cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Iptek Tanaman Pangan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009" : 9 Documents clear
Teknologi Budi Daya untuk Meningkatkan Produksi Ubikayu dan Keberlanjutan Usahatani Subandi Subandi
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam komposisi nilai ekonomi tanaman pangan, ubikayu menduduki urutan ketiga setelah padi dan jagung. Berdasarkan proyeksi kebutuhan, produksi ubikayu yang dewasa ini baru mencapai 20 juta ton, masih kekurangan sekitar 5,3 juta ton untuk kebutuhan dalam negeri tahun 2010. Oleh karena itu, ubikayu perlu memperoleh prioritas dalam pengembangannya, dan diperlukan dukungan teknologi yang produktif dan ramah lingkungan, mengingat komoditas ini banyak dibudidayakan pada lahan marjinal. Penelitian telah menghasilkan komponen teknologi budi daya yang dapat mendukung upaya pengembangan ubikayu dan konservasi lahan untuk keberlanjutan sistem produksi. Teknologi tersebut meliputi (a) varietas unggul, di antaranya UJ-5 dan UJ-3 untuk wilayah bercurah hujan tinggi dan Adira-4, Malang-4, dan Malang-6 untuk wilayah bercurah hujan rendah sampai tinggi; (b) pengaturan populasi tanaman pada jumlah 10.000-12.500 tanaman/ha; (c) penyiapan bibit dari tanaman yang telah berumur 7-12 bulan; (d) stek batang panjang 20-25 cm ditanam secara vertikal dengan kedalaman sekitar 10 cm; (e) lahan diolah sempurna menggunakan bajak ditarik dengan ternak maupun traktor, dan pembuatan guludan; (f) waktu tanam yang tepat agar selama tujuh bulan pertama tanaman memperoleh hujan/air yang cukup; (g) pengendalian gulma, disesuaikan dengan keadaan lapangan; (h) pemupukan 200 kg urea + 100 kg SP36 + 100 kg KCl per ha, atau sesuai dengan tingkat kesuburan tanah, bagi tanah masam perlu dikapur 300 kg/ha dan 3 t/ha pupuk kandang berupa kotoran ayam atau 6 t/ha kotoran sapi. Panen daun dua kali setiap enam bulan, tiga kali setiap empat bulan, atau enam kali setiap dua bulan, dan perempesan daun tua hingga 75% dapat dilakukan. Penanaman pagar hidup dan mengusahakan kacang-kacangan pada areal pertanaman ubikayu, baik secara bergiliran maupun tumpangsari selain dapat mengurangi erosi tanah juga bermanfaat meningkatkan kesuburan tanah.
Kendali Genetik dan Karakter Penentu Toleransi Kedelai terhadap Salinitas Ayda Krisnawati; M. Muchlish Adie
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini, salinitas menjadi salah satu ancaman bagi sistem produksi bahan pangan, termasuk kedelai. Salinitas pada kedelaimenyebabkan penurunan tingkat perkecambahan, nekrosis daun, berkurangnya warna hijau daun, menghambat pertumbuhan akar, dan menurunkan jumlah nodul. Hal tersebut mengakibatkan penurunan biomass tanaman, tinggi tanaman, ukuran daun, hasil biji, kualitas biji, dan kemampuan tumbuh. Salah satu strategi untuk mengatasi dan mengeliminasi penurunan produksi kedelai akibat meluasnya salinitas adalah merakit varietas toleran salinitas. Keberhasilan perakitan varietas kedelai toleran salinitas ditentukan oleh tersedianya sumber gen toleran, yang dapat diperoleh melalui identifikasi terhadap koleksi plasma nutfah kedelai. Beberapa karakter morfologi dan fisiologi potensial digunakan sebagai dasar penentu toleran kedelai terhadap salinitas. Namun, pengalaman penelitian di beberapa negara menunjukkan bahwa penggunaan identifikasi toleransi terhadap salinitas berdasarkan karakter tunggal seringkalimenyulitkan, sehingga diperlukan karakter gabungan yang potensial untuk digunakan sebagai penyeleksi toleransi kedelai terhadap salinitas.
