cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 1 (2016): April 2016" : 7 Documents clear
AKTIVITAS EKONOMI DAN KUALITAS RUANG TERBUKA HIJAU AKTIF DI KOTA DENPASAR I Dewa Made Dwipa Tanaya
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 3 No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.605 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2016.v03.i01.p08

Abstract

Abstract Active green open space has an important role to play in urban environment. This study looks at functions accommodated by this spatial formation that exist in Kota Denpasar. Since these functions are not planned for in the first instance, informal economic activities act to the detriment of such spaces rather than reinforcing them with planned informal economic activities. Qualitative methods are used in the study. Physical and non- physical elements are identified. The former embrace scale of the park, the type of facilities it offers, the quality of design and other physical conditions. Non-physical elements cover an understanding of the park as a responsive, democratic, meaningful and accessible spatial form within our urban environment. Thorough planning is required if economic activities are to be managed and their impacts anticipated. At the same time, any plan must include public education to raise awareness that the quality of the environment is not the responsibility of others but the duty of everybody. The study concludes that economic activities currently bring negative impacts on the quality of the green open space due to a greater consideration by government in the planning stages. Keywords: Open green space, economic activities, impact, open green space quality Abstrak Ruang terbuka hijau aktif memiliki peran penting dalam lingkungan perkotaan. Studi ini bertujuan untuk melihat aktivitas ekonomi yang diwadahi oleh RTH di Kota Denpasar serta menganalisis dan mengkaji bagaimana pemanfaatan ruang untuk aktivitas ekonomi yang ada berdampak terhadap kualitas RTH aktif di Kota Denpasar. Kualitas RTH ditentukan oleh aspek fisik dan non fisik. Aspek fisik mengkaji skala, kelengkapan sarana elemen pendukung, desain, dan kondisi fisik. Aspek non fisik mengkaji masing-masing yang mendemonstrasikan hal responsif, demokratis, memberikan arti dan aksesibilitas. Aktivitas ekonomi memberi pengaruh negatif terhadap kualitas ruang terbuka hijau aktif. Penataan ruang terhadap aktivitas ekonomi bisa dijadikan alternatif untuk mengurangi dampak negatif terhadap kualitas kawasan. Pembelajaran terhadap masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan juga sangat penting untuk dilakukan. Kata kunci: ruang terbuka hijau, aktivitas ekonomi, dampak, kualitas ruang terbuka hijau
PERKEMBANGAN KERUANGAN DI KORIDOR BYPASS BIL-BATUJAI PASCA PEMBANGUNAN BANDARA INTERNASIONAL LOMBOK Desy Rosmawati
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 3 No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.723 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2016.v03.i01.p03

