cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 3 (2015): November 2015" : 8 Documents clear
SISTEM PERTANIAN LAHAN PEKARAGAN MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DAERAH SEMI-ARID: Kasus Kawasan Rumah Pangan Lestari di Provinsi Nusa Tenggara Timur Yohanis Ngongo; Hendrik H Marawali
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 3 (2015): November 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n3.2015.p%p

Abstract

ABSTRACTAgricultural System of Homegardening to Support Food Security in Semi-Arid Region: A Case Study of Sustainable Food Reserved Garden in East Nusa-Tenggara. The model of Sustainable Food Reserved Garden (SFRG) or m-KRPL has been developed in East Nusa Tenggara (ENT) since 2011 as a tool to empowering household in managing homeyard in order to, both improve household’s nutrition and income. This paper aimed to examine: 1) the diversity and specific characteristics of homeyards in ENT; and 2) the contribution of homeyard gardening to the beneficiaries of m-KRPL. Survey was conducted from October to December 2014. Six m-KRPL sites in three districts were chosen purposively based on main islands (Timor, Sumba, Flores) and agro-ecosystems (AEZ) representative (lowland and highland). The data was collected from Farm Record Keeping (FRK) and in-depth interviews using open-ended and semi-structure questionnaire. The data was analysed descriptively and also used farming analysis. The results showed that there are various types of homegarden practices among communities in the different AEZs. Homegarden practices confirm the similar goals for majority of farmers, that the produce plays role as a source of fresh and healthy food, as well as provides medicines, herbs and spices. Commodities planted in homegarden are more for subsistence; however, farmers who have an access to the market are willing to sell the excess production. Farming in homeyard could save household expenditure up-to Rp400,000/month. Existing plant species in the homegarden in Sikka district was higher than that in Sumba and TTS districts.  Nevertheless, for all districts, the horticultural plants was more diverse in highland than those in lowland.  Some identified constraints were water shortage, pest and diseases, free-range livestock, access to external inputs and market. Beside the technical-agronomic aspect, development of homegardening should consider homeyard as a “living space”, existing commodities, diet and market aspects. The implementation of m-KRPL should be extended to reach poor farmers.  Key words: Farming, homegarden, semi-arid area, subsistence.  ABSTRAKModel Kawasan Rumah Pangan Lestari (m-KRPL) telah dikembangkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak tahun 2011 dalam rangka memberdayakan rumah tangga petani dalam mengelola pekarangan baik untuk memperbaiki kebutuhan gizi keluarga maupun untuk meningkatkan pendapatan. Makalah ini bertujuan untuk: 1) mengkaji keanekaragaman dan karakteristik spesifik pekarangan di NTT; dan 2) mengetahui kontribusi usahatani pekarangan terhadap rumah tangga petani peserta m-KRPL. Enam lokasi m-KRPL di tiga Kabupaten dipilih secara sengaja atas dasar keterwakilan pulau besar (Timor, Sumba dan Flores) dan zone-agroecosystem (ZAE dataran tinggi dan rendah). Survey dilaksanakan pada Oktober – Desember 2014. Data diperoleh dari pencatatan usahatani dan survey mendalam berpedoman pada kuesioner. Data dianalisis secara deskriptif dan juga menggunakan analisis usahatani. Hasil studi menunjukkan bahwa praktek pengelolaan pekarangan bervariasi antara berbagai kelompok masyarakat pada berbagai zone-agroecosystem yang berbeda, namun tetap mengkonfirmasi adanya kesamaan tujuan bagi dominan petani yakni sebagai sumber pangan yang sehat dan segar, penyedia obat-obatan herbal dan bumbu dapur. Komoditas yang diusahakan pada lahan pekarangan lebih untuk tujuan subsisten, namun sebagian petani yang mempunyai akses pasar yang baik menjual kelebihan produksi. Usahatani pekarangan dapat menghemat pengeluaran rumah tangga petani perserta program m-KRPL sampai Rp400.000/bulan. Jenis tanaman existing pada lahan pekarangan di Sikka lebih beragam jika dibandingkan dengan di lokasi pengkajian di Sumba Timur dan di TTS.  Untuk semua kabupaten lokasi kajian,  jenis tanaman hortikultura lebih banyak di dataran tinggi daripada di dataran rendah. Beberapa kendala yang dapat diidentifikasi adalah keterbatasan sumber air, hama dan penyakit, gangguan ternak, akses pada input luar dan pasar rendah. Disamping aspek teknis-agronomis, pengembangan usahatani pekarangan perlu memperhatikan pekarangan sebagai ruang hidup, komoditas existing, pola penghidupan, diet dan aspek pasar. Konsep m-KRPL perlu diperluas agar bisa menjangkau petani miskin sumberdaya. Kata kunci: Usahatani, pekarangan, daerah semi-arid, subsisten
FORMULASI TEPUNG KOMPOSIT KELADI DAN UBI JALAR SEBAGAI BAHAN BAKU MI KERING PENGGANTI SEBAGIAN TERIGU Fawzan Sigma Aurum; Dian Adi Anggraeni Elisabeth
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 3 (2015): November 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n3.2015.p%p

Abstract

ABSTRACTFormulation of Taro and Sweet Potato Composite Flours as Partly Substitution of Wheat Flour in Dried Noodle Making. Taro and sweet potatoes may address food diversification to reduce dependency on wheat flour. This research aimed to determine the best proportion of taro (Colocasia esculenta (L.) Schott) and sweet potato (Ipomoea batatas L.) composite flours as partly substitution of wheat flour in dried noodle making based on sensory, physical, and chemical characteristics. The research was conducted in July 2013 in the Postharvest Laboratory of Bali AIAT. In the making of dried noodle, 30% composite flours was replacing wheat flour. Research used Completely Randomized Design (CRD) with 7 treatments of flours proportion and 3 replications per each treatment. Data was analysed using Anova followed by DMRT at 5%. Dried noodle’s characteristics observed included organoleptic properties (color, aroma, flavor, texture, firmness, stickiness), chemical properties (water, ash, protein, fat, carbohydrate) and physical properties (rehydration time, water absorption, solid loss due to cooking). The results showed that composite flours of taro and sweet potato could substitute 30% wheat flour in the making of dried noodle. The best proportion of composite flours for 30% wheat flour substitution consisted of 80% taro flour and 20% sweet potato. The chemical content of the best dried noodle was, respectively, water 7.30%, ash 1.66%, protein 7.10%, fat 0.32%, and carbohydrate 83.64%; with the physical properties as follow: optimum rehydration time at 3 minutes, water absorption at 318.15% and solid loss due to cooking at 4.31%. Keywords: Taro, sweet potato, flour, physical properties, chemical propertiesABSTRAKTepung keladi dan ubi jalar berpotensi untuk mengganti sebagian kebutuhan tepung terigu yang hingga kini masih bergantung pada impor. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan proporsi tepung komposit keladi (Colocasia esculenta (L.) Schott) dan ubi jalar (Ipomoea batatas L.) yang terbaik sebagai pengganti sebagian terigu untuk bahan baku mi kering berdasarkan karakteristik sifat sensoris dan fisiko-kimianya. Penelitian dilakukan pada Juli 2013 di Laboratorium Pascapanen BPTP Bali. Proses pembuatan mi kering, 30% terigu disubtitusi dengan tepung komposit keladi dan ubi jalar. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan formulasi tepung komposit keladi dan ubi jalar dan 3 ulangan. Data dianalisis dengan ANOVA dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5%. Karakterisasi yang diamati meliputi sifat organoleptik (warna, aroma, rasa, tekstur, kekenyalan, kelengketan), sifat kimia (air, abu, protein, lemak, karbohidrat) dan sifat fisika (waktu rehidrasi, daya serap air, kehilangan padatan akibat pemasakan (KPAP). Hasil penelitian menunjukan bahwa tepung komposit keladi dan ubi jalar dapat mensubtitusi 30% terigu dalam pembuatan produk mi kering, dimana proporsi terbaik tepung komposit adalah 80% tepung keladi dan 20% tepung ubi jalar. Mi kering terbaik tersebut memiliki kadar air 7,30%, kadar abu 1,66%, kadar protein 7,10%, kadar lemak 0,32%, dan kadar karbohidrat 83,64%; dengan waktu optimum pemasakan adalah 3,0 menit, DSA 318,15% dan KPAP 4,31%. Kata kunci: Keladi, ubi jalar, tepung, sifat fisika, sifat kimia
RESPON PADI GOGO TERHADAP PUPUK HAYATI DI LAHAN KERING KABUPATEN KONAWE SELATAN, SULAWESI TENGGARA Enung Sri Mulyaningsih; Harmastini Sukiman; Tri Muji Ermayanti; Sylvia Lekatompessy; Sri Indrayani; Abdul Rauf Seri; Eko Binnaryo Mei Adi
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 3 (2015): November 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n3.2015.p%p

Abstract

 ABSTRACT Response of Upland Rice towards Biological Fertilizer on the Dry Land in South Konawe District, South East Sulawesi. As the productivity of upland rice is still low, it requires technology improvement such as high yield variety and biological fertilizer. The purpose of this research was to determine the adaptability of upland rice varieties combined with biological fertilizer application. The experiment was conducted in the dry land of South Konawe District, South East Sulawesi using a factorial randomized block design with four replications of two factors. The first factor was three upland rice varieties namely Inpago LIPI Go1, Inpago LIPI Go2 and local varieties Kolono; the second factor was the combination of inorganic fertilizers and biological fertilizers. The experiment was carried out from December 2013 to March 2014. The results showed that the highest productivity was achieved by Inpago LIPI Go2 (4.5 to 5.2 t/ha) combined with the fertilizer combination as follow; Biofertilizer; Biofertilizer + 25% of recommended inorganic fertilizer; and Biofertilizer + 50% of recommended inorganic fertilizer without loosing the yield.   Keywords: Upland rice, biological fertilizer, Mikoriza, Azospirillum, Konawe Selatan   ABSTRAK Produktivitas padi gogo di lahan kering masih tergolong rendah. Untuk meningkatkan produktivitasnya perlu dilakukan perbaikan teknologi yang mencakup varietas dan pemupukan. Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui daya adaptasi dua varietas baru padi gogo dikombinasikan dengan aplikasi pupuk hayati. Percobaan dilakukan di lahan kering Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara dengan menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dua faktor dengan empat ulangan. Faktor pertama ialah tiga varietas padi gogo yaitu Inpago LIPI Go1, Inpago LIPI Go2 dan varietas lokal Kolono. Faktor ke dua ialah kombinasi pupuk anorganik dan pupuk hayati (PH). Percobaan dilaksanakan pada Desember 2013 sampai dengan Maret 2014.  Hasil percobaan menunjukkan bahwa hasil gabah tinggi (4,5-5,2 t/ha) diperoleh dari varietas Inpago LIPI Go2 dengan pupuk organik dan anorganik, yaitu PH, PH + pupuk NPK 25% dosis anjuran, dan PH + pupuk NPK 50% dosis anjuran. Penggunaan pupuk hayati (BioVam berisi Mikorisa dan Bioplus berisikan beberapa bakteri termasuk Azospirillum dan Asotobakter) dapat mengurangi pupuk anorganik hingga 50% bahkan tanpa pemupukan. Oleh karena itu varietas Inpago LIPI Go2 dapat diterapkan dengan PH dan mampu mengurangi penggunaan pupuk NPK hingga lebih dari 50% dosis anjuran tanpa mengorbankan hasil. Kata kunci: Padi gogo, pupuk hayati, Mikoriza, Azospirillum, Konawe Selatan
