cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Matematika & Sains
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 17, No 1 (2012)" : 6 Documents clear
Vertex-Magic Total Labeling Algorithms on Unicycle Graphs and Some Graphs Related to Wheels Denny Riama Silaban; Budi Utami; Alfa Isti Ananda; Dhian Widya; Siti Aminah
Jurnal Matematika & Sains Vol 17, No 1 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Let G be a graph with vertex set V and edge set E, where |V| and |E| be the number of vertices and edges of G. A bijection λ : V È E ® {1, 2, …, |V| + |E|} is called a vertex-magic total labeling if there is a constant k so that the weight of vertex x, wλ(x) = λ(x) + åyÎN(x) λ(xy) = k, for all x in V where N(x) is the set of vertices adjacent to x. This paper gives algorithms to generate all vertex-magic total labelings on some classes of unicycle graphs (suns and tadpoles) and some classes of graph related to wheels (friendships, fans, generalized Jahangirs). Using those algorithms, we enumerate all non isomorphic vertex-magic total labelings on those classes of graphs for some values of |V|.   Keywords: Fan, Friendship, Generalized Jahangir, Sun, Tadpole, Unicycle, Vertex magic total labeling, Wheel.   Algoritma Pelabelan Total Simpul Ajaib pada Graf Unicyle dan Beberapa Graf yang Terkait dengan Roda Abstrak Misalkan G adalah graf dengan himpunan simpul V dan himpunan busur  E dengan |V| dan |E| menyatakan banyak simpul dan banyak busur pada G. Fungsi bijektif  λ : V È E ® {1, 2, …, |V| + |E|} disebut pelabelan total simpul ajaib jika ada konstanta k sedemikian sehingga bobot simpul x, wλ(x) = λ(x) + åyÎN(x) λ(xy) = k, untuk setiap x di V dengan N(x) menyatakan, himpunan simpul yang berdekatan dengan x. Makalah ini memberikan algoritma-algoritma untuk menghasikan semua pelabelan-pelabelan  total simpul ajaib pada beberapa kelas graf unicycle (matahari dan kecebong) dan beberapa kelas graf yang terkait dengan roda (friendship, kipas, generalized Jahangir). Menggunakan algoritma-algoritma tersebut, dienumerasi semua pelabelan total simpul ajaib yang tidak isomorfik pada kelas-kelas graf yang menjadi perhatian, untuk beberapa nilai dari |V|. Kata kunci: Friendship, Generalized Jahangir, Kecebong, Kipas, Matahari, Pelabelan total simpul ajaib, Unicycle. 
Model Matematika Pada Mekanisme Laju Korosi Logam Baja Karbon dengan Penambahan Inhibitor Nuning Nuraini; Novriana Sumarti; Deana Wahyuningrum
Jurnal Matematika & Sains Vol 17, No 1 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Korosi pada logam, yang disebabkan reaksi dengan lingkungannya, merupakan proses pelarutan logam membentuk senyawanya dalam lingkungan korosif seperti adanya air, gas oksigen dan karbondioksida.  Korosi tidak dapat dihilangkan, namun dapat dikendalikan atau dicegah. Salah satu cara untuk mengatasi korosi, terutama yang terjadi pada permukaan bagian dalam suatu pipa logam, adalah dengan penambahan suatu inhibitor korosi.  Dengan melihat proses terjadinya korosi dari sudut pandang berkurangnya logam persatuan waktu, diturunkanlah suatu model matematika yang memperlihatkan pengaruh senyawa inhibitor korosi terhadap logam, khususnya baja karbon dalam larutan NaCl 1%.  Model yang diperoleh, yang merupakan pengembangan dari model sebelumnya, menggambarkan penambahan senyawa inhibitor dengan 2 cara, yaitu pada saat awal saja dan cara penambahan secara kontinu. Hasil yang didapat menunjukkan beberapa nilai konsentrasi dari inhibitor memberikan pengaruh pada mekanisme laju korosi secara efisien untuk menghentikan proses korosi. Kata kunci: Baja karbon, Inhibitor korosi, Laju korosi, Model matematika.   Mathematical Model on Corrosion Rate Mechanism of Carbon Steel by Inhibitor Addition Abstract Corrosion is the deterioration of a material due to interaction with its environment. It is the dissolution process of metal in which metallic atoms are oxidized to form its compounds in the presence of water and gases, such as oxygen and carbon dioxide. Even though this corrosion cannot be eliminated, it can be controlled or prevented.  One way to control corrosion, especially corrosion that occurred at the inner parts of metallic pipelines, is by addition of corrosion inhibitor. If the corrosion process was assumed as the rate of decaying process of metal per times unit, then the mathematic model can be derived to describe the effect of addition of inhibitor towards corrosion rate of metal, especially carbon steel in 1% NaCl solution. The result show that several values of inhibitor concentration provide the efficient effect on the corrosion rate mechanism to stop the corrosion process. Keywords: Carbon steel, Corrosion inhibitor, Corrosion rate, Mathematical model.
