cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, dan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal ini terbit pertama kali tahun 1979 dan telah terakreditasi oleh LIPI.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 31, No 3 (2012): September 2012" : 10 Documents clear
TEKNOLOGI PRODUKSI DAN APLIKASI PENGEMAS EDIBLE ANTIMIKROBA BERBASIS PATI Winarti, Christina
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengemasan dengan edible coating/film merupakan salah satuteknik pengawetan pangan yang relatif baru. Penelitian tentangpelapisan produk pangan dengan edible coating/film telah banyakdilakukan dan terbukti dapat memperpanjang masa simpan danmemperbaiki kualitas produk pangan. Materi polimer untuk ediblecoating/film yang paling aman, potensial, dan sudah banyak ditelitiadalah yang berbasis pati-patian. Pati merupakan salah satu jenispolisakarida dari tanaman yang tersedia melimpah di alam, bersifatmudah terurai (biodegradable), mudah diperoleh, dan murah.Penggunaan pengemas edible berbasis pati dengan penambahanbahan antimikroba merupakan alternatif yang baik untuk meningkatkandaya tahan dan kualitas bahan selama penyimpanan.Karakteristik fisik dan mekanis pengemas edible akan berubahdengan penambahan bahan antimikroba. Selain bersifat sebagaiantimikroba, komposit pati dengan bahan yang bersifat hidrofobikseperti kitosan akan memperbaiki karakteristik mekanis edible filmkarena bersifat hidrofobik.
PEMANFAATAN TANAMAN KENTANG TRANSGENIK RB UNTUK PERAKITAN KENTANG TAHAN PENYAKIT HAWAR DAUN (Phytophthora infestans) DI INDONESIA D. Ambarwati, Alberta
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hawar daun yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestansmerupakan salah satu penyakit utama pada tanaman kentang.Kehilangan hasil akibat penyakit tersebut berkisar antara 47−100%.Hingga kini pengendalian penyakit hawar daun dilakukan secaraintensif dengan penyemprotan fungisida dosis tinggi. Hal iniberbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia, selain meningkatkanbiaya produksi. Pemanfaatan varietas tahan merupakanalternatif pengendalian yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.Gen ketahanan (gen RB) yang berasal dari spesies liar kentangdiploid Solanum bulbocastanum memiliki spektrum yang luasterhadap P. infestans. Gen ini telah diintroduksikan ke dalamkentang Katahdin melalui transformasi Agrobacterium. Tanamantransgenik Katahdin RB menunjukkan ketahanan yang lebih tinggiterhadap penyakit hawar daun dibandingkan dengan tanaman nontransgenikpada pengujian di rumah kaca dan di lapangan. Untukmendukung program pemuliaan kentang tahan penyakit hawar daundi Indonesia, tanaman transgenik Katahdin RB dapat digunakansebagai sumber ketahanan. Persilangan antara transgenik Katahdin(event SP904 dan SP951) dengan varietas kentang yang rentanterhadap hawar daun (Atlantic dan Granola) menghasilkan klonklonkentang transgenik yang mengandung gen RB. Melaluievaluasi ketahanan klon-klon tersebut terhadap P. infestans dilapangan uji terbatas (LUT) di Pasir Sarongge, Cianjur, diperolehempat klon tahan pada 77 hari setelah tanam atau 21 hari setelahinfeksi, sementara di LUT Lembang didapatkan tiga klon tahanpada 46 hari setelah tanam atau 20 hari setelah infeksi. Sementaraitu, Atlantic dan Granola memerlukan aplikasi fungisida lebih awal,yaitu pada saat muncul gejala infeksi. Klon-klon kentang tahanpenyakit tersebut diharapkan dapat membantu program pemuliaanuntuk perakitan varietas unggul baru yang produktif dan tahanterhadap penyakit hawar daun.
GEN KETAHANAN TANAMAN PADI TERHADAP BAKTERI HAWAR DAUN (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) 1, Tasliah
