cover
Contact Name
Muhammad Farkhan
Contact Email
farkhan@uinjkt.ac.id
Phone
+6285881159046
Journal Mail Official
alturats@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Jl. Tarumanegara, Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan Banten, Indonesia 15419
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Buletin Al-Turas
ISSN : 08531692     EISSN : 25795848     DOI : https://dx.doi.org/10.15408/bat
JOURNAL BULETIN ALTURAS (ISSN 0853-1692; E-ISSN: 2579-5848) is open access journal that is published by Faculty of Adab and Humanities, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. It serves to disseminate research and practical articles that relating to the current issues on the study of history, literature, cultures, and religions. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines by using Bahasa Indonesia, English, and Arabic.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 2 (2013): Buletin Al-Turas" : 13 Documents clear
Relasi Budaya Arab-Melayu dalam Sejarah di Indonesia Madjid, M. Dien
Buletin Al-Turas Vol 19, No 2 (2013): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.007 KB) | DOI: 10.15408/bat.v19i2.3729

Abstract

Abstract This research reveal about culture of Arab-Malay could not escape the series of Islamization that is not separated from the contribution of the Arab nation. From man of the desert this is Islam exuberantly and check in Malay. His natural aridity, does not affect the subtlety of the attitude and friendliness of speak so unable to convince the population of the Islands for religious Unity. Of those entities in order to at maturity, and can synergize with the global community. The synergy of trade-Da'wah is no longer the offensive problems of Commerce, here in after have led to the phenomenon of history to mixture of both cultures. People Arabic or Malay has a cultural attachment that cannot be released. This makes the second Southeast Asian ethnic group as a vehicle of Islamic civilization in the other country of origin faced. In the regional area, nesting and Islamic showed to its light able to be felt until the present. Culture that woke up, became the unifying node that displays an openness and smoothness is maintained in a long time. This paper will peel back the issue of how Arab-Malay articulation happen and dialectical. --- Abstract Penelitian ini mengungkap tentang kebuadaayan Arab-Melayu tidak bisa lepas dari rangkaian  Islamisasi yang tidak lepas dari kontribusi bangsa Arab. Dari manusia padang pasir inilah Islam merimbun dan menyemak di lingkungan Melayu. Kegersangan alam tempat tinggalnya, tidak mempengaruhi kehalusan sikap dan keramahan bertutur sehingga mampu meyakinkan penduduk kepulauan untuk beragama Tauhid. Dari mereka entitas kemelayuan sampai pada maturitas, hingga dapat bersinergi dengan komunitas global. Sinergi dagang-dakwah bukan lagi menyinggung masalah perniagaan, selanjutnya telah membawa pada fenomena menyejarah yakni percampuran budaya keduanya. Orang Arab maupun Melayu memiliki keterikatan kultural yang tidak bisa dilepaskan. Kedua etnis ini menjadikan Asia Tenggara sebagai wahana tampilnya peradaban Islam yang berwajah lain dari negeri asalnya. Di kawasan regional tersebut, Islam bersarang dan menerang hingga sinarnya mampu dirasakan hingga masa kini. Budaya yang terbangun, menjadi simpul pemersatu yang menampilkan kehalusan dan keterbukaan yang terjaga di waktu yang lama. Makalah ini akan mengupas masalah bagaimana akluturasi Arab-Melayu terjadi dan berdialektika.
Rasa Humor dalam Perspektif Agama Marwan, Iwan
Buletin Al-Turas Vol 19, No 2 (2013): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.716 KB) | DOI: 10.15408/bat.v19i2.3720

