cover
Contact Name
M. Agus Burhan
Contact Email
urbansocietysart@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
urbansocietysart@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Urban Society´s Arts
ISSN : 23552131     EISSN : 2355214X     DOI : -
Journal of Urban Society's Art ( Junal Seni masyarakat Urban) memuat hasil-hasil penelitian dan penciptaan seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat perkotaan yang memiliki struktur dan kultur yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Seni masyarakat urban merupakan manifestasi seni yang dihadirkan melalui media-media seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media rekam yang erat dengan problematika kehidupan yang terjadi dalam keseharian masyarakat, serta bisa menjadi simbol yang menarik dan menjadi elemenpenting yang menjadi ciri khas dari (1) pusat kota, (2) kawasan pinggiran kota, (3) kawasan permukiman, (4) sepanjang jalur yang menghubungkan antar lingkungan, (5) elemen yang membatasi dua kawasan yang berbeda, seperti jalan, sungai, jalan tol, dan gunung, (6) kawasan simpul atau strategis tempat bertemunya berbabgai aktivitas, seperti stasiun, jembatan, pasar, taman, dan ruang publik lain.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2015): October 2015" : 6 Documents clear
Transformasi Sinkretisma Indonesia dan Karya Seni Islam I Gede Arya Sucitra
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 2 (2015): October 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i2.1446

Abstract

Tulisan ini membahas aspek sosio-historis dan pencapaian kebudayaan pada masa peradaban seni (rupa) Hindu dan Islam di Indonesia, perkembangan terkini seni rupa kontemporer Islami, dan karya seni KH. M. Fuad Riyadi, seniman dan Kyai Kontemporer yang aktif sebagai pelaku kesenian dalam seni sastra, musik dan seni rupa. Karya seni selalu merupakan cerminan pengamatan serta perasaan dan pikiran pembuatnya. Karya seni terlahir dari proses pergulatan panjang yang kompleks atas berbagai unsur kebudayaan yang saling mempengaruhi. Pada tahapan ini terjadilah transformasi budaya melalui proses sinkretisasi yang membentuk tradisi seni di Indonesia sesuai dengan peranan unsur budaya terutama persentuhan dengan agama yang datang dari luar. Tulisan ini dikaji melalui studi sejarah, transformasi budaya dan estetika. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa karya seni yang diciptakan seniman tidak berdiri sendiri atas nafas tunggal konsep dan dogtrin agama namun sudah dielaborasi dengan kebutuhan budaya setempat serta local genius masyarakat yang ditempati. This paper is intended to discuss the socio-historical aspect and the cultural achievement of the civilization of Hinduism and Islamic fine art in Indonesia, the updated development of Islamic contemporary fine art, and the artwork of KH. M. Fuad Riyadi, artists and contemporary mufti who are active as art doers of literary art, music, and fine art. The artwork is always a reflection of the observations and feelings and thoughts of the author. The artwork was born by the long struggle of complex processes on various cultural elements which influenced to each other. At this stage there was a cultural transformation through the process of syncretization which formed a tradition of art in Indonesia in accordance with the role of cultural elements, especially the contiguity with the religion coming from the outside. This paper was analyzed through the historical study, cultural and aesthetics transformation. Based on the research it can be concluded that the artworks created by the artist do not stand alone based on the single breath of concept and religion doctrine but the ones which have been elaborated with the needs of the local culture and the local genius of that intended society.
Eksistensi Gula Gending di dalam Dinamika Budaya Lombok I Nyoman Triyanuartha
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 2 (2015): October 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i2.1445

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap eksistensi gula gending di dalam dinamika budaya yang terjadi di Lombok. Gula gending merupakan sebuah pertunjukan musik yang dimainkan ketika pedagang harum manis mepromosikan barang dagangannya untuk menarik perhatian calon pembeli. Seiring dengan perjalanan waktu, pertunjukan musik ini menjadi langka dan jarang ditemukan di dalam masyarakat. Kini gula gending muncul kembali dengan beberapa perkembangan yang menyertainya. Analisis dilakukan terhadap fakta musikal yang meliputi dimensi sonorik, dimensi visual dan dimensi kinestetik. Untuk membahas mengenai penyebab dan hasil dari perkembangan akan digunakan konsep music and cutural dynamic. This research aims to gasp the exsistence of gula gending in cultural dynamic which occurs in Lombok. Gula gending was a music performance played when the arbanat seller was promoting their goods to attract the customers’ attention. As the time goes by, this music performance becomes rare, so we seldom find its existence in society. In spite of the fact, nowdays gula gending reappears along with few following developments. An analysis has been done to the musical facts which may include among athers are sonoric dimention, visual dimention, and kinesthetic dimention. To gain the explanation about the causes and results of the development, music and cultural dynamic concepts are conducted.
Museum Ullen Sentalu dalam Perspektif Seni Budaya Doro Daniwati
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 2 (2015): October 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i2.1449

