cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Matematika & Sains
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue " Vol 18 No 3 (2013)" : 5 Documents clear
Pemodelan Penyebaran Panas Dalam Fluida Newtonian Tak Mampu Mampat Menggunakan Cellular Automata Apriansyah, Apriansyah; Mihardja, Dadang Kurniadi
Jurnal Matematika dan Sains Vol 18 No 3 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Model cellular automata (MCA) telah digunakan untuk mensimulasikan penyebaran panas dalam fluida Newton tak mampu mampat di daerah sintetik dan perairan pantai sekitar outlet Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Muara Tawar Kabupaten Bekasi. Dalam daerah model sintetik hanya proses adveksi dan difusi yang diperhatikan, dengan interaksi antar sel yang sedang dihitung (sel utama) dan sel di sekitarnya (sel tetangga) diberlakukan beberapa skenario pembobotan. Nilai bobot sel utama yang dipilih dalam proses adveksi adalah 0,10; 0,50; dan 0,90, dan untuk difusi 0,15; 0,20; dan 0,80, sementara pada adveksi-difusi dipilih kombinasi dari kedua bobot tersebut. Pola distribusi suhu hasil simulasi MCA menunjukkan kesesuaian yang baik dengan model analitik dan numerik, dimana perbedaannya terhadap model analitik adalah 3,79% untuk koefisien difusi yang kecil dan 2,42% untuk koefisien difusi besar. Sedangkan perbedaannya terhadap hasil model numerik adalah 9,39% (koefisien difusi kecil) dan 3,42% (koefisien difusi besar). Dalam simulasi MCA di perairan pantai Muara Tawar, penulis memperhatikan proses pertukaran panas antara laut dan udara selain proses adveksi dan difusi, dan skenario pembobotan adveksi yang dipakai sebesar 0,50 dan untuk difusi 0,15. Perbandingan dengan studi terdahulu menunjukkan pola penyebaran yang sama dengan perbedaan reratanya sebesar 0,13% pada saat menuju surut dan sekitar 0,25% saat menuju pasang. Kata Kunci: Model cellular automata, Adveksi, Difusi, Interaksi udara – laut, Daerah sintetik dan perairan pantai.   Modelling of Thermal Dispersion in the Incompressible Newtonian Fluid by Using Cellular Automata  Abstract Cellular automata model (CAM) has been adopted to simulate thermal dispersion in the incompressible Newtonian fluid in the synthetic domain and the coastal waters near of the Muara Tawar power plant at Bekasi region. In the synthetic model, only advection and diffusion processes are considered in which several weighting scenario  are applied to represent the interaction between calculated cell (main cell) and its cells. The chosen weighting factors of the main cell in the case of advection are 0.10; 0.50; and 0.90, while for the case of diffusion are 0.15; 0.20; and 0.80. In the case of advection-diffusion, the chosen weighting factors are the combinations of the above. Patterns of temperature distribution obtained from simulations are in good agreement with analytical and numerical models. The differences to analytical model are 3.79% for small diffusion coefficient and 2.42% for that of large diffusion, while its difference to numerical model results are 9.39% (small diffusion coefficient) and 3.42% (large diffusion). In the case of CAM simulation of thermal dispersion in the coastal waters of the Muara Tawar Bekasi, we consider advection, diffusion and also heat exchange between sea and air, as well as using weighting scenarios of 0.50 and 0.15 for advection and diffusion, respectively. We found similar dispersion patterns as reported by another study with a difference of about 0.13% during ebb tide and 0.25 % during flood tide. Keywords  : Cellular automata model, Advection, Diffusion, Sea – air interaction, Synthetic and coastal waters areas.
