cover
Contact Name
Putu Indra Christiawan
Contact Email
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Media Komunikasi Geografi
ISSN : 02168138     EISSN : 25800183     DOI : -
MKG is a journal that facilitates the interests of lecturers, teachers and the academic community to communicate articles from research results and strengthen the exchange of ideas from academic reviews in the field of geography. The academic articles include research and reviews of studies in Human Geography and Physical Geography, population and environmental reviews, regional issue investigations, resource management, disaster management, remote sensing techniques (RS) and the application of geographical information system (GIS) and in-depth discussion on the development of standards in education and geography teaching, both at school and college level.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 15 No. 1 (2014)" : 6 Documents clear
Inovasi Pendidikan Bencana Berbasis Pendekatan Spasial di Indonesia Putu Indra Christiawan
Media Komunikasi Geografi Vol. 15 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v15i1.11419

Abstract

Pendidikan adalah barometer dari kualitas pembangunan sumberdaya manusia dan pengelolaan sumberdaya alam. Kemajuan peradaban suatu bangsa sangat ditentukan oleh inovasi pendidikan yang dikembangkan. Di sisi lain, kegagalan kinerja pendidikan dalam meningkatkan kemampuan peserta didik merupakan awal dari disharmonis hubungan manusia dengan lingkungan sekitar, yang bermuara pada bencana. Tulisan ini bertujuan untuk membedah korelasi antara ketertinggalan pendidikan di Indonesia dengan peningkatan kejadian bencana melalui pemahaman dan analisis tentang: (1) esensi pendidikan bencana, 2) orientasi intelegensi spasial dalam pendidikan  serta (3) implementasi pendidikan spasial sebagai inovasi pendidikan bencana yang berbasis hasil pengkajian secara teoritis dan empiris dari kondisi pendidikan di Indonesia. Hasil pembahasan dalam tulisan ini menunjukkan bahwa: (1) pendidikan adalah salah satu faktor kerentanan sosial utama yang memiliki kontribusi besar terhadap kejadian suatu bencana, maka dipandang penting adanya pendidikan yang menekankan pada intelegensi spasial agar peserta didik memiliki kemampuan untuk memahami kondisi atau karakteristik ruang yang beragam, (2) intelegensi spasial dalam pendidikan memiliki orientasi untuk mampu memahami dan memecahkan banyak kasus dalam kehidupan sehari-hari serta permasalahan dalam lingkup lokal, regional, nasional dan global; untuk mampu dalam bekerja-sama dengan banyak disiplin ilmu; untuk pembangunan dan perkembangan dari teknologi baru dan mampu memahami proses interaksi manusia, lingkungan dan kemasyarakatan serta mencapai geoliteracy dan (3) inovasi pendidikan yang harus digunakan di sekolah, khususnya di wilayah rawan bencana dan umumnya di Indonesia yang berkaitan dengan upaya mitigasi bencana adalah dengan pendekatan spasial. Pendekatan spasial digunakan untuk memahami gejala geosfer agar mempunyai pengetahuan yang lebih mendalam tentang kebencanaan melalui analisis variabel keruangan. Intelegensi spasial adalah pondasi awal dari inovasi pendidikan bencana berbasis pendekatan spasial di Indonesia. Inovasi pendidikan ini merupakan harmoni dari hubungan manusia dengan keberagaman karakteristik ruang hidup Indonesia, termasuk di dalamnya kekayaan sumberdaya dan ancaman bencana.
ANALISIS KEMAMPUAN LAHAN UNTUK ARAHAN PENGGUNAAN LAHAN PADA LERENG TIMUR LAUT GUNUNG AGUNG KABUPATEN KARANGASEM-BALI I Gede Budiarta
Media Komunikasi Geografi Vol. 15 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v15i1.11420