PENGGUNAAN TEPUNG PISANG SIBERAS DENGAN TEPUNG UBI JALAR SUBSTITUSI TERIGU PADA PEMBUATAN MI KERING: KASUS DI PROVINSI SUMATERA UTARA N.D.M. Romauli Hutabarat; Henri F. Purba
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 3 (2015): November 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n3.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT        The Use of “Siberas” Banana Flour Combinated with Sweet Potato Flour to Subtitute Wheat on the Processing of Dried Noddles: Case Study in North Sumatra Province. Most of bananas’ local varieties in North Sumatera are still consumed freshly from a table. This provides big opportunities for diversifying the processed product. Likewise, local varieties of sweet potato have not been processed to be various food yet. The aims of this research were: (i) to obtain a best ratio of composite flour of banana Siberas with orange sweet potato flour and wheat flour in dried noodles processing, and (ii) to determine the effect of drying method using sun only and sun combined with oven. This research was conducted at Post Harvest Laboratory of BPTP Medan from March until July 2014. Banana Siberas flour was added at the level of: 10; 20; 30; 40; and 50% combined with orange sweet potato flour and wheat flour at the level of 45; 40; 35; 30; and 25% for each. This research applied two drying methods, sun drying and its combination with oven drying. Based on the organoleptic test, the results showed that dried noodles from 10% of banana Siberas flour, 45% of orange sweet potato flour and 45% of wheat flour have the highest preference value. This composite flour producing dried noodles contains of water 6,62%, protein 3,41%, fiber 5,37% and carbohydrate 84,36%. Profit estimated from dried noodles using composite and wheat flour are Rp117.804,80 and Rp83.036,80 with the R/C of 1,31 and 1,19 respectively. Keywords: Siberas banana flour, orange sweet potatoes flour, dried noodles,drying methodABSTRAK Sebagian besar pisang varietas lokal di Sumatera Utara masih dikonsumsi dalan bentuk segar sebagai buah meja sehingga memberikan peluang besar diversifikasi hasil olahannya. Ubi jalar oranye varietas lokal masih belum banyak dimanfaatkan untuk menjadi produk olahan pangan. Tujuan penelitian: (i) untuk mendapatkan formulasi terbaik pembuatan mi kering menggunakan tepung komposit pisang Siberas dengan tepung ubi jalar oranye dan terigu; dan (ii) untuk mengetahui pengaruh metode pengeringan menggunakan sinar matahari dan kombinasi sinar matahari dengan oven. Pengkajian dilakukan di Medan, pada bulan Maret sampai bulan Juli 2014. Penambahan tepung pisang Siberas dilakukan pada taraf 10; 20; 30; 40; dan 50% yang dikombinasikan dengan tepung ubi jalar oranye dan tepung terigu 45; 40; 35; 30; dan 25%. Pengeringan mi kering dilakukan dengan dua metode yaitu sinar matahari dan  kombinasi antara sinar matahari dan oven. Hasil uji organoleptik menunjukkan mi kering dengan tepung komposit yang terbuat dari 10% tepung pisang Siberas, 45% tepung ubi jalar oranye dan 45% tepung terigu memiliki nilai tingkat kesukaan yang paling tinggi. Mi kering dengan metode pengeringan kombinasi mengandung kadar air 6,62%, protein 3,41%, serat 5,37% dan karbohidrat 84,36%.  Keuntungan yang diperoleh dari pembuatan mi kering dengan tepung komposit sebesar Rp117.804,80 lebih tinggi dibandingkan dengan tepung terigu (Rp83.036,80) dengan R/C berturut-turut 1,31 dan 1,19. Kata kunci: Tepung pisang Siberas, tepung ubi jalar oranye, mi kering, cara pengeringan
PERBAIKAN POLA TANAM PALAWIJA PADA LAHAN KERING DI KABUPATEN PARIGI MOUTONG SULAWESI TENGAH Syafruddin ,; Irwan Suluk Padang; Saidah ,
