cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Iptek Tanaman Pangan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2007): September 2007" : 9 Documents clear
Pengelolaan Plasma Nutfah secara Terpadu Menyertakan Industri Perbenihan Nani Zuraida; Sumarno Sumarno
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 2 (2007): September 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Plasma nutfah sering disalah-maknai dengan keanekaragaman hayati atau kumpulan berbagai spesies tahaman. Padahal plasma nutfah atau sumber daya genetik adalah koleksi keragaman (fenotipik dan genotipik) dalam masing-masing spesies tanaman. Kesalahpahaman makna tersebut mengakibatkan kegiatan konservasi ìplasma nutfahî menjadi tidak kena sasaran. International Plant Genetic Resources Institute menekankan pentingnya pemerintah nasional (negara) mengelola plasma nutfah sejalan dengan ketentuan National Soverignity Right of Plant Genetic Resources/CBD. Pengelolaan plasma nutfah merupakan kegiatan penggunaan dana (cost center), tanpa secara langsung menghasilkan pemasukan uang. Pemerintah yang mendanai kegiatan demikian pada umumnya tidak dapat menyediakan pembiayaan secara cukup dan berkelanjutan. Perusahaan benih yang memanfaatkan penjualan benih varietas unggul secara komersial sewajarnya ikut mendanai pengelolaan plasma nutfah atas dasar iuran wajib (check off) dari hasil penjualan benih. Ketersediaan varietas unggul yang benihnya dijual oleh perusahaan benih, berasal dari pemanfaatan plasma nutfah. Pengelolaan plasma nutfah secara teknis yang meliputi evaluasi, identifikasi sifat penting, studi genetik, pemanfaatan gen ke dalam varietas unggul harus melibatkan peneliti multi disiplin, perusahaan benih, masyarakat konsumen dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) agar efektif dan optimal. Kerja secara tim terdiri dari pihak-pihak yang berkepentingan ini diistilahkan sebagai tim GEUC (Genetic Evaluation, Utilization and Commercialization). Di negara-negara lain pengelolaan plasma nutfah tanaman dilakukan oleh Pemerintah Pusat dilengkapi unit Regional yang ditugasi mengkoleksi plasma nutfah jenis-jenis tanaman spesifik. Indonesia belum mengelola plasma nutfah semua jenis tanaman secara nasional dan dinilai tertinggal dibandingkan negara lain.
Peluang Peningkatan Produktivitas Kedelai di Lahan Sawah T. Adisarwanto
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 2 (2007): September 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam jangka waktu 12 tahun areal pertanaman kedelai mengalami penurunan yang nyata (66%) dari luasan 1.700.000 ha (1992) tinggal menjadi 570.000 ha pada tahun 2002. Dari luasan tersebut, pertanaman kedelai di lahan sawah masih cukup luas yaitu mencapai 325.000 ha (65%). Kombinasi antara faktor sosial ekonomi dan teknis berpengaruh terhadap perkembangan luas penanaman kedelai tersebut. Di lahan sawah tanaman kedelai masih men-jadi salah satu pilihan di beberapa pola tanam yang ada berdasarkan ketersediaan air irigasi yaitu padi-padi-kedelai (sawah irigasi teknis), padi-kedelai-palawija lain (sawah irigasi ½ teknis), padi-kedelai-bero (sawah tadah hujan). Ada beberapa faktor penentu yang harus dipenuhi agar tanaman kedelai masuk dalam pola tanam di lahan sawah tersebut antara lain: umur yang sesuai dengan pola tanam yang berlaku (< 80 hari), potensi produktivitas tinggi (> 2,0 t/ha), dapat meningkatkan pendapatan petani (mampu bersaing dengan tanaman lain). Di sisi lain, meningkatkan produksi melalui peningkatan produktivitas kedelai masih berpeluang dilakukan pada lahan sawah apabila menerapkan beberapa komponen kunci dari hasil penelitian yang dapat meningkatkan produktivitas sebesar 100-150%. Komponen-komponen tersebut adalah penyiapan lahan, penggunaan varietas unggul, pengaturan waktu tanam yang tepat, penggunaan benih bermutu dan populasi tanaman optimal, pengendalian OPT secara terpadu. Hal ini terbukti melalui pendekatan PTT Kedelai selama musim tanam 2005 dan 2006 melalui standart prosedur baku menerapkan komponen komponen teknologi tersebut ternyata mampu mencapai produktivitas tinggi (> 2,0 t/ha) dan secara ekonomis menaikkan pendapatan petani.