Abstract

Museum merupakan tempat yang sering tidak bisa dilewatkan oleh wisatawan guna memuaskan rasa ingin tahu tentang keunikan dari sebuah kota tujuan wisata. Museum juga sering dikunjungi oleh baik para ilmuwan maupun para akademisi yang melakukan studi/riset/kajian tentang hal-hal yang memiliki nilai-nilai keunikan historis, arkeologis, estetis dan termasuk semua hal yang bernuansa memorabilia dan nostalgia. Ullen Sentalu merupakan museum yang agak unik karena di samping lokasinya yang agak jauh dari hingar bingar kesibukan kota, namun keberadaannya merupakan kebutuhan seni budaya perkotaan. Keunikan dari museum ini terletak pada nilai koleksi artefak-artefaknya yang menghadirkan khusus tentang benda-benda kewanitaan yang bernuansa warisan budaya monarki Mataram Lama yang berbeda dengan koleksi museum lainnya di tanah air. Museum is a place where tourists are unable to easily neglect for satisfying their curiousity about the uniqueness found in the tourism destination cities.The museum is also commonly visited by artists, academicians, and scientists for their research and studies of variety subjects which discuss the values of historical, archeological, and aesthetic uniqueness, and any subjects that are concerned with those of memorabilia and nostalgic evidence. Ullen Sentalu museum is rather unique when we see the location in the ’remote’ area which is far from the frenetic bustle of the city yet its existence constitutes the needs of urban culture. The uniqueness of this museum lies on the value of artefacts collections which particularly bring the feminine objects nuenced the cultural heritage of the Old Mataram monarchy which are completely different from other museum collections in the country.
Empat Koreografer Minangkabau: Dibaca dalam Teks Matrilineal dan Patrilineal Surheni Surheni
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 2 (2015): October 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i2.1444

Abstract

Artikel ini membahas empat koreografer Minangkabau yaitu Gusmiati Suid, Huriah Adam, Syofyani Bustamam, dan Syahril dari perspektif matrilineal dan patrilineal. Teks matrilineal tidak hanya dipandang dari sisi genealogis, tetapi juga dari sudut pandang budaya. Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa partisipasi perempuan di luar wilayah domestiknya terbias dalam seni tari. Perempuan tidak dinantikan hanya untuk menyemarakkan dengan tebaran pesona keindahan ragawi. Ia mampu menjadi sumber ide dan tema, pelaku, pencipta, pengatur, dan penyelenggara, atau sarana mobilitas seni pertunjukan. Keempat koreografer lahir dan dibesarkan di Minangkabau akan tetapi berkiprah di tiga wilayah yang berbeda. Gusmiati Suid di Jakarta, Huriah Adam di Sumatera Barat, Syofyani di Padang, dan Syahril di Padangpanjang. Sebagai koreografer yang lahir dan dibesarkan dalam kultur Minangkabau tentu keempat koreografer ini ikut merasakan betapa dilematis posisi perempuan dalam masyarakat Minangkabau. This article discusses about four choreographers of Minangkabau, among others are Gusmiati Suid, Huriah Adam, Syoyani Bustamam, and Syahril seen from the perspective of matrilineal and Patrilineal. The matrilineal text cannot only be seen from the genealogical side but it can be viewed from the cultural standpoint. Based on the research result it can be concluded that women participation outside their domestic area is also biased in dance performing arts. Women are not only expected to embellish with their scattering of physical enchanting beauty. They can be the source of ideas and themes, the actress,the creator,the manager, and the event organizer, or the mean of performing arts mobility. These four choreographers were born and grown up in Minangkabau, however, they have actively expanded their career in three different places. Gusmiati Suid’ s career is in Jakarta, Huriah Adam is in West Sumatra , Syoyani is in Padang, and Syahril is in Padangpanjang. As the choreographers born and grown up in Minangkabau’s culture, they definitely feel the dilemmatic sense of women position in Minangkabau society.
Potret Diri Digital dalam Seni dan Budaya Visual Kusrini Kusrini
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 2 (2015): October 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i2.1448