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di lereng sebelah timur laut Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Daerah penelitian merupakan lahan kering dengan pola penggunaan lahan yang belum menunjukkan kesesuaian dengan potensi lahan yang ada. Di sisi lain, kemajuan teknologi dalam bidang pertanian telah berkembang pesat, salah satunya dengan melakukan analisis kemampuan lahan untuk mengetahui potensi sumberdaya lahan dan meminimalisir resiko kegagalan petani. Hasil analisis kemampuan lahan diharapkan dapat menjadi pedoman penggunaan lahan secara lebih optimal sesuai dengan harapan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi lahan dan merekomendasikan arahan penggunaan lahan berdasarkan kondisi kemampuan lahan eksisting pada daerah penelitian. Rancangan yang digunakan adalah rancangan deskriptif, dengan tujuan utama untuk memberikan gambaran atau deskripsi tentang kemampuan dan kesesuaian penggunaan lahan daerah penelitian. Pedoman analisis kemampuan lahan dalam penelitian ini mengacu kepada Arsyad (2006) dan Peraturan Mentari Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penentuan Daya Dukung Lingkungan Hidup Dalam Penataan Ruang Wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) kelas kemampuan lahan pada daerah penelitian berkisar antara kelas III hingga kelas VI. Kemampuan lahan kelas III tersebar pada unit lahan 1, unit lahan 2, unit lahan 3, dan unit lahan 8. Kemampuan lahan kelas IV terdapat pada unit lahan 4, unit lahan 7, unit lahan 9, unit lahan 10, dan unit lahan 12, dan kemampuan lahan kelas VI terdapat pada unit lahan 5, unit lahan 6, dan unit lahan 11;  2) Nilai kesesuaian penggunaan lahan yang diperoleh adalah 92,85 %. Hal ini menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah penelitian (92,85 %) sudah sesuai antara kemampuan lahan dan penggunaannya. Selebihnya (7,15 %) tergolong tidak sesuai. Kesesuaian penggunaan lahandaerah penelitian masuk ke dalam kriteria tinggi; 3) Arahan penggunaan lahan disesuaikan dengan kondisi eksisting unit lahan. Pada lahan kelas III-IV yang belum sesuai penggunaannya atau belum dimanfaatkan secara optimal, pilihan penggunaan lahan yang dapat dilakukan yaitu: 1) tanaman semusim ; 2) tanaman perkebunan 3);  Sementara pada lahan kelas VI yang belum sesuai penggunaannya atau belum dimanfaatkan secara optimal, pilihan penggunaan lahan yang dapat dilakukan yaitu hutan produksi dan penggunaan lahan nonpertanian.
Membangun Nasionalisme Melalui Pembelajaran Geografi Berbasis Pengembangan Wilayah I Gede Astra Wesnawa
Media Komunikasi Geografi Vol. 15 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v15i1.11421

Abstract

Geografi lingkungan sebagai ilmu pengetahuan memiliki objek kajian yang luas, mencakup fenomena geosfer di permukaan bumi yang terdiri dari atmofer, litosfer, pedosfer, hidrosfer, biosfer dan antroposfer. Dalam hubungan ini wawasan geografi lingkungan sebagai pemberdayaan sumberdaya wilayah dalam bingkai ke Indonesiaan ketersediaan data dasar sumberdaya alam secara spasial belum optmal, sehingga membawa dampak pada pengenalan dan pemahaman terhadap keberadaan suatu wilayah, yang pada akhirnya terjadi degradasi nasionalisme. Geografi memiliki naluri ilmiah untuk mempelajari gejala geosfer secara utuh menyeluruh dengan menggunakan pendekatan keruangan, kelingkungan dan kewilayahan.  Dengan bekal pengetahuan tentang karakteristik wilayah, merupakan modal dasar dalam membangun nasionalisme. perlu adanya penguatan  internalisasi dan institusionalisasi pendidikan geografi. Penguatan tersebut memerlukan pengetahuan dan kearifan dalam mengatasi keterbatasan dan keangkuhan manusia dalam menyelaraskan dan menyingkap tabir alam. Inovasi dalam proses pembelajaran geografi dalam membangun nasionalisme meliputi: (1) kompetensi seperti pemahaman konsep geografi dan fenomena geosfer, mampu memanfaatkan peta dan berbagai citra penginderaan jauh dengan analisis dan sintesis data spasial, mampu mengenalkan karakteristik wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, (2) materi yang  “membumi” dengan cara mengenalkan bentang alam secara berjenjang dari tingkat lingkungan sekitar, regional dan nasional dan materi yang bersifat dinamis, dan (3) model pembelajaran yang  harus memberikan ruang bagi peserta didik untuk pengenalan objek kajian secara langsung di lapangan dan pengenalan alat survei lapangan.
POTENSI KONFLIK DI DAERAH TUJUAN TRANSMIGRASI (KASUS SAMPIT DAN MESUJI) I Made Sarmita
Media Komunikasi Geografi Vol. 15 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v15i1.11422

