cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 19070799     EISSN : 27227731     DOI : -
diterbitkan oleh Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Jurnal Sumberdaya lahan terbit 2 kali setahun memuat suatu tinjauan terhadap hasil-hasil penelitian atau terhadap suatu topik yang berkaitan dengan aspek tanah, air, iklim, dan lingkungan pertanian
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2015)" : 6 Documents clear
Peranan Bahan Organik dalam Sistem Integrasi Sawit-Sapi Husnain Husnain; Dedi Nursyamsi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n1.2015.%p

Abstract

Abstrak. Sistem integrasi sawit-sapi merupakan salah satu program diversitas usaha tani. Dengan total luas lahan perkebunan kelapa sawit mencapai 10,46 juta ha, sistem integrasi sawit-sapi merupakan alternatif terbaik untuk mencapai target swasembaga pangan terutama daging sapi melalui optimalisasi penggunaan lahan dengan memanfaatkan limbah tanaman sawit dan industri sebagai sumber pakan ternak. Sumber pakan ternak untuk usaha penggemukan, pembibitan dan sapi potong dapat berasal dari cover crop bila tersedia, sekitar 30-65% dari pelepah sawit, 10-70% bungkil inti sawit, dan 20-35% bahan non sawit. Sementara itu limbah ternak sapi, biogas, limbah tanaman kelapa sawit (pelepah, daun sawit, dan sisa pohon) dan limbah industri kelapa sawit (tandan buah kosong, dried decanted sludge, palm oil mill effluent dan fly ash) dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik yang dapat meningkatkan kesuburan dan kualitas tanah. Bahan organik sangat diperlukan dalam memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Disamping itu sistem integrasi sawit-sapi merupakan teknologi adaptif dan mitigatif terhadap perubahan iklim dengan aplikasi sistem biogas maka diperoleh energi gas untuk keperluan rumah tangga dan industri sekaligus mampu menurunkan emisi gas methane. Paper ini merupakan review hasil-hasil penelitian integrasi tanaman-ternak berbasis kelapa sawit terutama informasi potensi sumber bahan organik yang bermanfaat untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.Abstract. Integrated crop-livestock based oil palm is an example of diversity in agricultural system. With a total area of oil palm plantations reached 10.46 million ha, very potential to support integrated crop-livestock farming systems. The main target in developing this systems is to achieved food i.e beef self sufficiency through land optimalization and by using plant residue and oil palm industry waste for cattle feed. The cattle feed sources for beef meat production and breeding could be from cover crop if available, 30-65% fronds, 10-70% palm kernel cake and 20-35% non palm sources. In other side, various waste material such as manure, biogas sludge, plant residue (fronds, palm leaves and trunk) and industrial waste (empty fruit bunches, solid waste, dried decanted sludge, palm oil mill effluent and fly ash) are potential source of organic matter. Organic matter is important in improving soil fertility and quality. Besides, integrated crop-livestock based oil palm farming system is also found as an adaptive technology to cope climate change. Biogas installation as a component in this systems able to reduce methane emission. The energy produce through biogas installation in this system can be used for household and industry and able to reduce methane emissions. This paper reviews the results of research of integration crop-livestock based oil palm aims to provide information focused on potential sources of organic matter produced which useful to improve the biological, physical and chemical properties of soil. 
Pengembangan dan Diseminasi Inovasi Teknologi Pertanian Mendukung Optimalisasi Pengelolaan Lahan Kering Masam Irawan Irawan; Ai Dariah; Achmad Rachman
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n1.2015.%p

