cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
E-Journal Graduate
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Economy,
Jurnal elektronik pada Program Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan media bagi mahasiswa untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian maupun karya pemikiran lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 2 (2014): Part D - Architectur" : 9 Documents clear
Relasi Karakteristik Anak Tunagrahita Dengan Pola Tata Ruang Belajar di Sekolah Luar Biasa Yosiani, Novita
E-Journal Graduate Vol 1, No 2 (2014): Part D - Architectur
Publisher : E-Journal Graduate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.857 KB)

Abstract

Abstrak Pada diri tiap anak ada kemampuan atau potensi yang unik bagi dirinya. Dan hak-hak anak (child right) yang menyatakan bahwa semua anak memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk hidup dan berkembang secara penuh sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Pada anak berkebutuhan khusus adalah yang termasuk anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan perilakunya. Perilaku anak-anak ini yang antara lain terdiri dari wicara dan okupasi, tidak berkembang seperti pada anak yang normal. Pada umumnya anak berkebutuhan khusus ini biasa disebut anak tunagrahita.  Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan mental dan intelektual sehingga berdampak pada perkembangan kognitif dan perilaku adaptifnya, seperti tidak mampu memusatkan pikiran, emosi tidak stabil, suka menyendiri dan pendiam, peka terhadap cahaya, dan lain-lain.Hingga saat ini penanganan anak tunagrahita tidak dipahami secara mendalam oleh orangtua dan lembaga atau sekolah khusus anak tunagrahita. Salah satunya adalah penyediaan sarana dan prasarana ruang belajar sebagai proses belajar-mengajar sekaligus terapi bagi anak tunagrahita yang masih belum sesuai dengan kebutuhan mereka. Ruang belajar ini penting dan perlu diperhatikan demi perkembangan anak tunagrahita. Seberapa jauh pola penataan dan perwujudan fisik interior ruang belajar yang dihadirkan telah memenuhi persyaratan kebutuhan bagi anak tunagrahita pada Sekolah Luar Biasa (SLB). Pola tata ruang dan elemen pembentuk ruang yang cocok bagi ruang belajar agar sesuai dengan kebutuhan anak tunagrahita dan dapat membantu proses pembelajaran dan pemandirian diri secara maksimal. Kata Kunci: anak tunagrahita, ruang belajar, SLB  RELATIONS CHARACTERISTIC OF MENTAL RETARDATION CHILDREN WITH SPATIAL PATTERN OF CLASSROOM IN SPECIAL NEEDS SCHOOL AbstractIn each child there is a unique ability or potential for him. And childrens rights (child rights) which states that all children have the same rights and obligations to live and thrive in full compliance with its potential. A child with special needs is included children experiencing barriers in the development of behavior. The behavior of these children which is comprised of speech and occupational, did not develop as a normal child. In general, children with special needs is commonly referred to child mental retardation. Mental retardation child is a child who experience barriers to mental and intellectual development that have an impact on cognitive development and adaptive behavior, such as not being able to concentrate, mood changes, aloof and reserved, sensitive to light, etc.Until now the handling of child mental retardation is not understood in depth by parents and institutions or special schools for mental retardation child. One is the provision of facilities and infrastructure space learning as well as teaching and learning process of mental retardation therapy for children who are still not fit their needs. Learning space is important and should be noted for the sake of the childs development mental retardation. How far the pattern of arrangement of interior space and the physical embodiment of learning that meets the requirements presented by the need for mental retardation in Special Needs School, called it SLB. The spatial pattern and forming elements such as whether a suitable space for classrooms to fit the needs of children and mental retardation can help the learning process and the independence of self to the fullest .Keywords: mental retardation children, classrooms, Special Needs School, SLB
Penerapan Konsep Kontekstual Paul Rudolph pada Arsitektur Perkantoran Bertingkat Banyak di Indonesia Dulantrinawawi, Krisentia Giodivani
E-Journal Graduate Vol 1, No 2 (2014): Part D - Architectur
Publisher : E-Journal Graduate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.082 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri "konsep kontekstual" Paul Rudolph yang diterapkan pada bangunan Intiland Tower Jakarta dan Intiland Tower Surabaya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut: Pertama, merekam dan menggambar ulang secara tiga dimensi bangunan Intiland Tower Jakarta dan bangunan Intiland Tower Surabaya secara rinci. Hasil penggambaran kasus studi dijabarkan berdasarkan bentuk, struktur, pelingkup dan elemen-elemen bangunan. Kedua, melakukan analisis terhadap kedua kasus studi berdasarkan "konsep kontekstual" Paul Rudolph sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangan kedua bangunan tersebut. Analisis dilakukan berdasarkan interpretasi konsep kontekstual perancangan perkantoran Paul Rudolph dan teori mengenai iklim mikro George Lippsmeier. Berdasarkan hasil analisis disusun pedoman perancangan perkantoran bertingkat banyak yang sesuai dengan konteks alam dan budaya Indonesia. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa perancangan perkantoran bertingkat banyak di Indonesia dapat dilakukan dengan merotasi bentuk bangunan, penggunaan teras dan sirip horisontal, serta penambahan ruang publik agar terjadi kesatuan antara bangunan dengan lingkungan sekitarnya.
KELELUASAAN RUANG PADA UNIT APARTEMEN Harianto, Gabriela
E-Journal Graduate Vol 1, No 2 (2014): Part D - Architectur
Publisher : E-Journal Graduate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1466.153 KB)

