cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, dan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal ini terbit pertama kali tahun 1979 dan telah terakreditasi oleh LIPI.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020" : 5 Documents clear
SPICES PLANT AS BIOINSECTICIDES FOR CONTROLLING MAIZE WEEVIL SITOPHILUS ZEAMAIS (MOSTCH) Pemanfaatan Tanaman Rempah sebagai Pestisida Nabati untuk Penanggulangan Hama Kumbang Bubuk Jagung Sitophilus zeamais (Mostch) Arrahman, Ayyub; Saenong, Muhammad Sudjak
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n1.2020.p1-10

Abstract

Indonesia has numerous and varied natural resources of spices plant which grow at almost all theregions. These plants can grow and adapt to the slightly diverse agroecological conditions and agroecosystems, from dry to wet. In general, the utilization of these plants by the community is still limited as ingredients and spices for culinary and flavoring instead of the potential of bioactive compounds contained therein. These resourcesare very useful and effective utilized asbioinsecticides to eradicate plant pests and diseases, as well as medicine for human. This paper discussed the benefits and efficacy of several spiceplants, namely lemongrass, shallots, garlic, sweet and chili peppers, clove, sand ginger (kencur), and pepper as herbicides at various levels of dosage and treatments. This manuscript also discussed the constraints and development strategies, and aimed to provide information on the science and technology in controlling the Sitophilus zeamais (Motsch) pests in corn kernels during the storage period. It is expected that this paper would be useful for the policy makers, academicians, researchers and practitioners who have the competence to deal with beetle pest problems.Keywords: Spices, bioinsecticides, Sitophilus zeamais (Motsch), controlling AbstrakTanaman rempah yang tumbuh di hampir seluruh wilayah Indonesia sangat beragam. Tanaman ini beradaptasi pada berbagai agroekologi dan agroekosistem, mulai dari wilayah beriklim kering sampai beriklim basah. Pemanfaatan tanaman ini oleh masyarakat umumnya masih terbatas sebagai bahan rempah dan bumbu kuliner, penyedap masakan dan cita rasa, padahal senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya potensial sebagai pestisida nabati untuk membasmi hama penyakit tanaman dan bahan obat kesehatan manusia. Tulisan ini membahas manfaat dan kemanjuran dari beberapa tanaman rempah, yakni tanaman sereh, bawang merah, bawang putih, lombok merah, cengkeh, kencur, dan lada sebagai pestsisida nabati dalam berbagai dosis dan ragam perlakuan. Kendala dan strategi pengembangan pestisida nabati bagi penggulangan hama kumbang bubuk perlu mendapat perhatian yang tidak saja untuk kepentingan masyarakat luas, namun diperlukan sebagai informasi ilmu dan teknologi penanganan hama secara terpadu.Kata kunci: tanaman rempah, bioinsektisida, hama kumbang bubuk, pengendalian
PEMANFAATAN PIRAMIDA GEN KETAHANAN TERHADAP PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI DALAM MENDUKUNG PERAKITAN VARIETAS UNGGUL PADI Application of Gene Pyramiding For Resistance to Bacterial Leaf Blight to Develop New Rice Variety Fatimah Fatimah; Joko Prasetiyono
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n1.2020.p11-20

Abstract

Bacterial leaf blight (BLB) caused by Xanthomonas oryzae pv oryzae (Xoo) is an important bacterial disease and very destructive to rice plant. BLB decreased rice production from 20%-30% up to 80%. Host-plant resistance is a cost-effective and environmentally safe approach to reduce yield loss. However the development of new rice variety by conventional selection would take several years. The genetic improvement in rice production considered as a vital program in order to ensure national food security. The availability of corresponding molecular marker makes it more precision and efficient by reducing the time required for selection. This present article highlights the molecular approach in breeding for BLB disease resistant rice varieties. In detail, it will be discussed the application of molecular marker assisted backcrossing and pyramiding gene resistance offered breeders to accelerate the rice breeding program for resistance to BLB. The pyramiding of three resistance BLB genes (xa5, Xa7, and Xa21and one gene (Xa4) as a background into two elite indica rice varieties, Ciherang and Inpari 13, was introduced successfully. The combining of conventional breeding, marker assisted backcrossing, disease evaluation, agronomic performance and yield has led the significant resistance of pyramid lines to Xoo Race III, IV and VIII in vegetative and generative phase while their yield potential was maintained (6-7 ton/ha). The current status of Ciherang-HDB and Inpari 13-HDB pyramid lines is the production of nucleoseeds and breeder seeds. This broad spectrum and durable resistance characteristic may help in controlling BLB disease in different region of Indonesia and it will facilitate the rice self-sustainability program.Keywords: Rice, gene pyramiding, plant breeding, molecular marker. AbstrakPenyakit hawar daun bakteri (HDB) yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv oryzae (Xoo) merupakan penyakit penting pada tanaman padi karena dapat menurunkan produksi padi rata-rata 20-30% bahkan dapat mencapai 80%. Penggunaan varietas tahan merupakan cara pengendalian yang paling efektif, ramah lingkungan, dan mudah dilakukan. Namun pengembangan varietas unggul baru melalui seleksi konvensional memerlukan waktu lebih lama. Perbaikan varietas padi perlu terus dikembangkan dalam mendukung ketahanan pangan dan kemandirian pangan nasional. Tersedianya marka molekuler membantu proses pemuliaan tanaman menjadi lebih presisi dan lebih efisien sehingga mengurangi waktu seleksi pada tanaman progeni. Tulisan ini memfokuskan pendekatan molekuler dalam pemuliaan varietas tahan penyakit HDB melalui piramida gen ketahanan untuk mempercepat progam pemuliaan padi tahan penyakit HDB. Kegiatan menggabungkan tiga gen ketahanan (xa5, Xa7, dan Xa21) dan satu gen (Xa4) sebagai background ke dalam padi varietas Ciherang dan Inpari-13 telah berhasil dilakukan. Melalui penggabungan beberapa pendekatan yaitu pemuliaan konvensional dan silang balik berbantu marka, evaluasi penyakit dan keragaan agronomi serta komponen hasil telah menunjukkan peningkatan ketahanan yang nyata pada galur-galur piramida Ciherang HDB dan Inpari-13 HDB pada tiga ras Xoo (Ras III, IV, dan VIII), baik pada fase vegetatif maupun generatif dengan potensi hasil tidak berbeda nyata dengan tetuanya (6-7 t/ha). Saat ini sudah diproduksi benih inti (NS) dan benih penjenis (BS) galur-galur piramida Ciherang HDB dan Inpari-13 HDB. Dengan demikian, galur-galur piramida memiliki spektrum yang luas dan mampu bertahan dalam jangka waktu lama sehingga dapat mengontrol penyakit HDB di berbagai wilayah Indonesia dan mendukung target pemerintah untuk mempertahankan swasembada beras secara berkelanjutan.Kata kunci: Padi, piramida gen, pemuliaan tanaman, marka molekuler. 
TANAH VULKANIK DI LAHAN KERING BERLERENG DAN POTENSINYA UNTUK PERTANIAN DI INDONESIA / Volcanic Soils in Sloping Dry Land and Its Potential for Agriculture in Indonesia Sukarman Sukarman; Ai Dariah; Suratman Suratman
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n1.2020.p21-34

Abstract

Volcanic soil is soil developed from pyroclastic materials released during the volcanic eruption. Althought the soil is fertile, it is mostly occurred in steep sloping highland that is critical to landslide and volcanic eruption. This paper discussed the characteristics and distribution of volcanic soils in sloping dry land, completed with the potential and constraints of their use for agricultural development. This information supports the zonation program of agricultural commodities in Indonesia. Volcanic soils distributed on the islands of Sumatra, Java, Bali, Nusa Tenggara, North Sulawesi and North Maluku. Mostly characterized by black or brownish A horizon and yellowish B horizon, crumb soil structure, crumbly consistency, high organic matter content, and low bulk density. The primary mineral composed by hyperstein, amphibole, augite, andesine, volcanic glass, plagioclase, labradorite, olivine, sanidin, apatite and biotite. The secondary minerals are d allophane, imogolit, ferrihydrite, halloysite, kaolinite and gibsite. Soil reaction vary from very acid to neutral with medium nitrogen content (on average). The potential P is low except in volcanic soils in Java. The P retention is high. The Cation exchange capacity varies from moderate to very high. The morphological, chemical and physical properties are good for supporting plant growth, except for those with high P retention. The land suitability classes are very suitable (S1) to marginally suitable (S3) for highland horticultural crops (vegetables and fruits) and estate crop plantations (tea, arabica coffee, and quinine). The limiting factors are relief/slope/erosion hazard and low soil fertility. These limiting factors can be eliminated by applying good agricultural and conservation practices that balance between land sustainability and productivity aspects.Keywords: Volcanic soils, pyroclastic, characteristics, potential  AbstrakTanah vulkanik terbentuk dari bahan piroklastika hasil erupsi gunung berapi dan sebagian besar berada di dataran tinggi lahan kering berlereng sehingga rawan longsor. Makalah ini membahas karakteristik dan penyebaran tanah vulkanik pada lahan kering berlereng, serta potensi dan kendala pemanfaatannya untuk pengembangan pertanian. Informasi ini dapat digunakan untuk mendukung program pewilayahan komoditas pertanian di Indonesia. Tanah vulkanik menyebar di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Utara, dan Maluku Utara, sebagian mempunyai horison A berwarna hitam atau kecokelatan dan horison B berwarna kekuningan, struktur tanah remah, konsistensi gembur, kandungan bahan organik tinggi, dan berat isi rendah. Mineral primernya terdiri atas hiperstein, amfibol, augit, gelas vulkanik, plagioklas, olivin, sanidin, apatit dan biotit. Mineral sekunder tanah terdiri atas alofan, imogolit, ferihidrit, haloisit, kaolinit dan gibsit. Reaksi tanah bervariasi dari masam sampai netral, kandungan nitrogen tergolong sedang, kandungan P potensial rendah kecuali tanah vulkanik di sekitar kawasan gunung berapi di Jawa yang mengandung P dan retensi P tinggi. Kapasitas tukar kation tanah vulkanik tergolong sedang sampai sangat tinggi. Sifat morfologi, kimia, dan fisik tanah tersebut menunjang pertumbuhan tanaman, kecuali retensi P-nya tinggi. Tingkat kesesuaian lahan sangat sesuai (S1) sampai sesuai marjinal (S3) untuk usaha tani komoditas hortikultura dataran tinggi (sayuran dan buah-buahan) dan tanaman perkebunan (teh, kopi arabika dan kina) dengan faktor pembatas kondisi wilayah berlereng yang berpotensi erosi. Berdasarkan faktor pembatas tersebut maka komoditas dan teknologi yang diterapkan pada tanah vulkanik perlu mengacu pada tingkat kesesuaian lahan dan diikuti oleh usaha konservasi sejak awal agar tanah dapat digunakan untuk pertanian secara berkesinambungan.Kata kunci: Tanah vulkanik, piroklastika, karakteristik, potensi 
POTENSI DAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN KOMODITAS AREN SEBAGAI PRODUK PANGAN DAN NONPANGAN / Potential and Technology Processing of Palm Sugar Commodity As Food and Non-Food Products Rindengan Barlina; Suzanne Liwu; Engelbert Manaroinsong
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n1.2020.p35-47

Abstract

The area of palm sugar plantations in Indonesia is estimated at 61,924 ha, which is spread over 26 provinces. The area of palm sugar plants increased by an average of 2.0% per year with a production growth rate of 1.9% per year. Generally, the main product expected is the neera (which is tapped from spadix). In its development, other parts of the sugar palm plant began to be glimpsed, because it has an impact on increasing the added value of commodities. This paper aims to express the potential of palm sugar as a source of raw materials for processing various products, especially food products. Like just a coconut plant, the sugar palm plant can also be dubbed the tree of life because all parts can be utilized. Neera as the main product, whose production can reach 8-22 liters/tree/day is the raw material for processing sugar. Besides that it can be processed into palm wine and soft drinks. Palm stems (pith parts) can be processed into starch and production can reach 60-70 kg / tree. Sugar palm starch can substitute flour in the processing of biscuits, MP-ASI, noodles and as raw material for edible films. Whereas the fruit can be processed into the kolang kaling and can be further processed into various products. Food product processing technology from palm sugar is available, so it is expected to increase the variety of food products, while improving consumer health and farmers’ incomes.Keywords: Sugar palm, potential, processing, product AbstrakLuas areal tanaman aren di Indonesia diperkirakan 61.924 ha yang tersebar pada 26 propinsi. Areal tanaman aren bertambah rata-rata 2,0% dengan laju pertumbuhan produksi 1,9% per tahun. Produk utama yang diharapkan dari aren adalah nira yang disadap dari mayang. Dalam perkembangannya, bagian-bagian lain dari tanaman aren mulai dilirik, karena juga memiliki nilai tambah. Naskah ini mengemukakan potensi tanaman aren sebagai sumber bahan baku berbagai produk, terutama pangan. Seperti halnya kelapa, tanaman aren juga dapat dijuluki sebagai tanaman serbaguna karena semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan. Nira sebagai produk utama aren memiliki produktivitas antara 8-22 liter/pohon/hari dan merupakan bahan baku gula cetak, gula cair, dan gula semut. Selain itu, nira aren dapat diolah menjadi palm wine dan minuman ringan. Batang aren (bagian empulur) dapat diolah menjadi pati dengan produktivitas 60-70 kg/pohon. Pati aren dapat mensubstitusi tepung terigu dalam pembuatan biskuit, makanan pelengkap air susu ibu, mie, dan bahan baku edible film. Buah aren umumnya diolah menjadi kolang kaling dan dapat diproses lebih lanjut menjadi berbagai produk. Teknologi pengolahan produk pangan dari aren telah tersedia, yang diharapkan dapat menambah keragaman produk pangan, sekaligus meningkatkan kesehatan konsumen dan pendapatan petani.Kata kunci: Aren, potensi, pengolahan, produk
PERKEMBANGAN PEMANFAATAN, REGULASI, DAN METODE DETEKSI PRODUK REKAYASA GENETIKA PERTANIAN DI INDONESIA / Development of Utilization, Regulation, and Detection Methods of Agricultural Genetically Modified Products in Indonesia Bahagiawati Bahagiawati; Toto Hadiarto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n1.2020.p61-71

Abstract

Genetically modified crops (GM crops) have developed very fast globally, although to date controversies over the GM crop uses are still occurring. GM crops have been planted on over 191.7 million hectare area and cultivated in 26 countries in five continents. Biosafety of GM crops both globally and domestically are guaranteed through regulations made at the level of law, government regulations, related ministrial regulation including the guidelines. In general, those regulations have been implemented, thus the biosafety of GM crop utilization is guaranteed in Indonesia. Unfortunately, although Indonesia gave a certification for released permit for drought tolerant sugarcane, it only grown in a limited areas belongs to state-owned agricultural company (PTPN XI). The country has certified 27, 7, and 16 GM events for food, feed, and seeds for environment safety, respectively. The implementation of these regulations needs a monitoring system that is equipped with facilities of GMO detection laboratory with adequate capacity. Indonesia has several such laboratories. The methods of GMO detections have developed from very basic techniques, i.e. qualitative screening to the determination of specific events that define the type of trait of GMO, even quantitative detection, both single and multiplex. Each method has its own advantages. The capacities of GMO detection laboratory in Indonesia still need to be upgraded to master the fast-developing technology. The purpose of this review is to provide information on the development of global GM crops utilization including in Indonesia and the development of regulations and detection methods with their prospects and challenges.Keywords: Genetics, modification, regulation, detection methods AbstrakPemanfaatan tanaman produk rekayasa genetik (PRG) telah berkembang cepat dan mendunia walaupun sampai saat ini masih terjadi kontroversi. Luas penanamannya telah mencapai 191,7 juta ha dan ditanam oleh 26 negara di lima benua. Keamanan hayati PRG secara global maupun domestik telah dijamin oleh peraturan pada tingkat undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan kementerian terkait, dan pedoman pelaksanaannya. Secara umum peraturan peraturan tersebut telah dijalankan sehingga keamanan hayati dari pemanfaatan PRG terjamin di Indonesia. Sayangnya di Indonesia PRG yang sudah diberi izin edar hanya ditanam secara terbatas seperti tebu toleran kekeringan di beberapa kebun milik PTPN. Indonesia juga telah memberikan sertifikat aman hayati pada beberapa varietas PRG diantaranya 27 PRG pangan, tujuh PRG pakan, dan 16 PRG benih (lingkungan). Implementasi peraturan yang telah ada memerlukan sistem pengawasan yang dilengkapi dengan fasilitas laboratorium deteksi PRG dengan kapasitas yang memadai. Indonesia telah mempunyai beberapa laboratorium tersebut. Metode deteksi PRG telah berkembang dari teknik yang sangat mendasar yaitu deteksi untuk skrining kualitatif PRG sampai teknik penentuan spesifik event yang menetapkan jenis/sifat PRG, bahkan teknik deteksi secara kuantitatif yang bersifat tunggal maupun multiplex. Metode-metode deteksi tersebut memiliki keunggulan masing-masing. Laboratorium penguji PRG di Indonesia masih perlu ditingkatkan kemampuannya dengan penguasaan teknologi yang berkembang dengan pesat. Makalah ini memberikan informasi perkembangan pemanfaatan PRG global termasuk di Indonesia dan perkembangan regulasi dan metode deteksi serta prospek dan tantangan.Kata kunci: Genetika, rekayasa, regulasi, metode deteksi

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2020 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022 Vol 40, No 2 (2021): December 2021 Vol 40, No 1 (2021): June, 2021 Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020 Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020 Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019 Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 3 (2011): September 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 More Issue