Abstract

Abstract Lombok International Airport (BIL) was located in Central Lombok and was built in 2008. Its efficiency was supported by the construction of the BIL-Batujai bypass - part of BIL-Gerung bypass - in the same year. In anticipating the many forms of uncontrolled development that were likely to take place along this bypass upon its completion, Central Lombok local government had instigated a Detailed Spatial Plan (RDTR) for BIL and its surroundings in 2006. This article therefore has two objectives. First, by investigating those factors determining various forms of land use change occurring along the BIL-Batujai corridor; and second by investigating the conformance of these developments to the 2006's RDTR of Central Lombok. In doing so, this study uses a qualitative approach. Study findings show there are two types of developments including both physical and non-physical. The physical developments cover the construction of both permanent and non-permanent structures, the modification of homes into store-houses, the eviction of many buildings used for art-shops, the failed attempt to relocate Penujak market, and the success story of Batujai settlement relocation. Non-physical development embraces phenomenon such as, changes in the image of Batujai-BIL bypass corridor, the increase in land prices, and the change in the occupations of community members living in proximity to this bypass. This study concludes by suggesting that determining factors underlining these developments are as follows: (1) the emergence of new functions and activities brought by the operation of Lombok International Airport (BIL); (2) accessibility; (3) the topography of BIL-Batujai corridor which is relatively flat and served with adequate infrastructures; (4) the existence of local government spatial planning policies that regulate development of the BIL and its surroundings areas; (5) a tendency of the existing land owners to transfer rights over land to other party/s for economic reasons; (6) the development of housing units initiated by developers in response to a rising need for homes close by the airport; (7) the late response of the local government in controlling rapid spatial developments; and (8) problems associated with the economic rationale behind many forms of development. Keywords: Lombok International Airport (BIL), BIL-Batujaibypass corridor, spatial development Abstrak Bandara Internasional Lombok (BIL) adalah bandara baru bertaraf internasional yang dibangun pada tahun 2008 dan berlokasi di Kabupaten Lombok Tengah.  Pembangunan bypass BIL-Batujai yang merupakan bagian dari bypass BIL-Gerung adalah prasarana yang dibangun pada tahun 2008 untuk mendukung aktivitas BIL. Pasca pembangunan bypass tersebut, terjadi perkembangan keruangan di koridor tersebut. Dalam mengendalikan perkembangan yang terjadi, pemerintah setempat telah membuat RDTR Kawasan Bandara Lombok Baru (2006). Artikel ini ditulis berdasarkan studi yang bertujuan untuk mengetahui fenomena perkembangan keruangan yang terjadi dan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya perkembangan di koridor tersebut, serta menganalisis kesesuaian perkembangan yang terjadi dengan arahan dalam RDTR. Guna mendukung penelitian, digunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena perkembangan keruangan yang terjadi meliputi aspek fisikal dan non-fisikal. Aspek fisikal meliputi: adanya pembangunan baru baik permanen maupun non-permanen, penambahan fungsi bangunan rumah menjadi toko, hilangnya fungsi bangunan artshop, fenomena gagalnya penggusuran pasar di Penujak dan berhasilnya penggusuran rumah di Batujai, hingga gejala perpindahan keramaian yang terjadi. Aspek non-fisikal meliputi: berubahnya image koridor bypass BIL-Batujai, peningkatan harga lahan, serta berubahnya profesi masyarakat. Faktor-faktor penyebab perkembangan meliputi: (1) aktivitas BIL dan wilayah sekitarnya; (2) aksesibilitas; (3) karakteristik lahan bertopografi datar dengan utilitas yang baik; (4) peraturan penggunaan lahan dalam RTRW Kabupaten Lombok Tengah dan RDTR Kawasan Bandara Lombok Baru; (5) karakteristik pemilik lahan berstatus ekonomi lemah sehingga cenderung untuk menjual lahannya; (6) prakarsa pengembang perumahan yang berperan dalam perkembangan keruangan; (7) kurang antisipatifnya pemerintah terhadap perkembangan yang terjadi; dan (8) permasalahan keruangan berlatar motif ekonomi. Kata kunci: perkembangan, keruangan, koridor, BIL
PERLUASAN TERITORI RUMAH DI PERUMAHAN RELOKASI NELAYAN KECAMATAN AMPENAN Tjok Istri Widyani Utami Dewi; I Nyoman Widya Paramadhyaksa; Ngakan Putu Sueca
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 3 No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (830.634 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2016.v03.i01.p02

Abstract

Abstract This is a study of new settlements that accommodate communities which have been relocated due to natural disasters. Case studies are carried out in the fishing communities of Ampenan and Tanjung Karang coasts of Lombok which were hit by tidal wave disasters in 1997. In order to house the affected communities, the government of Mataram City developed housing units which have since been gradually adapted by dwellers to meet their needs for extra space. These forms of adaptation include: (1) introduction of new functions; (2) the use of public spaces for private purposes; (3) the inclusion of space outside domestic territory for personal use; (4) development of additional fencing; and (5) an expansion of house floor areas. These also in turn bring about change in the occupational profile of inhabitants. The main aim of this study is to identify factors underlining the aforementioned conditions. It implements qualitative research methods derived from the paradigm of phenomenology. Data collection was centralized at Kampong Gatep - a settlement of Ampenan Coast -, where 19 housing units to be studied are located. These 19 family homes exist among the total of 56 relocated family groups. Since each unit is limited in scale, its occupants began their spatial expansion by containing their belongings within their spatial allocation. This gradually expanded as their needs changed. The final findings shows that the dominant factors behind such spatial expansion include: (1) inhabitants' past habit to use space outside domestic sphere; (2) increasing demands for space due to changes in lifestyle; (3) limited space provided by local government for each unit; (4) space available outside housing unit; and (5) locally derived consensus in regard to non-domestic space utilization. Keywords: territoriality, relocated settlement, fishing community, Ampenan Abstrak Pemerintah Daerah Kota Mataram memberi bantuan berupa perumahan relokasi kepada nelayan korban bencana gelombang pasang yang terjadi di sepanjang pantai Ampenan dan Tanjung Karang yang telah terjadi sejak tahun 1997. Pascarelokasi, banyak fenomena terkait teritori yang terjadi di perumahan relokasi berupa: (1) penambahan fungsi bangunan; (2) pemanfaatan ruang publik untuk keperluan pribadi; (3) pemanfaatan lahan sisa; (4) penambahan pagar rumah; (5) penambahan luas lantai; dan (6) perubahan profesi kepala keluarga. Mencermati gambaran fenomena tersebut, muncullah gagasan untuk memfokuskan arah penelitian kearah teritorialitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang melatarbelakangi adanya perluasan area teritori. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan paradigma fenomenologi. Lokasi penelitian ini adalah di Kecamatan Ampenan, tepatnya di perkampungan Gatep. Jumlah masyarakat nelayan pesisir Pantai yang telah direlokasi pada tahap pertama adalah 56 kepala keluarga. Kasus dipilih menggunakan teknik purposive (bertujuan), yaitu dengan memilih 19 kasus yang memiliki karakter kuat sesuai dengan fenomena yang terjadi. Fenomena-fenomena yang terkait perluasan area teritori bermula dari terbatasnya fasilitas yang disediakan Pemerintah Daerah di perumahan relokasi. Terbatasnya ruang menyebabkan penghuni mulai melakukan invasi dengan meletakkan property pribadi di lahan-lahan sisa yang tersedia. Hasil akhir penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor dominan yang menjadi latar belakang adanya perluasan area teritori, antara lain: (1) masa lalu; (2) tuntutan kebutuhan ruang; (3) keterbatasan lahan; (4) adanya lahan sisa; dan (5) konsensus penggunaan lahan. Kata kunci: teritorialitas, perumahan relokasi, nelayan, Ampenan.
PERKEMBANGAN PERMUKIMAN PASCA KONSOLIDASI TANAH DI DESA SUMERTA KELOD, KOTA DENPASAR Ifti Suhesti; Syamsul Alam Paturusi; Ida Ayu Armeli
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 3 No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.728 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2016.v03.i01.p06

