cover
Contact Name
Nungki Hapsari Suryaningtyas
Contact Email
nungkihapsari36@gmail.com
Phone
+62735322774
Journal Mail Official
buletin.spirakel@gmail.com
Editorial Address
Balai Litbangkes Baturaja Jalan Jenderal Ahmad Yani km. 7 Kemelak Baturaja, Sumatera Selatan
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Spirakel
ISSN : 20861346     EISSN : 23548819     DOI : https://doi.org/10.22435/spirakel
Core Subject : Health,
SPIRAKEL is a media for researchers / academics / students / practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service Center, to obtain or disseminate scientific information on tropical infectious diseases.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 11 No 2 (2019)" : 5 Documents clear
ANALISIS DATA SPASIAL MALARIA DI KABUPATEN KULON PROGO TAHUN 2017 Nungki Hapsari Suryaningtyas; Milana Salim; Indah Margarethy
SPIRAKEL Vol 11 No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.18 KB) | DOI: 10.22435/spirakel.v11i2.1291

Abstract

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang tidak terlepas dari keberadaan lingkungan fisik dan biologis yang mendukung terjadinya penyakit. Faktor lingkungan seperti iklim, temperatur dan curah hujan merupakan faktor pemicu pemunculan kembali penyakit malaria di suatu wilayah. Kejadian malaria di Provinsi DIY hanya terjadi di Kabupaten Kulon Progo dengan penyebaran di enam kecamatan. Tujuan analisis ini untuk mengetahui hubungan perubahan iklim (curah hujan dan hari hujan) dan ketinggian tempat terhadap kejadian malaria di Kabupaten Kulon Progo. Kajian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan data sekunder malaria di Kabupaten Kulon Progo pada tahun 2017. Data kejadian malaria diperoleh dari Profil Kesehatan Kab. Kulon Progo, sedangkan data curah hujan, hari hujan dan ketinggian tempat berasal dari Badan Pusat Statistik. Data diolah dan dianalisis dengan melakukan overlay antara variabel stratifikasi malaria dengan variabel ketinggian, curah hujan dan hari hujan. Hasil penelitian menunjukkan pola spasial kejadian malaria tersebar di seluruh ketinggian dengan kejadian tertinggi berada di ketinggian 500-1000 mdpl, dengan curah hujan >200 mm (bulan basah) dan hari hujan yang tinggi. Perlu dilakukan peningkatan kewaspadaan dengan melakukan pengamatan terhadap curah hujan, kelembapan dan suhu dalam skala mingguan bekerjasama dengan BMKG. Disarankan pula untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat di daerah perbatasan mengenai upaya pencegahan penularan malaria.
POTENSI DAN PEMANFAATAN MIKROORGANISME DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT TULAR NYAMUK Vivin Mahdalena; Tanwirotun Ni'mah
SPIRAKEL Vol 11 No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.144 KB) | DOI: 10.22435/spirakel.v11i2.1292

Abstract

Beberapa nyamuk adalah vektor berbagai penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD) dan malaria. Salah satu cara menurunkan angka penyakit tular nyamuk adalah dengan memutus rantai penularan dengan mencegah gigitan nyamuk. Pencegahan gigitan nyamuk sebagian besar memakai cara kimiawi baik menggunakan obat nyamuk bakar, repelen, maupun insektisida lainnya. Dampak negatif penggunaan insektisida kimia mendorong pengembangan dan penggunaan metode pengendalian nyamuk sebagai alternatif seperti pengendalian biologi. Pengendalian biologi dapat menggunakan mikroorganisme atau organisme yang berukuran kecil. Metode yang digunakan dalam penulisan adalah dengan menggunakan penelusuran literatur melalui buku, jurnal penelitian dan web page dengan rentang tahun 2010 sampai dengan bulan Agustus tahun 2019. Mikroorganisme golongan bakteri dan fungi dapat dijadikan sebagai agen pengendali biologi untuk pengendalian nyamuk terutama untuk larvasida. Mikroorganisme ini terdiri dari Bacillus thuringiensis, Bacillus sphaericus, Bacillus subtilis, Wolbachia pipientis, Bacillus mycoides, Klebsiella ozaenae, Pseudomonas pseudomallei, Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae. Pengendalian nyamuk menggunakan mikroorganisme telah dilakukan pada genus Aedes, Culex, Anopheles dan Mansonia.
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN OLEANDER (Nerium oleander L.) SEBAGAI BIOLARVASIDA TERHADAP Aedes aegypti Milana Salim; Ayu Permatasari Putri; Syalfinaf Manaf
SPIRAKEL Vol 11 No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.973 KB) | DOI: 10.22435/spirakel.v11i2.1836

