.com. Therefore, it is very important to see slogans as the major part of branding, especially if it is seen from the discourse behind the slogans. Deborah Schiffrin clarifies discourse through its markers; language (structure), meaning (semantic/figurative language) and social context. Thus, it can be problematized in to three questions; (1) how is the form of sentence used in the top five brands’ slogan on website advergize.com? (2) how is the meaning found in the top five brands’ slogan on website advergize.com? and (3) How does the social context form the discourse in the top five brands’ slogan on website advergize.com? The method that is used qualitative and the data are taken occasionally from the top five brands listed by the website. The data are classified and then it is analyzed. Based on what the researcher finds in this analysis, the slogans of the top famous brands own three markers as it has been elaborated theoretically and those three are connected to each other; they are linguistics, meaning, and social contexts. Finally, it is found that discourse markers can affect to the success of the slogans because behind the slogans there is power and the power refers to the discourses behind it. Keywords: slogan, discourse markers, language, meaning and social context.
POLITENESS STRATEGIES USED BY THE CHARACTERS TO THE HIJACKERS IN CAPTAIN PHILLIPS’S MOVIE HADID WIJAYANA, M
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 1 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Didalam setiap interaksi, orang-orang selalu melakukan sebuah komunikasi dengan orang lain. Beberapa orang beranggapan bahwa terdapat sebuah komunikasi yang membutuhkan pemahaman yang lebih baik serta perlakuan tertentu seperti halnya dalam sebuah negosiasi. Dengan kata lain, terdapat dua komunikasi yaitu komunikasi biasa dan tidak biasa. Tujuan dari penelitian ini untuk meneliti tipe-tipe strategi kesopanan yang digunakan oleh para karakter kepada para pembajak di dalam sebuah negosiasi. Ketika berkomunikasi di sebuah negosiasi, mereka mengaplikasikan strategi kesopanan dalam rangka mencapai tujuan tertentu dan alasan tertentu.  Salah satu tujuannya adalah mencoba untuk menyelesaikan konflik dengan baik-baik diantara pihak yang bersitegang melalui negosiasi. Didalam penyelesaian konflik tersebut, para karakter  menggunakan gaya konflik komunikasi yang cocok dalam negosiasi melalui strategi kesopanan. Tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk mengungkap fitur-fitur yang terdapat dalam gaya konflik komunikasi dimana hal tersebut membawa keberhasilan komunikasi itu. Disisi lain, penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif yang mendeskripsikan ucapan-ucapan yang ada di negosiasi untuk menganalisa strategi kesopanan yang digunakan oleh para karakter. Pengumpulan data yang digunakan berasal dari pengamatan pada ucapan-ucapan di dalam situasi negosiasi. Data yang dianalisis melewati proses pengkategorian, analisis dan diskusi. Terdapat 3 ucapan mengindikasikan adanya bebarapa gaya konflik komunikasi yang melekat pada strategi kesopanan yang memberikan pengaruh. Hal ini diakibatkan karena para karakter memberikan keberhasilan pada komunikasi disaat menggunakan strategi tersebut kepada para pembajak. Kata Kunci: negosiasi, strategi kesopanan, gaya komunikasi konflik.   Abstract In everyday interaction, people are always having a communication with others. It is some said that there is a requirement for better understanding and certain treatment for particular communication such as negotiation. On the other word, there is an usual and extraordinary from various kind of communication. The aim of this study is to reveal type of politeness strategies used by the characters to the hijcakers in the negotiation. When people communicate in a negotiation, they are apply strategy of politeness to attain particular purposes for particular reasons. One of the purpose in negotiation is trying to resolve the conflict between the parties in a good ending. In the way of resolve the conflict, the characters are select the appropriate conflict communication style in the middle of the negotiation which is occured in a certain situation such negotiation through the strategy of politeness. This study also aims to hit upon the features which are having affections to bring a successful communication. In addition, this study uses a descriptive qualitative research to describe the negotiation utterances to analyze the politeness strategy used by the characters. The data are collected from the observation on the utterances in negotiation situation in the movie of Captain Phillip. The data are analyzed through the process of categorizing, analyzing and discussing. From 12 data, the result of the study shows that there are 3 utterances which are analyzed in types of conflict communication style through strategies of politeness give influences. it is because the characters bring successful communication while using those strategy to the hijackers. Keywords: negotiation, polteness strategies, conflict communication style.