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 3 (2015): November 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n3.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT Improving Crop Rotation in Dryland at Parigi Moutong, Central Sulawesi. Dryland is a fragile natural resource and becomes a challenge in gaining food self-sufficiency, especially in maize, soybean and peanut. Crop rotation provides opportunities to increase crops and land’s productivity. This research aimed to find out the new varieties which are adaptable to dryland, and to examine the best crop rotation of three main crops as well as the feasibilty of farming system di dryland.  The research had been conducted for two years (2013-2014) in a three hectares area, devided into two experimental stages. In the first year, the experiment was conducted to find out the adaptable varieties. The experimental design for the first experiment was splite plot design putting the crops as the main plot (maize, peanut and soybean). The splite plot consisted of three varieties from each crop, as follow: Tuban, Bison and existing varieties for peanut; Lamuru, Srikandi Kuning, and existing varities for maize; Argomulyo, Grobongan and existing varieties for soybean. In the second year, the experiment was to improve crops rotation, analysed by BC ratio for four different rotations, which were: 1) Maize-peanut; 2) Peanut-soybean; 3) Maize-soybean; 4) Common crops rotation practiced by local farmers using the existing varieties. The results showed that Tuban variety for peanut, Srikandi Kuning variety for maize and Grobongan variety for soybean were more adaptable compared to other varieties.  Crops rotation that produced the highest production and the best income were peanut-maize with B/C 2.04 and 11, respectively, with MBCR 4.95; followed by peanut-peanut with B/C 2.04 and 1.59, respectively,  with MBCR 6.71 and the increase in farmers’ income at about 66.50% and 21.0%  higher compared to existing farming system. Keywords: Dryland, superior variety,crop rottion and incameABSTRAKLahan kering merupakan sumberdaya alam yang tergolong fragil dan menjadi tantangan dalam pengembangannya untuk pencapaian swasembada pangan, khususnya jagung, kedelai dan kacang tanah. Pola tanam merupakan salah satu alternatif dalam meningkatkan produktivitas lahan dan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola tanam yang optimal dan kelayakan usahatani pada lahan kering. Penelitian dilaksanakan selama 2 (dua) tahun yaitu 2013-2014 dengan luasan 3 (tiga) ha. Tahun pertama bertujuan untuk mengetahui tingkat adaptasi varietas unggul baru tiga macam tanaman pangan. Rancangan yang digunakan adalah rancangan petak terpisah dengan 3 (tiga) ulangan. Sebagai petak utama adalah tiga jenis palawija: (jagung, kacang tanah dan kedelai). Anak petak terdiri dari tiga varietas dari masing-masing jenis palawija yaitu: 1) kacang tanah meliputi varietas Tuban, Bison dan eksisting, 2) Jagung: Lamuru, Srikandi Kuning dan eksisiting dan 3). Kedelai: argomulyo, grobongan dan eksiting. Pada tahun ke dua perlakuan yang diuji adalah perbaikan pola tanam terdiri atas: 1) Pola tanam jagung - kacang tanah, 2) Kacang tanah – kacang tanah 3) Pola tanam jagung - kedelai dan 4) Pola tanam petani di analisis menggunakan B/C dan MBCR pada masing-masing pola tanam. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kacang tanah varietas Tuban, jagung varietas Srikandi Kuning dan kedelai varietas Grobongan lebih adaptif pada lahan kering Kabupaten Parigi Moutong.  Pola tanam yang memberikan hasil dan pendapatan terbaik adalah: kacang tanah - jagung dengan nilai B/C 2,04 dan 1,91 dengan MBCR 4,95 disusul pola tanam kacang tanah - kacang tanah dengan B/C 2,04 dan 1,59 dengan MBCR 6,71 dan meningkatkan pendapatan masing-masing sebesar 66,50% dan 21,0% dibandingkan dengan pola petani.   Kata kunci: Lahan kering, varietas unggul, pola tanam, produktivitas dan pendapatan 
PEMANFAATAN FESES SAPI UNTUK BAHAN RANSUM AYAM BURAS Suprio Guntoro; Anak Agung Ngurah Badung Sarmuda Dinata; I Wayan Sudarma
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 3 (2015): November 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n3.2015.p%p

Abstract

 ABSTRACT The Usage of Cattles’ Feces as Inputs for Feeding of Local Chickens. The constraint of business development on free-range chickens is feed price that is reasonably expensive. On the other hand, cattles’ feces are abundantly available and possible to be source of feed. This research aimed to determine the content of fermented cattle feces and the response of feeding it to free-range chickens. The study had been conducted for 6 months using 240 free-range chickens aged 8 months old. The research was designed using completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replications. The treatment are: (i) various composititon according to the formulation of farmers comprising: concentrate manufacturer: 25%, corn 40% and rice bran 35% (P0), and (ii) a diet containing fermented cattle feces at the level of 10% (P1), 15% (P2) and 20% (P3) for each to substitute rice bran. The parameters observed were: egg production (Hen day), egg weight, physical quality of eggs, feed intake, FCR (Feed Conversion Ratio) and mortality. The results showed that a diet containing fermented cow feces up to 15% did not decrease egg production and feed efficiency. Provision of fermented cattle feces at the level of 20% led to a decline in egg production, but did not decline the physical quality of eggs and had no effect on the health and mortality of chickens. It can be concluded that the use of fermented cattles’ feces up to the level of 15% as feed for free-range chickens is economically profitable and safe for the animals. Keywords: Cattle feces, free-range chickens, eggs  ABSTRAK Pengembangan usaha peternakan ayam buras mengalami kendala harga pakan yang relatif mahal. Di sisi lain terdapat feses sapi yang jumlahnya berlimpah dan berpotensi sebagai sumber pakan. Suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui kandungan feses sapi terfermentasi dan respon pemberiannya pada ternak ayam buras petelur. Penelitian dilakukan selama 6 bulan dengan menggunakan 240 ekor ayam buras umur 8 bulan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Adapun perlakuan yang diberikan adalah: (i) ransum sesuai dengan formula petani yang terdiri atas: konsentrat pabrikan 25%, jagung 40% dan dedak padi 35% (P0), dan (ii) ransum yang mengandung feses sapi terfermentasi masing-masing dengan level 10% (P1), 15% (P2) dan 20% (P3) dalam ransum, untuk mensubtitusi dedak padi. Parameter yang diamati meliputi: produksi telur (Hen day), berat telur, kualitas fisik telur, konsumsi pakan, FCR (Feed Convertion Ratio) dan angka mortalitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ransum yang mengandung feses sapi terfermentasi hingga 15% tidak menyebabkan turunnya produksi telur dan efisiensi pakan. Pemberian feses sapi terfermentasi pada level 20% menyebabkan turunnya produksi telur, tetapi tidak menyebabkan turunnya kualitas fisik telur dan tidak berpengaruh pada kesehatan dan mortalitas ayam. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan feses sapi terfermentasi pada ransum ayam buras petelur hingga level 15% secara ekonomis menguntungkan dan aman dari aspek kesehatan ternak. Kata kunci: Feses sapi, ayam buras, telur
PERHITUNGAN LAJU EROSI METODE USLE UNTUK PENGUKURAN NILAI EKONOMI EKOLOGI DI SUB DAS LANGGE, GORONTALO Rahmat Hanif Anasiru
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 3 (2015): November 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n3.2015.p%p

