cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JOGED
ISSN : 18583989     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
JOGED merangkai beberapa topik kesenian yang terkait dengan fenomena, gagasan konsepsi perancangan karya seni maupun kajian. Joged merupakan media komunikasi, informasi, dan sosialisasi antar insan seni perguruan tinggi ke masyarakat luas.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2017): OKTOBER 2017" : 7 Documents clear
Eksistensi Kesenian Masyarakat Transmigran Di Kabupaten Pringsewu Lampung Studi Kasus Kesenian Kuda Kepang Turonggo Mudo Putro Wijoyo Mutiara Dini Primastri
Joged Vol 8, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.646 KB) | DOI: 10.24821/joged.v8i2.1889

Abstract

Penelitian ini merupakan sebuah analisis deskriptif yang menggunakan pendekatan sosiologi dan antropologi untuk membedah tentang eksistensi kesenian masyarakat transmigran berupa kesenian kuda kepang di Kabupaten Pringsewu Lampung. Kesenian kuda kepang yang eksis di Kabupaten Pringsewu yaitu komunitas seni Turonggo Mudo Putro Wijoyo (TMPW).Eksistensi adalah adanya sebuah keberadaan yang tidak hanya sebagai sesuatu yang “diam” akan tetapi menjadi sesuatu yang aktif dan memiliki peran di dalam lingkungannya. Melalui kajian sinkronik, kesenian kuda kepang TMPW tetap eksis saat ini karena memiliki fungsi sebagai seni pertunjukan yang menghibur (presentasi estetis), memuat nilai-nilai budaya, serta dapat menjadi identitas orang Jawa di Pringsewu. Kajian sinkronik didukung oleh kajian diakronik, yaitu kemunculan kesenian kuda kepang TMPW merupakan hasil dari rangkaian sejarah berupa eksistensi orang-orang yang bertransmigrasi di Pringsewu, melalui tahap eksistensi yaitu eksistensi estetis, etis dan religius.Eksistensi kesenian kuda kepang TMPW tidak lepas dari faktor-faktor pendukungnya. Komunitas TMPW terus menunjukkan eksistensinya dengan melakukan inovasi pada segala aspek-aspek penunjang koreografi dengan menjaga otentisitas agar tidak hilang dan menjadi ciri khas. Sebuah seni pertunjukan bersifat stimulus bagi masyarakat tentu mendapatkan respons, berupa respons positif dan respons negative.   This research is a descriptive analysis using sociology approach to analysed about art existence of transmigrant society, that is kuda kepang in Pringsewu Regency of Lampung. Kuda kepang that exist in Pringsewu is Turonggo Mudo Putro Wijoyo (TMPW) community.Existence is the existence is not only as something "silent" but becomes something active and has a role in the environment. Synchronic studies, kuda kepang TMPW still exists because it has a function as an entertaining performing art (aesthetic presentation), contains cultural values, and can be a Javanese identity in Pringsewu. Synchronic studies are supported by diachronic studies, that is the emergence of kuda kepang TMPW is the result of a series of histories of the existence of people who transmigrated in Pringsewu, through the stage of existence of aesthetic, ethical and religious existence.The existence of kuda kepang TMPW is not separated from the supporting factors. The TMPW community continues to show its existence by innovating on all aspects of choreography support and to be kept authenticity not lost and become characteristic. The performing arts have the character of stimulus for the society of course get the response, that is positive response and negative response.
Hahomion Na Tolu Rines Onixy Tampubolon
Joged Vol 8, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (968.495 KB) | DOI: 10.24821/joged.v8i2.1885

