cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Iptek Tanaman Pangan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2006): November 2006" : 7 Documents clear
Fungsi Kelembagaan dalam Penerapan Teknologi Perbenihan Jagung Berbasis Komunitas Petani Margaretha SL; Sudjak S.; Sania Saenong
Iptek Tanaman Pangan Vol 1, No 2 (2006): November 2006
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem pendistribusian benih melalui jalur formal yang terlalu panjang berdampak pada lambannya adopsi varietas unggul baru. Apabila benih tidak dapat/sulit diperoleh pada waktu tanam tiba, sebagian besar petani menanam benih jagung asalan, atau hibrida turunan. Keberadaan penangkar benih sebagai kelembagaan penyedia benih komunitas pada kawasan tertentu diperlukan agar dapat menyediakan benih secara tepat waktu, jumlah dan kualitas, dan harga benih yang lebih murah. Untuk mengetahui kemampuan kelembagaan perbenihan dalam penerapan teknologi benih jagung berbasis komunitas petani telah dilakukan penelitian di Desa Kurbian, Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada bulan April 2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program jaringan kerja antara Balitsereal-BPSB-BBI/BBU, dapat mempercepat penyebaran benih varietas unggul baru sampai ke pengguna, tidak saja di Kabupaten Lombok Timur, tetapi juga menyebar ke Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Barat, Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa dalam kurun waktu hanya 1 tahun. Usahatani penangkaran jagung varietas Lamuru dinilai layak dengan B/C ratio 4,0 dan keuntungan mencapai Rp 12.648.550/ha.
Kualitas Sumber Daya Air di Pantai Utara Wilayah Pengairan Jatiluhur Achmad M. Fagi
Iptek Tanaman Pangan Vol 1, No 2 (2006): November 2006
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Intensifikasi padi sawah mendorong pemakaian pupuk buatan dan insektisida yang dikhawatirkan mencemari air limbah sawah di sungai-sungai dan tambaktambak. Contoh air limbah dari sembilan desa di Kabupaten Karawang dan tiga desa di Kabupaten Bekasi yang potensial bagi budi daya udang windu dianalisis selama Mei-Oktober 1985. Contoh-contoh air tersebut diambil dari laut, muara sungai, saluran air, sungai, dan/atau tambak. Semuanya menunjukkan konsentrasi residu insektisida pada tingkat yang aman. Suhu air, pH, kandungan oksigen, salinitas, NO2, NO3, dan NO4 cukup baik untuk pertambakan udang windu. Mulai tahun 1987, pemakaian 57 jenis insektisida untuk padi sawah dilarang, kemudian diikuti oleh pencabutan subsidi insektisida. Pelarangan itu pasti membuat konsentrasi residu insektisida di air sawah saat ini jauh lebih rendah daripada saat analisis pada tahun 1985. Jika konsentrasi residu insektisida akan dipantau terus disarankan agar contoh air dimasukkan ke dalam botol gelas dan disimpan dalam ice box sebelum dan pada saat dibawa ke laboratorium untuk analisis.
Potensi Parasitoid Telur sebagai Pengendali Hama Penggerek Batang dan Penggerek Tongkol Jagung Surtikanti Surtikanti
Iptek Tanaman Pangan Vol 1, No 2 (2006): November 2006
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trichogramma evanescens merupakan agensia hayati untuk pengendalian hama utama jagung yaitu penggerek batang (Ostrinia furnacalis) dan penggerek tongkol (Helicoverpa armigera). Perbanyakan T. evanescens dilakukan dengan mengguna- kan inang pengganti yaitu Corcyra cephalonica. Untuk mendapatkan hasil perbanyakan yang maksimal (90%) digunakan perbandingan 1 : 6 (satu ekor T. evanescens betina dan enam butir telur C. cephalonica). Kemampuan satu ekor T. evanescens betina untuk memarasit telur O. furnacalis sebanyak 100 butir dan C. cephalonica sebanyak 100 butir adalah 35% dan 43%. Hasil survey didapatkan bahwa telur penggerek batang jagung O. furnacalis di lapang sudah terparasit T. evanescens, parasitasi dapat mencapai 81% pada varietas Bisma di Takalar. Di laboratorium didapatkan pula bahwa T. evanescens dapat memarasit telur H. armigera sebanyak 92,3%. T. evanescens mempunyai harapan untuk dikembangkan sebagai agensia hayati dalam pengendalian hama utama jagung yaitu O.furnacalis dan H. armigera.
Potensi Padi Liar sebagai Sumber Genetik dalam Pemuliaan Padi Abdullah, Buang
Iptek Tanaman Pangan Vol 1, No 2 (2006): November 2006
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketersediaan dan keragaman sumber daya genetik merupakan faktor penting dalam perakitan varietas unggul dengan sifat-sifat yang diinginkan. Sumber genetik padi dapat digolongkan menjadi tiga: (1) sumber gen utama (primary gene pool), yang terdiri atas varietas unggul, lokal, dan keturunannya, (2) sumber gen kedua (secondary gene pool), terdiri atas spesies liar dari genom yang sama; dan (3) sumber gen ketiga (tertiary gene pool) teridiri dari spesies liar dengan genom yang berbeda. Dalam perakitan varietas unggul selama ini baru memanfaatkan sumber gen utama. Sumber gen kedua dan ketiga yang merupakan spesies liar belum digunakan dengan baik. Padi liar (Oryza spp.) mempunyai 21 spesies berupa tanaman diploid (2n = 24) dan tetraploid (2n = 48) dengan 10 macam genom (AA, BB, CC, EE, FF, BBCC, CCDD, GG, HHJJ, HHKK), yang merupakan sumber gen yang potensial untuk digunakan dalam program pemuliaan padi. Beberapa spesies telah diketahui mempunyai sifat gen tahan terhadap cekaman biotik dan abiotik. Namun persilangan antara spesies padi liar dengan padi budi daya mempunyai banyak hambatan, seperti aborsi embrio, sterilitas, tidak berpasangannya kromosom dari kedua spesies, dan lethalitas. Oleh karena itu diperlukan teknik khusus untuk mentransfer atau mengintrogresi gen-gen yang diinginkan dari spesies liar. Kemajuan bioteknologi menghasilkan inovasi teknologi yang dapat mempermudah introgresi gen spesies liar ke dalam padi budi daya. Dengan mengkombinasikan teknik bioteknologi dengan cara konvensional, seperti kultur embrio, silang balik, dan teknik deteksi dengan citologi, markah isozim, dan molekuler; pelaksanaan introgresi dan deteksi gen-gen tersebut dapat lebih mudah, cepat, dan akurat. Beberapa gen tahan telah berhasil diintrogresikan ke dalam padi budi daya, antara lain gen tahan penyakit virus kerdil rumput (grassystunt virus) dari O. nivara; tahan hawar daun bakteri dari O. longistaminata dan O. minuta, dan tahan blas dari O. rufipogon dan O. minuta; gen tahan wereng coklat ditransfer dari O. officinalis dan O. australiensis. Beberapa gen introgresi yang telah diketahui markah molekuler dan sekuen basanya dipetakan dalam kromosom, dan digabungkan dalam satu ketahanan (pyramiding genes), sebagai contoh Xa21 dari O. longistaminata. Gen introgresi yang sangat fenomenal dampaknya adalah gen tahan penyakit kerdil rumput dari O. nivara. Setelah dilepas, varietas IR32 yang mengandung gen-gen tersebut belum pernah dilaporkan tertular penyakit tersebut.
Prospek Pengembangan Teknologi Budi Daya Kedelai di Lahan Kering Sumatera Selatan Darman M. Arsyad
Iptek Tanaman Pangan Vol 1, No 2 (2006): November 2006
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya peningkatan produksi kedelai di dalam negeri perlu dilakukan untuk menekan ketergantungan terhadap kedelai impor. Selain untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat, pengembangan kedelai memberikan peluang bagi penambahan sumber pendapatan petani. Di Sumatera Selatan terdapat beberapa daerah yang sesuai untuk pengembangan kedelai ditinjau dari ketersediaan lahan kering dan kondisi iklim, terutama di zona IVax.2 dengan karakter biofisik: elevasi <700 m dml, lereng <8%, drainase baik, tanah termasuk grup hapludex, hapludults, dan dystrudepts. Luas lahan kering yang sesuai untuk pengembangan kedelai di zona IVax.2 diperkirakan 1,1 juta ha, 15,2% di antaranya terdapat di Kabupaten MUBA, 18,3% di Kabupaten OKI, 14,8% di Kabupaten Muara Enim, 8,8% di Kabupaten OKU, 3,2% di Kabupaten Lahat, dan 15,5% di Kabupaten Musi Rawas. Penelitian di beberapa lokasi di Sumatera Selatan pada MH II 2004, MH I 2004/05, dan MH II 2005 menunjukkan bahwa pengaruh pemupukan dan pengapuran bersifat spesifik lokasi. Di OKI dan Muara Enim, pemupukan dan pengapuran berdampak positif terhadap peningkatan hasil kedelai. Adaptasi varietas kedelai yang diuji juga bersifat spesifik lokasi. Penerapan teknologi budi daya dengan varietas unggul yang sesuai memberikan hasil 1,8-2,5 t/ha, bergantung pada kondisi lingkungan di daerah setempat. Data ini menunjukkan bahwa teknologi budi daya kedelai spesifik lokasi prospektif dikembangkan di lahan kering Sumatera Selatan. Keberhasilan pengembangan kedelai tidak hanya ditentukan oleh penerapan teknologi budi daya tetapi juga bergantung kepada kebijakan yang mendukung yang mencakup pemberdayaan penyuluh pertanian, penyelenggaraan penerapan teknologi pada petak-petak percontohan dengan melibatkan petani, penyelenggaraan sekolah lapang, pembentukan kelompok dan penumbuhan aktivitas kelompok tani, pembinaan penangkaran benih, penjalinan kemitraan untuk pemasaran produksi, pembentukan klinik agribisnis, dan pelatihan pengolahan hasil.
Konsepsi Revitalisasi Sistem Perbenihan Tanaman Jan Rachman Hidajat
Iptek Tanaman Pangan Vol 1, No 2 (2006): November 2006
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan permasalahan dan adanya perubahan lingkungan strategis yang terjadi, arah ke depan sistem perbenihan nasional adalah membangun industri benih dengan mendorong peran dominan swasta/privatisasi (BUMN/BUMD) dalam produksi dan peredaran skala komersial untuk benih komersial dan penguatan peran BUMN/D dalam produksi dan peredaran benih untuk benih strategis dengan berbasis sumber daya lokal. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan revitalisasi sistem perbenihan, yang mencakup: (a) Penyusunan dan penyempurnaan tatanan atau mekanisme, (b) Penyempurnaan beberapa peraturan Menteri Pertanian tentang perbenihan, dalam jangka pendek antara lain (1) Peraturan Menteri Pertanian tentang Pengujian, Penilaian dan Pelepasan Varietas Tanaman yang merupakan penyempurnaan dari Kepmentan No. 902/1996 dan No. 737/1998, (2) Peraturan Menteri Pertanian tentang Produksi, Pemasukan, Peredaran, Pengeluaran dan Pengawasan Benih Bina yang merupa- kan penyempurnaan Kepmentan No. 803/1997 tentang Sertifikasi dan Pengawasan Mutu Benih Bina dan Peraturan Menteri Pertanian tentang perubahan Kepmentan No. 1017/1998 tentang Izin Produksi Benih Bina, Izin Pemasukan dan Pengeluaran Benih Bina, (3) Penyiapan Rancangan Peraturan Menteri Pertanian tentang Komisi Nasional Plasma Nutfah dan Rancangan Permentan tentang Pencarian, Pengumpulan, Pelestarian, Pemanfaatan serta Pengeluaran dan Pemasukan Plasma Nutfah, (c) Penyempurnaan dan penyusunan kelembagaan perbenihan (jangka menengah), dan (d) Dalam jangka panjang perlu dilakukan penyempurnaan UU No.12/1992 tentang Sistem Budi Daya Tanaman dan PP No.44/1995 tentang Perbenihan Tanaman.
Anomali Iklim: Faktor Penyebab, Karakteristik, dan Antisipasinya Gatot Irianto; Suciantini Suciantini
Iptek Tanaman Pangan Vol 1, No 2 (2006): November 2006
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara harafiah, anomali iklim adalah pergeseran musim dari rata-rata normalnya. Empat faktor dominan penyebab anomali iklim adalah SST NINO, arah angin, beda tekanan udara permukaan di Darwin dan Tahiti, serta Indian Ocean Dipole. Ada tiga pola hujan di Indonesia, yaitu pola monsunal, pola ekuatorial, dan pola lokal. Wilayah dengan pola monsunal paling terpengaruh anomali iklim dan sebagian besar sentra padi di Indonesia berada di wilayah ini. Dengan demikian, kejadian ini perlu diprediksi untuk menekan kerugian. Dalam antisipasi anomali iklim, diperlukan langkah-langkah strategis seperti: mengefektifkan informasi prakiraan iklim dan teknik menghadapinya, memanfaatkan peta wilayah rawan kekeringan, menganalisis pergeseran musim, menganalisis neraca air wilayah dan indeks kecukupan air dan saat tanam yang tepat, menampung air hujan untuk mengisi cadangan air tanah, membudidayakan komoditas berumur pendek dan tahan kekeringan, mempercepat tanam, memanfaatkan sistem gogorancah, pompanisasi di daerah-daerah dengan cadangan air tanah, memperbaiki efektivitas saluran irigasi dan embung/bendungan, meningkatkan daya dukung daerah hulu aliran sungai, memantau dan mengevaluasi daya tampung waduk, memanfaatkan mulsa in-situ untuk menekan evaporasi. Antisipasi lebih diperlukan untuk menghadapi El-NiÒo karena bencana yang ditimbulkannya lebih serius daripada La-NiÒa. Penurunan hujan akibat El-NiÒo dapat mencapai 80 mm/bulan; sementara peningkatan hujan akibat La-NiÒa tidak lebih dari 40 mm/bulan, itu pun dapat untuk perluasan areal tanam. Langkah-langkah operasional kelembagaan yang dapat dilakukan antara lain: (1) kebijakan pembagian tugas lintas instansi yang terkait dengan efektivitas organisasi, pendanaan, prioritas penanggulangan, perbaikan, dan pemilihan teknologi penanggulangan, (2) intensifikasi koordinasi dan meningkatkan kemampuan tim penanggulangan di beberapa propinsi yang rawan kekeringan, (3) penyebarluasan informasi prakiraan iklim dalam periode tertentu, dan (4) perluasan kawasan konservasi air di tiap kecamatan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota.

Page 1 of 1 | Total Record : 7