cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 24, No 3 (2014): September 2014" : 10 Documents clear
Teknik Produksi Umbi Mini Bawang Merah Asal Biji (True Shallot Seed) Dengan Jenis Media Tanam dan Dosis NPK yang Tepat di Dataran Rendah Rosliani, Rini; Hilman, Yusdar; Hidayat, Iteu Margaret; Sulastrini, Ineu
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n3.2014.p238-248

Abstract

Benih merupakan salah satu faktor yang menentukan produktivitas tanaman. Umbi mini asal true shallot seed (TSS) dapat menghasilkan umbi-umbi berukuran besar dengan kualitas yang baik. Tujuan penelitian yaitu mendapatkan teknik produksi umbi mini/ bibit bawang merah asal TSS dengan jenis media tanam dan dosis pupuk NPK yang tepat di dataran rendah. Penelitian dilaksanakan di dataran rendah Subang dari bulan Mei sampai dengan bulan Agustus 2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok faktorial (dua faktor) dengan dua ulangan. Perlakuan terdiri atas jenis media tanam (arang sekam, kompos, arang sekam + tanah (1:1), arang sekam + kompos (1:1), arang sekam + kompos +tanah (1:1:1)), dan aplikasi pupuk NPK (0, 100, 200, dan 300 kg/ha). Hasil percobaan menunjukkan bahwa media arang sekam + kompos + tanah dengan pupuk NPK 0–100 kg/ha merupakan teknik yang paling baik dalam memproduksi umbi mini di dataran rendah Subang dengan produksi umbi mini (bobot segar 4–5 g/umbi) sebanyak 141–158 per m2. Implikasi penelitian adalah umbi mini asal TSS dapat dikembangkan sebagai sumber benih yang lebih sehat dan lebih mudah penanganannya di penyimpanan dan pengangkutan daripada umbi biasa.
Analisis Diversitas dan Paternitas Progeni F1 Hasil Persilangan Arumanis 143 x Mangga Merah Menggunakan Marka Mikrosatelit Panca Jarot Santoso; N. Djamas; Rebin Rebin; Adi Pancoro
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n3.2014.p210-219

Abstract

Preferensi pasar terhadap mangga (Mangifera indica L.) yang bergeser dari buah berkulit hijau ke buah berkulit merah, telah mendorong dilakukannya program pemuliaan untuk merakit varietas yang sesuai. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika telah melaksanakan kegiatan persilangan Arumanis 143 x mangga merah dan telah menghasilkan 63 progeni F1. Penelitian ini bertujuan menganalisis diversitas dan paternitas tetua dan progeni menggunakan marka mikrosatelit. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Genetika Tumbuhan, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung dari bulan Mei 2009 sampai April 2010. Enam pasang primer berlabel 6-FAM dirancang dan disintesis untuk mengamplifikasi daerah mikrosatelit pada genom mangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokus yang digunakan memiliki tingkat informasi yang tinggi dan sesuai untuk studi keragaman mangga. Persilangan tetua berjarak genetik jauh menghasilkan progeni dengan keragaman yang tinggi antarprogeni maupun dengan tetua. Persilangan antara pasangan tetua yang berjarak genetik dekat menghasilkan progeni yang memiliki kedekatan jarak genetik terhadap salah satu tetua.  Persilangan tetua resiprokal menghasilkan progeni yang memiliki jarak genetik berdekatan. Populasi tetua mangga menunjukkan tingkat heterozigositas yang tinggi sehingga secara umum progeni F1 hasil persilangan memiliki keragaman yang tinggi dan berpotensi menghasilkan varietas baru dari penggabungan karakter unggul Arumanis 143 dan mangga merah.
Evaluasi dan Preferensi Petani Brebes Terhadap Atribut Kualitas Varietas Unggul Bawang Merah Hasil Penelitian Balitsa Rofik Sinung Basuki; Nur Khaririyatun; Luthfy Luthfy
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n3.2014.p276-282