Abstract

Penggunaan produk herbal merupakan alternatif terbaik dalam mengendalikan populasi nyamuk. Banyak jenis tanaman diketahui memiliki aktivitas biologi, yakni menghasilkan metabolit sekunder yang berpotensi sebagai larvasida, salah satunya adalah tanaman oleander (Nerium oleander L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun oleander sebagai biolarvasida terhadap larva Aedes aegypti L. instar III. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tujuh perlakuan dan empat ulangan. Sampel penelitian sebanyak 25 larva Aedes aegypti instar III strain lokal Bengkulu per gelas uji. Pembuatan ekstrak daun oleander dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 96% yang dipekatkan dengan rotary evaporator. Konsentrasi ekstrak untuk uji efektivitas didapatkan dari hasil uji pendahuluan: 50 ppm, 200 ppm, 350 ppm, 500 ppm, dan 650 ppm. Kontrol positif menggunakan larutan temefos 1000 ppm dan kontrol negatif menggunakan akuades. Penentuan efektivitas konsentrasi ekstrak daun oleander dengan mencari nilai LC50. Selanjutnya data kematian larva Ae. aegypti dianalisis menggunakan analisis varian (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase kematian larva terbanyak pada konsentrasi 650 ppm. Hasil analisis varian menunjukkan ada perbedaan nyata antar konsentrasi terhadap kematian larva dengan konsentrasi efektif 127,938 ppm. Ekstrak daun oleander efektif sebagai biolarvasida terhadap larva Ae.aegypti strain Bengkulu.
KEJADIAN MALARIA PADA ANAK DAN IBU HAMIL DAN PROGRAM PENGENDALIAN MALARIA DI DESA SUKAJAYA LEMPASING, KABUPATEN PESAWARAN Santoso Santoso; Indah Margarethy; Maya Arisanti; Rizki Nurmaliani
SPIRAKEL Vol 11 No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.564 KB) | DOI: 10.22435/spirakel.v11i2.1837

Abstract

Provinsi Lampung merupakan salah satu daerah endemis malaria. Kabupaten dengan prevalensi tertinggi adalah Kabupaten Pesawaran dengan API sebesar 4,8‰. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil dan balita yang ada di wilayah Desa Sukajaya Lempasing Puskesmas Hanura.Jumlah sampel dalam penelitian adalah 100 orang ibu hamil dan balita. Informan untuk wawancara mendalam adalah petugas pengelola program Malaria. Hasil pengambilan darah dengan RDT terhadap 100 sampel mendapatkan tiga sampel positif malaria falciparum. Hasil pemeriksaan mikroskopis tidak ditemukan slide positif Plasmodium. Penduduk yang pernah mengalami demam sebanyak 42%. Hasil analisis bivariat mendapatkan adanya hubungan yang bermakna antara riwayat demam dengan riwayat kontak dengan penderita malaria sebelumnya. Penggunaan kelambu pada saat tidur sudah merupakan kebiasaan masyarakat khususnya ibu hamil dan balita untuk mencegah gigitan nyamuk. Pengendalian malaria yang telah dilakukan diantaranya penyemprotan, larvasidasi, dan pembagian kelambu.
PENGARUH IKLIM TERHADAP KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KOTA TERNATE M. Rasyid Ridha; Liestiana Indriyati; Amalan Tomia; Juhairiyah Juhairiyah
SPIRAKEL Vol 11 No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.926 KB) | DOI: 10.22435/spirakel.v11i2.1984

Abstract

Perubahan iklim dapat berpengaruh terhadap peningkatan risiko penularan khususnya penyakit demam berdarah dengue (DBD). Kajian mengenai perubahan iklim khususnya suhu, kelembaban, dan curah hujan diperlukan guna kewaspadaan dini peningkatan kasus DBD. Sumber data menggunakan data penelitian “Kejadian DBD berdasarkan faktor iklim di Kota Ternate”. Analisis menggunaan analisis jalur untuk menjelaskan mekanisme hubungan kausal antara curah hujan, kelembaban udara, suhu udara terhadap kejadian penyakit DBD. Kasus DBD di Kota Ternate ditemukan relatif lebih tinggi pada bulan basah yaitu kisaran curah hujan > 200-412 mm, suhu 23-27oC dan kelembaban 67-82 mmHg. Suhu dan kelembaban dinyatakan berpengaruh secara signifikan pada kasus DBD di Kota Ternate (p value<0,005). Curah hujan meskipun tidak terbukti berpengaruh pada kasus DBD, akan tetapi berdasarkan diagram jalur, curah hujan berpengaruh positif terhadap kejadian penyakit DBD sebesar 8,4% yang berarti bahwa tinggi rendahnya kejadian DBD dipengaruhi oleh curah hujan sebesar 84%. Hal ini disebabkan karena curah hujan berpengaruh langsung terhadap keberadaan tempat perkembangbiakan nyamuk vektor DBD. Diperlukan kerjasama antara instansi kesehatan dengan BMKG guna sistem kewaspadaan dini peningkatan kasus DBD dengan memperhatikan tren fluktuasis suhu, kelembaban, dan curah hujan.

Page 1 of 1 | Total Record : 5