Abstract

Dalihan Natolu adalah pandangan hidup dalam masyarakat Batak yang memiliki nilai-nilai yang bersifat universal. Dalihan Natolu terbagi menjadi tiga kedudukan fungsional di dalam masyarakat Batak yaitu, Somba Marhulahula (hormat kepada keluarga dari pihak istri), Elek Marboru (mengayomi wanita), dan Manat Mardongan Tubu (bersikap sopan/hati-hati kepada teman semarga). Tiga kedudukan yang menjadi penyokong adat inilah yang disimbolisasikan ke dalam bentuk visual Dalihan Natolu (tungku berkaki tiga). Tungku yang memiliki tiga kaki, memiliki keseimbangan yang mutlak, karena tungku tersebut tidak dapat berdiri dan tidak dapat digunakan apabila salah satu kakinya rusak. Berdasarkan makna tersebut, leluhur suku Batak memilih tungku berkaki tiga sebagai falsafah hidup dalam tatanan kekerabatan antara sesama yang bersaudara atau satu marga dengan kelompok pemberi istri dan kelompok penerima istri. Segala kegiatan adat masyarakat Batak tidak dapat berjalan dan terlaksana apabila salah satu dari ketiga unsur tersebut tidak ada.Dalam karya Hahomion Na Tolu, penggunaan tiga orang penari yang terdiri dari satu penari perempuan dan dua penari laki-laki dianalogikan sebagai gambaran konsep keseimbangan nilai tiga yang terkandung dalam Dalihan Natolu. Koreografi dalam garap tari kelompok ini memanfaatkan media gerak hasil pengembangan beberapa motif tari Tor-Tor Batak. Pengolahan motif ditekankan pada kualitas gerak tegas, kuat, dan perwujudan desain yang menunjukkan keseimbangan melalui gerak-gerak saling menyangga dan lifting. Busana dalam koreografi ini menggunakan bahan Ulos dan pilihan warna lebih pada warna merah, hitam dan putih, ketiganya merupakan warna yang digunakan dalam setiap kegiatan adat Batak. Musik tari adalah pengembangan pola-pola Gondang Uning-uningan Batak.  Dalihan Natolu is considered as a view of life in Bataknese society's that has values which are universal. Dalihan Natolu is divided into three functional positions namely, Somba Marhulula (respect to the family of the wife), Elek Marboru (nursing women), and Manat Mardongan Tubu (be polite / careful to clan members). Those three positions that serve as proponent of the tradition are symbolized in the visual form of Dalihan Natolu (three-legged fireplace). The three-legged fireplace has an absolute balance, because the fireplace can not stand and can not be used when one of its legs is damaged. Based on that meaning, Bataknese ancestors chose a three-legged fireplace as a philosophy of life in a kinship arrangement between a brothers or a clan with a wife giver and wife receiver groups. All the activities of Bataknese's traditions can not be run and executed if one of the three elements are not there. In the work of Hahomion Na Tolu, the use of three dancers consisting of one female dancer and two male dancers is analogous to the concept of the balance of three values contained in Dalihan Natolu. Choreography in the working on this group of dance is utilizing the motion media development of several motifs from Tor-Tor Bataknese Dance according to the stylist's design. The Motif processing is emphasized on the quality of motion firm, strong, and the embodiment of design that shows the balance through the motion of mutual support and lifting. Clothing in this choreography using Ulos material and more color choices on red, black and white, all three are the colors used in every Bataknese's tradition activities. The music for the dance is formatted live with patterns of bataknese's Gondang Uning-uningan's development.
Rekonstruksi Gerak Pada Tari Remo Tawi Jombang Ayu Titis Rukmana Sari; Wahyudi Wahyudi
Joged Vol 8, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.638 KB) | DOI: 10.24821/joged.v8i2.1890

Abstract

Tari Remo Tawi merupakan salah satu Tari Remo di Jawa Timur yang memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan Tari Ngremo lainnya.Tari ini diciptakan oleh Tawi seorang pengreman dari Jombang. Tawi mengolah gerakan, sehingga mampu memunculkan teknik gerak yang unik dan berbeda dengan Tari Remo lainnya, yakni lebih halus (kêmayu), mencerminkan karakter dari Tawi yang merupakan sosok pria feminin dan berkarakter luruh atau halusTujuan penelitian ini adalah menghasilkan warna baru dalam sajian Tari Remo Tawi. Warna baru yang dimaksud disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat saat ini, yang cenderung mengutamakan kebutuhan visual dan berdurasi singkat. Unsur visual yang utama dalam sebuah sajian tari adalah gerak, maka gerak dalam Tari Remo Tawi dilakukan proses rekonstruksi oleh peneliti untuk mempertahankan eksistensinya di tengah masyarakat modern. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi.Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman bagi para seniman tari khususnya tentang cara-cara merekontruksi tari agar lebih memiliki kesan yang menarik masyarakat pada umumnya, namun tetap mempertahankan esensi/nilai dan mengindari distorsi yang berlebihan sehingga eksistensi dari tari tersebut tetap bertahan ditengah derasnya arus globalisasi.  Tawi Dance is one of Remo Dance in East Java which has its own distinctive character compared with other Ngremo Dance. This dance was created by Tawi a pengreman from Jombang.Tawi cultivate the movement in such a way, so as to bring up a unique motion technique and different from Remo Dance which others. The gentle rustle (kêmayu), reflects the individualcharacter of Tawi which is the figure of the feminine man and the character is decayed or subtle. The purpose of this research is to produce new color in Remo Tawi Dance dish. The new colors are adapted to the needs of today's society, which tend to prioritize visual needs and short duration. The main visual element in a dish of dance is motion, then the motion in Remo Tawi Dance done reconstruction process by researchers to maintain its existence in the middle of modern society. The method used in this research is descriptive method of qualitative analysis by using ethnokoreologi approach.The results of this study can be used as a guideline for dance artists, especially on ways to reconstruct dance to have a more interesting impression of society in general, but still maintain the essence / value and avoid excessive distortion so that the existence of the dance survives amid the swift stream of globalization.
Analisis Koreografi Tari Ganjur Pada Upacara Adat Erau Kutai Kertanegara Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur Agus Yulianti
Joged Vol 8, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.831 KB) | DOI: 10.24821/joged.v8i2.1886

