cover
Contact Name
Darus Altin
Contact Email
darus_altin@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
darus_altin@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Jurnal Sain Peternakan Indonesia
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 19783000     EISSN : 25287109     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Sain Peternakan Indonesia (JSPI) pISSN 1978 – 3000 dan eISSN 2528 – 7109 adalah majalah ilmiah resmi yang dikeluarkan oleh Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, sebagai sumbangannya kepada pengembangan Ilmu Peternakan yang diterbitkan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris yang memuat hasil-hasil penelitian,telaah/tinjauan pustaka, kasus lapang atau gagasan dalam bidang peternakan.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 3 (2017)" : 12 Documents clear
Kolaborasi Messessaba (Media Feses Sapi dan Feses Domba) terhadap Respon Cacing Tanah (Pheretima Sp) I. R. Dani; Jarmuji Jarmuji; A. W. N. Pratama; D. A. Nugraha
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.3.308-316

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi imbangan feses sapi dan domba sebagai media untuk pertumbuhan dan mortalitas cacing tanah (Pheretima sp). Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 5 ulangan, masing–masing ulangan berisi 10 ekor cacing tanah Pheretima sp berumur 2-3 hari dengan perlakuan yang diberikan antara lain ; P1 = 50% sekam padi + 50% feses (100% feses sapi), P2 = 50% sekam padi + 50% feses (75% feses sapi + 25% feses domba),  P3 = 50% sekam padi + 50% feses (50% feses sapi + 50% feses domba), P4 = 50% sekam padi + 50% feses (25% feses sapi + 75% feses domba), P5 = 50% sekam padi + 50% feses (100% feses domba). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi penggunaan feses domba dapat menurunkan pertambahan bobot badan dan meningkatkan mortalitas cacing tanah (Pheretima sp).  Penggunaan 100% feses sapi sebagai media menghasilkan pertumbuhan terbaik dari semua perlakuan. Kata kunci: cacing tanah, pertumbuhan, imbangan media, mortalitas
Pengaruh Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi Linn.) sebagai Bahan Dipping Puting terhadap Jumlah Coliform dan pH Susu G. E. Suhendar; P. Sambodho; D. W. Harjanti
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.3.265-276

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn.) sebagai larutan dipping puting dalam menurunkan jumlah cemaran Coliform pada susu, dan pengaruhnya terhadap pH susu. Pengaruh ekstrak terhadap tingkat peradangan ambing juga dideteksi menggunakan California Mastitis Test. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berjenjang (split-plot in time), dengan empat kelompok perlakuan dan masing-masing empat ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah pencelupan puting sapi perah ke dalam larutan yang mengandung 1%, 3% dan 5% ekstrak daun Belimbing Wuluh (T1, T2 dan T3). Kontrol positif menggunakan antiseptik sintetis komersial  berupa povidone iodine (K+). Pencelupan puting dilakukan setiap hari selama 9 hari, yaitu setelah pemerahan pagi dan sore. Sample susu diambil pada sebelum perlakuan dan pada hari ke-3, 6 dan 9. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi antara perlakuan antiseptik dengan hari pengambilan sample disetiap pada parameter jumlah Coliform, pH susu, maupun tingkat peradangan ambing. Perbedaan perlakuan konsentrasi ekstrak dan povidon iodine menghasilkan penurunan Coliform dalam jumlah yang sama. Lama aplikasi dipping (3, 6 dan 9 hari) menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) terhadap jumlah Coliform, dimana semakin jika dipping dilakukan secara rutin setiap hari maka jumlah Coliform semakin menurun. Simpulan dari penelitian ini adalah ekstrak daun Belimbing Wuluh terbukti efektif sebagai antibakteri dan dapat digunakan sebagai anternatif terhadap antiseptik sintetis komersial. Pencelupan putting sapi kedalam antiseptik setelah pemerahan  harus selalu dilakukan secara rutin. Kata kunci : daun Belimbing Wuluh, antiseptik, susu, Coliform, pH susu
Performan Puyuh Local Asal Payakumbuh, Bengkulu dan Hasil Persilangannya D. Kaharuddin; Kususiyah Kususiyah
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.3.317-324