Abstract

ABSTRACTCalculation of Erosion Rate using USLE Method to Measure the Economic Value of Ecology in Sub DAS Langge, Gorontalo. Soil erosion provides ecological and economic consequences, such as erosion at the surface that causes topsoil losses, then leads to decreasing land productivity and increased load of sediment. Erosion and sedimentation in the watershed Bolango is a classic problem, and still a serious threat to the preservation of agricultural land. Meanwhile, the study in 2010 showed that approximately 86% of the watershed Bolango (46,420 ha) have a very heavy Erosion Hazard Rate (over 180 t/ha/year). This erosion hazard level is beyond the erosion limit which is 14 t/ha/year. Based on the condition of land resources in the study area, this research was grouped on the shape and slope region, namely: a) a choppy with a slope of 3-8%, its distribution on land units SL-3; b) undulating with a slope of 8-15%, its distribution on land units SL-5; c) a small hilly with a slope of 15-25%, its distribution on land units SL-6; and d) mountainous with a slope of > 40%, its distribution on land units SL-11. The results showed that erosion rate can be classified into three, namely; 1) The danger of soft erosion with an average erosion produced 6.62  t/ha/year occured in the area of 2,334 ha (SL-1, SL-3, SL-7 and SL-9); 2) The danger of medium erosion with an average erosion rate of 15.56 t/ha/year occured in the area of 2,521 ha (SL-2, SL-4, SL-5, and SL-12); 3) The danger of very severe erosion with an average erosion rate of 404.40 t/ha/year occured in the area of 1,467 ha (SL-6, SL-10 and SL-11). The Total Economic Value of Ecology due to lossing of the organic elements (C, N, P and K) which is synchronized with organic fertilizer, Urea, SP-36 and KCl on land units SL-3, SL-5, SL-6 and SL-11 are, respectively, Rp11,841,431/ha/season; Rp901,172/ha/season; Rp211,259/ha/season and Rp1,278,043/ha/season. Total Economic Value of dryland erosion is Rp14,231,904/ha/season. Keywords: Erosion, sedimentation, economic ecology.ABSTRAK  Erosi lahan mengakibatkan konsekuensi ekologi dan ekonomi yang sangat penting, seperti erosi permukaan (surface erosion) menyebabkan menipisnya lapisan top-soil yang berdampak pada merosotnya produktivitas lahan dan meningkatnya muatan sedimen (sediment loads). Erosi dan sedimentasi yang terjadi di DAS Bolango merupakan masalah klasik, dan hingga saat ini masih menjadi ancaman serius bagi kelestarian lahan pertanian. Hasil kajian pada tahun 2010 menunjukkan bahwa sekitar 86% wilayah DAS Bolango (46.420 ha) memiliki Tingkat Bahaya Erosi (TBE) sangat berat  (di atas 180 t/ha/tahun). Tingkat bahaya erosi ini melampaui batas erosi yaitu 14 t/ha/tahun. Berdasarkan kondisi sumberdaya lahan di lokasi penelitian, maka pembahasan laju erosi sedimentasi dan kehilangan unsur hara dikelompokkan pada bentuk wilayah dan lereng yaitu: a) berombak dengan kemiringan 3-8% distribusinya berada pada satuan lahan SL-3; b) bergelombang dengan kemiringan 8-15% distribusinya berada pada satuan lahan SL-5; c) berbukit kecil dengan kemiringan 15-25% distribusinya berada pada satuan lahan SL-6; dan d) bergunung dengan kemiringan > 40% berada pada satuan lahan SL-11. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat bahaya erosi pada lokasi penelitian dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu; 1) Bahaya erosi ringan dengan rata-rata erosi yang dihasilkan 6,62 t/ha/tahun pada luasan 2.334 ha tersebar pada lahan SL-1,SL-3, SL-7, dan SL-9;  2) Bahaya erosi sedang dengan rata-rata erosi 15,56 t/ha/tahun pada luasan 2.521 ha (SL-2, SL-4, SL-5, dan SL-12); 3)  Bahaya erosi sangat berat dengan rata-rata erosi 404,40 t/ha/tahun pada luasan 1,467 ha (SL-6, SL-10 dan SL-11). Adapun Nilai Ekonomi Ekologi Total erosi akibat kehilangan unsur C organik, N, P dan K yang disetarakan dengan pupuk organik, Urea, SP-36 dan KCl pada satuan lahan pewakil SL-3, SL-5, SL-6 dan SL-11 berturut-turut adalah Rp11.841.431/ha/musim; Rp901.172/ha/musim; Rp211.259/ha/musim dan Rp1.278.043/ha/musim. Nilai Ekonomi Total erosi lahan kering adalah Rp14.231.904/ ha/musim. Kata kunci: Erosi, tanah dan nutrisi tanah, ekonomi ekologi
SOSIAL EKONOMI PEKARANGAN BERBASIS KAWASAN DI PERDESAAN DAN PERKOTAAN TIGA PROVINSI DI INDONESIA Harmi Andrianyta; Maesti Mardiharini
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 3 (2015): November 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n3.2015.p%p

Abstract

 ABSTRACTSocial Economic of Homeyard Based on Rural and Urban Areas in Three Provinces of Indonesia. Homeyard in urban and rural areas is a pivotal source of food, family nutrition and household economics. This study aims to discuss the existence of homeyard in urban and rural areas from the socio-economic perspective. The research was conducted  in three provinces: South Kalimantan, Central Java and South Sumatra during September and October 2012. The research used cluster-based involving 50 respondents that represent people in urban and rural areas. Data were collected through interviews including: the respondents’ characteristics, the choice of plants, the plant arrangement, the type of work and tenure. The data were analyzed using descriptive analysis (cross tabulations), a comparative analysis of median values (t test), χ2 analysis (chi-square) and correlation analysis. The results showed that there are differences in the characteristics of the homeyard management aspects of demographic, social, cultural, economic and natural resources in both areas. It can be concluded that, the existence of the management of the homeyard in urban and rural areas plays a strategic role as a source of household economy, even though in a different management, especially in the diversity of cultivated plants and pattern of arable land. As an implication, homeyards need to be considered as a potential economic and productive resource in agricultural development policy. Keywords: Homeyard, social economic, rural areas, urban areas ABSTRAK          Pekarangan di perkotaan dan perdesaan berpotensi sebagai penyedia sumber bahan pangan, gizi keluarga dan ekonomi rumah tangga. Pengkajian bertujuan untuk membahas eksistensi pekarangan di perkotaan dan perdesaan dalam perspektif sosial ekonomi. Pengkajian dilakukan di Provinsi Kalimantan Selatan, Jawa Tengah dan Sumatera Selatan pada bulan September dan Oktober 2012. Rancangan pengkajian disusun berdasarkan pengelompokkan kawasan perkotaan dan perdesaan melibatkan 50 orang responden mewakili daerah perkotaan dan perdesaan. Data dikumpulkan melalui wawancara meliputi: karakteristik responden, pemilihan jenis tanaman, penataan tanaman, jenis pekerjaan dan penguasaan lahan. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif (tabulasi silang), analisis perbandingan nilai tengah (uji t), analisis χ2 (chi square) dan korelasi. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan karakteristik pengelolaan pekarangan dari aspek demografi, sosial budaya, sumber daya alam dan ekonomi di kedua kawasan. Kesimpulan eksistensi pengelolaan pekarangan di perdesaan dan perkotaan memiliki peran strategis sebagai sumber ekonomi rumah tangga, meskipun dalam pengelolaannya berbeda terutama dalam keragaman jenis tanaman yang diusahakan dan pola penataannya. Sebagai implikasinya, dalam kebijakan pembangunan pertanian keberadaan lahan pekarangan perlu dipertimbangkan sebagai sumberdaya ekonomi produktif yang potensial. Kata kunci: Pekarangan, sosial ekonomi, perdesaan dan perkotaan.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue