cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Reproduksi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 3 (2014)" : 16 Documents clear
PENDIDIKAN/PEKERJAAN MATERNAL DAN FAKTOR RISIKO PREEKLAMPSIA: STUDI EPIDEMIOLOGI DI KOTA TERNATE Lilie Fransiska; Edi Patmini; Abdul Wahab; Ova Emilia
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.717 KB) | DOI: 10.22146/jkr.5748

Abstract

PENDIDIKAN/PEKERJAAN MATERNAL DAN FAKTOR RISIKO PREEKLAMPSIA: STUDI EPIDEMIOLOGI DI KOTA TERNATELilie Fransiska1, Edi Patmini2, Abdul Wahab3, Ova Emilia4 ABSTRACTBackground: Preeclampsia is one of leading cause of maternals and infants morbidity and mortality that can be prevented by an early detection in pregnant woman who have risk factors to preeclampsia. Early detection and management have a significant role in decreasing maternal and infant mortality rate.Objective: To determine the proportion of pregnancy with risk to preeclampsia and related risk factors. Method: This research is an observational study with cross sectional design. The independent variables are level of maternal education, and occupation. The dependent variable is increased risk of preeclampsia during pregnancy. Data collected by direct interview, physical examination and laboratory examination. Data analysis was done with SPSS programme.Results and Discussion: The result showed that there was no significant difference in maternal educational level with the risk of preeclampsia (p= 0,919), and there is no significant difference between maternal working status with risk of preeclampsia (p= 0,435).Conclusions: This research showed that maternal level of education and working status didn’t have a significant influence to the risk of preeclampsia (p> 0,05).Keywords : maternal occupation, level of maternal education, risk of preeclampsia ABSTRAKLatar Belakang: Preeklampsia merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas pada ibu dan bayi yang dapat dicegah dengan melakukan deteksi dini pada ibu hamil yang memiliki risiko terhadap terjadinya preeklampsia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan proporsi ibu hamil dengan risiko preeklampsia di Kota Ternate dan faktor-faktor risiko yang terkait. Hasil penelitian ini diharapkan supaya dapat digunakan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak di Kota Ternate. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan desain studi potong lintang. Variabel bebas adalah tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan ibu. Variabel terikat adalah peningkatan risiko terjadinya preeklampsia selama kehamilan. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara langsung, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Selanjutnya analisis deskriptif pada data penelitian dilakukan dengan menggunakan program SPSS.Hasil dan Pembahasan: Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok berpendidikan tinggi dan kelompok berpendidikan rendah (p= 0,919), serta antara kelompok bekerja dan tidak bekerja (p= 0,435).Kesimpulan: Faktor pendidikan dan pekerjaan maternal tidak memiliki pengaruh yang bermakna terhadap risiko terjadinya preeklampsia (p> 0,05).Kata kunci : pekerjaan ibu, pendidikan ibu, risiko preeklampsia 1 Mahasiswa S1 Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta2 Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UGM3 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat UGM, Yogyakarta4 Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UGM
PENGARUH STATUS RAWATAN BAYI DI NICU TERHADAP RISIKO DEPRESI PASCASALIN Ema, Yasmina; Siswishanto, Rukmono Siswishanto; Widad, Shofwal
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.101 KB) | DOI: 10.22146/jkr.5749