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Usaha tani padi dihadapkan pada berbagai kendala yang disebabkanoleh faktor biotik dan abiotik. Salah satunya adalah penyakit hawardaun bakteri (HDB) yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv.oryzae (Xoo). Penyakit ini menyerang tanaman padi sejak fase bibitsampai tanaman dewasa. Eksplorasi bakteri Xoo sudah sampai padatahap sekuensing total dari bakteri tersebut, dan dari sekuensingini telah dikembangkan primer-primer spesifik yang dapat menunjukkanXoo secara tepat. Deteksi bakteri secara cepat sangatmembantu dalam pemurnian awal bakteri Xoo yang diperoleh darilapangan. Pengetahuan tentang mekanisme virulensi bakteri Xoosangat membantu dalam membuat mekanisme pertahanan tanamansehingga rekayasa genetik (tanaman transgenik) di bidang ini sangatterbuka lebar. Gen-gen ketahanan pada padi telah diidentifikasi dantercatat ada 32 gen yang dikenal dengan gen Xa, dan sampai saatini sudah diidentifikasi sampai gen Xa34(t). Eksplorasi gen-gen barumasih terus berlangsung yang membuka peluang untuk memperolehgen ketahanan baru. Di Indonesia, telah dirakit dua varietas paditahan HDB yaitu Angke dan Conde yang masing-masing membawagen xa5 dan Xa7. Sejak tahun 1996 telah teridentifikasi 11 strainbakteri Xoo di sentra-sentra produksi padi di Indonesia, dandisimpulkan bahwa gen-gen ketahanan Xa yang efektif terhadapstrain tersebut adalah xa5, Xa7, dan Xa21. Piramiding ketiga genXa tersebut sangat diperlukan untuk mendapatkan varietas padiyang memiliki ketahanan yang lama (durable resistance) terhadapHDB.
POTENSI PENGEMBANGAN BAWANG MERAH DI LAHAN GAMBUT Purbiati, Titiek
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyebaran lahan gambut di Kalimantan Barat mencapai 4,61 jutaha. Sekitar 40% di antaranya berupa gambut tipis yang sudahmelapuk dan cukup subur sehingga sesuai untuk budi daya tanamansayuran. Petani setempat memanfaatkan lahan tersebut untuk usahatani sayuran, seperti sawi, kangkung, bayam, cabai, dan tomat.Bawang merah belum banyak diusahakan sehingga kebutuhanbawang merah di wilayah tersebut seluruhnya dipenuhi dari provinsilain. Uji multilokasi varietas bawang merah yang dilakukan di lahangambut dan lahan kering Kalimantan Barat memberikan hasil yangmemuaskan. Hasil bawang merah yang ditanam di lahan gambutberkisar antara 11−12 t/ha umbi kering, sedangkan yang diusahakandi lahan kering antara 6−8 t/ha umbi kering. Varietas yang cocokdikembangkan di lahan gambut ialah Sumenep, Moujung, dan BaliKaret, sedangkan yang sesuai untuk lahan kering ialah Sumenepdan Moujung. Varietas tersebut memiliki produktivitas cukup tinggidan tahan terhadap penyakit bercak ungu yang disebabkan olehAlternaria porii. Pengembangan bawang merah melalui introduksivarietas sesuai dengan agroekosistem serta adopsi teknologi budidaya yang tepat diharapkan dapat memenuhi 50% kebutuhanbawang merah di Kalimantan Barat. Upaya ini pada akhirnya akanmeningkatkan pendapatan petani sayuran di lahan gambut.
TINJAUAN KRITIS DAN PERSPEKTIF SISTEM SUBSIDI PUPUK Rachman, Benny
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebijakan sistem distribusi pupuk telah diterapkan cukup komprehensifmulai dari tahapan perencanaan, penentuan harga ecerantertinggi (HET), jumlah subsidi, dan sistem distribusi pupuk kepadapetani. Namun, kebijakan ini belum mampu menjamin ketersediaanpupuk yang memadai di tingkat petani. Perencanaan jumlahpermintaan pupuk cenderung kurang akurat dan pengawasan belumoptimal, sehingga distribusi pupuk bersubsidi belum tepat sasaran.Untuk meningkatkan efektivitas sistem distribusi pupuk, perludilakukan kegiatan maupun tindakan sebagai berikut: 1) sosialisasisecara intensif sistem penyaluran pupuk bersubsidi secara tertutupkepada stakeholder, termasuk aparat pemerintah pusat dan daerah,tokoh masyarakat, dan petani, 2) koordinasi lintas sektor, pusat dandaerah, 3) reposisi kios penyalur pupuk di Lini IV dengan lebihmeningkatkan peran pemerintah daerah dalam pengaturanpenyediaan dan penyaluran pupuk bersubsidi, dan 4) pemberiansanksi pidana yang tegas terhadap pelanggaran dalam penyaluranpupuk bersubsidi.
PEMANFAATAN TANAMAN KENTANG TRANSGENIK RB UNTUK PERAKITAN KENTANG TAHAN PENYAKIT HAWAR DAUN (Phytophthora infestans) DI INDONESIA Alberta D. Ambarwati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v31n3.2012.p%p