Abstract

Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) telah menghasilkan varietas unggul bawang merah seperti Bima Brebes, Mentes, Katumi, Pancasona, Pikatan, Sembrani, dan Trisula. Namun Balai Penelitian Tanaman Sayuran masih belum mengetahui di antara varietas unggul tersebut varietas mana yang paling baik untuk didiseminasikan secara luas di sentra produksi Brebes dan paling potensial diadopsi petani. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui evaluasi dan preferensi petani Brebes terhadap kualitas varietas bawang merah dari Balitsa. Penelitian dilakukan di Desa Randusari, Brebes pada bulan Juli 2012, bersamaan dengan pelaksanaan Jambore Varietas yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Hortikultura. Metode penelitian yang digunakan adalah Farmer Participatory Research (FPR) yang didukung dengan demplot pertanaman. Varietas Balitsa yang ditanam di demplot adalah Bima Brebes, Mentes, Katumi, Pancasona, Pikatan, Sembrani, dan Trisula. Demplot digunakan sebagai petak observasi bagi sembilan petani partisipan, termasuk dua penangkar benih bawang merah. Data demplot yang dikumpulkan adalah data hasil panen ubinan, sedangkan data FPR dikumpulkan dari jawaban tertulis petani partisipan pada kuesioner yang dibagikan peneliti pada saat petanimelakukan observasi di demplot. Kuesioner berisi pertanyaan tertutup  menggunakan skala numerik. Daftar pertanyaan mengenai tingkat kepentingan atribut kualitas yang digunakan untuk mengukur keunggulan varietas bawang merah, dan tingkat keunggulan atribut kualitas dari varietas bawang merah dari Balitsa. Analisis data menggunakan analisis perceived quality (PQ) dan analisis tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari demplot diketahui varietas Sembrani produktivitasnya paling tinggi (16,92 t/ha), diikuti Bima Brebes (16,02 t/ha), dan Pikatan (15,66 t/ha). Menurut persepsi petani varietas Bima Brebes mempunyai kualitas paling baik dibanding varietas lainnya. Secara kualitatif, kualitas varietas Bima Brebes 15% di atas kualitas varietas Mentes, 31% diatas Katumi, 23% diatas Pancasona, 35% diatas Pikatan, 10% diatas Sembrani, dan Trisula. Mayoritas petani (67%) menyukai varietas Bima Brebes. Varietas Katumi, Sembrani, dan Trisula masing-masing hanya disukai 11% petani, sedangkan varietas Mentes, Pancasona, dan Pikatan tidak disukai.
Pengaruh Konsumsi Metil Eugenol dan Protein Hidrolisat Terhadap Kebugaran Lalat Buah Bactrocera carambolae Kiki Yolanda; A. Arifin Rivaie
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n3.2014.p247-257

Abstract

Informasi yang lebih lengkap tentang pemanfaatan zat pemikat metil  eugenol (ME) dan protein hidrolisat (PH) pada Bactrocera carambolae secara bersamaan dibutuhkan untuk mengoptimalkan strategi pengendalian massal di lapangan. Telah dilakukan percobaan yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsumsi kombinasi ME dan PH terhadap kebugaran lalat buah B. carambolae di Laboratorium Entomologi Dasar, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, dari bulan Oktober 2009 sampai Maret 2010. Perlakuan disusun menurut rancangan acak lengkap dengan lima ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ME tidak berpengaruh terhadap fekunditas imago lalat buah. Fekunditas betina lebih ditentukan oleh konsumsi PH. Jumlah larva dan jumlah pupa pada perlakuan betina mengonsumsi PH yang dikawinkan dengan jantan diberi ME lebih rendah dibandingkan pada perlakuan betina yang dikawinkan dengan jantan tidak diberi ME. Tidak ada perbedaan yang nyata antara jumlah imago perlakuan jantan mengonsumsi ME dengan jantan tanpa mengonsumsi ME yang dikawinkan dengan betina  mengonsumsi PH, jumlah imago perlakuan jantan tanpa mengonsumsi ME lebih banyak daripada perlakuan jantan mengonsumsi ME. Nisbah kelamin lalat buah B. carambolae pada perlakuan jantan mengonsumsi ME dan betina mengonsumsi PH adalah 0,47, sedangkan nisbah kelamin padaperlakuan jantan tanpa mengonsumsi ME dan betina mengonsumsi PH adalah 0,49.
Persilangan Cabai Merah Tahan Penyakit Antraknosa (Colletotrichum acutatum) Rinda Kirana; Kusmana Kusmana; Ahsol Hasyim; Rahmat Sutarya
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n3.2014.p189-195

