cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue " Vol 26, No 3 (2016)" : 5 Documents clear
Hubungan Pola Konsumsi dengan Diabetes Melitus Tipe 2 pada Pasien Rawat Jalan di RSUD Dr. Fauziah Bireuen Provinsi Aceh Hanum, Sari; Nur, Abidah; Fitria, Eka; Zulhaida, Andi
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v26i3.4607.145-150

Abstract

Acehnese daily meals are sweety, salty, and fatty foods. High consumption of carbohydrates, sugars andsweety foods and beverages in Acehnese at risk of developing diabetes mellitus. This study aims to revealthe relationship between dietary habit and diabetes mellitus. The research was descriptive analitic withcase-control design at RSUD dr. Fauziah Bireuen in Aceh Province 2014. The population was out patient who visit the hospital periode May-June 2014. Sampling was done by purposive sampling. Samplesize was determined using the formula of Lemeshow to hypothesis test. Total respondents are 100outpatients with 50:50 ratio between case (outpatients with diabetes mellitus) and control (outpatientswithout diabetes mellitus) respondents. The instruments are questionnaire and form food frequency.Data were analyzed with bivariate logistic regression. The results showed that diabetes melitus riskfactors are sex and age. Men at risk of diabetes mellitus by 2.48 times. Age over 50 years at risk ofdiabetes mellitus by 2.16 times. The pattern of eating sweety, fatty and salty foods also significantlyassociated with diabetes mellitus. The consumption of salty foods at risk of diabetes mellitus by 2.62times. While the consumption of sweety and fatty foods at a lower risk of diabetes mellitus. Healthylifestyle and a balanced diet is recommended to avoid diabetes mellitus.Keywords: diabetes mellitus, consumption patterns, risk factorsAbstrakKebiasaan masyarakat Aceh adalah mengonsumsi makanan manis, asin, dan berlemak. Konsumsikarbohidrat, gula, dan makanan serta minuman manis yang tinggi dalam masyarakat Aceh berisikoterkena diabetes melitus. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan pola konsumsi masyarakatAceh dengan penyakit diabetes melitus. Penelitian bersifat deskriptif analitik dengan desain kasuskontroldi RSUD dr. Fauziah Bireuen Provinsi Aceh tahun 2014. Populasi penelitian adalah pasien yangrawat jalan yang berkunjung ke rumah sakit periode Mei-Juni 2014. Pengambilan sampel dilakukandengan cara purposive sampling. Besar sampel ditentukan menggunakan rumus Lemeshow untukuji hipotesis. Responden berjumlah 100 orang pasien rawat jalan yang terdiri dari 50 kasus (pasiendiabetes melitus) dan 50 kontrol/tidak berpasangan (pasien non diabetes melitus). Instrumen yangdigunakan dalam penelitian adalah kuesioner dan form food frequency. Data dianalisis secara bivariatmenggunakan regresi logistic. Hasil penelitian menunjukkan faktor risiko diabetes melitus yang signifikanadalah jenis kelamin dan umur. Laki-laki berisiko diabetes melitus sebesar 2,48 kali. Umur lebih dari 50tahun berisiko diabetes melitus sebesar 2,16 kali. Pola makan makanan manis, berlemak dan asin jugaberhubungan signifikan dengan kejadian diabetes melitus. Konsumsi makanan asin berisiko diabetesmelitus sebesar 2,62 kali. Sedangkan konsumsi makanan manis dan berlemak berisiko lebih rendahterkena diabetes melitus. Pola hidup sehat dan pola makan seimbang dianjurkan agar terhindar daripenyakit diabetes melitus.Kata kunci: diabetes melitus, pola konsumsi, faktor risiko
Potensi Resistensi Virus HIV-1 terhadap Terapi Anti Retroviral (ART) pada Pasien Voluntary Counseling and Testing (VCT) di Beberapa Kota di Indonesia Hariastuti, Nur Ika; Wibowo, Holy Arif; Adam, Kindi; Subangkit, nFN; Kipuw, Natalie Laurensia; Roselinda, nFN
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v26i3.4610.151-156