Grup Defect pada Grup PSL(2,3) dan PSL(2,5) Aditya Purwa Santika
Jurnal Matematika & Sains Vol 17, No 1 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Misalkan p bilangan prima, G grup dengan p membagi orde G dan F lapangan dengan karakteristik p. Aljabar grup atas F adalah ruang vektor dengan basis unsur di G dan dinotasikan sebagai FG. Misalkan B adalah blok dari FG, grup defect bagi B merupakan suatu verteks bagi F(G ´ G)-modul B. Dalam tulisan ini, penulis memberikan contoh perhitungan grup defect dari aljabar grup dengan basis grup PSL(2,3) dan PSL(2,5). Kata kunci: Aljabar grup, Blok, grup Defect, Verteks.   Defect Grup on PSL(2,3) and PSL(2,5) Grups Abstract Let p be a prime, G be a group with p divides the order of G and F be a field with characteristic p. Group algebra over F is a vector space with elements in G as its basis and it is denoted by FG. Let B be a block of FG, a  defect group for B is a vertex of F(G ´ G)-module B. In this paper, we give examples of defect group of group algebras with basis PSL(2,3) and PSL(2,5). Keywords: Group algebra, Block, Defect group, Vertex.
Penanganan Rehidrasi Setelah Olahraga dengan Air Kelapa (Cocos nucifera L.), Air Kelapa ditambah Gula Putih, Minuman Suplemen, dan Air Putih Samsul Bahri; Joseph Iskendiarso Sigit; Tommy Apriantono; Rini Syafriani; Lusi Putri Dwita; Yoza H. Octaviar
Jurnal Matematika & Sains Vol 17, No 1 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah diteliti pengaruh rehidrasi menggunakan air kelapa dan air kelapa ditambah gula putih, dibandingkan terhadap minuman suplemen yang telah beredar di pasaran. Penelitian ini dilakukan dengan metode double blind cross over design  sebanyak empat kali penelitian dengan masa washout selama satu minggu. Pertama dilakukan pengkondisian status hidrasi, kemudian atlet diminta berlari pada 75% VO2maks selama 1 jam sehingga mengalami dehidrasi. Penggantian cairan tubuh dilakukan setelah berlari yaitu pada periode rehidrasi dengan volume minuman uji yang setara dengan 120% cairan yang hilang selama berolah raga. Rehidrasi menggunakan air kelapa dan air kelapa ditambah gula putih mengembalikan berat badan tubuh dan hematokrit kembali ke normal (mencapai tahap euhidrasi), dengan indeks rehidrasi lebih baik dari pada air biasa (kontrol), yaitu 2,09±0,32, 2,40±0,45,  2,14±0,38 dan 3,02±0,52 berturut-turut  untuk air kelapa, air kelapa ditambah gula putih, minuman suplemen “X”, dan kontrol. Selain itu air kelapa menginduksi produksi urin lebih sedikit dibandingkan air kelapa ditambah gula putih dan minuman suplemen “X”, namun air kelapa ditambah gula putih lebih baik dalam mempertahankan kadar glukosa darah atlet selama periode rehidrasi. Kata kunci: Indeks rehidrasi, Dehidrasi, Air kelapa, Air kelapa ditambah gula putih, Glukosa darah.   Treatment for Rehidration After Exercise with Coconut Water (Cocos nucifera L.), White Sugar Enrichted Coconut Water, Suplement Beverage and Water Abstract The influences of coconut water and white sugar enriched coconut water compared to commercial supplement beverage to heal dehydration, have been investigated. Method used in this assesment was double blind cross over design in four times experiment  and one week washout period. After conditioning athletes’ hydration, athletes ran at 75% VO2max  for one hour until reached dehydration state. Then body fluid loss recovered during rehydration period equal to 120% fluid lost during exercise. Rehydration used coconut water recovered athletes’ condition back to normal through body weight and hematocrit recovery, with rehydration index better than control, which were 2,09±0,32, 2,40±0,45,  2,14±0,38 and 3,02±0,52 respectively for coconut water, enriched coconut water, “X” supplement beverage and plain water (control). Coconut water induced urine production less than sugar enriched coconut water and “X” supplement beverage, but enriched coconut water was better in maintaining athletes blood sugar levels during the rehydration period. Keywords: Rehydration index, Dehydration, Coconut water, White sugar enriched coconut water, Blood glucose.
Dirac Quantization for Interaction Lagrangian with Time Derivative Terms Syaefudin Jaelani; Anto Sulaksono
Jurnal Matematika & Sains Vol 17, No 1 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The presence of the second order time derivative terms in interaction Lagrangian density of fermions system precludes to apply directly the quantization procedure to its canonical Hamiltonian. Field transformation is used here to handle this problem, so that the transformed Hamiltonian density can be quantized by using Dirac quantization procedure. We obtain the two sets primary constraints which are used to construct Dirac matrix, bracket relation as well as the transformed Hamiltonian. Using this transformed Hamiltonian, the 00-component of energy momentum tensor as well as the equation of state of the system are calculated. Keywords: Field transformation, Canonical Hamiltonian, Transformed Hamiltonian density, Dirac quantization procedure.   Kuantisasi Dirac untuk Lagrangian Interaksi dengan Suku-Suku Turunan terhadap Waktu Abstrak Keberadaan suku turunan orde kedua terhadap waktu pada kerapatan Lagrangian interaksi pada sistem fermion menghalangi penggunaan prosedur kuantisasi secara langsung pada Hamiltonian kanonik sistem. Transformasi medan digunakan disini untuk mengatasi masalah tersebut, sehingga kerapatan Hamiltonian hasil transformasi dapat dikuantisasi dengan menggunakan prosedur kuantisasi Dirac. Kami memperoleh dua buah kendala primer yang digunakan untuk membentuk matriks Dirac, relasi braket dan memperoleh Hamiltonian yang siap dikuantisasi. Dengan menggunakan Hamiltonian ini, komponen-00 tensor momentum energi dan persamaan keadaan sistem dapat diperoleh. Kata kunci: Ttransformasi medan, Hamiltonian kanonik, Kerapatan Hamiltonian hasil transformasi, Prosedur kuantisasi Dirac.
Pengaruh Fotoperiode terhadap Respon Stres dan Parameter Reproduksi pada Mencit Jantan (Mus musculus L.) Galur Swiss Webster Ahmad Ridwan; Zuliyanto Zakaria; Anggraini Barlian
Jurnal Matematika & Sains Vol 17, No 1 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Modernisasi mengubah pola aktivitas manusia dalam rentang waktu 24 jam. Dewasa ini banyak pola aktivitas manusia yang bergeser ke malam hari sehingga terjadi  peningkatan aktivitas dan paparan cahaya hingga malam hari. Pergeseran pola aktivitas ini diduga akan mengubah ritme jam biologis dan dapat menimbulkan stres serta gangguan vitalitas seseorang. Namun kajian tentang pengaruh perubahan fotoperiode terhadap respon stres serta parameter reproduksi masih jarang dilakukan. Penelitian ini menggunakan hewan model mencit SW jantan berumur 4 minggu sebanyak 25 ekor yang dibagi ke dalam 4 kelompok perlakuan berdasarkan durasi fotoperiode yang digunakan yakni 0T, 6T, 18T, 24T dengan 12T sebagai kelompok kontrol (T = durasi terang dalam jam). Intensitas cahaya yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 100-110 lux. Seluruh hewan uji didedahkan dengan masing-masing perlakuan fotoperiode selama 2 bulan. Parameter yang diukur meliputi kadar kortikosteron plasma dan berat badan sebagai parameter respon stres, serta kadar testosteron plasma, jumlah sperma dan berat testis sebagai parameter reproduksi. Pengukuran parameter berat badan dilakukan selama pendedahan, sedangkan pengukuran parameter lainnya dilakukan setelah pendedahan fotoperiode. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa fotoperiode 0T dan 24T dapat meningkatkan kadar kortikosteron plasma secara signifikan dari kelompok kontrol (p

Page 1 of 1 | Total Record : 6