Abstract

AbstrakSemakin tinggi tingkat ekonomi seseorang, semakin tinggi pula keinginan yang menjadi kebutuhan. Setelah terpenuhinya kebutuhan dasar hunian dalam unit apartemen sebagai hunian, masyarakat yang memiliki kemampuan lebih akan menuntut ruang yang lebih mengakomodasi “kebutuhan” -nya. Apartemen adalah hunian yang sangat mementingkan efisiensi spasial. Perancangan unit apartemen yang mengakomodasi seluruh aktivitas hunian dan memiliki keleluasaan ruang adalah unit apartemen dengan perancangan yang memenuhi luas ruang gerak minimal per jiwa dan memiliki luas toleransi yang juga memperhitungkan aktivitas dan juga dimensi perabot yang ada di dalamnya. Unit hunian dibuat dengan partisi seminimal mungkin di dalam unit apartemen. Sehingga dapat memanfaatkan ruang semaksimal mungkin. Menghubungkan ruang dalam dan ruang luar sehingga memungkinkan penghuni untuk berinteraksi dengan ruang luar meskipun di dalam unit hunian masing-masing. Penataan perabot yang tepat, sesuai dengan zona dan kebutuhannya. Penciptaan kesan spasial baik secara horisontal maupun vertikal dengan dimensi yang proporsional.Dengan menerapkan pedoman perancangan yang telah dirumuskan, diharapkan keleluasaan pada unit apartemen dapat tercapai.Kata kunci: keleluasaan, ruang, unit apartemen AbstractThe higher someone’s economic level, the higher wants that become needs as well. After fulfill the basic needs of shelter in an apartment unit as residential, people who hasbetterfinancial capabilities will require more space to accommodate their "needs". Apartment is strictly concern about spatial efficiency. Apartmentunit, which designed to accommodate all of residential activities and having a spacious impression,is unit apartment with spacious design that meets the minimum space per capita and has a space of tolerance that also includes the activity and the furniture dimensions in it. Minimizing the interior partition. Then the space can be functionalized as much as possible. Connecting interior and exterior spaces that allow occupants to interact with the outside space though in each unit. Design and order the right furniture that fits to the zone and its needs. Creating spatial impression both horizontally and vertically with good proportion of dimensions.By applying the design guidelines that have been formulated, the expected spaciousness of the apartment units can be achieved.Keywords: spacious, space, apartment unit
KONSEP RUANG DALAM DAN RUANG LUAR ARSITEKTUR TRADISIONAL SUKU ATONI DI KAMPUNG TAMKESI DI PULAU TIMOR lake, reginaldo christophori
E-Journal Graduate Vol 1, No 2 (2014): Part D - Architectur
Publisher : E-Journal Graduate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.749 KB)

