cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Gizi Mikro Indonesia
ISSN : 20865198     EISSN : 23548746     DOI : -
Core Subject : Health,
Media Gizi Mikro Indonesia (Indonesian Journal of Micronutrient) is a scientific journal published periodically by the Center for Research and Development of Iodine Deficiency Disorders (BPP GAKI), regularly twice a year. A paper published in the form of text / article the results of research and development, the results of scientific analysis of secondary data, a summary of the current topics in the field of Micronutrients. Editor receives manuscripts / articles, both from researchers at BPP GAKI and outside. The journal has been accredited Indonesian Institute of Sciences (LIPI).
Arjuna Subject : -
Articles 93 Documents
Back Matter Vol 9 No 1 Dsesember 2017 mgmi managerxot
Media Gizi Mikro Indonesia Vol 9 No 1 (2017): Media Gizi Mikro Indonesia Desember 2017
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.733 KB)

Abstract

Front Matter Vol 9 No 2 Juni 2018 mgmi managerxot
Media Gizi Mikro Indonesia Vol 9 No 2 (2018): Media Gizi Mikro Indonesia Juni 2018
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.767 KB)

Abstract

Back Matter Vol 9 No 2 Juni 2018 mgmi managerxot
Media Gizi Mikro Indonesia Vol 9 No 2 (2018): Media Gizi Mikro Indonesia Juni 2018
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.758 KB)

Abstract

KANDUNGAN IODIUM DALAM KELOMPOK BAHAN MAKANAN DI DAERAH PEGUNUNGAN DAN PANTAI Hastin Dyah Kusumawardani; M Arif Musoddaq; Candra Puspitasari
Media Gizi Mikro Indonesia Vol 8 No 2 (2017): Media Gizi Mikro Indonesia Juni 2017
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.893 KB) | DOI: 10.22435/mgmi.v8i2.998

Abstract

Latar belakang. Iodium merupakan mikronutrien penting dan dibutuhkan untuk sintesis hormon tiroid, yaitu tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3). Manusia tidak dapat membuat iodium dalam tubuhnya, tetapi harus mendapatkan dari luar tubuh melalui serapan iodium yang terkandung dalam makanan serta minuman. Makanan merupakan kontributor utama asupan iodium. Analisis kandungan iodium dalam bahan makanan dapat memberikan informasi tentang variasi asupan iodium dalam diet seseorang. Tujuan. Untuk mengetahui kandungan iodium dalam bahan makanan di berbagai area geografis. Metode. Penelitian ini dilakukan di empat wilayah kecamatan di Kabupaten Wonosobo, yaitu di Kecamatan Kertek, Selomerto, Garung dan Kejajar mewakili daerah dataran tinggi dan pegunungan serta Kabupaten Bantul yaitu di wilayah Kecamatan Sanden, Kretek, Piyungan dan Dlingo mewakili daerah dataran rendah dan pantai. Metode penelitiannya dengan mengambil sampel bahan makanan dari bahan makanan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat di lokasi penelitian dan hidup di lokasi tersebut. Dari tiap-tiap kecamatan diambil bahan makanan dari golongan sayuran, serealia, umbi, ikan, telur dan unggas, tanah dan air yang diambil langsung dari lokasi penelitian. Sampel bahan makanan kemudian dipreparasi dengan menggunakan microwave digestive, selanjutnya dianalisis secara duplo dengan metode spektrofotometri. Hasil. Kandungan iodium dalam bahan makanan di daerah pegunungan berbeda dengan daerah pantai, akan tetapi tidak berbeda antara dataran tinggi dan dataran rendah. Kandungan iodium bahan makanan dari tumbuh-tumbuhan bervariasi, dengan kisaran antara 0,73-4,09 µg/g. Susu dan daging sapi mempunyai kandungan iodium tertinggi, 9.89±3.78 µg/g dan 9.2±9.14 µg/g. Kandungan iodium dalam telur antara 0,97-1,98 µg/g. Ikan air tawar mengandung iodium 0,42-1,13 µg/g. Daging unggas mengandung iodium sebanyak 0,69-2,97 µg/g. Tanah di lokasi penelitian mengandung iodium 0,41-4,11 µg/g, sedangkan kandungan iodium dalam air antara 0-23,36 µg/L. Kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan kandungan iodium dalam bahan makanan berbeda-beda menurut letak geografisnya, dan bervariasi meskipun dalam golongan bahan makanan yang sama.
GOOD HOUSE-KEEPINGDI IKM GARAM BERYODIUM MELALUI PENERAPAN PENCUCIAN GARAM BERTINGKAT UNTUK MENJAGA KESTABILAN KIO3DAN PEMENUHAN KADAR NaCl Nilawati Nilawati; Marihati Marihati
Media Gizi Mikro Indonesia Vol 8 No 2 (2017): Media Gizi Mikro Indonesia Juni 2017
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.897 KB) | DOI: 10.22435/mgmi.v8i2.999

