cover
Contact Name
M. Agus Burhan
Contact Email
urbansocietysart@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
urbansocietysart@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Urban Society´s Arts
ISSN : 23552131     EISSN : 2355214X     DOI : -
Journal of Urban Society's Art ( Junal Seni masyarakat Urban) memuat hasil-hasil penelitian dan penciptaan seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat perkotaan yang memiliki struktur dan kultur yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Seni masyarakat urban merupakan manifestasi seni yang dihadirkan melalui media-media seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media rekam yang erat dengan problematika kehidupan yang terjadi dalam keseharian masyarakat, serta bisa menjadi simbol yang menarik dan menjadi elemenpenting yang menjadi ciri khas dari (1) pusat kota, (2) kawasan pinggiran kota, (3) kawasan permukiman, (4) sepanjang jalur yang menghubungkan antar lingkungan, (5) elemen yang membatasi dua kawasan yang berbeda, seperti jalan, sungai, jalan tol, dan gunung, (6) kawasan simpul atau strategis tempat bertemunya berbabgai aktivitas, seperti stasiun, jembatan, pasar, taman, dan ruang publik lain.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2014): October 2014" : 6 Documents clear
Pendidikan sebagai Perekrut dalam Komunitas Terbayang: Analisa Wacana dalam Film Denias Senandung di Atas Awan Katarina Rima Melati
Journal of Urban Society's Arts Vol 1, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v1i2.790

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami wacana politik dan negara yang dibentukoleh sebuah film. Film Denias, Senandung Di Atas Awan (DSAW) dipilih sebagaistudi kasus karena film ini pernah menjadi film terbaik Indonesia dan mewakiliIndonesia dalam seleksi piala Oscar 2008. Berdasarkan hasil penelitian dapatdipahami bahwa menjadi sebuah negara adalah membayangkan sebuah komunitasyang dibangun dengan unit politik yang sama dan melalui sentimen sebagai ‘sesamawarga negara’. Proses ini bukannya selalu berjalan mulus, malahan salah saturesikonya adalah tercabutnya nilai-nilai otentisitas kedaerahan yang telah mengakardalam sebuah komunitas untuk kemudian distandarisasi agar kokoh sebagaibangunan bernama negara. Imaginasi proyek negara ini diusung terus menerusmelalui wacana pembentukan nasionalisme kebangsaan salah satunya adalahmelalui sistem pendidikan yang dilembagakan dalam bentuk sekolah. Film DSAWmemberi gambaran bagaimana pendidikan terutama di lingkungan sekolah menjadiagenda politik dalam memasukkan ideologi kebangsaan termasuk dengan atributatributkenegaraan seperti militer melalui anggota Kopassus; budaya melalui bahasaIndonesia; pembentukan oposisi biner antara Jawa yang telah maju dibandingkandengan Papua yang tertinggal; termasuk Freeport sebagai representasi dari kapital.Film DSAW menjadi contoh bagi pembentukan bayangan komunitas sebagaikesatuan yang direkrut melalui ideologi-ideologi bahkan doktrin-doktrin yang adadalam sistem pendidikan. The Education as a Means of Recruiting in the Imagined Community: TheDiscourse Analysis in Denias Movie, Senandung di Atas Awan. This study aimsto understand the political and state discourse formed by a movie. Denias movie ischosen as a case study because it has ever been the best Indonesian movie and representedIndonesia in the selection of 2008 Oscar Award. Based on the research result, it can beunderstood that being a nation is such a way of imagining a community built with asimilar political unit, and through out sentiments of being ‘fellow citizens’. The processdoes not always go smoothly, but one of the main risks is the dispossession of the valuesof regional authenticity which has deeply rooted in a certain community and then beenstandardized for being the strong nation. The imagination of the country project hasbeen carried continuously through the formation of nationalism discourse. One of whichis through the education system instituted in the form of school. DSAW movie illustrateshow education, especially in the school environment, becomes the political agenda inincorporating the ideology of nationality, including the state attributes such as: themilitary through Kopassus members; Indonesian culture through Bahasa Indonesia; theformation of a binary opposition between the well-developed Java in comparison with the lagged Papua; including Freeport as the capital representation.DSAW movie becomes the example for the formation of the imagined community as awhole recruited through ideologies even the existed doctrines in the education system.
Visual Tradisi dalam Karya Seni Lukis Kontemporer Sebagai Wujud Artistik Pengaruh Sosial Budaya Willy Himawan; Budi Adi Nugroho
Journal of Urban Society's Arts Vol 1, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v1i2.791

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh sosial budaya pada senilukis kontemporer. Penelitian dilakukan dengan studi kasus pada dua senimankontemporer Bali yaitu Wayan Sudiarto dan Haryadi Suadi. Penelitian dilakukandengan mengamati unsur-unsur tradisi dan modern seperti otonomi, kebebasan,dan progresitivitas menjadi elemen yang penting dalam karya – karya keduaseniman. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa seni kontemporersecara khas mampu menunjukkan manifestasi estetik dan refleksi nilai yang bersifatkritis terhadap sistem ekonomi-sosial-kultural yang menghidupinya. Walau karyaSudiarta dan Haryadi saling bertolak belakang, namun kedua karya seniman tersebutmemperlihatkan bahwa visualisasi tradisi pada karya-karya seni lukis kontemporerterkait dengan aspek-aspek seni rupa yang menjadi bagian dari konsep konsepbudaya visual. Keberadaan tradisi atau unsur-unsur tradisi yang muncul dalamkarya-karya tersebut masih dibaca dalam ranah identitas dan keunikan tetapi belummenyentuh ke dalam makna yang terkandung di dalamnya. The Visual Tradition on Contemporary Art Works as the Artistic Form of Socio-Cultural Influence. This study aims to understand the socio-cultural influences oncontemporary paintings. It is a case study of two contemporary Balinese artists, i.e.Wayan Sudiarto and Haryadi Suadi. The study is conducted by observing the traditionand modern elements such as autonomy, freedom, and progressivity which become theimportant elements of both artists’ artworks. Based on the research, it can be concludedthat the contemporary art is typically able to demonstrate the aesthetic manifestationand reflection of values which are critical toward the system of economy-socio-cultural.Although the artworks of Sudiarta and Haryadi are in contradictory, but both of theartists’ works show the visualization of tradition on the works of contemporary paintingsassociated with the aspects of arts which are a part of the concepts of visual culture. Theexistence of the tradition or traditional elements appeared in these works are still readin the realm of identity and uniqueness, but they have not touched into the containedmeaning.
Eksistensi Seni Grafis Monoprint dalam Kesenirupaan Yogyakarta Bayu Aji Suseno
Journal of Urban Society's Arts Vol 1, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v1i2.792

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah ingin memahami persoalan yang muncul dalameksistensi seni grafis monoprint seniman Yogyakarta. Pertanyaan yang diajukan(1) apakah cetak monoprint merupakan suatu bentuk penyimpangan terhadapkaidah seni grafis konvensional; (2) bagaimana pengaruh booming lukisan dalamkeberadaan praktik seni grafis monoprint. Keberadaan praktik monoprint sejalandengan perkembangan seni rupa kontemporer yang merespons kekayaan teknik danmedium baru, yang disertai dengan konsep pemikiran seniman yang lebih plural.Namun, proses kreatif pegrafis tersebut seringkali dipandang kritis dan sinis olehsebagian pihak karena karya yang dihasilkan oleh seniman tidak hanya ada satuedisi (eksklusif ) seperti lukisan. Dalam rentang waktu tahun 2008 sampai 2011,beberapa seniman yang bermukim di Yogyakarta mengadakan pameran tunggalseni grafis monoprint. Kota Yogyakarta memiliki sejumlah seniman muda yangmenekuni praktek cetak tersebut, antara lain: Andre Tanama, Ariswan Adhitama,Irwanto Lentho, dan T.A Sitompul. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktikseni grafis monoprint ternyata mampu bersaing dengan lukisan. Pengaruh boominglukisan menjadikan seni ini bukan lagi merupakan satu pencarian jati-diri, namunsebagai satu alternatif bentuk komoditas dengan label seni rupa modern The Existence of Monoprint Art in Yogyakarta. The existence of monoprint practicegrows in line with the development of the contemporary art that responds the inventionof new techniques and media accompanied by the artists’ more pluralistic thinking.Unluckily, the creative process of the monoprint artist is often critically judged andcynically looked at by some people because the work produced by the artist is only oneedition (exclusive), just like painting. From 2008 to 2011, several artists living inYogyakarta held a solo exhibition of monoprint. Yogyakarta has a number of young artistswho devote their life to practice the art of printing, among others are Andre Tanama,Ariswan Adhitama, Irwanto Lentho, and TA Sitompul. This study is intended to findout whether monoprint making practice is considered as a deviation of the graphic artconventional rules and how the painting booming influences the monorprint existence.From the analysis, it can be inferred that a monoprint is capable of competing a paintingand the booming of painting is no longer considered as a search of identity but more as analternative of commodity form with the label of modern visual art.
Ikonografi Arsitektur dan Interior Masjid Kristal Khadija Yogyakarta Rony Rony
Journal of Urban Society's Arts Vol 1, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v1i2.793

