cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Perspektif : Review Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Education,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan yang memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2010): Desember 2010" : 5 Documents clear
Strategi Pengembangan Rami (Boehmeria nivea Gaud.) RULLY DYAH PURWATI
Perspektif Vol 9, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v9n2.2010.%p

Abstract

ABSTRAKRami  (Boehmeria  nivea  Gaud.)  merupakan  tanaman yang memiliki potensi tinggi. Serat rami dapat diolah menjadi kain fashion berkualitas tinggi, karena memiliki karakter mirip dengan serat kapas. Selain itu, serat  rami merupakan bahan untuk pembuatan selulosa  berkualitas  tinggi (selulose   α). Daunnya merupakan bahan kompos dan pakan ternak yang bergizi tinggi, kayunya baik untuk bahan bakar.  Kayu dan serat rami dapat diolah menjadi pulp berkualitas tinggi  sebagai  bahan  baku  pembuatan  aneka  jenis kertas berharga. Kebutuhan rami dunia yang mencapai ± 500.000 ton/tahun pada tahun 2010 hanya dipenuhi oleh Cina sebesar 280.000 ton (56%), sisanya dari Brazil dan Filipina dengan persentase yang sangat kecil. Di Indonesia, potensi pengembangan rami sangat tinggi karena kebutuhan serat untuk substitusi kapas cukup tinggi, telah tersedia varietas unggul dan benih yang bermutu tinggi serta lahan luas yang sesuai untuk pertumbuhan rami. Namun demikian, masih ditemukan  beberapa  kendala  dalam  pengembangan rami antara lain varietas dan benih yang digunakan belum murni, lokasi pengembangan umumnya jauh dari sarana transportasi, belum tersedia alat dekortikator yang memadai, kelembagaan yang ada belum  sesuai,  kejelasan  pasar  dan  kepastian  harga serat rami belum banyak diketahui, pengembangan rami baru menguntungkan setelah tahun ke tiga, mesin yang digunakan oleh pabrik tekstil tidak sesuai karena merupakan  mesin  pengolah  kapas (serat  pendek). Pengembangan rami  dapat berhasil dan berkesinambungan apabila tersedia strategi pengembangan rami yang konstruktif meliputi intensifikasi,ekstensifikasi, diversifikasi dan kelembagaan.  Intensifikasi  terdiri  atas  penggunaan varietas unggul dan benih bermutu tinggi,  serta aplikasi teknik budidaya yang tepat mulai persiapan lahan hingga pengolahan serat. Ekstensifikasi adalah perluasan  lahan  untuk  memenuhi  kebutuhan  serat rami  nasional,  baik  untuk  substitusi  serat  kapas maupun untuk diversifikasi produk terutama untuk pulp, selulosa dan komposit. Strategi pengembangan rami tersebut akan lebih efisien apabila telah terbentuk kelembagaan