cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 19070799     EISSN : 27227731     DOI : -
diterbitkan oleh Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Jurnal Sumberdaya lahan terbit 2 kali setahun memuat suatu tinjauan terhadap hasil-hasil penelitian atau terhadap suatu topik yang berkaitan dengan aspek tanah, air, iklim, dan lingkungan pertanian
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2017)" : 6 Documents clear
Peluang dan Tantangan Implementasi Model Pertanian Konservasi di Lahan Kering Achmad Rachman
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v11n2.2017.77-90

Abstract

Abstrak. Pertanian konservasi adalah salah satu alternatif model pada praktek pertanian di lahan kering yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktivitas tanaman, efisiensi usahatani, dan kualitas lingkungan melalui perbaikan kualitas tanah. Tulisan ini membahas prospek penerapan pertanian konservasi untuk meningkatkan kualitas tanah dan produktivitas lahan kering. Model pertanian konservasi lebih menekankan pada perbaikan kandungan bahan organik tanah melalui kombinasi 3 pendekatan yaitu olah tanah minimum, pemulsaan, dan pengaturan pola tanam. Introduksi model pertanian konservasi di negara-negara berkembang seperti Indonesia, yang umumnya lahan pertaniannya berskala sempit (<1 ha) dihadapkan pada masalah perkembangan gulma dan penurunan produktivitas pada fase awal implementasi, dan lahan yang tidak bersih sehingga berpotensi memicu munculnya hama dan penyakit tertentu. Namun demikian, model pertanian konservasi ini berpotensi untuk mengubah lahan kering terdegradasi atau tidak produktif menjadi lahan pertanian produktif dengan efisiensi usahatani yang tinggi. Dengan manfaat jangka panjang tersebut, maka implementasi pertanian konservasi di lahan kering, yang potensinya mencapai 29,4 juta ha, akan meningkatkan secara signifikan kontribusi lahan kering terhadap upaya mempertahankan swasembada pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani lahan kering. Diperlukan proses dan modifikasi untuk mengadaptasikan teknologi ini yang disesuaikan dengan karakteristik agroekosistem, konidisi sosial, dan ekonomi lokal setempat, sehingga berbagai kendala adopsi dapat diminimalisir dan manfaat dapat dioptimalkan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Selain itu, diperlukan dukungan pemerintah dalam bentuk pelatihan, advokasi, dan bantuan input usahatani untuk meminimalisir resiko kerugian petani terutama pada tahap awal implementasi teknologi.Abstract. Conservation agriculture is an alternative model to agricultural practices in dryland which in the long term provides a number of benefits including an increase in crop productivity, farm input efficiency and environmental quality through the improvement of soil quality. This paper discusses the prospect for implementing conservation agricultural to improve soil quality and productivity of dryland. The conservation agriculture model emphasizes the improvement of soil organic matter content through a combination of 3 approaches, namely minimum tillage, mulching, and cropping pattern. Introduction of conservation agriculture into developing countries like Indonesia, which are generally small-scale farming (<1 ha), will face a number of obstacles caused by short-term and immediate shortcomings of the technology. These shortcomings include weed development and productivity decline in the early phase of implementation, and the potential to trigger the emergence of certain pests and diseases due to unclean land. However, the practice has the potential to transform degraded or unproductive drylands into more efficient and productive agricultural land. With those long-term benefits of conservation agriculture, its implementation to 29.4 million ha of dryland of Indonesia will boost significantly the contribution of dryland agriculture in sustaining national food self sufficiency and improving the welfare of dryland farmers. Processes and modifications are needed to adapt this practice to suit local agroecosystem, social and local economic characteristics so that various adoption constraints can be minimized and short-term and long-term benefits can be optimized. In addition, government supports are needed in the form of training, advocacy and farm inputs subsidies to minimize the risk of loss of farmers especially in the early stages of technology implementation.
Teknologi Peningkatan Produktivitas Lahan Bekas Tambang Timah Asmarhansyah Asmarhansyah
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v11n2.2017.91-106

Abstract

ABSTRAKKegiatan penambangan timah telah secara nyata mengakibatkan kerusakan lingkungan biofisik lahan dan status ekonomi dan sosial masyarakat sekitar tambang. Selain itu, lahan bekas tambang timah memiliki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah yang tergolong buruk dan bukan merupakan media tanam yang ideal untuk pertumbuhan dan produksi tanaman. Penanganan dan perbaikan kualitas lahan bekas tambang timah harus dilakukan sebelum lahan tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian produktif. Teknologi peningkatan produktivitas lahan dan tanaman sangat diperlukan, melalui inovasi teknologi pertanian. Peningkatan produktivitas tersebut patut mempertimbagkan sumberdaya yang terkait dengan lahan bekas tambang timah, meliputi sumber lahan, tanaman, peternakan, dan air. Aplikasi bahan organik dan bahan pembenah tanah mampu memperbaiki kualitas lahan bekas tambang timah. Implementasi sistem pertanian terintegrasi akan mampu meningkatkan produktivitas lahan bekas timbang timah untuk pertanian produktif secara komprehensif dan berkelanjutan.Kata kunci: lahan, tambang timah, produktivitas
Ketersediaan Lahan Mendukung Ekspor Jagung Kabupaten Bengkayang ke Malaysia Masganti Masganti; Ani Susilawati; Muhammad Yasin
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v11n2.2017.107-116

Abstract

Abstrak. Jagung merupakan tanaman multifungsi, tetapi di Indonesia lebih banyak dimanfaatkan untuk bahan pakan ternak. Kelangkaan komoditas ini di pasaran berefek ganda terhadap industri pakan, harga pakan dan harga ayam potong dan telur. Kebijakan Pemerintah melarang impor jagung dan mengekspor 3,0 juta ton jagung ke Malaysia perlu didukung secara penuh dan konsisten. Kabupaten Bengkayang merupakan sentra produksi jagung Kalimantan Barat dengan kontribusi 76,71%. Petani di kabupaten ini sudah terbiasa membudidayakan jagung dengan rata-rata produktivitas 4,07 t ha-1. Dari 17 kecamatan yang ada, semuanya mempunyai tradisi menghasilkan jagung. Peningkatan produksi jagung melalui perluasan areal tanam dengan memanfaatkan sekitar 183.934,5 ha lahan yang merupakan (1) perluasan areal tanam melalui pemanfaatan lahan kehutanan APL dan HP, (2) tumpangsari dengan tanaman perkebunan, (3) optimasi lahan bera, dan (4) intensifikasi daerah sentra produksi. Dengan memanfaatkan lahan tersebut, Kabupaten Bengkayang berpotensi menghasilkan 665.434 ton jagung pipilan kering atau setara dengan 21,85% quota ekspor jagung ke Malaysia. Perluasan areal tanam jagung di Kabupaten Bengkayang perlu didukung oleh hal-hal teknis seperti (a) ketersediaan tenaga kerja yang terampil, Alsintan (pengolah tanah, pemeliharaan, pemanen, dan pemipil, dryer), lantai jemur, air, saprodi (benih, insektisida, herbisida), dan pupuk organik, (b) pendampingan teknologi dari penyuluh dan peneliti, dan (c) kelembagaan seperti kios saprodi dan organisasi petani.
Pengelolaan Lansekap Lahan Bekas Tambang: Pemulihan Lahan Dengan Pemanfaatan Sumberdaya Lokal (In-Situ) Deddy Erfandi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v11n2.2017.55-66

Abstract

Abstrak. Salah satu pemanfaatan lahan yang memiliki dampak negative terhadap kualitas lahan adalah kegiatan penambangan. Dengan ekploitasi lahan yang intensif menyebabkan permukaan lahan (lansekap) menjadi tidak beraturan. Limbah sisa hasil tambang yang berada dipermukaan lahan seperti batuan sisa bahan tambang (overburden), sisa bahan tambang yang berbentuk pasir (tailing) dan air asam tambang serta limbah batuan yang mengandung logam berat sering menimbulkan kualitas lahan menjadi stress. Bahan sisa limbah hasil tambang memiliki kandungan bahan organik dan kelembaban tanah yang sangat rendah, tanah mudah padat. Lapisan tanah atas pada lahan bekas tambang sangat heterogen dan memiliki berat isi tinggi, bersifat toksik dan hara makro menjadi tidak tersedia bagi tanaman sehingga tanaman tidak tumbuh dan berproduksi serta memiliki populasi mikroba tanah rendah. Pengelolaan lansekap pada lahan bekas tambang tidak terlepas dari tindakan konservasi tanah, karena selain memperbaiki tanah untuk media tumbuh tanaman, juga mengurangi dampak negative terhadap erosi dan aliran permukaan. Salah satu pendekatan dalam pengelolaan lansekap adalah meningkatkan kualitas tanah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pencegahan degradasi lahan dan membangun sumber bahan organik in-situ, melalui rotasi tanaman, sistim pengolahan tanah, penggunaan mulsa tanaman, tanaman penutup tanah dan pertanaman berlereng. Pemanfaatan sumberdaya lokal menjadi penting dalam rangka meningkatkan kualitas lahan bekas tambang. Namun hal terpenting bahwa pembenah tanah harus potential memperbaiki sifat fisik, kimia dan mikrobiologi tanah, serta bahan pembenah tanah atau ameliorant merupakan sumberdaya lokal.  Abstract. One use of land that has a negative impact on the quality of land is mining. With the intensive exploitation of land which causes the surface of the land (landscape) becomes irregular. Residual waste that is surface mined land as mine waste rock material (overburden), residual minerals in the form of sand (tailings) and acid mine drainage and waste rock containing heavy metals often cause the quality of land to become stressed. Waste material mined residual organic matter and soil moisture is very low, easy to soil solid. A layer of topsoil on mined lands is very heterogeneous and have a high bulk density, toxic and macro nutrients unavailable to plants so that the plants do not grow and produce, and have low soil microbial populations. Landscape management on mined land can not be separated from soil conservation measures, because in addition to improve the soil for plant growth media, also reduces the negative impact on erosion and runoff. One approach in the management of the landscape is improving soil quality that are environmentally friendly and sustainable. Prevention of land degradation and build a sources of organic material in-situ, through crop rotation, tillage systems, crop mulching, cover crops and crop cycle. Utilization of local resources to be important in order to improve the quality of mined lands. But the most important thing, that soil ameliorant should be potential improve to soil physical, chemical and biological , as well as ameliorant material are a local resource.
Ecohydrology Towards Integrative Ecosystem Modeling: A Review Setyono Hari Adi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v11n2.2017.67-76

Abstract

Keterkaitan antara air dan ekosistem sudah dikenal sejak lama, akan tetapi konsep ekohidrologi baru saja diperkenalkan sejak tiga dekade yang lalu. Konsep ini memperluas tema penelitian di bidang hidrologi dengan mengintegrasikan parameter ekologi ke dalam proses pemodelannya. Artikel ini ditulis untuk mengidentifikasi tren penelitian di bidang hidrologi selama satu dekade terakhir (2004-2015), dengan tujuan utama untuk mencari kesenjangan antara penelitian hidrologi dan ekologi ke arah pemodelan ekosistem yang terintegrasi. Data dari artikel-artikel bersitasi tinggi di tiga jurnal publikasi internasional di bidang sumber daya air menunjukkan bahwa hanya 10% dari total artikel yang direview mengintegrasikan parameter ekologi secara kuantitatif. Rendahnya persentase integrasi ekologi dalam penelitian di bidang sumber daya air disebabkan oleh tiga kesenjangan ilmiah, meliputi: (1) kesenjangan isu, dimana isu sumber daya air diperlakukan sebagai variabel empiris utama; (2) kesenjangan model, dimana air merupakan satu-satunya parameter yang dipertimbangkan dalam pemodelan; dan (3) kesenjangan data, yang terfokus pada permasalahan ketersediaan data ekologi untuk analisis. Tiga rekomendasi terkait dengan kesenjangan ilmiah ini meliputi: (1) memperkuat konsep ekohidrologi dengan memandang air adalah bagian tidak terpisahkan dari ekosistem bumi yang saling terkait, (2) mendorong integrasi parameter ekologi ke dalam pemodelan hidrologi, dan (3) pengembangan teknik peningkatan skala (resolusi) data yang terintegrasi dengan analisis ketidaktentuan.
Cover JSDL Vol. 11 No. 2 Desember 2017 Ika Mustika Sundari
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover depan

Page 1 of 1 | Total Record : 6