cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
pusbullhsr@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Percetakan Negara No. 29 Jakarta 10560
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
BULETIN PENELITIAN SISTEM KESEHATAN
ISSN : 14102935     EISSN : 23548738     DOI : https://doi.org/10.22435/hsr.v23i2.3101
hasil-hasil penelitian, survei dan tinjauan pustaka yang erat hubungannya dengan bidang sistem dan kebijakan kesehatan
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 20 No 4 (2017)" : 8 Documents clear
ANALISIS SUBSISTEM DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DI PUSKESMAS PERAWATAN KABUPATEN MALANG, PROVINSI JAWA TIMUR Betty Roosihermiatie; Gangga Anuraga; Tety Rachmawati; Agus Sulistiono
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 20 No 4 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.331 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v20i4.74

Abstract

In Indonesia the Maternal Mortality Rate (MMR) increased from 228 per 100,000 to 359 per 100,000 live births. East Java province is one of 9 provinces faces high maternal deaths. Programs to support decreasing the MMR has been done and currently, the Ministry of Health policy on maternal health services is delivery assisted by health personnel at health facilities. It is an observational study with a cross sectional design. The study was conducted inMalang District, East Java Province which has the highest MMR in East Java Province year 2012. Analysis are for 7 subsystem of the maternal health services. Respondents are Head of in patient Primary Health Centers / Programmers of maternal health at In patient Primary Health Centers with their which location are relatively near, middle and far from the Kanjuruhan Distrcit Hospital in Kepanjen. Data were analyzed descriptively. For the implementation of Malang District regulation on the Gerakan Sayang Ibu for maternal health so sub-system analysis shows deficiencies such as midwifes in Inpatient PHC mostly had normal delivery training guide, and only 3 midviwes had obstetric complication training; there is a vacuum of RL fluid in one of the Inpatient PHC under study, ambulance driver is only one so sometimes there is vacancy for standby 24 hours, relatively many traditional birth attandance in Ketawang PHC who likely to help delivery, District Health Office fund for maternal health program is relatively small. To strengthen system for maternal health program in line with the BPJS Program, midwives at inpatient PHC should have obstetric complication training, improved management the availability of fluid, ambulance driver standby 24 hour, all villages have midwives living, and increase distict health office funds for maternal health program as the coverage areas. ABSTRAKAngka Kematian Ibu (AKI) meningkat dari 228 per 100.000 KH menjadi 359 per 100.000 KH. Provinsi Jawa Timur merupakan satu dari 9 provinsi yang bermasalah dalam kematian ibu. Program-program mendukung penurunan AKI sudah dilakukan dan saat ini, kebijakan Kementerian Kesehatan dalam pelayanan kesehatan ibu adalah persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Jenis penelitian adalah observasional dengan desain potong lintang. Penelitian dilakukan di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur dengan AKI tertinggi di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2012. Analisis dilakukan terhadap 7 subsistem dari pelayanan kesehatan ibu. Responden adalah pelaksana kebijakan di Puskesmas yaitu Kepala Puskesmas/Pemegang Program KIA di Kabupaten Malang pada Puskesmas Perawatan yang lokasinya relatif dekat, pertengahan dan jauh dengan RSUD Kanjuruhan di Kepanjen. Analisis data secara deskriptif. Dalam pelaksanaan regulasi Pemerintah Kabupaten Malang yaitu gerakan sayang ibu dalam pelayanan kesehatan ibu pada analisis sub- sistem kesehatan terdapat kekurangan-kekuranganseperti tenaga bidan di mana pelatihan kompetensi di Puskesmas Perawatan terutama APN, dan hanya 3 orang yang mendapat pelatihan komplikasi kebidanan; terjadi kekosongan cairan RL di salah satu Puskesmas Perawatan studi, sopir ambulans hanya seorang sehingga kadang terjadi kekosongan untuk standby 24 jam, relatif banyak dukun di Puskesmas Ketawang yang kemungkinan menolong persalinan, dana Dinas Kesehatan Kabupaten untuk pembinaan pelayanan kesehatan ibu relatif kecil. Untuk menguatkan program kesehatan ibu sejalan dengan Program BPJS maka bidan di Puskesmas Perawatan perlu mendapat pelatihan komplikasi kebidanan, perbaikan manajemen ketersediaan cairan, adanya sopir yang standby 24 jam, semua desa tinggal bidan yang membina, dan penambahan dana Dinas kesehatan untuk program kesehatan ibu sesuai luas wilayahnya.
KEBIJAKAN INSENTIF DAN DISINSENTIF PEMBAYARAN KAPITASI BAGI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA BERBASIS PEMENUHAN KOMITMEN PELAYANAN (KBK) (KESIAPAN FKTP DAN PENGEMBANGAN INDIKATOR PENILAIAN DI DI YOGYAKARTA) Ristrini ristrini; Wasis Budiarto
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 20 No 4 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.466 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v20i4.75

Abstract

Incentives and disincentives of capitation payment to the first level of health facilities (the FKTP) are to improve the quality and performance of services. These effort have been made by the first level of health facilities (the FKTP) in the form of capitation, based on the fulfillment of Health Services Commitment, which started in 2015. The study aimed to examine the FKTP readiness and development of the first level of health facilities (the FKTP) performance appraisal indicators. It was conducted in Yogyakarta Province, and then two districts and one city were selected (Sleman and Kulonprogo) and Yogyakarta City purposively. In each district/city, it selected two primary health centers /PHCs (inpatient and non- inpatient PHCs), two primary clinics, two private doctors and two private dentists, with a criteria having many the National Social Scheme patients. Results show that in the view from aspects of the human resources, PHCs and primary clinics are ready as health service provider of the National Social Scheme, while private practice doctors or dentists are not yet, so it needs to adjust and improvements for family doctors. Credentialing as to be feasible as provider the National Social Scheme are needed. The recipients of assistance members at the primary clinics, private doctors or dentist are still low, and utilization of capitation funds at the first level of health facilities is good although promotive and preventive efforts are very low. Indicators to determine the capitation at the first level of health facilities (the FKTP) should be based on the first level of health facilities (the FKTP) function as gate keeper. The first level of health facilities score indicate that the developed indicators are comprehensiveness, sustainability of the prolanis program, the first contact visit, contact rate of indoor and outdoor services, beyond standard of the BPJS services. Therefore, it suggests to develope calculation of incentives and disinsentives by the 5 indicators considering abilities and competencies of the first level of health facilities (the FKTP’s). ABSTRAK Pemberian insentif dan disinsentif pada pembayaran kapitasi kepada FKTP dilakukan, agar FKTP dapat meningkatkan mutu dan kinerjanya. Upaya tersebut telah dilakukan FKTP dalam bentuk Kapitasi berbasis pada pemenuhan komitmen pelayanan kesehatan (KBK), yang dimulai sejak tahun 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesiapan FKTP dan pengembangan indikator penilaian kinerja FKTP. Penelitian ini dilakukan di Provinsi DI Yogyakarta, dan dipilih 2 Kabupaten secara purposive (Sleman dan Kulonprogo) serta Kota Yogyakarta. Masing-masing Kabupaten/Kota dipilih 2 puskesmas (rawat inap dan non rawat inap), 2 klinik pratama, dan 2 dokter praktek dan 2 dokter gigi praktek perseorangan, dengan kriteria pasien JKN nya banyak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika ditinjau dari aspek ketenagaannya, puskesmas dan klinik pratama siap sebagai provider pelayanan kesehatan peserta JKN. Praktek dokter dan dokter gigi praktek swasta belum siap, sehingga perlu menyesuaikan menjadi dokter keluarga dan melakukan perbaikan. Perlu penilaian kembali (credentialing) kelayakan sebagai provider JKN. Kepesertaan PBI di klinik pratama, dokter praktek dan dokter gigi praktek perseorangan masih sangat kecil, dan pemanfaatan dana kapitasi di FKTP sudah cukup baik walaupun upaya promotif dan preventif sangat sedikit. Indikator yang digunakan untuk menilai kapitasi di FKTP seharusnya berbasis pada fungsi FKTP sebagai gate keeper. Skor pendapat dari FKTP menunjukkan bahwa indikator yang dikembangkan adalah comprehensiveness, sustainability prolanis, kunjungan first contact, contact rate pelayanan di dalam dan di luar gedung dan pelayanan di luar standar BPJS. Sehingga disarankan untuk melakukan pengembangan perhitungan dengan menggunakan kelima indikator tersebut dengan memperhatikan faktor kemampuan/kompetensi FKTP.
PERAN PALANG MERAH INDONESIA TERHADAP PENANGGULANGAN DAMPAK BENCANA ALAM DI INDONESIA Herti Windya Puspasari
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 20 No 4 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.513 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v20i4.76

Abstract

Several geographicfactors, geological and demographic conditions affecting the region so that the frequency of disasters in Indonesia are very high. Indonesia with a population of more than 220 million people, in whom 60% occupy the islands of Java, Bali and Sumatra, which includes disaster prone areas. The disaster made many new organizations that provide emergency response services in disastertimes. One of them is the Indonesian Red Cross. The study aimed to explore roles of the PMI in responses to the natural disasters in Indonesia, especially in health field. It was an observational study with a cross sectional design. The study was carried out in June to July year 2012. Informants were the stakeholder and programmer of the Head Indonesian Red Cross. Data collection were by indept interview. Results showed that to mitigate the impact of natural disasters in Indonesia, the Indonesian Red Cross has a human resource center consisting of the PMI employees and volunteers from communities who were trained and spread in Indonesia. Besides, the Head PMI has anassessment team for health problems and a rapid response team together with the Satgana. The facilities and equipment used by the Indonesian Red Cross are for health cares and medications. For fund, the PMI has annual budgetting from the government and donors. The obstacles faced by the PMI are technical constraints, if a natural disaster occurs in difficult access areas. So the PMI should enhanced coordination between the Head and local Indonesian Red Crosses to be better as with the Central government, local governments and non governmental organizations and also to make socialization to public so that interested for becoming volunteers and donors. Abstrak Beberapa faktor geografis, geologis, dan demografis mempengaruhi kondisi wilayah sehingga frekuensi bencana di Indonesia sangat tinggi. Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta orang, 60% diantaranya menempati pulau Jawa, Bali dan Sumatera yang termasuk rawan bencana. Bencana alam yang terjadi memunculkan banyak organisasi-organisasi baru yang memberikan pelayanan tanggap darurat pada saat bencana. Salah satunya adalah Palang Merah Indonesia (PMI). Penelitian ini bertujuan menggali peran PMI Pusat dalam penanggulangan dampak bencana alam di Indonesia khususnya dalam bidang kesehatan. Jenis penelitian observasional dengan desain potong lintang. Penelitian dilakukan pada bulan Juni sampai dengan Juli tahun 2012. Sebagai Informan adalah pemegang kebijakan dan pelaksana PMI Pusat. Pengumpulan lan data dengan wawancara mendalam. Hasil menunjukkan penanggulangan dampak bencana alam di Indonesia, PMI Pusat memiliki sumber daya manusia yang terdiri dari karyawan PMI dan relawan dari masyarakat yang terlatih dan tersebar di wilayah Indonesia. Selain itu, PMI Pusat memiliki tim penilai masalah kesehatan dan tim reaksi cepat yang tergabung dalam Satgana. Fasilitas dan peralatan yang digunakan oleh PMI mencakup pelayanan kesehatan dan obat-obatan. Sedangkan untuk pendanaan PMI mendapat dana tahunan dari pemerintah dan para donatur. Kendala yang dihadapi PMI adalah kendala teknis, jika bencana alam terjadi di daerah akses sulit. Oleh karena itu diperlukan peningkatan koordinasi antara PMI Pusat dengan PMI daerah agar dapat bekerja sama lebih baik dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat serta sosialisasi kepada masyarakat agar tertarik menjadi relawan dan donator.
PERANAN AGEN PERUBAHAN DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR (PTM) DI KECAMATAN INDIHIANG, KOTA TASIKMALAYA Vita Kartika; Tety Rachmawati
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 20 No 4 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (993.775 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v20i4.77

Abstract

Non-communicable diseases (NCD) death rates in Indonesia have significantly increased in the last twenty years. The government has strategies to control the NCD but not successful. The many controls for the NCD such as hypertension, diabetes, and stroke by health workers are not enough, but it needs full assist from agent of changes as support strength in community. The Government also needs Agent of Change who supports the society to assist the PTM control method. The type of research is operational research. The study was carried out in 4 sub districts Indihiang, Tasikmalaya City. Twenty one agents of changes were selected. Intervention was by triggering agent changes on the NCD control. Quantitative data were collected by questionnaires while qualitative data were by in-depth interviews. Data analysis of knowledge changes that include attitude and behavior was with t test. Results showed that knowledge of the agent of changes increased significantly, (p = 0.00). And after the agents follow the triggering process, there were changes in their behaviors. Their previous negative behaviors that affect high risk of exposure to NCH have been gradually reduced and turned to be positive behaviors to prevent the emergence of NCD such as reducing the number of cigarettes smoked per day. There were also agents of change who quit smoking. Other risky behaviors were also reduced as to reduce the consumption of fried foods and contain excessive fat and coconut foods. Another positive activity that was started by the agent of change after following the trigger was to do physical activity with exercise at least once a week. The agents of changes had do healthy behavior in everyday life. It is expected that healthy behavior of the agents of change could continue and applied by the surrounding community, especially young generation as successor of the nation. ABSTRAK Tingkat kematian akibat penyakit tidak menular (PTM) telah meningkat secara signifikan selama dua puluh tahun terakhir di Indonesia. Pemerintah telah melakukan beberapa strategi pengendalian PTM tetapi belum berhasil. Upaya pengendalian PTM seperti hipertensi, diabetes, dan stroke tidak cukup hanya dilakukan oleh profesional kesehatan, namun juga harus mendapat dukungan penuh dari agen perubahan sebagai kekuatan pendorong di masyarakat. Jenis penelitian adalah riset operasional. Penelitian dilakukan di 4 kelurahan Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya. Dipilih 21 agen perubahan. Intervensi dengan pemicuan terhadap agen perubahan dalam pengendalian PTM. Pengumpulan data kuantitatif dengan kuesioner sedangkan data kualitatif dengan wawancara mendalam. Analisis data perubahan pengetahuan yang meliputi sikap dan perilaku dengan uji t test. Hasil menunjukkan pengetahuan agen perubahan meningkat secara signifikan, (p = 0,00). Dan setelah agen perubahan mengikuti proses pemicuan, terjadi perubahan perilaku mereka. Perilaku negatif sebelumnya yang berdampak pada tingginya risiko terkena PTM, telah perlahan dikurangi dan berubah menjadi perilaku- perilaku positif untuk mencegah munculnya PTM seperti mengurangi jumlah rokok yang dihisap per hari. Ada juga agen perubahan yang berhenti merokok. Perilaku berisiko lainnya yang juga berkurang adalah mengurangi konsumsi makanan yang digoreng dan mengandung lemak berlebihan juga makanan bersantan. Kegiatan positif lain yang mulai dibangun oleh agen perubahan setelah mengikuti pemicuan adalah melakukan kegiatan fisik dengan latihan minimal seminggu sekali. Agen Perubahan sudah mulai menerapkan perilaku hidup sehat di kehidupan sehari-hari. Diharapkan perilaku sehat dari para agen perubahan dapat terus dilakukan dan diterapkan oleh masyarakat di sekitarnya, khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa.
SENI JATHILAN MODIFIKASI KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DALAM PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PADA REMAJA JATHILAN TURONGGO WIRO BUDOYO KOTA YOGYAKARTA Herti Maryani; Sitti Nur Djannah; Septian Emma Dwi Jatmika
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 20 No 4 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.624 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v20i4.83