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performans puyuh lokal asal Payakumbuh dan Bengkulu serta hasil persilangannya. Penelitian ini dilaksanakan dikandang unggas Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.Puyuh tetua didapatkan dengan cara menetas telur puyuh bibit dari Payakumbuh dan Bengkulu masing-masing 600 butir dan puyuh persilangan adalah hasil penetasan telur hasil perkawinan 75 ekor puyuh betina Bengkulu dengan 25 ekor puyuh jantan Payakumbuh. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan fertilitas dan daya tetas dengan nilai heterosis masing-masing 16,77 dan 15,12%. Hasil persilangan menghasil berat badan dan pertambahan berat badan pada umur dua, empat dan enam minggu melebihi berat badan pertambahan berat badan kedua tetuanya.  Hal ini memberi harapan untuk dapat diproduksi puyuh persilangan ini pada skala besar, namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut. Kata kunci:  fertilitas, daya tetas, heterosis
Pengaruh Pemberian Ampas Tahu sebagai Campuran Pakan terhadap Pertumbuhan Cacing Tanah Pheretima sp B. Brata; A. Juliansyah; B. Zain
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.3.277-289

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ampas tahu sebagai campuran pakan terhadap pertumbuhan cacing tanah Pheretima sp. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Kota Bengkulu dan Laboratorium Peternakan Universitas Bengkulu. Penelitian ini menggunakan metotede Rancangan Acak Lengakap (RAL) dengan 4 perlakauan serta 5 ulangan: (P1) =  Sekam padi 50% + Feses sapi 50% + (0% ampas tahu), (P2) =  Sekam padi 50%+Feses sapi 45% + (5% ampastahu), (P3) =  Sekam padi 50% + Feses sapi 40% + (10% ampas tahu), (P4) =  Sekam padi 50% + Feses sapi 35% + (15% ampas tahu). Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pemberian pakan campuran ampas tahu pada media cacing tanah Pheretima sp berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhap pertumbuhan bobot induk cacing tanah Pheretima sp dan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap bobot badan anak per unit pemeliharaan serta berbeda nyata (P<0,05) terhadap rataan bobot badan anak per ekor. Kata kunci: ampas tahu, campuran pakan, pertumbuhan, cacing tanah Pheretima sp.
Perbandingan Dua Model Pertumbuhan dalam Analisis Pertumbuhan Itik Magelang di Balai Pembibitan dan Budidaya Ternak Non Ruminansia Banyubiru, Kabupaten Semarang W. P. Prayogo; E. Suprijatna; E. Kurnianto
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.3.239-247

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model kurva pertumbuhan pada itik Magelang generasi ke-2 dengan menggunakan dua model pertumbuhan yang berbeda. Data yang digunakan adalah pertumbuhan bobot badan hasil penimbangan itik Magelang dari umur 0 sampai 8 minggu yang diambil setiap 3 hari sekali. Itik yang digunakan sebanyak 297 ekor yang terdiri dari 113 ekor itik jantan dan 184 ekor itik betina. Data dianalisis dengan menggunakan model yaitu Gompertz dan Logistic untuk menggambarkan pola pertumbuhan setiap jenis kelamin. Hasil yang diperoleh menunjukkan model kurva pertumbuhan memiliki tingkat akurasi yang berbeda. Persamaan regresi model Gompertz pada itik jantan Y= 2.386,88 exp (-3,89 exp -0,03) dan betina Y= 1.760,02 exp (-3,78 exp -0,05), sedangkan model Logistic pada itik jantan Y= 1.558,17 / (1+19,78 exp -0,08) dan betina Y= 1.248,90 / (1+18,44 exp -0,08). Titik infleksi itik Magelang jantan dicapai pada Yi= 878,08 g dan ti= 42,44 hari, itik betina dicapai Yi= 647,48 g dan ti= 37,98 hari, sedangkan titik infleksi pada model Logistic itik Magelang jantan dicapai Yi=779,09 g terjadi di ti=39,27 hari dan itik betina dicapai di Yi=624,45 g dan ti=36,43 hari. Simpulan penelitian ini  adalah kedua model memiliki tingkat akurasi yang tinggi, Model Gompertz memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan Logistic. Kata kunci: Itik Magelang, persamaan model kurva pertumbuhan, titik infleksi
Pengaruh Pemberian Pakan Flushing dan Non Flushing terhadap Intensitas Birahi dan Angka Kebuntingan Induk Sapi Potong N. Rohmah; Y. S. Ondho; D. Samsudewa
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.3.290-298

