Articles
13 Documents
Search results for
, issue
"1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT"
:
13 Documents
clear
SEKTOR PENDIDIKAN DALAM RAPBN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.812 KB)
      Seperti yang sebelumnya sudah diperkirakan banyak pengamat, tentu saja berdasarkan berbagai indikator yang relevan, maka Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 1993/1994 mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun yang sebelumnya.        Perkiraan tersebut di atas ternyata terbukti. Di dalam mengantarkan keterangan pemerintah di depan Sidang Paripurna DPR tanggal 7 Januari 1993 yang lalu Presiden RI Soeharto menjelaskan bahwa RAPBN 1993/1994 sekarang ini bernilai Rp 62,3 trilyun (tepatnya Rp 62.322,1 milyar); yang berarti naik sebesar 11,1% apabila dibanding dengan APBN 1992/1993 yang nilainya berkisar pada angka Rp 56,1 trilyun (tepatnya Rp 56.108,6 milyar).        Kenaikan anggaran yang demikian itu kiranya telah menjadi semacam tradisi bagus dalam sistem perencanaan pembangunan kita. RAPBN 1992/1993 yang lalu juga telah mengalami kenaikan nilai sebesar 11,0% dibandingkan APBN tahun yang sebelumnya, 1991/1992; sedangkan RAPBN 1991/ 1992 nilai kenaikannya bahkan mencapai 17,9% dibanding-kan dengan APBN pada tahun sebelumnya, 1990/1991.
MAKNA HASIL EBTANAS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (410.754 KB)
      Apabila tiada aral yang melintang maka hari Sabtu 29 Mei 1993 ini hasil Ebtanas pada Sekolah Menengah Umum tingkat Atas (SMA) diumumkan secara serentak. Para siswa SMA yang tiga atau empat minggu lalu mengkonsentrasikan diri pada moment evaluasi belajar tersebut hari ini bisa melihat langsung hasil jerih payahnya selama ini.        Ebtanas SMA tahun 1992/1993 kali ini diikuti oleh lebih dari satu juta siswa yang semuanya berharap supaya hasilnya optimal, meskipun tidak semua peserta Ebtanas tersebut benar-benar optimal mempersiapkan dirinya dalam mengikuti moment penting ini. Dari jumlah yang lebih da-ri satu juta siswa ini sebagian besar mengharapkan kalau berhasil menempuh Ebtanas dan lulus SMA-nya dapat segera melanjutkan studi ke perguruan tinggi, meskipun di dalam kenyataannya nanti hanya sebagian kecil saja dari jumlah tersebut yang dapat melanjutkan studinya.        Bahwa antara harapan dengan kenyataan sering ter-dapat kesenjangan memang bukan hal yang aneh lagi; namun begitu bukan berarti bahwa peserta Ebtanas SMA yang memi liki harapan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi itu salah. Harapan tersebut cukup realistik karena seba-gai sekolah umum lulusan SMA memang lebih dipersiapkan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
PENGHAPUSAN STM DAN SMEA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (411.583 KB)
      Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur) Depdikbud, J. Pakpahan, baru-baru ini meluncurkan berita yang mengundang tanda tanya besar di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat akademik. Beliau menyatakan bahwa mulai tahun depan Sekolah Menengah Teknologi (STM) serta Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) akan dihapus.        Informasi resmi, karena dinyatakan oleh seorang pejabat yang memang berwenang di bidangnya, yang berni-lai "news" tersebut ternyata bukan saja mengundang aneka pertanyaan akan tetapi sekaligus menciptakan sedikit ke-bingungan pada sementara masyarakat akademik kita, baik guru, pengurus sekolah, maupun para siswa. Mereka banyak yang mengeluh, kebijakan apa lagi yang akan diaplikasi oleh pejabat departemen pendidikan; kebijakan yang satu belum dapat dilaksanakan secara tuntas sudah muncul ke-bijakan lain lagi.        Seperti yang kita ketahui akhir-akhir ini memang banyak kebijakan-kebijakan pendidikan yang berhubungan langsung dengan pendidikan kejuruan; misalnya kebijakan tentang penyelenggaraan SLTP Keterampilan, Sistem Magang (Apprentice System), Program Sekolah Seutuhnya (School Integrated Development), Institusi Pasangan,Pengembangan Sumber Daya Manusia Sekolah Kejuruan (HRD of Vocational School), dan sebagainya.