Abstract

PENGARUH STATUS RAWATAN BAYI DI NICU TERHADAP RISIKO DEPRESI PASCASALINYasmina Ema1, Rukmono Siswishanto2, Shofwal Widad3ABSTRACT Background: Postnatal depression is a frequent complication after childbirth, approximately occurred 6.5 to 14.5% in postnatal women. Untreated postnatal depression can have adverse long-term effects. Episodes of depression can be chronic so it will affect the quality of life. Depression that occurs in the mother will affect behavioral, emotional, cognitive, and child interpersonal is in the future. Post partum women whose babies are takenb care in the NICU is believed to have the level of depression, level of anxiety, and trauma symptoms that were higher compared with the women who don’t. The occurrence of depression is associated with a variety of factors, including the adaptation with a sick baby, having a baby that isolated in the NICU, and the stress arising from the NICU environment itself.Objective: To observe the influence of the status of infants in the NICU treatment on the incidence of postnatal depression.Method: This study used a cross-sectional design. The subjects were post portum women days 14-21 who met the criteria. Subjects were divided into 2 groups, one group of mothers with babies in the NICU and one group of mothers with babies under wentrooming. This study used edinburgh post natal depression scale (EPDS). Statistical test used was chi-square and logistic in regression.Results and Discussion: The subjects who met the criteria were 144 women. A total of 19 women was suffered from postnatal depression (13.1%). Educational status of husband and infant admision to NICU giving significant differences on postnatal depression (p = 0.027 and p = 0.047). Infant care in the NICU increased postnatal depression 3.34 times compared rooming in group (CI 95% 1.12 to 9.99).Conclusion: The proportion of postnatal depression group of mothers with infants treated in the NICU were larger than the rooming in group. Keyword: postnatal depression, neonatal intensive care admission, EPDS ABSTRAK Latar Belakang: Depresi pascasalin merupakan salah satu komplikasi yang sering muncul setelah persalinan, terjadi pada 6,5-14,5% dari wanita pascasalin. Depresi pascasalin yang tidak diobati dapat memiliki efek jangka panjang yang merugikan. Episode depresi ini bisa menjadi kronis sehingga akan mempengaruhi kualitas hidupnya. Depresi yang terjadi pada ibu akan mempengaruhi perilaku, emosi, kognitif, dan interpersonal anak di kemudian hari. Wanita pascasalin yang bayinya dirawat di NICU dipercaya mempunyai tingkat depresi, tingkat kecemasan, dan gejala trauma yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita pascasalin yang bayinya menjalani rawat gabung. Terjadinya depresi ini berhubungan dengan berbagai macam faktor, meliputi adaptasi dengan bayi yang sakit, memiliki bayi yang terisolasi di ruangan NICU, dan stress yang timbul karena lingkungan NICU itu sendiri.Tujuan: Mengetahui pengaruh status rawatan bayi di NICU terhadap kejadian depresi pascasalin.Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan potong lintang. Subyek penelitian adalah pasien pascasalin hari ke 14-21 yang memenuhi kriteria inklusi. Subyek dibagi menjadi 2, kelompok ibu dengan bayi yang dirawat di NICU dan kelompok ibu dengan bayi rawat gabung. Penelitian ini menggunakan Edinburgh Post Natal Depression Scale (EPDS).Hasil dan Pembahasan: Subyek penelitian yang memenuhi kriteria berjumlah 144 orang. Sebanyak 19 ibu menderita depresi pascasalin (13,1%). Pendidikan suami dan status rawat bayi memberikan perbedaan secara bermakna terhadap depresi pascasalin (p= 0,027 dan p=0,047). Perawatan bayi di NICU meningkatkan risiko depresi pascasalin sebesar 3,34 kali dibanding perawatan bayi secara rawat gabung (CI 95% 1,12-9,99). Kesimpulan: Proporsi depresi pascasalin kelompok ibu dengan bayi dirawat di NICU lebih besar dibanding kelompok ibu dengan bayi rawat gabung.Kata kunci: depresi pascasalin, status rawat bayi NICU, skor EPDS. 1,2,3 Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
THE USE OF NEW INSERTER (R_INSERTER) FOR DELIVERING CuT-380A IUD DURING POSTPARTUM PERIOD PHASE II CLINICAL TRIAL Siswosudarmo, Risanto; Kurniawan, Kadek; Suwartono, Herdhana; Alkaff, Taufik Rahman; Anggraeni, Maria
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.78 KB) | DOI: 10.22146/jkr.5750

Abstract

THE USE OF NEW INSERTER (R_INSERTER) FOR DELIVERING CuT-380A IUD DURING POSTPARTUM PERIOD PHASE II CLINICAL TRIALRisanto Siswosudarmo1, Kadek Kurniawan2, Herdhana Suwartono3, Taufik Rahman Alkaff4, and Maria Anggraeni5ABSTRAKLatar Belakang: IUD adalah salah satu alat kontrasepsi jangka panjang yang efektif, tetapi penggunaan di Indonesia masih rendah. Karena inserter IUD yang biasa di pakai terlalu pendek untuk pemasangan segera pascasalin maka bentuk inserter baru (R_inseter) telah dikembangkan.Tujuan: Untuk mengetahui apakah R_inserter dapat digunakan dengan mudah sesuai standard pemasangan IUD dan untuk mengetahui keamanannya.Metode: Uji klinis fase II, post test observation.Bahan dan cara: IUD yang dipasang adalah TCu380A dengan modifikasi pada inserternya (R_inserter) buatan PT Kimia Farma. Penelitian ini dilakukan di 3 Rumah Sakit dan 3 Puskesmas yang merupakan afiliasi rumah sakit pendidikan Dr Sardjito dari bulan Januari 2012 sampai April 2013. Semua klien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dimasukkan dalam penelitian ini. Pemasangan dilakukan oleh Residen atau Bidan yang telah mendapatkan pelatihan. Follow up dilakukan setelah 1 minggu, 1, 3, 6, 9 dan 12 bulan pascapasang. Kemudahan, angka ekspulsi, infeksi, nyeri, perdarahan, dan angka kelangsungan merupakan hasil utama yang diobservasi. Hasil dan Pembahasan: Selama kurun waktu tersebut telah direkrut sebanyak 142 klien yang memenuhi kriteria kelayakan. Lama pemasangan rata-rata adalah 3,89 ± 2,08 menit dengan minimum 2 menit dan maksimum 10 menit. Tidak ada kesulitan yang dirasakan. Secara kumulatif kejadian dalam 1, 3, 6, 9 dan 12 bulan untuk ekspulsi masing-masing adalah 9,9%, 9,9%, 10,6%, 10,6% dan 10%. Angka ekspulsi jika IUD dipasang dalam 10 menit pertama setelah plasenta lahir adalah 6,2% dibanding 24,1% bila pemasangan dilakukan setelah 10 menit (RR 3,90; 95%CI 1,37-11,2). Kejadian seperti infeksi, nyeri dan perdarahan relatif kecil dan dapat diatasi. Angka kelangsungan selama 1, 3, 6, 9 dan 12 bulan berturut turut adalah 89,4%, 89,4%, 86,6% 86,6% dan 85,9%. Tidak dijumpai kehamilan pada penelitian ini.Kesimpulan: R_inserter dapat dipakai untuk memasang IUD CuT-380A dengan mudah dan aman. Angka kejadian ekspulsi tertinggi terjadi dalam satu bulan pertama pascapasang dan berhubungan dengan saat pemasangan.Kata kunci: R_inserter, IUD pascasalin, ekspulsi, infeksi, angka kelangsungan. ABSTRACT Background: IUD is one of the most effective and long acting contraception, but the rate of its use in Indonesia is still low. As conventional IUD inserter is too short to deliver it during immediate postpartum (postplacental) period, then the new inserter, R_inserter, is developped.Objective:To find out whether the R_inserter can be used easily to deliver CuT-380A IUD during postpartum period in a standard procedure and to find out its safety.Method: Phase II clinical trial, post-test observation.Materials and Method: The IUD’s used were the conventional CuT-380A with a modification on its inserter namely 9 cm longer, produced by PT Kimia Farma Indonesia. The study was carried out in three hospitals and three community health centers (Puskemas) which were the network of Sardjito teaching hospital, from January 2012 to April 2013. All eligible women needing IUD as their contraception were recruited. IUD insertion was carried out by trained obstetric and gynecology resident or midwives. Follow up was done after 1 week, then 1, 3, 6, 9 and 12months after insertion.The ease of insertion, rate of the following events namely expulsion, infection, pain, bleeding, and continuation were main outcomes of interest.Results and Discussion: During the study period, a total 142 participants were recruited. The mean duration of insertion was 3.89 ± 2.08 minutes (ranged 2 to 10 minutes). No subjective difficulties were perceived by the providers. The cumulative expulsion rate for 1, 3, 6, 9 and 12 months were 9.9%, 9.9%, 10.6%, 10.6% and 10.% consecutively. The rate of expulsion if the IUD was inserted during 10 minutes after placental delivery was 6.2% compared to 24.1% if it was inserted after 10 minutes (RR 3.90; 95% CI 1.37-11.2). Infection, pain, and bleeding were relatively small and could be appropriately managed. The continuation rate for 1, 3, 6, 9 and 12 months were 89.4%, 89.4%, 86.6%, 86.6% and 85.9% consecutively. No pregnancy was found during the study period.Conclussion: The R_inserter could be easily used to deliver a CuT-380A IUD. The rate of expulsion was highest during the first month of insertion and was related to the time of insertion.Keywords:  R_ inserter, postpartum IUD, expulsion, infection, continuation rate.1,2,3,4 Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Universitas Gadjah Mada/ Sardjito Hospital Yogyakarta5 National Family Planning Board, Jakarta
HUBUNGAN PEMBELAJARAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DENGAN PENGETAHUAN TENTANG NAPZA SISWA SMU DI SURAKARTA Soetrisno, Soetrisno; Trimulya, Didon Muhammad; Riyanto, Slamet
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.809 KB) | DOI: 10.22146/jkr.5751