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui intensitas birahi dan angka kebuntingan induk sapi potong yang diberi perlakuan flushing dan non flushing. Sebanyak 22 ekor induk sapi potong (12 ekor induk sapi SimPO, 10 ekor induk sapi LimPO) yang di flushing dan 27 ekor induk sapi potong (14 ekor induk sapi SimPO, 13 ekor induk sapi LimPO) yang diberi perlakuan non flushing. Perlakuan yang diujikan adalah T0 (rumput gajah+ jerami padi±30 kg) dan T1 (rumput gajah+ jerami padi ±30kg+ konsentrat 2kg/ekor/hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor perubahan vulva, tingkah laku dan ereksi uterus induk sapi potong yang diberi perlakuan flushing dan non flushing berturut-turut adalah 3; 2; 2 sedangkan skor perubahan sekresi lendir induk sapi potong yang diberi perlakuan flushing 1 dan non flushing yaitu 1,5. Intensitas birahi induk sapi potong yang diberi perlakuan flushing belum memperlihatkan penampilan jelas pada fase birahi. Perlakuan flushing juga tidak berpengaruh nyata terhadap angka kebuntingan induk sapi potong. Kata kunci: induk sapi potong, flushing, intensitas birahi, dan angka kebuntingan.
Pengaruh Pemupukan Nitrogen terhadap Produksi Rumput Sorghum nitidum pada Umur Panen yang Berbeda F. K. Keraf; E. Mulyanti
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.3.248-255

Abstract

Penelitian dengan tujuan mengetahui produksi dan kualitas rumput sorghum nitidum akibat pemupukan nitrogen dan umur panen yang berbeda, telah dilakukan di green house milik Balai Besar Pelatihan Peternakan Kupang. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 4 level pupuk nitrogen  (faktor 1) dan 6 level umur panen (faktor 2) yang diulang  4 kali. Parameter yang diamati adalah laju pertumbuhan, jumlah anakan dan produksi biomasa tanaman. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk nitrogen berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap laju pertumbuhan, jumlah anakan dan produksi protein kasar namun berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap produksi bahan kering, bahan organik dan serat kasar. Faktor umur panen berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap semua parameter yang diamati. Interaksi kedua faktor tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap laju pertumbuhan, produksi bahan kering, bahan organik, protein kasar dan serat kasar, namun berpengaruh nyata (P<0,5) terhadap  jumlah anakan. Kata kunci : Rumput Sorghum nitidum, pupuk nitrogen, umur panen.
Kadar NaCl dan pH Lendir Serviks Rusa Timor (Rusa timorensis) Betina yang Mendapat Suplementasi Mineral selama Siklus Estrus A. Makmun; D. Samsudewa; Y. S. Ondho
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.3.299-307

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mineral terhadapkadar NaCl dan pH (potential of Hydrogen) lendir serviks. Manfaat dari penelitian adalah memberikan informasi kepada penanagkar untuk mengetahui tanda-tanda rusa birahi melalui profil pH dan kadar NaCl lendir serviks dan pentingnya suplementasi mineral terhadap reproduksi betina rusa Timor. Materi yang digunakan adalah 10 ekor rusa yang memiliki BCS (Body Condition Score) 2,5–3,25, poel 2 serta pernah melahirkan dan sehat secara fisik. Perlakuan yang diberikan berupa suplementasi mineral (Mg, Zn dan Se) dalam bentuk mineral blok (T1) dan kontrol (T0) selama 8 minggu, kemudian di sinkronisasi spon MPA selama 16 hari. Sampel lendir serviks diambil pada jam ke-0, 24, 72, 84, 96, 108, 120 dan 144 setelah pelepasan spon. Parameter yang diamati meliputi kadar NaCl danpH lendir serviks.Analisis data yang digunakan adalah statistik SPSS uji T-Test. Hasil penelitian menunjukan bahwa(P>0,05) tidak ada perbedaan nyata suplementasi mineral (Mg, Zn dan Se) terhadap kadar NaCl dan pH lendir serviks rusa Timor betina selama siklus estrus. Kata kunci: suplementasi mineral, lendir serviks, Rusa Timor, pH, NaCl.
Level Larutan McDougall dan Asal Cairan Rumen pada Teknik In Vitro N. Suningsih; S. Novianti; J. Andayani
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.3.341-352