Abstract

Perakitan varietas cabai tahan penyakit antraknosa relatif memerlukan waktu yang lama, tetapi varietas tahan antraknosa tetap penting  diwujudkan sebagai kontribusi bidang pemuliaan tanaman untuk menurunkan tingkat pemakaian pestisida oleh petani, menjaga keseimbangan lingkungan, dan menyediakan produk yang aman bagi konsumen. Penelitian ini bertujuan menyeleksi tetua tahan antraknosa dan mengetahui keberhasilan persilangan antara tetua tahan dengan varietas Balitsa yaitu Kencana dan Tanjung-2 dalam rangka memperluas keragaman genetik ketahanan terhadap antraknosa sebagai bahan dasar untuk program seleksi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikologi dan Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran dari bulan Januari-Juli 2013. Penelitian dibagi menjadi dua tahap, tahap pertama adalah pemilihan tetua di laboratorium mikologi dan tahap kedua adalah  persilangan antara tetua tahan dan tetua rentan di rumah kasa. Penelitian dibagi menjadi dua tahap, tahap pertama ialah pengujian ketahanan enam tetua di laboratorium mikologi yang didisain menggunakan  rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat ulangan. Tahap kedua adalah persilangan antara tetua tahan dan tetua rentan di rumah kasa, tetua betina dan jantan ditanam menggunakan RAL faktorial dengan lima ulangan. Faktor pertama ialah tetua betina yang terdiri atas dua varietas yaitu Kencana dan Tanjung-2, dan faktor kedua adalah tetua jantan yang terdiri atas empat genotip hasil introduksi yaitu AVPP 0207, AVPP 0407, PP 0537–7558, dan Perisai. Berdasarkan hasil pengujian tingkat ketahanan terhadap antraknosa di laboratorium, AVPP 0207 dan Perisai diketahui tahan terhadap antraknosa (Colletotrichum acutatum). Persilangan empat tetua jantan donor tahan antraknosa dengan dua tetua betina varietas Balitsa (Kencana dan Tanjung-2) telah dilaksanakan tanpa adanya barrier. Keberhasilan persilangan dan pembentukan biji sangat dipengaruhi oleh tetua betina dan tidak dipengaruhi oleh tetua jantan. Kisaran keberhasilan persilangan antara 37,16–67,64%, sedangkan benih bernas yang dihasilkan bervariasi antara 269–784 benih per tanaman. Daya berkecambah benih hasil persilangan berkisar antara 68–96%. Persilangan dengan tetua betina Kencana menghasilkan persentase benih baik yang lebih tinggi dengan kualitas benih yang lebih baik dibandingkan dengan persilangan menggunakan Tanjung-2 sebagai tetua betina. Penelitian ini perlu dilanjutkan untuk mengetahui penampilan fenotipik dan status ketahanan terhadap antraknosa generasi F1.
Aplikasi Modifikasi Media Generik Dalam Produksi Bibit Krisan (Dendranthema grandiflora Tzvelev) Berkualitas Melalui Kultur In Vitro Herni Shintiavira; Fitri Rahmawati; Budi Winarto
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n3.2014.p220-229

Abstract

Aplikasi media generik yang lebih murah menggantikan media Murashige dan Skoog (MS) yang mahal dan tetap mampu menghasilkan bibit krisan berkualitas secara masal memiliki pengaruh yang besar terhadap efisiensi produksi benih secara in vitro. Tujuan penelitian adalah mendapatkan media generik yang optimal untuk produksi benih berkualitas pada beberapa varietas krisan secara in vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Kebun Percobaan Balai Penelitian TanamanHias Cipanas pada bulan Januari sampai dengan Desember 2011. Perlakuan varietas dan media disusun menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama varietas krisan yaitu Ratnahapsari, Kusumapatria, Cintamani, Sasikirana, dan Kusumaswasti. Faktor kedua adalah modifikasi media generik yaitu (1) ½ MS + 0,1 mg/l IAA sebagai kontrol, (2) 3 g/l Hyponex (20N:20K:20P) + vitamin MS + 0,1 mg/l IAA, (3) 3 g/l Hyponex (20N:20K:20P) dengan 50% air kelapa, (4) 3 g/l Hyponex (20N:20K:20P) + 0,1 mg/l vitamin B kompleks teknis + 0,1 mg/l IAA, (5) 2 g/l Gandasil D + vitamin MS + 0,1 mg/l IAA, (6) 2 g/l Gandasil D dengan 50% air kelapa, (7) 2 g/l Gandasil D + 0,1 mg/l vitamin B kompleks teknis + 0,1 mg/l IAA, dan (8) ½ MS dengan bahan teknis + 0,1 mg/l vitamin B kompleks teknis + 0,1 mg/l IAA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ratnahapsari merupakan varietas yang paling responsif dalam kultur in vitro dan memiliki tinggi tunas hingga 7,2 cm dengan 7,5 jumlah daun per tunas, 4,0 akar per tunas dan 4,6 cm panjang akar, sementara 3 g/ l Hyponex + 0,1 mg/l vitamin B kompleks teknis + 0,1 mg/l IAA (M63) merupakan media generik yang paling sesuai untuk menggantikan media MS yang menghasilkan planlet dengan tinggi tunas hingga 7,0 cm, 8,8 jumlah daun per tunas, 3,5 akar per tunas, dan 6,9 cm panjang akar dengan efisiensi biaya sebesar 52,38%. Pada tahap aklimatisasi Sasikirana memberikan hasil yang baik dengan tinggi tanaman mencapai 9,2 cm, 10 daun per tanaman, 5,5 akar per tanaman, dan 7,9 cm panjang akar. Media kultur in vitro krisan menggunakan MG3 merupakan media pertumbuhan terbaik ketika diaklimatisasi menggunakan arang sekam dengan tinggi tanaman mencapai 10,2 cm, 10,4 daun per tanaman, 6,8 akar per tanaman, dan 6,1 cm panjang akar. Keberhasilan aklimatisasi planlet krisan pada  kondisi ex vitro berkisar antara 74–99%.
Seleksi Khamir Epifit Sebagai Agens Antagonis Penyakit Antraknosa Pada Cabai Sri Hartati; Suryo Wiyono; Sri Hendrastuti Hidayat; Meity S Sinaga
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n3.2014.p258-265