Abstract

HUBUNGAN PEMBELAJARAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DENGAN PENGETAHUAN TENTANG NAPZA SISWA SMU DI SURAKARTASoetrisno1, Didon Muhammad Trimulya2 , Slamet Riyanto3ABSTRACTBackground: Narcotics, psychotropic and other addictive substances misuse (drugs abuse) could effect various society segments, mostly young people age 15-24 years. The young generation is a strategic target for drug distribution including illegal trade in Surakarta. Necessary precautions should be taken as it could lead to addiction, could affect on survival, especially the young generation, including senior high school students. Policy to introduce adolescent reproductive health (ARH) education in particular with drugs abuse topic has been enacted in Surakarta since 2012, but had not covered the entire high school.Objective: Observing the correlation between adolescent reproductive health education with knowledge of NAPZA on high school students in Surakarta.Method: This study used an observational analytic with cross sectional design. A total of 120 students were taken by purposive random sampling. Total of 120 students were involved from second grade they consisted 60 students who had been given adolescent reproductive health education for one year (since first grade) and 60 students who had not. Students were given a questionnaire about NAPZA that has been tested for validity and reliability. Data analysis was then performed using chi-square.Results and Discussion: There is a significant correlation between adolescent reproductive health education with knowledge about types, characteristic of high risk youth, sign of addiction, category of drug users, as well as the dangers of drug prevention among high school students in Surakarta (p<0.05).Conclusion: There is a significant correlation between adolescent reproductive health education with knowledge of NAPZA on high school students in Surakarta.Keywords: Knowledge of NAPZA, Adolescent Reproductive Health Education, Youth of Surakarta. ABSTRAKLatar Belakang: Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat adiktif lain (NAPZA) dapat dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat, terbanyak generasi muda 15–24 tahun. Generasi muda adalah sasaran strategis perdagangan gelap NAPZA termasuk di Surakarta. Diperlukan kewaspadaan terhadap bahaya serta pengaruh NAPZA yang dapat menimbulkan ketagihan, dengan dampak terhadap kelangsungan hidup dengan pembinaan, khususnya generasi muda termasuk siswa Sekolah Menengah Umum (SMU). Kebijakan pembelajaran kesehatan reproduksi remaja (KRR) khususnya topik NAPZA telah diberlakukan di Surakarta sejak ajaran baru 2012 sampai sekarang, namun belum mencakup keseluruhan SMU.Tujuan: Mengamati hubungan pembelajaran KRR dengan pengetahuan NAPZA siswa SMU di Surakarta.Metode: Penelitian observasional analitik rancangan cross sectional. 120 subyek penelitian (siswa) diambil secara purposive random sampling. Sebanyak 60 subyek penelitian diambil dari siswa SMU kelas 2 yang sudah mendapatkan pembelajaran KRR selama satu tahun (sejak kelas 1) dan sebanyak 60 subyek penelitian siswa SMU yang belum mendapatkan pembelajaran. Subyek penelitian, baik yang sudah dan belum mendapatkan pembelajaran KRR diberikan kuesioner tentang NAPZA yang sudah diuji validitas dan reliabilitas. Kemudian dilakukan uji chi square.Hasil dan Pembahasan: Terdapat hubungan bermakna pembelajaran KRR dengan pengetahuan tentang jenis, ciri remaja beresiko pengguna, tanda kecanduan, golongan gangguan pengguna, bahaya serta penanggulangan NAPZA siswa SMU di Surakarta (p<0.05).Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna pembelajaran Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) dengan pengetahuan tentang NAPZA siswa SMU di Surakarta.Kata Kunci: Pengetahuan NAPZA, KRR, siswa SMU 1,2 Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta telp:0271-665145/08166725643 Dinas Kesehatan Kota Surakarta
PERBANDINGAN SKOR DISMENOREA PADA PASIEN ENDOMETRIOSIS YANG MENDAPATKAN TERAPI ABLASI LAPAROSKOPI DILANJUTKAN GnRH AGONIST VERSUS ABLASI LAPAROSKOPI SAJA DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA Isyana, Marta; Dasuki, Djaswadi; Rumekti, Diah
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.786 KB) | DOI: 10.22146/jkr.5752

Abstract

PERBANDINGAN SKOR DISMENOREA PADA PASIEN ENDOMETRIOSIS YANG MENDAPATKAN TERAPI ABLASI LAPAROSKOPI DILANJUTKAN GnRH AGONIST VERSUS ABLASI LAPAROSKOPI SAJA DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTAMarta Isyana 1 , Djaswadi Dasuki2, Diah Rumekti3ABSTRACTBackground: Dysmenorrhea in endometriosis is a condition that adversely impacts the quality of life of women. The current treatment for dysmenorrhea in endometriosis is essentially palliative, since most of these treatment can only suppress disease progression and relieve its symptoms.Objective: To compare the difference in dysmenorrhea scores pre and post treatment of dysmenorrhea in endometriosis patients who received laparoscopic ablation followed with GnRH agonist versus laparoscopic ablation therapy alone.Method: This is an observational study with a retrospective cohort design. Endometriosis patients were identified through medical records at Dr Sardjito Hospital, Yogyakarta. Patients were categorized into laparoscopic ablation therapy followed by GnRH agonist group and laparoscopic ablation therapy only group. Evaluation of dysmenorrhoea scores were performed in 6 months after therapy.Result and Discussion: A total of 88 subjects (44 subjects in each group) were eligible and gave their consent to participate. Patients who received laparoscopic ablation therapy followed by GnRH agonist showed greater VAS difference pre and post treatment (6,27±0,22 vs 4,20±1,17,p<0,001) compared with only ablation laparoscopic. This difference was not affected by age, BMI, and endometriosis stage. Eleven of the 44 subjects who received laparoscopic ablation followed by GnRH agonists developed side effects. There were 7 people with hot flushes, 3 people with decreased bone mineral density and 1 people with dry skin, whereas no subject in laparoscopic ablation group alone experienced them.Conclusions: Laparoscopic ablation followed by GnRH agonist therapy was associated with greather difference in dysmenorrhea score pre and post treatment compared with laparoscopic ablation only. Laparoscopic ablation therapy followed with a GnRH agonist was associated with higher side effects.Keywords: endometriosis, laparoscopic ablation, GnRH agonist, visual analog scaleABSTRAKLatar Belakang: Dismenorea pada endometriosis adalah suatu kondisi yang memberikan dampak bermakna pada mutu kehidupan wanita. Penanganan dismenorea pada endometriosis saat ini pada hakikatnya masih belum berhasil menyembuhkannya, karena sebagian besar baru mampu menekan perkembangan penyakit dan menghilangkan gejalanya.Tujuan: Membandingkan selisih skor dismenorea sebelum dan setelah terapi pada pasien endometriosis yang mendapatkan terapi ablasi laparoskopi dilanjutkan GnRH agonist versus ablasi laparoskopi saja.Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional menggunakan rancangan penelitian kohort retrospektif. Pasien endometriosis diidentifikasi melalui rekam medis di RSUP DR Sardjito, Yogyakarta. Pasien dikelompokkan menjadi kelompok terapi ablasi laparoskopi dilanjutkan dengan GnRH agonist dan terapi ablasi laparoskopi saja.Evaluasi untuk skor dismenorea dilakukan pada jangka waktu 6 bulan setelah terapi. Hasil dan Pembahasan: Sebanyak 88 subyek (44 subyek dalam setiap kelompok) memenuhi kriteria penelitian dan memberikan persetujuan untuk diikutsertakan dalam penelitian. Pasien yang mendapatkan terapi ablasi laparoskopi dilanjutkan GnRH agonist menunjukkan selisih VAS sebelum dan setelah terapi yang secara signifikan lebih baik (6,22±0,22 vs 4,20±1,17;p<0,001) dibandingkan dengan ablasi laparoskopi saja. Perbedaan ini tidak dipengaruhi oleh umur, BMI, maupun derajat endometriosis. Sebelas dari 44 subyek yang mendapatkan ablasi laparoskopi dilanjutkan GnRH agonist mengalami efek samping, yaitu 7 orang mengalami hot flushes, 3 orang mengalami penurunan densitas masa tulang dan 1 orang mengalami kulit kering, sedangkan tidak ada subyek dalam kelompok ablasi laparoskopi saja yang mengalami efek samping.Kesimpulan: Terapi ablasi laparoskopi yang dilanjutkan dengan GnRH agonist berhubungan dengan selisih skor dismenorea sebelum dan setelah terapi yang lebih tinggi dibandingkan dengan terapi ablasi laparoskopi saja. Terapi ablasi laparoskopi yang dilanjutkan dengan GnRH agonist berhubungan dengan tingkat efek samping yang lebih tinggi.Kata kunci: endometriosis, ablasi laparoskopi, GnRH agonist, visual analog scale 1,2,3 Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
PENGARUH CARA PERSALINAN TERHADAP INISIASI LAKTASI Ismiana, Anna; Taufiqurrahman, Irwan; Siswishanto, Rukmono
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.058 KB) | DOI: 10.22146/jkr.5753

Abstract

PENGARUH CARA PERSALINAN TERHADAP INISIASI LAKTASIAnna Ismiana 1, Irwan Taufiqurrahman2, Rukmono Siswishanto3ABSTRACT Background: Breastfeeding on the first day would prevent 16% of neonatal deaths and if early breastfeeding was given within the first 1 hour would prevent 22% neonatal of mortality per year.Objective: To determine the effect of mode of delivery on the initiation of breastfeeding.Method: The study was prospective cohort. The study was conducted by taking all cases of vaginal delivery and caesarean sections in the obstetric department of Dr. Sardjito, Banjarnegara Hospital, Wates Hospital, Wonosari Hospital and Magelang Hospital that met the criteria from January to May 2014. Maternal data were recorded from the medical records and the data of breast milk secretion within 24 hours after delivery were collected from paramedical personnel who had been trained before. The statistical test that is used was Chi-square.Results and Discussion: Subjects who met the inclusion criteria consisted of 162 women. Based on the mode of delivery, breastfeeding initiation on the first day after vaginal delivery were done in 73 women (90,1%), while in the cesarean delivery group, the initiation were done in only 34 women (42%). There were no significant relationship between age, education level, women occupation, and parity with the initiation of the first day of postnatal breastfeding. Statistically, BMI <25 kg/m2 had a significant association with 24 hours of postnatal breastfeeding initiation, but not clinically significant. There is a significant association between mode of delivery and the first day of postnatal lactation breastfeeding (OR=20,17;95% CI 7,47 to 54,43; p= 0,000).Conclusions: The proportion of the first day of breastfeeding initiation was larger in vaginal delivery group compared with cesarean delivery group.Keywords: mode of delivery, cesarean section, vaginal delivery, lactation initiation. ABSTRAKLatar Belakang: Pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada hari pertama akan menyelamatkan 16% kematian neonatal dan jika menyusu dini dalam 1 jam pertama akan menyelamatkan 22% kematian balita pertahun dari kematian. Tujuan: Mengetahui pengaruh cara persalinan terhadap inisiasi laktasi.Metode: Studi kohort prospektif. Penelitian dilakukan dengan mengambil semua kasus persalinan vaginal dan seksio sesarea di RSUP Dr. Sardjito, RSUD Banjarnegara, RSUD Wates, RSUD Wonosari, dan RSUD Magelang yang memenuhi kriteria dari bulan Januari sampai dengan Mei 2014 sampai dengan sampel terpenuhi. Data maternal dicatat dari catatan medis, data penelitian didapat dari melakukan pemeriksaan keluarnya ASI dalam 24 jam pascasalin oleh petugas medis atau paramedis yang telah terlatih. Uji statistik yang digunakan adalah Chi-square. Hasil dan Pembahasan: Subyek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi berjumlah 162 orang. Berdasarkan karakteristik cara persalinan, kejadian inisiasi laktasi hari pertama pascasalin pada persalinan vaginal sebanyak 73 orang (90,1%), sedangkan pada persalinan secara seksio sesarea sebanyak 34 orang (42%). Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan paritas dengan inisiasi laktasi hari pertama pascasalin. Secara statistik IMT <25 kg/m2 memiliki hubungan yang bermakna dengan inisiasi laktasi 24 jam pascasalin, namun tidak bermakna secara klinis. Terdapat hubungan yang bermakna antara cara persalinan dengan inisiasi laktasi hari pertama pascasalin (OR=20,17; 95%CI 7,47-54,43; p=0,000).Kesimpulan: Proporsi inisiasi laktasi hari pertama pascasalin pada kelompok persalinan vaginal lebih besar dibandingkan dengan kelompok persalinan seksio sesarea.Kata kunci: cara persalinan, seksio sesarea, persalinan vaginal, inisiasi laktasi 1,2,3 Bagian Obstetri dan Ginekologi, Facultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada

Page 2 of 2 | Total Record : 16