Potensi Sumber Daya Lahan untuk Perluasan Areal Tanaman Pangan di Kabupaten Merauke D. Djaenudin
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 2 (2007): September 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah Kabupaten Merauke bagian Selatan merupakan dataran aluvial terbentuk dari bahan aluvium sungai dan marin, di bagian Utara yang berbukit-bukit terbentuk dari batuan sedimen. Dataran Kabupaten Merauke bagian selatan beriklim kering, dan bagian utara di daerah upland yang berbukit-bukit beriklim basah. Adanya bulan kering yang nyata dengan lama penyinaran matahari yang panjang sangat menguntungkan untuk pertumbuhan generatif dan produktivitas khususnya tanaman pangan, asalkan tidak mengalami kekurangan air pada masa pertumbuhan vegetatif. Di dataran Merauke banyak terdapat sungai dan rawa yang mengalir sepanjang tahun sehingga airnya dapat dimanfaatkan untuk pengairan dan kebutuhan hidup. Kualitas air sungai di bagian hilir yang umumnya buruk karena terjadi intrusi air laut. Demikian pula kualitas air sumur di beberapa tempat yang buruk, karena masih adanya ìsisa-sisaî pengaruh intrusi air laut masa lalu. Pembentukkan tanah di dataran aluvial sangat dipengaruhi oleh aktivitas dan pola aliran sungai. Sedangkan di dataran pantai dipengaruhi oleh proses pasang surut air laut. Di wilayah Kabupaten Merauke pada lahan basah terdapat tanah yang mengandung bahan sulfidik, dan tanah berkadar garam tinggi. Sedang di lahan kering ada tanah yang bertekstur pasir kuarsa, dan tanah yang berkonkresi besi. Tanah-tanah tersebut kurang atau tidak potensial untuk pertanian. Namun secara keseluruhan lahan di wilayah Kabupaten Merauke cukup berpotensi untuk pertanian, sehingga sangat mendukung untuk menjadikan kabupaten ini sebagai lumbung pangan nasional di Kawasan Timur Indonesia.
Karakteristik Sifat Kimia dan Fisika Tanah Alfisol di Jawa Timur dan Jawa Tengah Wijanarko, Andy; Sudaryono, Sudaryono; Sutarno, Sutarno
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 2 (2007): September 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan tanah dalam jangka waktu yang lama tanpa teknik pengawetan, dapat menyebabkan penurunan kesuburan kimiawi dan fisik tanah, sehingga produktivitasnya rendah. Alfisol umumnya berada pada kondisi geografis dan agroklimat yang mendorong untuk menjadi tanah marjinal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sifat kimia dan fisika tanah Alfisol di tujuh lokasi di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH tanah Alfisol yang diamati bereaksi dari masam hingga netral, dengan kandungan C- organik rendah, P-tersedia dari sangat rendah hingga sedang, K-dd dari rendah hingga tinggi, Ca-dd dari sedang hingga sangat tinggi, Mg-dd dari sedang hingga tinggi, KTK dari sedang hingga sangat tinggi dan unsur mikro (Fe dan Zn) yang tinggi. Warna tanah Alfisol yang diamati adalah coklat kemerahan hingga merah gelap, kekuatan tanah yang relatif rendah yaitu kurang dari 3,75 kg F/cm2, struktur tanah dari butir hingga tiang dan tekstur tanah dari lempung liat berpasir hingga liat.
Teknologi Revolusi Hijau Lestari untuk Ketahanan Pangan Nasional di Masa Depan Sumarno, Sumarno
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 2 (2007): September 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertanian tanaman pangan di Indonesia sampai dengan tahun 1960 praktis menggunakan teknologi dengan masukan organik berasal dari sumber daya setempat. Varietas lokal dan varietas unggul tipe lama seluas 6,5-7,0 juta ha hanya mampu memroduksi beras antara 7,5-8,0 juta ton per tahun. Impor beras sudah terjadi sejak awal kemerdekaan yang pada tahun 1961 mencapai satu juta ton lebih dan tendensinya terus meningkat. Pertanian sejak tahun 1970 menerapkan teknologi îRevolusi Hijauî, dengan komponen utamanya varietas unggul tipe baru, pupuk dan pestisida sintetis, serta didukung oleh ketersediaan air irigasi yang cukup. Produksi beras sejak 1970 naik secara linier, sehingga dapat menembus 30 juta ton mulai tahun 1995, dan masih terus meningkat hingga kini. Kekhawatiran akan terjadinya kemunduran mutu lingkungan, kelestarian keragaman hayati dan keberlanjutan sistem produksi ditanggapi oleh segolongan masyarakat dengan mengadvokasi kembali ke teknik pertanian masukan organik dan menanam varietas lokal. Apabila gerakan ini menjadi trend nasional, diperkirakan akan mengancam ketahanan pangan nasional di masa depan. Teknologi Revolusi Hijau Lestari (TRHL) merupakan penyempurnaan teknologi revolusi hijau tahun 1970-2000, memperhatikan sembilan komponen sebagai berikut: (1) penataan pola dan pergiliran tanam, (2) penanaman multi varietas adaptif spesifik lokasi dan musim, (3) penyiapan lahan secara optimal, (4) pengayaan bahan organik dan mikroba dalam tanah, (5) penyehatan ekologi dan wilayah hidrologi alamiah setempat, (6) penyediaan hara optimal bagi tanaman berdasarkan status hara dalam tanah dan target produksi, (7) pengendalian OPT secara ekologis-efektif, (8) penyediaan, pemeliharaan, dan pemanfaatan sumber air secara efektif- efisien, dan (9) peningkatan pengetahuan dan kesadaran petani terhadap kelestarian sumber daya, lingkungan, dan keberlanjutan produksi pertanian. Dengan semakin bertambahnya penduduk Indonesia, tidak ada pilihan lain kecuali menjadikan teknologi Revolusi Hijau lebih ramah lingkungan dengan menerapkan Teknologi Revolusi Hijau Lestariî dalam sistem produksi padi.
Strategi Pembangunan Pertanian pada Lahan Terlantar Achmad M. Fagi
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 2 (2007): September 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semangat untuk merehabilitasi dan memanfaatkan lahan alang-alang (Imperata cylindrica) dilandasi oleh TAP MPR-RI No. IX/MPR/2001. Pokok-pokok arahan dalam TAP MPR-RI tersebut yang berkenaan dengan pengelolaan sumber daya alam (SDA), adalah: (1) memulihkan ekosistem yang telah rusak akibat eksploitasi SDA secara berlebihan tanpa perhatian terhadap kelestariannya, (2) menyusun strategi pemanfaatan SDA yang berlandaskan kepada optimalisasi manfaat dengan memperhatikan potensi dan kontribusinya kepada kepentingan masyarakat, daerah dan nasional. Lahan alang-alang dengan topografi datar sampai bergelombang dalam hamparan luas dijumpai di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, di daerah yang beriklim tropik basah. Sebelumnya lahan tersebut berupa lahan hutan hujan tropik dengan kesuburan rendah, kecuali di bagian aluvial. Lahan alang-alang dapat ditanami karet, kelapa sawit, tebu, kakao, dan kopi, dengan investasi tinggi. Sistem usahatani berbasis tanaman pangan dengan teknik konservasi berupa tanaman lorong, dapat dikembangkan di bagian aluvial. Dari luas lahan alang-alang di Indonesia sekitar 8,5 juta ha, rehabilitasi dan pemanfaatan lahan alang-alang di dataran rendah dengan ketinggian <350 m dpl. dan kemiringan 15%, yang tergolong lahan padang rumput skala mega, skala makro, atau skala meso diprioritaskan. Sistem usahatani dengan teknik tanaman lorong, efektif dalam pengendalian erosi dan eradikasi alang-alang dalam jangka panjang, karena alang-alang tidak tahan naungan dan terhambat perkembangan rizomnya oleh pengolahan dan pertanaman terus menerus. Teknologi usahatani berbasis padi gogo atau jagung yang dikembangkan di Lampung Tengah dan Lampung Utara dapat diterapkan dalam langkah awal pemberantasan alang-alang, dan dalam pengembangan sistem usahatani pada bidang olah di antara tanaman lorong. Pembakaran alang-alang oleh masyarakat petani baik yang kurang modal atau yang bermodal dalam konversi lahan alang-alang menjadi lahan pertanian atau perkebunan harus dicegah.
Preferensi Konsumen terhadap Beras Merah sebagai Sumber Pangan Fungsional Siti Dewi Indrasari; Made Oka Adnyana
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 2 (2007): September 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah melepas galur BP1924-1e-5-2 dengan nama varietas Aek Sibundong. Untuk mengevaluasi respon dan preferensi konsumen terhadap beras merah yang ditawarkan, dilakukan penelitian di tujuh provinsi yaitu Sumut, Jabar, Jateng, Jatim, Bali, Sulsel, dan NTB. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik kimiawi beras merah, karakteristik dan opini responden, persepsi dan respon terhadap produk beras merah. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara tatap muka menggunakan kuesioner sebagai pedoman. Jumlah responden yang berhasil diwawancarai sebanyak 700 orang yang terdiri dari petani produsen, pengusaha, dan konsumen. Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa dari segi mutu gizi, Aek Sibundong mempunyai kandungan asam folat dua kali lipat dibanding Ciherang. Karena itu Aek Sibundong dapat menurunkan kadar homosistein penyebab kepikunan dan menyingkirkan sumbatan pembuluh darah pemicu serangan stroke dan jantung koroner. Secara statistik, responden di semua lokasi penelitian menyatakan rasa nasi beras merah lebih baik atau sama saja dibanding rasa nasi yang biasa dikonsumsi. Responden di desa umumnya lebih menyukai rasa nasi beras merah dibanding responden kota, kecuali responden di propinsi Jatim dan Bali. Tingkat pengetahuan responden di Sumut, Bali, dan NTB yang terbiasa mengonsumsi beras merah lebih baik dibanding propinsi lainnya. Responden di Jabar, Jateng, dan Sulsel baik di desa maupun di kota menyatakan warna beras merah lebih baik, lebih jelek atau sama saja dengan yang biasa terhadap dikonsumsi relatif sama. Secara statistik ukuran beras merah yang diperkenalkan tidak berbeda nyata dengan beras putih yang biasa dikonsumsi responden. Persepsi antara responden di desa dan di kota terhadap beras merah dalam hal gizi dibanding beras yang biasa dikonsumsi ternyata sama secara statistik, kecuali di propinsi Jateng dan Bali. Secara keseluruhan responden di desa dan di kota di propinsi Jateng, Jatim, Bali, dan NTB menyatakan beras merah yang diperkenalkan lebih baik dibanding beras yang biasa dikonsumsi kecuali di Jabar dan Sulsel.
Aspek Budaya dalam Adopsi Inovasi: Antisipasi Kasus Pengembangan Padi di Merauke Adi Widjono
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 2 (2007): September 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keputusan petani untuk mengadopsi atau menolak suatu inovasi (teknis atau kelembagaan) selalu didasarkan pada pertimbangan yang lebih luas daripada sekedar aspek teknis dan finansial bidang pertanian. Mereka juga mempertimbangkan budaya, nilai-nilai pribadi dan sosial, yang tidak selalu mudah dinalar dan karenanya kerap diabaikan para agen pembangunan. Pengabaian budaya petani dalam pembangunan pertanian bukan hanya dapat menggagalkan adopsi suatu inovasi, tetapi juga dapat mengakibatkan konflik yang kontra produktif dan tidak perlu. Program pengembangan Kabupaten Merauke sebagai lumbung pangan nasional perlu diselenggarakan secara hati-hati dengan mempertimbang- kan aspek budaya masyarakat adat setempat yang merasa makin terdesak di lahan leluhur mereka sendiri. Dengan demikian program tersebut akan mem- berikan dampak nasional secara nyata, sekaligus meningkatkan kesejahteraan yang adil bagi masyarakat adat setempat.
Silikon: Hara Penting pada Sistem Produksi Padi A. K. Makarim; E. Suhartatik; A. Kartohardjono
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 2 (2007): September 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Silikon (Si) banyak terkandung pada tanaman graminae, seperti padi, jagung, dan tebu, terutama di permukaan daun, batang, dan gabah (padi). Tanaman kahat Si menyebabkan ketiga organ tanaman di atas kurang terlindungi oleh lapisan silikat yang kuat, akibatnya: (1) daun tanaman lemah terkulai, tidak efektif menangkap sinar matahari, sehingga produktivitas tanaman rendah/tidak optimal; (2) penguapan air dari permukaan daun dan batang tanaman dipercepat, sehingga tanaman mudah layu atau peka terhadap kekeringan; (3) daun dan batang menjadi peka terhadap serangan penyakit dan hama; (4) tanaman mudah rebah; dan (5) kualitas gabah (padi) berkurang karena mudah terkena hama dan penyakit. Akibatnya, hasil optimal tanaman tidak tercapai, kestabilan hasil rendah (fluktuatif) dan mutu produk rendah. Penggunaan kembali Si yang dahulu selalu diperhatikan pada budi daya padi, baik di luar negeri maupun di dalam negeri, hampir dapat dipastikan akan meningkatkan produktivitas, kestabilan dan kualitas hasil padi. Memopulerkan kembali penggunaan pupuk silikat pada tanaman padi saat ini sangat tepat, seiring dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan produksi padi nasional sebesar 5%, dimana pemanfaatan lahan-lahan suboptimal, lahanlahan endemik hama dan penyakit, serta lahan optimal dengan penggunaan pupuk N dosis tinggi semakin meluas dan intensif. Lahan-lahan tersebut memerlukan tambahan silikat.

Page 1 of 1 | Total Record : 9