Abstract

Tari Ganjur merupakan kesenian yang berbentuk ritual dalam sebuah upacara adat yaitu Upacara Erau adat Kutai Kartanegara Ing Martadipura, yang dilestarikan oleh masyarakat kota Tenggarong, kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.Tari Ganjur merupakan tarian Klasik yang dimiliki oleh Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dalam bentuk koreografi kelompok, karena dapat dilihat dari bentuk pertunjukan tari ganjur yang ditarikan oleh empat penari laik-laki. Di dalam tari Ganjur menggunakan sebuah properti Gada yang biasa disebut dengan ganjur. Tari Ganjur menggambarkan seorang pangeran yang sedang menjaga keamanan tiang ayu agar pada saat acara Bepelas Sultan tidak diganggu oleh roh-roh jahat. Tari Ganjur mengenakan busana atasan miskat sedangkan bawahannya mengenakan celana panjang berwarna hitam dipadukan dengan sarung Samarinda. Rias penari menggunakan rias natural, serta iringan tari menggunakan seperangkat alat gamelan Kutai.Dalam hal ini yang menjadi pokok permasalahan adalah analisis koreografi tari Ganjur pada Upacara Erau Adat Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Untuk menjawab permasalahan tersebut, maka akan meminjam teori Y. Sumandiyo Hadi mengenai Koreografi Bentuk-Teknik-Isi. Menurut Y. Sumandiyo Hadi ketiga konsep bentuk, teknik, dan isi ini tidak dapat dipisahkan dalam sebuah pertunjukan tari. Dalam penelitian ini tari Ganjur pada Upacara Erau Adat Kutai Kartanegara Ing Martadipura dapat ditinjau dari aspek bentuk, teknik, dan isi. Aspek bentuk tari Ganjur terbagi menjadi tiga bagian, pembagian ini terlihat dari perpindahan iringan musiknya. Aspek teknik gerak tari Ganjur terdapat kesamaan dengan gerak tari Klasik yang ada di Surakarta dan Yogyakarta. Aspek isi tari Ganjur bertemakan keamanan yang bertujuan untuk menjaga keamanan daerah sekeliling Tiang Ayu. Kehadiran tari Ganjur dalam upacara Erau adat Kutai Kartanegara Ing Martadipura sangat berperan penting dalam acara bepelas sultan, karena kehadirannya diperuntukan menurunkan Pangeran Sri Ganjur untuk menjaga keamanan tiang ayu dari roh-roh jahat, dan kehadirannya selalu ada pada malam Bepelas Sultan.  Ganjur dance is a ritual art form in a traditional ceremony that is customary Erau ceremony Kutai Ing Martadipura, preserved by the people of Tenggarong city, district, Kutai, East Borneo. Ganjur dance a classical dance that is owned by the Sultanate of Kutai Ing Martadipura in the form of choreography Group, because it can be seen from the form of dance performances ganjur danced by four male-male dancers. In Ganjur dance uses a property called Gada commonly called ganjur. Ganjur Dance depicts a prince who is guarding the security pole so that at the time of the Sultan Bepelas event is not disturbed by evil spirits. Ganjur Dance wearing a clothing top miskat while his subordinates dressed in black trousers combined with sarong Samarinda. The dancers makeup using natural makeup, dance accompaniment using a set of Kutai gamelan instruments.In this case an issue of concern is the analysis of dance choreography Ganjur Ceremony Indigenous Erau Martadipura Kutai Ing. To answer these problems, it will borrow Y. Sumandiyo Hadi theory regarding Choreography Form-Fill-technique. According to Y. Sumandiyo Hadi these three concepts of form, technique, and content can not be separated in a dance performance. In this study dance Ganjur Ceremony Indigenous Erau Kutai Ing Martadipura can be viewed from the aspect of forms, techniques, and content. Aspects of dance form Ganjur is divided into three parts, this division is seen from the transfer of musical accompaniment. Techniques of motion dance movement Ganjur there are similarities with Classical dance movement in Surakarta and Yogyakarta. Aspects of dance contents Ganjur themed security that aims to maintain the security of the surrounding area Tiang Ayu. The presence of dance in the ceremony Ganjur custom Erau Kutai Ing Martadipura very important role in the event bepelas sultan, because his presence is intended to lower the Prince Sri Ganjur to maintain the security of ayu pole of evil spirits, and his presence is always there at night Bepelas Sultan.
Ondeh Marawa Janihari Parsada
Joged Vol 8, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.804 KB) | DOI: 10.24821/joged.v8i2.1891