Abstract

Abstrak. Peranan lahan kering masam dalam mendukung pembangunan pertanian nasional sangat penting, baik untuk pemenuhan kebutuhan pangan nasional maupun untuk pengembangan tanaman perkebunan. Tingkat produktivitas yang dicapai pada lahan kering masam masih lebih rendah dibanding potensinya, sehingga pendekatan optimamalisasi harus menjadi salah satu prioritas pembangunan pertanian ke depan. Mengingat tingkat kesuburan tanah pada lahan kering masam umumnya tergolong rendah, maka diperlukan berbagai masukan inovasi teknologi, baik untuk menanggulangi faktor pembatas lahan maupun untuk mengoptimalkan produktivitasnya. Pengembangan inovasi teknologi pengelolaan lahan kering masam telah menghasilkan beberapa teknologi unggulan, antara lain teknologi pengayaan unsur P dan K, teknik pemberian kapur, dan teknologi konservasi tanah dan air. Permasalahan diseminasi inovasi teknologi pertanian umumnya terkait dengan kesenjangan adopsi teknologi, kesenjangan hasil dan kendala sosial-ekonomi petani. Sebagian besar petani lahan kering masam mengelola lahannya secara subsisten, produktivitasnya rendah, senjang hasil dan adopsi teknologi masih tinggi, dan keberlanjutannya tidak diperhatikan sehingga berdampak terhadap terjadinya proses degradasi lahan. Guna memecahkan masalah tersebut dari aspek diseminasi diperlukan model diseminasi inovasi berbasis teknologi informasi yang dapat memanfaatkan berbagai bentuk media diseminasi dan saluran komunikasi para pemangku kepentingan yang terkait. Diseminasi melalui pendekatan model spektrum diseminasi multi channel (SDMC) memungkinkan inovasi teknologi pertanian hasil penelitian dapat didistribusikan secara cepat kepada para penggunanya.Abstract. The role of upland acid soils in supporting national agricultural development is very important to fulfill national food needs as well as to develop estate plantations. The level of productivity achieved on upland acid soils was still lower than its potential, so the optimation approach should be one of the priorities of the agricultural development in the future. Since the level of soil fertility on upland acid soils is generally low, then it is needed the input of various technological innovations, both to overcome the limiting factor of land as well as to optimize its productivity. Development of technological innovation management on upland acid soils has produced some prospective technologies, such as enrichment of P and K elements technology, the technique of lime application, as well as soil and water conservation technology. Most of dissemination problems related to adoption and yield gaps, and farmers’ socio-economic aspect. Most of the upland acid soils farmers managed the land in subsistence, low soil productivity, high gap on yield and technology adoption, and its continuation of farming development was not noted, hence gave impact to land degradation processes. To overcome such problems in perspective of dissemination aspect, it needs innovation dissemination model based on required information technology which utilizes a variety of dissemination means and communication channels of related stakeholders. Dissemination through multi-media channel systems approach may allow agricultural technology innovations to distribute quickly to its users. 
Cover JSL Vol.9(1) 2015 Jurnal Sumberdaya Lahan
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n1.2015.%p

Abstract

Cover JSL
Asuransi Pertanian Berbasis Indeks Iklim: Opsi Pemberdayaan dan Perlindungan Petani Terhadap Risiko Iklim Woro Estiningtyas
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n1.2015.%p

Abstract

Abstrak. Kejadian iklim ekstrim terus terjadi dan semakin meningkat frekuensi dan intensitasnya. Banjir, kekeringan dan serangan OPT merupakan dampak kejadian iklim ekstrim yang menjadi bagian yang harus dihadapi petani khususnya petani padi hampir di setiap musim tanam. Beberapa upaya telah dilakukan oleh petani dalam rangka menekan risiko iklim, namun cara tersebut belum cukup. Perlu ada dukungan proteksi formal untuk melindungi petani dari risiko iklim. Salah satunya adalah dengan asuransi pertanian berbasis indeks iklim. Asuransi ini merupakan bentuk asuransi pertanian dimana yang diasuransikan adalah indeks iklimnya dan bukan tanamannya. Sistem ini memberikan pembayaran pada pemegang polis ketika terpenuhi kondisi cuaca/iklim yang tidak diharapkan (indeks iklim) tanpa harus ada bukti kegagalan panen. Asuransi ini dapat mempercepat penerimaan petani terhadap teknologi adaptasi atau integrasi informasi prakiraan musim/iklim dalam membuat keputusan. Dalam sistem asuransi iklim pembayaran dilakukan berdasarkan pencapaian indeks iklim yang ditetapkan pada periode pertumbuhan tanaman yang diasuransikan. Tujuan penulisan ini adalah memberikan informasi dan gambaran tentang perkembangan Asuransi Indeks Iklim dalam penanganan risiko iklim di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Asuransi Indeks Iklim berpeluang untuk dikembangkan dan diaplikasikan di Indonesia. Kesediaan petani membayar premi serta respon yang cukup baik menjadi potensi pengembangan Asuransi Indeks Iklim. Keberhasilan pelaksanaan program ini perlu didukung dengan peningkatan sumberdaya manusia dan kelembagaan baik di tingkat pusat maupun daerah. Dukungan Pemerintah melalui UU no 19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani menjadi sangat penting sebagai payung hukum yang melindungi aktifitas dan keberlangsungan program ini.Abstract. Extreme climate events continue to occur and the increasing frequency and intensity. Floods, drought and pest attacks are the impacts of extreme climate events that are part of that must be faced by rice farmers in almost every season. Several attempts have been made by farmers in order to reduce climate risks, but how is not enough. There needs to be a formal protection support for farmers to protect from climate risks. One is the Insurance Climate Index. Climate index insurance is a form of agricultural insurance in which the insured is the climate index and not the plants. This system provides payments to policyholders when weather conditions are met/climate are not expected (Climate Index) without any evidence of crop failure. This insurance can accelerate the acceptance of farmers to adaptation or integration of information technology forecasts season / climate in making decisions. In a climate insurance system payment is made based on whether the specified climate index reached the insured crop growth period. The purpose of this paper is to provide information and an overview of developments Climate Index Insurance in climate risk management in Indoensia. The results of the study showed that the Insurance Climate Index likely to be developed and applied in Indonesia. Farmers' willingness to pay a premium as well as a good response into potential development for Climate Index Insurance. The successful implementation of this program should be supported by an increase in human resources, institutions at central and local levels. Government support through Law No. 19 of 2013 on the Protection and Empowerment of Farmers become very important as an legal law that protects the activity and the sustainability of this program.
Penggunaan Citra Penginderaan Jauh untuk Mendukung Mitigasi Dampak Perubahan Iklim di Sektor Pertanian Kusumo Nugroho; Wahyunto Wahyunto
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n1.2015.%p

Abstract

Abstrak. Penggunaan citra penginderaan jauh dalam menghadapi dampak perubahan iklim saat ini, memerlukan data geospasialdalam identifikasi dampak dan sumber sumber yang berpengaruh terhadap perubahan iklim. Dampak perubahan iklim yangberdampak pada lahan dan lingkungan dapat dikaji dari penginderaan jauh, adalah suhu udara, curah hujan, kenaikan air laut(batimetri) dan proses kebakaran lahan. Dampak perubahan iklim terhadap sumberdaya lahan dapat dikaji dengan penginderaanjauh seperti berkurangnya areal hutan, kebakaran hutan dan lahan, perubahan ekologi dan kondisi hutan dan keanekaragamanhayati. Perubahan lahan, akibat kekeringan kebanjiran atau perubahan luapan. Penginderaan jauh dapat mengkaji kenaikan suhu,dan estimasi emisi gas rumah kaca selain perubahan pola curah hujan, dan kejadian iklim ekstrim. Intrusi air laut yang berkaitandengan perubahan garis pantai dapat dirunut dari penginderaan jauh. Data spasial dari penginderaan jauh juga menjadi dasarpenggunaan tanaman rendah emisi, cara mengelola air untuk mengurangi terjadinya oksidasi bahan organik. Peran penginderaanjauh untuk mitigasi perubahan iklim dapat diperhatikan dalam hal pengamatan sumberdaya lahan dan hidrologi, lahan gambut,biomasa sebagai sumber cadangan karbon, monitoring perubahan pengunaan lahan, indikator penting terjadinya perubahankondisi hidrologi. Makalah ini membahas peranan teknik penginderaan jauh dalam menyikapi dampak perubahan iklim terhadapsumber daya tanah dan air di Indonesia dengan contoh-contoh aplikasi yang telah dilakukan.Abstract. The use of remote sensing image in the face of climate change impacts at this time, require the identification of theimpact of geospatial data and resources that affect climate change. Impact of climate change on land and environmental impactcan be seen from remote sensing, is the air temperature, precipitation, sea level rise (bathymetry) and the process of land fires.The impact of climate change can be observed by remote sensing through the reduction of forest area, forest and land fires,changes in forest conditions and the ecology and biodiversity changes in land, flood or drought due to changes in the floodingbehaviour. Remote sensing can assess the increase in temperature, and estimation of greenhouse gas emissions in addition tochanges in rainfall patterns, and extreme climate events. Seawater intrusion associated with changes in the shoreline can betraced from remote sensing. Spatial data from remote sensing is also the basis for the use of low-emission plants, how to managethe water to reduce the oxidation of organic matter. The role of remote sensing for the mitigation of climate change can beaddressed in terms of land resources and hydrological observations, peat, biomass as a source of carbon stocks, monitoringchanges in land use, an important indicator of changes in hydrological conditions. This paper discusses the role of remote sensingtechniques in addressing the impacts of climate change on land and water resources in Indonesia with examples of applicationsthat have been done.
Inventarisasi Emisi GRK Lahan Pertanian di Kabupaten Grobogan dan Tanjung Jabung Timur dengan Menggunakan Metode IPCC 2006 dan Modifikasinya Miranti Ariani; M. Ardiansyah; Prihasto Setyanto
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n1.2015.%p

Abstract

Abstrak. Lahan pertanian menyumbangkan emisi gas rumah kaca (GRK) melalui beberapa proses. Skala global dan nasional, perhitungan besaran emisi GRK telah banyak dilakukan, baik dalam bentuk studi ilmiah maupun laporan nasional terkait status dan emisi di suatu negara. Inventarisasi GRK dalam skala kawasan, mencakup pengumpulan serta pembangunan data aktivitas, penentuan sasaran penurunan emisi pada penyumbang emisi utama serta membandingkan hasil perhitungan metode IPCC 2006 dan metode modifikasinya. Sumber emisi GRK utama berdasarkan jenis gas di dua kabupaten adalah gas CH4 (pengelolaan lahan sawah, fermentasi enterik dan pengelolaan kotoran ternak) yaitu sebesar > 50% (dalam CO2e). Total emisi GRK Kabupaten Grobogan dan Tanjung Jabung Timur dari tahun 2006-2011 dengan menggunakan metode IPCC 2006 adalah sebesar 678-758 Gg CO2e dan 543-659Gg CO2e, sedangkan dengan menggunakan metode IPCC 2006 modifikasi adalah sebesar 670-744 Gg CO2e dan 540-658 Gg CO2e. Emisi ini diperkirakan akan terus meningkat mencapai angka 898 Gg CO2e dan 820 Gg CO2e di tahun 2020 jika tidak ada aksi mitigasi. Total emisi di kedua provinsi dengan menggunakan metode IPCC 2006 asli dan modifikasinya hanya berbeda sebesar 1%. Modifikasi metode yang dilakukan pada perhitungan emisi N2O langsung dari tanah sawah irigasi bisa digunakan karena lebih mudah dan sederhana dalam pengumpulan data aktivitas dan perhitungannya.Abstract. Agricultural land contributes to greenhouse gas(GHG) emissions through several processes. In global and national scale, GHG emissions have been presented in scientific studies and national reports. Regional inventory mostly gathered and generate activity data, define mitigation action to main emission contributors and to compare original and modified IPCC 2006 Guidelines. CH4 emissions (rice cultivation, enteric fermentation and manure management) was the main contributor to overall GHG emissionsin the two districts with the amount of > 50% (in CO2e). Overall Grobogan and East Tanjung Jabung GHG emissions from years 2006-2011 using IPCC 2006 was 678-758 Gg CO2e and 543-659 Gg CO2e respectively and overall GHG emissions using modified IPCC 2006 was 670-744 Gg CO2e and 540-658 Gg CO2e. This emission in Grobogan and East Tanjung Jabung were expected to continue rising and reach the figure of 898 Gg CO2e and 820 Gg CO2e in 2020 if no mitigation actions implemented.The result of IPCC 2006 and it’s modification method was only 1% different in overall GHG emission in two region. The modification method to direct N2O emission from irrigated rice could be used because it’s simpler and easier both in gathering activity data and the calculation itself.

Page 1 of 1 | Total Record : 6