PLUS MINUS PENGATURAN GELAR AKADEMIK
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (473.73 KB)
      Isu paling aktual pada perguruan tinggi sekarang ini ialah menyangkut pengaturan pemakaian gelar akademik bagi lulusan perguruan tinggi. Hal ini tercermin di dalam Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nomer 036/U/1993 yang dikeluarkan pada awal tahun 1993 ini.        Keluarnya SK Mendikbud itu sendiri oleh kalangan akademik sudah diantisipasi sejak lama karena munculnya fenomena kerancuan pemakaian gelar akademik di masyarakat sesungguhnya bukan akhir-akhir ini saja terjadinya; sejak dulu fenomena ini telah berkembang meskipun belum serancu sekarang ini. Sekarang ini masalah pemakaian gelar akademik bukan saja rancu tetapi sudah cenderung berbau kriminal yang merugikan masyarakat.        Keadaan tersebut di atas menimbulkan gagasan dan pemikiran tentang perlu diaturnya pemakaian gelar akade-mik; dan oleh karena pemberi gelar akademik pada umumnya ialah lembaga-lembaga pendidikan tinggi di bawah naungan Depdikbud, meski ada pula yang berada di bawah naungan depertemen lain, maka Mendikbud menjadi tumpuan harapan untuk mengeluarkan aturan ataupun ketentuan mengenai hal tersebut. Kalau sekarang ini Mendikbud benar-benar telah merealisasi aturan atau ketentuan yang tertuang dalam SK kiranya memang bukan hal baru, apalagi surprisse.
SISTEM MAGANG DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (411.487 KB)
      Mulai tahun ajaran 1994/1995 mendatang Depdikbud berencana akan memberlakukan sistem magang pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Di berbagai manca negara sistem ini mempunyai sebutan yang tersendiri, misalnya saja di Australia disebut dengan industry apprentice atau ada yang menyebut apprentship system, di Jerman sistem ini disebut dengan dual system, bahkan di negara-negara lain ada yang menyebut dengan tryal system.        Rencana penerapan sistem magang tersebut memang cukup ideal apabila dikaitkan dengan keinginan Depdikbud untuk mendekatkan dunia pendidikan dengan dunia industri atau dunia kerja. Dalam terminologi yang tengah populer maka sistem magang berada dalam kerangka link and match sebagai pijakan dalam pengembangan sistem pendidikan di Indonesia saat ini.        Mendikbud Wardiman Djojonegoro sendiri menyatakan bahwa sistem magang tersebut bertujuan untuk meningkat-kan kualitas tenaga kerja Indonesia. Sistem magang bukan saja hanya bermanfaat bagi lembaga pendidikan akan teta-pi nantinya sangat bermanfaat pula bagi dunia industri; oleh karena itu sudah tiba waktunya secara bersama-sama dunia pendidikan dan dunia industri mengkampanyekan sis-tem yang di Indonesia relatif baru ini.
DINAMIKA PENDIDIKAN TINGGI, DASAR DAN MENENGAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (430.402 KB)
      Sebagaimana yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, ternyata perjalanan pendidikan nasional kita pada tahun 1993 ini sangat menarik karena diwarnai oleh romantika akademik yang heteroton.Secara kasus per kasus banyak hal yang perlu mendapat perhatian, bahkan sebuah kasus pendidikan belum tertuntaskan keburu muncul kasus lain yang tak kalah menariknya. Barangkali inilah ciri-khas pendidikan kita; penuh kasus, gosip, deviasi-imple-mentatif, terkadang intrik-intrik yang terlimitasi.        Perjalanan pendidikan tinggi sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional ternyata juga penuh romantika dan dinamika; dari hal-hal yang bersifat konsepsual se-misal konsep akreditasi yang adil dan profesional sampai hal-hal yang bersifat implementatif semisal "kekisruhan" mengenai pemberian dan pemakaian gelar akademik.        Ketika lembaran tahun 1993 dibuka dunia perguruan tinggi langsung dihadapkan pada permasalahan pengawasan dan pembinaan lembaga. Permasalahan ini kemudian menjadi isu menarik ketika dikaitkan dengan sistem akreditasi. Isu ini pun menjadi lebih menarik lagi ketika beberapa petinggi Depdikbud "menjanjikan" segera dibentuknya ba-dan akreditasi, disebut Badan Akreditasi Nasional (BAN), yang akan ditugasi mengawasi perguruan tinggi.
EFISIENSI SEKOLAH SWASTA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (411.006 KB)
Ketika memberikan presentasi di dalam acara Munas V Ikatan Purnakaryawan Departemen Pendidikan dan Kebuda-yaan baru-baru ini di Semarang, Sekretaris Jenderal Dep-dikbud Hasan Walinono menyatakan bahwa efisiensi sekolah swasta di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Barangkali beliau ingin menyatakan bahwa efisiensi sekolah swasta masih rendah; hanya karena etika saja beliau menyatakan dengan kalimat yang lebih "kultural". Pada sisi yang lain beliau juga menyatakan bahwa pembinaan sekolah swasta dan negeri untuk peningkatan re levansi, mutu maupun efisiensi dan efektivitasnya masih perlu ditingkatkan secara bertahap dan terencana. Untuk mendukung pernyataannya tersebut Pak Hasan sempat menyajikan data statistik sebagai berikut. Berda-sarkan pada statistik persekolahan tahun 1990/1991 versi Balitbang Dikbud maka siswa SMP swasta hanya berjumlah 2.145.305 anak untuk 12.994 sekolah, sedangkan siswa SMP negeri berjumlah 3.437.260 anak untuk 7.271 sekolah.