Abstract

Masjid Kristal Khadija (MKK) adalah sebuah masjid yang berada di kompleksYayasan Budi Mulia Dua di Yogyakarta. Masjid ini memiliki keunikan pada arsitekturdan desain interiornya. MKK sebagai karya seni akan dikaji dengan metodeikonografi. Metode ini adalah suatu studi untuk mengungkapkan makna dari suatukarya seni dengan tahapan-tahapan, yakni deskripsi praikonografi, analisis ikonografi,dan interpretasi ikonologi. Ketiga proses tahap kajian tersebut bersifat prerequisiteatau prasyarat dari tahapan satu ke tahapan selanjutnya. Hasil penelitian padatahap deskripsi praikonografi bahwa wujud arsitektur dan interior MKK memilikiciri-ciri masjid bergaya Persia, tetapi masjid ini bukan termasuk tipe hipostyle karenabangunan masjid yang berdiri sendiri dan tidak dilengkapi riwaqs. Analisis ikonografimenghasilkan makna yang ditunjukkan oleh tema feminin dengan konsep materialkaca cermin yang diasosiasikan aktivitas kaum wanita, yakni bersolek. Interpretasiikonologi dihasilkan makna secara simbolis bahwa MKK merepresentasikanide dan gagasan tokoh dibaliknya. Penafsiran makna ini dapat menambah muatanfilosofi MKK sebagai ikon kebanggaan Yayasan Budi Mulia Dua. The Iconographic on the Architecture and Interior of Masjid Kristal KhadijaYogyakarta. The Masjid Kristal Khadija is a mosque located in a high school complexunder the auspices of the Budi Mulia Dua in Yogyakarta. This mosque is unique in itsarchitecture and interior design. The mosque as a work of art is analyzed by the methodof iconography. This method is a study to reveal the meaning of a work of art with thestages namely; pre-iconographical description, iconographical analysis, and iconologicalinterpretation. There is a prerequisite relationship among those stages, meaning thatthe first stage has to be conducted before the second and the second has to be completedbefore the last one. The result of the pre-iconographical description stage shows thatthe architecture and interior of Kristal Khadija is characterized by the Persian stylemosque, yet it is not a hypostyle mosque as it is a stand-alone mosque without riwaqs.The iconographical analysis of the mosque indicates that it was built under the femininetheme shown by the use of mirror glass as its material concept that is associated withwomen’s activity, i.e. dressing up. The iconological interpretation generates a symbolicmeaning that Masjid Kristal Khadija represents the ideas of the figures behind it. Theinterpretation of its meaning may add philosophical values to this mosque as an icon ofBudi Mulia Dua Foundation pride.
Problematika Tugu Yogyakarta dari Aspek Fungsi dan Makna Lutse Lambert Daniel Morin
Journal of Urban Society's Arts Vol 1, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v1i2.794