Abstract

Latar Belakang. Good House Keeping (GHK) atau pengelolaan internal yang baik bermanfaat untuk mengefisiensikan pemakaian bahan baku, air dan energi melalui perencanaan produksi secara maksimal. Penelitian ini bertujuan menerapkan GHK melalui inovasi teknologi sistem pencucian bertingkat untuk mendapatkan rasio pencucian antara bahan baku dan air yang digunakan untuk pencucian garam dengan rasio terendah. Pencucian berfungsi untuk menghilangkan senyawa-senyawa impuritis sehingga nantinya garam yang telah dicuci untuk dijadikan garam konsumsi beriodium dapat meningkat kadar NaCl-nya dan terjaga stabilitas KIO3 selama penyimpanan. Metode. Penelitian dilakukan dua tahap, yaitu tahap pertama adalah proses pencucian garam bahan baku mengunakan larutan garam 180 Be dengan variabel ke-satu adalah sistem pencucian satu tingkat dan tiga tingkat, serta variabel ke-dua rasio berat garam yang dicuci berbanding pemakaian larutan pencuci (1:2) , (1:3) , (1:5) dan (1:7). Tahap kedua adalah proses iodisasi dengan pengamatan waktu penyimpanan garam beriodium selama 0, 1, 2, dan 3 bulan. Hasil. Good House Keeping melalui pencucian garam tiga tingkat dapat meningkatkan NaCl garam rata-rata dari bahan baku 85,20 persen menjadi 88,35 persen untuk pencucian satu tingkat dan 96,78 persen untuk pencucian tiga tingkat. Rasio 1:3, merupakan perlakuan terbaik. Berat garam yang diperoleh setelah pencucian satu tingkat adalah 77,13 persen dan tiga tingkat 81,45 persen, jadi kehilangan garam pada pencucian satu tingkat adalah 22,87 persen dan tiga tingkat 18,55 persen. Kandungan KIO3 selama masa penyimpanan 3 bulan untuk pencucian satu tingkat adalah 48,4 ppm menjadi 41,0 ppm sedangkan tiga tingkat adalah 48,2 ppm turun menjadi 43,0 ppm. Jadi kehilangan KIO3 pada pencucian satu dan tiga tingkat masing-masing 15,3 persen dan 10,8 persen. Kesimpulan. Hasil penerapan GHK melalui inovasi pencucian bertingkat diperoleh hasil bahwa kadar NaCl garam pada sistem pencucian tiga tingkat lebih tinggi dibanding satu tingkat. Garam pencucian sistem satu tingkat belum memenuhi persyaratan SNI 01-3556-2010 sedangkan tiga tingkat sudah sesuai. Kehilangan garam pada pencucian sistem tiga tingkat lebih kecil dibandingkan pencucian satu tingkat.
MODEL ANALYSIS, DESIGN, DEVELOPMENT, IMPLEMENTATION, EVALUATION (ADDIE) UNTUK PENGEMBANGAN MEDIA EDUKASI PENANGGULANGAN GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN IODIUM Asih Setyani; Leny Latifah; Cati Martiyana; Slamet Riyanto
Media Gizi Mikro Indonesia Vol 8 No 2 (2017): Media Gizi Mikro Indonesia Juni 2017
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1697.017 KB) | DOI: 10.22435/mgmi.v8i2.1001