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a virus that damages the immune system. The use of antiretroviraltherapy drugs combination (ARV) has demonstrated highly effective in controlling thedevelopment of the HIV virus and prolongs survival. Comprehensive coverage of antiretroviral therapy(ART) also has an impact on the incidence of mutations in the HIV virus that can lead to resistance. Ingeneral, resistance to a particular drug is the result of a mutation in a number of positions in the proteincodinggenes that are targeted by drugs. This study is aimed to find out mutations that related to ARVresistance in some cities in Indonesia. Genotypic assays are used in this study to analyze the viralresistance properties. The samples are from stored biological materials in the Center for Biomedicaland Basic Technology of Health. One hundred and eightspecimens that meet the inclusion criteriawere amplified and sequenced. Further analysis is conducted by uploading sequences to the StanfordUniversity website for the analysis of resistance mutations. Based on the results of this study there aresome mutations in the HIV virus that leads to a low potential of antiretroviral drug resistance of efavirenz(EFV) and nevirapine (NVP). These drugs are used in the first-line treatment of HIV in Indonesia.Overview of the mutations that cause viral resistance to antiretroviral drugs with genetic methods isexpected to serve as baseline data for program development of new drugs or vaccines HIV / AIDS inthe response to HIV in Indonesia.Keywords: resistance, HIV-1 virus, VCT AbstrakHuman Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh. Penggunaankombinasi obat terapi anti retroviral (ARV) telah menunjukkan efektivitas yang tinggi dalammengendalikan perkembangan virus HIV dan memperpanjang harapan hidup penderita. Cakupan pemberian anti retroviral therapy (ART) yang luas juga berdampak pada timbulnya mutasi pada virus HIV sehingga dapat menyebabkan resistensi. Secara umum, resistensi terhadap obat tertentu adalah hasildari mutasi pada sejumlah posisi dalam gen pengkode protein yang ditargetkan oleh obat. Penelitianini bertujuan untuk mengetahui adanya mutasi yang mengarah pada resistensi terhadap ART pada beberapa kota di Indonesia. Metode yang digunakan untuk melakukan analisis resistensi pada studiini adalah dengan pemeriksaan genotipik. Sampel yang digunakan adalah Bahan Biologi Tersimpanpada Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan. Seratus delapan spesimen yang memenuhi kriteria inklusi diamplifikasi dan dilakukan sequencing. Selanjutnya analisis hasil sekuensing virus HIV dilakukan dengan mengunggah sekuen ke situs web Stanford University untuk analisis mutasi resistensi.Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan adanya mutasi pada virus HIV yang mengarah pada lowpotential resistensi obat ARV yaitu jenis efavirenz (EFV) dan nevirapine (NVP). Obat ini merupakan linipertama pengobatan HIV di Indonesia. Tinjauan mengenai mutasi yang menyebabkan resistensi virusterhadap ARV dengan metode genetik ini diharapkan dapat dijadikan sebagai data dasar bagi programpengembangan obat baru atau vaksin HIV/AIDS dalam program penanggulangan HIV di Indonesia.Kata Kunci: resistensi, virus HIV-1, VCT
Uji ELISA untuk Deteksi Japanese Enchepalitis (JE) dari Kasus Ensefalitis di 5 Provinsi di Indonesia Tahun 2014 Subangkit, Subangkit; Sembiring, Masri Maha; Heriyanto, Bambang; Setiawaty, Vivi
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v26i3.4819.157-162

Abstract

Japanese Enchepalitis is one of viral infection that became health problem in Asia, including Indonesia.The information of JE cases are rare since the symptoms are very wide and JE is not familiar amongclinicians. This study aims to describe the JE cases from enchepalitis outbreak. A total of 19 samplesconsisting of serum and CSF specimens collected during 2014 was obtained from reports JE outbreaksof five provinces (Banten, Central Java, West Kalimantan, North Sulawesi and North Sumatera). Themain symptoms were fever (100%), loss of consciousness (58%), confuse (53%), paralyzed (32%) andseizure (21%). The laboratory test results found two cases with positive IgM JE, two cases equivocaland 15 negative. From this preliminary results we concluded that 2 out of 19 suspected cases werepositive JE that came from Landak District in West Kalimantan and Manado District in North Sulawesi.Keywords: Japanese Enchepalitis, IgM, ELISA AbstrakJapanese Enchepalitis (JE) adalah salah satu penyakit ensefalitis yang disebabkan oleh virus dan merupakan masalah kesehatan di Asia, termasuk di Indonesia. Data JE di Indonesia masih sangat minim, karena diagnosis klinis yang cukup luas dan belum terpaparnya para klinisi tentang kasus JE. Penelitian ini bertujuan memaparkan secara dekriptif hasil Kejadian Luar Biasa (KLB) JE di Indonesia. Sampel penelitian ini adalah kasus KLB JE sepanjang tahun 2014. Spesimen diperiksa dengan menggunakan metode ELISA Capture IgM JE, sementara gejala klinis dianalisis secara deksriptif. Hasil penelitian terdapat 19 kasus KLB JE selama tahun 2014 yang berasal dari 5 Provinsi yaitu Provinsi Banten, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Sulawesi Utara, dan Provinsi Sumatera Utara. Gejala klinis utama penderita kasus JE adalah panas (100%), diikuti dengan penurunan kesadaran (58%), perubahan status mental (53%) dan lumpuh (32%) serta kejang-kejang(21%). Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap antibodi IgM JE menunjukkan terdapat 2 kasus positifJE, 2 Equivokal dan 15 Negatif. Kesimpulan penelitian ini selama tahun 2014 dilaporkan 19 kasus KLBJE, dengan 2 kasus positif JE yang berasal dari Provinsi Kalimantan Barat (Kabupaten Landak) danSulawesi Utara (Kota Manado).Kata Kunci: Japanese Enchepalitis, IgM, ELISA
Peran Kesenjangan Ekonomi terhadap Kejadian Kegemukan Sari, Kencana; Indirawati, Lely; Utami, Nurhandayani; Amaliah, Nurillah
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v26i3.5737.127-136