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai level larutan McDougall, asal cairan rumen, dan kombinasi berbagai level larutan McDougall dengan asal cairan rumen terhadap kecernaan bahan kering, bahan organik, dan protein kasar secara in vitro. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan enam perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan tersebut meliputi: A1B1 = 2:1 (26,67 ml larutan McDougall : 13,33 ml cairan rumen sapi), A1B2 = 2:1 (26,67 ml larutan McDougall : 13,33 ml cairan rumen kerbau), A2B1 = 3:1 (30 ml larutan McDougall : 10 ml cairan rumen sapi), A2B2 = 3:1 (30 ml larutan McDougall : 10 ml cairan rumen kerbau), A3B1 = 4:1 (32 ml larutan McDougall : 8 ml cairan rumen sapi), A3B2 = 4:1 (32 ml larutan McDougall : 8 ml cairan rumen kerbau).  Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah kecernaan bahan kering (KcBK), kecernaan bahan organik (KcBO), dan kecernaan protein kasar (KcPK).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi antara larutan McDougall dan asal cairan rumen tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kecernaan bahan kering (KcBK) dan bahan organik (KcBO) namun faktor level larutan McDougall (Faktor A) berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kecernaan protein kasar (KcPK). Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan berbagai level larutan McDougall yang dikombinasikan baik dengan cairan rumen sapi maupun cairan rumen kerbau menunjukkan kecernaan bahan kering dan bahan organik yang relatif sama. Namun pada level 2 : 1 memberikan pengaruh yang nyata lebih tinggi terhadap kecernaan protein kasar. Kata Kunci : level, McDougall, cairan rumen, in vitro
Pengaruh Pemberian Fermentasi Tepung Kulit Pisang Jantan dengan Menggunakan Neurospora crassa terhadap Deposisi Lemak Ayam Broiler M. Dorisandi; L. Saputro; S. H. Jatmiko; Y. Fenita
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.652 KB) | DOI: 10.31186/jspi.id.12.3.325-334

Abstract

Penelitian ini menggunakan ayam broiler sebanyak 80 ekor. Tahapan penelitian dimulai dari persiapan kandang, pembuatan fermentasi tepung kulit pisang jantan, pemeliharaan ayam selama 36 hari, dan pemotongan. Penelitian ini terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), yang setiap ulangan terdapat 4 ekor ayam broiler. Perlakuan tersebut yaitu, PO: kontrol, P1: 2,5%, fermentasi tepung kulit pisang, P2: 5% fermentasi tepung kulit pisang, P3= 7,5% fermentasi tepung kulit pisang, P4: 10% fermentasi tepung kulit pisang. Paramater yang akan diukur pada penelitian ini adalah konsumsi ransum, berat badan, persentase berat karkas, perlemakan (persentase lemak abdomen, persentase lemak gizzard, persentase lemak penggantung usus, persentase lemak leher, persentase lemak paha, dan persentase organ dalam). Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian tepung kulit pisang fermentasi (KPF) dengan menggunakan Neurospora crassa tidak menurunkan berat badan tetapi mengurangi lemak abdomen, lemak gizzard, lemak leher, lemak penggantung usus, lemak paha hingga level 10 %. Kata kunci: Kulit pisang, deposisi lemak, ayam broiler, Neurospora crassa

Page 1 of 2 | Total Record : 12