KETERBUKAAN PAK TRY SUTRISNO
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (411.178 KB)
Pada suatu waktu kami bertemu Pak Try Sutrisno di sebuah acara pendidikan dan kebudayaan. Waktu itu beliau "masih" menjadi Pangab, belum menjadi wakil presiden seperti sekarang ini. Salah satu pesan beliau yang selalu saya ingat adalah mengenai keterbukaan. Pak Try bertanya pada saya apakah pernah melihat strip-tease. Kebetulan saya pernah hidup di manca negara waktu itu, baik di negara-negara Asia maupun Eropa; jadi kepada beliau saya katakan sudah pernah melihat melalui pengalaman hidup di negeri orang tersebut. Lebih lanjut Pak Try bertanya apakah saya pernah melihat penari Jawa Timur atau Bali yang suka memakai "kemben" kalau sedang menampilkan kemampuan seninya. Saya menjawab sudah; bah-kan dapat menyebutkan beberapa jenis tarian Jawa Timuran dan Bali yang pernah dan sering saya nikmati. Apakah yang bisa dipetik hikmahnya dari kasus dua kultur itu? Kali ini saya menjadi "bengong" karena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh beliau. Akhirnya Pak Try menjelaskan makna filosofis yang terkandung di dalam kasus dua kultur itu tentang ada dan tidak adanya rambu-rambu pembatas keterbukaan yang menja di garis etik-kultural bangsa. Artinya kalau keterbukaan itu melampaui garis etik-kultural maka keterbukaan itu pada akhirnya tidak akan bermanfaat; bahkan bisa berubah menjadi boomerang bagi kita. Barulah saya mulai mengerti maksud Pak Try;dan Ki Suratman (Tamansiswa) yang berdiri di samping saya sempat manthuk-manthuk tanda setuju. Le-bih lanjut Pak Try berpesan,hendaknya kita mengembangkan keterbukaan tanpa melampaui garis etik-kultural.
'LINK AND MATCH' DALAM KONSEP SDM
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (411.623 KB)
Seorang peserta seminar bertanya kepada pemakalah mengenai negara mana yang akan menjadi macan kelima di Asia, "Apakah Indonesia akan sanggup menjadi macan yang kelima?". Seperti kita ketahui bahwa sekarang ini telah muncul empat negara industri yang baru, Newly Industrial Countries (NIC), di benua Asia. Adapun keempat negara ini, Singapore, Hongkong, Taiwan, serta Korea (Selatan), dalam terminologi ekonomik dikenal dengan sebutan empat macan (the four tigers) atau ada yang menyebutnya empat naga kecil (the four little dragons) di Asia. Mengenai kemungkinan Indonesia menjadi macan ke-lima maka secara diplomatis pemakalah menjawab bahwa itu semua sangat tergantung pada efektivitas pendidikan da-lam meningkatkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Memang demikianlah adanya! Di dalam era industri-alisasi sekarang ini keunggulan komparatif (comparative advantage) yang dimiliki bangsa Indonesia tak lagi dapat diandalkan untuk mengantisipasi perubahan alam dan jaman tanpa dibersamai dengan peningkatan kualitas SDM untuk meningkatkan keunggulan kompetitif (competitive advanta-ge) secara memadai.
JUAL BELI SKRIPSI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (411.042 KB)
Kasus jual beli skripsi akhir-akhir ini nampaknya cukup menyita perhatian masyarakat, khususnya masyarakat akademik. Banyak orang heran, karya ilmiah yang disusun dalam waktu yang relatif tidak singkat dan didokumentasi secara khusus oleh pemiliknya ternyata dapat diperjual-belikan di "pasar bebas" tanpa sepengetahuan pemiliknya; meskipun sebagian yang diperjual-belikan tersebut bukan naskah asli, hanya copynya saja. Keheranan tersebut semakin menjadi-jadi manakala diketahui adanya sistem pemesanan yang berlaku. Kabarnya seseorang calon pembeli dapat memesan jenis skripsi dari bidang studi tertentu yang diinginkannya, misalnya saja bidang ekonomi, pendidikan, hukum, kependudukan, dsb,dan di dalam waktu yang relatif singkat pesanan inipun dapat disediakan. Dibandingkan dengan karya-karya ilmiah yang lainnya skripsi ini harganya relatif mahal, bisa berli-pat ganda dibandingkan ongkos copynya. Berapakah jumlah skripsi yang beredar di pasaran? Jumlahnya relatif banyak, bukan saja puluhan atau ratus-an, akan tetapi mencapai ribuan eksemplar. Angka-angka ini baru sebatas yang "diamankan" pihak berwajib, belum termasuk yang "diamankan" penjualnya.