cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, dan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal ini terbit pertama kali tahun 1979 dan telah terakreditasi oleh LIPI.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014" : 5 Documents clear
STRATEGI PENGENDALIAN TERPADU PENYAKIT TUNGRO BERDASARKAN DINAMIKA POPULASI VEKTOR, PATOLOGI, DAN EPIDEMIOLOGI VIRUS I Nyoman Widiarta
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v33n2.2014.p61-68

Abstract

Penyakit tungro pada tanaman padi disebabkan oleh virus yang ditularkan wereng hijau, terutama Nephotettix virescens Distant. Penyakit tungro menyebabkan jumlah anakan tanaman padi berkurang dan persentase gabah hampa meningkat. Tungro ditemukan endemis di sentra produksi padi Indonesia, terutama di Jawa dan Bali. Tulisan ini memaparkan dinamika populasi vektor, patologi, dan epidemiologi virus sebagai dasar dalam menyusun strategi dan taktik pengendalian terpadu penyakit tungro. Berdasarkan informasi tentang stadia kepekaan tanaman terhadap penyakit tungro, epidemiologi virus tungro, dan dinamika populasi N. virescens  sebagai vektor virus, disusun tiga strategi pengendalian terpadu penyakit tungro, yaitu 1) menghindari infeksi (infection escape) dengan mengatur waktu tanam agar pada saat tekanan penyakit tungro tinggi, tanaman padi sudah pada fase generatif, 2) eliminasi peran virus bulat (helper virus elimination) dengan merakit varietas tahan virus bulat, eradikasi inang virus bulat, dan menghambat wereng hijau memperoleh virus dengan antifidan, dan 3) menekan pemencaran imago (reducing dispersal activity) dengan cara budi daya seperti tanam serempak, pengelolaan air, dan penggunaan jamur entomopatogen. Dalam rangka pengendalian penyakit tungro secara komprehensif, disarankan agar menerapkan ketiga strategi tersebut secara simultan dan mengintegrasikan taktik pengendalian secara bertahap sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman.
PEMANFAATAN BUAH KAKAO SEBAGAI BAHAN BAKU BIOINDUSTRI DI INDONESIA Djaafar, Titiek F.; Hatmi, Retno Utami
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v33n2.2014.p69-78

Abstract

Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan dan memiliki peranan cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai komoditas bioindustri untuk meningkatkan nilai tambah dan menyediakan lapangan kerja, sumber pendapatan, dan devisa negara. Sumbangan devisa dari kakao mencapai US$1,05 miliar. Tulisan ini menyajikan ulasan tentang kakao sebagai komoditas bioindustri Indonesia. Semua bagian buah kakao dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pakan, pupuk maupun bahan bakar. Biji kakao dapat diolah menjadi biji kakao fermentasi yang selanjutnya diolah menjadi berbagai produk makanan dan minuman. Pulp buah kakao dapat diolah menjadi nata de cacao, sedangkan kulitnya dapat diolah menjadi pakan, bioetanol/biogas, dan pupuk organik. Biji kakao mengandung senyawa polifenol dari jenis flavanol dan flavonol yang memiliki peran penting bagi kesehatan.
BUDI DAYA PADI SAWAH SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO: TINJAUAN METODOLOGI UNTUK MENDAPATKAN HASIL OPTIMAL Erythrina Erythrina; Zulkifli Zaini
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v33n2.2014.p79-86

Abstract

Di antara teknologi budi daya, kerapatan tanam merupakan salah satu komponen penting dalam manipulasi tanaman untuk mengoptimalkan hasil. Sistem tanam jajar legowo merupakan sistem tanam pindah dengan membuat lorong kosong di antara 2-4 barisan tanaman padi, sedangkan jarak tanam dalam barisan menjadi setengah jarak tanam antarbaris. Sistem tanam jajar legowo bertujuan mengatur populasi tanaman per satuan luas dengan menata tata letak tanaman serta memperluas pengaruh tanaman pinggir dan memudahkan pemeliharaan tanaman. Tulisan ini menguraikan pendekatan metodologi dalam sistem tanam jajar legowo untuk mendapat hasil gabah yang optimal. Pengamatan pertumbuhan dan komponen hasil tanaman pada sistem tanam jajar legowo berbeda dengan sistem tanam tegel (bujur sangkar). Pada sistem tegel, setiap individu atau rumpun tanaman mendapat intensitas cahaya, iklim mikro, air, dan unsur hara yang relatif sama sehingga memungkinkan pengamatan dilakukan berdasarkan contoh untuk individu tanaman. Pada sistem tanam jajar legowo, satu contoh pengamatan haruslah merupakan rata-rata dari dua rumpun tanaman dalam satu garis sejajar pada legowo 2:1 atau rata-rata empat rumpun tanaman dalam satu garis sejajar pada legowo 4:1. Sementara itu, jumlah anakan dan jumlah malai diamati per meter persegi, bukan per rumpun. Pada saat panen, teknik ubinan ukuran 2,5 m x 2,5 m tidak sesuai untuk sistem tanam jajar legowo 2:1 maupun 4:1. Sistem tanam jajar legowo lebih menekankan pada jumlah malai per satuan luas dan akan memperoleh hasil optimal bila jarak tanam lebih dari 20 cm x 20 cm.
EPIDEMIOLOGI DAN STRATEGI PENGENDALIAN PENYAKIT BULAI (Peronosclerospora sp.) PADA TANAMAN JAGUNG Syahrir Pakki
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v33n2.2014.p47-52

Abstract

Penyakit bulai yang disebabkan oleh Peronosclerospora sp. merupakan penyakit utama pada tanaman jagung di Indonesia. Serangan bulai terjadi secara sporadis dalam dimensi ruang maupun waktu. Oleh karena itu, pengendalian penyakit secara terpadu khususnya di daerah endemis bulai dan sentra produksi jagung masih diperlukan. Tulisan ini membahas hasil-hasil penelitian tentang pengendalian penyakit bulai. Di Indonesia ditemukan tiga spesies cendawan penyebab penyakit bulai, yaitu P. maydis, P. philip-pinensis, dan P. sorghi. Spesies yang dominan merusak pertanaman jagung yaitu P. maydis dan P. philippinensis. Spesies P. maydis ditemukan di Jawa dan P. philippinensis menyebar di Sulawesi. Gejala penyakit bulai pada tanaman jagung mulai tampak pada umur 10-14 hari, kemudian meningkat dan mencapai puncaknya pada 4-5 minggu setelah tanam. Setelah tanaman berumur 60 hari, infeksi baru penyakit bulai tidak lagi ditemukan. Pada varietas yang tergolong rentan, makin awal tanaman terinfeksi, makin besar kehilangan hasil yang dapat mencapai 90%. Penggunaan fungisida berbahan aktif metalaksil pada varietas rentan tidak efektif mengendalikan penyakit bulai. Strategi pengendalian penyakit bulai yang efektif ialah melalui pencegahan dengan penggunaan varietas tahan dan fungisida berbahan aktif metalaksil. Menghindarkan tanaman dari infeksi dilakukan dengan pengendalian gulma dan penanaman serempak pada awal musim kemarau.
POTENSI TERNAK KERBAU SEBAGAI PENGHASIL DAGING NASIONAL Rasali Hakim Matondang
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v33n2.2014.p23-60

Abstract

Populasi ternak kerbau di Indonesia mencapai 1.378 juta ekor yang menyebar hampir di seluruh provinsi. Perkembangan populasi kerbau dalam lima tahun terakhir berfluktuasi. Pada tahun 2011 populasinya menurun 34,73% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, namun pada tahun 2009, 2010, dan 2012 populasinya meningkat masing-masing 0,11%, 3,45%, dan 5,60%. Tulisan ini menginformasikan potensi kerbau sebagai salah satu sumber daging. Oleh karena itu, pengelolaannya perlu ditingkatkan dari cara tradisional ke cara yang lebih maju dengan menerapkan teknologi pengolahan pakan melalui penyebaran lumbung pakan kaya energi di lahan penggembalaan tradisional dan penyediaan pejantan unggul. Potensi kerbau sebagai ternak penghasil daging ditunjukkan oleh: 1) bobot badan dewasa yang berkisar antara 300-600 kg/ekor, bergantung pada bangsa kerbau, 2) kenaikan bobot badan yang baik, antara 0,20–0,70 kg/hari, bahkan bisa lebih tinggi, bergantung pada kondisi dan cara pemeliharaan, 3) bobot lahir anak 31 kg untuk jantan dan 24 kg untuk betina, dan 4) persentase karkas cukup tinggi, antara 43–51%. Kendala dalam pengembangan kerbau yaitu penurunan mutu genetik (terjadi inbreeding yang tinggi), pola pemeliharaan tradisional, dan masalah reproduksi. Kerbau termasuk ternak yang lambat dewasa kelamin (umur 3 tahun), periode bunting lama (10,5 bulan), jarak beranak panjang (rata-rata 553 hari), dan memerlukan pakan yang cukup kualitas maupun kuantitasnya untuk mencapai performan reproduksi yang baik.

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022 Vol 40, No 2 (2021): December 2021 Vol 40, No 1 (2021): June, 2021 Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020 Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020 Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019 Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 3 (2011): September 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 More Issue