cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 3 (2001)" : 24 Documents clear
MANFAAT OLAH TUBUH BAGI SEORANG PENARI (The Benefits of Calisthenics for a Dancer)
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 2, No 3 (2001)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v2i3.862

Abstract

Aktifitas manusia yang dilakukan daam kehidupan sehari-hari, merupakan kegiatan rutinitas yang di dalamnya bertumpu pada kemampuan tubuh manusia itu sendiri untuk melakukan gerakan-gerakan, baik gerakan yang alami/naluriah maupun gerakan-gerakan yang terkontrol. Melalui gerakan-gerakan fisik yang menempati ruang dan waktu inilah manusia menyalurkan aktifitasnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Gerakan tubuh dalam kehidupan memiliki art; penting, hal ini dapat dirasakan ketika seseorang dapat melakukan aktifitasnya dengan lancar dan mendapatkan hasil sesuai yang diinginkan. Selain itu gerakan tubuh semakin terasa penting ketika salah satu dari organ tubuh kita mengalami gangguan (sakit) sehingga pada bagian yang sakit itu tidak mampu melakukan gerakan dan bahkan seluruh tubuh terasa dampaknya. Sadar akan semua ini maka gerakan organ tubuh manusia sangat vital dalam kehidupan. Tidak jauh dari permasalahan gerak tubuh manusia, satu sisi budaya manusia dalam hal ini seni tari yang notabene menggunakan gerak tubuh sebagai media ungkap estetik, bertumpu juga pada kemampuan fisik/tubuh manusia. Ini menjadi satu hal yang mendasar dalam mempersiapkan tubuh untuk dapat digunakan sebagai media ungkap dalam seni tari. Kata Kunci:     Tubuh Manusia, Olah Tubuh, Gerak, Tari.
MASALAH KEAKTORAN DALAM TEATER MODERN (The Problem of Being an Actor in Modern Theater)
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 2, No 3 (2001)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v2i3.858

Abstract

Aktor adalah unsuryang memegang peran penting dalam teater modern. Perbedaan utama antara aktor dalam teater modem dan dalam teater tradisional terletak pada pertanggungjawabannya atas naskah atau teks yang menjadi sumber pementasan. Dalam teater tradisional, pertanggungjawaban aktor terhadap naskah tidak begitu ketat –bahkan  boleh dikatakan sangat longgar, sementara dalam teater modern sangat ketat. Hal ini disebabkan oleh adanya tuntutan yang berat bagi seorang  aktor teater modern, yaitu kemampuan menempatkan dirinya pada tokoh yang diperaninya dan kemampuan mengomunikasikan apa yang  dipahaminya itu melalui permainannya di panggung. Melihat kondisi seperti ini, seorang aktor memang harus rajin berlatih (pernafasan, vokal, ekspresi,  gesture, dan interpretasi naskah) dan senantiasa mengikuti perkembangan  teater. Pelajaran Richard Boleslavsky dengan demikian juga menjadi  penting, sehingga seorang aktor mampu bermain dan tahapan yang paling  rendah sampai pada akhirnya dapat bermain secara sempurna. Ukuran keberhasilan permainan seorang aktor dapat dilihat dengan kriteria lima  tingkatan, yaitu tahap memerankan, tahap sebagai, tahap menjadi, tahap  adalah, dan tahap sempurna. Semakin tinggi tahap yang dapat dicapai oleh  seorang aktor, semakin tinggi pula nilai permainannya. Kata Kunci: aktor, pelajaran Richard Boleslavsky, pelatihan dasar
AKULTURASI KESENIAN REBANA (The acculturization of The Art of Rebana)
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 2, No 3 (2001)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v2i3.863

Abstract

Kesenian tradisional rebana sebagai salah satu bentuk kesenian di Indonesia, kadang mengundang pembicaraan yang cukup sengit di kalangan para ulama sejak dahuiu. Di antara mereka ada yang membuka telinganya lebar-lebar untuk mendengar segala macam jenis musik dan nyanyian karena beranggapan bahwa nyanyian atau jenis musik halal. sementara ada yang berpendapat bahwa nyanyian itu hukumnya haram. Kesenian rebana yang berkembang di masyarakat akan mengalami perubahan seperti berkembangnya kebudayaan lain yang ada di masyarakat pendukung dan pelestarinya. Perkembangan kesenian rebana bisa melalui kontak-kontak budaya baik melalui bentuk permainan musiknya, penampilan lirik atau syairlagu, maupun alat-alat musik yang digunakannya. Kontak-kontak budaya akan terjadi baik melalui proses akulturasi, maupun penetrasi kebudayaan. Masalah-masalah akibat akulturasi akan berpengaruh baik positif maupun negatif, seperti terjadi masalah adisi, sinkretisme, substitusi, dekulturasi maupun rejeksi Kata kunci: Rebana, duf, akulturasi, Sholawatan, genjring, kempling, kompangan, terbang, kasidah, barzanji.
TARI BEDHAYA KETAWANG LEGIMITASI KEKUASAAN RAJA SURAKARTA (The Legitimization of Power of the King of Surakarta in the Bedhaya Ketawang Dance)
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 2, No 3 (2001)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v2i3.859

Abstract

Kehadiran tari Bedhaya Ketawang di Karaton Kasunanan Surakarta mempunyai fungsi utama, yaitu sebagai legitimasi kekuasaan .Raja dianggap absah sebagai pewaris keturunan Kerajaan Mataram Baru yang mempunyai keajegan kekuatan gaib yang terpancar dalam tari Bedhaya Ketawang.Hal ini sangat erat hubungannya dengan cita pikiran tentang kedudukan raja yang dipercaya bersifat dewa dan berkuasa di atas segalanya. Semua hasil karya seni, penciptaannya dikembalikan kepada raja Mitos yang berlaku di Lingkungan masyarakat tradisional Jawa, tari Bedhaya Ketawang yang disakralkan merupakan pelestarian hubungan mistik keturunan Panembahan Senapati sebagai raja Mataram Baru yang pertama dengan penguasa Laut Selatan yaitu Kanjeng Ratu Kencana Sari. Mitos yang tertuang di da/am Babad Tanah Djawi menggambarkan pernyataan takluknya Kanjeng Ratu Kencana Sari beserta bala tentaranya terhadap kekuatan supranatural Panembahan Senopati, dan akan selalu membantu serta dilanjutkan dengan saling menjalin percintaan. Kata Kunci: Bedhaya Ketawang, mistis, legitimasi kekuasaan.

Page 3 of 3 | Total Record : 24


Filter by Year

2001 2001


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue