cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
KURVA S JURNAL MAHASISWA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 152 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2017)" : 152 Documents clear
KAJIAN KAPASITAS DAYA TAMPUNGAN SALURAN DRAINASE JALAN YOS SUDARSO KOTA SANGATTA KABUPATEN KUTAI TIMUR LIS, MUH
KURVA S JURNAL MAHASISWA Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : KURVA S JURNAL MAHASISWA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2235.039 KB)

Abstract

Sebagai daerah yang sedang berkembang, Kabupaten Kutai Timur sedang gencar melakukan program-program pembangunan diberbagai sektor kehidupan. Besarnya akselerasi pembangunan ini berdampak kepada struktur lingkungan di seluruh wilayah Kabupaten Kutai Timur.Kota mengandung 4 hal utama, yaitu tersedianya fasilitas perdagangan bagi penduduk, tersedianya lahan usaha bagi penduduk, terbukanya kemungkinan muncul usaha bagi penduduk, dan adanya kegiatan industri. Keempat hal tersebut merupakan daya tarik kota terhadap wilayah-wilayah disekitar. Sebagai akibat dari daya tarik kota tersebut menyebabkan penduduk disekitar wilayah kota mencoba beraktifitas untuk menenuhi kebutuhan hidupnya di kota. Seperti kota besar lainnya, Kota Sangatta mengalami bertambahnya jumlah penduduk akibat urbanisasi.Hal ini menyebabkan banyak resapan yang berubah fungsinya. Secara tidak langsung daerah resapan air memegang peran penting sebagai pengendali banjir. Salah satu daerah rawan banjir di Kota Sangatta adalah Jalan Yos Sudarso  saat ini berkembang pesat terutama sebagai daerah pemukiman.Hal lain yang melatarbelakangi pentingnya mengangkat topik penelitian yang berjudul “Kajian Kapasitas Daya Tampung Saluran Drainase Jalan Yos Sudarso di Kota Sangatta Kabupaten Kutai Timur”
PERENCANAAN WORKSHOP REPARASI PETI KEMAS DI KOTA SAMARINDA RAMADHANI, RIZKY ARIE
KURVA S JURNAL MAHASISWA Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : KURVA S JURNAL MAHASISWA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.103 KB)

Abstract

Pembangunan Terminal Peti Kemas di Kecamatan Palaran dilatar belakangi karena terbatasnya kapasitas dan fasilitas Pelabuhan Yos Sudarso di Kota Samarinda untuk kegiatan bongkar muat peti kemas yang tidak bisa dikembangkan lagi karena terbatasnya untuk di kembangkan. Sedangkan pertumbuhan cargo di Pelabuhan Samarinda cukup tinggi dan diperlukan pengembangan pelabuhan peti kemas di Kota Samarinda.Semakin banyaknya kegiatan bongkar muat peti kemas di Kota Samarinda, semakin banyak pula kondisi peti kemas yang kondisinya rusak dan tidak terawat.  Banyak kondisi peti kemas yang tidak terawat dan mulai rusak yang dibiarkan begitu saja tanpa ada penanganan khusus dikarenakan kurangnya fasilitas dan pelayanan tentang reparasi peti kemas yang ada di Kota Samarinda.  Tidak hanya kondisi peti kemas yang rusak, adapun kondisi truk dan trailer peti kemas kondisinya buruk dan perlu perbaikan agar kondisinya bisa kembali ke kondisi yang baik dan layak fungsi.Kurangnya jasa reparasi peti kemas dan reparasi kendaraan pengangkutnya yang tidak diimbangi dengan banyaknya jumlah peti kemas, truk peti kemas, dan trailer peti kemas yang kondisinya rusak dan tidak layak pakai. Keberhasilan penanganan peti kemas dipengaruhi oleh jarak waktu dan biaya, sehingga dapat memenuhi tuntutan aman, cepat dan mudah. Untuk mencapai tuntutan tersebut secara optimal diperlukan adanya suatu proses penanganan peti kemas yang baik.Dikarenakan banyaknya jumlah kondisi peti kemas, truk peti kemas, dan trailer peti kemas yang rusak dan tidak layak pakai, maka penulis mencoba mengangkat masalah tersebut menjadi bahan dalam skripsi yang disusun dengan judul “WORKSHOP REPARASI PETI KEMAS DI KOTA SAMARINDA” yang modern serta dapat mengakomodasi semua layanan kenyamanan para pengguna jasa peti kemas yang lebih mengutamakan pelayanan, kualitas, dan fasilitas yang terbaik. 
PERBANDINGAN PERILAKU LENTUR BALOK NORMAL DAN BALOK BETON DENGAN PENAMBAHAN FLY ASH 10 % & 15 % WAHYUDI, INDRA DIAN
KURVA S JURNAL MAHASISWA Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : KURVA S JURNAL MAHASISWA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.896 KB)