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami fungsi dan makna bangunan TuguYogyakarta. Tugu Yogyakarta adalah bangunan berbentuk prisma segi empatdan menggunakan unsur-unsur seni rupa berupa garis, titik, warna, dan bidangsebagai dasar pembuatannya yang memiliki makna-makna yang dapat dipahamiberdasarkan telaah filosofi masyarakat Jawa. Penelitian ini menggunakan metodepenelitian kualitatif dengan pendekatan ikonografi. Pemaknaan Tugu Yogyakartamengalami pergeseran setiap generasi seiring dengan perubahan budaya masyarakatYogyakarta. Tugu telah berubah dan mulai kehilangan nilai kesakralannya ataumengalamai disakralisasi. Filosofi manunggaling kawula lan Gusti telah hilangdan tidak tercermin pada tugu saat ini. Sehingga bagi Keraton, tugu saat ini tidakbermakna. Tugu bukan lagi menjadi salah satu simbol keraton tetapi lebih padaikon Kota Yogyakarta saja. Tugu Yogyakarta and its Problems on the Aspects of Function and Meaning. Theresearch is aimed to understand the function and meaning of Tugu Yogyakarta. TuguYogyakarta is a rectangular prism-shaped building and uses the meanings implied in thevisual art elements such as lines, dots, color, and the surfaces as they are the basis in themaking process that can be understood by scrutinizing the Javanese society philosophy. Itis a qualitative research using the iconographic approach. The shifting meaning of TuguYogyakarta has gradually been experienced by Yogyakarta people which goes along withthe cultural changes. It has unfortunately changed and started losing its sacred value.‘Manunggaling kawulo lan Gusti’ as its philosophy has gone and no longer reflected bythe monument. Therefore, Tugu Yogyakarta has no meaning today. It is no longer one ofthe Keraton Yogyakarta symbols, but merely as the icon of Yogyakarta city instead.
Urbanisasi Spasial dan Pengaruhnya terhadap Perubahan Struktur Spasial pada Rumah Tinggal (Studi Kasus di Sewon, Bantul, Yogyakarta) M. Sholahuddin
Journal of Urban Society's Arts Vol 1, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v1i2.795

Abstract

Kampus ISI Yogyakarta di Panggungharjo, Sewon, Bantul membawa dampakspasial bagi lingkungannya. Banyaknya mahasiswa pendatang dari berbagaidaerah di Indonesia menyebabkan penduduk di sekitar kampus memanfaatkansebagian rumah tinggalnya untuk fasilitas kebutuhan mahasiswa. Rumah tinggalberfungsi ganda sebagai tempat tinggal yang privasi (aman dan nyaman), tetapi jugasebagai tempat usaha yang umum dan terbuka. Fenomena tersebut menimbulkanperubahan struktur ruang pada rumah tinggal. Penelitian ini bersifat deskriptifeksplanatifyang bertujuan mendapatkan gambaran tentang perubahan strukturruang pada rumah tinggal yang bergeser fungsi. Unit amatan adalah strukturspasial berkaitan dengan organisasi ruang, orientasi ruang, akses/sirkulasi ruang,teritori fisik ruang (dinding, lantai, plafon). Unit analisis adalah pola fungsi danpemanfaatan ruang (hunian dan ruang usaha). Hasil penelitian ini adalah: (1)Perubahan teritori dengan mengubah elemen fisik (lantai, dinding, plafon), arahperubahan horizontal, dengan cara penambahan dan pengurangan elemen padaruangan dan tanah kosong, (2) tidak ada perubahan orientasi, orientasi rumah danruang usaha sama ke jalan, (3) organisasi ruang usaha dengan mengubah fungsiruang tamu, kamar tidur, garasi, dapur, (4) akses dan sirkulasi rumah tetap, aksesruang usaha dengan penambahan pintu atau tangga dan perpindahan. Sirkulasiruang usaha umumnya terpisah dan kombinasi hanya sedikit yang menyatu. Spatial Urbanization and Its Impact on the Spatial Structure Changesfor Residences (A Case Study in Sewon, Bantul, Yogyakarta). Located inPanggungharjo, Sewon, Bantul, ISI Yogyakarta has a spatial impact to its surrounding.Therefore, local people take advantages by modifying their houses to facilitate variousneeds of students. A house becomes multipurpose spaces served both as a private place(safe and convenient) and a public place (business space). However, this phenomenonleads to some changes of the structure of space. The research is descriptive-explanativewhich is aimed to gain overview of changes in the structure of space which leads tofunction shifting. The unit of observation is a spatial structure which is related to thespatial organization, spatial orientation, access / circulation space, and the physicalterritory of the space (walls, floor, and ceiling). Moreover, the research analysis is on thepattern of the function and space usage (house and business space). The results of thisresearch are lead to: (1) territorially changes by changing the physical elements (floors,walls, ceilings), and also marking in horizontal direction by modifying some elements in space and vacant land, (2) no changes in orientation; house and business spaces facingthe road, (3) the organization of business spaces by altering the function of a livingroom, bedroom, garage, and kitchen, (4) the remaining access and circulation of thehouse, additional doors or stairs and displacement are used for the business space. Somecirculations of the business space are commonly separated, united but less combination ofboth.

Page 1 of 1 | Total Record : 6