cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Edukasi
ISSN : 08520240     EISSN : 27464016     DOI : https://doi.org/10.15294/edukasi
Core Subject : Education,
Edukasi [p-ISSN 0852-0240] is a well-known and respected periodical that reaches an international audience of educators and others concerned with cutting-edge theories and proposals. The journal is an invaluable resource for teachers, counselors, supervisors, administrators, curriculum planners, and educational researchers as they consider the structure of tomorrow's curricula. Special issues examine major education issues in depth. Topics of recent themes include methodology, motivation, and literacy.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 2 (2019): November 2019" : 8 Documents clear
KONSEP DIRI DAN PERSEPSI TERHADAP PEKERJAAN DALAM PERAN GENDER BAGI REMAJA SLTP DI KECAMATAN MIJEN KODYA SEMARANG
Edukasi Vol 13, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/edukasi.v13i2.2925

Abstract

Konsep diri merupakan salah satu faktor non intelektual yang sangat penting dalam menentukan kemampuan atau cita-cita. Dalam berbagai pengamatan yang dilakukan, ternyata banyak individu yang mengalami kegagalan dalam mencapai cita-cita bukan disebabkan oleh tingkat intelegensi yang rendah atau keadaan fisik yang lemah, melainkan oleh adanya perasaan tidak mampu untuk melaksanakan tugas. Remaja dalam persiapan memasuki masa dewasa, dihadapkan pada tugas-tugas perkembanfan yang berorientasi pada tugas kehidupan masa dewasa yaitu mencapai kemandirian emosional, memilih dan mempersiapkan karier, mengembangkan kemampuan dalam peran social. Oleh karena itu persepsi terhadap pekerjaan menjadi bagi remaja dalam persiapannya memasuki masa dewasa. Metode penelitian yang digunakan dalam mencapai tujuan pertama kedua dan ketiga dari penelitian ini adalah angket dalam bentuk skala Likert berskala 5. Jumlah responden: 50 remaja perempuan, 50 remaja laki-laki. Lokasi penelitian di kecamatan Mijen Kodya Semarang. Sumber data adalah remaja usia antara 14-17 tahun yang duduk di bangku SLTP. Analisi data menggunakan anaslisi t-test dan prosentase. Simpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah (a) konsep laki-laki tinggi 11%, sedang 34%, rendah 5% dan perempuan tinggi 4% sedang 42% dan rendah 4%. (b) ada perbedaan konsep diri yang dimiliki remaja perempuan dan laki-laki, shingga hal ini akan mewarnai persepsi terhadap pekerjaan yang ada dilingkungan Mijen Kodya Semarang (c) Remaja tersebut mempunyai keinginnan atau persepsi terhadap pekerjaan sebagai berikut untuk remaja laki-laki cenderung [ada (1) TNI Polri (2) arsitek, teknik (3) dokter (4) ahli biologi fisika (5) pegawai negeri (6) guru. Dan bagi remaja perempuan cenderung pada (1) guru (2) dokter (3) bidan (4) arsitek (5) pegawai negeri (6) ahli biologi
METODE REFLECT DALAM COMMUNITY DEVELOPMENT (CD)
Edukasi Vol 13, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/edukasi.v13i2.959

Abstract

Implementasi Metode Reflect (Regenerated Freirean Literacy Though Empowering Comunity Technigues) adalah proses pemberdayaan masyarakat melalui penyadaran (awarenes) serta tindakan (action) untuk melakukan perubahan karena kesadaran individu berperan untuk dapat mengubah sikap dan perilaku.Implementasi Reflect sangat efektif untuk membelajarkan menulis dan membaca. Dampak penggunaan metode Reflect adalah adanya peningkatan kemampuan warga belajar dalam menganalisa dan memecahkan masalah sesuai dengan kemampuan mereka mengemukakan ide-ide dan adanya peningkatan partisipasi.Kata Kunci: metode reflect; community development
MODEL PEMBERDAYAAN PUSAT KEGIATAN BELAJAR MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN PROGRAM PENDIDIKAN KESETARAAN BERBASIS LIFE SKILLS DAN KEWIRAUSAHAAN
Edukasi Vol 13, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/edukasi.v13i2.955

Abstract

Penelitian ini bertujuan memperoleh produk model konseptual pemberdayaan PKBM dalam mengelola program pendidikan kesetaraan berbasis life skills dan kewirausahaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, menggunakan metode   research and development dengan posedur: (1) pengumpulan informasi tentang kharakteristik kualifikasi  PKBM, berbagai potensi material dan nonmaterial sebagai sumber pemberdayaan. (2) menyusun rancangan model pemberdayaan PKBM, (3) mengembangkan bentuk produk awal rancangan model. Subyek penelitian ini adalah pengelola, pendidik dan tenaga kependidikan PKBM yang mengelola program pendidikan kesetaraan berbasis life skills dan kewirausahaan di kota Semarang. Teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Nara sumber adalah pengelola, pendidik, warga belajar pendidikan kesetaraan. Hasil penelitian menunjukkan pendidikan kesetaraan berbasis life skills dan kewirausahaan yang dikelola PKBM belum sesuai harapan sebagaimana tujuan program. Hal ini tidak lepas dari faktor internal sebagai kelemahan pengelolaan PKBM dan tantangan/ancaman dari faktor eksternal. Peluang pengembangan model pemberdayaan PKBM adalah mengelola pendidikan dengan pendekatan sistem. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran melibatkan warga belajar dan stakeholder dengan pendekatan pembelajaran orang dewasa (andragogi) dan 4 pilar pembelajaran (learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together). Proses pembelajaran dimonitoring dan dievaluasi untuk memberi umpan balik tahap perencanaan, sehingga terjadi perbaikan layanan pendidikan secara terus menerus. Kata Kunci: model pemberdayaan; PKBM; life skill; kewirausahaan
MODEL PEMBERDAYAAN PENDIDIKAN NON FORMAL (PNF) DALAM KAJIAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN
Edukasi Vol 13, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/edukasi.v13i2.960

Abstract

Tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan PNF adalah untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut. Lebih lanjut perlu ditelusuri apa yang sesungguhnya dimaknai sebagai suatu masyarakat yang mandiri. Kemandirian masyarakat adalah merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai oleh kemampuan untuk memikirkan, memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan masalah-masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya kemampuan yang terdiri atas kemampuan kognitif, konatif, psikomotorik, afektif, dengan pengerahan sumber daya yang dimiliki oleh lingkungan internal masyarakat tersebut. Menurut Paul Freire dalam Keban Lele pemberdayaan masyarakat berinti pada suatu metodologi yang disebut conscientization yaitu merupakan proses belajar untuk melihat kontradiksi sosial, ekonomi dan politik dalam masyarakat. Paradigma ini mendorong masyarakat untuk mencari cara menciptakan kebebasan dan struktur-struktur yang opresif. Bertolak dari pengertian ini maka sebuah partisipasi masyarakat tidak hanya sebatas pada pelaksanaan suatu program saja melainkan juga menyentuh nilai politik dan nilai ekonomi yang pada nilai politik yang pada giliranya mampu membawa peningkatan ksejahteraan pada masyarakat.Untuk mencapai tujuan tersebut perlu ada kebijakan yang memihak pada kepentingan masyarakat banyak terutama bagi golongan miskin dan kurang beruntung.Kata Kunci: kebijakan pendidikan model pemberdayaan pnf; pemberdayaan masyarakat
RACER STUDY ALUMNI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH FIP UNNES
Edukasi Vol 13, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/edukasi.v13i2.956

Abstract

Tingginya tingkat pengangguran yang dialami oleh para alumni perguruan tinggi menandakan para sarjana masih menjadi problem dan penambah beban berat angkatan kerja. Tujuan penelitian ini adalah: mendeskripsikan secara rinci tentang waktu tunggu alumni dalam memperoleh peluang kerja, kesesuaian antara kompetensi yang dimiliki dengan bidang kerja yang ditekuni saat ini, kendala yang dihadapi alumni, dan harapan alumni terhadap peluang kerja. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Subjek penelitian mencakup sejumlah alumni yang telah bekerja di berbagai lembaga baik pemerintah maupun swasta. Tempat penelitian dilaksanakan di Jawa Tengah meliputi Klaten, Salatiga, Kudus, Grobogan, Semarang, dan Batang. Teknik pengumpulan data menggunakan  wawancara mendalam. Teknik analisis data menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu tunggu alumni dalam mendapatkan peluang kerja bervariasi antara 2 tahun sampai langsung bekerja tanpa adanya waktu tunggu. Kesuaian antara kompetensi dengan bidang kerja sebagian besar alumni telah terjadi kesesuaian antara pekerjaan dengan kompetensi utama. Kendala yang dihadapi para alumni prodi PLS yang selama ini kesulitan dalam memperoleh peluang kerja disebabkan oleh terbatasnya informasi lowongan kerja untuk PLS, masyarakat luas belum mengetahui kompetensi lulusan PLS dan Prodi PLS belum mempunyai kemampuan spesifik. Kata Kunci: tracer studi; alumni; pendidikan luar sekolah
TINJAUAN FILSAFATI (ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI MANAJEMEN PEMBELAJARAN BERBASIS TEORI SIBERNETIK
Edukasi Vol 13, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/edukasi.v13i2.961

Abstract

Teori belajar sibernetik merupakan perkembangan dari teori belajar kognitif, yang menekankan peristiwa belajar sebagai proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung dan terjadinya perubahan kemampuan yang terikat pada situasi tertentu. Hakekat manajemen pembelajaran berdasarkan teori belajar sibernetik adalah usaha guru untuk membantu siswa mencapai tujuan belajarnya secara efektif dengan cara memfungsikan unsur-unsur kognisi siswa, terutama unsur pikiran untuk memahami stimulus dari luar melalui proses pengolahan informasi. Tinjauan aspek ontologi menjelaskan daya ingatan individu terdiri dari struktur informasi yang terorganisasi dan proses penelusuran bergerak secara hirarkhis dari informasi yang paling umum dan inklusif ke informasi yang paling rinci sampai informasi yang diinginkan diperoleh. Tinjauan aspek epistemologi menjelaskan cara belajar sangat ditentukan oleh system informasi. Komponen pemrosesan informasi berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi dan proses terjadinya lupa dijelaskan melalui 3 komponen: Sensory memory atau sensory register ( SM/SR), Short Term Memory (STM), Long Term Memory (LTM). Tinjauan aspek aksiologi dijelaskan pengelolaan pembelajaran menuntut pembelajaran untuk diorganisir dengan baik yang memperhatikan kondisi internal dan eksternal. Sebab memori kerja manusia mempunyai kapasitas yang terbatas. Untuk mengurangi muatan memori kerja, perlu memperhatikan kapabilitas belajar, peristiwa pembelajaran, dan pengorganisasian atau urutan pembelajaran.Kata Kunci: tinjauan filsafati; manajemen pembelajaran; teori sibernetik
PENINGKATAN KETERAMPILAN MELAKUKAN ASESMEN NON-TES MELALUI METODE PENUGASAN
Edukasi Vol 13, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/edukasi.v13i2.957

Abstract

Pada pembelajaran Mata kuliah ”Pemahaman Individu” di jurusan Bimbingan dan Konseling (BK) ada kecenderungan proses belajar baru sampai taraf penguasaan informasi verbal, padahal tujuan mata kuliah ini memberi bekal kepada mahasiswa agar mampu melakukan pengukuran secara benar dan memanfaatkannya untuk kepentingan bimbingan. Tujuan penelitian adalah diperolehnya temuan empiris tentang tindakan yang efektif bagi peningkatan kualitas keterampilan mahasiswa dalam melakukan asesmen non-tes. Hasil penelitian ini menunjukkan agar mahasiswa menerima tugas latihan dengan senang hati dan mahasiswa diberi kesempatan dalam mengambil keputusan guna melatih kemandirian mahasiswa sekaligus mengembangkan kerja sama dengan teman, maka perlu adanya tugas-tugas yang harus diselesaikan perorangan maupun berkelompok. Kata Kunci: ketrampilan asesmen non-tes; metode penugasan
MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN AREA DI TAMAN KANAK-KANAK MELALUI PENGEMBANGAN KEMAMPUAN GURU BERTANYA DIVERGEN ( Studi Pada Taman Kanak-Kanak di Kota Semarang )
Edukasi Vol 13, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/edukasi.v13i2.958

Abstract

Penelitian ini diarahkan untuk mengetahui bagaimanakah kualitas pembelajaran dengan pendekatan area di TK melalui pengembangan kemampuan guru bertanya divergen dan kendala/hambatan yang dihadapi guru ?. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan informasi yang akurat tentang kualitas pembelajaran dengan pendekatan area di TK melalui kemampuan guru bertanya divergen kepada pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan dan mendapatkan informasi mengenai kendala/hambatan yang dihadapi guru maupun sekolah dalam pembelajaran. Manfaat penelitian ini diharapkan dapat menjadikan masukan guna perbaikan metode pembelajaran dengan pendekatan area. Penelitian ini menyimpulkan pertama, pembelajaran dengan pendekatan area melalui kemampuan guru bertanya divergen dapat meningkat kualitas dan efektifitas pembelajaran di TK, yang mana kreatif, ekspresif, bisa cepat bersosialisasi dengan teman satu kelas, produktivitas dan motivasi dalam belajar siswa lebih baik dibanding siswa yang menggunakan pendekatan pembelajaran area tanpa disertai kemampuan guru bertanya divergen. Motivasi, semangat, produktivitas, kedisiplinan, pertumbuhan, kepuasan dan metode guru dalam mengajar juga sangat baik walaupun telah mencukupi untuk keterlaksanaan pembelajaran srana prasarana masih harus ditambah dari segi jumlah. Kedua, yang menjadi hambatan adalah penguasaan tentang pengelolaan, pemanfaatan sarana prasarana dalam mengajukan pertanyaan divergen kepada siswa masih kurang, monitoring dan supervisi rutin juga masih perlu ditingkatkan.Kata Kunci: kualitas pembelajaran; pendekatan area; bertannya devergen

Page 1 of 1 | Total Record : 8