SPEECH INTERPRETATION THROUGH SPEECH STYLE USED BY THE EXCHANGE STUDENTS IN SURABAYA MEGA PURNAMASARI, NIMAS
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 1 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Interpretasi bahasa adalah cara untuk dapat menilai karakter dan sifat seseorang hanya dengan mendengar bagaimana cara mereka berbicara. Media untuk menginterpretasi bahasa adalah dengan menggunakan gaya bahasa. Hal ini merujuk pada pemahaman bahwa gaya bahasa dianggap sebagai karakter bicara yang hanya dimiliki oleh pembicara tertentu, diutarakan kepada lawan bicara tertentu dan juga didalam situasi tertentu. Faktanya, kaum muda cenderung membuat gaya bahasa menjadi lebih menarik karena kaum muda cenderung lebih mudah dalam menilai cara berbicara seseorang. Melalui riset ini, gaya bahasa tidak hanya dianalisis dari jenisnya saja, namun juga menguak arti dibalik gaya bahasa tersebut dan juga alasan-alasannya. Responden riset ini adalah enam orang pemuda pertukaran pelajar yang berasal dari negara berkebudayaan barat termasuk pemuda yang berasal dari Amerika, Brazil, Rusia dan India. Mereka semua adalah pemuda berusia 18 hingga 27 tahun. Metode kualitatif digunakan, mengingat data yang didapat bukan data angka maupun data statistic melainkan kata dan ujaran.  Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan juga wawancara. Rincian ujaran-ujaran yang diberikan oleh para responden dan analisis alasan dibalik interpretasi bahasa mereka juga disertakan. Interpretasi bahasa mereka didasarkan pada pengalaman, latar belakang, ketertarikan dan kecenderungan. Lebih dari itu, temuan bahwa gaya bahasa, sebagai media untuk menginterpretasi bahasa dapat pula dijadikan sebagai media untuk membangun citra diri sebagai alat untuk memperdaya. Kemudian, hubungan antara fitur bahasa, lawan bicara dan juga situasi saling berkaitan dalam proses interpetasi bahasa. .Tidak kalah pentingnya, kesetaraan dalam interpretasi bahasa juga dianalisis dalam riset ini. Kata Kunci: gaya bahasa, interpretasi bahasa, fitur bahasa.   Abstract Speech interpretation is the way of people interpret someone’s speech in order to give the judgment of personality or character just by hearing the way people is talking. The media to interpret speech is by using the speech style. This is due to the circumstances that speech style is considered as the way of speaking or characteristic that belongs to particular person spoken in particular interlocutor and situation. In fact, youth tend to make it more interesting because youth tend to be judgmental in interprets someone’s way of speaking. Through this study, the speech style will not be only analyzed into its type but also discover the meaning beyond speech style and also the reasons behind it. Participants of this study are six exchange students from western culture countries including American, Brazilian, Russian, and Indian. They are all youth in the age of 18-27. This study used qualitative method as the data is neither numerical nor statistical but primarily about word and utterances. Data collection technique used in this thesis is by using interview and observation. This study has broken down the speech style delivered by the participants to analyze the reason behind the interpretation. Their speech interpretation is based on the previous experience, background, interests and preference. Moreover, the finding of speech style, as the media of interpreting someone’s speech can make self imagery as the tools of deceiving. Then, the finding of some relations between the amounts of features of talk, interlocutor and situation are linked to each other as the process of interpreting speech. Last but not least, the equality of interpretation was also analyzed. Keywords: speech style, speech interpretation, features of talk    
AN ANALYSIS OF PRESUPPOSITION USED IN FIFT SHADES OF GREY BY E.L JAMES GIANTIKA CHANDRA, DHONI
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 1 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study is a descriptive qualitative study where it is designed to describe the case of the study by words or sentences rather than numbers. The object of the study is presuppositions which is found in Fifty Shades of Grey Novel and the existence of the complication of presupposition’s interpretation in the utterances and the cause. The reason why the writer use presupposition on Fifty Shades of Grey novel as the main object of this study is to find out the types of presupposition, the intended meaning of presupposition and the function of presupposition that are used in the Fifty Shades of Grey novel. From data collected, the writer found 31 presuppositions and the most dominant type of presupposition that used is factive presupposition, it is shown from the data that there are 13 factive presupposition and 3 presuppositions for counter factual presupposition and there are 9 lexical presuppositions from data and 4 data for existential presupposition. In this study, the writer also try to describe the function or the significance of presupposition to find the meaning of utterances which expressed by the author to the reader. The most common of presupposition function which the writer found in this novel was as a tool for the author to share information and express their feeling through presupposition, it is because they need to deliver information that the writer believe the reader already known the intended meaning. Keywords: pragmatic, presuppositions, utterances, communication Abstrak Penelitianinimerupakanpenelitiandeskriptifkualitatif di manaiadirancanguntukmenggambarkankasusstudioleh kata-kata ataukalimatdaripadaangka. Objekpenelitianiniadalahpresuposisi yang ditemukandalam Fifty Shades of Grey Novel danadanyakomplikasiinterpretasipresuposisidalamucapan-ucapandanpenyebabnya. Alasanmengapapenulismenggunakanpengandaian di Fifty Shades of Grey novel sebagaiobjekutamadaripenelitianiniadalahuntukmengetahuijenispresuposisi, arti yang diinginkandaripresuposisidanfungsipresuposisi yang digunakandalam Fifty Shades of Grey novel. Dari data yang dikumpulkan, penulismenemukan 31 presuposisidanjenis yang paling dominandaripresuposisi yang digunakanpadaFift Shades of Greyadalahanggapanfaktif, terlihatdari data yang ada 13 presuposisifaktifdan 3 presuposisiuntuk counter faktualdanada 9 presuposisileksikaldari data dan 4 data untukpresuposisieksistensial. Dalampenelitianini, penulisjugamencobauntukmenggambarkanfungsiatausignifikansipresuposisiuntukmenemukanmaknadariucapan-ucapan yang diungkapkanolehpenuliskepadapembaca. Yang paling umumdarifungsipresuposisi yang penulisditemukandalam novel iniadalahsebagaialatdaripenulisuntukberbagiinformasidanmengekspresikanperasaanmerekamelaluipresuposisi, itukarenamerekaharusmemberikaninformasi yang penulispercayapembacasudahmengetahuimakna yang dimaksud. Kata kunci: pragmatis, presuposisi, ucapan, komunikasi
CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS OF THE HEADLINE NEWS IN THE GUARDIAN AND THE DAILY TELEGRAPH RACHMA MARDHYARINI, MAQVIRA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 1 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Terdapat banyak macam surat kabar di Inggris, hampir setiap surat kabar tersebut mendukung sebuah partai tertentu, seperti halnya The Guardian dan The Daily Telegraph. Ketika masa kampanye untuk pemilihan umum di bulan Mei 2015, terdapat sebuah isu yang menghebohkan dan tersebar di seluruh penjuru negara. The Guardian dan The Daily Telegraph menerbitkan berita mengenai isu tersebut namun dalam cara yang sangat berbeda. Hal demikian terjadi karena kedua surat kabar tersebut memiliki pandangan yang berbeda, yakni mendukung atau menentang seseorang yang di dalam isu. Kedua berita diinterpretasikan menggunakan tiga tingkatan konteks wacana: makro, meso, dan mikro. Sebuah isu yang dikaitkan dengan informasi di luar teks akan mejadi fokus utama dalam analisis di makro dan meso level. Pada mikro level, analisis melihat langsung pada penggunan bentuk-bentuk linguistik di dalam teks. The Guardian menuliskan hampir semua kalimat dalam bentu aktif, cenderung menamai orang-orang dalam teks secara individu, sering menambahkan frasa modifikasi sufiks, dan menuliskan