Abstract

Normal concrete is concrete that has a weight of 2200 - 2500 kg / m3 using natural aggregates were broken or without broken. Concrete is the construction material that most common in use and in demand because as a basic material that easily formed with the relatively cheap price compared with the other construction.Mineral additive is added into the mix a lot of concrete with different goals, one of which could add to the strength of concrete. For that we need to know there is no research about it. This study used a mineral additive in the form of fly ash. To support the benefits of using alternative materials in the East Kalimantan province in the concrete mixture used material coming from the province of East Kalimantan, coarse aggregate of koral stone from Kaliorang and aggregate from the Mahakam river from the village of Loa Duri.Mix design or composition of the concrete mix using methods (Comparison 1: 2: 3) in the test material using a coarse stone aggregate maximum of 40 mm. Reinforcement concretewith Mahakam sand and cora as much as 6 sample, reinforcement concrete with added material of fly ash 10% as much as 6 sample, and reinforcement concrete with added material of fly ash 15% as much as 6 sample. As well as using the factors of age 14 and 28 days so the total sample of 36. From the test results flexural strength on the beam which uses a mixture and reinforcement at the age of 14 and 28 days above described acquired flexural strength to mix plain Mahakam sand and coral (fc): 19,111 kg / cm², a with added material of fly ash 10% (fc): 20,222 kg / cm², and a with added material of fly ash 15% (fc): 20,889 kg / cm².
ANALYSIS OF RETAINING WALL SOIL RETAINING WALL IN THE DEVELOPMENT OF AGRICULTURAL LAND IN THE CENTER OF CLASS I BALIKPAPAN CITY KARTANEGARA, RIZKY ALAM
KURVA S JURNAL MAHASISWA Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : KURVA S JURNAL MAHASISWA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.59 KB)

Abstract

stability due to disruption of the amount of land on the move it apart from its geometric depends on the severity and also of the shear strength (shear strength). The shear strength is not fixed, and may decline due to rising water levels in the soil itself, in addition to the influence of other disorders. Disruption to the stability of the slope can be caused by nature and by human activity itself. The first thing called natural disasters, which can be caused by earthquakes or heavy rains prolonged, the second is human error, and generally in the form of imposition of excessive (overloading), excavation uncontrollable, drainage is less than perfect, and deforestation. Balikpapan City is one of the areas that have topography wave. On agricultural quarantine hall class I cities Balikpapan particularly in agriculture laboratory balai have a wave in question is a natural state of hills and valleys, this has resulted in some segments of roads must be on the slopes. The presence of natural factors, especially rain and ground water flow that makes it lose ground slope stability or ability to withstand shear, causing landslide, automatically laboratory will be impaired and will also affect the level of service. So that public facilities can function optimally we need to hold the handling of the avalanche is one of them by making the construction of retaining soil so that the soil on these segments do not move or shift. From the results of calculations can be concluded that, the dimensions of retaining wall that is built is 3 meters wide and 2.5 meters, 0.50 meters thick plate with a length of 16 and 26 meters, retaining wall stability is secured against rolling but affect the shear, so that the necessary foundation pile stake to meperkaku wall structure and pile foundation.
STUDI PERBANDINGAN GAYA GEMPA PADA STRUKTUR BANGUNAN DI SAMARINDA BERDASARKAN SNI 03-1726-2002 DAN SNI 03-1726-2012 PURWOKO, ANDRI
KURVA S JURNAL MAHASISWA Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : KURVA S JURNAL MAHASISWA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.146 KB)

Abstract

Peraturan perencanaan struktur gedung tahan gempa di Indonesia mengalamiperkembangan seiring terjadinya gempa besar yang terjadi, dari SNI 1726-2002 direvisi menjadiSNI 1726-2012. Bilamana suatu peraturan gempa terbaru muncul dan diberlakukan, maka haltersebut mengakibatkan perlunya peninjauan ulang bangunan-bangunan yang sudah berdiri untukdikaji ulang menggunakan peraturan terbaru. Masalah yang akan ditinjau adalah besar perbedaangaya gempa yang terjadi antara SNI 1726-2002 dengan SNI 1726-2012, dan bagaimana perilakustruktur bangunan jika dikenakan beban gempa berdasarkan SNI 1726-2002 dengan SNI 1726-2012.Hasil perbandingan dari respon spektrum untuk nilai Sds bahwa desain berdasarkan SNI1726-2012 lebih tinggi disbanding SNI 1726-2012. Hal tersebut berdampak pada hasil darianalisa nilai gaya geser dasar (base shear) berdasarkan SNI 1726-2012.Dari hasil perhitungan dapat disimpulkan bahwa, perbandingan gaya gempa berdasarkanSNI 03-1726-2002 dan SNI 03-1726-2012 mengalami peningkatan dengan nilai rata – rata 18%sampai dengan 20%.
KAJIAN JARINGAN IRIGASI PADA DESA GALEO BARU KECAMATAN BARONG TONGKOK KABUPATEN KUTAI BARAT SUPARDI, GREGORIUS IWAN
KURVA S JURNAL MAHASISWA Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : KURVA S JURNAL MAHASISWA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.266 KB)

Abstract

Dengan semakin pesatnya pertumbuhan  penduduk  akan  membawa  dampak beralih   fungsinya   lahan   pertanian.   Ini   akan   menghambat   pencapaian   program Pemerintah di sektor Ketahanan Pangan. Maka perlu adanya upaya untuk mengantisipasi alih fungsi lahan pertanian dan sekaligus meningkatkan produksi pertanian tanaman pangan dengan cara memperluas lahan irigasi baru (ekstensifikasi) yang masih ada. Maka untuk  itu  daerah-daerah  yang mempunyai  sumberdaya  alam yang  berpotensi  untuk daerah  irigasi  selalu  dievaluasi  dan  dikembangkan  untuk  lahan  pertanian,  guna pencapaian program Pemerintah di sektor Ketahanan Pangan.Pengembangan  lahan  pertanian  secara  terpadu  dan  menyeluruh  dilakukan dengan  perencanaan  detail  desain  daerah  irigasi.  Ketersediaan  air  pertanian,  dalam rangka meningkatkan pendapatan petani dan mendukung pemenuhan pangan nasional, khususnya untuk keperluan konsumsi lokal dan mengimbangi peningkatan jumlah penduduk  di  Kalimantan  Timur  dan  khususnya  Kabupaten  Kutai  Barat,  Pemerintah Daerah Kabupaten  melalui  Dinas  Pekerjaan  Umum,  melaksanakan  berbagai  program antara lain melalui program pemeliharaan/pemanfaatan, rehabilitasi dan pembangunan jaringan    irigasi.    Program    tersebut    selain    diarahkan    untuk mendukung upaya- upaya  pemerintah  dalam  rangka  peningkatan  ketersediaan pangan  dan  peningkatan pendapatan petani untuk mendukung kegiatan pengentasan kemiskinan.Hidrologi merupakan Ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk proses kejadian, distribusi dan  besaran air, serta  interaksi  dan pengaruhnya terhadap kehidupan dan lingkungan. Kaidah umum analisis hidrologi mengacu pada pemahama
EVALUASI SISTEM SALURAN DRAINASE DAERAH JALAN SULAWESI KOTA SANGATTA ANGGARA, DHIMAS SETYA
KURVA S JURNAL MAHASISWA Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : KURVA S JURNAL MAHASISWA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.306 KB)

Abstract

Kabupaten Kutai Timur adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sangatta. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 35.747,50 km² atau 17% dari luas Provinsi Kalimantan Timur dan berpenduduk sebanyak 319.394 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2014) dengan kepadatan 4,74 jiwa/km² dan pertumbuhan penduduk selama 4 tahun terakhir rata-rata 4,08% setiap tahun (Sumber : Badan Pusat Statistik Kutai Timur 2016).Kutai Timur memiliki keadaan topografi yang bervariasi, mulai dari daerah dataran seluas 536.200 ha, lereng bergelombang (1,42 juta ha), hingga pegunungan (1,6 juta ha), tersimpan potensi batu bara 5,35 miliar ton.
ANALISIS KINERJA RUAS TERHADAP PARKIR PADA BADAN JALAN PANGLIMA BATUR DI KOTA SAMARINDA RI, MUK
KURVA S JURNAL MAHASISWA Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : KURVA S JURNAL MAHASISWA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2431.994 KB)

Abstract

Berdasarkan data Pemerintah Kota Samarinda bahwa bangunan di pinggir jalan tidak memiliki lahan parkir dari tahun ke tahun, sehingga penggunaan badan jalan sebagai lahan parkir di kota Samarinda khususnya di Jalan Panglima Batur menyebabkan kemacetan. Hal ini disebabkan masyarakat menggunakan badan jalan sebagai tempat parkir dan pemilik tempat usaha atau kantor tidak memiliki lahan parkir dan menggunakan badan jalan sebagai tempat parkir.Maksud dari penelitian ini adalah mengetahui dan menghitung pengaruh parkir pada badan jalan (on street parking) terhadap kinerja ruas Jalan Panglima Batur di SamarindaAdapun tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat pelayanan pada jam puncak (peak hour) ruas Jalan Panglima baturBerdasarkan analisis kinerja dengan metode MKJI’97 didapat ;Tingkat pelayanan jam puncak (peak hour) ruas jalan adalah :Segmen 1-   Kondisi ruas jalan tanpa ada parkirSebesar v/c rasio = 0,595 < 0,75, maka tingkat pelayanan (LOS) = C, yang berarti Arus stabil, kecepatan dikontrol oleh arus lalu lintas, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan.-   Kondisi ruas jalan ada parkirSebesar v/c rasio = 0,81 > 0,75, maka tingkat pelayanan (LOS) = D, yang berarti Arus stabil, kecepatan dikontrol oleh arus lalu lintas, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan.Segmen 2-  Kondisi ruas jalan tanpa ada parkirSebesar v/c rasio = 0,650 < 0,75, maka tingkat pelayanan (LOS) = C, yang berarti Arus stabil, kecepatan dikontrol oleh arus lalu lintas, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan.-  Kondisi ruas jalan ada parkirSebesar v/c rasio = 0,675 < 0,75, maka tingkat pelayanan (LOS) = C, yang berarti Arus stabil, kecepatan dikontrol oleh arus lalu lintas, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan.Segmen 3-  Kondisi ruas jalan tanpa ada parkirSebesar v/c rasio = 0,675 < 0,75, maka tingkat pelayanan (LOS) = C, yang berarti Arus stabil, kecepatan dikontrol oleh arus lalu lintas, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan.-  Kondisi ruas jalan ada parkirSebesar v/c rasio = 0,636 < 0,75, maka tingkat pelayanan (LOS) = C, yang berarti Arus stabil, kecepatan dikontrol oleh arus lalu lintas, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan.
ANALISIS HARGA SATUAN NORMALISASI SEDIMENTASI TERKAIT FAKTOR PENYEBAB BANJIR PADA BENDUNGAN BENANGA DI LEMPAKE SAMARINDA JIB, NA
KURVA S JURNAL MAHASISWA Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : KURVA S JURNAL MAHASISWA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (36.509 KB)

Abstract

Sedimentasi adalah material hasil proses erosi, baik berupa erosi permukaan, erosi parit, atau jenis erosi tanah lainnya yang mengendap di bagian bawah kaki bukit, di daerah genangan banjir, saluran air, sungai, dan bendungan. Pengertian lain, sedimentasi merupakan suatu proses pengendapan material hasil erosi yang masuk ke aliran sungai sehingga membentuk dataran aluvial. Proses ini tergolong mengganggu aliran sungai, karena dengan adanya pengendapan pada aliran (badan) sungai dapat menyebabkan berkurangnya tampungan volume air yang melewati sungai, sehingga menjadi salah satu penyebab banjir. Bendungan Benanga Lempake dibangun sekitar tahun 1977, saat ini bangunan utama dari bendungan berupa bendung (pelimpah) bebas selebar 15 m, sebuah pintu penguras di sebelah kiri bendung, dan sebuah pintu pengambilan untuk irigasi. Kondisi itu membuat daya tampung air semakin berkurang, sehingga perlu dilakukan normalisasi sedimentasi, sehingga mereduksi 40% penyebab banjir di Samarinda.Metode yang digunakan dalam pengambilan data sedimentasi mengacu hasil perhitungan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kaltim-Kaltara di Bendungan Benanga seluas 159 Ha itu diketahui memiliki volume endapan sedimentasi 1,800,000 m3. Dari hasil perhitungan disimpulkan, 1.800.000 m3 total volume sedimentasi yang diperoleh dari menghitung luas total Bendungan Benanga 159 Ha, kemudian dikonversi ke satuan m2 menjadi 1.590.000 m2. Maka, luas area 1.590.000 m2 dikalikan ketebalan sedimentasi akan dikeruk 1,132 m menjadi 1.799.880 m3 (dibulatkan 1.800.000 m3). Sehingga, diketahui harga galian sedimentasi dengan alat berat watermaster, excavator, ponton, dan tugboat diperoleh harga Rp. 176.370,1 per m3. Sehingga perlu biaya Rp. 317,466,180,000,00 untuk mengeruk 1,800,000 m3 sedimentasi di Bendungan Benanga Lempake, Samarinda.
ANALISA DIMENSI SALURAN DRAINASE JALAN BANGERIS KOTA SAMARINDA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR RANDY, YUSUF
KURVA S JURNAL MAHASISWA Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : KURVA S JURNAL MAHASISWA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.174 KB)

Abstract

Kota Samarinda merupakan daerah perkotaan yang sedang berkembang, sesuai fungsinya sebangai pusat pemerintahan wilayah Kalimantan Timur dan pusat perekonomian daerah, dan juga ibu kota Kalimantan Timur, seiring dengan perkembangan kota,terutama juga perkembangan daerah pemukiman dan perekonomian,seperti kota yang lainnya juga Samarinda mempunyai masalah padatnya pemukiman dan berkembang pesat nya jumlah penduduk, hal ini bersangkutan dengan infrastruktur pembangunan seperti drainase perkotan.Ada beberapa daerah di Samarinda yang merupakan daerah dataran rendah,danterlebih lagi cukup banyak nya daerah rawa dan sungai-sungai kecil di sebagian daerah di Samarinda yang juga tidak sedikit daerah rawa yang telah beralih fungsi menjadi daerah perumahan dan sungai-sungai yang menjadi dangkal karena banyaknya limbah penduduk yang menumpuk di dasaran sungai, bahkan banyak dari hutan yang telah di eksploitasi prusahaan asing beberapa menjadi lokasi pertambangan sehingga berkurang nya daerah yang menjadi tahanan air.Di Samarinda juga ada sungai yang cukup besar yaitu sungai mahakam yang telah membagi Samarinda sendiri menjadi dua yaitu Samarinda kota dan Samrinda seberang, salah satu permasalahan sistim drainase di daerah Samarinda adalah bagaimana membung air yang tertampung di daerah perkotaan ke sungai mahakam karena dataran rendah di daerah perkotaan yang menjadi pusat tertampung nya air sendiri banyak yang jauh dari sungai mahakam yang kemungkinan bisa menampung air yang tertampung di daerah perkotaan sendiri.Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk dan juga prusahaan produksi maka semakin banyak juga pembangunan yang akan di laksanakan di daerah Samarinda maka karna hal itu juga jumlah dan dimensi drainase di daerah Samarinda juga harus sesuai dan bertambah juga dengan menyesuaikan