Abstract

AbstrakTak diragukan lagi bahwa humor itu ada dalam khasanah agama islam. Kisah Nabi dan para sahabatnya menunjukan bahwa humor dan anekdot itu ada, yang secara eksplisit muncul dalam konteks al-Quran dan hadits. Islam tidak pernah melarang tertawa, bahkan berusaha mengelola dan membatasi tertawa sebagai sebuah bentuk kebahagiaan saja, bukan keterlenaan terhadap kenikmatan duniawi. Artikel ini mencoba membahas tertawa, lelucon dan humor dalam sudut pandang Islam. Pembahasan topik tersebut dibagi ke dalam empat bahasan. Pertama, rasa humor itu sendiri yang meliputi fenomena humor dan teori humor. Kedua, jenis-jenis humor dalam al-Quran dan Hadits. Ketiga, etika humor dan fungsi humor. Keempat, hubungan antara humor dan agama. Hasil dari pembahasan menunjukan bahwa selera humor adalah sebuah anugerah dari Tuhan. Menciptakan humor atau sesuatu yang lucu untuk membuat orang lain bahagia adalah sebuah ide yang baik. Walaupun begitu, agama tetap mengingatkan agar tidak melupakan kehidupan akhirat dan kebahagiaan di sana yang abadi. Manusia dapat meraih kebahagiaan di akhirat dengan berupaya membatasi tertawa dan humor agar tidak berlebihan.---AbstractNo doubt exists that humor is present in religion (Islam). On the stories nabi and sahabat showed there are humor and anecdot used in Islam as it is on the holy Qur’an and hadits explicitly. Islam instead of prohibits, manages and restricts laugh as expression of  happiness  in order to preserve people from preoccupation of wordliness.The article discuses laugh, jokes or humor in Islamic point of view. The discussion divided into four sub discussions. First, sense of humor which included humor phenomenologic and humor  theories.  Second, humor verses on holy Qur’an and hadists. Third,humor  ethics and humor function.  Fourth, relations between humor and religion. Result of the discussion showed that sense of humor is a gift from God. Creating joke or funny thing to make people happy is a good deed. Religion put one in mind of not forgeting  life after death and happiness on it. People can reach happiness in the hereafter by stinted laugh or jokes.
Transformasi Dompet Dhuafa dari Lembaga Amil Zakat menjadi Lembaga Sosial-Kemanusiaan Ali Nurdin
Buletin Al-Turas Vol 19, No 2 (2013): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.039 KB) | DOI: 10.15408/bat.v19i2.3725

Abstract

AbstrakTulisan ini mengulas sejarah perkembangan Dompet Dhuafa dari Lembaga Amil Zakat(LAZ) menjadi Lembaga sosial-kemanusiaan. Penulis berasumsi, bahwa Dompet Dhuafa bertransformasi dari Lembaga Amil Zakat dan berkembang menjadi  Lembaga Sosial-Kemanusiaan.  Dompet  Dhuafa berbeda dengan  LAZ yang lain karena memiliki program sosial-kemanusiaan. Pembahasan tulisan ini langsung tertuju pada periode sosial-kemanusiaan Dompet Dhuafa (2004-2012) dan selanjutnya analisis transformasi Dompet Dhuafa.Fenomena perkembangan lembaga filantropi Islam di Indonesia, kini telah berkembang dengan cukup baik. Dompet Dhuafa merupakan salah satu lembaga filantropi Islam Indonesia yang terbilang cukup sukses, dimana lembaga ini menggunakan manajemen modern. Dompet Dhuafa berkembang seiring berjalan waktu dan pergantian kepemerintahan Orde Baru menuju era Reformasi, perubahan kekuasaan banyak mendapat pengaruh positif dari munculnya Reformasi tersebut. Transformasi program karena bukan hanya sebagai lembaga yang bertugas mengurus penghimpunan zakat saja tetapi sosial-kemanusiaan pun telah dijalankannya menjadi program lembaga.Penelitian ini mengkaji dan mengungkapkan perkembangan transformasi Dompet Dhuafa. Adapun tulisan ini merupakan  sejarah kontemporer. Metode penelitian yang digunakan adalah metode historis dan lebih bersifat deskriptif- Analitis terhadap gambaran dan penguraian sejarah perkembangan Dompet Dhuafa.---AbstractThis paper reviews the historical development of the Amil of Dompet Dhuafa Zakat (LAZ) became social-humanitarian Agencies. The authors assume, that transformed the institution of Dompet Dhuafa Amil Zakat and developed into a Social-Humanitarian Agencies.  Dompet Dhuafa is different to the others because it has a LAZ social program-humanity. Discussion this paper is directly fixed on the social-humanitarian period of Dompet Dhuafa (2004-2012) and the subsequent analysis of the transformation of Dompet Dhuafa. The phenomenon of the development of Islamic philanthropic institutions in Indonesia, has now grown quite well. Dompet Dhuafa is one of the Indonesia Islamic philanthropic institutions is quite successful, where the Agency is using modern management. Dompet Dhuafa grow as time goes on and the turn toward the new order era of National Reform, the change of power gets a positive influence of the rise of the Reformation. The transformation of the program because not just an institution collecting zakat but also social humanity program.This reseach found the development of Dompet Dhuafa in contemporer side. This using historical dan descriptive analysis method to the development of it history.
An Analysis of Personality Disorder of The Main Character in Frankie & Alice Film Tubagus Satriyadi
Buletin Al-Turas Vol 19, No 2 (2013): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/bat.v19i2.3723

Abstract

AbstrakTulisan ini adalah sebuah analsis terhadap permasalahan psikologis dari Frankie, tokoh utama dalam film Frankie & Alice. Penulis menggunakan metode qualitative deskriptif dan teori psikoanalisis dari Sigmund Freud. Hasil analisis menunjukan bahwa Frankie sebagai tokoh utama, memiliki sifat cinta pada keluarga namun dia lemah karena adanya gangguan kepribadian. Permasalahannya itu muncul karena pengalaman traumatisnya yang membuat dia merasa gelisah tingkat tinggi. Untuk melindungi dirinya dari pengalaman traumatis itu, Ia menggunakan identitas dissosiatif, sebagai mekanisme perlawanan dirinya yang memunculkan dua jenis kepribadian, yaitu Alice dan Genius yang memiliki fungsi yang berbeda. Kepribadin pertama berfungsi untuk melindunginya dari perasaan bersalah. Sementara itu kepribadian kedua, berfungsi sebagai pembantu.---AbstractThis writing is an analysis of the psychological problems of Frankie as the main character in Frankie & Alice film. The writer uses qualitative descriptive analysis method and psychoanalysis theory of Sigmund Freud. The analysis shows that Frankie as the main character is a loving family person but she is weak because of her personality disorder. Her problem is because of her traumatic experiences that makes her feel high anxiety. To protect herself from the traumatic experience, she uses dissociative identity disorder, part of dissociation, as her defense mechanism that creates two other personalities (multiple personalities), namely Alice and Genius who have different functions. The first functions to protect her from guilty feeling to make her a better person. On the other hand, the second functions as a helper.
Ulama Betawi Perspektif Sejarah Saidun Derani
Buletin Al-Turas Vol 19, No 2 (2013): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.995 KB) | DOI: 10.15408/bat.v19i2.3717

Abstract

AbstrakUlama Betawi telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam pembangunan bangsa melalui transmisi keilmuan Islam sejak awal islamisasi Bandar Calapa kemudian berubah namannya menjadi Jakarta. Peranan mereka tetap tidak berubah mengajak rakyat beriman dan menjaga moral umat. Perubahan yang ada sebatas dalam tataran metodologi sesuai tuntutan zaman seperti terlihat ruang kreativitas pendidikan model Betawi Corner dan Pusat Studi Hadis. Pada abad ke-21 persoalan neolibralisme, sekulerisme,  pluralisme, dan radikalisme dari aspek pemikiran serta gerakan globalisasi berimbas kepada masalah ekonomi, penegakan hukum, pengangguran, lapangan kerja, upah buruh, d kualitas SDM yang rendah, dan kemiskinan. Semua itu menimpa kaum muslim lalu berpengaruh terhadap disintegrasi bangsa.---AbstractIslamic Scholar of Batavia has contributed significantly in building the nation through Islamic knowledge, since its name as Bandar Calapa until it is changed into Jakarta. Their main role is never changed, that is to to keep the faith and uphold morality. The changes accoured is  just only in methodological way, as an effort to adapt their selves with new condition. It could be seen fron Batavian Corner and the Center of Hadits Study. In 21St century, the neoliberalism, secularism, pluralism, radicalism, and globalization has affected the economic, law enforcement, unemployment, field of work, labor salary, and law standar quality of  human resources. All of them have afflicted the muslim world and threaten the disintegration of a nation.
Mochammad Natsir dan Pemikiran Ekonomi Ummat 1950-1960 Emalia, Imas
Buletin Al-Turas Vol 19, No 2 (2013): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.406 KB) | DOI: 10.15408/bat.v19i2.3728