kutipan-kutipan dalam bentuk langsung untuk mengungkap isu pada saat itu. The Daily Telegraph juga menuliskan kalimat-kalimat menggunakan bentuk aktif namun lebih sering menyebut nama ataupun sumber informasi secara kolektif. Hal tersebut terjadi karena The Daily Telegraph membutuhkan informasi ataupun fakta yang dapat membantu seseorang di dalam isu pada saat itu, meskipun sumber dari informasi tersebut tidak begitu jelas, informasi tersebut tetap disajikan. Untuk mengindari penulisan nama seseorang secara langsung untuk sumber informasi, The Daily Telegraph menuliskannya dalam bentuk grup. Surat kabar ini juga banyak menambahkan klausa modifikasi sufiks, dan menuliskan penyataan-pernyataan dalam bentuk kutipan tidak langsung untuk memperbaiki reputasi seseorang di dalam isu tersebut. Kata Kunci: Tiga Tingkatan Konteks Wacana (makro, meso, mikro), The Guardian, The Daily Telegraph   Abstract There are many kinds of newspaper in United Kingdom, those newspapers mostly have a party on their side, for examples are The Guardian and The Daily Telegraph. During the campaign period for general election on May 2015, there was a big issue spreaded around the country. The Guardian and The Daily Telegraph released the news related to that issue but in a total different way. It has come to this because those newspapers have a different view, whether they support or against the one in the issue. The two news are interpreted using three levels of discourse context: macro, meso, and micro. The latest issue which is combined with the  information outside the text is being the focus in macro and meso-level analysis. In micro-level, the analysis looks directly into the use of linguistic devices in news. The Guardian writes almost all the passages in active voice, tends to name the people individually, likes to add phrasal post-modifier, and puts the quotations in direct form to reveal the issue. Meanwhile, The Daily Telegraph also uses active voice but it tends to name the people or the source collectively. It has come to this because The Daily Telegraph needs to serve some information or facts to help the person on the issue so then they still provide the infromation eventhough the source is not clear enough, and for getting rid from writing the  name of the person or the source, The Daily Telegraph named them in group. This newspaper also likes to add clausal post-modifier to modify the noun, and writes the statements in indirect quotation to fix the reputation of the one in the issue.   Keywords: Three Levels of Discourse Context (macro, meso, micro), The Guardian, The Daily Telegraph   
STYLES OF LANGUAGE GENDER OF AUTISTIC AND NON-AUTISTIC CHILDREN SETIAWATI, LINDA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 1 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Gender adalah salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang dalam mengguanakan bahasa. Penelitian ini menganalisa tentang gaya bahasa dari laki-laki dan perempuan berdasarkan teori dari Holmes and Stubbe (2003) yang terjadi pada anak autis dan anak normal lainnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskripsi untuk menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan menggunakan gaya bahasa yang sama di situasi yang berbeda. Melalui tes dan pengamatan sederhana terhadap pembicaraan antara anak autis dan normal, penelitian ini menunjukkan bagaimana kebiasaan mempengaruhi bahasa dan gender di kehidupan modern. Kata Kunci: bahasa perempuan, bahasa laki-laki, kebiasaan, autis   Abstract Gender is one factor which influences someone in the different usage of language. This research analyzed the styles of feminine and masculine language as the claim of Holmes and Stubbe (2003) which happened to the autistic and non-autistic children.The study applied the descriptive qualitative as the method in order to show that females and males shared same styles of feminine and masculine language in the different situation. Through the simple test and the observation of the autistic’s and non-autistic’s recorded conversation, the research presents new finding how the behaviorism affects the language and gender in the modern life. Keywords: feminine language, masculine language, behaviorism, autism spectrum disorder  