Abstract

Selfie merupakan bentuk tidak resmi (slang) dari potret diri digital (digital self-portraits). Keberadaannya semakin berkembang. National #Selfie Gallery di London pada 2013 menunjukkan bahwa jenis foto ini memiliki kelayakan untuk masuk galeri dan disebut sebagai karya seni. Sejumlah 19 seniman berfoto selfie dan hasilnya dipamerkan dalam bentuk video berdurasi singkat, masing-masing sekitar 30 detik. Untuk sampai di ruang pamer galeri, foto-foto selfie tersebut melalui tahap kurasi oleh kurator. Terdapat seleksi teknik dengan perangkat yang ada di dunia seni. Pada tahap selanjutnya, foto-foto selfie tersebut masuk galeri. Saat lolos seleksi dan dipamerkan di ruang galeri, serta dinikmati audiens seni, digital self-portraits menjadi sebuah karya seni dengan nilai isi makna seni, termasuk nilai estetis, serta nominal tertentu saat dibeli oleh kolektor. Jenis foto yang mengelilingi masyarakat kota tidak hanya selfie dan potret diri, namun semakin beragam. Di mana pun bertemu dengan foto, hingga dalam pengambilan keputusan maupun tindakan, berdasarkan pada apa yang dilihat. Di ranah ini, foto sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat membentuk budaya visual. Dari budaya visual ini, bidang-bidang kehidupan lain ikut terpengaruh. Ketika foto menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan ataupun cara hidup masyarakat, bidang lain seperti ekonomi dan sosial turut larut di dalamnya. Perekonomian menjadikan dunia visual sebagai lahan bisnis yang menjanjikan. Dari sisi sosial, masyarakat menggantikan interaksi dan komunikasi langsung dengan media digital. Melihat dan mengukur seseorang dari relasi dari di media sosial, dan menilainya dari visual yang tertampil di jejaring sosial tersebut Selfie is a slang form of digital self-portrait. Now, its development has been increasing. National #Selfie Gallery in London in 2013 showed the eligibility of this type to enter the gallery and called it as a work of art. There were 19 artists taking their selfie and displayed the works in the form of short videos, each was about 30 seconds. Being displayed in the gallery, these photos of selfie had been through stages of curation by curators before they were displayed in the gallery. There was a technique of selection with the existing devices in the art world. When photographs passed the selection and were exhibited in the gallery space, and were enjoyed by the audiences, the digital self-portraits become a work of art which contain the art values in content, including aesthetics, and certain nominal when purchased by collectors. The types of photo surrounding the urban community are not only selfie and self-portrait, but more various upon them. Wherever photos are found, and when taking the decision and action in society, they are much influenced on what are seen. Based upon this realm, they have already become a part of community art which forms the visual culture. From this visual culture, other areas of life are affected. When photos become the inseparable part of life or community way of life, other areas like economic and social are fused within them. The economics makes the visual area becoming the prospective business area. From the social side, the community replaces the interaction and direct communication with the digital media. By having this understanding, we are able to see and measure a person by looking at his/her social relation through the social media, and giving the showed value as being found in its social networking.
Creative by Way of Adaption: Ramayana Relief of Prambanan Temple Soeprapto Soedjono
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 2 (2015): October 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i2.1447

Abstract

Artikel ini membahas tentang proses penciptaan karya seni berdasarkan teori adaptasi sebagaimana yang didiskusikan oleh Linda Hutcheon dalam bukunya yang berjudul: A Theory of Adaptation. Penekanan pembahasan lebih diletakkan pada aspek-aspek estetis visual yang terdapat pada karya seni relief naratif yang mengelilingi sepanjang dinding bagian dalam candi Prambanan di Kalasan, Yogyakarta. Sebagaimana tema relief yang diadaptasi dari ceritera legenda Ramayana yang ditulis oleh Walmiki pada waktu silam, maka proses penciptaan relief tersebut pada masa berikutnya diyakini mengikuti prosedur teori adaptasi tersebut. This article aims to discuss the creation of arts based upon the theory of adaptation that had been laid on by Linda Hutcheon in her book called A Theory of Adaptation. The discussion has put emphasis on the elaboration of any visual aesthetics aspects embodied within the Ramayana sculptural program in the narrative relief which is encircling along Prambanan temple inner wall in Kalasan, Yogyakarta. Since the relief’s theme is derived from the ancient epic story of Ramayana legend (by Valmiki), it is plausible that the later creative process of the relief work was created through the adaptation theory procedure. 

Page 1 of 1 | Total Record : 6