Pemodelan Aliran Fluida 2-D Pada Kasus Aliran Permukaan Menggunakan Metode Beda Hingga Hapsoro, Cahyo Aji; Srigutomo, Wahyu
Jurnal Matematika dan Sains Vol 18 No 3 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persamaan dasar aliran fluida yang disebut persamaan Navier-Stokes merupakan persamaan diferensial parsial non linier yang kompleks. Untuk menyelesaikan dan memodelkan aliran fluida perlu dilakukan pendekatan numerik, salah satunya dengan metode beda hingga. Penyelesaian persamaan Navier-Stokes dilakukan dengan meninjau beberapa asumsi penyederhanaan yaitu: fluida bersifat tak termampatkan, parameter aliran bergantung pada arah spasial x dan y, serta semua variabel dianggap sebagai fungsi periodik. Pemodelan numerik dilakukan untuk menghitung ketidakstabilan Kelvin-Helmholtz lapisan campuran, evolusi struktur vorteks dan dipol vorteks. Ketidakstabilan Kelvin-Helmholtz divariasikan dengan nilai panjang gelombang gangguan sebesar l = 0.5Lx  dan l = 0.25Lx. Bilangan Reynolds (Re) divariasikan dengan nilai 1000, 3000, dan 5000. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa untuk ketiga Re tersebut, aliran fluida bersifat laminar, kritis, dan turbulen. Hal ini terindikasi oleh arah medan vortisitas serta distribusi massa jenis fluida. Semakin besar kecepatan aliran maka sifat aliran akan menjadi semakin acak atau turbulen. Kata kunci: Aliran fluida, Persamaan Navier-Stokes, Bilangan Reynolds, Vortisitas, Ketidakstabilan Kelvin-Helmholtz.   2-D Fluid Surface Flow Modeling using Finite-Difference Method Abstract Navier-Stokes equation is a complex non-linear second-order partial differential equation describing a fluid flow. Solving and modeling the fluid flow, a numerical method called finite difference method is frequently used. Several assumptions are incorporated in solving numerically Navier-Stokes equation: the fluid is incompressible, fluid flow parameters depend on its positions, and all variables are considered as periodic functions. In this paper numerical calculation has been carried out to model the Kelvin-Helmholtz instability of mixed layer, evolution of vortex structure and vortex dipole. The calculation is done by varying perturbation wavelength l = 0.5Lx  and l = 0.25Lx. Reynolds number (Re) is varied at 1000, 3000, and 5000. The results show that for the three values of Re, the properties of the flows are laminar, critical, and turbulent, respectively as indicated by the vorticity direction and distribution of fluid density. The larger value of fluid velocity, the more random and turbulent the fluid is. Keywords: Fluid flow, Navier-Stokes equation, Reynolds number, Vorticity, Kelvin-Helmholtz instability.
Degradasi Sitrinin Dalam Kaldu Fermentasi Cair Monascus Purpureus oleh Hidrogen Peroksida Inayah, Istiyati; Wibowo, Marlia Singgih; Julianti, Elin
Jurnal Matematika dan Sains Vol 18 No 3 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Monascus purpureus menghasilkan metabolit sekunder antara lain pigmen, lovastatin, γ-aminobutyric acid (GABA), asam dimerumat, dan sitrinin. Salah satu metabolit sekundernya yaitu sitrinin, merupakan senyawa hepatotoksik-nefrotoksik. Untuk menghilangkan senyawa sitrinin dari kaldu fermentasi M. purpureus maka ditambahkan hidrogen peroksida (H2O2) ke dalamnya. Dalam penelitian ini degradasi sitrinin dilakukan dengan menambahkan H2O2 dengan variasi konsentrasi 1, 2, 3, 4, dan 5%, kemudian diinkubasi dengan variasi waktu inkubasi 2, 3, 4, dan 24 jam. Kemudian kadar sitrinin, absorbansi pigmen, dan residu H2O2 dari hasil degradasi dianalisis. Hasil percobaan menunjukkan bahwa sitrinin terdegradasi paling banyak setelah diinkubasi selama 24 jam yaitu sebesar : 89,50; 89,61; 89,42; 89,62; dan 89,62 % berturut-turut pada penambahan : H2O2  1, 2, 3, 4, dan 5 %. Namun degradasi terhadap sitrinin berdampak pada degradasi pigmen juga. Setelah inkubasi selama 24 jam, pigmen terdegradasi sebesar : 12,13; 21,15; 30,40; 39,74; dan 47,05 % berturut-turut pada penambahan H2O2  1, 2, 3, 4, dan 5 %.  Dalam waktu 24 jam, H2O2 yang ditambahkan pada kaldu fermentasi tidak seluruhnya bereaksi dengan sitrinin dan pigmen sehingga dihasilkan residu H2O2 sebesar : 0,015; 0,303; 0,491; 0,824; dan 0,954 % (gr/L) berturut-turut pada penambahan H2O2 : 1, 2, 3, 4, dan 5 %. Proses degradasi sitrinin paling baik adalah pada penambahan H2O2 1% dengan waktu inkubasi 24 jam yang mampu mendegradasi sitrinin sampai 89,50 %, namun hanya mendegradasi pigmen 12,13 % dan menyisakan residu H2O2 0,015 %. Kata kunci: Degradasi, Sitrinin, Hidrogen peroksida, Monascus purpureus   Citrinin Degradation in Liquid Fermentation Broth of Monascus Purpureus by Hydrogen Peroxide Abstract Monascus purpureus produced secondary metabolites such as pigments, lovastatin, γ-aminobutyric