Abstract

Abstract Sumerta Kelod of Kota Denpasar was one of the first designated locations for land consolidation (LC) in Indonesia. This LC was established to create a well-organized settlement. The targeted location was originally fertile paddy fields, which have been turned into residential areas, both well-established communities as well as slums. The objective of this research is therefore to determine the pattern of settlement that occurred in Sumerta Kelod in the aftermath of LC related activities. This study requires both primary and secondary datathat have been collected using combined qualitative and quantitative research methods. A basic fact is that 89.09 percent of paddy fields have been converted into the built up areas required to accommodate residential activities and supporting facilities including commerce and services such as  medical, religious, education and infrastructural development. The rest of 10.91 percent of the area is used for paddy fields, open space and undeveloped land. While the objective of creating a well- organized settlement has been achieved, the LC program has also generated unplanned slums that detract from a positive image of the city. This study determines that several groups of informal housing units are in place, such as Jalan Badak Agung VII, VIII and Jalan Merdeka X. In total, they are about 12,491 m2 in scale. Data also suggests inconsistencies between actual land use, spatial planning and regulation, since for example it is common to see educational and commercial facilities built on areas zoned for housing. As people prefer to access their premises directly from the road, all of these developments are determined by the infrastructure network. Keywords: development, settlement, land consolidation, Denpasar City Abstrak Desa Sumerta Kelod merupakan salah satu lokasi konsolidasi tanah (LC) yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia. Kegiatan LC bertujuan untuk menciptakan kawasan permukiman tempat tinggal yang teratur, rapi dan sehat. Semula lokasi tersebut merupakan kawasan persawahan yang sangat subur, sedangkan saat ini lokasi tersebut sebagian besar telah berkembang menjadi kawasan permukiman teratur yang di dalamnya terdapat pula beberapa titik kumuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan permukiman dan pola permukiman pasca pelaksanaan kegiatan LC di desa tersebut. Data yang digunakan merupakan data primer dan sekunder dengan metode penelitian berupa pendekatan gabungan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hingga saat ini di lokasi LC Desa Sumerta Kelod telah terjadi perubahan penggunaan tanah sawah menjadi areal terbangun sebanyak 89,09% yang dimanfaatkan sebagai tempat tinggal, perdagangan dan jasa, fasilitas kesehatan, fasilitas  peribadatan  maupun fasilitas pendidikan dan jalan. Areal tidak terbangun sebanyak 10,91% yang digunakan untuk sawah, kebun campuran dan tanah kosong. Permukiman yang terbentuk pasca LC di desa tersebut didominasi oleh permukiman yang teratur, rapi dan sehat serta dimanfaatkan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah setempat. Akan tetapi di dalam permukiman tersebut telah tumbuh titik-titik kumuh yang merusak citra kota, yaitu di Jalan Badak Agung VII, VIII dan Jalan Merdeka X seluas ±12.491 m2. Di samping itu terdapat beberapa penyimpangan pemanfaatan ruang seperti pemanfaatan fasilitas pendidikan dan hotel di kawasan permukiman, sedangkan pola permukiman yang terbentuk di lokasi tersebut cenderung mengikuti pola jaringan jalan. Kata kunci: pembangunan, permukiman, konsolidasi tanah, Kota Denpasar
ANALISIS KARAKTER VISUAL ARSITEKTURAL DAN PENILAIAN MAKNA KULTURAL SEBAGAI PENDEKATAN PELESTARIAN BANGUNAN KOLONIAL INNA BALI HOTEL DI DENPASAR Yunanistya Rahmadhiani
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 3 No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (798.072 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2016.v03.i01.p05