Abstract

Abstract This article is intended as an attempt to reconstruct the history of thought from a figure of the famous politician who is soft, firm, and islamic behave, Mochammad Natsir. His thoughts about the economy of the Muslims is as his fight in Indonesia people’s destinies take notice, especially Muslims. During his life in pursuit of economic Natsir Mochammad Muslims either when he politicking, of community, and preaching. Related to the economic development of this Ummah, Mochammad Natsir championed economic development via the Ummah Party Mayumi, the largest Islamic Ummah as the party at the time. In discussing character Mochammad Natsir, has always been in the political discussion, whether its action in politics or also his idea about politics that inevitably associated with Islam, very little discussion about his thinking in the field of Economics, but it turns out that economics is concerned Natsir Mochammad Ummah, generally the people of Indonesia. His thoughts on the economy is very inspiring and uplifting for the people of Indonesia to be able to maintain his life struggling to avoid poverty, squalor, misery, and suffering due to the behavior of those who blackmail her life wander the property. His idea about Islamic economic development Mochammad Natsir Ummah who looks at and strive to let the Muslims during the post-revolution until the 1960 's can live peaceful, prosperous, far from suffering, poverty, misery, and always pay attention to the messages from the teachings of Islam. Message from thinking this is about Mochammad Natsir human duty to care for and respect each other, because that is the nature of a human being as an independent creature who had to work hard in the face of the Earth to avoid poverty. This paper, entitled "the Economic Thinking and Natsir Mochammad Ummah 1950-1960".---AbstrakMakalah ini dimaksudkan sebagai usaha merekonstruksi sejarah pemikiran dari seorang sosok politikus terkenal yang lembut, tegas, dan islami, yakni Mochammad Natsir. Pemikirannya tentang ekonomi ummat adalah sebagai perjuangannya dalam memperhatikan nasib rakyat Indonesia, terutama ummat Islam. Selama hidupnya Mochammad Natsir memperjuangkan ekonomi ummat baik ketika ia berpolitik, bermasyarakat, dan berdakwah. Terkait dengan pembangunan ekonomi ummat ini, Mochammad Natsir memperjuangkan pembangunan ekonomi ummat melalui Partai Mayumi, sebagai partai ummat Islam terbesar saat itu. Dalam membahas tokoh Mochammad Natsir, selama ini selalu pada pembahasan politik, baik kiprahnya dalam berpolitik atau juga pemikiran-pemikirannya tentang politik yang pasti dikaitkan dengan Islam, sangat sedikit pembahasan tentang pemikirannya di bidang ekonomi, padahal ternyata Mochammad Natsir sangat memperhatikan ekonomi ummat Islam, umumnya rakyat Indonesia. Pemikirannya tentang ekonomi sangat memberikan inspirasi dan semangat bagi rakyat Indonesia untuk dapat berjuang mempertahankan hidupnya yang terhindar dari kemiskinan, kemelaratan, kesengsaraan, dan penderitaan akibat perilaku pemerasan dari mereka yang hidupnya bergelimang harta. Untuk itu makalah ini akan menyoroti Pemikiran Mochammad Natsir tentang pembangunan ekonomi ummat yang memandang dan mengusahakan agar umat Islam pada periode pasca revolusi sampai tahun 1960 dapat hidup damai, sejahtera, jauh dari penderitaan, kemiskinan, kesengsaraan, dan senantiasa memperhatikan pesan-pesan dari ajaran agama Islam. Pesan dari pemikiran Mochammad Natsir ini adalah tentang tugas manusia untuk menjaga dan menghormati sesamanya, karena itu  adalah fitrah seorang manusia sebagai makhluk yang merdeka yang harus bekerja keras di muka bumi untuk menghindari kemiskinan. Makalah ini berjudul “Mochammad Natsir dan Pemikiran Ekonomi Ummat 1950-1960”.
Senjata Api dan Maskulinitas dalam Cerita Pendek “The Man Who was Almost A Man” Merdeka, Pita
Buletin Al-Turas Vol 19, No 2 (2013): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.886 KB) | DOI: 10.15408/bat.v19i2.3719