Abstract

Generaly the adolescent in Turonggo Wiro Budoyo have been dating (50-60%), adolescents ever had sex (30-40%) have been petting and the other have been embracing and holding hands. The impact of promiscuity has been perceived by some teens TWB, such as unwanted pregnancy. abortion and early marriage. The purpose of this study was to analyze the effect modifi cation Jathilan of the level of knowledge and attitudes of adolescent TWB Wirobrajan. Yogyakarta. The study was experimental using comparative test the level of knowledge and attitude of adolescent reproductive health for three group. The intervention group was Jathilan artis who player Jathilan modifi cation (role play) amounted to 24 teenagers. The fi rst control group is Jathilan audience amounted to 21 teenagers. The second control group were given KRR counseling with a combination of lecture and audiovisual methods amounted to 29 teenagers. There are differences in the average level of knowledge signifi cantly between the intervention group and the control group. with p = 0.03 (p < 0.05). where the average level of knowledge in the intervention group was higher (44.29) compared with the control group, both on the fi rst control group (32.90) or the control group (34.72). Jathilan modifi cation is expected to be innovative health promotion media to deliver information about adolescent reproductive health. ABSTRAK Remaja anggota Turonggo Wiro Budoyo (TWB) umumnya telah berpacaran (50-60%), pernah melakukan hubungan intim (30–40%), telah petting dan sisanya berangkulan dan pegangan tangan. Dampak pergaulan bebas seperti kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi dan perkawinan usia dini terjadi di lingkungan remaja TWB. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Jathilan modifi kasi KRR sebagai media promosi kesehatan berbasis budaya lokal terhadap tingkat pengetahuan dan sikap remaja TWB di Wirobrajan, Yogyakarta. Jenis penelitian adalah Experimental menggunakan uji komparatif tingkat pengetahuan dan sikap kesehatan reproduksi remaja antartiga kelompok. Kelompok intervensi adalah anggota seni Jathilan yang berperan sebagai pemain Jathilan modifi kasi KRR (role play) berjumlah 24 remaja. Kelompok kontrol pertama adalah kelompok remaja penonton seni Jathilan modifi kasi KRR berjumlah 21 remaja. Kelompok kontrol kedua adalah kelompok remaja yang diberi penyuluhan KRR dengan metode kombinasi ceramah dan audiovisual terdapat perbedaan rerata tingkat pengetahuan yang bermakna antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan nilai p = 0,03 (p < 0,05), di mana rerata tingkat pengetahuan pada kelompok intervensi lebih tinggi (44,29) dibandingkan dengan kelompok kontrol, baik pada kelompok kontrol pertama (32,90) atau kelompok kontrol kedua (34,72). Diharapkan seni tradisional Jathilan modifi kasi KRR dapat menjadi media inovasi penyampaian informasi kesehatan reproduksi remaja.
RISET EVALUASI PELAYANAN KESEHATAN JAMINAN KESEHATAN DAERAH DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Gurendro Putro; Betty Roosihermiatie; Abdul Samad
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 20 No 4 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.588 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v20i4.84

Abstract

The implementation of District Health Insurance (the Jamkesda) in Kutai Kartanegara District since the Decree of Kutai Kartanegara District Number 180.188/HK-782/2008 on the initial target of the Jamkesda program in Kutai Kartanegara District 2008, followed by Kutai Kartanegara District Decree Number 1/SK-Bup/HK/2011 on target of the Jamkesda Program Target member in Kutai Kartanegara District. The study aimed to evaluate implementation of the Jamkesda in Kutai Kartanegara District that operating from 2009 to 2013. It was an observational study with a cross sectional design. The total samples were 6.635 people in Kutai Kartanegara District. The study was conducted from August to November 2013. Data collection were by interview. Bivariate data were analyzed by chi square test. Characteristics of members the Jamkesda program in Kutai Kartanegara District were mostly of 50.5% ≥ 41 years old; 26.6% high school educated, 29.1% of farmers; 48.5% with low income of Rp.1.000.0000, - or less; 53.2% had 3–4 family members. For the Jamkesda health services, the majority 90.6% knew about the Jamkesda and 69.4% used the services. People aged ≥ 41 years old, mostly farmers and fi shermen, lower family income, higher family members, and living near to health facilities were associated with utilization of the health services. Education was not associated with utilization of the Jamkesda health services. But the higher education, the higher knowledge on utilization of the Jamkesda (p = 0.000), likely they understood information on the Jamkesda health services. Conversely according to level of satisfaction, the lower education the more satisfi ed to the Jamkesda health services (p=0,029). It needs to socialize the health insurance in providing qualifi ed health services for all patients and its sustainability within the framework of national health scheme to achieve universal health coverage. ABSTRAK Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) di Kabupaten Kutai Kartanegara sejak Keputusan Bupati Kutai Kartanegara Nomor 180.188/HK-782/2008 tentang sasaran awal program Jamkesda kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2008, diikuti Keputusan Bupati Kutai Kartanegara Nomor 1/SK-Bup/HK/2011 tentang Penetapan Sasaran Kepesertaan Program Jamkesda Kabupaten Kutai Kartanegara. Penelitian ini bertujuan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Jamkesda di Kabupaten Kutai Kartanegara yang berjalan dari tahun 2009 sampai 2013. Jenis penelitian adalah observasional dengan desain potong lintang. Total sampel sebanyak 6.635 orang di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara. Waktu penelitian pada bulan Agustus sampai dengan November 2013. Pengumpulan data dengan wawancara. Analisis data bivariat dengan chi square test. Karakteristik masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara peserta program Jamkesda yang terbanyak 50,5% berumur ≥ 41 tahun; 26,6% berpendidikan tamat SMA, 29,1% petani, 48,5% dengan penghasilan rendah yaitu Rp.1.000.0000,- atau kurang, 53,2% memiliki 3-4 anggota keluarga. Pelayanan kesehatan Jamkesda menunjukkan 90,6% masyarakat mengetahui tentang Jamkesda dan 69,4% yang memanfaatkan pelayanannya. Masyarakat dengan umur semakin tua, ≥ 41 tahun, jenis pekerjaan terutama petani dan nelayan, berpenghasilan rendah, jumlah anggota keluarga banyak, dan bertempat tinggal dekat dengan fasilitas kesehatan berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan Jamkesda. Pendidikan tidak berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan Jamkesda. Tetapi semakin tinggi pendidikan masyarakat maka semakin tinggi pengetahuannya terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan Jamkesda (p = 0,000). Tampaknya mereka paham terhadap informasi pelayanan Jamkesda. Sebaliknya menurut tingkat kepuasannya, semakin rendah pendidikannya maka semakin puas terhadap pelayanan kesehatan Jamkesda (p = 0,029). Perlu sosialisasi tentang jaminan kesehatan untuk memberikan pelayanan jaminan kesehatan yang berkualitas kepada semua pasien dan keberlangsungannya dalam kerangka jaminan kesehatan nasional guna mencapai universal health coverage.
INTENSITAS INFEKSI TRICHURIS TRICHIURA PADA SISWA SDN I MANURUNG DI KECAMATAN KUSAN HILIR, KABUPATEN TANAH BUMBU, KALIMANTAN SELATAN Budi Hairani; Juhairiyah Juhairiyah
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 20 No 4 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v20i4.87

