cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2015): Oktober 2015" : 7 Documents clear
KONSERVASI FASADE BANGUNAN KOLONIAL Agus Kurniawan; Rumawan Salain; Ciptadi Trimarianto
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.97 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i02.p02

Abstract

Abstract The city of Singaraja is an old town in Bali that has a complex numerous cultural heritage, including the Dutch corridor. It was built after Durch imperialism invaded Bali in 1846. Moreover, the colonial government also constructed public facilities, such as offices, commercial buildings, public services, and houses. Since the city was targetted as a tourist destination by local government, the area has been significantly modified; even some public facilities have been demolished. The study aims to determine the façade typology of colonial buildings and their evolution. Certain causal factors have already been identified. The objective of the study is to determine conservation policy for this corridor. Theories of conservation and spatial restructuring have been used to inform data analysis and synthesis. The research suggests three major typologies of such facades.These arethe original facade (Type A), a partial change (Type B), and a complete change (Type C). Demographic  factors, physical environment, and new cultural elements are considered as determining factors that encourage changes to Type B and Type C; whereas new elements occur in Type A. Consequently, techniques for physical conservation, preservation, restoration, and reconstruction are suggested. Whenever possible, restoration is supported by finance and policy initiatives. The study concludes that old buildings need to be supported by government intervention: legal protection and penalties, loans and subsidies, adaptively-reused development, and appropriate planning. Keywords: conservation, colonial building’ façade, the Dutch Line AbstrakKota Singaraja merupakan salah satu kota lama yang memiliki beberapa peninggalan budaya, di antaranya Jalur Belanda. Pemerintah Kolonial Belanda membangun jalur ini setelah menguasai Bali pada tahun 1846. Sepanjang jalur ini, Belanda membangun fasilitas kota, seperti perkantoran, perdagangan, fasilitas pelayanan umum, dan rumah-rumah dinas. Sejak Kota Singaraja dicanangkan sebagai obyek pariwisata oleh Pemerintah setempat, kawasan ini mengalami banyak perubahan, bahkan terjadi penghancuran bangunan-bangunan tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tipologi fasade bangunan kolonial dan sejumlah perubahan yang terjadi, serta faktor-faktor yang mempengaruhi. Dengan demikian, penelitian ini menghasilkan sejumlah rekomendasisebagai upaya pendekatan konservasi pada fasade bangunan kolonial di Jalur Belanda di Kota Singaraja. Analisa data dilakukan melalui pendekatan teori konservasi dan teori bentuk, sedangkan metode yang digunakan adalah sequential explanatory. Studi ini menghasilkan tiga kategori fasade: fasade bangunan masih asli (Tipe A), fasade yang telah mengalami perubahan sebagian (Tipe B), dan fasade yang sudah berubah total (Tipe C). Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan fasade pada kategori B dan C adalah faktor pertambahan penduduk, lingkungan alam fisik, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Pada kategori A, faktor yang mempengaruhi adalah adanya penemuan baru. Metode dan teknik konservasi secara fisik menggunakan preservasi, restorasi, dan rekonstruksi, sedangkan metode nonfisik dilakukan secara restorasi dalam konteks intangible. Penelitan ini menyatakan bahwa bangunan kuno perlu lebih diberdayakan melalui mekanisme legal protection (perlindungan hukum) dan penalties (hukuman), pinjaman dan subsidi, dan adaptively-reused development. Kata kunci: konservasi, fasade bangunan kolonial, Jalur Belanda
PELESTARIAN KAWASAN YAROANA MASIGI PENINGGALAN KESULTANAN BUTON DI KOTA BAUBAU, SULAWESI TENGGARA Sketsa Ultra Pelangi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.034 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i02.p07

Abstract

Abstract The Masigi Yaarana is the remaining public space of the Kesultanan Buton in Baubau, South-East Sulawesi. This public space represents a number of traditional activities that took place in the days of empire. Unfortunately, lack of concern regarding heritage conservation preservation has decreased the quality of the area. The study investigates the existing physical characteristics and historical properties as well as  a trajectory for conservation. It demonstrates that the existing layout is hierarchic,and its magnitude and spatial boundaries are  influenced by the concept of cosmological Buton. Thishierarchy of public (Yaroana Masigi) is a core element of Buton castle: with the Great Mosque at the pinnacle. The historical values of this public space are dependent on the roles historical buildings and suggest which cultural activities are be reinforced. The  conservation programme should be based on this assessment. It should consist of six criteria: aesthetics, plurality, scarcity, value, the role of history, and the image of the area. In the light of implementing such value, physical conservation, preservation, restoration and reconstruction are significant. Meanwhile, guidelines for nonphysical preservation include a group of referrals to maintain cultural activities and a number of relevant policies, namely regulations, consciousness and initiative aspects. Keywords: public space, Yaroana Masigi, conservation Abstrak Kawasan Yaroana Masigi merupakan satu-satunya ruang publik peninggalan Kesultanan Buton yang masih bertahan. Yaroana Masigi mewadahi sejumlah aktivitas tradisi yang berlangsung di zaman kesultanan. Perkembangan zaman dan ketidakpahaman mengenai pelestarian dikhawatirkan akan menurunkan kualitas kawasan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik eksisting kawasan, nilai sejarah dan signifikansinya, serta arahan pelestariannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik fisik eksisting ruang publik memiliki tata letak dan hirarki yang  dipengaruhi oleh sejarah serta konsep kosmologis masyarakat Buton, besaran dan batasan ruangnya berupa jalan dan ruang-ruang terbuka tanpa batasan jarak pandang. Hirarki ruang publik Yaroana Masigi merupakan elemen inti kawasan Benteng Keraton Buton. Sedangkan di dalam Yaroana Masigi, obyek Masjid Agung Keraton memiliki hirarki teratas. Nilai sejarah  ruang publik ini dijabarkan melalui peran masing-masing bangunan terhadap sejarah dalam Yaroana Masigi. Signifikansi budayanya tercermin pada aktivitas budaya yang diwadahi. Adapun upaya pelestarian kawasan ini didasarkan atas penilaian makna kultural yang terdiri dari enam kriteria yaitu estetika, kejamakan, kelangkaan, keluarbiasaan, peranan sejarah, dan citra kawasan. Dengan mendapatkan nilai potensial tinggi, rendah hingga sedang untuk tiap obyek dengan arahan pelestarian fisik berupa preservasi, konservasi, restorasi, dan rekonstruksi. Arahan pelestarian non fisik mencakup arahan untuk mempertahankan aktivitas budaya, serta kebijakan yang mencakup aspek peraturan, aspek kesadaran dan inisiatif. Kata kunci: ruang publik, Yaroana Masigi, pelestarian
PERUBAHAN PEMANFAATAN LAHAN KAWASAN SUBAK KEDAMPANG DI KUTA UTARA I Putu Eka Musdiana
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.818 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i02.p03

Abstract

Abstract Subak consists of four components: a temple, community organisations, paddy fields, and irrigation systems. All the above components combine into a subak area. Paddy fields are currently being transformed for other uses such as commercial and residential purposes. This affects on the sustainability of Subak and the culture it supports.  One of the subak areas experiencing such intervention is Subak Kedampang. This study aims to determine the changes in land use, and its effects on the sustainability of the Subak Kedampang. Qualitative research methods are deployed. From 1990-2013 research demonstrates that Subak Kedampang has lost approximately 185.36 hectares of paddy fields to non-agricultural land use. Causes are largely due to the land consolidation, infertile farmland, and income differentials resulting either from cultivating the land or th elease or sale of such land for non-agricultural functions. These changes undermine the quality of paddy fields, Subak membership, and its irrigation systems. Irrigation systems then perform the additional function of sewers. Changes of land use therefore undermine the sustainability of the Subak Kedampang area as well as that of the entire island. Keywords: spatial changes, land use, subak area Abstrak Subak memiliki komponen tempat suci, organisasi kemasyarakatan, lahan persawahan dan sistem irigasi. Komponen-komponen tersebut menyatu menjadi kawasan subak. Saat ini terjadi alih fungsi lahan dari persawahan menjadi perumahan atau perdagangan. Alih fungsi lahan ini dapat mempengaruhi keberlanjutan subak, di antaranya Subak Kedampang. Penelitian ini memaparkan perubahan lahan yang terjadi, penyebab dan dampak perubahan tersebut pada keberlanjutan Subak Kedampang. Pendekatan penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kurun waktu 1990-2013, perubahan pemanfaatan lahan di Kawasan Subak Kedampang seluas 185,36 hektar. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa pada Kawasan Subak Kedampang terjadi perubahan pemanfaatan lahan sebesar 185,36 hektar dalam periode 1990-2013. Perubahan fungsi lahan terjadi dari lahan persawahan menjadi lahan budidaya nonpertanian. Penyebab perubahan pemanfaatan lahan ini adalah adanya kebijakan pemerintah untuk melaksanakan land consolidation, perbedaan penghasilan yang diperoleh petani dari mengolah lahan untuk pertanian dengan menyewakan atau menjual lahan untuk pemanfaatan selain pertanian, dan ketidaksuburan lahan pertanian. Perubahan pemanfaatan lahan mengakibatkan berkurangnya lahan persawahan, anggota organisasi subak dan perubahan irigasi. Bentuk perubahan irigasi dari hanya satu fungsi sebagai irigasi menjadi jaringan dengan dua kegunaan yaitu irigasi dan saluran air kotor. Studi ini menunjukkan bahwa perubahan pemanfaatan lahan tidak mendukung keberlanjutan Kawasan Subak Kedampang. Kata kunci: perubahan ruang, tata guna lahan, kawasan subak
RUANG KOTA SEBAGAI WADAH AKTIVITAS REMAJA DALAM MENGISI WAKTU LUANG DI KOTA DENPASAR Wayan Sutarman
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.885 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i02.p08

Abstract

Abstract This article discusses urban spaces available to young people to spend their free time outside school in Denpasar City. Since such spaces are poorly provisioned, this article studies the types of spatial resources required by the young generation. It investigates the typology of activities employed by this group outside their domestic environment; the provision of urban spaces; and preferred functions for school holidays and ancillary spaces. The study implemented a combined research approach using both qualitative and quantitative techniques and a frequency method for data analysis. The study findings demonstrate that in their free time, young people tend to participate in activities that are both populer and relaxing, using  sports fields; malls and shopping centres; and 24 hours restaurant and outlets that allow free internet access. Other preferred public urban spaces include swimming pools, arenas for roller blading and skate boarding related activites, futsal; and tracks for motor bike competitions. Keywords: teenager’ activities, urban spaces Abstrak Tulisan ini mempertanyakan tentang ruang kota yang digunakan oleh remaja di Kota Denpasar, dalam mengisi waktu luang di luar jam sekolah. Dimana ruang-ruang tersebut yang ada selama ini penciptaanya kurang memperhatikan kebutuhan remaja di Kota Denpasar. Dengan kondisi ini munculah beberapa permasalahan-permasalahan ruang kota di Kota Denpasar. Untuk dapat memecahkan permasalahan tersebut dapat dilakukan pendekatan dengan mengetahui aktivitas-aktivitas yang telah dilakukan oleh remaja di Kota Denpasar dan ruang kota yang telah digunakan, aktivitas yang ingin dilakukan, serta ruang kota yang diinginkannya, sehingga mendapatkan ruang-ruang kota yang berpotensi ke depan untuk dapat dikembangkan. Untuk dapat memecahkan permasalahan tersebut penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Analisis data menggunakan metode frekuensi. Hasil studi menemukan bahwa, ada aktivitas remaja pelajar  pada waktu luang di Kota Denpasar, dipengaruhi oleh tingkat kepopuleran dari aktivitas itu sendiri serta aktivitas bersama yang tidak memerlukan pemikiran (aktivitas santai). Untuk mendukung aktivitas remaja pelajar di Kota Denpasar diperlukan ruang-ruang seperti: lapangan olah raga, mall/ pusat perbelanjaan, dan restaurant 24 jam. Serta mengusulkan ruang-ruang seperti: kolam renang, lintasan sepatu roda, lintasan skate board, lapangan futsal, dan lintasan lomba naik sepeda motor (trak-trakan). Kata Kunci: aktivitas remaja, ruang kota
MORFOLOGI ARSITEKTUR MASJID DI DENPASAR BALI Ardiansyah Ardiansyah
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.173 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i02.p04

Abstract

Abstract The mosque is the sacred building of Moslems and its architectural design is influenced by its environment. As a result, mosques in every area have a unique morphology. In South-East Asia roofs tend to be layered as in Indonesia. As such, many debates occur as to its origins. Three basic theories exist. Firstly, the design may be affected by peripheral elements, such as Malabar. Secondly, Javanese mosques have affected Indonesian style, even in Asia. Thirdly, local wisdom is an essential element in Mosque design. The study reveals local cultures have affected the morphology of the mosque in Denpasar. For instance, it can be identified through the concept of open space; the use of wantilan and bale; colours of building performance, ornaments, and interior decorations. Qualitative methodology is used in data analysis. Furthermore, the study discoveres that an understanding of the hadist plays an important role in th ecreation of mosque morphology in Denpasar. Keywords: mosque, morphology, culture, environment, hadist Abstrak Masjid merupakan bangunan suci umat Islam yang tampilan arsitekturalnya dipengaruhi oleh lingkungan, sehingga tiap daerah memiliki morfologi masjid yang berbeda-beda. Salah satu morfologi masjid yang mewakili Asia Tenggara adalah masjid beratap tumpang yang banyak ditemukan di Indonesia. Namun demikian, terdapat banyak perdebatan mengenai asal-usul tipologi masjid tersebut. Beberapa penelitian morfologi masjid di Indonesia menunjukkan tiga teori dasar mengenai asal-usul bentuk masjid di Indonesia. Pertama, masjid di Indonesia dipengaruhi oleh arsitektur dari luar, seperti Malabar. Kedua, arsitektur masjid di Indonesia, bahkan di  Asia, dipengaruhi oleh arsitektur masjid Jawa; sedangkan ketiga, arsitektur masjid lahir dari kearifan lokal setempat. Studi ini mengungkapkan bahwa budaya lokal Kota Denpasar mempengaruhi morfologi masjid, seperti konsep ruang terbuka, penggunaan bentuk bale dan wantilan, warna, dan ragam hias. Metode kualitatif deskriptif digunakan untuk mengeksplorasi data dan menganalisisnya. Studi ini juga mengungkapkan bahwa pemahaman terhadap hadist berperan penting dalam menciptakan morfologi masjid di Denpasar. Kata kunci: masjid, morfologi, budaya, lingkungan, hadist
PENDEKATAN PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH DI KOTA DENPASAR Arya Bagus Mahadwijati Wijaatmaja
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.259 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i02.p05