Abstract

AbstrakMaskulinitas adalah bagian dari kajian gender. Untuk memahami maskulinitas, kita perlu mengidentifikasi laki-laki sebagai pusat dari kajian ini dari beberapa aspek. Artikel ini akan membahas mengenai hubungan kepemilikan senjata sebagai simbol dari pencapaian maskulinitas laki-laki. Kemudian dalam artikel juga mengungkapkan mengenai berbagai macam sumber dan karya sastra bahwa memiliki senjata bisa memberikan kesan kekuatan dan maskulinitas (kelaki-lakian). Cerpen dengan judul “The Man Who Was Almost a Man” adalah contoh karya sastra yang mengambarkan kepemilikan senjata api sebagai sesuatu hal yang mendukung atau memberikan kemaskulinitasan pada laki-laki. Senjata api ditangan bisa berarti kekuatan dalam diri laki-laki. Hal ini digambarkan oleh tokoh utama (Dave Saunders) yang mengaggap senjata api sebagai simbol dari kehormatan. Sejalan dengan cerita pendek ini, ada beberapa banyak penyalahgunaan senjata api yang dilakukan demi meraih kehormatan (dihargai) dan maskulinitas dalam lingkungannya. ---AbstractMasculinity is a part of gender studies. To understand masculinity, it needs to identify man as the center of the study from various aspects. Here within the article, it would be discussed about the relationship between possessing arms (gun) as the symbol of earning men’s masculinity. Then, it is implied from many sources and literary work, that possessing arms might give the impression of strength and masculinity. The short story entitled “The Man Who Was Almost a Man” is the example of literary work that gun possession will support someone in gaining his masculinity. Gun in hands means power or strength inside a man. It was showed by the protagonist (Dave Saunders) who considered gun as the symbol of respect and the real man thing (being masculine). Align with the short story, there are many gun violence happened in the name of gaining the identity of being called masculine and respect from people.
الترجمة معناها وتاريخها Raswan, Raswan
Buletin Al-Turas Vol 19, No 2 (2013): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1255.409 KB) | DOI: 10.15408/bat.v19i2.3724

Abstract

AbstrakTerjemahan adalah fakta kebutuhan kemanusiaan, karena manusia berbicara dalam bahasa yang berbeda antar masyarakat dan Negara yang berbeda. Tenerjemah juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan interaksi antara masyarakat dari berbagai negara dalam bahasa. Demikian juga bahwa manusia diberikan naluri cinta il   mu pengetahun, senang mengkritik dan mencintai ilmu yang berkembang di berbagai penjuru dunia dan untuk menguasaiilmu tersebut maka manusia mau tidak mau harus menguasai bahasa yang digunakan oleh bangsa yang ilmu tersebut berkembang di bangsa tersebut. Terjemah juga merupakan factor utama penentu kemajuan sebuah bangsa dan mayoritas Negara maju di di dunia adalah Negara yang memperhatikan gerakan terjemah di negaranya. Dan terjemah menurut sejarah diawali dengan gerakan terjemah ke dalam bahasa Yunan, gerkan terjemah ke dalam bahasa Suryani, gerakan terjemah ke dalam bahasa Arab di masa khulafau ar-rasyidin (Muawiyyah dan Abbasyiyyah), gerakan terjemah ke dalam bahasa latin, gerakan terjemah ke dalam bahasa Eropa modern, gerakan terjemah modern ke dalam bahasa Arab dan bahasa-bahasa lain di dunia dari bahasa Inggris sebagai bahasa yang penuturnya sedang mengalami kemajun. ---AbstractTranslation is the fact humanitarian needs, because people speaking in different languages between communities and different countries. Translations also done to meet the needs of interaction between people from different countries in the language. Similarly, given that the human instinct is love the knowledge, pleasure and love to criticize science developed in various parts of the world and to the human master science inevitably have to master the language used by the nation's science progresses in the nation. Translations are also a major factor determining the progress of a nation and the majority of developed countries in the world is the State that the movement of translation in the country. And translation in history begins with the movement of translation into the language of Yunan, movement translations into Syriac, translation movement into Arabic in the khulafau ar-Rashidun (Muawiyyah and Abbasyiyyah), move into a Latin translation, translation into the language movement modern Europe, modern translation movement into Arabic and other languages in the world of English as the language of the speakers was having to progress.
Dinamika Kultural Tabot Bengkulu Rizqi Handayani
Buletin Al-Turas Vol 19, No 2 (2013): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.93 KB) | DOI: 10.15408/bat.v19i2.3718