Sumbangan Pemikiran bagi Penentuan Kebijakan Peningkatan Produksi Kedelai Achmad M. Fagi; Farid A. Bahar; Joko Budianto
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya untuk mencapai swasembada kedelai telah lama dirintis. Upaya itu lebih terfokus setelah dicanangkannya Gema Palagung 2000 (Gerakan Mandiri Padi, Kedelai dan Jagung 2000) oleh Departemen Pertanian. Bersamaan dengan upaya tersebut ada tawaran fasilitas GSM 102 atau PL 480 oleh produsen kedelai luar negeri dengan segala kemudahannya. Tawaran ini diawali oleh Letter of Intent (LoI) pada 31 Oktober 1997, dan LoI 24 Juni 1998, yaitu persyaratan dari IMF kepada Pemerintah Indonesia, antara lain menyangkut tataniaga komoditas pertanian, termasuk kedelai. Akibat dari semua itu, impor kedelai makin banyak dan kedelai produksi dalam negeri kalah bersaing dengan kedelai impor. Oleh karenanya ada kekhawatiran Indonesia akan semakin tergantung pada kedelai impor untuk memenuhi kebutuhan kedelai di dalam negeri, dan usahatani kedelai semakin tidak diminati oleh petani. Untuk menghindari hal tersebut, Direktur Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan mengusulkan kebijakan tataniaga kedelai pada tahun 2001, yaitu: (a) menerapkan tarif bea impor kedelai, dan (b) membentuk lembaga produsen-importir kedelai. Usul itu dibahas di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian pada 27 April 2001. Usul kebijakan pengenaan tarif impor tidak didukung oleh peserta diskusi. Berdasarkan teori MCP (Market Closure Process), pembatasan impor kedelai melalui peningkatan tarif bea impor akan merugikan konsumen produk olahan berbahan baku kedelai. Kenaikan harga kedelai di pasar internasional yang sangat tajam pada awal tahun 2008 terjadi akibat ketidak-seimbangan antara penawaran dan permintaan, sehingga harga kedelai di pasar domestik, yang didominasi oleh kedelai impor juga naik. Kenaikan harga di dalam negeri tersebut diharapkan dapat mendorong kenaikan harga tingkat petani dan memacu peningkatan produksi kedelai nasional. Peluang kenaikan produksi kedelai harus dimanfaatkan melalui intensifikasi dan perluasan areal kedelai ke kawasan potensial terutama di wilayah yang beriklim mirip iklim sub-tropik.
Patosistem, Strategi, dan Komponen Teknologi Pengendalian Tungro pada Tanaman Padi Muhsin, Muhammad; Widiarta, I Nyoman
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tungro merupakan penyakit padi yang kompleks ditinjau dari segi virus penyebabnya, hubungan virus-vektor-inang, maupun timbul atau kejadian penularan di lapang. Penyakit ini merupakan hasil interaksi virus batang tungro padi (VBTP) dan virus sferikal tungro padi (VSTP). Sinergi kedua virus itu menghasilkan gejala penyakit tungro yang lebih parah jika dibandingkan dengan infeksi tunggal VBTP yang menginduksi gejala tungro yang lebih ringan atau infeksi VSTP yang tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman inangnya. Penularan VBTP dan VSTP oleh wereng hijau, Nephotettix virescens, dengan cara yang semi-persisten memberikan indikasi bahwa keberadaan kedua virus itu hanya menempel pada kutikula dari alat mulut vektornya. Virus-virus tersebut bersifat eksternal dan nonsirkulatif. Interaksi kedua jenis virus berlanjut dalam bentuk bantuan penularan vektor oleh VSTP untuk VBTP, karena VBTP sendiri tidak dapat secara langsung ditularkan oleh vektor. Berdasarkan pemahaman patosistem, dinamika populasi wereng hijau dan epidemiologi dapat disusun strategi pengendalian meliputi: (1) menghindari infeksi berdasarkan periode peka tanaman padi, (2) eliminasi peran virus helper, dan (3) menekan pemencaran vektor untuk menekan penyebaran virus. Beberapa teknik pengendalian selain penggunaan varietas tahan virus juga telah dikembangkan, di beberapa daerah telah berhasil diimplementasikan, seperti waktu tanam serempak, tanam sebelum puncak populasi vektor yang dapat dibaca berkaitan dengan puncak curah hujan, dan pergiliran tanam beberapa tipe varietas tahan vektor. Pengembangan teknik pengendalian ke depan perlu lebih memperhatikan dinamika populasi strain virus dan biotipe vektor tungro.
Prospek Ubijalar sebagai Bahan Baku Minuman Probiotik Suhartini Suhartini
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alternatif pemanfaatan ubijalar mulai diperkenalkan berdasarkan keunggulan kandungan senyawa yang berfungsi sebagai antioksidan (-karoten dan antosianin) pada daging umbinya. Antioksidan adalah senyawa yang penting bagi kesehatan karena dapat mengurangi risiko terkena berbagai penyakit. Penggunaan ubijalar sebagai bahan baku pangan fungsional dapat diperkaya dengan penambahan fungsinya sebagai minuman berprobiotik. Probiotik merupakan suplemen pangan berupa mikrobia hidup yang berfungsi menyeimbangkan komposisi mikrobia pada usus, sehingga menguntungkan dari segi kesehatan. Sari ubijalar yang mengandung senyawa antioksidan dan ditambahkan kultur bakteri probiotik menghasilkan produk pangan fungsional yang andal. Dengan semakin meningkatnya ketertarikan konsumen terhadap pangan fungsional untuk menjaga kesehatan, peluang pengembangan produk ini cukup menjanjikan. Tulisan ini membahas beberapa penelitian tentang pemanfaatan ubijalar sebagai bahan minuman yang mengandung kultur probiotik.
Verifikasi Metode Penetapan Kebutuhan Pupuk pada Padi Sawah Irigasi Sarlan Abdulrachman; Nurwulan Agustian; Hasil Sembiring
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam 10 tahun terakhir Badan Litbang Pertanian telah mengeluarkan beberapa pedoman penetapan kebutuhan pupuk untuk padi sawah. Selain ditujukan agar pemakaian pupuk lebih efisien, pedoman pemupukan tersebut juga diharapkan dapat menggantikan rekomendasi pupuk yang masih bersifat umum. Beberapa pedoman pengelolaan hara spesifik lokasi (PHSL) yang diverifikasi antara lain: (1) PHSL-1, dosis pupuk ditetapkan berdasarkan alat bantu BWD dan PUTS, (2) PHSL-2, dosis pupuk N, P, dan K disesuaikan dengan target hasil yang dinginkan, (3) Permentan No. 40/OT.140/4/2007, dan (4) PP (Praktek Petani) sebagai pembanding. Pada petak PHSL-1 ditempatan enam sub petak (+Zn, +S, -N, -P, -K, dan +NPK) masing-masing berukuran 5 m x 5 m. Sub-sub petak tersebut dimaksudkan untuk menetapkan efisiensi pemupukan N dan memperoleh informasi tentang kemampuan suplai hara N, P, K, Zn, dan S bagi tanaman padi di masing-masing lokasi. Penelitian dilaksanakan di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nangro Aceh Darusalam, dan Sumatera Utara. Rancangan percobaan adalah acak kelompok dengan enam ulangan. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Respon tanaman padi terhadap cara penentuan kebutuhan pupuk bervariasi menurut lokasi. Produktivitas padi meningkat dari yang terendah 3,99 t/ha menjadi 5,90 t/ha dan yang tertinggi dari 6,12 t/hamenjadi 7,28 t/ha. Respon terbesar diperoleh dari pemberian N,menyusul P dan K; (2) PHSL-2 unggul di tujuh lokasi dari 12 lokasi yang dijadikan tempat verifikasi, PHSL-1 unggul di empat lokasi dan Permentan unggul di satu lokasi; (3) Efisiensi N meningkat dengan penggunaan BWD dan PUTS untuk P dan K; (4) Sampai saat ini, P dan K tidakmutlak dibutuhkan tanaman padi di lokasi penelitian, kecuali di Mojolaban yang sudah menunjukkan respon terhadap pemberian Zn dan di Rogojampi terhadap pemberian S; (5) Pada umumnya petani masih menggunakan pupuk N terlalu tinggi sehingga kurang efisien.
Potensi Tepung Jagung dan Sorgum sebagai Substitusi Terigu dalam Produk Olahan Suarni Suarni
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jagung dan sorgum dapat dimanfaatkan lebih beragam lagi sebagai bahan pangan olahan tradisional maupun industri. Kelebihan jagung sebagai pangan fungsional mengandung serat, karbohidrat, antioksidan, mineral Fe dan nutrisi lainnya, yang kurang dimiliki oleh terigu. Kelemahan sorgum adalah adanya tanin pada bagian aleuron, yang merupakan antinutrisi dan memberi rasa sepat pada produk olahan. Pada proses penyosohan, konsentrasi tanin dapat dikurangi/dihilangkan tetapi sebagian nutrisi akan hilang. Tepung sorgum mempunyai tekstur yang lebih halus dan asam amino penyusun proteinnya mampu membentuk gluten yang lebih baik dibanding tepung jagung, walaupun secara kuantitatif dan kualitatif lebih rendah dibanding terigu. Karakterisasi sifat fisikokimia, fungsional tepung sorgum dan jagung berperan penting dalam pemanfaatan kedua bahan tersebut. Terigu sudah menjadi bagian pangan dalam pola konsumsi masyarakat, produk olahan tertentu dapat disubstitusi oleh tepung jagung dan sorgum dengan taraf yang berbeda, bergantung pada jenis olahan yang diinginkan. Sifat fisikokimia bahan setengah jadi substitusi tepung jagung dan sorgum pada produk olahan pangan dari terigu dapat memenuhi selera panelis. Pemanfaatan tepung jagung dan sorgum sebagai bahan pangan sehat diharapkan dapat mengurangi pemakaian terigu dan sekaligus meningkatkan kemandirian pangan menuju hidup sehat.
Senjang Adopsi Teknologi dan Senjang Hasil Padi Sawah Sumarno Sumarno; Unang G. Kartasasmita; Zulkifli Zaini; Lukman Hakim
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keragaman produktivitas padi sawah dalam satu hamparan diduga disebabkan oleh senjang adopsi teknologi budi daya. Untuk mengetahui penyebab senjang adopsi teknologi dan senjang hasil padi sawah dilakukan studi dengan pendekatan participatory rural appraisal (PRA) di Kabupaten Ciamis, Tasikmalaya, Purwakarta, dan Majalengka, Jawa Barat, pada tahun 2008. Hasil studi menunjukkan komponen teknologi budi daya padi yang sudah diadopsi secara mantap oleh petani adalah (a) varietas unggul baru adaptif, (b) tanam bibit umur muda (15-20 hari), (c) penyiapan lahan secara optimal, dan (d) pengendalian gulma. Komponen teknologi yang belum diadopsi secara optimal adalah (a) penggunaan benih berlabel, (b) pengayaan kandungan bahan organik tanah, (c) dosis pupuk berdasarkan status hara tanah, (d) pengendalian OPT berdasarkan prinsip PHT, dan (e) panen-pascapanen mencegah kehilangan hasil kurang dari 10%. Komponen teknologi yang hanya diadopsi oleh sebagian kecil petani adalah (a) persemaian hemat waktu dan hemat benih (25 kg/ha), (b) tanam bibit jajar legowo, (c) tanam bibit dua batang per rumpun, dan (d) pengairan berselang (intermittent irrigation). Efisiensi penggunaan waktu juga masih rendah, sehingga menghambat peningkatan intensitas tanam, disebabkan oleh keterbatasan jumlah traktor. Tingkat adopsi teknologi adalah sbb.: Kabupaten Ciamis 66,4%, Tasikmalaya 70,7%, Purwakarta 65,7%, dan Majalengka 75,7%. Belum optimalnya adopsi teknologi menunjukkan adanya peluang untuk memperbaiki tingkat adopsi, guna mengurangi senjang adopsi teknologi. Senjang hasil padi antarpetani, antarmusim, dan antarkabupaten masih cukup besar, berkisar antara 1-3 t/ha. Perbaikan senjang adopsi teknologi disarankan untuk dijadikan program strategis Pemerintah dalam upaya peningkatan produksi padi di tingkat daerah dan nasional. Peran Pemerintah dalam program perbaikan senjang adopsi teknologi antara lain dalam (1) penyediaan kredit modal usaha/modal kerja kepada individu petani, (2) penyediaan kredit untuk pembelian/pengadaan traktor, (3) penyediaan kredit pembuatan dam dan embung air perdesaan, dan (4) peningkatan kualitas dan intensitas penyuluhan dalam hal PHT, pengayaan bahan organik tanah atau pengomposan, efisiensi penggunaan air, dan efisiensi penggunaan waktu dalam pengolahan tanah. Pengurangan senjang adopsi teknologi diharapkan akan mengurangi senjang hasil, yang berarti meningkatkan produksi padi petani, produksi padi di tingkat kabupaten dan provinsi, yang akan berdampak terhadap peningkatan produksi beras nasional dalam waktu cepat dengan biaya yang relatif murah.
Pencegahan Infeksi A. flavus dan Kontaminasi Aflatoksin pada Kacang Tanah Astanto Kasno
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jamur A. flavus sebagai penghasil aflatoksin yang berbahaya bagi kesehatan manusia, mamalia, unggas, dan menjadi penghambat nontarif dalam perdagangan kacang tanah di pasar internasional perlu dicegah. Gangguan jamur ini pada kesehatan manusia biasanya dengan gejala mual dan pusing, dan pada tahap lanjut berupa kanker hati. Pencegahan infeksi jamur dan produksi aflatoksin perlu dimulai sejak kegiatan prapanen mengingat penggunaan varietas tahan belum dapat dilakukan. Oleh karena itu, hal yang perlu dilakukan adalah mengendalikan penyakit daun, pemberian hara yang cukup, terutama Ca, menghindari tanaman kacang tanah tercekam kekeringan pada umur 3-6 minggu sebelum panen. Pencegahan infeksi jamur pada kegiatan pascapanen dilakukan adalah panen pada kondisi cuaca baik, polong segera dipetik, menyingkirkan polong muda dan polong rusak, dan polong segar siap dipasarkan maksimal 24 jam setelah dipanen. Jika penjualan kacang tanah terpaksa ditunda, maka polong segera dikeringkan hingga kadar air biji kurang dari 9%, disimpan pada wadah kedap udara dalam ruangan bersih dengan ventilisi baik.

Page 1 of 1 | Total Record : 9