Abstract

Latar Belakang. Analisis kebutuhan pada tahapan awal pengembangan media menunjukkan bahwa masyarakat Desa Pulosaren membutuhkan penyuluhan tentang GAKI yang didukung oleh media yang menarik, mudah dimengerti, awet, dan murah terutama bila menggunakan swadana masyarakat. Tahapan pengembangan media dalam penelitian ini mengacu pada model pengembangan ADDIE. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media edukasi penanggulangan GAKI yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di Desa Pulosaren. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pengembangan media menggunakan model ADDIE. Metode pengumpulan data menggunakan FGD dan wawancara mendalam. Informan terdiri dari kepala dusun, tokoh pemuda, tokoh agama, kader, anggota PKK di wilayah Desa Pulosaren, Kepala Desa Pulosaren, dan Bidan Desa Pulosaren, serta pemangku kepentingan di lingkup Pemda Kabupaten Wonosobo. Hasil. Hasil FGD dengan masyarakat media edukasi yang dibutuhkan berupa buku saku dan lembar balik. Media tersebut diharapkan terbuat dari kertas tebal, berwarna, tidak mudah basah, dan bentuk tulisan dari komputer. Informasi yang dimuat dalam media adalah: pengertian iodium, daerah berpotensi kekurangan iodium, bahan makanan di daerah sekitar yang cukup iodium, akibat kekurangan iodium, kelompok penduduk rawan kekurangan iodium, bagaimana mencegah GAKI, penghambat penyerapan iodium, pengertian garam beriodium, cara memilih, menyimpan, dan menggunakan garam beriodium yang baik, serta cara mengetahui kualitas garam beriodium. Pada tahap implementasi dan evaluasi didapatkan masukan dari masyarakat berupa penambahan ukuran tulisan, penyederhanaan istilah, dan penambahan ilustrasi gambar pada beberapa bagian. Tampilan dengan lebih banyak gambar daripada tulisan lebih mudah dipahami oleh masyarakat Kesimpulan. Model ADDIE dapat dipergunakan untuk pengembangan media edukasi berupa buku saku dan lembar balik untuk penanggulangan GAKI di Desa Pulosaren.
PENGARUH HIPOTIROID TERHADAP BERAT BADAN DAN KONSUMSI PAKAN PADA TIKUS JANTAN GALUR WISTAR Taufiq Hidayat; Alfien Susbiantonny
Media Gizi Mikro Indonesia Vol 10 No 1 (2018): Media Gizi Mikro Indonesia Desember 2018
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.915 KB) | DOI: 10.22435/mgmi.v10i1.1004

Abstract

Latar belakang. Terdapat hubungan yang kompleks antara penyakit tiroid, berat badan, dan metabolisme. Hipotiroidisme dan obesitas merupakan dua keadaan yang secara umum sering dikaitkan. Namun demikian, perubahan aksis hipotalamus-pituitari-tiroid (HPT) dan kadar hormon tiroid perifer dilaporkan bertentangan dengan efek hormon tiroid pada nafsu makan. Tujuan. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh hipotiroid terhadap berat badan dan konsumsi pakan pada tikus jantan galur Wistar. Metode. Dua belas tikus Wistar jantan dengan berat rata-rata 200-250 g dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok diberikan PTU 54 mg/kgbb/hari secara oral selama 14 hari untuk menginduksi hipotiroid dan 1 kelompok kontrol diberikan akuades secara oral. Tikus ditimbang setiap minggu dan konsumsi pakan diamati setiap hari. Kadar TSH dan FT4 serum diperiksa pada akhir penelitian. Hasil. Berat badan kelompok hipotiroid (245,05 ± 11,685) lebih tinggi bermakna dibandingkan dengan kontrol (220,01 ± 8,338) (p<0,05), konsumsi pakan kelompok hipotiroid (15,80 ± 2,348) lebih rendah bermakna dibandingkan dengan kontrol (18,94 ± 0,911) (p<0,05). Kadar FT4 serum berhubungan negatif secara bermakna dengan berat badan (r=-0,608, p<0,05), dan berhubungan positif dengan konsumsi pakan (r=0,550, p=0,064). Kadar TSH serum secara bermakna berhubungan positif dengan berat badan (r=0,849, p<0,01) dan secara bermakna berhubungan negatif dengan konsumsi pakan (r=-0,739, p<0,01). Kesimpulan. Hipotiroid meningkatkan berat badan dan menurunkan konsumsi pakan pada tikus jantan galur Wistar. Kadar FT4 rendah berhubungan dengan peningkatan berat badan. Kadar TSH tinggi berhubungan dengan peningkatan berat badan dan penurunan konsumsi pakan.
PERBANDINGAN KADAR SERAT DAN BETAKAROTEN PADA MIE YANG DISUBSTITUSI KELOR (MORINGA OLEIFERA L.) DAN BUAH BIT (BETA VULGARIS L.) Sri Hapsari; Indah Asrifah
Media Gizi Mikro Indonesia Vol 9 No 1 (2017): Media Gizi Mikro Indonesia Desember 2017
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2001.769 KB) | DOI: 10.22435/mgmi.v9i1.1007