Abstract

AbstrakTabut Bengkulu adalah sebuah upacara keagamaan yang diadaptasi menjadi festival etnis kultural. Upacara in berasal dari tradisi sekte syiah yang berupaya mengenang kematian Husen di Padang Karbala, pada tahun 680. Upacara Tabot ini kemudian diklaim oleh orang Bengkulu sebagai warisan budaya. Dalam kasus ini, unsur keagamaan dalam upacara tersebut telah berkurang, sementara unsur etnis budayanya menjadi semakin kuat. Tradisi Tabot ini dibawah dari Irak ke selatan Asis oleh orang India pada tahun 136-1405. Kemudian, tradisi ini dibawa dari India ke Bengkulu oleh para muslim India yang bekerja di perusahaan Inggris India Selatan yang sedang mengerjakan proyek Fort Malborough pada tahun 1336. Jadi, para pekerja itu ada orang pertama yang menggelar festival Tabor tersebut di Bengkulu. Sejalan dengan perjalan waktu, bukang hanya orang Syiah India saja yang merayakan festival tersebut, tetapi juga orang Bengkulu sendiri. Saat para pekerja merayakan festival tersebut sebagai upacaa keagamaan, orang Bengkulu merayakannya sebagai upacara etnis kultural.---AbstractBengkulu’s Tabot is a religious-based ceremony, being adapted into an ethno-cultural festival.  Coming from Shi’i tradition of memorizing the moment of the Husain’s death in Karbala in 680. Tabot has changed to people festival which claimed by Bengkulu people as their cultural heritage. In this case, the religious element of Tabot has been reduced, while that ethno-cultural element exaggerated.  This tradition of Tabot was brought from Iraq to South Asia by Indian people in 1336-1405. Then, this tradition was brought from India to Bengkulu by Indian Muslims who were the workers of the English East India Company in building Fort Malborough in 1336. So, the workers were the first people who performed Tabot festival in Bengkulu. As time goes on, not only those Indian Shi’i-Muslim workers celebrated the ceremony of Tabot, but also other people of Bengkulu. While those workers and their early descendants celebrated that ceremony of Tabot because of their religious orientations, the other carried out that ceremony because of ethno-cultural orientation.
Novel dan Kritik Politik Luar Negeri (Studi Sastra Realis Historis Al-Zaynī Barakāt Karya Al-Ghitani) Muhammad Isya
Buletin Al-Turas Vol 19, No 2 (2013): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.113 KB) | DOI: 10.15408/bat.v19i2.3726

Abstract

AbstrakPenelitian ini ini membuktikan bahwa salah satu kritik politik Novelis al-Ghitani di dalam novel al-Zayni> Baraka>t ialah kritikan terhadap kinerja Presiden Nasser atas kekalahan Arab pada perang Arab-Israel tahun 1967. Menurutnya, pemerintah ini terlalu disibukkan dengan memperbaiki internal Mesir sehingga kurang memperhatikan eskternal. Dengan kata lain, sepanjang tahun 1960-an, Presiden terlalu disibukkan dengan penanaman pan-Arabisme sehingga kurang dalam persiapan dan perencanaan melawan Israel tahun 1967.---AbstractThis research this proves that one of the criticisms of the political Novelist al-Ghitani in novel Zayni al-Baraka is the criticism of the performance of President Nasser over the defeat of the Arabs in the Arab-Israel war of 1967. According to him, the Government is too preoccupied with internal fix Egypt so little regard for external. In other words, throughout the 1960s, the President is too preoccupied with planting of pan-Arabism so lacking in preparation and planning against Israel in 1967.

Page 1 of 2 | Total Record : 13


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 1 (2025): Buletin Al-Turas Vol. 31 No. 1 (2025): Buletin Al-Turas Vol 30, No 2 (2024): Buletin Al-Turas Vol. 30 No. 2 (2024): Buletin Al-Turas Vol. 30 No. 1 (2024): Buletin Al-Turas Vol 29, No 2 (2023): Buletin Al-Turas Vol 29, No 1 (2023): Buletin Al-Turas Vol 28, No 2 (2022): Buletin Al-Turas Vol 28, No 1 (2022): Buletin Al-Turas Vol 27, No 2 (2021): Buletin Al-Turas Vol 27, No 1 (2021): Buletin Al-Turas Vol 26, No 2 (2020): Buletin Al-Turas Vol 26, No 1 (2020): Buletin Al-Turas Vol 25, No 2 (2019): Buletin Al-Turas Vol 25, No 1 (2019): Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 1 (2019): Buletin Al-Turas Vol 24, No 2 (2018): Buletin Al-Turas Vol. 24 No. 2 (2018): Buletin Al-Turas Vol 24, No 1 (2018): Buletin Al-Turas Vol. 24 No. 1 (2018): Buletin Al-Turas Vol 23, No 2 (2017): Buletin Al-Turas Vol. 23 No. 2 (2017): Buletin Al-Turas Vol 23, No 1 (2017): Buletin Al-Turas Vol 22, No 2 (2016): Buletin Al-Turas Vol 22, No 1 (2016): Buletin Al-Turas Vol. 22 No. 1 (2016): Buletin Al-Turas Vol 21, No 2 (2015): Buletin Al-Turas Vol 21, No 1 (2015): Buletin Al-Turas Vol 20, No 2 (2014): Buletin Al-Turas Vol 20, No 1 (2014): Buletin Al-Turas Vol 19, No 2 (2013): Buletin Al-Turas Vol 19, No 1 (2013): Buletin Al-Turas Vol 18, No 2 (2012): Buletin Al-Turas Vol 17, No 1 (2011): Buletin Al-Turas Vol 16, No 3 (2010): Buletin Al-Turas Vol 16, No 2 (2010): Buletin Al-Turas Vol 16, No 1 (2010): Buletin Al-Turas Vol 15, No 3 (2009): Buletin Al-Turas Vol 15, No 1 (2009): Buletin Al-Turas Vol 14, No 2 (2008): BULETIN AL-TURAS Vol 14, No 1 (2008): Buletin Al-Turas Vol 13, No 2 (2007): Buletin Al-Turas Vol 13, No 1 (2007): Buletin Al-Turas Vol 12, No 3 (2006): Buletin Al-Turas Vol 12, No 2 (2006): Buletin Al-Turas Vol 12, No 1 (2006): Buletin Al-Turas Vol 11, No 3 (2005): Buletin Al-Turas Vol 11, No 2 (2005): Buletin Al-Turas Vol 11, No 1 (2005): Buletin Al-Turas Vol 10, No 3 (2004): Buletin Al-Turas Vol 10, No 2 (2004): Buletin Al-Turas Vol 10, No 1 (2004): Buletin Al-Turas Vol 9, No 2 (2003): Buletin Al-Turas Vol 9, No 1 (2003): BULETIN AL-TURAS Vol 8, No 1 (2002): Buletin Al-Turas Vol 7, No 2 (2001): BULETIN AL-TURAS Vol 7, No 1 (2001): BULETIN AL-TURAS Vol 6, No 1 (2000): BULETIN AL-TURAS Vol 5, No 2 (1999): BULETIN AL-TURAS Vol 5, No 1 (1999): BULETIN AL-TURAS Vol 4, No 1 (1998): BULETIN AL-TURAS Vol 2, No 3 (1996): Buletin Al-Turas Vol. 2 No. 2 (1996): BULETIN AL-TURAS Vol 2, No 2 (1996): BULETIN AL-TURAS Vol 2, No 1 (1996): Buletin Al-Turas Vol 1, No 2 (1995): Buletin Al-Turas Vol 1, No 1 (1995): Buletin Al-Turas More Issue