Abstract

Worm infection cumulatively can cause loss of nutrients in the form of calories, protein, and blood loss. One of the most important species of intestinal worms is Trichuris trichiura with high prevalence rates. T. trichiura infection mostly affects 5 to 10 year children, the age group that has the highest risk of suffering of severe intensity worm infection. The study aimed to determine the prevalence and intensity of T. trichiura infectionat the SDN 1 Manurung. It was an observational study with a cross sectional design. Samples were total population of subjects who were Class I to VI students at the SDN I Manurung, Kusan Hilir Subdistrict of Tanah Bumbu District, South Kalimantan. Data collection were carried out in October year 2014. Examination of stool samples was using quantitative Kato - Katz method, in order to count number of eggs and the estimated number of worms found in an individual. Among 98 children, there were 31 (31.6%) children had positive worm infections. The types of worm infections were Trichuris trichiur, Ascaris lumbricoides, Enterobius vermiculari, Hymenolepis sp. and hookworm. T. trichiura infection were found in the form of a single infection (22 children) and in the form of a mixture of T. trichiura and A. lumbricoides infection (4 children) so the a total of 26 children suffering from trichiura infection. Intensity of the infection were varied from mild to severe. was The highest prevalence was 26.5% of trichuriasis among SDN Manurung I children. The severe intensity of infection was mostly found among children who suffered from trichuriasis. The government should increase health socialization and monitoring to students and provide routine intestinal worm drugs. ABSTRAK Infeksi cacing secara kumulatif dapat menimbulkan kerugian zat gizi berupa kalori dan protein serta kehilangan darah. Salah satu spesies cacing usus yang terpenting adalah Trichuris trichiura dengan tingkat prevalensi yang tinggi. Infeksi Trichiuris trichiura sebagian besar diderita oleh anak 5-10 tahun, kelompok umur ini juga paling berisiko menderita infeksi cacing dengan intensitas yang berat. Penelitian ini betujuan menentukan prevalensi dan intensitas infeksi T. trichiura pada murid SDN 1 Manurung. Jenis penelitian adalah observasional dengan desain potong lintang. Sampel merupakan total sampling populasi sebagai subjek penelitian yaitu siswa kelas I – VI SDN I Manurung, Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Oktober tahun 2014. Pemeriksaan sampel tinja menggunakan metode kuantitatif Kato-katz agar dapat dihitung jumlah telur dan diperkirakan jumlah cacing yang terdapat pada satu individu. Dari total 98 anak yang diperiksa ditemukan 31 orang (31,6%) positif kecacingan. Jenis cacing yang menginfeksi yaitu Trichuris trichiura, Ascaris lumbricoides, Enterobius vermicularis, Hymenolepis sp. dan Hookworm. Infeksi T. trichiura terdiri dari bentuk tunggal (22 orang) dan dalam bentuk campuran antara T. trichiura dan A. lumbricoides (4 orang) sehingga jumlah total anak yang terinfeksi cacing T. trichiura adalah sebanyak 26 orang. Intensitas infeksi yang ditemukan bervariasi dari ringan hingga berat. Prevalensi trichuriasis merupakan yang tertinggi pada murid SDN 1 Manurung yaitu 26,5%. Infeksi dengan intensitas berat merupakan yang terbanyak ditemukan pada anak-anak yang menderita trichuriasis. Pengelola program kesehatan perlu meningkatkan sosialisasi dan monitoring kesehatan pada anak-anak sekolah disertai kegiatan pengobatan kecacingan secara rutin.
HUBUNGAN KARAKTERISTIK, SIKAP DAN PERSEPSI BIDAN TERHADAP PENGGUNAAN PARTOGRAF DI KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR Novia Susianti; Thursina Vera Hayati
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 20 No 4 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.578 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v20i4.88