dan kejelasan pemasaran.Kata  kunci:  Boehmeria  nivea  Gaud,  pengembangan,                 potensi,   kendala,   intensifikasi,   ekstensifikasi, diversifikasi ABSTRACTStrategy of Ramie (Boehmeria nivea Gaud.) DevelopmentRamie (Boehmeria nivea Gaud.) is a multi purpose crop and has a high potency in producing some products. Ramie fibre is raw material of very high quality of textile, due to its characteristic is similar to cotton fibre. Ramie fibre is also used as raw material of high quality of cellulose (α cellulose). The leaves can be produced as compost (organic  fertilizer)  and  fodder  with  high nutrition. The bark and fibre also can be used as raw material of pulp for high quality and expensive papers  The   world   requirement   of   ramie   fibre   predicted reaches ± 500.000 tonnes/year in 2010. Fifty six percents  (280.000 tonnes) of this need is supplied by China, and the rest is fulfilled by Brazil and Philippines in low percentage.   In   Indonesia,   the   potency   of   ramie development is very high due to some reasons as follow: the highly fibre need for cotton substitution, superior  variety  and  high  quality  of  seedling  are available, appropriate land for ramie growth is broad enough. However, there are some constraints in ramie development  i.e.  variety  and  seedlings  used  was varied,   the   location   was   far   from   transportation facilities, limiting of decorticators, lack of judgment and institution cooperation, the low price of ramie fibre, the use of inappropriate machine for ramie fibre, etc.   Ramie   development   will   succeed   and   be continuously  by  the  availability  of  a  constructive strategy   includes   intensification,   extentsification, diversification,    and    management.    Intensification comprises of the use of high quality of seedlings and superior  varieties,  and  application  of  appropriate culture  techniques  from  land  preparation  to  post harvest. Extensification is the extent of ramie area to produce enough ramie fibre for cotton substitution and product diversification especially for pulp, cellulose, and composite. This strategy of ramie development will be more efficient when management, funding, marketing institutions and the good price is available.Key words: Ramie, development, potency, constraint,               intensification, diversification
Prospek dan Kendala Pengembangan Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Sebagai Bahan Bakar Nabati di Indonesia M. SYAKIR
Perspektif Vol 9, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v9n2.2010.%p

Abstract

ABSTRAKSalah satu komoditas pertanian yang potensial saat ini untuk dijadikan bahan bakar nabati diantaranya jarak pagar. Untuk produksi biodiesel tanaman jarak pagar dapat   dipilih   karena   tanaman  ini   tidak   bersaing dengan  tanaman  penghasil  pangan,  tidak  dimakan binatang   karena   beracun,   mudah   beradaptasi   di lapangan,   berpotensi   menjadi   bisnis   baru   untuk masyarakat  dan  kegiatan  produksinya  dapat  lebih terdesentralisasi.                   Ketersediaan     lahan      untuk pengembangan jarak pagar di Indonesia yang sangat sesuai mencapai 14,2 juta hektar dengan ketersediaan saat   ini   sekitar       5   juta   hektar.   Dalam   rangka mendukung    penyediaan    benih    unggul    untuk pengembangan jarak pagar seluas 2,4 juta ha tahun 2025, telah diperoleh tanaman superior dari aksesi-aksesi yang dikoleksi. Budidaya tanaman jarak pagar relatif masih baru dan teknologi budidayanya terus dikembangkan  seperti  halnya,  komponen  teknologi pengendalian    hama    dan    penyakit,    polatanam, pemupukan serta teknologi pengolahannya. Saat ini total  produksi  biji  jarak  seluruh  Indonesia  masih sangat rendah hanya sebesar 7.852 ton pada tahun 2007 dari luas areal 68.200 ha, meningkat menjadi 7.925 ton tahun 2008 dari areal 69.221 ha dan tahun 2009 menjadi 8.013 dari luas areal 69.315 ha. Masalah utama dalam membantu  percepatan  pengembangan  jarak  pagar selain  pengembangan  komponen taknologi  budidya adalah mencari terobosan baru untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Hal ini bisa ditempuh melalui bioteknologi  dan  rekayasa  genetika  serta  mencari sumber  keragaman  baru  genetika  dari negara asal, termasuk dari negara-negara Amerika Latin.Kata  kunci:  Prospek,  problem,  jarak  pagar,  bahan bakar   nabati,   produktivitas,   rekayasa genetika. ABSTRACTProspects and Problems of Jatropha curcas Development as Biodiesel Energy in IndonesiaOne of potential commodities to be used as bio fuel in Indonesia  is  Jatropha  curcas.    This  plant  is  chosen because it does not compete with food crops, while animal do not like it because it is poisonous. Moreover, this plant is adaptable in different climate conditions and  may  become  a  new  business  opportunity  for farmers,   since   fuel   production   activities   can   be decentralized. There are 14.2 million hectares of land suitable for growing the plant, whereas currently only 5 million hectares are available. Indonesian Centre for Estate Crops Research and Development nowadays has superior varieties that can be used to support expansion   of     2.4   million   hectares   of   jatropha plantations in 2025. However, agriculture technologies still have to be improved in term of, for instance, pest and disease control strategies, planting patterns, as well   as   fertilizing,   and   cultivation   technologies. Moreover, current seed production of jatropha is still low i.e. only 7.582 tonnes in 2007 of 68.200 hectares which becoming 7.925 tonnes in 2008 of 69.221 ha, and 8.013  tonnes  in  2009  of  69.315  hectares.  The  main strategy to accelerate jatropha plantation areas is to find new strategy especially related to how to improve plant  production.  This  approach  may  be  achieved through biotechnology and plant genetic engineering as  well  as  finding  new  genetic  varieties  from  its country of origin, including countries in Latin America.Keywords: Prospect, problem, Jatropha curcas L., bio-  fuel, productivity, genetic engineering
Peluang Pemenuhan Kebutuhan Produk Mentha Spp. di Indonesia EKWASITA RINI PRIBADI
Perspektif Vol 9, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v9n2.2010.%p