Abstract

Economic inequality relationship to health has been widely analyzed in western countries but is stilllimited in developing countries. Knowing the role of economic inequality against obesity is expectedto help overcome the problem of obesity in Indonesia. This study aims to analyses the relationshipof economic inequality and obesity. The data were obtained from a cross-sectional Indonesian BasicHealth Research (Riskesdas) year 2010. The subjects consisted of 125563 respondent’s ages 19-55years old that derived from 251388 household members nested within 69300 households nested within 2798 communities nested within 33 regions. Obese was categorized as body mass index more than 25.Community level exposures included economic inequality that based on Gini coefficient. The data were analyzed with multilevel logistic regression. The prevalence of obesity in Indonesia was 22.96 percent.The economic inequality was ranged from 0.18-0.69 across 33 provinces in Indonesia. The economicinequality has a role on obesity although the role of the individual and household level on obesity isgreater (76.8%) compared to the role of economic inequality at the provincial level (23.2%). At theindividual level, variables that contribute to obesity were female (OR = 1.91), education > SMA (OR =1.18), married (OR = 2.70), and higher socioeconomic status (OR5th kuintil= 2 , 76). At the provincial level, economic inequalities increase the chances of obesity of 1.31 times. The higher the economic inequality in the province level is likely to increase the incidence of obesity but the effect was smaller than at the individual level factors. Obesity prevention are needed focusing on female, married, and higher socioeconomic status.Keywords: inequality, economic, obesity AbstrakKesenjangan ekonomi telah banyak dianalisis di negara-negara barat tetapi masih terbatas di negara-negara berkembang. Mengetahui peran kesenjangan ekonomi terhadap kegemukan diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kegemukan di Indonesia. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kesenjangan ekonomi dengan kegemukan. Analisis menggunakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 yang bersifat potong lintang. Subyek terdiri dari 125.563 responden berumur 19–55 tahun yang berasal dari 251.388 anggota rumah tangga dari 69.300 rumah tangga pada 2.798 blok sensus di 33 provinsi. Kegemukan dikategorikan sebagai indeks massa tubuh lebih dari 25. Eksposur di tingkat masyarakat yaitu kesenjangan ekonomi didasarkan pada koefisien Gini. Data dianalisis dengan multilevel regresi logistik. Prevalensi kegemukan di Indonesia adalah 22,96%. Kesenjangan ekonomi berkisar antara 0.18–0.69 di 33 provinsi di Indonesia. Kesenjangan ekonomi mempunyai peran terhadap kejadian kegemukan di tingkat individu dan rumah tangga. Namun, peran tingkat individu dan rumah tangga lebih besar (76,8%) dibandingkan peran kesenjangan ekonomi di tingkat provinsi (23,2%) terhadap kejadian kegemukan.Pada tingkat individu yang berperan pada kegemukan adalah jenis kelamin perempuan (OR=1,91), pendidikan > SMA (OR=1,18), kawin (OR=2,70), dan status sosial ekonomi semakin tinggi (OR kuintil 5=2,76). Pada tingkat provinsi, kesenjangan ekonomi meningkatkan peluang kegemukan 1,31 kali. Kesenjangan ekonomi semakin tinggi berpeluang meningkatkan kejadian kegemukan tetapi pengaruhnya lebih kecil dibanding faktor di tingkat individu. Pencegahan kegemukan yang berfokus pada individu yang berjenis kelamin perempuan, kawin, dan status sosial ekonomi semakin tinggiABSTRAKKata Kunci: kesenjangan, ekonomi, kegemukan
Front Matter Jurnal Media Litbangkes Vol. 26 No.3 Edisi September 2016 Litbangkes, Media
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v26i3.5879.

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 5