Abstract

Hawar daun yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestansmerupakan salah satu penyakit utama pada tanaman kentang.Kehilangan hasil akibat penyakit tersebut berkisar antara 47−100%.Hingga kini pengendalian penyakit hawar daun dilakukan secaraintensif dengan penyemprotan fungisida dosis tinggi. Hal iniberbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia, selain meningkatkanbiaya produksi. Pemanfaatan varietas tahan merupakanalternatif pengendalian yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.Gen ketahanan (gen RB) yang berasal dari spesies liar kentangdiploid Solanum bulbocastanum memiliki spektrum yang luasterhadap P. infestans. Gen ini telah diintroduksikan ke dalamkentang Katahdin melalui transformasi Agrobacterium. Tanamantransgenik Katahdin RB menunjukkan ketahanan yang lebih tinggiterhadap penyakit hawar daun dibandingkan dengan tanaman nontransgenikpada pengujian di rumah kaca dan di lapangan. Untukmendukung program pemuliaan kentang tahan penyakit hawar daundi Indonesia, tanaman transgenik Katahdin RB dapat digunakansebagai sumber ketahanan. Persilangan antara transgenik Katahdin(event SP904 dan SP951) dengan varietas kentang yang rentanterhadap hawar daun (Atlantic dan Granola) menghasilkan klonklonkentang transgenik yang mengandung gen RB. Melaluievaluasi ketahanan klon-klon tersebut terhadap P. infestans dilapangan uji terbatas (LUT) di Pasir Sarongge, Cianjur, diperolehempat klon tahan pada 77 hari setelah tanam atau 21 hari setelahinfeksi, sementara di LUT Lembang didapatkan tiga klon tahanpada 46 hari setelah tanam atau 20 hari setelah infeksi. Sementaraitu, Atlantic dan Granola memerlukan aplikasi fungisida lebih awal,yaitu pada saat muncul gejala infeksi. Klon-klon kentang tahanpenyakit tersebut diharapkan dapat membantu program pemuliaanuntuk perakitan varietas unggul baru yang produktif dan tahanterhadap penyakit hawar daun.
GEN KETAHANAN TANAMAN PADI TERHADAP BAKTERI HAWAR DAUN (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) Tasliah 1
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v31n3.2012.p%p

Abstract

Usaha tani padi dihadapkan pada berbagai kendala yang disebabkanoleh faktor biotik dan abiotik. Salah satunya adalah penyakit hawardaun bakteri (HDB) yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv.oryzae (Xoo). Penyakit ini menyerang tanaman padi sejak fase bibitsampai tanaman dewasa. Eksplorasi bakteri Xoo sudah sampai padatahap sekuensing total dari bakteri tersebut, dan dari sekuensingini telah dikembangkan primer-primer spesifik yang dapat menunjukkanXoo secara tepat. Deteksi bakteri secara cepat sangatmembantu dalam pemurnian awal bakteri Xoo yang diperoleh darilapangan. Pengetahuan tentang mekanisme virulensi bakteri Xoosangat membantu dalam membuat mekanisme pertahanan tanamansehingga rekayasa genetik (tanaman transgenik) di bidang ini sangatterbuka lebar. Gen-gen ketahanan pada padi telah diidentifikasi dantercatat ada 32 gen yang dikenal dengan gen Xa, dan sampai saatini sudah diidentifikasi sampai gen Xa34(t). Eksplorasi gen-gen barumasih terus berlangsung yang membuka peluang untuk memperolehgen ketahanan baru. Di Indonesia, telah dirakit dua varietas paditahan HDB yaitu Angke dan Conde yang masing-masing membawagen xa5 dan Xa7. Sejak tahun 1996 telah teridentifikasi 11 strainbakteri Xoo di sentra-sentra produksi padi di Indonesia, dandisimpulkan bahwa gen-gen ketahanan Xa yang efektif terhadapstrain tersebut adalah xa5, Xa7, dan Xa21. Piramiding ketiga genXa tersebut sangat diperlukan untuk mendapatkan varietas padiyang memiliki ketahanan yang lama (durable resistance) terhadapHDB.
POTENSI PENGEMBANGAN BAWANG MERAH DI LAHAN GAMBUT Titiek Purbiati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v31n3.2012.p%p