Abstract

Abstract The spatial planning of Denpasar proceeds from the evaluation of prior policy through to final draft approval at the national level, in this case the Ministry of Public Works.  Numerous institutions in Denpasar are involved in this process, including the regional development bureau, local leaders, professional associations, and a number of related institutions. The adopted approach uses therational comprehensive model. It has five properties, namely planning characteristics, the role of the state, planning objectives, the scope of planning, and planning methods, This study uses a qualitative approach to evaluate this process focussing on institutions and influential interests. It emphasizes the actors' policies and their networks. Field data are obtained through archival research and focussd interviews. Keywords: urban planning, spatial planning Abstrak Perencanaan Tata Ruang Wilayah Kota Denpasar melalui beberapa tahapan, dari evaluasi rencana tata ruang sebelumnya hingga persetujuan rancangan tata ruang tersebut kepada Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum. Sejumlah pihak terlibat dalam proses ini, di antaranya Badan Perencana Pembangunan Daerah Kota Denpasar, seluruh lurah dan kepala desa se-Kota Denpasar, asosiasi profesi, dan sejumlah instansi terkait. Berdasarkan lima uraian mengenai perbandingan perencanaan: karakteristik perencanaan, peran negara, tujuan perencanaan, ruang lingkup perencanaan, dan metode perencanaan, maka pendekatan yang diterapkan dalam perencanaan tata ruang wilayah Kota Denpasar adalah pendekatan rasional komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses perencanaan tata ruang wilayah di atas, pihak-pihak dan kepentingan yang berpengaruh, serta pendekatan dalam perencanaannya. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini menekankan pada para aktor kebijakan, jaringan kebijakan, dan pendekatan perencanaan. Data lapangan diperoleh melalui penelusuran dokumen dan wawancara pada sejumlah pihak terkait. Kata kunci: perencanaan kota, tata ruang
PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN DI SEKITAR PUSPEM BADUNG I Ketut Suartha Suartha
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.502 KB)

Abstract

Abstract The study suggests the major factors that play an important role in housing developments that surround the civic centre of Badung Regency. Four urban villages are involved: Sempidi, Sading, Lukluk, and Abianbase. Qualitative research analyses housing growth, whereas field data is processed with SPSS (Statistical Program for Social Science). The study evaluates private housing development prior to the availability of facilities and infrastructure. Field data are scored and analysed by the Likert Scale to refine determining factors. Results show that those factors are: (1) the availability of housing facilities and infrastructure as dominant (69.17%); (2) the availability of accessibility (58.06%); (3) economic value of land and housing (42.22%); and (4) social factors, including comfort and privacy of homes (39.72%). Keywords: housing development, significant factors, civic centre Abstrak Studi ini bertujuan untuk mengetahui sejumlah faktor yang berperan pada pembangunan perumahan di sekitar kawasan yang meliputi meliputi Kelurahan Sempidi, Kelurahan Sading, Kelurahan Lukluk, dan Kelurahan Abianbase. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif untuk memaparkan pertumbuhan wilayah dan kecenderungan pola pertumbuhan perumahan. Data juga diolah dengan program SPSS (Statistical Program for Social Science). Studi diawali dengan tahapan evaluasi perkembangan pembangunan perumahan yang dibangun oleh pengembang, dan ketersediaan sarana dan prasarana penunjang. Analisis data dilakukan dengan skoring dan pembobotan memakai skala Likert untuk mendapatkan faktor yang berpengaruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh pada pembangunan perumahan di kawasan tersebut adalah (1) faktor ketersediaan sarana dan prasarana perumahan menjadi pertimbangan utama atau faktor dominan (69,17%), (2) faktor ketersediaan aksesibilitas (58,06%), (3) faktor nilai ekonomis lahan dan perumahan (42,22 %), dan (4) faktor sosial berupa kenyamanan dan privasi perumahan (39,72 %). Kata kunci: pembangunan perumahan, faktor perkembangan, pusat pemerintahan.

Page 1 of 1 | Total Record : 7