Abstract

Pregnancy and childbirth are estimated to be 15% with complicated and life-threatening. Most of these complications can be prevented and handled, one of them if health personnel perform appropriate handling procedures, among others, using partograf. The Result of Maternal Health Services Quality Assessment Year 2012 in Provinces of Indonesia showed low compliance of health personnel in using partograf. This research uses quantitative research cross-sectional design and uses different test proportion of “chi-square”. It aims to evaluate the use of partograf and the relationship among factors such as midwives’ characteristics (age, period of working, the competence of helping childbirth, experience, and training), attitude and perception in using partograf in East Tanjung Jabung Regency. The sample of the research, midwives in work area of West Sabak Community Health Centre, East Sabak, Dendang and Simpang Pandan, are chosen by purposive sampling with 58 respondents. The results shows only 74.1% of respondents use partograf well. Although the respondents have good skills, good experience, have enough training, but partograf is not implemented well, yet. Factors which significantly related in the use of partographs by midwife are ability, experience, training, and perceptions of appreciation. A well midwife performance has a 10.3 times chance of using the partograph, with a good experience of 5.8 times, and with good perceptions of awards is 7.6 times more likely to use of partograph. It is necessary to improve the quality of midwives in helping normal childbirth, motivation through performance rewards that has been achieved incentives and opportunities of career enhancement. ABSTRAK Kehamilan dan persalinan diperkirakan 15% akan mengalami komplikasi dan mengancam jiwa. Namun sebagian besar komplikasi tersebut ternyata dapat dicegah dan ditangani, salah satunya apabila tenaga kesehatan melakukan prosedur penanganan yang sesuai antara lain menggunakan partograf. Hasil Assessment Kualitas Pelayanan Kesehatan Maternal tahun 2012 di kabupaten/kota di Indonesia menunjukkan masih rendahnya kepatuhan petugas kesehatan dalam menggunakan partograf. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif desain cross secsional menggunakan uji beda proporsi “chi-square”, bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan partograf dan hubungan faktor karakteristik bidan (usia, masa kerja, kemampuan pertolongan persalinan, pengalaman, pelatihan), sikap serta persepsi bidan dalam penggunaan partograf di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Sampel penelitian adalah bidan di wilayah kerja Puskesmas Sabak Barat, Sabak Timur, Dendang dan Simpang Pandan yang dipilih berdasarkan purposive sampling yaitu sebanyak 58 orang. Hasil penelitian menunjukkan hanya 74,1% responden yang menggunakan partograf dengan baik. Walaupun responden telah memiliki kemampuan baik, pengalaman baik, mengikuti cukup pelatihan, namun partograf belum digunakan sepenuhnya. Faktor yang berhubungan signifikan dalam penggunaan partograf oleh bidan, terdiri dari kemampuan, pengalaman, pelatihan, serta persepsi terhadap penghargaan. Bidan dengan kemampuan yang baik berpeluang 10,3 kali dalam menggunakan partograf dengan baik, dengan pengalaman yang baik berpeluang 5,8 kali, dan dengan persepsi terhadap penghargaan yang baik berpeluang 7,6 kali untuk menggunakan partograf. Perlu dilakukan peningkatan kualitas bidan dalam melakukan pertolongan persalinan normal, pemberian motivasi melalui penghargaan atas kinerja yang telah dicapai berupa insentif maupun kesempatan peningkatan karir.

Page 1 of 1 | Total Record : 8