Abstract

Abstrak :Penelitian ini berfokus pada konsep ruang arsitektur tradisional. Konsep ini diyakini akandapat melahirkan teori-teori lokal untuk kontribusi pada perancangan yang dapat bertahan dalamkurun waktu yang cukup lama atau dengan kata lain adalah dapat berkelanjutan. Penelitian inimenganalisis hasil karya arsitektur (permukiman) tradisional yang telah berumur lebih dari seratustahun tetapi masih tetap dapat dikatakan permukiman yang mempunyai nilai arsitektur tinggisampai sekarang. Alat baca yang digunakan berlandaskan pada elaborasi paradigma fenomenologi-Schulz dan teori ordering principles-Salura. Tujuan penelitian adalah menghasilkan pemahamanmendalam (verstehen) tentang budaya bermukim di kalangan suku Atoni di kampung adatTamkesi dan menemukan konsep serta relasi ruang dalam dan ruang luar arsitektur permukimantradisional mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi lingkungan sekitar, tapak, bentuk,sosok, dan siklus alam-budaya dipegaruhi oleh konsep hirarki atas-bawah serta adanya pengikat(datum) yang didukung oleh konsep spesifik, yaitu (1) tata suku-tata gender, (2) persaudaraanetnis, (3) ketaatan tradisi, simbol budaya, spiritual, dan (4) konsep menyatu dengan alam. Konseptersebutlah yang membuat arsitektur permukiman adat Tamkesi dapat terus bertahan sampai saatini.Kata Kunci: Permukiman Tradisional Suku Atoni, dan Arsitektur Tradisional Tamkesi Abstract :This research focuses on the concept of the traditional architectural space. The concept isassured to convey local theories for the contribution of an enduring planning which stays for a longperiod in other words; sustainable. This research will analyze the outcome of a hundredth yearstraditional architecture (settlement) which is said comprises a high architecure‟s value even untillnow. The measurement used will be based on the paradigm elaboration of Schulz phenomenologyand Salura Ordering Principles Theory. However the purpose of this research is to create a deepcomprehension (verstehen) about the culture of adaptation in Atony tribe community at TamkesiVillage and to find the concept along with the relation between interior and exterior of theirtraditional settlement architecture. So the result showed that the enviroment relationship, siting,form, figure, and the cycles of nature-culture influenced by the concept of top-down hierarchy andthe presence of a binder (datum) which supported by specific concept: (1) governance-governancetribes of gender, (2) ethnic fraternity, (3) obidience traditions, cultural symbol, spiritual, and (4)the fused-with-nature concept. In short, this concept will makes the custom settlement architectureof Tamkesi Village can continue to survive untill today.Keywords: Traditional Settlement Atoni Tribe, and Traditional Architecture of TamkesiKampong
PENGARUH ORIENTASI BANGUNAN DAN KECEPATAN ANGIN TERHADAP BENTUK DAN DIMENSI FILTER PADA FASAD BANGUNAN RUMAH SUSUN (Studi Kasus : Rumah Susun Marunda, Cilincing, Jakarta) Napitupulu, Sally Septania
E-Journal Graduate Vol 1, No 2 (2014): Part D - Architectur
Publisher : E-Journal Graduate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.754 KB)