Abstract

Abstract Indis (Indische) describes a building typology found across Indonesia. This is an historical legacy of Dutch colonization. Architecturally, buildings with this style have their own characteristics and embody specific functions that reflect historical change. Conservation in this context is understood to mean the maintenance of the original appearance, while allowing changes of use and function. In addition, the cultural significance of the original building should be conserved. This study identifies and analyses the visual character of buildings that compose the Inna Bali Hotel of Kota Denpasar – an example of Indis architectural style. It covers an analysis of architectural elements exhibited in the facade and indoor spatial formation of each building. This step is critical, prior to determining an appropriate conservation strategy which is dependent upon the cultural significance represented in each architectural element. A qualitative research approach has followed. The analysis of data sought to support fundamental. In doing so, the driving assumption adheres to the view that not all buildings are equal in their bid for conservation status, with potential divided between high, medium, and low potential. Inna Bali Hotel in this case falls in the median band. Keywords: architectural visual character, cultural significance assessment, Indis architecture, conservation Abstrak Langgam Indis (Indische Empire) merupakan peninggalan penjajahan Belanda di Indonesia. Jika dilihat dari sudut pandang arsitektural, bangunan-bangunan tersebut memiliki karakteristik tersendiri dan secara fungsional bangunan-bangunan tersebut mempunyai peran dalam sejarah bangsa Indonesia karena mewadahi fungsi tertentu. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakter visual arsitektural bangunan kolonial Hotel Inna Bali Denpasar yaitu elemen fasad bangunan dan elemen ruang dalam bangunan dan menentukan pendekatan  pelestariannya dengan kriteria penilaian makna kultural . Metode penelitian yang digunakan pada studi ini yaitu metode kualitatif, dengan analisis data berupa deskriptif dan metode evaluatif (pembobotan) dalam menentukan tindakan pelestarian. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa karakter visual arsitektural bangunan Inna Bali Hotel memang merupakan langgam arsitektur Indis. Hal tersebut dapat diketahui dari elemen-elemen yang melekat pada karakter visual bangunan yaitu elemen fasad bangunan maupun elemen ruang. Penentuan arahan pelestarian berdasarkan penilaian makna kultural bangunan dan hasilnya diklasifikasikan ke dalam tiga tingkatan potensial pelestarian yaitu potensial tinggi, potensial sedang dan potensial rendah. Hasil penetapan klasifikasi menyimpulkan bahwa Inna Bali Hotel diklasifikasikan sebagai bangunan dengan potensial pelestarian sedang. Strategi pelestariannya adalah konservasi yaitu kegiatan memelihara dan melindungi tempat-tempat yang indah dan berharga, agar tidak hancur atau berubah sampai batas-batas yang wajar dengan tetap mempertahankan nilai kulturnya baik berada dalam lingkungan statis maupun lingkungan dinamis. Kata kunci: karakter visual arsitektural, penilaian makna kultural, arsitektur Indis, pelestarian bangunan
IMPLEMENTASI PERATURAN TENTANG TATA BANGUNAN DI JALAN TEUKU UMAR DENPASAR Putu Tony Marthana Wijaya
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 3 No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.745 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2016.v03.i01.p07

Abstract

Abstract Kota Denpasar Local Government has instigated a set of guidelines to regulate urban development. These focus on both space and building design. The objective is to create harmony within its projected cultural environment. The implementation of these regulations however raise serious concerns since current inconsistencies appear to suggest that few prevailing regulations are currently in force. This study has three goals: first to investigate developments that violate existing spatial planning and building design guidelines; second, to research factors that support underlines such violations; and third to suggest such actions as will promote compliance and enforcement of all regulatory practices, both current and future in order to promote the government’s own intention of creating a ‘cultural city in Denpasar. This study uses a qualitative research approach that focuses on hegemonic control and the commodification of space. These factors come into play when there is a clear difference between the issuance of a building permit and the final construct. Inconsistencies frequently appear in regard to the commodification of public space and building facades in general. This is encouraged by two dominant factors. First there is the lack of appropriate control and monitoring by relevant government agencies, and secondly, the absence of sanctions when violation takes place. Here the government can be seen to defeat its own objective of Denpasar as ‘a cultural city.’ This study suggests community participation and sanction constitute a necessary force in removing this contradiction currently prevailing in government policy. Keywords: regulation, violations, spatial plan, building design guidelines. Abstrak Pemerintah Kota Denpasar memandang sebagai keharusan untuk mengatur dan mengendalikan lajunya pembangunan yang berfokus pada keruangan dan desain bangunan. Tujuannya adalah menjaga keharmonisan serta keserasian wajah kota yang berwawasan budaya. Implementasi dari peraturan-peraturan tersebut menjadi pertanyaan dikarenakan adanya perbedaan antara harapan dengan kenyataan terhadap tata bangunan. Analisis ini akan diarahkan pada uraian deskriptif mengenai realita penyimpangan yang terjadi di lokasi, faktor-faktor yang menyebabkan penyimpangan-penyimpangan itu tetap terjadi. Permasalahan tersebut dianalisis dengan teori hegemoni dan komodifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penyimpangan antara dokumen IMB yang dimiliki dengan realita di lapangan. Adanya komodifikasi terhadap ruang terbuka/ sempadan dan tampak bangunan. Peraturan yang ada tidak dapat terimplementasi dengan baik di lapangan. Kurang konsistennya pengawasan dan penertiban yang dilakukan oleh instansi terkait dan rendahnya sanksi sebagai penyebabnya. Kesimpulan yang diperoleh perlu adanya peran serta masyarakat bersama pemerintah untuk konsisten terhadap penegakkan peraturan tata bangunan agar terciptanya wajah kota yang berwawasan budaya. Kata kunci: peraturan, penyimpangan, rencana tata ruang, tata bangunan.
PERKEMBANGAN KERUANGAN “KAMPUNG JAWA” DI KOTA TABANAN I Gusti Agus Yudha Dwipayana
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 3 No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1709.705 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2016.v03.i01.p04

Abstract

Abstract Kampung Jawa is a high density settlement in Tabanan Regency. Historically, it is a settlement for migrants with no recorded history as to how it developed at the first place. It has expanded rapidly to form a banjar. Qualitative research was conducted to investigate temporal change in spatial formation concomitant upon the social restructuring that took place to create this densely populated neighbourhood. Data collection entailed the following steps: grand tour; site observation; interviews; social reconstruction; and dialogue between findings. This study suggests that within a period of 92 years (1921-2012) the population reached a number of 1,978 persons forming 512 family units, accommodated exclusively in Banjar Tunggal Sari. Physically, the banjar has developed their settlement sporadically. Nonetheless a strong Muslim community identity was gradually established. This settlement continues to grow in size along with its strong Muslim character, expressed in the construction of various Islamic facilities. These are either self-funded or financially assisted by Tabanan Local government and/or wider Muslim communities outside Kampung Jawa. Keywords: KampungJawa, high density settlement, spatial development, Muslim community Abstrak Kampung Jawa merupakan salah satu perkampungan padat di Kabupaten Tabanan. Permukiman ini merupakan permukiman pendatang yang tidak dapat diidentifikasidimana dan mengapaterjadi permukiman tersebut. Perkembangan permukiman ini semakin pesat hingga membentuk banjar dan kini mulai meluas ke wilayah sekitarnya. Berdasarkan fenomena tersebut, perlu diketahui pola dan besaran perkembangan per periode waktu serta sistem kemasyarakatannya. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan proses penelitian menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia terkait permukiman padat penduduk. Adapun langkah penelitian yaitu grandtour, observasi, interview, rekonstruksi dan dialog. Dari hasil penelitian disimpulkan besaran perkembangan dalam periode 92 tahun (1921-2012) warga pendatang mampu membentuke banjar eksklusif bernama Banjar Tunggal Sari dengan jumlah penduduk 1.978 atau 512 KK. Pola perkembangan yang terjadi ialah pola perkembangan intensif sporadis didasarkan variabel berupa jumlah warga pendatang dan lokasi rumah tinggal yang diawali dengan munculnya elemen Muslim yang baru terbangun. Sistem kemasyarakatan dengan simpulan berawal dari sebuah kelompok permukiman, menjadi sebuah organisasi berbentuk yayasan, kemudian membentuk banjar eksklusif dengan kedudukan setara dengan banjar adat, yang kini mulai meluas hingga wilayah sekitarnya. Kata kunci: Kampung Jawa, permukiman kepadatan tinggi, perkembangan keruangan, komunitas Muslim.

Page 1 of 1 | Total Record : 7