Abstract

“Ondeh Marawa” merupakan judul karya tari ini. Ondeh berarti aduh, sedangkan Marawa merupakan nama bendera kebesaran Minangkabau yang dipinjam sebagai judul karya. Jadi, “Ondeh Marawa” berarti aduh Marawa. Kata aduh di sini memiliki banyak pengertian di antaranya: ungkapan rasa kagum terhadap sosok Marawa, bentuk kekesalan terhadap diri sendiri atas keterlambatan menyadari keberadaan Marawa, dan penekanan terhadap kata Marawa yang masih menjadi inspirasi karya hingga saat ini. Karya “Ondeh Marawa” menyampaikan beberapa hal yaitu bentuk visual dan gejolak hati yang dialami terhadap sosok bendera Marawa. Visualisasi bendera Marawa dipresentasikan melalui gerak tubuh dan busana penari. “Ondeh Marawa” juga merupakan bentuk ungkapan rasa terima kasih terhadap ibu pertiwi dan kedua orang tua yang telah melahirkan penata di tanah Minangkabau.Gerak dasar dalam karya tari ini banyak terinspirasi oleh visual bendera saat tertiup angin. Kualitas gerak lembut sebagai penggambaran bendera saat tertiup hembusan angin yang lembut, dan kualitas gerak cepat atau enerjik saat tertiup angin kencang. Motif meliuk, vibrasi serta stakato yang dipadukan dengan beberapa gerak dasar Minangkabau menghasilkan beragam motif gerak baru yang memperkaya garapan ini. Selain itu, gejolak hati atau konflik batin yang dialami penata melengkapi dramatisasi yang dibangun dari awal hingga akhir tarian.Karya tari “Ondeh Marawa” disajikan dalam garap koreografi kelompok besar, 14 penari dan 2 aktor, dengan format live music. Warna busana penari dibuat dalam tiga kelompok yaitu merah, kuning dan hitam sesuai dengan warna asli bendera Marawa. Komposisi tari menjadi semakin menarik karena adanya kompoisisi warna busana para penari.  “Ondeh Marawa” is the title of this dance. Ondeh means ‘aduh’ (Indonesian) which refers to a hyper expression to be said on something with both good and bad values, and Marawa is the name of Minangkabau’s official flag which is used to be the choreograph’s title. So, Ondeh Marawa refers to the expression like, “My, oh my, Marawa!”. The word ‘aduh’ (My, oh My!) can be meant to be admiration of Marawa, and it as well can be kind of self-regretful expression for being late to notice the existence of Marawa (when its important role starts to fade away in the era of modernization), and praise to the Marawa itself for inspiring many artworks until today. Ondeh Marawa dance work is the visual form and emotion of one’s inner-conflict upon Marawa. Marawa’s visualization is represented by the dancers’ bodies and dance costume. Ondeh Marawa is also appreciations to the motherland and choreographer’s parents who have given birth to and raised him up on the land of Minangkabau.The essential movements of this dance work are mostly inspired by the visualization of the flag when it is blown by the wind. The smooth quality movement is representing the flag when it is blown by soft wind, while the energetic and high-speed quality movement is blown by gale. The movement pattern of curving, vibrating and staccato which are combined with some essential movements of Minangkabau traditional dance, create brand-new movement motives enriching this choreograph. Put aside of that, the inner-conflict which is gone through by the choreographer gives such dramatical nuance from the beginning until the end of the dance.The Ondeh Marawa dance work is presented in big-group composition of choreography by 12 male dancers with live-music concept. The dance costumes are made into 3 groups of colour: red, yellow, and black based on the original colour of Marawa (flag). The dance composition becomes more attractive because of the different colours of the dance costume.
Fungsi Tari Nyambai Pada Upacara Perkawinan Adat Nayuh Pada Masyarakat Saibatin Di Pesisir Barat Lampung Cintia Restia Ningrum
Joged Vol 8, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (888.714 KB) | DOI: 10.24821/joged.v8i2.1887