Abstract

Program transmigrasi yang digalakkan oleh pemerintah sebagai salah satu program kebijakan kependudukan tidak selamanya membawa berkah bagi kaum transmigran. Dibalik potensi kehidupan yang lebih terjamin, dalam program ini juga menyimpan potensi konflik yang setiap saat bisa meletus. Artikel ini menguraikan potensi konflik di daerah tujuan transmigrasi disertai dengan beberapa kasus yang telah terjadi. Potensi terjadinya konflik di daerah transmigrasi sangat besar, terjadi karena tidak adanya kesesuaian budaya pendatang dengan budaya lokal, fanatisme kedaerahan, kecemburuan terhadap keberhasilan penduduk pendatang, dan perilaku penduduk pendatang yang menyinggung kebiasaan atau adat-istiadat penduduk lokal. Konflik juga terjadi disebabkan oleh faktor lingkungan utamanya berkaitan dengan teori ketamakan serta teori kemerosotan dan kelangkaan sumberdaya alam. Hasil studi empiris yang dipaparkan memperkuat teori yang sudah ada. Berbenturnya sifat-sifat negatif yang dimiliki masing-masing etnis menjadi akar konflik etnis Madura dengan etnis Sampit. Pada sisi lainnya teori ketamakan menjadi basis timbulnya konflik di Mesuji Lampung.
PERUBAHAN KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DESA GLAGAHARJO PASCA ERUPSI GUNUNGAPI MERAPI TAHUN 2010 I Putu Ananda Citra
Media Komunikasi Geografi Vol. 15 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v15i1.11423

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Glagaharjo pasca erupsi gunungapi merapi tahun 2010 di Kabupaten Sleman. Pengumpulan data kondisi ekonomi dilakukan dengan teknik wawancara mendalam dengan sejumlah sampel penduduk yang ditentukan menggunakan teknik snowball sampling. Data akan dianalisis dengan metode deskriptif analisis kualitatif untuk mendeskripsikan perubahan kondisi ekonomi penduduk. Dalam analisis tersebut diuraikan perbandingan mengenai kondisi ekonomi sebelum dan setelah erupsi tahun 2010. Dalam perubahan kondisi ekonomi tersebut selain menggunakan data atau informasi yang diperoleh secara langsung melalui kegiatan wawancara mendalam juga digunakan informasi pendukung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terjadi perubahan kondisi sosial ekonomi pada setiap dusun di Desa Glagaharjo. Mulai dari perubahan mata pencaharian, pendapatan, kepemilikan lahan, dan penolakan masyarakat karena terdapat wacana relokasi. Perubahan yang paling menonjol dari segi ekonomi yaitu perubahan mata pencaharian menjadi penambang pasir.
SIMULASI FUSI CITRA IKONOS-2 PANKROMATIK DENGAN LANDSAT-7 MULTISPEKTRAL MENGGUNAKAN METODE PAN-SHARPEN UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS CITRA DALAM UPAYA PEMANTAUAN KAWASAN HIJAU (Studi Kasus Sekitar Kawasan Bandara Ngurah Rai-Badung Bali) I Wayan Krisna Eka Putra; Romy Fadly; Sri Rezki Artini
Media Komunikasi Geografi Vol. 15 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v15i1.11424

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menghasilkan citra yang memiliki kualitas lebih baik untuk memudahkan pemantauan kawasan hijau di sekitar kawasan Badara Ngurah Rai-Badung Bali. Data yang digunakan dalam proses fusi citra ini yaitu citra Ikonos-2 pankromatik (resolusi spasial 1 m) dan Landsat-7 multispektral  (resolusi spasial 30 m).  Metode yang digunakan dalam proses fusi citra ini yaitu Pan-Sharpen. Hasil yang diperoleh berupa citra berwarna dengan resolusi 1 meter yang lebih mudah didigitasi untuk pemantauan luas kawasan hijau.

Page 1 of 1 | Total Record : 6