RIDICULE IN MEME OF 9GAG: MULTIMODALITY PERSPECTIVES KOSA, NADIYAH
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 1 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Meme adalah aktivitas mimikri terhadap suatu objek berbentuk gambar dan teks yang terdapat pada gambar tersebut dapat diubah sesuai dengan konteks sehingga menghasilkan arti yang berbeda. Salah satu situs yang menampilkan meme adalah 9gag.Terdapat beberapa fakor yang membuat tertarik unuk membuat meme.Salah satu tujuan dari membuat meme adalah mengekspresikan ide.Penelitian ini juga bertujuan untuk meneliti bagaimana ridicule yang ada di 9gag memberikan peranan dalam kehidupan sosial. Peran yang dimaksud berhubungan dengan kemahiran dalam berkomunikasi. Kemahiran dalam berkomunikasi dapat terlihat dengan meneliti cara tiap individu berinteraksi dengan sesama dan bagaimana tiap individu mengungkapkan pendapat mereka mengenai suatu objek atau individu. Dalam hal ini, ridicule digunakan untuk berkomunikasi dan menyampaikan pendapat. Terdapat lima belas data yang berbentuk meme dengan tujuan ridiculeditemukan dalam penelitian ini. Data tersebut kemudian dianalisa berdasarkan teori Multimodality. Teori multimodality menjelaskan terdapat empat jenis mode yaitu teks, gambar, warna, dan mimik wajah. Untuk menganalisa mode teks,, teori yang digunakan adalah internal dan eksternal faktor dari Attardo. Dari penelitian disimpulkan bahwa semua mode muncul dalam data dan berkontribusi terbentuknya gambaran ridiculepada meme di 9gag. Gambar mode menampilkan gambaran mengenai mimik wajah dan warna kemudian diikuti barisan kata yang mengikuti gambar sebagai dasar sehingga keduanya menghasilkan ridicule. Pada penelitian ini  diketahui pula bahwa ridicule berpengaruh dalam kehidupan dan memiliki peranan dalam kehidupan sosial. Peranan tersebut berdampak akan munculnya kegagalan dalam berkomunikasi dan Satir (gaya humor yang bersifat menyindir). Kata Kunci:Multimodality, humor, ridicule, meme.      Abstract Meme is the activity of doing mimicry from the picture source and change the verbal text in the picture to produce various meanings. One of the sites which provide meme is 9gag. There are many reasons why people start to make meme. One of the purposes of people making meme is to ridicule. Here, this study focused on how the ridicule depicted in meme. This study aims to analyze the depiction of ridicule and to analyze how is ridicule in meme of 9gag plays roles in human society. The role in this case is dealing with the communication skills. The communication skills can be how to communicate with each other and how to express the idea of someone or object. Communication is essential in the daily activity of social life which is why it is essential to have ridicule in social life because ridicule is used to communicate and to express the idea. This study used fifteen data in the form of meme, which can be categorized as ridicule. The data are analyzed according to the pattern which picture portrayed then relating the picture with the text. To analyze the data, this study focuses on the multimodality theory. Multimodality theory explained four types of modes. They are writing, image, color, and facial expression. Since, the idea of each meme is on the line, then it is essential to analyze deeper in line or writing concept. Thus, the internal and external factors by Attardo are used to analyze the writing concept since the theory is generally for verbal text. In conclusion, this study has found that all of the modes shared the contribution towards the depiction of ridicule. The picture as base then followed by lines as writing modes then depicting the ridicule. This study also found that ridicule is affecting the social life or in other hand it can be said that ridicule plays role in social life. The role contributes communication failure and satire as effect. Keywords:English, humor, ridicule, and meme.

Page 1 of 2 | Total Record : 12