Abstract

ABSTRAK Mentha  spp.  termasuk  family  Labiatae.  Berdasarkan kandungan bahan aktif, aroma dan penggunaannya terdapat  beberapa  spesies  yang  bernilai  ekonomi tinggi. Tiga spesies diantaranya adalah Mentha arvensis penghasil mentol dan minyak mentha kasar/mentha Jepang,  Mentha piperita penghasil minyak peppermint atau true mint, dan Mentha spicata penghasil minyak spearmint,  dengan pangsa pasar dunia masing-masing 75 %, 18 % dan 7 %. Kebutuhan industri dari produk yang dihasilkan oleh Mentha spp. sangat besar, akan tetapi sampai saat ini Indonesia belum mampu untuk memenuhi  kebutuhan  tersebut.  Laju  impor  produk turunan   dari   Mentha   spp.   setiap   tahun   semakin meningkat, pada tahun 2006 nilai impor mencapai US $ 3,78 juta setara dengan Rp. 34,-milyar. M. arvensis dengan produk utama mentol paling besar permintaannya  untuk industri  dan  salah  satu jenis mentha  dengan  kesuaian lingkungan  tumbuh yang memungkinkan untuk di kembangkan di Indonesia. Rata-rata  volume  impor  mencapai 76,10  ton/tahun setara dengan 63 % total kebutuhan industri dalam negeri. Peluang pemenuhan kebutuhan dalam negeri dapat dilakukan dengan menurunkan biaya produksi sehingga   harga   produk   mentha   dalam   negeri kompetitif  dibandingkan  dengan  harga  impor  dan produk   sintetis   yaitu   dengan   mengoptimalkan produksi  terna,  minyak  dan  menthol  dari  koleksi M.arvensis  dengan  teknik  pemulian  inkonvensional melalui hibridisasi intra  dan interspesifik,   induksi mutagenesis   dan   peningkatan   variasi   somaklonal melalui  kultur  jaringan    varietas  Ryokubi  dengan potensi  hasil  terna  tinggi,  dengan  Tempaku  yang mempunyai kadar mentol tinggi serta Mear 0012 yang mempunyai kadar minyak tinggi disertai penggunaan pupuk tablet atau granul yang diberi pelapis pestisida nabati.             Teknologi    budidaya    ini    diharapkan meningkatkan produk mentol 43 %, dari semula 59,27 kg/ha menjadi 84,72 kg/ha. Dengan tingkat produk-tivitas  tersebut  dan  disertai  pengembangan  areal tanam seluas 898 ha, kebutuhan mentol untuk industri di  Indonesia  sebesar 76,10  ton/tahun  yang  semula diimpor   dapat   dipenuhi   sepenuhnya   dari   dalam negeri.Kata  kunci  :  Mentha  spp.,  peluang,  swasembada,Indonesia ABSTRACTOpportunity to Fulfil Mint Products in IndonesiaMentha spp. belongs to Labiatae family, Based on its active ingredients,  aroma  and  utilization,  there  are several high economical values of mint species. Three species  of  mint  such  as  Mentha  arvensis,  produces menthol oil and raw mint oil/Japanese mint, Mentha piperita produces peppermint oil or  true mint, and Mentha   spicata   produces   spearmint   oil,   which respectively share 75, 18, and 7% of the total world mint market. Since Indonesia is not able to fulfill the local need of mint oil, the country imports the oil accordingly, this in 2006 reached U.S. $ 3.78 millions equivalent to 34 billion rupiahs. M. Arvensis producing high  menthol  has  the  greatest  demand  for  local industry and as one of most suitable varieties cultivates in  Indonesia.  The  average  imported  mint  volume reaches 76.10 tons/year, equivalent to 63 % of the total need of domestic industries. Opportunities to fulfill this local need of mint may be achieved by reducing production costs, so that price of the domestic mint oil is competitive compared to imported mint or synthetic products. The strategy may be achieved by optimizing herb, oil and menthol productions via current breeding technique   i.e.   through   intra   and   inter-specific hybridization, mutagenesis induction and somaclonal variation through tissue culture of Ryokubi variety with high herb yield mint, with Tempaku, which has high menthol level and Mear 0012 containing high oil content,  complemented  with  cultivation  techniques using   tablet   or   granular   fertilizers   coated   with botanical pesticides. Those cultivation technologies are expected to increase 43 % of menthol production i.e. from 59.27 kg/ha to 84.72 kg/ha. This production level combined  with  expansion  of 898  hectares  of  mint plantation areas is expected able to fulfill the need of domestic industries amounted to 76.10 tones/year.Keywords  : Mentha spp., chance, fulfilments, Indonesia
Penerapan SOP Budidaya Untuk Mendukung Temulawak Sebagai Bahan Baku Obat Potensial MONO RAHARDJO
Perspektif Vol 9, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v9n2.2010.%p

Abstract

ABSTRAKTemulawak  (Curcuma xanthorrhiza  Roxb)  merupakan tanaman asli  Indonesia, banyak ditemukan terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Jakarta, Yogyakarta, Bali, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Kalimantan  Barat  dan  Kalimantan  Timur,  Sulawesi Utara  dan Sulawesi Selatan. Rimpang temulawak mengandung bahan aktif yang potensial untuk kesehatan antara lain xanthorrizol, kurkuminoid dan minyak atsiri. Rimpang temulawak banyak dipergunakan  sebagai  bahan  baku  obat  tradisional sebagai jamu, herbal terstandar dan obat fitofarmaka. Teknologi yang mengacu pada SOP budidaya dengan penggunaan  varietas  unggul,    lingkungan  tumbuh yang  cocok,  benih  bermutu,  persiapan  lahan,  cara tanam dan pasca panen yang tepat akan menghasilkan produksi dan mutu rimpang yang tinggi. Pada umumnya  temulawak diperbanyak dengan menggunakan  stek  rimpang    berasal  dari  rimpang induk dan rimpang cabang.  Benih harus berasal dari tanaman yang sehat berumur 10 - 12 bulan, bersih, kulitnya licin   mengkilap, bebas  dari hama dan  penyakit.  Rimpang induk untuk benih dapat dibagi menjadi 2 - 4 bagian,  ukurannya sekitar 20 - 40 g/benih yang mempunyai 2 -3 mata tunas.  Tingkat pemupukan pupuk organik dan anorganik (N, P dan K)   mempengaruhi   produksi   rimpang   dan   mutu. Kebutuhan pupuk N (Urea), P (SP36) dan K (KCl) harus disesuaikan dengan kondisi kesuburan tanah. Pada status kesuburan tanah  dengan kandungan N rendah, P  cukup dan K cukup pada iklim tipe B, produksi rimpang tertinggi (25,46 t/ha) dicapai pada pemupukan pupuk kandang 20 t/ha, urea 300 kg/ha, SP36 200   kg/ha, dan KCl 200 kg/ha. Tanaman temulawak siap dipanen pada umur 10 12 bulan, dengan dicirikan tanaman sudah senescen (mengering batang dan daunnya). Temulawak berkhasiat untuk meningkatkan nafsu makan, memperbaiki fungsi pencernaan, fungsi hati, pereda nyeri sendi dan tulang, menurunkan lemak darah, antioksidan dan menghambat penggumpalan darah.Kata kunci : Curcuma xanthorrhiza  Roxb,  teknologi budidaya, khasiat ABSTRACTApplication of Standard Operational Procedure to Support Java Turmeric as Potential Drug IngredientsJava turmeric (Curcuma xanthorrhiza  Roxb) is one of Indonesian native plants  cultivated  in West, Central and, East Java, Yogyakarta, Bali, North Sumatera, Riau, Jambi,  West  and  East  Kalimantan,  and  North  and South Sulawesi. Since rhizomes contain xanthorrizol, curcuminoid and essential oils, this plant has been widely   used   as   traditional   medicine                                                                                       (jamu), standardized  herbal  and  phytopharmaca  medicines. Applying standard operational procedure consisting of the  usage  of  a  good  variety,  selection  of  suitable environmental  condition,  soil  preparation,  seedling and planting techniques, and post harvest technology will produce high both yield and quality of rhizomes. Turmeric propagates via main or branch rhizomes. Seed should be chosen from the healthy plants age 10-12 months after planting. Rhizomes should have shiny skin and free from pests and diseases. Rhizomes may be divided into 2 - 4 pieces, which is 20-40 g/slice and have 2-3  shoots.  Organic  and  inorganic  fertilizers  ascertain quantity and quality of rhizomes. The need of inorganic  fertilizers  such  as  Urea,  SP36  and  KCl depends on soil fertility condition. Field in Type B climate having low N status, enough P and K status will produce 25.46 tones/ha rhizomes since it is applied with 20 ton/ha of dung manure, 300 kg/ha of Urea, 200 kg/ha of SP36 and 200 kg/ha of KCL.  Plant will ready to be harvested on 10 to 12 months after planting, indicated by senescent condition. Java turmeric can be used to enhance eating appetite, cure digesting and liver malfunctions, lower blood fat, antioxidants and inhibit blood clotting.Key words: Curcuma xanthorrhiza  Roxb,  cultivation tecnology,  medicinal uses
Prospek dan Strategi Pengembangan Perkebunan Kakao Berkelanjutan di Sumatera Barat DAMANIK, SABARMAN; HERMAN, HERMAN
Perspektif Vol 9, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v9n2.2010.%p

Abstract

ABSTRAKBeberapa tahun terakhir, perkebunan kakao (Theobroma cacao L.) Indonesia menghadapi permasalahan yang serius  dengan  mengganasnya  serangan  hama  dan penyakit  tanaman  kakao.  Produktivitas  perkebunan kakao  di  beberapa  sentra produksi  utama kakao Indonesia mengalami penurunan yang cukup tajam. Oleh karena itu pemerintah berupaya untuk mengurangi  dampak penurunan  produksi  dengan memacu peningkatan produksi di daerah yang potensial seperti  Sumatera  Barat  melalui  program revitalisasi. Namun program tersebut tidak berjalan lancar karena berbagai kendala antara lain: terbatasnya ketersediaan bahan tanam, terbatasnya tenaga pembina dan masih belum  memadainya  dukungan perbankan.   Untuk   membantu   mengatasi   masalah tersebut maka  kajian tentang prospek dan strategi pengembangan perkebunan kakao di Sumatera Barat, dengan   mengunakan   analisis   prospektif,   dapat memberikan beberapa alternatif solusi yang terbaik di dalam pengembangan kakao di Sumatera Barat. Hasil kajian menunjukkan bahwa perkebunan kakao  cukup penting bagi perekonomian regional Sumatera Barat dan prospektif untuk terus dikembangkan. Adapun faktor strategis yang mempengaruhi pengembangan dan  keberlanjutan  perkebunan  kakao  di  Sumatera Barat yaitu: ketersediaan teknologi, tenaga pembina, pelatihan petani, dukungan kebijakan, luas perkebunan kakao, produktivitas, keterampilan petani dan kelembagaan ekonomi petani. Kedelapan faktor-faktor strategis tersebut umumnya berada pada kondisi moderat dan mengarah ke kondisi optimistik karena pencanangan revitalisasi pengembangan perkebunan kakao di Sumatera Barat. Dukungan pendanaan dari perbankan dan  tenaga pembina baik dari segi jumlah maupun kualitasnya sangat diperlukan. Prospek dan strategi pengembangan kakao akan  bermanfaat  untuk  menilai  efisiensi  kegiatan agribisnis kakao dari segi peningkatan produktivitas dan pelestarian lingkungan sehingga terjadi pengembangan    komoditas    yang    berkelanjutan. Perkebunan    kakao    di    Sumatera    Barat    telah memberikan    peranan    penting    dan    mampu menyediakan kesempatan kerja kepada sekitar 60.000 kepala keluarga petani dan nilai rata-rata pendapatan petani   sekitar   Rp    10.790.000 /KK/tahun.   Untuk menjamin  keberlanjutan  pengembangan  perkebunan kakao diperlukan dukungan dan konsistensi kebijakan pemerintah serta komitmen perbankan dalam mendukung program revitalisasi perkebunan.Kata  kunci:  Theobroma  cacao  L.,  prospek,  stategi,     keberlanjutan, Sumatera Barat  ABSTRACTSProspect and Development Strategy of Sustainable Cocoa Plantation in West SumateraIn recent years, Indonesian cocoa (Theobroma cacao L.) plantation faces serious problems related to pests and diseases.  Cocoa  production  in  some  central  cocoa plantations decreased sharply. Therefore, Indonesian government  is  attempting  to  eliminate  impact  of reduction  of  plant  production  by  enhancing  cocoa production in some new potential planting areas such as  West  Sumatera  through  revitalization  program. However, this program does not run smoothly due to various constraints i.e. limited availability of planting materials,  limited  staff  and  supervisors  as  well  as support from the bank. In order to overcome these problems, prospect and strategy studies to develop cocoa plantations in West Sumatera using prospective analysis offer some prospective alternative solutions. The   study   shows   that  cocoa   plantation  is   quite important for the regional economy of West Sumatera and  prospective  to  be  developed  for  the  future economic. The strategic factors influencing the development and sustainability of cocoa plantations in West  Sumatera  are  the  availability  of  technology, supervisors,  trainers,  policy  support,  availability  of cocoa plantation, productivity, skill of farmers and institutional of farmer net work. These eight factors are generally positioned in moderate condition and lead to optimistic condition since launching revitalization of cocoa   plantation   development   in   West  Sumatera. Quantity and quality of funding and supervisors is needed. Prospects and development strategies of cocoa will be useful to assess the efficiency of agribusiness activities in terms of increasing of cocoa production and   sustainability   of   the   environment   resulting sustainable cocoa development. Cocoa plantations in West Sumatera have important roles and absorbed 60,000 workers/farmers with the average income of about  USD 1.198/year.  To  ensure  the  sustainable development of cocoa plantations support and consistency of government policy as well as bank's commitment are needed, especially to support revitalization plantation program.Keywords:  Theobroma  cacao  L,  prospect,  strategies, sustainability, West Sumatera

Page 1 of 1 | Total Record : 5