acid (GABA), dimerumic acid, and citrinin. One of secondary metabolites, i.e. citrinin is hepatotoxic-nephrotoxic compounds. Hydrogen peroxide (H2O2) was added to eliminated citrinin in fermentation broth of M. purpureus. In this research, citrinin was degradated by hydrogen peroxide with adding various concentration of  H2O2 : 1, 2, 3, 4, and 5 % into the liquid fermentation broth and then incubated with various incubation times 2, 3, 4, and 24 hours. Citrinin concentration, pigment absorbance and residual H2O2 were analyzed. The experimental results showed that the most widely citrinin degraded after 24-hour incubation period that was equal to : 89.50, 89.61, 89.42, 89.62, and 89.62 % on addition of : H2O2 1, 2, 3, 4, and 5 %, respectively. However, degradation citrinin impacted on degradation pigments as well. After 24 hours of incubation, pigment was degraded : 12.13, 21.15, 30.40, 39.74, and 47.05 % on addition of : H2O2 1, 2, 3, 4, and 5 % respectively. Within 24 hours, H2O2 that was added to fermentation broth was not fully reacted with citrinin and pigmen, leaving a residue of H2O2 : 0.015, 0.303, 0.491, 0.824, and 0.954 % (g / L) successive addition of H2O2 at 1, 2, 3, 4, and 5 %. The best use of H2O2 concentration to degrade citrinin is H2O2 1% with a 24-hour incubation period which can degrade citrinin up to 89.50%, but the pigment degrades only 12.13% and leaving H2O2 residue of 0.015%. Keywords : Degradation, Citrinin, Hydrogen peroxide, Monascus purpureus
Pengaruh Perbandingan Molaritas Prekursor terhadap Fotoluminesensi BCNO yang Disintesis dengan Metode Hidrotermal Septia Mahen, Ea Cahya; Nuryadin, Bebeh Wahid Nuryadin Wahid; Iskandar, Ferry; Abdullah, Mikrajuddin; Khairurrijal, Khairurrijal
Jurnal Matematika dan Sains Vol 18 No 3 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Fosfor BCNO yang terdispersi pada likuid telah berhasil disintesis menggunakan metode hidrotermal. Bahan dasar (prekursor) yang digunakan adalah asam borat [B(OH)3] sebagai sumber boron, urea [(NH2)2CO] sebagai sumber nitrogen, dan asam sitrat (C6H8O7)sebagai sumber karbon. Dalam penelitian ini, telah dilakukan variasi rasio molar nitrogen terhadap boron (N/B) dan rasio molar karbon terhadap boron (C/B) dan pengaruhnya terhadap pendaran fosfor BCNO yang dihasilkan. Hasil karakterisasi spektrum fotoluminesen dari sampel yang dibuat menunjukkan bahwa pendaran fosfor BCNO mempunyai puncak emisi tunggal disekitar warna biru (~450 nm) ketika dieksitasi dengan sinar UV(365 nm). Intensitas pendaran dipengaruhi oleh kadar karbon terhadap kandungan boron (C/B) dan kadar nitrogen terhadap kandungan boron (N/B). Penambahan kadar karbon dan nitrogen diketahui dapat meningkatkan intensitas pendaran. Sedangkan intensitas optimum pendaran fosfor BCNO dicapai pada saat ratio molar C/B = 1 dan N/B =20. Kata kunci: Fosfor BCNO, Spektrum fotoluminesen, Metode hidrotermal. Influence of Precursor Molar Ratio on the BCNO Photoluminescence synthesized by Hydrothermal Method Abstract BCNO phosphor which is dispersed into liquid has been successfully synthesized by using hydrothermal method. The precursor consists of the borate acid [B(OH)3] as boron source, urea [(NH2)2CO] as nitrogen source, and citric acid (C6H8O7) as carbon source. In this research, molar ratio variations of nitrogen and carbon  towards boron (N/B and C/B), and their influence on resulted BCNO phosphor luminescence were done. The characterization results of the sample shows the single peak of BCNO phorphorous luminescence around blue color (~450 nm) on the photoluminescence spectrum, when excited by UV light (365nm). The photoluminescence intensity was affected by the ratio N/B and C/B. The increase of carbon and nitrogen ratio can increase the photoluminescence intensity. The optimum intensity of BCNO phosphor photoluminescence was obtained at the molar ratio N/B = 20 and C/B =1. Keywords : BCNO phosphor, Photoluminescence spectrum, Hydrothermal method.
Strategi Sintesis Zeolit Hirarkis: Kajian Metode Cetak Lunak dan Cetak Keras Kadja, Grandprix T.M.; Rilyanti, Mita; Mukti, Rino Rahmata; Marsih, I Nyoman; Ismunandar, Ismunandar
Jurnal Matematika dan Sains Vol 18 No 3 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zeolit hirarkis saat ini diminati untuk digunakan sebagai katalis yang mampu menyelesaikan masalah pada industri petrokimia dan kimia.  Masalah yang biasa ditemukan pada reaksi katalitik ini menyangkut kepada hambatan difusi molekul, deaktivasi katalis, rendahnya rendemen produk dan selektivitas produk. Hal ini dapat terselesaikan karena zeolit hirarkis memiliki pori tambahan yang berskala meso (>2 nm) selain keberadaan pori mikro (2 nm) despite the presence of micropore (

Page 1 of 1 | Total Record : 5