Abstract

Penyebaran lahan gambut di Kalimantan Barat mencapai 4,61 jutaha. Sekitar 40% di antaranya berupa gambut tipis yang sudahmelapuk dan cukup subur sehingga sesuai untuk budi daya tanamansayuran. Petani setempat memanfaatkan lahan tersebut untuk usahatani sayuran, seperti sawi, kangkung, bayam, cabai, dan tomat.Bawang merah belum banyak diusahakan sehingga kebutuhanbawang merah di wilayah tersebut seluruhnya dipenuhi dari provinsilain. Uji multilokasi varietas bawang merah yang dilakukan di lahangambut dan lahan kering Kalimantan Barat memberikan hasil yangmemuaskan. Hasil bawang merah yang ditanam di lahan gambutberkisar antara 11−12 t/ha umbi kering, sedangkan yang diusahakandi lahan kering antara 6−8 t/ha umbi kering. Varietas yang cocokdikembangkan di lahan gambut ialah Sumenep, Moujung, dan BaliKaret, sedangkan yang sesuai untuk lahan kering ialah Sumenepdan Moujung. Varietas tersebut memiliki produktivitas cukup tinggidan tahan terhadap penyakit bercak ungu yang disebabkan olehAlternaria porii. Pengembangan bawang merah melalui introduksivarietas sesuai dengan agroekosistem serta adopsi teknologi budidaya yang tepat diharapkan dapat memenuhi 50% kebutuhanbawang merah di Kalimantan Barat. Upaya ini pada akhirnya akanmeningkatkan pendapatan petani sayuran di lahan gambut.
TINJAUAN KRITIS DAN PERSPEKTIF SISTEM SUBSIDI PUPUK Benny Rachman
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v31n3.2012.p%p

Abstract

Kebijakan sistem distribusi pupuk telah diterapkan cukup komprehensifmulai dari tahapan perencanaan, penentuan harga ecerantertinggi (HET), jumlah subsidi, dan sistem distribusi pupuk kepadapetani. Namun, kebijakan ini belum mampu menjamin ketersediaanpupuk yang memadai di tingkat petani. Perencanaan jumlahpermintaan pupuk cenderung kurang akurat dan pengawasan belumoptimal, sehingga distribusi pupuk bersubsidi belum tepat sasaran.Untuk meningkatkan efektivitas sistem distribusi pupuk, perludilakukan kegiatan maupun tindakan sebagai berikut: 1) sosialisasisecara intensif sistem penyaluran pupuk bersubsidi secara tertutupkepada stakeholder, termasuk aparat pemerintah pusat dan daerah,tokoh masyarakat, dan petani, 2) koordinasi lintas sektor, pusat dandaerah, 3) reposisi kios penyalur pupuk di Lini IV dengan lebihmeningkatkan peran pemerintah daerah dalam pengaturanpenyediaan dan penyaluran pupuk bersubsidi, dan 4) pemberiansanksi pidana yang tegas terhadap pelanggaran dalam penyaluranpupuk bersubsidi.
TEKNOLOGI PRODUKSI DAN APLIKASI PENGEMAS EDIBLE ANTIMIKROBA BERBASIS PATI Christina Winarti
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v31n3.2012.p%p

Abstract

Pengemasan dengan edible coating/film merupakan salah satuteknik pengawetan pangan yang relatif baru. Penelitian tentangpelapisan produk pangan dengan edible coating/film telah banyakdilakukan dan terbukti dapat memperpanjang masa simpan danmemperbaiki kualitas produk pangan. Materi polimer untuk ediblecoating/film yang paling aman, potensial, dan sudah banyak ditelitiadalah yang berbasis pati-patian. Pati merupakan salah satu jenispolisakarida dari tanaman yang tersedia melimpah di alam, bersifatmudah terurai (biodegradable), mudah diperoleh, dan murah.Penggunaan pengemas edible berbasis pati dengan penambahanbahan antimikroba merupakan alternatif yang baik untuk meningkatkandaya tahan dan kualitas bahan selama penyimpanan.Karakteristik fisik dan mekanis pengemas edible akan berubahdengan penambahan bahan antimikroba. Selain bersifat sebagaiantimikroba, komposit pati dengan bahan yang bersifat hidrofobikseperti kitosan akan memperbaiki karakteristik mekanis edible filmkarena bersifat hidrofobik.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022 Vol 40, No 2 (2021): December 2021 Vol 40, No 1 (2021): June, 2021 Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020 Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020 Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019 Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 3 (2011): September 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 More Issue