Abstract

AbstrakPembangunan rumah susun merupakan respon terhadap kebutuhan rumah bagi daerah-daerah yang memiliki permasalahan kurangnya ketersediaan lahan hunian. Rumah susun menjadi alternatif pilihan untuk penyediaan hunian karena merupakan pilihan yang ideal bagi daerah-daerah yang sedang berkembang. Pada dasarnya pembangunan rumah susun memiliki permasalahan yang sama yaitu mengesampingkan kondisi alam sekitar dan hanya berdasarkan dengan kemudahan perancangan antar lokasinya.Suhu thermal dalam ruang merupakan satu hal yang tidak dapat di anggap sepele untuk memaksimalkan kenyamanan penghuni saat beraktivitas. Dan salah satu faktor yang mempengaruhi kenyaman suhu termal ini adalah besaran kecepatan angin pada lokasi pembangunan rumah susun itu sendiri dan bentuk fasad bangunan tersebut.Dengan adanya permasalahan kenyamanan penghuni pada rumah susun dan dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi, saat ini pada bangunan tinggi telah digunakan pereduksi pengaruh alam terhadap bangunan yang disebut sebagai double layer yang merupakan fasad kedua pada bangunan yang berfungsi sebagai penyaring panas dan kecepatan angin dan juga digunakan sebagai estetika bangunan. Dengan menggunakan double layer fasad, kecepatan angin yang masuk ke dalam ruangan dapat tereduksi hingga 50% sehingga kenyaman di dalam ruangan akan lebih terjaga dibandingkan dengan bangunan tingkat tinggi yang tidak menggunakan double layer fasad.Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan sistem arsitektur dan sistem lingkungan, yang dikhususkan pada bentuk fasad dan kecepatan angin sehingga dapat diketahui efektifitas double layer fasad serta pengaruhnya terhadap penangan besaran kecepatan angin dan besaran suhu ruang pada rumah susun sederhana.Kata Kunci : Double layer, rumah susun, kenyamanan termalAbstractPublic housing development is a response to the housing needs for those areas that have a lack of sufficient housing land availability. Rumah susun to be an alternative option for the provision of shelter as an ideal choice for areas that are being developed. Basically the construction of flats have the same problem, namely the exclusion of the natural conditions around and just based on the design of inter-location with ease.Thermal temperature in the room is the one thing that can not be considered trivial to maximize occupant comfort during activity. And one of the factors that influence the thermal comfort temperature is the magnitude of the wind speed at the location of the apartment building itself and the shape of the building facades.With the problems in the comfort of the occupants of the apartment and with the development of science and technology, currently used in high-rise buildings have a reducing effect on the nature of the building is referred to as a double layer which is second on the facade of the building which serves as a heat filter and wind speed and also used as the aesthetics of the building. By using a double-layer facade, wind speed into the room can be reduced by up to 50% so that the comfort in the room will be more awake than the high-level building that does not use double-layer facade.This research was conducted with the system approach and system architecture environment, which is devoted to the shape of the facade and the wind velocity so as to know the effectiveness of the double-layer facade and its influence on the wind speed and the amount of handling massive room temperature in a simple apartment.Keywords : Double layer, rumah susun, thermal comfort
Citra Gerbang Pada Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin 2, Palembang Christian, Steven
E-Journal Graduate Vol 1, No 2 (2014): Part D - Architectur
Publisher : E-Journal Graduate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.012 KB)

Abstract

AbstrakBandara merupakan sebuah sarana transportasi udara yang menghubungkan antara daerah yang satu dengan yang lain, baik itu antar provinsi maupun antar negara. Oleh karena bandara merupakan sebuah gerbang transportasi yang penting maka bandara perlu menunjukan citranya sebagai gerbang daerah. Gerbang dalam fungsinya dapat terbagi menjadi gerbang kontekstual dan gerbang fungsional. Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin 2 sebagai bandara internasional yang berada di provinsi yang memiliki aspek lokal yang kuat maka pada tulisan ini akan ditelaah lebih dalam bagaimana aspek lokal Palembang membentuk citra gerbang. Metode yang digunakan adalah dengan metode deskriptif eksploratif pada elemen-elemen pembentuk bandara internasional Sultan Mahmud Badaruddin 2 untuk menemukan nilai positif dan negatif dalam pembentukan citra gerbang. Dengan penelitian ini diharapkan ditemukan aspek-aspek yang mempengaruhi citra gerbang pada bandara Sultan Mahmud Badaruddin 2 yang dapat dijadikan masukan desain.Kata kunci: Citra Gerbang, Bandara Internasional Sultan Mahmud   Badaruddin 2,     Palembang,  Aspek Lokal. Abstract Airport is an air transport facility which connecting one region with the other province or even states. Because an airport is a transportation gate, its important to show the image as gate of that region. Gate in function classified as contextual gate and functional gate. Sultan Mahmud Badaruddin 2 international airport is located in a province which have strong local aspect, so in this research will be investigate how local aspect of Palembang can create image as a gate. Descriptive explorative method will be used in elements of Sultan Mahmud Badaruddin 2 International Airport to find positive and negative value in creating gate image. This research is expexted to find all the aspect which effect gate image at Sultan Mahmud Badaruddin 2 Iinternational Airport so that aspect can be use as design suggestion.Keyword: Gate Image, Sultan Mahmud Badaruddin 2 International Airport, Palembang, Local Aspect.
Konservasi Arsitektur Indies Pada Rumah Abu Di Kampung Kapitan 7 Ulu Palembang Artha, Suzzana Winda
E-Journal Graduate Vol 1, No 2 (2014): Part D - Architectur
Publisher : E-Journal Graduate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.265 KB)

Abstract

AbstrakAktivitas konservasi merupakan aktivitas multi displin. Semakin beragam tinjauan bidang keahlian akan menghasilkan solusi yang berimbang. Sebelum arsitek mulai bekerja, nilai sebuah bangunan bersejarah baik yang eksplisit maupun implisit harus dipahami dan diberi urutan prioritas sesuai yang sudah disepakati. Kegiatan konservasi memiliki hubungan dengan arsitektur karena proses konservasi tersebut bertujuan untuk memperpanjang umur dari bangunan arsitektur. Dengan demikian bangunan dapat digunakan baik pada masa sekarang maupun di waktu yang akan datang. Ada banyak praktik untuk menjaga dan memelihara warisan arsitektur yang ada di Indonesia, khususnya di Palembang. Praktik konservasi di banyak warisan bangunan di Palembang dengan digunakan sebagai kantor maupun museum. Hanya saja, praktik konservasi bangunan semacam itu tidak memperhatikan kapasitas, fungsi dan arsitektur asli bangunan itu. Praktik-praktik seperti ini justru mematikan nilai arsitektur bangunan tersebut. Oleh karena itu, dalam hal mengkonservasi bangunan bersejarah harus mencari nilai-nilai penting dan mendasar dari bangunan tersebut. Upaya konservasi bangunan bersejarah harus diarahkan agar sedapat mungkin fungsi bangunan tersebut tidak berubah. Dalam pelaksanaannya pemerintah daerah dan masyarakat setempat wajib ikut mendukung dan melaksanakan konservasi agar warisan bangunan tetap utuh dan juga dapat menjadi objek wisata baik bagi masyarakat lokal maupun internasional.Penelitian ini berusaha menggali nilai-nilai bangunan bersejarah yang mendasar dari sudut pandang konservasi pada bangunan Rumah Abu - tempat menyimpan abu jenazah- di Kampung Kapitan 7 Ulu Palembang.Kata Kunci: arsitektur, konservasi, sejarah, warisan AbstractConservation activities is a multi-disciplinary activity. The more diverse a review areas of expertise will produce a balanced solution. Before architects started work, the value of a historic building either explicitly or implicitly to be understood and given appropriate priority order agreed. Conservation activities have a relationship with architecture because of the conservation process aims to extend the life of the building architecture. Thus the building can be used either in the present or in the future. There are many practices to maintain and preserve the architectural heritage in Indonesia, particularly in Palembang. Conservation practices in many heritage buildings in Palembang used as an office or a museum. Unfortunately, the practice of building conservation does not pay attention to that kind of capacity, functionality and architecture of the original building. Practices like this would turn off the architectural value of the building. Therefore, in terms of the conservation of historic buildings should look for values and the fundamental importance of the building. Historic building conservation efforts should be directed as much as possible in order not to change the function of the building. In practice, governments and local communities should support and implement the conservation of heritage buildings that remain intact and can also become a tourist attraction for both local and international communities.This research tries to explore the values underlying the historic buildings from the viewpoint of conservation on Rumah Abu -home place to store ashes- in Kampung Kapitan 7 Ulu Palembang.Keywords: architecture, conservation, history, heritage
AMBIGUITAS RUANG KAMPUNG PLUIS JAKARTA SELATAN DALAM PERSPEKTIF PRIVAT-PUBLIK Putera, Yoedhistira Andri
E-Journal Graduate Vol 1, No 2 (2014): Part D - Architectur
Publisher : E-Journal Graduate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.023 KB)

Abstract

Kota-kota di Indonesia terbentuk bagaikan mozaik tatanan fisik yang terbangun secara terencana dan yang tumbuh secara organik. Tatanan fisik kampung kota sebagai tatanan yang organik, dihasilkan melalui proses sosial masyarakat yang memiliki ciri kehidupan tradisional pedesaan. Ruang jalan, merupakan representasi dari kehidupan tradisional komunitas kampung kota yang dapat dikenali melalui aktivitasnya. Di sisi lain, praksis perencanaan formal berupaya untuk membuat ruang kampung menjadi lebih rasional dalam perspektif modern. Kondisi ini kerap berdampak pada perubahan tatanan spasial kampung kota yang pada akhirnya mempengaruhi kehidupan sosial masyarakatnya. Studi ini mencoba mengungkap, betapa aktivitas kehidupan tradisional desa yang berlangsung pada ruang jalan, mampu membentuk konsep-konsep ruang yang tidak terdikotomikan antara privat-publik. Konsep ini yang kemudian muncul sebagai ambiguitas ruang. Dengan menggunakan metoda deskriptif, akan diurai bentuk-bentuk tatanan fisik kampung yang tidak terlepas dari kondisi sosial masyarakatnya, dan juga dipengaruhi modernitas kota. Penggalian persepsi terhadap ruang jalan, menjadi kunci dalam menjabarkan konsep ruang.
EVALUASI PERWUJUDAN PLACE ATTACHMENT PADA KAWASAN TEPI AIR BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG Sesunan, Mas Muhammad Hizbullah
E-Journal Graduate Vol 1, No 2 (2014): Part D - Architectur
Publisher : E-Journal Graduate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.667 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berfokus pada faktor-faktor keterikatan tempat/place attachment (hubungan tempat dengan manusia) yang terwujud pada ruang terbuka publik di kawasan tepi air perkotaan, dengan mengambil obyek studi plaza (lapangan) Benteng Kuto Besak di Palembang. Dari penelitian ini diharapkan dapat terbentuk pemahaman tentang perwujudan prinsip-prinsip keterikatan tempat pada ruang terbuka publik, yang dapat menjadi kerangka dasar pengembangan ruang terbuka publik pada kawasan tepi air perkotaan di Indonesia. Ini merupakan  penelitian deskriptif kualitatif, dan beberapa teori rancang kota digunakan untuk mendapatkan kerangka konseptual pembentuk keterikatan tempat seperti place attachment, responsive environments, dan townscape. Dari hasil studi, didapatkan tiga buah dimensi utama terbentuknya sebuah keterikatan tempat yaitu faktor manusia/human factor, gubahan fisik/physical setting dan aktivitas/activities, dengan prinsipnya masing-masing. Kerangka konseptual ini kemudian dipakai sebagai alat untuk mengevaluasi obyek studi. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa mayoritas prinsip-prinsip tersebut telah terwujud di dalam plaza Benteng Kuto Besak, sehingga hasilnya pengunjung kawasan memiliki keterikatan dengan kawasan dan selalu ingin kembali ke kawasan ini, suatu indikasi keberhasilan sebuah ruang terbuka publik. Kata kunci: tempat, keterikatan tempat, makna tempat, kawasan tepi air perkotaan, ruang terbuka publik  ABSTRACTThis reasearch focusing on the manifestation of place attachment (people-place relationship) on public open space at the urban waterfront area, and focusing the research on Kuto Besak fortress in Palembang as an object. The goal of this  research is to get a better understanding of the manifestation of place attachment on public open space, which also can be used as a conceptual framework for developing an urban waterfront in Indonesia. This is a descriptive qualitative research, and some urban design theories were used to conceptualized a framework of place attachment, such as place attachment, responsive environments, and townscape.  From the study, there are three major dimensions that build a place attachment: human factor, physical setting and activities, along with their priciples. This framework, then used to evaluate the research object. As the result, most of these principles have become manifestated at the plaza of Kuto Besak fortress, so as the result, visitors having an attachment to the area and always wanted to visit the area over and over, and this is an indication of a public open space that works. Keywords: place, place attachment, sense of place, urban waterfront, public open space

Page 1 of 1 | Total Record : 9