Abstract

Tari Nyambai adalah tari kelompok berpasangan yang dilakukan oleh gadis (muli) dan bujang (mekhanai) sebagai ajang pertemuan atau ajang silahturahmi untuk mencari jodoh. Sebagai tarian adat pada masyarakat saibatin (pesisir), kehadirannya menjadi bagian dari rangkaian upacara perkawinan yang disebut dengan upacara Nayuh/Penayuhan. Upacara Nayuh/Penayuhan adalah upacara perkawinan adat besar-besaran yang diadakan oleh masyarakat Lampung yang beradat Saibatin/pesisir. Metode analisisis bersifat deskriptif analisis dengan pendekatan teori fungsi dan teori sosio-budaya. Ada tiga kategori fungsi dalam kebudayaan yakni, 1). Kebudayaan harus memenuhi kebutuhan biologis, seperti kebutuhan akan pangan dan prokreasi, 2) Kebudayaan harus memenuhi kebutuhan instrumental, seperti kebutuhan akan hukum dan pendidikan, dan 3). Kebudayaan harus memenuhi kebutuhan integratif, seperti agama dan kesenian. Dalam sosiologi budaya ada tiga komponen pokok, yaitu 1). Institution atau lembaga budaya yang menanyakan: siapa yang mengontrol, dan bagaimana kontrol itu dilakukan, 2) Isi budaya menanyakan produk atau simbol apa yang dihasilkan, dan 3). Efek budaya menanyakan apa yang diusahakan. Tari Nyambai dan upacara Nayuh pada masyarakat Saibatin di Pesisir Barat Lampung mencerminkan adanya keharmoinisan komunikasi masyarakat dan bentuk peneguhan upacara pernikahan sebagai kebijakan adat yang harus dipatuhi seluruh warga pesisir Barat, Lampung sebagai basis sosialnya.  Nyambai is a pair group dance composition mekhanai (unmarried) and muli (virgin) as a site of get along or hospitality and seeking true love. As traditional dance in society of saibatin ( coastal area), the presence as the part of chain of wedding ritual of coastal society that is called asNayuh/Penayuhan ceremony. Nayuh/Penayuhan ceremony is an enormous wedding ritual which is hold by Lampung society which has saibatin/coastal tradition. The analysis method is analysis descriptive with function and sosio-culture theoris as approachment. There are there levels of function on culture, they are: 1) Culture must fulfill the need of biologist, as the needs of eating and procreation, 2) Culture must fulfill the need of instrumental, as the needs of law and education, and 3) Culture must fulfill the need of integrative, such as religion and art. Within culture sosiology there are there main components, they are 1) institutution or culture institution that questioning: who is controller, and how the control is done ( culture institution), 2) Culture contain, is product or symbol that will be produced ( Nyambai dance ), and 3) Culture Effect, is what is worked for. Elaboration between fungtion and sosio-cultural that reflect or harmony of societal communication and the form of Wedding ritual as the policy of culture that must be obeyed to all coastal society of west Lampung as basic social.
Transformasi Upacara Belian Ke Dalam Tari Gitang Paser Jumiati Jumiati
Joged Vol 8, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.147 KB) | DOI: 10.24821/joged.v8i2.1888