Abstract

Latar Belakang. Pola hidup masa kini yang menuntut kecepatan dalam segala bidang berdampak pada pola makan masyarakat yang cenderung menjadi tidak sehat. Masyarakat lebih memilih makanan cepat saji, salah satunya berupa mie instan yang kebanyakan mengandung karbohidrat tinggi serta kurang mengandung serat dan zat gizi mikro. Memahami masalah tersebut di atas, produk mie telah menggunakan variasi campuran bahan baku. Salah satu bahan pangan yang dapat divariasikan adalah daun kelor (Moringa oleifera L.) dan buah bit (Beta vulgaris L.). Tujuan. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan kadar serat dan betakaroten pada mie yang disubstitusi daun kelor (Moringa oleifera L.) dan buah bit (Beta vulgaris L.). Metode. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor: faktor I (A) yaitu jenis tepung, meliputi tepung daun kelor (A1) dan tepung buah bit (A2). Faktor II (B) yaitu rasio tepung: tepung terigu, terdiri dari 5 level (0:350, 15:335, 30:320, 60:290, 105:245). Hasil. Hasil analisis statistik dengan ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (Fhit> Ftab) jenis tepung, rasio tepung : tepung terigu, dan interaksi kedua faktor perlakuan tersebut terhadap kadar serat dan betakaroten mie. Kesimpulan. Kesimpulan penelitian bahwa substitusi tepung buah bit pada rasio tepung buah bit : tepung terigu 105 : 245 (g/g) memiliki rata-rata kadar serat dan betakaroten tertinggi.
KAJIAN PUSTAKA: PERAN ZINK PADA DEPRESI POSTPARTUM Yessy Kurniati
Media Gizi Mikro Indonesia Vol 9 No 1 (2017): Media Gizi Mikro Indonesia Desember 2017
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.94 KB) | DOI: 10.22435/mgmi.v9i1.1009

Abstract

Latar Belakang. Kejadian depresi postpartum cukup tinggi di Indonesia. Berbagai faktor risiko diduga menjadi penyebab masalah tersebut, seperti misalnya faktor sosial dan faktor biologis. Salah satu faktor biologis yang penting adalah defisiensi berbagai mikronutrien. Zink merupakan salah satu mikronutrien yang diduga berperan pada terjadinya depresi postpartum. Tujuan. Melakukan tinjauan literatur artikel terkait depresi postpartum untuk memperjelas peran zink pada depresi postpartum. Metode. Penelusuran literatur dilakukan melalui mesin pencari Google Scholar dan database elektronik PubMed dan Clinical Key. Kata kunci zinc, seng, depresi, postpartum dan postpartum depression digunakan untuk melacak artikel penelitian asli maupun kajian pustaka pada jurnal nasional maupun internasional berbahasa Inggris, dan dapat diakses secara terbuka (open access). Kajian pustaka secara naratif (unsystematic narrative review) dilakukan untuk mensintesis informasi dari 69 artikel terpilih yang terdiri dari 7 artikel tentang depresi secara umum, 12 artikel tentang depresi postpartum, 35 artikel tentang fungsi, metabolisme dan defisiensi zink, serta 15 artikel tentang hubungan zink dan depresi postpartum. Hasil. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa zink terbukti berhubungan dengan terjadinya depresi secara umum, baik pada hewan coba maupun manusia. Kesimpulan. Secara khusus zink juga berhubungan dengan terjadinya depresi postpartum melalui mekanisme keseimbangan glutamatergik (glutamatergic theory).
STATUS IODIUM URINE DAN ASUPAN IODIUM PADA ANAK STUNTING USIA 12-24 BULAN Dwi Arum Sulistyaningsih; Binar Panunggal; Etisa Adi Murbawani
Media Gizi Mikro Indonesia Vol 9 No 2 (2018): Media Gizi Mikro Indonesia Juni 2018
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.263 KB) | DOI: 10.22435/mgmi.v9i2.1028

Abstract

Latar belakang. Panjang badan dipengaruhi oleh like growth factor-1 (IGF-1). Hormon tersebut merupakan hasil sintesis hormon pertumbuhan yang didukung oleh hormon tiroid dari iodium. Asupan iodium yang rendah dapat mempengaruhi hormon pertumbuhan seperti IGF-1. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status iodium dengan panjang badan pada anak stunting usia 12-24 bulan. Metode. Penelitian menggunakan rancangan cross sectional, serta dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Bangetayu Kecamatan Genuk Kota Semarang. Sebanyak 69 anak direkrut menggunakan metode simple random sampling. Data asupan diperoleh melalui Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire. Pengukuran status iodium dalam urine dilakukan di laboratorium GAKI Fakultas Kedokteran UNDIP. Data dianalisis menggunakan uji korelasi rank Spearman. Hasil. Rerata panjang badan subjek yaitu 75,3±4,4 cm. Sebanyak 94,2 persen subjek memiliki status iodium dengan kategori tinggi. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status iodium dan panjang badan pada anak stunting usia 12-24 bulan (p=0,95) baik asupan iodium dan panjang badan (p=0,68). Namun, terdapat hubungan yang signifikan antara asupan protein (p=0,00), zink (p=0,01), vitamin A (p=0,00) dengan panjang badan. Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan antara status iodium dan panjang badan pada anak stunting usia 12-24 bulan.

Page 4 of 10 | Total Record : 93