Abstract

Antraknosa merupakan penyakit penting pada tanaman cabai yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi cukup besar. Khamir merupakan salah satu mikroba yang telah diketahui berpotensi sebagai agens antagonis pada berbagai produk pascapanen. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat-isolat khamir epifit yang berpotensi sebagai agens antagonis penyakit antraknosa pada cabai. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikologi Tumbuhan dan Kebun Percobaan Institut Pertanian Bogor, dari bulan April sampai Desember 2013. Khamir epifit diisolasi dari daun dan buah cabai merah yang diperoleh dari pertanaman cabai di Rancabango dan Panjiwangi (Kabupaten Garut) dan Dramaga (Kabupaten Bogor). Patogen penyebab antraknosa yaitu Colletotrichum acutatum diisolasi dari buah cabai bergejala dari pertanaman cabai di Panjiwangi. Khamir hasil isolasi diuji patogenisitasnya pada benih dan buah cabai. Khamir nonpatogenik diseleksi potensi antagonismenya terhadap  penyebab penyakit antraknosa. Diperoleh 43 isolat khamir epifit, semua isolat bersifat nonpatogenik berdasarkan hasil uji patogenisitas. Seleksi potensi antagonisme isolat khamir epifit menghasilkan 23 isolat yang berpotensi sebagai agens antagonis C. acutatum. Empat belas isolat  khamir epifit menyebabkan penghambatan penyakit antraknosa lebih besar dibandingkan mankozeb.
Perbanyakan Massa Anggrek Dendrobium Gradita 10 Secara In Vitro Melalui Embriogenesis Somatik Fitri Rachmawati; A Purwito; N.M.A. Wiendi; N.A. Mattjik; Budi Winarto
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n3.2014.p196-209

Abstract

Ketersediaan protokol perbanyakan massa anggrek Dendrobium secara in vitro memiliki peranan penting dalam mendukung pengembangan industri benih di dalam negeri. Penelitian ini bertujuan mendapatkan teknologi perbanyakan massa Dendrobium Gradita 10 melalui embriogenesis somatik. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Kaca Anggrek Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung, Pacet, Cianjur, mulai bulan Maret sampai dengan Desember 2012. Penelitiandisusun menggunakan rancangan acak kelompok dengan lima ulangan. Jenis eksplan, media, periode subkultur, dan kepadatan kalus diujicobakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun planlet dan media ½ Murashige & Skoog (MS) + 1 mg/l Thidiazuron (TDZ) + 0,5 mg/l N6-benzyladenine (BA) merupakan jenis eksplan dan media terbaik untuk induksi kalus embriogenik hingga 80% dengan waktu pembentukan kalus tercepat (26,3 hari setelah kultur). Proliferasi kalus embriogenik terbaik terdapat pada media ½ MS + 0,3 mg/l TDZ + 0,1 mg/l α-naphthalene acetic acid (NAA) dengan kepadatan kalus 2–3 g kalus/25 ml medium. Pertumbuhan kalus embriogenik teroptimal terdapat pada periode subkultur yang ke-2. Konversi kalus embriogenik menjadi embrio somatik mencapai 79% pada subkultur ke-3 ditemukan pada media ½ MS + 0,05 mg/l BA. Perkecambahan embrio maksimal dengan 21,7 planlet per gerombol embrio ditemukan pada media ½ MS + 0,05 mg/l BA. Keberhasilan pengembangan teknologi perbanyakan massa anggrek Dendrobium Gradita 10 secara in vitro melalui embriogenesis somatik diharapkan memiliki dampak besar terhadap pengembangan teknologi perbanyakan massa benih untuk jenis Dendrobium yang lain.
Pengaruh Auksin dan Sitokinin Terhadap Pertumbuhan Planlet Anggrek Mokara Dyah Widiastoety
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n3.2014.p230-238