Abstract

Upacara Belian merupakan ritual pengobatan, membayar hutang, dan pembersihan kampung yang terdapat di Kabupaten Paser. Upacara Belian ini dilatar belakangi oleh sistem kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan gaib. Inti upacara Belian berupa gerak-gerak dan mantra-mantar. Gerak yang dihadiran pada upacara Belian ini menimbulkan inspirasi bagi seorang seniman bernama Irusmiati untuk mentransformasikan upacara Belian menjadi tari Gitang Paser.Gerak dalam tari Gitang ini terinspirasi dari dua motif gerak yang dilakukan oleh Mulung yaitu perambut (gerak lambat), kerkesek (gerak cepat) serta bunyi gitang. Kedua unsur ini dikembangkan dalam irama, ritme dan penggunaan tenaga sehingga menjadikannya lebih dinamisUntuk mengtahui aspek apa saja yang bertransformasi pada upacara Belian ke dalam tari Gitang Paser maka peneliti menggunakan konsep yang dikemukaka n oleh Djoharnurani yang mengemukakan bahwa proses transfomasi dapat dilalui dalam tiga tahap yaitu; 1) tahap pemahaman dan penghayatan makna; 2) tahap resepsi; dan 3) tahap tindak resepsi. Pada butir pertama adalah pemahaman dan penghayatan makna terhadap nilai-nilai yang ditransformasikan. Butir kedua adalah resepsi yang berarti penerimaan memang salah satu aspek yang ada dalam proses transformasi. Kemudian pada aspek tindak resepsilah transformasi membawa rangsangan idesional atau gagasan untuk membuat suatu yang baru. Maka melalui dari tiga tahap ini lah hasil transformasi antara upacara Belian dan tari Gitang Paser dari aspek rasa, bentuk, dan makna masing-masing bisa berubah, masih nampak ataupun menjadi samar-samar.Hasil analisis di atas menunjukkan adanya suatu perubahan bentuk penyajian, makna serta fungsi upacara Belian ke dalam tari Gitang. Hasil yang didapat memberikan nilai yang bersifat mengembangkan. Salah satu pengembangan yang dapat dilihat dari bentuk penyajian yaitu gerak, gerak pada upacara Belian lebih sederhana hanya menggunakan dua motif yaitu perambut dan kerkesek ketika berubah maka gerak tersebut lebih dinamis karena memiliki berbagai macam motif. Pengembangan yang terjadi pada bentuk penyajian memberikan dampak perubahan pula pada fungsi. Fungsi pada upacara lebih pada ritual pengobatan ketika berubah menjadi tari Gitang fungsi tersebut sebagai hiburan semata tanpa meninggalkan suasana magis. Ketika bentuk dan fungsi berubah mengakibatkan perubahan makna yang terjadi pada tari Gitang yaitu hilangnya kepercayaan masyarakat setempat terhadap upacara Belian.  Belian ceremony is a ritual of treatment, debt repayment, and cleaning of villages located in Paser District. This Belian ceremony is based on a belief system of supernatural powers. The core of the Belian ceremony is in the form of movements and mantras. The movement attended at this Belian ceremony inspired an artist named Irusmiati to transform the Belian ceremony into a Gitang Paser dance. Motion in Gitang dance is inspired by two motive motifs performed by Mulung that is perambut (slow motion) kerkesek (fast motion) and the sound of gitang. It is developed in rhythm, rhythm and use of power making it more dynamic. To know what aspects are transformed at Belian ceremony into Gitang Paser dance then the researcher uses the concept proposed by Djoharnurani which shows that the process of transfomation can be passed in three stages that is 1) Stage of understanding and appreciation of meaning 2) the reception stage and 3) stage of action. In the first point is the understanding and appreciation of the meaning of values that are transformed. The second point is acceptance which means acceptance is one of the aspects that exist in the transformation process. Then on the aspect stage of action transformation brings about an ational stimulus or an idea to create a new one. So through these three stages is the result of the transformation between Belian ceremonies into Gitang Paser dance from the aspect of taste, form, and meaning of each can change, remain visible or become blurred. The results of the above analysis indicate a change in the form of presentation, meaning and function of Belian ceremony into Gitang dance. The results obtained provide a value that is developing. One of the developments that can be seen from the form of motion presentation, motion at Belian ceremony is simpler by using only two motifs that is perambut and kerkesek When changed the motion is more dynamic because it has a variety of motives. The development that occurs in the form of presentation gives effect to changes also on the function. The function at this ceremony is more on the treatment ritual when it transforms into a Gitang dance function as a mere entertainment without leaving the magical atmosphere. When the form and function change resulted in a change of meaning that occurred in Gitang dance that is the loss of local belief in Belian ceremony. 

Page 1 of 1 | Total Record : 7