Abstract

Mokara merupakan salah satu jenis anggrek yang disukai konsumen. Pada umumnya budidaya anggrek komersial menggunakan benih berasal dari kultur jaringan. Optimasi media dalam kultur jaringan sangat diperlukan untuk mempercepat penyediaan benih. Salah satu cara untuk mengoptimasi media kultur jaringan yaitu dengan perlakuan zat pengatur tumbuh. Penelitian bertujuan mendapatkan komposisi zat pengatur tumbuh yang tepat dalam mempercepat pertumbuhan planlet. Penelitian dimulai pada bulan Mei sampai dengan November 2013, di Laboratorium Kultur Jaringan Pasar Minggu Jakarta. Bahan penelitian yang digunakan ialah planlet anggrek Mokara ditumbuhkan dalam media Vacin dan Went (VW) yang diberi sitokinin dan auksin. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan enam perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan terdiri atas (1) kontrol, (2) BAP 1ppm + NAA 1 ppm, (3) BAP 1 ppm + NAA 1 ppm + 2.4-D 0,1 ppm, (4) BAP 1 ppm, (5) NAA 1 ppm, dan (6) 2.4-D 0,1 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan media VW + air kelapa 15% + gula pasir 20 g/l + pisang 75 g/l + charcoal 2 g/l + BAP 1 ppm + NAA 1 ppm + 2.4-D 0,1 ppm memberikan hasil terbaik  dibandingkan perlakuan lainnya dan kontrol dalam meningkatkan pertumbuhan tinggi planlet, jumlah daun, panjang daun, dan jumlah akar.
Identifikasi Permasalahan dan Analisis Usahatani Bawang Merah di Dataran Tinggi Pada Musim Hujan di Kabupaten Majalengka Rofik Sinung Basuki
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n3.2014.p266-275

Abstract

Untuk mengurangi impor bawang merah salah satu caranya adalah  dengan meningkatkan produksi bawang merah di dataran tinggi pada musim hujan. Tujuan penelitian adalah untuk melakukan identifikasi permasalahan dan analisis usahatani bawang merah di musim hujan di dataran tinggi khususnya di Kabupaten Majalengka. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei di Desa Cibunut dan Tejaguna, Majalengka pada bulan Oktober–November 2009. Dari tiap desa dipilih 30 petani responden. Pemilihan lokasi dan petani dilakukan secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara individu. Analisis dilakukan menggunakan metode statistik deskriptif dan analisis biaya usahatani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Desa Cibunut umumnya petani menggunakan varietas Maja dan hasilnya dijual untuk benih, sedangkan di Desa Tejaguna petani menggunakan varietas Bali Karet dan hasilnya terutama dijual untuk konsumsi. Permasalahan utama yang dihadapi petani di kedua desa tersebut kurang lebih sama yaitu serangan hama dan penyakit, rendahnya harga bawang merah karena masuknya bawang merah impor, dan kurangnya modal untuk beli pupuk dan pestisida.  Hama utama adalah ulat Spodoptera exigua, dan penyakit utama adalah Alternaria dan Fusarium. Dibandingkan dengan dosis pupuk rekomendasi, dosis pupuk N dan P2O5 yang digunakan petani di kedua desa penelitian terutama di Cibunut, nampaknya berlebihan, sedangkan penggunaan pupuk K2O masih kurang. Sebagian besar petani masih melakukan penyemprotan secara berjadwal menggunakan pestisida campuran. Usahatani bawang merah di musim hujan bagi petani di Desa Cibunut dan Tejaguna merupakan penghasilan utama yang cukup menguntungkan. Keuntungan yang diperoleh petani di Cibunut adalah sekitar 4,2 juta rupiah per hektar dengan R/C ratio 1,10 dan di Tejaguna sekitar 3,1 juta rupiah per hektar dengan R/C ratio 1,07.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue